FB

FB


Ads

Selasa, 23 Juli 2019

Cinta Bernoda Darah Jilid 156

“Koko....!” Sian Eng juga berseru dengan suara tertahan, seakan-akan ia merasa girang dan terharu, mukanya tiba-tiba menjadi merah seperti orang malu dan jengah. “Aku.... aku ingin bicara penting denganmu....!”

Berdebar-debar jantung Suma Boan. Akan tetapi pandang matanya masih penuh selidik, ingin ia menjenguk isi hati gadis itu. Ia tahu bahwa Sian Eng mencintanya, akan tetapi tahu pula bahwa gadis itu bisa mendendam kepadanya dan bisa membenci karena perbuatannya terhadap gadis itu di dalam perahu. Tentu saja ia tidak mencinta dengan setulus dan sejujurnya hati terhadap Sian Eng, melainkan mencintanya karena gadis itu memang cantik jelita.

Bagi seorang laki-laki semacam Suma Boan, ia selalu jatuh cinta kepada wanita cantik, berapapun banyaknya, cinta yang berdasarkan nafsu berahi, cinta yang berdasarkan ingin menyenangkan diri sendiri. Di samping kecantikan Sian Eng, juga gadis ini telah menemukan kitab-kitab peninggalan Tok-siauw-kui yang amat ia inginkan.

Namun Suma Boan adalah seorang laki-laki yang sudah banyak pengalamannya, pula ia terkenal cerdik, maka ia masih saja menaruh curiga. Tentu saja ia cukup percaya akan kepandaian sendiri, tahu bahwa Sian Eng seorang diri saja takkan mampu berbuat buruk terhadapnya, akan tetapi ia sudah membuktikan keadaan aneh gadis ini yang seakan-akan telah menemukan ilmu dan memilikinya secara hebat, sungguhpun belum sempurna benar.

“Koko, aku mau bicara tentang.... kitab....”

Seketika wajah Suma Boan berseri. Keinginannya mendapatkan kitab-kitab peninggalan Tok-siauw-kui amat besar, apalagi pada waktu sekarang setelah keadaan pemerintahan di kota raja terjadi perubahan dan ia merasa betapa kedudukan keluarga ayahnya terancam, ia ingin sekali mendapatkan kitab-kitab itu dan mewarisi kepandaian yang akan membuat ia menjadi seorang jagoan nomor satu yang ditakuti semua lawan.

“Moi-moi...., aku girang sekali kau datang. Marilah kita bicara di dalam....!”

Ia melangkah maju, memegang lengan Sian Eng dan menggandengnya. Sian Eng menurut saja dan berjalanlah mereka bergandengan tangan menuju ke ruangan dalam, melewati pagar penjaga yang berdiri tegak tanpa berkedip. Suma Boan yang menggandeng dan merapatkan tubuhnya merasa betapa jantung di dalam dada gadis itu berdebar-debar keras. Diam-diam ia merasa bahagia sekali karena mengira bahwa gadis ini terlalu girang bertemu dengannya.

Setelah mereka memasuki ruangan sebelah dalam, Suma Boan segera menarik gadis itu ke dalam sebuah kamar tamu yang indah, tiba-tiba ia memeluk Sian Eng dan menciuminya. Sejenak Sian Eng menurut saja, kemudian perlahan ia merenggutkan dirinya, terlepas dari pelukan Suma Boan yang makin merasa yakin bahwa gadis ini tidak marah atau benci kepadanya.

“Moi-moi, kekasihku yang tercinta,” bisik Suma Boan, masih memegangi kedua tangan gadis itu, “alangkah rinduku kepadamu! Kau datang seperti seorang bidadari dari sorga yang turun ke dunia untuk menghibur hatiku. Moi-moi, aku tidak akan melepaskanmu lagi, jangan kau pergi meninggalkan aku lagi. Mari kita hidup bahagia di rumahku ini!”

“Suma-koko, kau sudah mengenal hatiku. Perkara itu belum waktunya kita bicarakan. Kedatanganku ini membawa urusan yang amat penting. Lepaskan tanganmu dan mari kita bicara baik-baik.”

Sian Eng menarik tangannya. Suma Boan tersenyum dan sengaja menekan jantungnya yang berdebar saking girangnya, karena di depan gadis ini ia harus menyembunyikan perasaannya bahwa ia jauh lebih “cinta” pada kitab-kitab pusaka peninggalan Tok-siauw-kui daripada diri gadis ini.

“Marilah, Adik Sian Eng, kita duduk disana.”

Ia menarik Sian Eng dan keduanya lalu duduk di atas dipan yang terdapat di kamar itu. Suma Boan tetap tidak melepaskan gadis itu, duduk di sampingnya sambil memeluknya. Sian Eng tidak menolak lagi dan ia berkata perlahan.

“Koko, kau tentu maklum akan perasaan seorang gadis. Saking kaget dan duka hatiku, ketika di dalam perahu dahulu....” suaranya tersendat dan kedua pipinya menjadi merah sekali, “secara tidak sadar aku menyerangmu dan kemudian melarikan diri. Baru kemudian aku merasa betapa.... aku tak dapat hidup terpisah dari padamu, maka.... maka aku datang kesini....”

Girang sekali hati Suma Boan. Ia mengelus-elus rambut kepala gadis itu lalu berkata,
“Aku tahu, Moi-moi. Aku.... aku lupa daratan waktu itu saking besarnya cintaku kepadamu. Tentang kitab-kitab itu.... eh, bukankah kau tadi bilang mau bicara tentang kitab?”






Wajah Sian Eng berseri dan ia tersenyum lebar.
“Kitab-kitab? Ah, belum kuceritakan kepadamu bahwa setelah aku pergi dari perahu, aku memasuki lagi gua rahasia dan mengambil semua kitab peninggalan Tok-siauw-kui. Kau tahu kitab-kitab apa yang kudapatkan? Kitab rahasia dari Siauw-lim-pai, kitab ilmu pedang dari Kun-lun, kitab rahasia tentang ilmu kesaktian Beng-kauw, ada pula kitab yang mengajarkan ilmu-ilmu mujijat tentang melawan maut, malah ada kubaca sepintas lalu judul sebuah kitab yang mengajarkan ilmu menghilang dan terbang!”

Seperti seorang kelaparan mendengar cerita tentang makanan-makanan lezat, Suma Boan menelan ludah, akan tetapi sebagai seorang yang cerdik ia menahan gelora hatinya ini dan cepat memeluk Sian Eng.

“Ah, kekasihku yang baik. Sesungguhnya, soal kitab itu bagiku hanya soal kecil. Yang penting, yang selalu kurindukan, yang selalu kuimpikan, adalah dirimu, Adik Sayang! Akan tetapi aku khawatir sekali karena kau sudah mendapatkan kitab-kitab itu, tentu kau menjadi incaran orang-orang dunia kang-ouw. Akan lebih aman kalau kau tinggal bersamaku disini, beserta kitab-kitab itu yang boleh kita pelajari bersama. Kita kelak akan menjadi suami isteri yang paling hebat di kolong langit! Dimanakah sekarang kitab-kitab itu? Mari kita ambil dan bawa kesini, Moi-moi.”

Sian Eng tersenyum manis, biarpun hatinya penuh kebencian ketika pemuda yang ia cinta akan tetapi yang menghancurkan cinta kasihnya dengan pengkhianatan itu menciuminya mesra.

“Itulah sebabnya aku datang, Koko. Kitab-kitab itu kusembunyikan di tempat rahasia. Akan tetapi aku tidak berani mengambilnya sendiri dan membawanya kesini. Kau benar, kalau sampai ketahuan orang kang-ouw, tentu mereka akan berusaha merampasnya. Marilah kau ikut denganku ke tempat itu, tidak jauh, kita bersama mengambil kitab-kitab itu dan membawanya kesini. Akan tetapi.... apakah betul kau akan tetap setia kepadaku?” Sian Eng pura-pura memandang penuh curiga.

“Ah, Sian Eng, kekasihku, apakan kau masih tidak percaya kepadaku?”

Tiba-tiba pemuda itu berlutut di depan Sian Eng, merangkul kedua kakinya! Sejenak sepasang mata yang bagus itu mengeluarkan sinar berapi. Alangkah inginnya ia menggerakkan tangan, sekali pukul ubun-ubun kepala yang tunduk di depannya itu ia akan dapat membunuh Suma Boan. Akan tetapi ia teringat akan banyaknya penjaga dan ia tentu akan terkurung dan berada dalam bahaya.

“Mari kita pergi sekarang, Koko.”

“Sekarang? Mengapa tergesa-gesa? Pula, berbahaya sekali mengambilnya di waktu siang. Lebih baik malam nanti kita pergi, Adikku.”

Karena tahu bahwa kalau ia mendesak, Suma Boan pasti akan menaruh curiga, gadis itu terpaksa menyetujui. Pula, memang lebih baik pergi di waktu malam untuk melaksanakan rencananya yang sudah ia atur dengan Lin Lin ini. Ia harus berani berkorban, demi maksud hatinya membalas dendam. Hatinya perih dan makin sakit, akan tetapi Sian Eng rela menjadi permainan Suma Boan sebelum ia mendapat kesempatan menghancurkan orang yang telah membasmi kebahagiaan hatinya.

Ia terpaksa menuruti kehendak Suma Boan terpaksa ia menyerah dan menahan-nahan kemuakan hatinya ketika Suma Boan membuktikan “cinta kasihnya”, yang sesungguhnya bukan lain hanya terdorong nafsu semata-mata. Makin bencilah hati Sian Eng, dan ketika hari terganti malam Suma Boan menggandeng tangannya keluar dari gedung, hampir Sian Eng tak kuat menahan kebenciannya. Baru setelah mereka berjalan di dalam gelap, gadis ini mencucurkan air mata yang cepat-cepat ia usap dengan ujung lengan bajunya.

Suma Boan kini percaya betul kepada Sian Eng. Siang tadi, gadis ini menyerah ikhlas kepadanya, tanda bahwa gadis ini benar-benar datang karena cintanya. Penyerahan gadis inilah menjadi bukti baginya bahwa di balik kedatangan Sian Eng tidak ada rahasia apa-apa. Kalau tadinya ia menaruh curiga dan menyangka akan adanya jebakan, maka dengan penyerahan diri Sian Eng kepadanya, maka kecurigaan itu lenyap sama sekali.

Kini ia yakin bahwa Sian Eng benar-benar mencintanya, benar-benar datang hendak menyerahkan diri sambil membawa kitab-kitab yang berharga. Maka dapat dibayangkan betapa bahagia rasa hati putera pangeran ini.

Mereka memasuki hutan yang letaknya di sebelah barat kota An-sui. Hutan yang tidak terlalu luas akan tetapi cukup gelap karena pohon-pohon besar memenuhi hutan itu.

“Baik sekali kau tidak mengajak pengawal, Koko. Urusan ini lebih baik tidak diketahui orang lain.”

“Memang betul, Moi-moi. Kalau saja kau tidak membuktikan cinta kasihmu yang besar siang tadi, tentu aku akan mengajak pengawal-pengawal. Maklumlah, bukan aku kurang percaya kepadamu, akan tetapi perubahan di kota raja membuat musuh-musuhku mencari kesempatan untuk menghancurkan aku. Dimanakah gua itu, Adikku?”

“Di sebelah sana, sudah dekat. Mari!”

Didalam gelap itu, dengan “mesra” Sian Eng menggandeng tangan Suma Boan dan diajaknya berlari menuju ke tengah hutan. Tak lama kemudian mereka berhenti di depan sebuah gua yang depannya tertutup oleh rumput alang-alang. Sian Eng menarik tangan Suma Boan, diajak memasuki gua yang gelap itu sambil menyingkap alang-alang yang tinggi menyembunyikan gua.

“Mari masuk, kusembunyikan di dalam situ.”

Mereka lalu memasuki gua yang cukup besar itu dengan jalan berindap-indap. Suma Boan mulai curiga dan bersikap waspada, akan tetapi karena tidak mendengar suara apa-apa, ia ikut dengan Sian Eng melangkah masuk ke dalam gua. Setelah mereka melangkah maju sejauh lima meter, mereka bertemu dengan dinding gua.

“Dimana kitab-kitabnya?” Suma Boan berbisik.

Akan tetapi tiba-tiba Sian Eng merenggutkan tangannya. Suma Boan kaget. Gua itu gelap, ia melihat bayangan Sian Eng menjauhkan dirinya.

“Moi-moi.... dimana kau? Mana kitabnya....?”

Tiba-tiba matanya silau oleh sinar api yang dibuat orang dari luar dan beberapa detik kemudian, Lin Lin yang membawa obor di tangannya telah meloncat masuk, obor di tangan kiri, pedang bersinar kuning di tangan kanan! Juga Sian Eng menyambar sebuah obor, dinyalakannya dan menaruh obor itu di sudut gua. Keadaan menjadi terang menyeramkan.

Suma Boan berdiri terbelalak. Matanya mencari-cari dan ternyata gua itu kosong sama sekali. Luasnya lima meter persegi. Di depannya kini berdiri dua orang gadis berdampingan dan menutup jalan keluar. Lin Lin dengan pedang bersinar kuning di tangannya. Sian Eng dengan kedua tangan terbuka, jari tangannya menegang, matanya terbelalak penuh kebencian.

Diam-diam Suma Boan merasa ngeri juga, akan tetapi karena ia seorang laki-laki yang tabah dan berilmu tinggi, ia dapat menekan perasaannya dan pura-pura tidak dapat menduga kehendak mereka.

“Moi-moi.... adikku Sian Eng yang manis, mengapa tiba-tiba adikmu ini muncul? Dan manakah kitab-kitab yang kau janjikan?”

“Suma Boan manusia iblis! Kematian sudah di depan mata, masih pura-pura tidak tahu akan dosa-dosamu?”

Bentak Sian Eng dengan suara gemetar saking menahan kemarahan yang meluap-luap, kemarahan dan kebencian yang selama ini memenuhi dadanya, yang selalu ditahan-tahan dan ditutupi sikap kasih sayang untuk dapat memancing dan menipu Suma Boan.

“Apa....? Eng-moi.... apakah maksudmu? Bukankah kau juga mencintaku seperti aku mencintamu? Bukankah tadi.... kau menyerahkan diri sepenuhnya dengan rela dan suka kepadaku?”

“Tutup mulutmu yang kotor!” bentak Sian Eng sambil melangkah maju penuh ancaman. “Ooooohhh, betapa bencinya aku! Makin benci mendengar kata-katamu. Suma Boan manusia berhati binatang, perbuatanmu yang biadab terhadap diriku di dalam perahu telah menodai cinta kasihku, telah merobek-robek hatiku, telah mengubah cintaku menjadi benci yang sebesar-besarnya. Aku ingin mengganyang jantungmu, ingin kuhirup darahmu kukeluarkan isi perutmu!”

Suma Boan kaget bukan main, merasa ngeri dan gentar. Mulai menyesallah hatinya mengapa ia terburu-buru menodai gadis ini yang ternyata tadinya benar-benar mencintanya. Akan tetapi semua itu telah terlanjur dan melihat bahwa yang menentangnya hanya dua orang gadis ini, tentu ia segera dapat mengusir rasa jerihnya. Ia tersenyum mengejek dan berkata.

“Hemmm, Sian Eng. Dengan kepandaianmu dan dibantu adikmu, apa kau kira akan mudah saja mengalahkan aku? Kau tahu, tingkat ilmu kepandaianku jauh melebihimu. Juga jauh melebihi kepandaian adikmu. Insyaflah akan hal ini dan kalian ini nona-nona manis, sayang sekali kalau sampai tewas di tanganku. Lebih baik kalian hayo ikut denganku, hidup penuh kesenangan di istanaku sambil memperdalam ilmu silat....”






Tidak ada komentar:

Posting Komentar