FB

FB


Ads

Sabtu, 22 Juni 2019

Cinta Bernoda Darah Jilid 089

“Ho-ho-heh-heh, bagus sekali, dewi cantik Siang-mou Sin-ni juga telah setuju! Nah, Cui-beng-kui, mau tunggu apa lagi kau? Di antara Thian-te Liok-koai, sudah ada empat tokoh yang setuju. Aku yakin yang ke lima, yaitu Hek-giam-lo, tentu akan setuju pula. Orang-orang Khitan selamanya tidak menaruh hati suka terhadap Sung Utara!”

Hati Ouwyang Swan Panglima Sung yang menjadi utusan kerajaannya, makin gelisah. Bukan gelisah karena nasib dia dan rombongannya, melainkan sebagai seorang panglima dan patriot sejati, ia gelisah akan nasib negaranya. Kalau cetusan permusuhan terhadap Sung ini berhasil, negaranya akan dikeroyok dari segenap penjuru. Ia tahu bahwa kalau Enam Iblis itu membantu fihak lawan, akan berbahaya sekali. Otomatis pandang matanya mencari-cari Suling Emas. Ia tahu bahwa pendekar sakti ini amat baik hubungannya dengan para casan Kerajaan Sung.

“It-gan Kai-ong, jangan membuka mulut kotor disini!” tiba-tiba Suling Emas berkata dengan suara nyaring. “Nan-cao dengan Beng-kauw mengadakan peringatan dan mengundang semua tamu tanpa memandang perbedaan, tidak nanti para pimpinan Beng-kauw yang bijaksana mendengar ocehanmu yang berbisa!” Kemudian pendekar ini menghadapi Cui-beng-kui dan dengan suara hormat ia berkata, “Locianpwe, harap jangan mendengarkan obrolan mulut berbisa It-gan Kai-ong. Semua itu adalah rencana jembel busuk itu dengan muridnya, Suma Boan, yang mempunyai rencana memukul Kerajaan Sung dari dalam dan merampas kekuasaan. Hanya orang-orang bodoh saja yang dapat diperalat oleh It-gan Kai-ong dengan rencana busuknya. Locianpwe sebagai bekas panglima ketua dapat memaklumi rencana busuk seperti itu.”

Hening sejenak mengikuti ucapan Suling Emas yang lantang ini. Kemudian terdengar It-gan Kai-ong terkekeh.

“Ho-ho-heh-beh, Cui-beng-kui tokoh besar Thian-te Liok-koai, mana bisa dibujuk seorang bocah dengan lidah tak bertulang? Cui-beng-kui, kau tentu tahu siapa dia? Dialah yang disebut Suling Emas, bocah sombong yang mengandalkan kepandaian yang diwarisinya dari Kim-mo Tai-su menurunkan beberapa ilmu. Tapi, kau tentu tidak menduga bahwa dia ini sebetulnya bernama Kam Bu Song, keturunan satu-satunya dari bekas kekasihmu Liu Lu Sian dan Kam Si Ek. Heh-heh, dia ini anak musuh besarmu, dialah buah daripada percintaan antara kekasihmu dan jenderal itu.”

Mendadak Cui-beng-kui mengeluarkan suara melengking tinggi dan serta-merta ia menubruk Suling Emas dengan serangan maut dari kuku-kuku jari tangannya! Suling Emas sendiri kaget setengah mati mendengar betapa It-gan Kai-ong membuka rahasianya. Ia tidak tahu bahwa kakek itu mendengar rahasia ini dari Suma Boan yang bersama Sian Eng telah dapat mengetahui rahasia Suling Emas.

Kini hal itu dijadikan senjata oleh It-gan Kai-ong untuk membakar hati Cui-beng-kui dan berhasillah usahanya karena Cui-beng-kui yang merasa amat sakit hati terhadap mendiang Kam Si Ek yang merampas kekasihnya, kini marah sekali mendengar bahwa Suling Emas adalah anak jenderal itu bersama kekasihnya, Liu Lu Sian.

Namun Suling Emas bukanlah seorang lemah. Jauh daripada itu, ia malah seorang sakti yang memiliki ilmu tinggi, menghadapi serangan mendadak yang amat dahsyat itu ia berlaku tenang, cepat kakinya menendang bumi dan tubuhnya melayang ke belakang menghindari terjangan hebat.

“Locianpwe, sabarlah. Aku tidak ingin bermusuhan denganmu. Pertama karena....”

Terpaksa ia menghentikan kata-katanya karena pada saat itu Cui-beng-kui sudah menubruk dengan tangan kanan memukul ke arah dada sedangkan tangan kiri dengan jari-jari terbuka mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala! Hebatnya bukan kepalang serangan ini, apa lagi dibarengi bentakan yang demikian nyaringnya sehingga banyak tamu yang kurang kuat roboh lemas!

Suling Emas terkejut. Ia sendiri merasa betapa jantungnya tergetar oleh bentakan ini dan maklumlah ia bahwa mungkin selama puluhan tahun bersembunyi di dalam peti mati telah mendatangkan semacam tenaga gaib yang amat mujijat dalam bentakan mayat hidup itu. Ia maklum bahwa kalau ia mengadu tenaga menangkis, tenaga sin-kangnya akan berkurang oleh suara bentakan yang melengking tinggi mengerikan itu. Kembali ia meloncat ke samping menghindarkan diri sambil mencabut sulingnya.

Begitu ia menggerakkan sulingnya, terdengarlah suara melengking ke dua yang jauh bedanya. Kalau suara melengking yang keluar dari kerongkongan Cui-beng-kui terdengar kasar seakan-akan hendak mencopot jantung memecahkan anak telinga, adalah lengking yang keluar dari suling Suling Emas terdengar lemah gemulai, halus lembut dan merdu, namun juga mengandung tenaga mujijat yang seakan-akan mencopoti semua urat syaraf dalam tubuh. Kembali banyak tamu terguling roboh, merintih-rintih, merasa seluruh tubuh seperti ditusuk-tusuk jarum.

“.... karena kau adalah tokoh Nan-cao,” suara Suling Emas terdengar jelas mengatasi dua suara melengking. “Ke dua, karena kesetiaanmu terhadap ibuku sehingga kau rela hidup menderita....”

Kembali ia menghentikan kata-katanya karena serangan Cui-beng-kui makin dasyat. Gerakan kedua lengan tangan Ciu-beng-kui merupakan lingkaran-lingkaran yang mematikan semua jalan keluar, tak mungkin kali ini Suling Emas mengelak lagi. Terpaksa pendekar sakti ini mengerahkan tenaga, menangkis dengan sulingnya sedangkan tangan kirinya dengan jari terbuka didorongkan ke depan menyambut pukulan tangan kanan lawan.






Lengking suara Cui-beng-kui berubah menjadi pekik kemarahan dan kesakitan ketika tangan kirinya terpukul suling dari samping. Agaknya ia merasa sakit, maka dengan kemarahan besar ia memusatkan tenaganya pada tangan kanan yang disambut tangan kiri Suling Emas.

“Desssss....!”

Telapak tangan Suling Emas bertemu dengan tangan Cui-beng-kui. Pertemuan dua tenaga raksasa yang tidak kelihatan ini akibatnya luar biasa. Sejenak keduanya seakan-akan tertahan dan tangan mereka saling tempel melekat, akan tetapi beberapa detik kemudian, keduanya terhuyung ke belakang. Suling Emas tak dapat menahan dirinya, terjungkal dengan muka pucat, sedangkan Cui-beng-kui terhuyung-huyung dan berdiri dengan napas terengah-engah, tubuhnya menggigil.

Bu Sin dan Sian Eng cepat menghampiri kakak mereka itu, membantunya bangun. Suling Emas meramkan mata sebentar, kemudian tersenyum, membuka mata dan menggoyang-goyangkan kepalanya.

“Mundurlah kalian.... aku tidak apa-apa....” katanya, siap untuk menghadapi Cui-beng-kui yang ganas.

Dengan wajah penuh kekhawatiran, Bu Sin dan Sian Eng mundur. Suling Emas sudah berdiri dan kini dia merasa penasaran. Mayat hidup itu tidak tahu diri, pikirnya. Tidak tahu bahwa ia sebagai orang muda sudah mengalah banyak. Ia berlaku sungkan karena mengingat akan ibunya, ingat bahwa orang ini adalah seorang yang sengsara hidupnya karena cinta kasihnya terhadap ibunya. Inilah sebabnya mengapa ia masih berlaku sabar sungguhpun ia tahu bahwa orang ini adalah pembunuh ayahnya. Ia sudah banyak mengalah. Siapa kira, Cui-beng-kui malah menggunakan kesempatan selagi ia mengalah itu untuk mencelakainya, dengan melontarkan pukulan tadi.

Ia dapat menduga, itulah pukulan maut yang kata orang disebut Cui-beng-ciang (Pukulan Pengejar Roh), yang selalu menjadi buah percakapan para tokoh tingkat tinggi dengan hati kagum karena selama ini, belum pernah ada yang sanggup mengatasi pukulan maut itu! Dengan pukulan ini pula Cui-beng-kui mengangkat namanya menjadi seorang di antara Enam Iblis. Dan sekarang iblis itu telah menggunakan pukulan ini terhadapnya!

“Iblis tua, kau tidak tahu dihormat orang muda!” katanya perlahan dan timbul niat untuk memberi hajaran kepada Cui-beng-kui.

Akan tetapi tiba-tiba ia berhenti dan memandang tajam. Tidak hanya Suling Emas yang tertegun heran, juga para tokoh besar yang hadir disitu tertegun karena telinga mereka yang terlatih mendengar suara yang terlampau tinggi untuk dapat ditangkap telinga biasa. Suara ini makin lama makin kuat dan sudah tampak banyak orang di kalangan tamu yang roboh pingsan! Tidak hanya yang berkepandaian rendah, bahkan yang cukup pandai pun tidak kuat menahan getaran yang tiba-tiba menguasai seluruh tubuh mereka itu. Sebentar saja, puluhan orang tamu menggeletak pingsan.

Hal ini mengejutkan semua orang sakti yang berada di situ. Ketua Beng-kauw sendiri tampak duduk tak bergerak mengerutkan keningnya, kelihatan mengerahkan tenaga batin untuk menolak pengaruh seperti pembawaan iblis ini. Namun diam-diam ia bertukar pandang dengan sutenya, Kauw Bian Cinjin, karena timbul dugaan di dalam hatinya.

Kiranya Kauw Bian Cinjin juga merasai hal yang sama dan mempunyai dugaan sama pula, ternyata dari pandang matanya. Mereka itu sebagai tokoh-tokoh tertinggi Beng-kauw, hanya pernah mendengar mendiang Pat-jiu Sin-ong, suheng mereka, mendongeng tentang guru besar Beng-kauw yang memiliki kesaktian sebagai dewa-dewa di langit!

Di antara kesaktian-kesaktian itu, kata Pat-jiu Sin-ong, yang pernah dilihat oleh ketua Beng-kauw pertama itu adalah ilmu yang disebut Coan-im-i-hun-to, yaitu ilmu mengirim suara gaib merampas semangat. Ilmu ini merupakan cabang daripada ilmu Sin-gan-i-hun-to, semacam ilmu merampas semangat melalui pandang mata (Hypnotism?), hanya bedanya, yang pertama menggunakan khi-kang yang disalurkan melalui getaran suara dalam untuk mempengaruhi orang lain, sedangkan yang ke dua lebih menggantungkan kepada kekuatan yang disalurkan melalui pandang mata.

Menurut dongeng yang diceritakan mendiang Pat-jiu Sin-ong Liu Gan, guru besar Beng-kauw dapat mempergunakan Coan-im-i-hun-to sedemikian hebatnya sehingga dengan suara itu dapat meruntuhkan burung-burung yang sedang terbang dan dapat menundukkan dan memanggil datang semua binatang buas di dalam hutan.

Kini mereka mendengar suara bernada begitu tinggi dengan getaran aneh yang amat kuat, tentu saja timbul dugaan apakah ini gerangan yang disebut Coan-im-i-hun-to. Kalau benar demikian, siapakah orangnya yang sanggup menggunakannya? Mendiang Pat-jiu Sin-ong sendiri menurut pengakuannya hanya dapat menggunakan sepersepuluh bagian saja, suara yang dikeluarkannya masih didengar telinga biasa dan daya serangannya pun tidak begitu kuat. Akan tetapi yang sekarang menggunakan ilmu itu, sekaligus dapat membikin puluhan orang tamu yang semua ahli silat belaka, roboh pingsan!

Kalau dua orang tokoh Beng-kauw itu menduga-duga, maka tokoh-tokoh lain, termasuk orang-orang sakti seperti It-gan Kai-ong, Toat-beng Koai-jin, Tok-sim Lo-tong, Siang-mou Sin-ni, Suling Emas dan lain-lain, menjadi terkejut dan terheran-heran. Akan tetapi tentu saja dengan sin-kang yang amat kuat, mereka tidak terpengaruh terlalu hebat oleh getaran suara itu.

Tiba-tiba terdengar suara merdu halus, mengambang di atas getaran tadi.
“Ma-susiok (Paman Guru Ma), berani kau mengganggu anakku?”

Suling Emas sedang sibuk mengurut dan menotok jalan darah di belakang pundak dan tengkuk Sian Eng yang juga roboh pingsan oleh suara tadi, sedangkan Bu Sin di dekat Sian Eng duduk bersila meramkan mata mengerahkan tenaga dalam seperti yang ia pelajari dari kakek sakti sehingga ia terbebas daripada pengaruh Coan-im-i-hun-to. Ketika mendengar suara ini, Suling Emas menjadi pucat mukanya, cepat ia melompat berdiri dan memandang dengan mata terbelalak dan.... kedua kaki pendekar ini menggigil!

Kini semua mata tertuju ke arah pintu dalam ruangan sembahyang karena dari dalam pintu itu keluarlah seorang wanita, langkahnya perlahan dan ringan seakan-akan tidak menginjak lantai. Munculnya wanita ini mengakhiri suara dan getaran tadi. Langkahnya ringan, sikapnya agung dan pribadinya mendatangkan kesan yang bermacam-macam.

Ia sudah tua, sedikitnya lima puluh tahun usianya, namun masih cantik jelita mengagumkan. Bentuk mukanya yang manis berkulit putih, memerah dadu di kedua pipinya, hidungnya kecil mancung, mulutnya kecil dengan bibir merah dan indah bentuknya, seperti gendewa terpentang. Sepasang matanya menyaingi mata burung hong yang sedang berahi, dihias bulu mata panjang hitam melentik, dilindungi sepasang alis kecil panjang menjungat ke atas di bagian ujungnya, dagunya meruncing dan sedikit pun tidak tampak tanda-tanda keriput. Hanya ada rambutnya terdapat tanda usia tua. Rambutnya tebal dan panjang terurai sampai ke lutut, menutupi seluruh tubuh bagian belakang, akan tetapi rambut itu sudah tampak berwarna dua karena banyaknya rambut putih terselip di sana-sini.

Hanya tiga orang saja di seluruh ruangan itu yang mengetahui dengan pasti siapa wanita ini. Pertama adalah Beng-kauwcu Liu Mo, karena kakek ini memang tahu bahwa keponakannya yang selama puluhan tahun lenyap dari dunia ramai, beberapa tahun yang lalu ini telah kembali dan bersembunyi di lorong-lorong rahasia yang merupakan terowongan di bawah tanah.

Juga Liu Hwee, puteri ketua Beng-kauw, tahu akan hal ini dan seperti pernah diceritakan di bagian depan ketika melarikan diri bersama Bu Sin, Liu Hwee mengajak Bu Sin melalui bagian dimana bersembunyi wanita itu. Orang ke tiga yang tahu akan wanita ini adalah Cui-beng-kui, karena wanita ini adalah kekasihnya dan merupakan satu-satunya orang yang paling ia cinta, ia segani dan ia takuti di seluruh dunia ini.

Masih ada seorang lagi yang hanya menduga-duga, dengan ragu-ragu dan dengan jantung berdebar keras serta kedua kaki menggigil, yaitu Suling Emas sendiri. Inikah ibu kandungnya? Ia memeras ingatannya. Ketika ia berusia kurang lebih sembilan tahun, ibunya pergi meninggalkan ia dan ayahnya. Pergi tanpa pamit dan tidak ada yang tahu kemana perginya, malah semenjak itu sampai saat ini belum pernah ia bertemu muka.

Ia ingat bahwa dahulu ibunya seorang wanita cantik jelita. Ketika pada saat itu tercium olehnya bau harum semerbak yang juga tercium oleh semua orang pada saat wanita itu muncul, teringatlah Suling Emas. Tak salah lagi, inilah ibu kandungnya. Bau wangi seperti ini pula yang tak pernah ia lupakan, bau ibunya dulu (baca cerita SULING EMAS).

Akan tetapi ia menahan perasaannya sehingga lidahnya yang sudah bergerak, bibirnya yang sudah gemetar hendak meneriakkan panggilan ibu ia tahan. Matanya memandang sayu, penuh keharuan, penuh kedukaan, dan penuh kehausan kasih sayang ibu.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar