FB

FB


Ads

Selasa, 02 Juli 2019

Cinta Bernoda Darah Jilid 109

Seperti sudah menjadi sifat orang-orang kaya maupun pembesar-pembesar yang berkuasa, tentu saja ada kecualinya yaitu mereka yang tidak mabuk akan harta dan kedudukan, mereka adalah orang-orang malas yang enggan bekerja berat namun ingin mendapatkan hasil yang sebanyak mungkin. Mereka bangun siang, tidur malam-malam karena tiada hentinya mengejar kesenangan, malas dan ingin menang sendiri, ingin berkuasa saja dan enggan dikalahkan.

Karena inilah agaknya, bangunan di sekitar istana yang dihuni oleh kaisar, para pangeran dan pembesar istana, amat sunyi di waktu pagi, dan baru nampak ramai dan hidup kalau matahari sudah naik tinggi. Kalau orang boleh melongok ke dalam kamar-kamar para manusia yang kebetulan dinasibkan menjadi pembesar dan penguasa itu, akan tampaklah orang-orang ini masih tidur mendengkur, bertilam kasur empuk bersutera kembang, berselimut tebal dan lunak. Para pelayan tidak ada yang berani mengeluarkan suara keras, berjalan pun berjingkat agar tidak menimbulkan gaduh.

Namun pada pagi hari itu, seperti biasa pula, dalam sebuah taman bunga yang indah di belakang dan samping kiri sebuah bangunan mungil, termasuk sebuah diantara gedung-gedung dalam lingkungan istana, terdengarlah suara suling. Suling ini bunyinya cukup nyaring, akan tetapi pendek-pendek dan tidak dapat dibilang merdu, bahkan ada tanda-tanda bahwa yang meniupnya adalah seorang anak-anak. Lagunya adalah lagu kanak-kanak yang sederhana.

“Liong-ji (Anak Liong), suka sekalikah kau meniup suling?” terdengar suara halus seorang wanita.

Suara suling berhenti. Kiranya di dalam taman bunga yang indah itu, pagi-pagi sekali sewaktu penghuni gedung-gedung yang lain masih mendengkur, terdapat seorang wanita muda yang menilik pakaian dan gerak-geriknya pasti adalah seorang nyonya bangsawan. Usianya masih muda, paling banyak dua puluh tujuh tahun, wajahnya cantik sekali dan wajahnya itu membayangkan kehalusan budi dan keagungan. Ia memondong seorang anak laki-laki yang berusia kurang lebih satu tahun. Seorang anak laki-laki lain berusia empat tahun berlari-lari ke sana ke mari sambil tertawa-tawa, seakan-akan ia hendak mengejar burung-burung kecil yang beterbangan sambil berkicau gembira di pagi hari itu.

Anak yang menyuling adalah seorang anak laki-laki pula, usianya sembilan sepuluh tahun. Anak ini duduk di atas sebuah bangku dan asyik memegang sebatang suling bambu yang tadi ditiupnya. Mendengar pertanyaan wanita tadi, ia berhenti meniup dan menjawab.

“Aku suka sekali, Ibu.”

Sejenak wajah cantik itu termenung, kemudian memaksa keluar sebuah senyum sambil berkata,

“Aku akan suruh mencarikan seorang guru suling untuk mengajarmu, Liong-ji. Maukah kau belajar meniup suling?”

Anak itu mengangguk-angguk gembira, lalu meniup lagi sejadi-jadinya. Ibunya memandang dengan penuh perhatian, jantungnya serasa tertikam yang membuatnya terharu, komat-kamit mengeluarkan kalimat yang hanya ia dengar sendiri. “.... serupa benar....”

Akan tetapi ia segera dapat menguasai hatinya lagi sambil tersenyum-senyum geli melihat puteranya yang ke dua berusaha mengejar burung-burung di udara dan membuat gerakan menangkap.

“Sun-ji (Anak Sun), hati-hati jangan lari-lari, nanti jatuh!”

“Bu, aku ingin bisa terbang seperti burung!”

Anak ke dua itu berseru gembira dengan suara pelo dan lucu, kemudian membuat gerakan dengan kedua lengannya, digerakkan seperti sepasang sayap burung, mulutnya menirukan bunyi burung bercuat-cuit.

Si ibu gembira melihat anak-anaknya sehat-sehat, lalu diciumnya muka puteranya yang ke tiga, yang tertawa-tawa gembira.

Pagi yang gembira, sehat dan menyegarkan jiwa raga, akan tetapi yang juga membangkitkan kenang-kenangan lama. Hal ini dapat dilihat dari wajah cantik ibu muda ini, sebentar ia bergembira terpengaruh oleh tiga orang anaknya, sebentar lagi ia termenung seperti ingat akan sesuatu yang membangkitkan kenang-kenangan yang berkesan.

Anak yang dipanggil Liong itu sudah bersuling lagi, dengan amat tekun dan sungguh-sungguh ia meniup dan berganti-ganti menutupi lubang-lubang suling dengan jari-jari tangannya yang kecil.

“.... Ceng Ceng....!”

Suara ini tertahan dan tersendat, seakan-akan sukar keluar dari mulut yang punya suara.

Wanita itu tersentak kaget dan serentak bangkit berdiri dari bangkunya, sambil memondong anaknya yang paling kecil. Suara itu! Seketika wajahnya berubah pucat. Hanya ada satu orang saja di dunia ini yang memanggil namanya dengan suara seperti itu!






Kedua kakinya menggigil dan ia tidak mau menggerakkan tubuh, tidak mau memutar tubuh menengok ke belakang ke arah suara, karena ia khawatir kalau-kalau suara tadi hanya suara dari kenangannya sehingga kalau ia menengok dan tidak melihat sesuatu, ia akan kecewa. Ia meramkan mata, diam-diam ingin menikmati kenangan lama yang sedemikian mendalam dan menggores kalbunya sehingga di pagi hari yang indah ini ia sampai-sampai mendengar suara orang yang menjadi sebab lamunannya.

“Ceng Ceng....!”

Wanita itu mengeluarkan seruan tertahan, setengah isak. Kemudian dengan tiba-tiba dan cepat sekali, seakan-akan takut kalau orang yang bersuara itu sudah pergi lagi, ia memutar tubuh memandang.

“Bu Song koko (Kanda Bu Song)....! Kau.... kaukah ini....? Kau disini....?”

Ia melangkah maju dua tindak, kemudian pandang matanya yang tadi melekat pada wajah laki-laki itu kini menurun, berhenti pada dada dimana terdapat gambar sebatang suling dari benang emas.

“Koko.... kau.... kau Suling Emas....?”

Dua pasang mata bertemu pandang, dua sinar mata saling belit, saling dekap, saling cumbu dan saling menampakkan rasa rindu berahi yang ditahan-tahan selama sepuluh tahun. Wanita itu memandang dengan mulut agak terbuka, terengah-engah dan dari sepasang matanya yang bening itu bertitik butiran-butiran air mata seperti mutiara. Keduanya mempunyai hasrat yang sama, ingin lari maju dan saling rangkul, namun keduanya menahan gelora hati ini sekuat tenaga.

Akhirnya, melihat butiran-butiran air mata itu, laki-laki yang bukan lain adalah Suling Emas ini, secepat kilat membalikkan tubuhnya, wajahnya pucat sekali dan ia berdongak ke atas, meramkan kedua matanya, bibirnya agak menyeringai tanda betapa perihnya hati, seperti ditusuk-tusuk pedang rasanya. Kemudian ia membuka pelupuk mata, mengejap-ngejapkannya untuk menahan agar jangan sampai kedua matanya yang terasa panas dan gemetar itu menitikkan air mata.

Kebetulan sekali ketika ia membalikkan tubuh, ia melihat bocah yang memegang suling kini sudah berdiri di dekatnya. Melihat anak ini, Suling Emas menggerakkan tangan kiri dan mengelus-elus kepala yang gundul itu. Bocah ini dapat ia pergunakan untuk landasan kuat bagi perasaannya, untuk menolak gelora cinta dan keharuan yang seakan-akan hendak menjebol bendungan hatinya.

“Kau.... kau pandai bersuling, Nak?”

Tanyanya, suara serak, tanda bahwa hatinya penuh gelora dan haru, dan bahwa hampir saja pendekar sakti ini tadi terisak menangis.

Bocah itu tertawa dan mengangguk.

“Cobalah kau menyuling untukku. Kau mau diajar meniup suling?”

“Mau....! Mau saja.... Ibu tadi bilang hendak memanggil guru suling. Apakah kau ini gurunya, Paman?”

Suling Emas tersenyum dan mengangguk. Anak itu lalu meniup lagi sulingnya. Suling Emas mendengar isak tertahan di belakangnya, lalu disusul suara yang pilu dan gemetar, penuh perasaan.

“Kau.... kau datang.... apakah kehendakmu, Koko....?”

Suling Emas menarik napas panjang, masih membelakangi wanita itu dan tangan kirinya masih meraba-raba kepala bocah yang menyuling.

“Tadinya aku sudah bersumpah pada diri sendiri takkan mengganggumu, Ceng Ceng, takkan menemuimu selama hidupku agar lukaku tidak semakin parah....” Ia berhenti dan tidak melanjutkan kata-katanya yang tertelan oleh isak.

“Song-koko, aku pun sama sekali tidak mengira akan dapat bertemu lagi denganmu. Sama sekali aku tidak menyangka bahwa Suling Emas pendekar sakti yang selama ini disohorkan setiap orang itu kaulah orangnya! Ahhh.... siapa kira....” Dalam kalimat terakhir ini terdengar keluhan dari hati yang merasa amat menyesal.

Suling Emas memutar tubuhnya. Kembali mereka berpandangan, akan tetapi kali ini mereka sudah kuat menahan. Untuk sejenak keduanya memandang penuh selidik, untuk mengetahui keadaan masing-masing, memandang sinar mata, memandang keadaan tubuh, kurus gemuknya, dan keduanya makin menduga-duga. Beruntunglah ia tanpa aku? Demikian agaknya pertanyaan yang terkandung di hati masing-masing.

“Song-koko, aku mendengar bahwa Suling Emas belum berumah tangga.... apakah.... betulkah ini? Apakah kau belum juga menikah? Song-koko.... mengapa begitu? Apakah kau belum juga dapat melupakan aku....?”

“Melupakan engkau? Ah.... Ceng Ceng, aku melupakan engkau? Bagaimana mungkin itu! Sudah kucoba-coba, sudah kupaksa-paksa hati ini, namun buktinya sekarang aku berada disini!”

Agak keras dan kasar kata-kata ini dan sepasang mata pendekar itu memandang tajam, bagaikan menusuk-nusuk, membuat nyonya muda itu tertunduk.

“Dunia serasa makin sempit bagiku, Ceng Ceng. Tadinya masih ada harapanku sembuh oleh ibuku, akan tetapi ibu meninggal. Aku meraba-raba bagaikan orang buta dalam gelap, tak tahu harus kemana.... betapa aku tak dapat melupakan engkau, Ceng Ceng....! Karena itulah aku datang.... untuk melihat wajahmu lagi, aku.... tak tahan aku akan rindu....”

“Song-koko....!”

Wanita itu yang bernama Suma Ceng dan kini adalah nyonya seorang pangeran, yaitu Pangeran Kiang, menjerit kecil.

“Jangan begitu, Koko.... aku.... aku sudah menjadi ibu dari tiga orang anak! Kau lihat mereka ini....!”

Suma Ceng cepat-cepat mempergunakan anak-anaknya untuk perisai diri atau lebih tepat untuk pengendalian hatinya sendiri yang seakan-akan terbetot dan hendak dihanyutkan oleh bekas kekasihnya. Ia maklum kalau tidak cepat-cepat ia berpegang kepada tiga orang puteranya, bisa-bisa ia terbawa hanyut, karena sesungguhnya, sampai mati sekalipun ia takkan mungkin dapat melupakan Bu Song.

Suling Emas menarik napas panjang, menekan gelora hatinya, kemudian ia menjadi sadar kembali ketika anak yang meniup suling itu tiba-tiba menarik tangannya dan bertanya,

“Paman Guru, bagaimana dengan kepandaianku meniup suling?”

Suara yang lantang dari bocah ini menariknya turun dari sorga lamunan, dan membuatnya kaget karena hampir saja tadi ia melakukan sesuatu yang tidak patut. Melihat wajah Suma Ceng kembali, berhadapan muka dengan wanita ini, benar-benar bisa membuatnya lupa akan segala.

“Kau sudah pandai, tapi harus belajar lagu-lagu yang indah!” katanya sambil meraba kepala anak itu.

Tiba-tiba wajahnya berubah dan jari-jari tangan kirinya tetap meraba-raba kepala yang gundul itu. Aneh! Ajaib! Kepala anak ini sama benar dengan kepalanya! Tak salah lagi! Jarang di dunia ini ada kepala seperti ini, kepala yang dahulu membuat mendiang gurunya, Kim-mo Taisu, tidak ragu-ragu menolongnya dan mengambilnya sebagai murid. Inilah “kepala pendekar” seperti yang dulu disebut-sebut Kim-mo Taisu. Bagaimana potongan dan bentuk kepala anak ini bisa sama dengan kepalanya?

“Ceng Ceng....” suaranya gemetar ketika ia menoleh dan memandang wajah ayu itu.

Suma Ceng tidak menjawab, hanya menjawab dengan pandang mata penuh pertanyaan.

“Anak ini.... dia putera sulungmukah?”

Suma Ceng mengangguk dan gerakan ini membuat dua titik air mata yang tadi bergantung pada bulu matanya runtuh ke bawah, menimpa pipinya.

“Dia.... dia ini....!”






Tidak ada komentar:

Posting Komentar