FB

FB


Ads

Sabtu, 16 Februari 2019

Bukek Siansu Jilid 103

"Trang-trang..... dessss!!"

Dua orang pengawal yang berani menyerang roboh oleh tangkisan pedang Ouw Sian Kok dan mecuatnya kaki Soan Cu yang menendang.

"Ah, jangan kau keluarkan tenaga....." kata Ouw Sian Kok melihat betapa tendangan tadi membuat napas Soan Cu memburu.

"Ayah..... aku..... aku tidak kuat lagi..... kau larilah, ayah......."

"Soan Cu......! Soan Cuuuu......!!"

Sian Kok meraung-raung ketika menyaksikan dengan mata sendiri betapa puterinya yang baru dilihatnya selama hidup puterinya itu, menghembuskan napas di dalam dekapannya, dengan bibir tersenyum. Laki-laki gagah perkasa itu masih terus meraung-raung, dengan air mata bercucuran ketika dia telah membaringkan tubuh puterinya ke atas lantai kemudian dia mengamuk seperti seekor naga, menyebar maut diantara pengeroyoknya! Hujan senjata tidak dirasakannya lagi pedangnya sampai menjadi merah dari ujung sampai kegagang, bahkan sampai ke lengannya!

Sementara itu Liu Bwee yang sudah banyak kehilangan darah juga makin lemas gerakannya, kalau tidak ada Swat Hong, tentu dia roboh oleh Ouwyang Cin Cu. Untung bagi mereka agaknya kakek yang sudah menjadi Kok-su ini hanya setengah hati saja bertempur, sering kali dia sengaja mundur dan membiarkan anak buah pengawal yang mengeroyok.

Hal ini karena dia sebetulnya tidak begitu suka kepada The Kwat Lin yang dianggapnya berbahaya. Pula, setelah sekarang dia telah memperoleh kedudukan tinggi, dia tidak membutuhkan kerja sama dengan The Kwat Lin. Selain itu, juga dia ingin menghindarkan sedapat mungkin bermusuhan dengan orang-orang lihai, apalagi keluarga dari Pulau Es!

"Swat Hong, cepat kau pergi......!"

"Tidak, Ibu!"

"Kalau tidak, kau akan mati......!"

"Mati bersamamu merupakan kebahagiaan, Ibu!"

"Hushhhh, anak bodoh. kalau begitu siapa yang akan mengembalikan pusaka? Kau ingat pesan Ayahmu."

"Tapi, Ibu....."

"Kalau kau membantah dan sampai tewas di sini, Ibumu tidak akan dapat mati dengan mata meram."

"Ibu......!"

"Lihatlah, dia..... diapun akan mati..... Ibu ada seorang teman yang baik...... Ibu dan dia..... ah, kami senang mati bersama..... kau jangan ikut-ikut......!"

Mendengarkan ucapan ini, Swat Hong terkejut sekali dengan menengok ke arah Ouw Sian Kok yang mengerikan keadaannya itu. Mengertilah dia bahwa Ibunya dan laki-laki perkasa itu telah saling jatuh cinta! Jantungnya seperti ditusuk, teringat dia akan kesalahan ayahnya terhadap ibunya. Ibunya tidak bersalah, sudah sepantasnya menjatuhkan hati kepada pria lain karena disakiti hatinya oleh suami yang tergila-gila kepada wanita lain!

"Ibu......"

"Pergilah, dan ajak pemuda gagah itu!" Sambil bercucuran air mata, Swat Hong mengamuk, memutar pedangnya dan mendekati Kwee Lun yang juga masih mengamuk. "Toako, hayo kita pergi!!"

"Eh? Ibumu? Soan Cu? Ayahnya.......?"

"Ayolah.....!!"

"Baik, baik.....!"






Mereka berdua membuka jalan darah, akhirnya berhasil meloncat keluar.

"Jangan kejar mereka! kepung saja yang berada di dalam!" terdengar Ouwyang Cin Cu berseru.

Tidak terlalu lama Ouw Sian Kok dan Liu Bwee dapat bertahan. Mereka sudah kehabisan tenaga, juga terlalu banyak mengeluarkan darah. Akhirnya, mereka roboh berdekatan, di dekat mayat Soan Cu.

Ouwyang Cin Cu menghela napas panjang, kagum sekali menyaksikan kegagahan mereka itu. Dia masih belum menduga bahwa tiga orang yang telah tewas ini adalah orang-orang yang datang dari tempat yang hanya didengarnya dalam dongeng!

Wanita cantik setengah tua itu adalah bekas permaisuri Raja Pulau Es, sedangkan laki-laki perkasa dan dara jelita itu adalah ayah dan anak dari Pulau Neraka, bahkan merupakan tokoh pimpinan! Dia menghela napas pula ketika melihat bahwa The Kwat Lin juga tewas dalam keadaan mengerikan. Diam-diam dia merasa lega, karena dia maklum betapa dilubuk hati wanita ini tersembunyi cita-cita yang amat hebat, yang kelak mungkin membahayakan kedudukan kaisar, dan kedudukannya sendiri.

Setelah membuat laporan kepada Kaisar baru, yaitu An Lu Shan, tentang kematian The Kwat Lin bekas jenderal ini hanya menarik napas panjang.

"Hemm, sayang sekali, dia merupakan tenaga yang berguna." Kemudian mengelus jenggotnya dan berkata, "Kalau begitu bagaimana dengan puteranya?"

"Menurut pendapat hamba, puteranya itu masih berdarah Raja Pulau Es yang kabarnya masih mempunyai hubungan keluarga dengan kerajaan lama. Maka kalau dia dibiarkan saja menjadi pangeran di sini, kelak kalau sudah dewasa tentu akan merupakan bahaya."

An Lu Shan mengangguk-angguk.
"Habis bagaimana pendapatmu?"

Kok Su yang merupakan penasehat utama itu mengerutkan alisnya yang bercampur uban, lalu berkata,

"Mereka itu datang dari Rawa Bangkai, biarlah dia hamba bawa kembali ke sana, diberi kedudukan sebagai penguasa di Rawa Bangkai dan daerahnya. Anak kecil itu tidak tahu apa-apa, asal diberi kedudukan di sana mengepalai bekas anak buah ibunya dan Kiam-mo Cai-li, tentu kelak akan senang hatinya."

"Baiklah, urusan ini kuserahkan kepadamu untuk dibereskan." demikianlah, setelah penguburan jenazah ibunya selesai, Han Bu Ong yang masih kecil itu menurut saja ketika oleh Ouwyang Cin Cu diberitahu bahwa dia oleh kaisar "diangkat" menjadi "raja muda" yang berkuasa di Rawa Bangkai, di mana telah dibangun sebuah gedung mewah lengkap dengan semua pelayan dan perabot.

Di tempat ini, Han Bu Ong hidup cukup mewah. Akan tetapi anak ini memang mempunyai kecerdikan yang luar biasa. Biarpun dia dicukupi hidupnya, diam-diam dia mengerti bahwa dia sengaja setengah "dibuang" oleh Kaisar dan Ouwyang Cin Cu setelah ibunya tewas. Maka dia mencatat di dalam hatinya bahwa selain Swat Hong dan Kwee Lun yang menjadi musuh besarnya, juga Ouwyang Cin Cu sebetulnya bukanlah seorang sahabat yang setia dari ibunya.

Anak kecil ini dengan rajin lalu melatih dirinya dengan ilmu-ilmu peninggalan ibunya yang masih ada padanya. Dia harus menggembleng dirinya dan kelak selain dia harus membalas kepada musuh-musuhnya, juga dia akan berusaha untuk merampas kembali pusaka-pusaka Pulau Es yang dicuri oleh Swat Hong. Dia merasa bahwa dia berhak memiliki pusaka itu karena bukankah dia putera Raja Pulau Es? Dari ibunya dia dahulu mendengar bahwa siapa yang mewarisi pusaka Pulau Es dan melatih semua ilmu yang terdapat di dalam kitab-kitab itu, tentu akan menjadi jago nomer satu di dunia.

**** 103 ****





Tidak ada komentar:

Posting Komentar