FB

FB


Ads

Kamis, 04 Juli 2019

Cinta Bernoda Darah Jilid 115

Gadis itu tersenyum dan dunia ini serasa lebih cemerlang dan indah bagi Bu Sin. Semenjak jaman purba sampai jaman sekarang, senyum seorang gadis selalu mendatangkan keajaiban bagi pria yang mencintanya, keajaiban yang indah, seindah bunga mekar tersiram embun di waktu pagi, atau matahari mengintai di ufuk timur mengusir kemuraman subuh. Untuk senyum inilah seorang yang mabuk cinta siap sedia mengorbankan apa saja!

“Koko, betulkah hatimu rela begitu saja kalau kita berdua kembali ke Nan-cao sedangkan tugas sedemikian banyaknya yang harus diurus oleh kakakmu? Kedua orang adikmu terancam bahaya, tongkat pusaka terampas musuh, bagaimana mungkin kita pulang begitu saja tanpa memberi bantuan sedikit pun juga?”

“Cocok dengan isi hatiku, Moi-moi. Aku pun merasa tidak enak sekali kalau harus pergi begitu saja berpeluk tangan, bukanlah sikap seorang yang menjunjung tinggi kegagahan. Akan tetapi Song-twako yang memerintah, bagaimana aku dapat membantah?”

Kembali Liu Hwee tersenyum.
“Kakakmu itu memang lihai sekali, agaknya dengan orang seperti dia turun tangan, semua urusan pasti akan beres. Akan tetapi, aku sama sekali tidak setuju kalau harus tinggal diam saja. Tadi pun aku hendak membantahnya, akan tetapi tidak baik di depan iblis betina itu kalau kita saling bantah. Karena itu aku tadi diam saja. Sekarang, mari kita kembali dan mengambil jalan kita sendiri, mencari kedua orang adikmu. Biarlah kita berlumba dengan Suling Emas!”

Gembira sekali hati Bu Sin, kegembiraan bertumpuk-tumpuk karena tidak saja ia gembira dapat membantu untuk menolong kedua orang adiknya, juga ia senang sekali dapat melakukan perjalanan ini bersama Liu Hwee, dapat sama-sama menempuh bahaya!

“Bagus! Mari kita berangkat, Moi-moi!”

Mereka kini berlari ke arah timur, akan tetapi belum lama mereka berlari kembali Liu Hwee berhenti.

“Perempuan tadi, dia.... dia agaknya amat mencintamu, Koko!”

“Huh, iblis betina itu!” Bu Sin mendengus, mukanya berubah merah sekali.

“Tapi.... tapi dia cantik sekali, Sin-ko, dan di dunia ini, entah berapa banyaknya pria yang tergila-gila dan jatuh hati kepadanya.”

“Uhhh, kecantikan iblis seperti keindahan warna kulit seekor ular beracun. Sudahlah, kita tak perlu bicara tentang dia, aku jijik kalau mengingat dia!” kata Bu Sin.

Liu Hwee tersenyum.
“Syukurlah kalau begitu. Aku sudah khawatir sekali. Sin-ko, di dunia ini hanya ada dua orang wanita yang benar-benar hebat dan sukar dapat dilawan oleh laki-laki yang bagaimana gagah pun. Pertama adalah mendiang enci Lu Sian, ke dua adalah Coa Kim Bwee atau Siang-mou Sin-ni itulah. Senjata mereka yang paling mengerikan adalah kecantikan mereka.”

“Kurasa terdapat perbedaan besar antara encimu yang menjadi ibu kandung Bu Song twako itu dengan iblis betina Siang-mou Sin-ni. Hwee-moi, mari kita lanjutkan perjalanan dan kalau boleh, aku ingin sekali mendengar penuturanmu tentang riwayat hidup mendiang Tok-siauw-kui Liu Lu Sian yang hebat itu.”

Liu Hwee tersenyum lalu menggerakkan kaki, dan mereka berdua kini melanjutkan perjalanan biasa. Liu Hwee mulai menuturkan riwayat mendiang Tok-siauw-kui Liu Lu Sian yang luar biasa dan hebat, akan tetapi yang hanya diketahui sebagian saja oleh Liu Hwee (riwayat ini dituturkan dengan jelas dalam cerita SULING EMAS).

Sementara itu, setelah kedua orang muda itu pergi, Suling Emas lalu menggunakan sulingnya membebaskan totokannya pada tubuh Siang-mou Sin-ni. Setelah jalan darahnya bebas, dengan mudah saja wanita itu dapat melepaskan diri dari atas cabang pohon dimana rambutnya yang panjang tadi diikatkan oleh Suling Emas.






Dapat dibayangkan betapa hebat kemarahan wanita ini yang sekarang berdiri di depan Suling Emas hanya dengan pakaian dalam yang serba ringkas, pendek dan terbuat daripada sutera merah! Kalau saja sepasang matanya tidak menyala-nyala liar, mukanya tidak membayangkan kemarahan yang tak dapat dikendalikannya lagi, agaknya Siang-mou Sin-ni akan kelihatan amat menggairahkan dalam pakaian seperti itu dan rambut yang hitam panjang riap-riapan membantu pakaian dalam yang kurang cukup menutupi bagian-bagian tubuhnya itu.

“Keparat....! Jahanam....! Kau.... kau.... terlalu menghinaku.... kau harus mampus....!”

Kata-katanya sukar sekali keluar diantara dengus napasnya yang panas, kedua kakinya bergerak maju perlahan-lahan, kedua tangannya berkembang, jari-jari tangannya seperti kuku harimau hendak mencengkeram, ujung rambutnya yang terlalu panjang terseret di atas tanah.

Suling Emas mengerutkan keningnya dan melangkah mundur.
“Siang-mou Sin-ni, ingat! Kini belum waktunya kita mengadu kepandaian untuk menentukan siapa yang lebih unggul. Tunggu nanti tiba saatnya di puncak Thai-san, aku akan mewakili mendiang ibu kandungku. Kita lihat siapa yang lebih kuat.”

“Tidak peduli! Kau harus mampus sekarang juga. Kau terlalu menghinaku!”

“Hemmm, kau sombong. Dengan apa kau hendak membunuhku? Dengan rambutmu? Ataukah dengan alat khim yang kau curi dari Bu Kek Siansu? Ah, tidak akan ada gunanya, Siang-mou Sin-ni. Lebih baik kau bertapa lagi memperdalam ilmumu, agar kelak di puncak Thai-san kau dapat melayaniku sedikitnya seratus jurus!”

“Suling Emas, kaulah yang sombong! Kau kira aku tidak memiliki ilmu untuk membunuhmu? Nah, kau terimalah ini!”

Tiba-tiba sekali wanita itu membuka mulutnya dan sinar merah yang panjang kecil bagaikan seekor ular merah menyambar dari dalam mulut itu ke arah Suling Emas. Pendekar ini terkejut juga, tidak mengira bahwa wanita iblis ini memiliki kepandaian seaneh ini yang selamanya belum pernah ia lihat atau dengar. Cepat ia miringkan kepala, tidak berani menyambut benda yang menyambar ke arah mukanya itu.

Benda itu menyambar lewat kepalanya, akan tetapi alangkah terkejutnya ketika tiba-tiba pandang matanya berkunang dan napasnya menjadi sesak. Kiranya benda berupa sinar merah itu adalah darah. Darah hidup! Darah yang mempunyai pengaruh hebat sekali, yang membuatnya tiba-tiba menjadi pening. Sebelum Suling Emas dapat mengusir kepeningannya, tiba-tiba angin bertiup dari depan, alat musik khim sudah menghantam ke arah kepalanya dibarengi suara kekeh tertawa yang seram.

“Aiiihhhhh....!”

Suling Emas mengumpulkan semangat, menjatuhkan diri ke kiri sehingga sambaran alat khim itu tidak mengenai dirinya, akan tetapi pada saat itu, selagi ia masih nanar, tahu-tahu tubuhnya sudah terlibat oleh rambut yang amat kuat, yang melibat kaki tangan dan lehernya bagaikan puluhan ekor ular yang mengeroyoknya!

Suling Emas maklum bahwa nyawanya berada dalam bahaya maut. Cepat ia mengerahkan seluruh sin-kang di tubuhnya dan seketika lenyaplah kepeningan kepalanya. Dengan gerakan menggoyang tubuh sambil mengembangkan tangan kaki. Terdengar Siang-mou Sin-ni memekik penuh kekecewaan melihat calon korbannya dapat terlepas begitu cepatnya. Di lain saat Suling Emas sudah memegang suling dan kipasnya.

“Iblis betina, kiranya kau mempunyai ilmu setan yang jahat. Akan tetapi jangan harap kau dapat mengakali aku lagi. Hayo majulah!”

Dengan sikap tenang penuh wibawa Suling Emas berdiri tegak dengan sepasang senjatanya yang amat terkenal itu di kedua tangan, matanya menatap tajam. Siang-mou Sin-ni ragu-ragu, maklum bahwa ilmunya Tok-hiat-hoat-lek masih belum cukup kuat untuk merobohkan Suling Emas, namun ia merasa gembira sekali karena biarpun ilmunya belum matang betul, namun ia tadi sudah hampir dapat mengalahkan Suling Emas. Andaikata ilmunya sudah matang, tentu tidak semudah itu Suling Emas menyadarkan diri dan sudah mampus di tangannya. Ia tertawa dan sekali berkelebat tubuhnya mencelat jauh pergi dari tempat itu. Suara ketawanya masih terdengar jelas seperti suara kuntilanak, disusul kata-katanya mengejek,

“Suling Emas, kau tunggu saja, di puncak Thai-san aku takkan gagal lagi seperti tadi!”

Sejenak Suling Emas termenung. Ia teringat betapa dahsyat ilmu yang dipergunakan Siang-mou Sin-ni tadi. Hampir saja ia menjadi korban. Kalau tadi ia tidak lekas-lekas dapat menguasai dirinya dan melenyapkan kepeningannya, tentu ia sudah menjadi korban. Diam-diam ia bergidik. Ilmu semburan darah segar tadi benar-benar mengerikan dan kelak ia harus berlaku hati-hati sekali apabila berhadapan dengan iblis betina itu.

**** 115 ****






Tidak ada komentar:

Posting Komentar