FB

FB

Ads

Kamis, 11 Juli 2019

Cinta Bernoda Darah Jilid 127

Wanita di depan itu lari menuju ke timur. Setelah tiba di daerah pegunungan yang tandus dan sunyi, mulailah ia mengurangi kecepatannya dan akhirnya ia hanya berjalan kaki. Suling Emas mengajak Lin Lin terus mengikutinya dari belakang.

“Kenapa tidak susul dia? Aku ingin sekali melihat mukanya, ingin melihat siapa dia,” bisik Lin Lin.

“Sssttt, apa perlunya? Aku merasa curiga. Ilmu larinya bukan main, tentu dia seorang sakti. Aku ingin tahu dia hendak ke mana dan hendak berbuat apa. Serasa sudah mengenal orang itu, akan tetapi lupa lagi....” kata Suling Emas.

Akan tetapi wanita itu benar-benar kuat sekali. Tak pernah ia berhenti berjalan sampai senja berganti malam! Lin Lin sudah merasa lelah sekali.

“Aku.... aku tidak kuat lagi berjalan....” ia mengeluh. “Kakiku serasa hendak copot sambungan tulangnya. Mau apa sih mengikuti orang gila? Suling Emas, aku mogok, tidak kuat lagi....” Lin Lin tiba-tiba menjatuhkan diri duduk di atas tanah.

“Mari kupondong!”

Suling Emas yang betul-betul tertarik oleh wanita di depan itu yang luar biasa ilmu lari cepatnya, tanpa ragu-ragu membungkuk dan memondong tubuh Lin Lin. Gadis ini segera merangkul lehernya dan merebahkan kepala di atas pundaknya dengan hati penuh babagia dan manja.

Suling Emas hanya menghela napas dan melanjutkan perjalanan mengikuti wanita itu. Ia benar-benar merasa kasihan kepada Lin Lin, gadis aneh yang kadang-kadang menyebut “kanda” ada kalanya menyebut “Suling Emas” begitu saja kepadanya. Gadis yang bukan sedarah daging dengannya, lain ayah ibu, gadis berdarah bangsawan, puteri bangsa Khitan yang gagah perkasa.

Malam itu bulan muncul sepenuhnya. Bulan purnama. Lin Lin agaknya sudah lupa akan wanita yang mereka ikuti. Seluruh perasaannya tenggelam ke dalam laut bahagia dan mesra. Dengan bulan purnama di angkasa, suasana menjadi romantis sekali. Tidak salah kiranya orang tua yang mengatakan bahwa sinar bulan purnama mendorong dan merangsang hati muda ke arah kemesraan dan memperkuat pengaruh asmara.

Lin Lin masih merangkul leher Suling Emas, kepalanya rebah miring di atas pundak pendekar itu dan matanya ketap-ketip menatap wajah yang mencuri hatinya itu penuh cinta kasih. Sudah lebih tiga jam Suling Emas memondongnya. Sudah banyak berkurang kelelahan Lin Lin, namun gadis itu tidak sadar akan hal ini. Dirasanya baru sebentar ia dipondong!

“Koko....” bisiknya di dekat telinga Suling Emas.

“Hemmm....?”

Suling Emas menjawab acuh tak acuh karena perhatiannya tertuju ke depan. Wanita itu mendaki sebuah bukit kecil di mana terdapat tanah kuburan yang penuh dengan gundukan-gundukan tanah dan batu nisan!

“.... ingin sekali aku selamanya berada di dalam pondonganmu....”

“Huh, kau bukan bayi! Sudah terlalu lama kau kupondong. Turun!”

Suling Emas menurunkan Lin Lin dan baiknya sinar bulan berwarna kemerahan sehingga menyembunyikan muka pendekar ini yang menjadi merah sekali.

“Koko....”

“Hushhhhh.... lihat itu....” Suling Emas menuding ke depan.

Teringatlah Lin Lin akan wanita yang tadi sudah ia lupakan sama sekali. Di dalam pondongan Suling Emas di malam penuh sinar bulan tadi, ia sudah lupa segala, yang teringat hanya dia dan Suling Emas, dunia ini hanya ada mereka berdua, ada urusan cinta kasih mereka, yang lain-lain tidak ada lagi!

Sekarang ia teringat dan cepat memandang. Kagetlah hati Lin Lin ketika mendapat kenyataan bahwa mereka telah berada di daerah kuburan, bahkan Suling Emas dan dia sudah mengintai dari balik sebuah batu nisan, di bawah sebatang pohon kecil.






Wanita itu dengan lenggang yang menunjukkan bahwa dia seorang yang masih muda dan berperawakan bagus sekali, berjalan menghampiri sebuah makam, lalu menjatuhkan diri berlutut memeluk batu nisan sambil menangis tersedu-sedu!

“Ayah...., Ayah yang baik.... ampunilah anakmu....” ratap tangis wanita itu.

Sejenak Lin Lin tercengang, kemudian tak terasa lagi air matanya jatuh berderai di atas kedua pipinya. Teringatlah ia akan dirinya sendiri yang sudah yatim piatu, tiada ayah bunda lagi, bahkan dibandingkan dengan wanita di sana itu, dia lebih sengsara. Setidaknya wanita itu dapat menangisi kuburan ayahnya, sedangkan dia, dimana kuburan ayah bundanya saja tidak tahu!

Timbul rasa simpati dan kasihan kepada wanita yang berlutut dan tersedu-sedu itu, merasa senasib dan ingin ia mendekati dan menghiburnya. Perasaan ini menggerakkan kakinya dan Lin Lin sudah bangkit berdiri hendak melangkah maju. Akan tetapi tiba-tiba Suling Emas memegang lengannya dan menahannya. Pendekar ini memberi isyarat dengan telunjuk di depan mulut. Lin Lin sadar bahwa mereka sedang mengintai, maka ia membatalkan niatnya dan menghapus air mata dari pipi, lalu mengintai dan mendengarkan.

“Ayah.... ampunkan aku, Ayah. Anakmu telah gagal membalaskan dendam untukmu.... dia terlalu sakti, bukan lawanku. Banyak tokoh kang-ouw bersamaku mengeroyoknya, tanpa hasil. Ayah.... tak mungkin aku dapat membalaskan sakit hatimu, tak mungkin aku dapat mengalahkan dia, pula.... ampunkan aku, Ayah.... anakmu ini.... yang hina dina.... tidak akan tega membunuhnya. Mungkin dapat aku memperdalam ilmu untuk mengalahkannya, akan tetapi.... aku.... aku cinta padanya. Aku mencinta Suling Emas putera musuh besarmu....”

Kembali gadis itu tersedu menangis, kemudian tiba-tiba bangkit berdiri mengembangkan kedua lengannya berdongak memandang bulan purnama dan bersumpah.

“Ayah, semoga rohmu mendengarkan sumpahku, disaksikan oleh Dewa Bulan! Biarpun aku tidak akan dapat membunuh Suling Emas, namun aku bersumpah untuk membunuh semua isterinya kalau dia beristeri, dan semua anaknya kalau dia mempunyai anak!”

Sampai pucat wajah Suling Emas ketika ia mengenal suara dari wanita ini yang bukan lain adalah Bu-eng-sin-kiam Tan Lian, puteri tunggal almarhum Hui-kiam-eng Tan Hui yang tewas di tangan ibunya! Bukan main hebatnya sumpah ini sehingga biarpun hati Suling Emas sekuat baja, namun ia menjadi pucat dan gemetar juga karena maklum bahwa malapetaka akan menimpa keturunannya!

Sementara itu, Lin Lin tadinya juga pucat sekali mendengar ini, akan tetapi timbul kemarahannya mendengar pengakuan wanita itu yang mencinta Suling Emas dan bersumpah untuk membunuh anak dan isteri kekasihnya ini, membuat ia tak kuat menahan lagi.

Dengan seruan yang merupakan lengking tinggi, hasil yang tak disadarinya daripada ilmunya yang baru, ia telah melompat ke depan dan selagi wanita itu membalikkan tubuh dengan kaget dan heran, Lin Lin secara otomatis sudah melancarkan serangan berdasarkan ilmunya yang baru. Kedua kepalan tangannya yang kecil halus saling bertumbukan, namun tepat menghantam tubuh wanita itu secara berbareng.

Wanita itu menjerit dan terpental ke belakang, menabrak batu nisan ayahnya yang menjadi pecah seketika! Lin Lin sendiri berdiri terbelalak keheranan karena tidak mengira bahwa pukulannya akan sehebat ini, apalagi kalau diingat betapa wanita ini memiliki kesaktian, terbukti dari ilmu larinya yang luar biasa.

“Lin-moi, jangan....!” Suling Emas berseru namun terlambat.

Andaikata Suling Emas tidak demikian terpengaruh oleh sumpah Tan Lian, agaknya pendekar sakti ini tadi masih sempat mencegah. Ia kini berkelebat dan tahu-tahu sudah membungkuk dan berlutut di depan tubuh Tan Lian yang rebah dengan mata meram dan muka pucat, mulut mengalirkan darah.

Cepat Suling Emas memeriksa dan ia mengeluarkan seruan kaget. Ia sendiri kaget bukan main melihat akibat daripada pukulan Lin Lin karena setelah memeriksa, ia mengerti bahwa keadaan Tan Lian parah sekali dan nyawa wanita ini takkan dapat ditolong lagi. Pukulan itu telah meracuni darah dan meretakkan tulang-tulang!

Kiranya tanpa disadarinya sendiri Lin Lin telah mewarisi ilmu pukulan dahsyat dari Pat-jiu Sin-ong yang disebut pukulan Tok-hiat-coh-kut (Racuni Darah Patahkan Tulang)! Suling Emas maklum bahwa pukulan ini mengandung hawa beracun yang hebat dan satu-satunya jalan untuk menolong Tan Lian hanya membawanya secepat mungkin kepada tabib yang sakti, karena tabib-tabib biasa saja takkan mungkin mampu menolongnya.

“Bocah lancang!” bentaknya kepada Lin Lin. “Mengapa memukul orang tak berdosa?”

Setelah berkata demikian, Suling Emas menyambar tubuh Tan Lian dan dibawanya lari berkelebat lenyap dari tempat itu.

“Koko.... tunggu....!”

Lin Lin berseru keras sambil mengejar, akan tetapi Suling Emas tidak menjawab dan sudah tidak tampak lagi. Lin Lin memanggil-manggil dan mengejar ke sana ke mari, akhirnya ia menjatuhkan diri di pinggir jalan dengan napas terengah-engah dan air mata membasahi pipi.

“Dia marah kepadaku....” pikirnya, “mengapa marah? Perempuan itu musuhnya. Ah, aku harus mencarinya, dia harus menjelaskan sikapnya ini kepadaku. Dia akan ke Thai-san, aku pun akan ke sana, biar kunanti dia di sana.”

Pikiran ini menguatkan hati Lin Lin dan menghilangkan kebingungannya, kemudian ia pun pergi dari tempat itu.

Perjalanan ke Thai-san merupakan perjalanan yang jauh dan sukar, lagi amat berbahaya pada masa itu. Akan tetapi Lin Lin melakukan perjalanan dengan tekun, sabar, dan penuh keberanian. Apalagi setelah ia dengan satu kali pukulan mampu merobohkan seorang yang lihai, seperti wanita di kuburan itu, timbul kepercayaan besar pada dirinya sendiri, kepercayaan bahwa ia mampu menghadapi siapapun juga karena pada dirinya terdapat sebuah ilmu yang ampuh dan sakti.

Pikiran ini pula yang membuat Lin Lin makin rajin melatih diri dengan jurus-jurus yang hanya berjumlah tiga belas dari ilmu yang ia dapatkan di dalam tongkat pusaka Beng-kauw, serta mempelajari pula petunjuk-petunjuk cara menghimpun tenaga sakti. Karena ia sendiri tidak tahu apa namanya ilmu yang terdiri daripada tiga belas jurus itu, Lin Lin lalu menamakannya Cap-sha-sin-kun (Tiga Belas Jurus Sakti).

Berpekan-pekan Lin Lin melakukan perjalanan menuju ke Thai-san, bertanya-tanya kepada para penduduk dusun dan kota yang dilaluinya. Akhirnya pada suatu hari sampailah ia di kaki Gunung Thai-san. Puncak gunung itu menjulang tinggi, tampak agung dan megah.

Hati Lin Lin berdebar. Akan berhasilkah ia bertemu dengan Suling Emas di puncak itu? Bagaimana kalau dia tidak berada di sana? Dan wanita yang memusuhi Suling Emas itu, yang roboh karena pukulannya, akan diapakan Suling Emas? Hatinya tidak enak dan cemburunya makin besar ketika ia teringat betapa wanita itu ternyata masih muda dan cantik jelita. Serasa terbakar isi dadanya kalau ia teringat betapa wanita itu dipondong oleh Suling Emas dan entah untuk berapa lamanya! Dan masih marah hatinya kalau ia mengenangkan bentakan Suling Emas yang marah-marah kepadanya memakinya sebagai bocah lancang. Dia lancang? Memukul seorang wanita yang memusuhi Suling Emas tapi juga mengaku cinta, lancangkah itu?

“Ah, Suling Emas, aku cinta kepadamu.... demi cintaku maka aku memukul dia yang tidak kukenal.”

Ia menghela napas dan duduk di pinggir jalan, menghapus keringatnya dengan saputangan. Hari itu ia telah melakukan perjalanan amat jauh dan enak rasanya menyandarkan tubuh pada batang pohon yang tua dan hampir mati, duduk di atas rumput hijau yang empuk dan ditiupi angin sejuk pada sore hari itu.

Tiba-tiba perhatiannya tertarik oleh suara derap kaki kuda. Jalan mulai sukar di bagian itu, maka penunggang kuda itu pun menahan kudanya dan maju perlahan-lahan melalui tanah yang tidak rata.

Penunggangnya seorang laki-laki yang bertubuh tegap, memakai caping lebar seperti caping petani, akan tetapi dari balik pundaknya tampak gagang pedang. Melihat duduknya yang tegak lurus dan tidak bergoyang-goyang biarpun si kuda naik turun, Lin Lin mengerti bahwa penunggang kuda ini seorang yang berkepandaian. Akan tetapi dari jauh ia tidak dapat melihat muka yang tertutup caping itu. Kuda makin mendekati tempat Lin Lin duduk. Penunggang kuda itu mengangkat muka, dan....

“Liong-twako....!” Lin Lin berseru sambil melompat bangun.

“Lin-moi....!”

Penunggang kuda itu, Lie Bok Liong, melompat dari atas punggung kudanya, lari menghampiri Lin Lin dan serta merta memeluknya dan mendekap kepala gadis itu pada dadanya. Begitu besar kegirangan hati Bok Liong sehingga ia lupa diri seperti itu. Sedetik Lin Lin kaget dan jengah, akan tetapi mengingat akan pengorbanan pemuda ini untuknya ia membiarkan dirinya dipeluk dan mukanya didekap erat-erat pada dada Bok Liong.

“Lin-moi.... ah, Lin-moi.... alangkah bahagia hatiku melihat kau, Moi-moi. Syukur kepada Tuhan bahwa kau selamat, bisa terbebas daripada tangan Hek-giam-lo dan orang-orang Khitan yang jahat!”






Tidak ada komentar:

Posting Komentar