FB

FB

Ads

Sabtu, 29 Juni 2019

Cinta Bernoda Darah Jilid 102

“Prakkk!”

Kini gagang obor di tangan Hek-giam-lo itu yang menjadi patah-patah ketika beradu dengan kepala Bu Sin. Hek-giam-lo mengeluarkan suara mendengus marah.

“Bocah sombong, keras juga kepalamu!” katanya sambil melemparkan sisa gagang obor di tangannya.

Tentu saja iblis itu tidak tahu bahwa Bu Sin telah menerima warisan ilmu kesaktian yang dilatihnya di bawah air terjun yang menimpa kepalanya sehingga bagian kepalanya ini boleh dibilang menjadi sumber daripada tenaga mujijat yang dimilikinya akibat latihan aneh itu.

Hek-giam-lo tidak tahu bahwa ilmu pemuda ini jauh lebih rendah kalau dibandingkan dengan kepandaiannya, tidak tahu bahwa Bu Sin tidak sempat mengelakkan serangan tadi dan mengira bahwa pemuda itu sengaja menerima pukulan untuk mendemonstrasikan kepandaiannya! Karena mengira bahwa pemuda ini yang ia tahu adalah adik tiri Suling Emas memiliki kesaktian seperti Suling Emas, Hek-giam-lo tidak mau main-main lagi. Senjatanya yang menyeramkan itu sudah ia angkat ke atas kepala!

Tiba-tiba terdengar suara “singgg!” dan Sian Eng sudah mencabut pedangnya, berdiri tegak di depan iblis itu dengan pedang di depan dada, sikapnya gagah, sedikit pun tidak memperlihatkan rasa takut.

“Iblis sombong, aku pun berani melawan kejahatanmu!”

“Eng-moi, mundur! Dia bukan musuhmu!” kata Bu Sin yang khawatir melihat adiknya menjadi nekat.

“Aku tahu, Koko, akan tetapi dia pun bukan musuhmu. Kalau kita berdua mati melawannya, aku ingin mati dulu dari padamu.”

Diam-diam jantung Bu Sin seperti tertusuk mendengar ini. Ia maklum bahwa adiknya merasa ngeri kalau sampai melihat dia mati terlebih dulu, meninggalkannya seorang diri menghadapi lawan yang demikian sakti dan ganas mengerikan.

“Jangan khawatir, Moi-moi. Kita berdua dapat melawan iblis ini!” katanya dan mencabut pedangnya. “Akan tetapi biarkan aku menghadapinya lebih dulu dan kau keluarlah agar dapat memanggil kalau Song-koko lewat di atas!”

Mendengar ini, Sian Eng menjadi girang dan timbul pula harapannya. Tadinya gadis ini telah putus harapan karena maklum bahwa kakaknya takkan menang menghadapi iblis itu. Satu-satunya orang yang boleh diharapkam dapat menolong mereka hanyalah kakaknya Suling Emas. Dan siapa tahu kalau-kalau Suling Emas sudah benar-benar menyusul dan sampai di atas sana.

“Sin-ko, kau pertahankan dia, biar aku naik menanti Song-koko!”

Ia cepat meloncat untuk berlari keluar melalui terowongan itu. Akan tetapi tiba-tiba ia jatuh tergulihg ketika Hek-giam-lo menggerakkan lengan baju ke arahnya sambil mendengus.

“Huh, kau takkan dapat pergi kemana-mana!”

“Setan, berani kau mengganggu adikku?”

Bu Sin sudah memerjang maju dengan pedangnya. Ia mengerahkan tenaga saktinya karena maklum bahwa kali ini ia menghadapi lawan yang luar biasa lihainya.

“Tranggg!”

Pedang di tangan Bu Sin terpental dan saking kerasnya Bu Sin memegang pedang, tubuhnya sampai ikut terpental dua meter jauhnya. Telapak tangan kanannya serasa terkupas kulitnya, perih dan panas.

Sian Eng membentak marah sambil menusukkan pedangnya. Akan tetapi sekali tangan kiri Hek-giam-lo bergerak, pedang itu sudah terpukul patah, menjadi tiga potong, terpukul oleh ujung lengan baju hitam. Selagi Sian Eng terhuyung-huyung, jari tangan Hek-giam-lo sudah menotoknya, membuat gadis itu roboh terguling tak dapat berkutik lagi.






“Ibils keparat!”

Bentak lagi Bu Sin yang menerjang dengan nekat. Ia mengambil keputusan untuk mengadu nyawa sebelum iblis itu dapat mengganggunya atau mengganggu adiknya. Ilmu yang ia warisi dari kakek sakti hanyalah ilmu untuk menghimpun tenaga sakti, akan tetapi ilmu pedangnya sendiri masih jauh lebih rendah kalau dibandingkan dengan ilmu kepandaian Hek-giam-lo yang terkenal sebagai seorang diantara Enam Iblis Dunia.

Ketika tadi memukul kepala Bu Sin yang mengakibatkan gagang obornya patah, Hek-giam-lo mengira bahwa pemuda itu sakti. Akan tetapi setelah menangkis pedang yang membuat pemuda itu terlempar, Hek-giam-lo tahu bahwa lawannya ini merupakan lawan lunak yang mempunyai tenaga aneh terutama di bagian kepalanya. Hatinya menjadi besar dan ia memandang rendah lagi. Untung bagi Bu Sin dan Sian Eng bahwa si iblis ini tidak menghendaki mereka mati, kalau tidak, sudah pasti keselamatan nyawa mereka tidak akan dapat tertolong lagi.

Menghadapi terjangan Bu Sin kali ini, si iblis tidak menangkis dengan senjatanya yang aneh, melainkan dengan ujung lengan baju kiri seperti ketika ia menghadapi Sian Eng tadi. Ujung lengan baju ini memapaki pedang dan seperti seekor ular hidup ujung lengan itu seketika menggulung dan membelit pedang.

“Aihhhhh!” Bu Sin mengerahkan tenaga sakti sekuatnya dan.... “brettttt!” putuslah ujung lengan baju hitam itu.

Hek-giam-lo mengeluarkan suara menggereng seperti harimau terluka, senjatanya berkelebat mengancam leher Bu Sin. Pemuda ini cepat mengangkat pedang menangkis.

“Trangggg....!”

Kali ini Bu Sin tidak kuat mempertahankan lagi, pedangnya terpukul patah dan terlepas dari tangannya!

Melihat sinar hitam berkelebat di depan mukanya, Bu Sin cepat mengerahkan gin-kang berdasarkan tenaga sakti untuk mengelak. Bagaikan seekor burung terbang, pemuda ini sudah menyelinap ke kiri menerobos diantara sinar hitam untuk menyelamatkan diri.

Akan tetapi walaupun gerakannya itu cepat bukan main, ia masih terlambat. Memang, gerakannya tadi menyelamatkan dadanya daripada kehancuran ketika ujung lengan baju Hek-giam-lo menyambar dengan kekuatan yang dahsyat itu, namun ia tidak dapat menghindarkan lagi ujung pangkal lengannya keserempet hawa pukulan dahsyat. Bu Sin merasa betapa lengan kanannya seakan-akan lumpuh dan patah-patah, ia terhuyung-huyung dan pada saat itu Hek-giam-lo sudah menotoknya sehingga Bu Sin roboh dan tak dapat bergerak pula!

“Hu-huh, bocah-bocah sombong! Adik-adik Suling Ems kiranya hanya begini saja! Mana dia Suling Emas? Biar dia datang, kurobohkan sekalian!”

“Hek-giam-lo, kalau kakak kami datang, kau pasti akan dihajar mampus!” teriak Sian Eng marah.

Hek-giam-lo tertawa-tawa, kemudian ia melangkah ke ruangan yang berdampingan dengan ruangan itu. Tak lama ia keluar lagi, tangannya membawa sebuah kitab yang tinggal sepotong.

“Kutinggalkan kalian disini, kalau tidak ada kakak kalian datang menolong, kalian akan membusuk dan menjadi setan-setan penjaga kuburan disini. Orang-orang tiada gunanya macam kalian, percuma dibunuh juga. Sampaikan salamku kepada Suling Emas dan kalau memang ia berkepandaian, dia boleh minta kembali tongkat Beng-kauw ke Khitan, ha-hah!” Setelah berkata demikian, sekali berkelebat Hek-giam-lo lenyap dari tempat itu.

Bu Sin dan Sian Eng berusaha keras untuk membebaskan totokan. Akan tetapi sia-sia belaka, malah makin hebat mereka berusaha, makin payah keadaan mereka. Totokan yang dilakukan Hek-giam-lo atas diri mereka itu amat aneh, membuat seluruh urat mereka lumpuh dan tiap kali mereka mengerahkan sin-kang, tubuh serasa dibakar dan nyeri-nyeri. Terpaksa mereka akhirnya tinggal menanti nasib saja, rebah tak berkutik di atas tanah yang lembab.

Bagaimanakah Hek-giam-lo bisa berada di terowongan rahasia itu? Memang tadinya iblis ini berada dalam perahu bersama orang-orang Khitan dan di dalam perahu itu Lin Lin menjadi tuan putri terhormat. Akan tetapi ketika perahu itu lewat di daerah ini, Hek-giam-lo menyuruh anak buahnya berhenti dan mendarat. Karena tempat ini memang menjadi sarangnya, di pinggir sungai terdapat pula sebuah rumah pondok yang indah dan jauh daripada tetangga.

Inilah tempat peristirahatan Hek-giam-lo dan juga para mata-mata Khitan apabila melakukan tugasnya dan tiba di tempat ini. Ke rumah inilah Lin Lin dibawa, sedangkan Hek-giam-lo seorang diri pergi ke tanah kuburan kuno untuk mengambil kitabnya, yaitu kitab yang dahulunya ia rampas dari tangan kakek sakti Bu Kek Siansu dan yang akhirnya hanya ia dapatkan “tengahnya” karena yang separoh terampas oleh It-gan Kai-ong.

Memang ia tidak berani membawa-bawa kitab yang ia tahu menjadi incaran It-gan Kai-ong, Suling Emas dan Siang-mou Sin-ni, mungkin juga Bu Kek Siansu sendiri itu. Ketika melawat ke selatan, ia menyimpan kitab pusaka itu di dalam terowongan dan sekarang ia hendak mengambil dan membawanya kembali ke Khitan. Secara kebetulan ia mendapatkan Bu Sin dan Sian Eng memasuki tempat sembunyinya.

Lin Lin merasa jengkel sekali. Biarpun ia selalu diperlakukan dengan hormat, dipanggil tuan puteri, setiap kali mendapat hidangan-hidangan yang lezat dan segala macam kebutuhannya, dipenuhi segala macam perintahnya, kecuali perintah agar ia bebas, ditaati, namun ia maklum bahwa sebenarnya ia menjadi tawanan!

Ia merasa tidak berdaya menghadapi Hek-giam-lo yang kosen, juga para anak buah Khitan itu terdiri daripada orang-orang pilihan. Oleh karena itu, gadis ini maklum bahwa takkan mungkin ia memberontak atau melarikan diri, hal itu hanya akan membuat ia menderita saja.

Pikiran inilah yang membunt ia akhirnya tidak rewel minta dibebaskan lagi, ia diam saja, malah kini memaksa diri bergembira, akan tetapi diam-diam ia amat mengharapkan munculnya Suling Emas! Ia merasa gemas juga mengapa sampai begitu lama Suling Emas tidak juga muncul menolongnya? Dan di samping ini, ia merasa amat sengsara dan sedih kalau ia mengingat Bok Liong. Kadang-kadang ia masih dapat melihat bayangan pemuda itu di pinggir sungai, pakaiannya kotor, rambutnya kusut dan kelihatannya sengsara. Memang pemuda yang keras hati ini sudah nekat untuk terus mengikuti perahu yang membawa gadis pujaannya.

“Liong-twako, sudahlah jangan mengikuti perahu. Pergilah dan cari Suling Emas, suruh dia membebaskan aku!”

Dari atas perahu Lin Lin berteriak ke arah bayangan Lie Bok Liong yang bergerak di pinggir sungai. Hek-giam-lo dan orang-orang Khitan yang mendengar dan melihat ini hanya tersenyum-senyum saja.

Pemuda itu berseru menjawab.
“Aku tidak bisa meninggalkanmu, Lin-moi. Tidak tahu Suling Emas berada dimana, kalau aku pergi, bagaimana kalau mereka orarg-orang liar itu mengganggumu? Aku akan mengadu nyawa dengan mereka! Jangan khawatir selama aku berada di dekatmu!”

Lin Lin menghela napas diam-diam ia merasa terharu. Akhir-akhir ini mulailah terasa olehnya betapa mulia dan jujur hati pemuda itu, dan betapa besar pembelaan dan pengorbanan pemuda itu untuk dirinya. Mulai terbuka mata Lin Lin bahwa Lie Bok Liong amat mencinta dirinya dan hal ini membuatnya sedih dan terharu.

Bukan pemuda ini yang selalu menjadi kenangan, menjadi harapan, menjadi pujaan hatinya. Hati dan perasaan cinta kasih dalam dadanya terampas oleh Suling Emas! Ia merasa amat khawatir melihat tingkah laku Bok Liong yang begitu nekat hendak melindungi dan membelanya, biarpun pemuda itu sendiri tahu betul bahwa menghadapi Hek-giam-lo dan anak buahnya, ia tidak berdaya.

Lin Lin merasa khawatir kalau-kalau Bok Liong akan nekat dan akhirnya akan mengorbankan nyawanya, apalagi ketika ia diturunkan dari perahu dan diajak beristirahat di pondok tepi sungai itu. Dan kekhawatitannya terbukti. Sore hari itu, ketika Hek-giam-lo sudah pergi meninggalkan pondok, sampailah Lie Bok Liong ke tempat itu. Pemuda ini tertinggal jauh oleh perahu, maka setelah sore baru ia dapat menyusul.

Ketika melihat perahu yang diikutinya itu tertambat di pinggir, ia segera menghampiri rumah pondok. Dengan tubuh lemas dan sakit-sakit ia melangkah ke halaman pondok itu, sedikit pun tidak merasa takut. Padahal pemuda ini sebenarnya sedang tidak sehat tubuhnya panas dan lemas, karena selama dalam perjalanan mengikuti perahu, ia jarang sekali makan, pula ia masih menderita luka ketika bertempur dengan Hek-giam-lo di atas perahu beberapa hari yang lalu. Agaknya rasa cinta kasih yang besar membuat ia kuat menahan segala derita.

Ketika melihat pondok itu sunyi saja, Bok Liong melangkah lebar menuju ke ruangan depan. Ia sudah nekat, hendak mencari Lin Lin dan mengajak gadis itu lari, atau membiarkan gadis itu lari sedangkan dia akan menahan orang-orang Khitan kalau mereka akan mengejarnya.

“Lin-moi....!” Ia memanggil dengan suara parau.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar