FB

FB

Ads

Rabu, 01 Juli 2015

Suling Emas & Naga Siluman Jilid 025

“Perempuan jahat, jangan kau ganggu sahabatku!”

Sambil berteriak demikian Ci-Sian sudah menerjang maju dan memukul wanita itu kalang-kabut. Tentu saja wanita itu menjadi terkejut, akan tetapi dia tersenyum mengejek melihat bahwa serangan Ci Sian itu biasa dan tidak berbahaya. Dengan mudahnya wanita cantik itu mengelak dan sebelum Ci Sian menyerang lagi, pemuda tanggung itu sudah berseru kepadanya sambil melompat keluar dari kalangan pertandingan.

“Eh, Nona, harap jangan salah sangka! Kami hanya saling menguji kepandaian, bukan berkelahi!”

Mendengar ini, tentu saja Ci Sian juga tidak melanjutkan serangannya dan dia memandang dengan heran. Siapakah dua orang itu dan mengapa mereka berada di tempat sunyi itu dan mengadu ilmu silat?

Ci Sian tidak keliru mengenal orang. Memang pemuda tanggung itu adalah Sim-Hong Bu, pemuda pemburu yang kini telah menjadi murid keluarga Cu di Lembah Suling Emas itu.

Dan baru sekarang dia bertemu dengan wanita cantik yang mengadu ilmu silat dengan dia, dan belum dikenalnya benar sungguhpun tadi wanita itu telah memperkenalkan diri. Setelah tinggal di Lembah Suling Emas, mulailah Hong Bu berlatih ilmu silat, yaitu dasar-dasar ilmu silat tinggi keluarga itu di bawah pimpinan Cu Seng Bu dan Cu Kang Bu yang merupakan Ji-suhu dan Sam-suhu baginya, yaitu guru ke dua dan guru ke tiga.

Akan tetapi pemuda tanggung ini tidak pernah melupakan kesenangan memburu binatang yang telah menjadi pekerjaannya semenjak dia kecil, maka diwaktu terluang dia selalu membawa busur dan anak panah untuk memburu binatang disekitar lembah, dan hasil buruannya lalu diserahkan pekerja di dapur untuk dimasak dan untuk hidangan sekeluarga Cu. Pada pagi hari itu, ketika dia berburu dan tiba diperbatasan lembah yang hanya dapat ditempuh melalui jalan rahasia yang hanya dikenal oleh orang-orang Lembah Suling Emas, dan yang telah diberitahukan kepadanya pula, tiba-tiba dia melihat wanita cantik itu!

Keduanya terkejut. Hong Bu segera menjadi curiga karena menurut para gurunya, tidak boleh ada orang luar memasuki daerah Lembah Suling Emas. Pula, daerah itu merupakan daerah rahasia yang tidak dikenal orang luar, bagaimana tahu-tahu ada wanita cantik muncul disitu?

“Siapa engkau?” tegurnya.“Berani benar engkau memasuki daerah Lembah Suling Emas tanpa ijin!”






Wanita cantik itu juga kelihatan terkejut dan heran, apalagi melihat sikap pemuda tanggung itu seperti seorang pemburu, maka dia menduga bahwa pemuda itu tentulah
seorang pemburu yang salah jalan. Yang membuat dia terheran-heran adalah teguran
pemuda itu, seolah-olah pemuda itu berhak mengatur orang lain yang berada di tempat
itu! Wanita itu tersenyum mengejek.

“Eh, bocah lancang. Engkaulah yang lancang berani memasuki daerah terlarang ini. Siapa engkau?”

Melihat sikap ini dan mendengar pertanyaan itu, Hong Bu menjadi ragu-ragu. Dia belum lama menjadi penghuni lembah itu dan belum mengenal betul semua anggauta keluarga majikan lembah. Siapa tahu kalau-kalau wanita cantik ini juga merupakan seorang anggauta keluarga, atau seorang murid, atau seorang pelayan! Maka dia pun bersikap halus dan cepat-cepat memperkenalkan diri.

“Aku adalah murid dari majikan lembah ini.”

Wanita itu tersenyum lebar dan nampak cantik sekali, akan tetapi sikapnya memandang rendah.

“Aih, kiranya engkaukah yang datang bersamaYeti itu? Subo telah bercerita tentang dirimu. Bukankah engkau yang bernama Sim-HongBu itu?”

“Benar....” Hong Bu menjadi semakin ragu karena dia yakin bahwa wanita ini tentu keluarga atau murid dari lembah itu.“Dan....siapakah engkau, Cici?”

“Aku? Engkau harus menyebut Suci (Kakak Seperguruan) kepadaku. Cui-beng Sian-
li Tang-Cun Ciu adalah Suboku.”

Hong-Bu terkejut mendengar ini, dan juga merasa heran.Twaso dari para gurunya itu, yang dia harus menyebut Supekbo, adalah seorang wanita yang masih kelihatan muda dan cantik. Muridnya ini juga seorang wanita dewasa yang cantik, dan kalau Supek-bo itu usianya kurang lebih tiga puluh tahun muridnya ini tentu sudah ada dua puluh lima tahun. Pantasnya mereka itu adalah kakak beradik, bukan guru dan murid! Akan tetapi dia segera memberi hormat.

“Ah, harap Suci maafkan, karena aku belum mengenal semua keluarga, maka aku tidak
tahu bahwa Suci adalah murid dari Supek-bo.”

Wanita itu tertawa.
“Tidak apa, Sute. Aku pun belum lama menjadi murid Subo. Engkau sungguh beruntung bisa menjadi murid Lembah Suling Emas, bahkan menurut Subo, engkau akan mewarisi pedang Koai-liong-pokiam. Entah bagaimana sih lihaimu maka engkau dipilih? Sute, kita adalah orang sendiri. Aku adalah Sucimu dan namaku Adalah Yu Hwi. Jangan engkau sungkan, mari kita berlatih sebentar karena aku ingin sekali mengukur sampai dimana kepandaian silatmu.”

“Ah, aku belum belajar apa-apa, Suci....“ Hong Bu berkata.

Akan tetapi wanita itu mendesak dengan kata-kata yang tegas.
“Sute, murid Lembah Suling Emas tidak boleh bersikap lemah. Apalagi aku hanya ingin mengujimu, apa salahnya? Hayo, kau sambut ini!”

Dan wanita itu lalu menyerangnya. Hong-Bu terkejut sekali karena gerakan wanita itu sungguh amat lihai. Maka dia cepat mengelak dan terpaksa dia melayani sucinya itu. Namun, biarpun dia menggunakan busurnya sebagai senjata, tetap saja dia terdesak hebat.

Tentu saja, karena wanita itu adalah Yu Hwi, yang pernah menggemparkan dunia persilatan dengan julukan Ang-siocia! Para pembaca kisah JODOH SEPASANG RAJAWALI tentu masih mengenal wanita lihai ini. Yu Hwi adalah cucu dari Sai-cu Kai-ong Yu Kong Tek yang semenjak kecil diculik dan diambil murid oleh Hek-sin Touw-ong, raja maling yang luar biasa lihainya itu.

Seperti telah diceritakan dalam kisah Sepasang Jodoh Rajawali, dara cantik lincah Yu Hwi yang berjuluk Ang-siocia dan suka mengenakan pakaian merah muda ini, melarikan diri dari depan kakeknya ketika dia diberitahu dan diperkenalkan kepada tunangannya sejak kecil yang bukan lain adalah Kam Hong! Dia merasa malu, dan juga cinta kasihnya terhadap Pendekar Siluman Kecil membuat dia merasa kecewa, sungguhpun harus diakuinya bahwa Kam Hong tidak kalah tampan dan gagah dibandingkan dengan Pendekar Siluman Kecil. Dara yang keras hati ini melarikan diri dan tidak pernah kembali lagi. Seperti telah diceritakan dibagian depan dari cerita ini, perbuatannya itu membuat KamHong, calon suaminya yang telah dijodohkan dengan dia sejak mereka berdua masih kecil, merana dan pendekar ini rnencari-carinya selama lima tahun tanpa hasil!

Dan memang dugaan dan harapan Kam-Hong itu tidak kosong belaka. Ramai-ramai orang kangouw yang menuju ke Himalaya memang menarik juga hati Yu Hwi. Yu Hwi adalah seorang dara murid Si Raja Maling, dan dalam hal permalingan memang dia lihai bukan main, maka mendengar bahwa ada orang mencuri pedang pusaka dari istana dan membawanya lari ke Himalaya, hatinya amat tertarik dan dia pun ikut pula melakukan pengejaran dan pencarian. Ingin dia melihat siapa malingnya yang demikian berani dan lihai, dan ingin dia menguji sampai di mana kepandaian maling itu! Juga, dia
tertarik untuk memperebutkan pedang pusaka yang menggegerkan dunia kang-ouw dan yang telah menarik hati semua orang kang-ouw untuk ikut-ikutan memperebutkannya itu.

Akhirnya, dalam perantauannya ke-Himalaya di mana dia tidak pernah berjumpa dengan orang-orang yang mencarinya, yaitu tunangannya, Kam Hong, dan kakeknya, Sai-cu Kai-ong, dia malah tiba di perbatasan Lembah Suling Emas itu tanpa disengaja dia memasuki daerah tempat tinggal Cui-beng Sian-li Tang-Cun Ciu di kaki gunung, di bawah lembah itu!

Di tempat inilah bertemulah Yu Hwi dengan Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu. Ketika mendengar bahwa dara cilik itu adalah murid Hek-sin Touw-ong yang hendak mencari
pencuri pedang pusaka, Cui-beng Sian-li tertarik dan menguji kepandaiannya. Yu Hwi
tekejut bukan main, dan juga kagum karena ternyata kepandaian pencuri ini jauh lebih
tinggi dari pada tingkat kepandaiannya sendiri, bahkan masih lebih tinggi dari pada ilmu kepandaian gurunya, Si Raja Maling! Maka tunduklah hati dara yang keras ini dan dia pun mengangkat guru kepada Cui-beng-Sian-li yang juga merasa suka kepada Yu Hwi.

Demikianlah sedikit riwayat dari YuHwi yang kini bertemu sutenya, karena keduanya adalah para murid-murid daripara tokoh Lembah Suling Emas dan dalam kesempatan itu, Yu Hwi sengaja menguji kepandaian sutenya yang dilihat oleh Ci Sian sehingga gadis cilik ini turun tangan hendak membantu Hong Bu.

Kini Yu Hwi yang berdiri di samping Hong Bu memandang kepada Ci Sian dan kepada
See-thian Coa-ong dengan alis berkerut.

“Sute, engkau kenal mereka?”tanyanya tanpa menoleh kepada Hong Bu.

“Aku tidak mengenal kakek itu, Suci, dan Nona ini pernah kujumpai di pegunungan salju.”

Lega rasa hati Yu Hwi. Kiranya dua orang yang datang ini bukan keluarga atau sahabat
sutenya. Maka setelah memandang penuh perhatian, dia dapat menduga bahwa kakek
gundul botak yang datang bersama gadis cilik itu tentulah seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Maka diapun menghadapi kakek itu dan berkata dengan suara tegas.

“Kalian berdua telah memasuki daerah kami yang terlarang. Kalau hal itu kalian lakukan tanpa sengaja, harap kalian segera pergi lagi secepatnya meninggalkan tempat ini. Kalau disengaja, harap katakan apa keperluan kalian datang kesini dan siapa adanya kalian berdua!”

See-thian Coa-ong tersenyum ramah.
“Memang kami sengaja mendatangi tempat ini. Aku adalah See-thian Coa-ong, hendak berjumpa dengan Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu.”

Terkejutlah Yu Hwi mendengar ini dan dia menjadi semakin curiga.
“Sute, harap kau pulang dulu, tidak baik kalau sampai Subo melihatmu di sini.”

Hong Bu mengangguk.
“Baiklah, aku pergi dulu, Suci.”

Dan dia pun lalu menoleh kepada Ci Sian. Sejenak mereka berpandangan. Kedua orang muda remaja ini semenjak bertemu memang merasa saling suka, bahkan begitu berjumpa mereka telah bekerja sama menghadapi Su-bi Mo-li, maka rasanya sekarang tidak enak dalam hati Hong Bu bahwa mereka bertemu lagi dalam waktu sesingkat itu, tanpa ada kesempatan untuk bicara panjang lebar.

“Nona, kuharap keadaanmu akan baik selalu.” akhirnya Hong Bu berkata.

“Terima kasih, kuharap engkau pun begitu pula.” jawab Ci Sian.

“Sute, pergilah....“ desak Yu Hwi, mengingat akan pentingnya urusan yang dihadapinya.

Kakek ini jelas bukan orang Han, melainkan seorang Nepal atau India, maka kini datang mencari subonya, tentu ada urusan yang amat gawat. Apalagi melihat keadaan kakek itu yang menunjukkan tanda-tanda seorang yang berilmu tinggi. Hong Bu mengangguk dan membalikkan tubuhnya, akan tetapi teringat bahwa dia belum berkenalan dengan gadis cilik itu. Maka dia membalik lagi dan berkata cepat,

“Namaku Sim Hong Bu.”

Ci Sian tersenyum.
“Dan namaku Bu-Ci Sian.”

Kini Hong Bu membalikkan tubuhnya.
“Sampai jumpa!” katanya dan diapun berlari cepat meninggalkan tempat itu, menghilang dibalik batu-batu besar.

Dia harus melalui jalan rahasia untuk kembali ke daerah Lembah Suling Emas di atas sana, jalan rahasia terowongan yang hanya diketahui oleh para penghuni Lembah Suling Emas saja.

Sementara itu, Yu Hwi lalu berkata kepada See-thian Coa-ong.
“Guruku tidak begitu mudah ditemui, dan dia tidak suka diganggu.”

“Aih, Nona, agaknya Nona belum berada di sini tiga tahun yang lalu maka tidak mengenalku. Aku dan Gurumu sudah berjanji untuk sewaktu-waktu bertemu di sini, maka harap kau beritahukan kepada Cui-beng Sian-li bahwa aku See-thian Coa-ong datang untuk memenuhi janji dan untuk menebak teka-tekinya.”