FB

FB

Ads

Sabtu, 29 Juni 2019

Cinta Bernoda Darah Jilid 101

Kita tinggalkan dulu Suling Emas yang dikejar-kejar seperti orang buronan oleh dua puluh orang lebih tokoh-tokoh kang-ouw yang sakti. Mari kita ikuti perjalanan Bu Sin dan Sian Eng yang oleh Suling Emas disuruh melanjutkan perjalanan lebih dulu menurutkan aliran Sungai Kan-kiang. Sepekan sudah mereka melakukan perjalanan dan selama itu mereka makin menjadi gelisah karena Suling Emas belum juga menyusul mereka.

“Sin-ko, mengapa Bu Song koko belum juga menyusul? Bagaimana kalau dia celaka? Lebih baik kita kembali menengok....”

“Ah, Song-ko seorang sakti, dia akan selamat, Moi-moi!” jawab Bu Sin dengan kening berkerut karena ia sendiri pun merasa gelisah. “Betapapun juga, dia sudah menyuruh kita berjalan lebih dulu, tak boleh kita tidak mentaati perintahnya.”

“Kalau begitu, kita berhenti saja untuk menunggu kedatangannya!”

“Jangan, Moi-moi, kita harus berjalan terus. Lihat, dari tempat tinggi ini tampak sungai membelok ke kanan, melalui lereng bukit itu. Akan lebih cepat kalau kita memotong jalan melalui puncak bukit disana. Sebelum malam tiba kurasa kita akan dapat sampai di kaki gunung seberang sana. Kalau sudah sampai disana, biar nanti aku yang mencari perahu agar tidak melelahkan, sambil menanti Song-twako menyusul.”

Sian Eng tidak berani membantah lagi. Memang dari tempat mereka berdiri, tampak dari tempat tinggi ini Sungai Kan-kiang membelok ke kanan dan mengitari puncak bukit. Kalau melakukan perjalanan memotong bukit itu melalui puncaknya, tentu perjalanan menjadi lebih cepat. Tentu saja hal ini hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kepandaian, karena bagi orang biasa, biarpun jarak lebih dekat, akan tetapi mendaki puncak merupakan pekerjaan yang sukar dan memakan waktu lebih lama.

Kakak beradik itu lari mempergunakan ilmu lari cepat, melintas dan mendaki puncak. Matahari telah mulai condong ke arah barat ketika mereka menuruni puncak bukit itu. Tiba-tiba Sian Eng berhenti dan memandang ke bawah, mukanya berubah pucat.

“Sin-ko, itulah tempatnya....?”

Bu Sin berhenti, kaget melihat muka adiknya berubah, lalu ia menoleh ke arah yang ditunjuk.

“Tempat apa, Eng-moi?”

“Itu.... kuburan tua itu.... di sanalah tempat aku diculik si iblis Hek-giam-lo dahulu....! Tak salah lagi, aku ingat betul tempatnya juga berada di lereng seperti itu....”

“Hemmm, kalau begitu tempat itu mungkin menjadi sarang iblis Hek-giam-lo. Eng-moi kita kesana. Bukankah kakak kita hendak mengejar Hek-giam-lo untuk merampas tongkat pusaka Beng-kauw? Kita harus membantunya!”

“Tapi....”

“Eng-moi, takutkah kau?”

“Iblis itu lihai sekali, Sin-ko.”

“Aku tahu, akan tetapi kita tidak perlu takut. Selain Song-twako berada di belakang kita, juga kita bukanlah orang-orang tiada guna yang tidak mampu bekerja apa-apa. Kita hanya menyelidiki tempat itu, adikku. Sungguh mengecewakan kalau kita sebagai anak-anak ayah yang berjiwa gagah perkasa, harus menyerahkan segala tugas berbahaya kepada Song-twako. Apakah kita akan tinggal peluk tangan saja sebagai orang-orang yang tidak mempunyai nyali?”

Bangkit semangat Sian Eng.
“Sin-ko, aku lupa bahwa kau telah mewarisi ilmu kesaktian dari kakek sakti seperti yang kau ceritakan itu. Dan aku pun bukan seorang gadis lemah. Kau betul, mari kita ke sana, aku masih ingat betul tempatnya!”

Berlarilah kedua orang kakak beradik itu menuruni puncak dan tak lama kemudian sampailah mereka di sebuah kuburan kuno yang penuh dengan batu-batu bongpai (pusara) berukir. Setelah mencari-cari beberapa lamanya, akhirnya Sian Eng berhenti di depan sebuah bongpai besar yang terhias beberapa buah arca-arca sebesar manusia, arca-arca dari sastrawan-sastrawan terkenal di masa dahulu.

“Di situlah....” bisiknya sambil menudingkan telunjuknya yang agak gemetar ke arah lantai depan makam, “Di situ terdapat sebuah pintu batu rahasia yang menembus ke terowongan di bawah tanah pekuburan ini.”






“Kau tidak melihat orang lain dahulu ketika kau dibawa masuk?” tanya Bu Sin. Adiknya menggelengkan kepala.

“Kalau begitu, mari kita selidiki kesana. Siapa tahu tongkat pusaka itu disembunyikan di tempat ini. Besar kemungkinan si iblis tidak berada di sini, dan mudah-mudahan saja begitu bisa mengambil tongkatnya kalau benda keramat itu ia sembunyikan di sini. Aku akan girang sekali kalau dapat membantu Song-twako.”

Sian Eng mengangguk setuju dan mereka menghampiri lantai depan makam. Setelah menyelidiki tempat itu, benar saja mereka melihat ada batu lantai yang merupakan pintu penutup, besarnya kurang lebih satu meter persegi. Ketika mereka mencoba untuk mengungkitnya, ternyata batu itu dapat terbuka dan di bawahnya terdapatlah lobang. Tampak pula anak tangga dari batu. Dengan tabah Bu Sin lalu melangkah masuk, diikuti adiknya. Akan tetapi pemuda ini berhenti dan ragu-ragu setelah berjalan beberapa langkah, karena keadaan terowongan itu gelap bukan main.

“Kenapa berhenti?” tanya Sian Eng.

“Gelap sekali, kita harus membuat obor dulu. Mundur, Moi-moi, kita keluar dulu mencari obor.”

Mereka mundur dan keluar kembali. Bu Sin segera mencari bahan, kulit pohon yang dapat terbakar lama, membuat obor, menyalakannya dan kembali mereka memasuki terowongan itu. Bu Sin berjalan di depan, obor di tangan, sedangkan Sian Eng berjalan di belakangnya, mereka tidak dapat berjalan cepat. Tanah yang mereka injak agak basah dan licin, juga makin lama terowongan itu makin rendah, hampir kepala Bu Sin tertumbuk batu karang di atas kalau ia tidak membungkuk. Setelah bergerak melalui beberapa tikungan, Sian Eng berbisik.

“Seingatku dahulu terdapat ruangan yang lebar seperti kamar....”

Mereka maju terus mata dan hidung terasa pedas oleh asap obor. Terowongan di sebelah depan menyempit dan Bu Sin yang berada di depan sudah mulai berjongkok dan merayap.

“Agak terang disini....” katanya, gembira karena benar saja, keadaan mulai terang, tidak segelap tadi. “Entah dari mana datangnya sinat terang ini....”

Akan tetapi Sian Eng tidak menjawab dan gadis itu mengeluarkan suara ah-uh-ah-uh tidak jelas. Kiranya Sian Eng tahu dari mana datangnya sinar terang itu karena ia merasa seperti ada sesuatu di belakangnya dan ketika ia menengok.... hampir Sian Eng menjerit dan pingsan.

Demikian kaget dan ngerinya sehingga jeritannya hanya keluar sebagai suara ah-uh-ah-uh saja, mukanya pucat matanya terbelalak memandang Hek-giam-lo yang sudah berdiri di belakang mereka! Hek-giam-lo si iblis muka tengkorak berpakaian hitam, berdiri dengan tangan kanan memegang obor dan tangan kiri memegang senjatanya yang mengerikan, kiranya obor di tangannya itulah yang membuat terowongan itu menjadi terang!

“Eng-moi kau kenapa....?”

Bu Sin bertanya ketika mendengar suara aneh adiknya. Ia menoleh dan alangkah herannya ketika ia melihat wajah adiknya pucat, tubuhnya gemetar dan matanya terbelalak menengok ke belakang. Ia cepat menoleh dan.... dapat dibayangkan betapa terkejut hatinya ketika ia melihat apa yang menyebabkan adiknya takut.

“Hek-giam-lo....!” katanya dan pemuda ini membesarkan suaranya, mengusir rasa takut. “Kalau kau memang menjadi tuan rumah tempat ini, mengapa menyambut kedatangan kami dari belakang?”

Iblis bertopeng tengkorak itu mendengus.
“Hemmm, maju terus atau.... hemmm, kurobek-robek badan kalian disini juga!”

Tiba-tiba Sian Eng menggerakkan tangannya dan dua buah batu karang melayang ke arah muka dan dada iblis itu. Kiranya gadis ini sudah dapat menenangkan hatinya dan dengan nekat lalu meraih dua buah batu di dekatnya, kemudian menyambitkannya dan ketika iblis itu sedang bicara. Hek-giam-lo miringkan kepalanya sehingga batu pertama lewat di pinggir kepala, adapun batu ke dua ia terima begitu saja dengan dadanya.

“Brakkk!” Batu itu pecah berantakan!

“Gadis lancang, sekali kau tertolong oleh Suling Emas, jangan harap kali ini akan dapat lolos lagi. Hemmm, bagus, biar kau menjadi umpan pancingan untuk Suling Emas. Ha-ha-ha!”

Ketika melihat iblis itu dengan langkah lebar menghampiri Sian Eng yang berada di belakangnya, Bu Sin segera berkata, nadanya penuh ejekan,

“Hek-giam-lo, seorang tokoh besar seperti engkau ini, sungguh tak tahu malu melayani seorang wanita seperti adikku! Kalau memang kau gagah, mari kita mencari tempat lapang dan kita bertanding secara laki-laki!”

“Heh-heh, orang muda sombong. Majulah terus, di depan ada tempat luas, boleh kau buktikan betapa kesombonganmu tidak ada isinya!”

Memang bukan maksud Bu Sin untuk menyombong. Ia tadi sengaja mengeluarkan ucapan itu untuk mencegah si iblis mengganggu Sian Eng karena ia maklum bahwa kalau hal ini terjadi, sukarlah baginya untuk melindungi adiknya terhadap iblis yang luar blasa lihainya itu. Dengan begini, setidaknya Sian Eng untuk sementara akan bebas daripada ancaman dan ia boleh mencari waktu panjang untuk memikirkan akal bagaimana harus melawan iblis ini.

“Marilah, Moi-moi, kau bergeraklah di depanku, sini....”

Sian Eng sudah menjadi putus asa menyaksikan kehebatan si ibils yang menerima sambitannya begitu saja dengan dada, membuat batu itu hancur! Dengan muka pucat ia lalu menyelinap ke depan Bu Sin dan kakak beradik yang sudah tak berdaya lari seperti dua ekor tikus masuk jebakan ini merangkak maju melalui terowongan yang sempit. Di belakang mereka, tanpa mengeluarkan suara lagi, Hek-giam-lo melangkah dengan gerakan perlahan, lalu merangkak di bagian yang sempit itu di belakang Bu Sin.

Benar saja seperti yang dikatakan Hek-giam-lo, tak lama kemudian terowongan sempit itu berubah menjadi lebar dan beberapa puluh meter kemudian tibalah mereka di sebuah ruangan di bawah tanah yang luas. Selain luas, juga di situ tidak gelap. Agaknya sinar matahari, entah bagaimana, dapat menembus ke tempat itu.

Sejenak timbul akal dalam benak Bu Sin untuk menyerang si iblis secara tiba-tiba dengan membalik dan menggunakan obor sebagai senjata, akan tetapi jiwa satria di hatinya mencegahnya. Serangan seperti itu amat rendah, apalagi kalau dipikir usaha ini belum tentu akan berhasil terhadap lawan yang sakti ini. Dengan tenang ia lalu mendorong adiknya perlahan, menyuruhnya menjauh ke pinggir, kemudian ia membalikkan tubuhnya menghadapi Hek-giam-lo.

“Nah, Hek-giam-lo,” katanya dengan tenang sambil memadamkan obornya, akan tetapi masih memegangi gagang obor, “terus terang saja, kami berdua telah lancang memasuki tempatmu ini. Sekarang kau telah berada disini, apa yang hendak kau lakukan terhadap kami?”

“Orang-orang muda lancang! Katakan apa maksud kalian datang kesini?”

“Adikku ini mengenal tanah kuburan di atas dan menceritakan bahwa dia pernah kau culik dan kau bawa ke sini. Karena itu aku merasa tertarik dan hendak menyaksikan dengan mata sendiri tempat rahasia ini.”

“Hanya itu?” Hek-giam-lo mendesak.

“Tentu saja kalau kami melihat tongkat pusaka Beng-kauw di tempat ini, akan kami curi kembali dan kami bawa dan kembalikan kepada Beng-kauw.” Jawab Bu Sin sejujurnya.

“Hemmm, tidak ada orang luar yang masuk ke sini dapat kembali hidup-hidup. Kalian berani masuk kesini, bahkan berani mencoba untuk merampas tongkat Beng-kauw? Hu-huh, tak tahu diri. Biarpun kalian adik-adik tiri Suling Emas, apa dikira aku takut? Huh-huh, hendak kulihat apakah Suling Emas berani masuk kesini. Ha-ha-ha, kalian merupakan umpan-umpan yang baik, biar dia datang hendak kulihat!”

“Sombong! Aku pun tidak takut padamu, iblis busuk! Tak usah kakak kami, aku pun sanggup menghadapimu!”

Sambil berkata demikian, Bu Sin menggerakkan bekas obor dan menusukkan benda ini ke arah kedok tengkorak itu.

“Huh, bocah bosan hidup!” Si iblis menggerakkan obornya pula, menangkis dengan gerakan perlahan.

“Dukkk!”

Gagang obor di tangan Bu Sin hancur dan terlepas dari tangan pemuda itu, sedangkan gagang obor di tangan Hek-giam-lo yang tadinya menangkis itu terus bergerak mengemplang kepala Bu Sin. Gerakan ini biarpun dilakukan dengan perlahan, namun cepat dan tak terduga sama sekali sehingga tahu-tahu kepala pemuda itu sudah kena pukul.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar