FB

FB

Ads

Rabu, 03 Juli 2019

Cinta Bernoda Darah Jilid 113

“Hayaaaaa! Bu Sin, kau benar-benar tak bisa menerima cinta kasih orang! Baiklah kalau kau sudah bosan hidup!”

Dengan gerakan lincah dan mudah saja wanita ini mengelak daripada dua pukulan Bu Sin itu, kemudian ia berseru keras dan tubuhnya tahu-tahu sudah mencelat ke belakang sampai lima meter jauhnya.

Bu Sin yang menjadi penasaran mengejar dan kembali menerjang, akan tetapi iblis betina itu menggoyang kepalanya dan Bu Sin merasa gelap pandang matanya ketika rambut yang hitam panjang itu melayang cepat merupakan selimut menghitam yang harum sekali baunya. Pemuda ini berusaha untuk menghindarkan diri dengan melompat ke samping, namun tiba-tiba gerakannya tertahan dan sama sekali la tak mampu berkutik oleh karena bagaikan ular-ular hidup, rambut-rambut itu telah melibat kaki tangan dan lehernya! Ia merasa seakan-akan ia diringkus oleh banyak tangan yang halus dan harum, dan betapapun ia mengerahkan tenaganya, ia tetap saja tak mampu bergerak!

“Hi-hi-hi! Orang bagus berhati baja! Kau mau bilang apa sekarang?”

Wanita itu berdiri di depan Bu Sin, kurang lebih satu meter dekatnya, matanya berkilat-kilat, bibirnya yang merah menyeringai memperlihatkan deretan gigi putih berkilauan dan kecil-kecil.

“Siang-mou Sin-ni iblis betina! Mau bilang apa lagi? Aku sudah kalah, mau bunuh boleh lekas bunuh, siapa takut mampus?” bentak Bu Sin.

“Tentu kubunuh.... wah, aku memang haus dan darahmu tentu enak sekali, darah seorang keturunan jenderal, gagah perkasa dan satria utama! Mendekatlah manis, serahkan lehermu kepadaku, biar kupilih jalan darahmu untuk kuhisap....!”

Bu Sin tetap hendak mempertahankan diri terhadap tarikan rambut-rambut itu, namun ia seperti seekor lalat terlibat dalam sarang laba-laba, ia bisa meronta namun tak dapat melepaskan diri. Tarikan rambut-rambut itu makin kuat, dan tenaganya sendiri makin lemah sehingga sedikit demi sedikit ia mulai tergeser maju mendekati bibir merah dan gigi putih berkilau itu. Sementara itu, agaknya senang sekali dengan pergulatan dan perlawanan Bu Sin, wanita iblis itu terkekeh senang.

“Hi-hik, cobalah, berontaklah kalau mampu lolos, hi-hik. Hayo kerahkan tenagamu, baik sekali.... darahmu menjadi kencang jalannya!”

Bu Sin meronta-ronta dan memaki-maki, namun sia-sia belaka. Kini ia sudah dekat sekali dengan Siang-mou Sin-ni dan ketika wanita itu mendekatkan mulut pada lehernya, diam-diam Bu Sin merasa ngeri sekali.

Napas yang panas dan halus terasa pada lehernya, kemudian bibir yang lunak basah dan panas itu menempel kulit leher. Bu Sin hanya dapat meramkan kedua matanya, siap untuk menerima maut karena ia maklum bahwa terhadap wanita ini ia sama sekali tidak dapat melawan. Tiba-tiba bibir yang menempel lehernya itu merenggang dan.... Siang-mou Sin-ni terisak!

“Tidak.... tidak.... aku tidak bisa membunuhmu! Aku terlalu cinta padamu. Ah, Bu Sin, mengapa kau tidak mau membalas cintaku? Aku sayang padamu. Belum pernah aku mencinta laki-laki seperti kepadamu! Bu Sin, kau balaslah cintaku dan aku akan menjadi isterimu, akan melayanimu, akan menurunkan kepandaian kepadamu.”

“Iblis! Bunuhlah aku, tak perlu kau merayu dengan kata-katamu yang berbisa!”

Siang-mou Sin-ni memeluknya, menciumnya. Bu Sin hanya meramkan mata. Ngeri dan jijik hatinya. Perasaannya seperti seorang yang dibelit dan dibelai seekor ular!

“Dengar, Bu Sin. Kalau kau menjadi suamiku, aku akan membawamu ke Hou-ha, aku akan merampas kedudukan kaisar untukmu. Dengar ini! Kau akan kujadikan kaisar!”

Bu Sin terkejut dan sejenak pikirannya melayang-layang. Sebagai putera seorang bekas jenderal, tentu saja ia bukan seorang pemuda yang tidak bercita-cita muluk. Menjadi kaisar merupakan tawaran yang mendebarkan jantungnya dan hampir melemahkan pertahanan hatinya. Alangkah akan mulia dan senang hatinya. Menjadi kaisar, disembah dan ditaati orang senegara, nama ayahnya akan terjunjung tinggi!

Akan tetapi segera ia ingat akan wanita iblis di sampingnya, dan kegembiraannya lenyap. Biarpun ia menjadi kaisar, kalau wanita ini mendampinginya, ia tentu akan menjadi kaisar yang hanya akan mencelakakan rakyat. Wanita ini bukan manusia, melainkan iblis bertubuh manusia. Teringat ia akan dongeng tentang Kaisar Tiu Ong yang biarpun tadinya merupakan kaisar baik, akhirnya menjadi seorang kaisar lalim karena godaan Tiat Ki, seorang wanita cantik yang kemasukan iblis, seekor siluman rase yang menjelma menjadi wanita cantik jelita yang keji dan ganas. Bu Sin mengkirik saking jijiknya dan semua lamunan tadi lenyap, kemarahannya memuncak.

“Siluman hina! Bunuh saja aku!” bentaknya.






Tangis Siang-mou Sin-ni terhenti. Wajahnya merah sekali, tanda bahwa ia juga marah.
“Tentu kau akan kubunuh,” katanya dengan suara dingin, “akan tetapi kubunuh perlahan-lahan, biar kau tahu rasa! Aku akan membunuhmu sekerat demi sekerat, akan kusiksa kau sampai kau merasa menyesal mengapa kau pernah dilahirkan ibumu! Darahmu kuhisap sedikit demi sedikit!”

Dengan suara makin kejam wanita ini kembali mendekatkan mukanya. Kilauan gigi putih tampak oleh Bu Sin. Kembali lehernya merasakan sentuhan bibir lunak basah dan panas, kemudian terasa leher itu dikecup, terasa nyeri ketika gigi-gigi kecil meruncing itu menggigit dan....

“Tar-tar-tar!”

Terdengar suara keras di udara dan sepasang bola baja kecil menyambar kepala Siang-mou Sin-ni. Iblis betina ini kaget sekali, merenggutkan mukanya dari leher Bu Sin, menoleh.

“Siang-mou Sin-ni iblis jahanam! Keji sungguh kau!” terdengar bentakan wanita yang marah sekali. “Bu Sin koko, jangan takut, aku datang!”

Kembali sepasang bola baja yang berada di ujung cambuk itu menyambar, mengarah jalan darah di punggung Siang-mou Sin-ni. Serangan pertama ke arah kepala tadi tidak dilanjutkan karena agaknya Liu Hwee, gadis yang baru datang itu, takut kalau-kalau membahayakan kepala Bu Sin.

Melihat datangnya serangan yang amat berbahaya ini, Siang-mou Sin-ni tidak berani memandang rendah. Dari sambaran sepasang bola baja itu ia cukup maklum bahwa gadis aneh ini memiliki kepandaian yang cukup tinggi. Apalagi diingat bahwa gadis ini adalah puteri ketua Beng-kauw, tentu saja lihai. Siang-mou Sin-ni marah sekali, memekik liar dan tiba-tiba rambutnya yang tadi membelit-belit tubuh Bu Sin melepaskan pemuda itu menyambar ke belakang, sebagian menangkis senjata lawan, sebagian lagi menyambar ke arah jalan darah membalas serangan!

Adapun Bu Sin yang dilepas oleh libatan rambut-rambut itu, terhuyung-huyung. Akan tetapi hanya sebentar, karena ia segera dapat memulihkan tenaganya. Tangannya meraba leher dan ternyata lehernya berdarah sedikit. Untung Liu Hwee datang, kalau tidak....!

“Adik Liu Hwee, mari kita basmi siluman betina jahat ini!” bentaknya.

Pada saat itu, Liu Hwee sudah memutar senjatanya merupakan bentuk payung hitam yang menangkis semua serangan rambut Siang-mou Sin-ni. Begitu bertemu dengan gulungan sinar senjata berupa payung ini, rambut Siang-mou Sin-ni kena dikebut bertebaran sehingga iblis itu terkejut sekali. Hebat juga puteri Beng-kauw ini!

“Bu Sin koko, kau pakailah ini!” Liu Hwee melompat ke arah Bu Sin dan menyerahkan sebatang pedang.

Tentu saja Bu Sin girang bukan main. Dalam menerima pedang itu, jari-jari tangannya bersentuhan dengan jari-jari tangan Liu Hwee. Keduanya saling pandang sejenak, dan dalam waktu beberapa detik ini saja, pandang mata mereka sudah penuh dengan pernyataan hati masing-masing. Pandang mata mesra dan dalam pandang mata ini tersimpul semua perasaan hati dan terjadi janji dan sepakat bahwa mereka akan sehidup semati menghadapi Siang-mou Sin-ni yang lihai.

“Terima kasih, Moi-moi. Mari kita gempur dia!”

Siang-mou Sin-ni berdiri memandang. Ia dapat melihat dan dapat merasakan apa yang terkandung dalam sikap kegembiraan mereka dan pandang mata yang mesra itu. Kemarahannya memuncak dan ia begitu terserang panas hati sehingga ia hanya berdiri tegak, seakan-akan lupa bahwa ia berhadapan dengan dua orang lawan yang harus segera ia terjang.

“Kalian.... ah, keparat. Bocah she Liu kau.... kau mencinta Bu Sin....!”

Seketika wajah Liu Hwee menjadi merah, matanya berkilat menyambar.
“Siang-mou Sin-ni, kami fihak Beng-kauw tidak ada permusuhan pribadi dengan dirimu! Dan mengingat bahwa kau pernah menjadi murid mendiang enci Lu Sian, biarlah kumaafkan kata-katamu. Harap kau suka pergi meninggalkan kami!”

Biarpun Liu Hwee baru berusia sembilan belas tahun, akan tetapi sebagai puteri tunggal ketua Beng-kauw, ia mempunyai sikap agung dan berwibawa.

Akan tetapi Siang-mou Sin-ni tidak memperhatikan dia, melainkan memandang ke arah Bu Sin sambil membentak.

“Dan kau.... kau manusia tak kenal budi, kau.... kau mencinta bocah Beng-kauw ini!”

Seperti juga Liu Hwee, wajah Bu Sin menjadi merah seketika dan jantungnya berdebar-debar. Sudah dua kali ada orang mengatakan bahwa ia dan Liu Hwee saling mencinta. Pertama adalah wanita iblis yang lebih dahsyat daripada Siang-mou Sin-ni yang berkata demikian, yaitu mendiang Tok-siauw-kui Liu Lu Sian ibu Suling Emas. Kedua kalinya adalah si iblis wanita ini!

“Siluman jahat, kami saling mencinta tidak ada sangkut-pautnya dengan kau, dan kau tidak ada harganya untuk menyebut-nyebut hal itu!” bentak Bu Sin marah.

Siang-mou Sin-ni menjerit keras, jeritan melengking tinggi dan hampir saja Bu Sin tak kuat mempertahankan karena isi dadanya berguncang hebat. Cepat-cepat ia mengerahkan sin-kang yang ia latih dari kakek sakti, dan sebentar saja pengaruh jeritan itu lenyap.

“Kalian harus mampus, akan kuhancurkan tubuh kalian. Hi-hi-hik, kalian saling mencintai, ya? Memang betul, kalau akan menjadi satu, akan tetapi setelah menjadi daging hancur, hi-hik!”

Wanita itu kini mengeluarkan senjatanya yang istimewa, yaitu yang-khim yang dulu ia rampas dari tangan Bu Kek Siansu. Sambil memekik keras ia menerjang maju, rambut kepalanya menyambar-nyambar, diseling senjata khim yang digerakkan secara dahsyat sekali.

“Bu Sin koko, hati-hati....!”

Liu Hwee berseru dengan suara pilu karena diam-diam gadis ini merasa gelisah dan ragu-ragu apakah mereka berdua akan mampu melawan iblis ini yang luar biasa saktinya.

Sebagai puteri tunggal ketua Beng-kauw, tentu saja ilmu kepandaian Liu Hwee sudah hebat. Gin-kangnya tinggi, gerakannya cepat sekali, tenaga dalamnya juga sudah mencapai tingkat tinggi sehingga senjatanya yang berupa cambuk yang kedua ujungnya dipasang bola baja itu digerakkan dengan kecepatan yang sukar dilawan. Senjata macam ini merupakan senjata yang paling sukar dipelajari, akan tetapi apabila sudah matang gerakkannya, senjata ini bergerak otomatis, seakan-akan menjadi satu dengan kedua tangan, dan amat berbahaya.

Betapapun juga, dibandingkan dengan Siang-mou Sin-ni, ia masih kalah beberapa tingkat. Siang-mou Sin-ni adalah seorang di antara Enam Iblis, kepandaiannya aneh dan tinggi. Selain itu, iblis betina ini telah hampir berhasil dalam menciptakan ilmunya yang mujijat dan keji yaitu Ilmu Tok-hoat-lek (Ilmu Gaib Darah Beracun) yang diciptakan dengan cara menyedot habis darah seorang korban.

Entah sudah berapa puluh orang korban yang disedot habis darahnya oleh iblis wanita ini! Selain memiliki ilmu setan yang hampir selesai dipelajarinya ini, ia pun memiliki ilmu menggunakan rambut panjang yang ampuhnya melebihi segala macam senjata. Di samping ini, ia berhasil merampas yang-khim dari tangan Bu Kek Siansu dan senjata aneh ini merupakan tambahan kesaktian baginya.

Karena perbedaan tingkat kepandaian ini, dalam pertempuran itu Liu Hwee selalu tertindih dan terdesak. Sepasang bola bajanya yang menyambar-nyambar itu selalu terbentur kembali, bahkan kini yang-khim dan rambut lawan mulai mengurung dan mendesaknya.

Bantuan Bu Sin tidak ada artinya bagi Liu Hwee. Pemuda ini memang benar memiliki tenaga sakti yang murni, hasil latihan kakek sakti, akan tetapi tenaga itu hanya dapat dipergunakan untuk menjaga diri. Dalam menyerang, karena ilmu silat yang dimiliki Bu Sin adalah ilmu silat biasa saja, maka serangan-serangannya tidak diacuhkan oleh Siang-mou Sin-ni, selalu terbentur dan gagal oleh rambut yang hitam panjang.

Siang-mou Sin-ni adalah seorang wanita yang berwatak kejam. Wataknya ini mungkin hampir sama dengan watak seekor kucing yang suka sekali mempermainkan dan menyiksa tikus sebelum memakannya, atau seekor laba-laba yang suka menikmati korbannya yang meronta-ronta hendak membebaskan diri dengan sia-sia. Demikian pula, dalam menghadapi Liu Hwee dan Bu Sin, wanita iblis itu mempermainkan mereka, mengejek dan tidak segera merobohkan mereka, karena dalam mengejek dan mempermainkan ini, ia mengalami kenikmatan dan kesenangan yang luar biasa.

“Kalian saling mencinta, ya? Hu-huh, ingin menjadi suami isteri dan membangun rumah tangga bahagia, memiliki banyak putera-puteri? Hi-hik, takkan tercapai maksud kalian!”






Tidak ada komentar:

Posting Komentar