FB

FB


Ads

Kamis, 11 Juli 2019

Cinta Bernoda Darah Jilid 128

Seru Bok Liong dengan suara serak dan ketika Lin Lin merenggangkan diri dan memandang, hatinya terharu menyaksikan betapa pipi pemuda itu basah oleh air mata!

Dengan gerakan halus Lin Lin melepaskan diri daripada pelukan itu. Ia tidak marah, tidak merasa terhina, bahkan terharu karena ia maklum bahwa pemuda ini benar-benar amat gembira dengan pertemuan ini sehingga berbuat agak melewati batas kesopanan.

“Twako, tenanglah, mari kita bicara yang enak. Aku pun girang sekali melihat kau selamat. Tadinya aku sudah khawatir sekali, mengira kau tentu tewas oleh kenekatanmu melawan Hek-giam-lo dan orang-orangnya.”

Lin Lin menarik tangan pemuda itu, diajak duduk di atas rumput. Sambil berbuat demikian, Lin Lin menoleh ke sana ke mari, khawatir kalau-kalau ada orang melihat dia tadi dipeluk-peluk pemuda ini. Akan tetapi tempat itu amat sunyi, tidak ada orang lain, bahkan tidak tampak mahluk lain kecuali kuda Bok Liong yang kini dengan enaknya makan rumput dengan peluh membasahi tubuh, tanda bahwa kuda itu pun baru saja melakukan perjalanan jauh.

Bok Liong tertawa, menghapus air matanya.
“Ah, maafkan aku, saking girangku sampai tak tahan mengeluarkan air mata seperti bocah cengeng,” katanya.

“Bukan begitu, Twako. Kau terlalu baik hati. Kau telah berusaha berkali-kali untuk menolongku tanpa menghiraukan keselamatan dirimu. Betapa hancur hatiku ketika melihat kau tersiksa tanpa mampu menolongmu kembali. Akan tetapi, bagaimana kau dapat selamat? Aku mendengar bahwa kau tertolong oleh suhumu yang lucu itu.”

“Betul, Lin-moi. Suhu yang telah menolongku. Beliau merawatku sampai sembuh dan aku diminta tinggal bersama Suhu untuk memperdalam ilmu. Dan kau sendiri, yang sudah membuat aku putus asa, yang membuat aku hari ini tergesa-gesa hendak menemui Hek-giam-lo dan mengadu nyawa kalau tidak mau membebaskanmu, bagaimana kau dapat bebas dan tahu-tahu berada di sini?”

“Aku ditolong oleh Kim-lun Seng-jin.”

Dengan singkat Lin Lin menceritakan pengalamannya dan tentu saja ia tidak menceritakan penemuannya tentang ilmu di dalam tongkat Beng-kauw, juga ia tidak mau menyebut-nyebut nama Suling Emas.

“Tapi mengapa kau bisa berada di kaki Gunung Thai-san ini, Lin-moi?” Bok Liong meraba tangan Lin Lin terus digenggamnya. “Tempat ini berbahaya sekali! Thian-te Liok-koai yang tinggal lima orang, Hek-giam-lo, Siang-mou Sin-ni, It-gan Kai-ong, Toat-beng Koai-jin dan Tok-sim Lo-tong, akan bertemu dan mengadu kepandaian di puncak gunung ini. Kalau sampai bertemu dengan seorang di antara mereka, hal itu amat berbahaya karena mereka adalah orang-orang yang sudah bukan manusia lagi, jahat seperti iblis.”

Lin Lin tersenyum dan senyum ini menyambar dan menancap di ulu hati Bok Liong, melebihi pedang runcingnya.

“Twako, justeru kedatanganku ini hendak menonton pertandingan mereka. Tentu ramai sekali!”

Bok Liong melongo dan menggaruk-garuk rambutnya dengan sepuluh jari tangannya.
“Nonton? Moi-moi, kau terlalu meremehkan mereka! Ketahuilah, kejahatan mereka sudah tersohor di kolong langit. Kadang-kadang mereka menyiksa dan membunuh orang secara begitu saja, secara sembarangan. Dalam gembira bisa saja mereka membunuh orang, apalagi dalam marah atau duka. Pendeknya, sedikit persoalan saja cukup untuk mereka jadikan alasan menurunkan tangan iblis. Bahkan mereka berlumba agaknya untuk dapat disebut orang yang paling jahat, karena sebutan ini bagi Thian-te Liok-koai merupakan sebutan kehormatan, yaitu orang jahat nomor satu di dunia! Moi-moi, mari kita pergi cepat-cepat dari tempat terkutuk ini!” Kembali Bok Liong memegang tangan gadis itu erat-erat.

Lin Lin kembali merasa tidak enak tangannya dipegang erat oleh pemuda itu, akan tetapi mengingat akan pengorbanan pemuda itu, ia mendiamkannya saja, lalu menjawab.

“Liong-twako, kenapa kau sekarang berubah begini penakut? Belum lama ini kau bahkan berani menghadapi Hek-giam-lo dan orang-orangnya, menyerbu berkali-kali dengan keberanian yang membuat orang sedunia boleh merasa kagum. Kenapa sekarang kau takut? Dan pula, bukankah kau juga datang ke tempat ini? Andaikata tidak berjumpa denganku, kau hendak ke manakah?”






“Ah, Lin-moi, sudah kuceritakan kepadamu tadi. Aku sakit hati kepada Hek-giam-lo, mengira bahwa kau tentu celaka di tangah iblis itu. Oleh karena inilah setelah aku menerima gemblengan dari Suhu, aku sengaja datang ke sini karena teringat akan janji pertemuan para iblis di sini. Aku pasti akan bertemu dengan Hek-giam-lo di puncak dan akan kuajak dia bertempur sampai mati kalau dia tidak bisa mengembalikan kau. Moi-moi, sebelum bertemu denganmu, aku menjadi nekat dan tidak ingin hidup lagi kalau kau tewas di tangan Hek-giam-lo. Akan tetapi setelah kini melihat kau selamat, aku pun ingin hidup, Moi-moi!”

Ucapan ini terdengar gemetar penuh perasaan dan mata pemuda itu menatap wajah Lin Lin penuh cinta kasih, membuat Lin Lin terharu dan ia pun membalas pegangan itu dengan mesra.

“Hemmm, kau selalu memikirkan tentang keselamatanku tanpa menghiraukan keselamatanmu sendiri, Twako. Andaikata aku menuruti kehendakmu tidak jadi naik ke puncak untuk nonton pertandingan hebat lalu kau hendak mengajakku ke mana?”

Tiba-tiba Bok Liong berlutut dan memegangi kedua tangan Lin Lin sambil memandang tajam dan suaranya gemetar,

“Lin Lin, Moi-moi.... aku.... aku akan mengajakmu ke Cin-ling-san, menemui bibi gurumu, aku.... aku akan meminangmu untuk menjadi isteriku....”

Bukan main kagetnya hati Lin Lin. Memang, tentu saja ia tahu bahwa pemuda ini mencintanya, akan tetapi mendengar bahwa Bok Liong hendak meminangnya dari tangan bibi gurunya, ia benar-benar menjadi kaget dan wajahnya seketika berubah pucat. Ia menarik kedua tangannya dan bangkit berdiri.

“Tidak.... tidak.... Liong-twako, aku.... menganggapmu sebagai kakak sendiri, seorang kakak yang baik. Biarlah kita bersumpah mengangkat saudara.... tapi aku tidak.... tidak....”

Bok Liong yang masih berlutut memegang kaki kanan Lin Lin, suaranya penuh permohonan.

“Lin Lin, dewi pujaan hatiku.... aku cinta kepadamu, Lin Lin. Perlukah ini kujelaskan lagi? Aku mencintaimu semenjak pertemuan kita yang pertama, aku rela mati untukmu.... sudilah kau menerima cintaku, bukan sebagai adik, melainkan sebagai calon teman hidup selamanya. Aku bersumpah akan membahagiakan hidupmu selamanya Moi-moi....”

Air mata bercucuran dari sepasang mata Lin Lin. Hatinya amat terharu dan ia yakin bahwa andaikata ia menjadi isteri pemuda ini, sudah pasti hidupnya akan terjamin dengan kasih sayang yang suci.

Akan tetapi wajah Suling Emas terbayang di depan matanya, membayang di antara air mata dan tak mungkin ia menerima pinangan pemuda lain selama bayangan wajah ini tidak lenyap dari kenangannya. Ia tahu bahwa Lie Bok Liong adalah seorang pendekar muda pilihan, seorang gagah perkasa yang berhati emas, satria sejati. Namun, hatinya telah terampas oleh Suling Emas dan ia hanya memiliki sebuah hati untuk diberikan kepada pria idamannya.

“Tidak, Liong-twako....!”

Setelah berkata demikian, Lin Lin menggerakkan kakinya terlepas daripada pelukan Bok Liong dan tubuhnya berkelebat cepat meninggalkan pemuda itu, lari seperti terbang mendaki Gunung Thai-san!

Sejenak Lie Bok Liong tercengang, mukanya pucat sekali, pandang matanya sayu mengikuti bayangan gadis pujaannya yang sebentar saja sudah menghilang di balik pepohonan. Ia menghela napas panjang, meramkan kedua matanya, menggigit bibir kemudian bangkit dan berjalan perlahan, mendaki gunung itu pula. Ia merasa hatinya tertusuk, akan tetapi ia tidak putus asa. Lin Lin tidak pernah menyatakan bahwa gadis itu tidak mencintanya, hanya menolak, mungkin karena malu, mungkin karena kaget dan gelisah, hal ini memang mungkin sekali, sebagai seorang gadis remaja yang mendengar pengakuan cinta dan pinangan dari seorang muda.

Ia tidak putus asa dan akan berlaku sabar. Akan tetapi hatinya khawatir bukan main melihat gadis itu mendaki puncak Thai-san yang ia tahu amat berbahaya pada waktu itu dengan akan hadirnya iblis-iblis itu. Ia harus mengejar, harus menyusul dan siap untuk membela dan melindungi Lin Lin daripada marabahaya.

Gurunya, Gan-lopek, juga telah menyatakan bahwa pada hari-hari pertandingan para iblis di puncak Thai-san, gurunya itu akan datang untuk menonton pula. Dan agaknya hanya orang-orang sakti yang memiliki kepandaian seperti gurunya itulah yang akan berani datang untuk menonton pertandingan berbahaya itu. Maka hatinya menjadi besar dan dengan tabah Lie Bok Liong terus mendaki lereng gunung yang amat curam dan sukar dilalui itu.

Baru sekarang teringat olehnya betapa cepatnya tadi ia menyaksikan gerakan Lin Lin ketika lari dari padanya mendaki gunung. Padahal ia tahu bahwa ilmu kepandaian gadis itu hanya sebanding saja dengan tingkatnya, kalau tidak lebih rendah malah. Bagaimana tadi ia melihat Lin Lin berlari seperti terbang mendaki gunung sedangkan dia sendiri merasa betapa sukar dan berbahayanya sehingga ia harus bergerak dengan hati-hati dan lambat!

Ketika Lie Bok Liong tiba di daerah gunung itu yang penuh batu besar, di sebuah lereng di punggung Gunung Thai-san, tiba-tiba ia mendengar suara orang terkekeh ketawa. Kagetnya bukan main karena ia tidak melihat bayangan orang mengapa tahu-tahu ada suara ketawa yang menyeramkan ini? Ia menengok dan memandang ke sana ke mari, namun tidak juga melihat bayangan orangnya. Bulu tengkuk pemuda ini berdiri dan biarpun ia tidak percaya akan setan yang dapat muncul di siang hari, ia dapat menduga bahwa tentu ada orang sakti di tempat itu.

Masih untung kalau orang sakti yang baik bagi Bok Liong, akan tetapi suara ketawa itu bukan muncul dari mulut seorang sakti yang baik, melainkan dari mulut seorang iblis sakti yang bukan main kejamnya, yaitu It-gan Kai-ong sendiri!

Kini kakek ini muncul dari balik sebuah batu besar dan mukanya lebih buruk daripada dulu. Punggungnya makin bongkok, rambutnya yang riap-riapan itu kotor sekali, penuh lumpur dan debu, mukanya keriputan begitu dalamnya seperti tersayat, matanya yang tinggal sebelah itu melotot sedangkan mata yang buta mengeluarkan air lendir, mulutnya terkekeh dan dari ujung bibirnya mengalir air liur. Tangannya memegang sebatang tongkat butut.

“Heh-heh-ho-hah! Orang muda, pakaianmu seperti seorang kang-ouw, kau membawa-bawa pedang. Apa kebisaanmu?”

Di dalam hatinya Bok Liong mendongkol sekali, akan tetapi maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang iblis sakti yang sama sekali tak boleh dipandang ringan, ia segera menjura dalam-dalam dan menjawab dengan sikap sopan.

“Kai-ong (Raja Pengemis) yang mulia, harap maafkan bahwa saya tidak tahu Locianpwe (Orang Tua Gagah) berada di sini sehingga terlambat menyampaikan salam.”

“Hua-hah-hah, kau mengenal aku? Akan tetapi aku tidak mengenal kau.”

“Mana mungkin Locianpwe mengenal saya yang tidak ternama dan bodoh ini? Akan tetapi saya kira Locianpwe sudah mengenal Suhu.”

“Heh-heh, tak perlu kau perkenalkan, aku akan tahu sendiri. Terima ini!”

Tiba-tiba tongkat butut di tangan itu bergerak dan tahu-tahu sudah mengancam jalan darah maut di dada kiri Bok Liong dengan totokannya!

“Aaaiiihhhhh!”

Bok Liong terkejut sekali, akan tetapi sebagai seorang ahli ilmu silat tinggi, jurus-jurus silatnya sudah mendarah daging di tubuhnya sehingga gerak otomatisnya berjalan dan ia berhasil mengelak dari totokan ini. Melihat gerakan itu, terutama sekali bagian tubuh belakang yang megal-megol, It-gan Kai-ong tertawa sambil menarik kembali tongkatnya.

“Heh-heh, kau murid si tukang gambar edan Gan-lopek! Mana gurumu? Suruh dia muncul!”

“Maaf, Locianpwe. Saya tidak berani memanggil Suhu kalau beliau tidak berkenan muncul atas kehendak sendiri.”

Jawaban Bok Liong ini mencerminkan kecerdikannya. Ia tidak tahu apakah gurunya sudah berada di gunung ini dan ia pun tidak mau membohong dan menyombong bahwa gurunya akan melindunginya, akan tetapi jawaban itu membayangkan bahwa gurunya mungkin ada dan mungkin tidak, jadi tidak membohong akan tetapi sekaligus merupakan peringatan bagi It-gan Kai-ong, bahwa Gan-lopek berada disitu maka ia tidak boleh mengganggu murid orang sakti itu!

Akan tetapi It-gan Kai-ong adalah seorang manusia iblis yang sukar digertak.
“Heh-heh-heh, kalau begitu gurumu tentu belum datang. Sayang sekali, sebetulnya aku hendak membekuk mampus gurumu itu agar kujadikan bukti bahwa korbanku bukan orang biasa. Akan kagumlah iblis-iblis itu kalau aku berhasil membawa she Gan si tukang gambar ke puncak. Menangkapmu tiada gunanya, kau orang tiada guna dan tidak berarti. Tapi kau sudah bertemu denganku di Thai-san, maka kau harus mampus!”






Tidak ada komentar:

Posting Komentar