FB

FB

Ads

Kamis, 16 Mei 2019

Cinta Bernoda Darah Jilid 002

Ucapan ini biarpun terdengar membela namun mengandung sindiran yang memandang rendah tingkat Ilmu Silat Hoa-san-pai. Memang hwesio murid kepala Bu-tong-pai ini berwatak keras dan kaku, juga tidak biasa menyembunyikan apa yang dipikirnya.

“Leng Lo Suhu benar-benar memandang rendah kami dari Hoa-san-pai!”

Tiba-tiba orang ke lima dari Hoa-san-pai membentak sambil melompat maju. Dia adalah Kok Ceng Cu, seorang yang bertubuh tinggi tegap, berwajah tampan dengan sepasang mata tajam bersinar-sinar, usianya sekitar tiga puluh tahun.

“Sama sekali tidak memandang rendah,” bantah Leng Lo Hwesio, “hanya pinceng sering kali mendengar bahwa Hoa-san-pai mengutamakan tenaga luar dan penggunaan kaki tangan dalam ilmu silat tidak begitu mementingkan kekuatan dalam. Padahal, Bu Kek Siansu adalah seorang ahli kebatinan dan tentu saja petunjuknya akan berhubungan erat dengan kebatinan, maka tidak akan cocok dengan Sicu sekalian.”

“Tidak memandang rendah akan tetapi sama sekali tidak menghargai kepandaian lain orang. Sama saja! Leng Lo Suhu, kami dari Hoa-san-pai memang masih rendah pengetahuan, tidak ada sesuatu yang patut dibanggakan apalagi disombongkan. Akan tetapi, saya akan merasa takluk kalau seorang diantara para Losuhu dari Bu-tong-pai dapat melebihi apa yang akan saya perlihatkan!”

Kok Ceng Cu yang masih berdarah panas dan tidak tahan mendengar partainya dipandang ringan, segera melangkah lebar mendekati sebuah batu gunung yang berwarna putih. Batu ini sebesar perut kerbau, beratnya tidak kurang dari lima ratus kati. Seperempat bagian dari batu ini terpendam dalam tanah, kokoh kuat dan untuk mencabutnya keluar kiranya dibutuhkan sedikitnya tenaga seribu kati.

Kok Ceng Cu memasang kuda-kuda di dekat batu, kedua tangannya merangkul dari kanan kiri, lalu dengan sebuah teriakan keras ia mengerahkan tenaga menjebol dan.... batu itu terangkat ke atas terus diangkat ke atas kepalanya. Otot-otot kedua lengannya tersembul keluar, lehernya mendadak menjadi besar, namun wajahnya yang tampan itu tidak berubah, tetap tenang dan tersenyum.

Pihak Bu-tong-pai dan Kun-lun-pai memandang kagum. Sebagai ahli-ahli silat tingkat tinggi, mereka maklum bahwa untuk mengangkat batu seberat itu mengandalkan tenaga luar, bukanlah hal yang mudah dilakukan. Selain membutuhkan latihan tekun dan lama, juga harus memiliki bakat alam, yaitu tenaga yang besar dan hal ini hanya dapat dimiliki oleh seorang laki-laki yang selama hidup tetap membujang. Melihat keadaan wajah Kok Ceng Cu, terang bahwa jago Hoa-san-pai ini biarpun usianya sudah tiga puluh tahun lebih, ternyata dia masih bujang, jejaka tulen!

“Tenaga gwa-kang (tenaga luar) Sicu hebat sekali, pinceng kagum!”

Kata Leng Lo Suhu dengan sejujurnya. Akan tetapi hal ini memanaskan perut Leng Hi Hwesio, murid ke empat dari Bu-tong-pai. Biarpun usianya sudah enam puluh tahun, hwesio keempat dari Bu-tong-pai ini wataknya keras dan tidak mau kalah. Ia segera melompat maju mendekati Kok Ceng Cu dan berkata nyaring.

“Main-main dengan batu mati ini apa sih anehnya? Sicu, kalau kau sudah lelah dan bosan, boleh operkan batu itu pada pinceng!”

Tadinya Kok Ceng Cu merasa bangga akan pujian murid tertua Bu-tong-pai, akan tetapi melihat dan mendengar sikap dan kata-kata hwesio ke empat ini, diam-diam ia merasa penasaran juga kaget. Apakah hwesio yang kurus kering ini dapat mempergunakan tenaga seperti dia? Ia berseru keras dan kedua lengannya bergerak ke bawah lalu ke atas, melontarkan batu besar itu kepada Leng Hi Hwesio sambil berseru.

“Losuhu terimalah!”

Batu berat itu meluncur ke arah hwesio Bu-tong-pai, kalau menimpa kepala tentu akan remuk. Namun, dengan tenang hwesio ini menggerakkan kedua tangannya, menerima batu itu dengan gerakan indah.

Kiranya ia telah menggunakan gerakan Dewa Menyambut Mustika, begitu kedua telapak tangannya menempel pada batu, ia meminjam tenaga lontaran tadi, dan terus mengayun batu ke bawah, ke atas lagi, dan melontarkannya ke atas, diterima lagi, diayun dan dilontarkan lagi ke atas sampai lima kali.

Ketika untuk ke lima kalinya batu itu menimpa turun, ia menggunakan gerakan menyabet dengan kedua tangan miring. Batu itu melenceng ke samping, terbanting ke atas tanah sampai amblas hampir setengahnya. Inilah gerak pukulan Pukul Roboh Gunung Hitam, sebuah jurus ilmu Silat Bu-tong-pai yang lihai.

Terdengar tepuk tangan memuji dari para tosu Kun-lun-pai.
“Siancai, siancai, ilmu pukulan Bu-tong-pai benar-benar hebat!” seru Ang Kun Tojin.






Akan tetapi Pek Sin Tojin, murid ke lima Kun-lun-pai yang bertahi lalat pada ujung hidungnya, menjadi penasaran melihat betapa dua orang dari rombongan Hoa-san-pai dan Bu-tong-pai seakan-akan mendemonstrasikan kepandaian. Kalau dari fihak Kun-lun-pai tidak ada yang bergerak, jangan-jangan fihaknya akan dipandang rendah. Ia melangkah maju mendekati batu itu, berkata,

“Siancai, batu terbanting keras jangan-jangan banyak cacing yang akan tertimpa remuk.”

Kaki kanannya bergerak mencongkel dan.... batu itu menggelinding keluar dari dalam tanah, sampai lima kaki lebih jauhnya. Gerakan ini saja membuktikan betapa lihainya para tosu Kun-lun-pai.

Yang paling berangasan diantara semua orang adalah Kok Ceng Cu. Ia mengeluarkan suara ejekan dari hidungnya,

“Hemmm, semua memamerkan tenaga dalam yang mengandalkan tenaga pinjaman, bukan tenaga asli dari otot dan urat. Biarpun kami dari Hoa-san-pai hanya melatih otot untuk memperkuat tubuh, namun permainan lwee-kang (tenaga dalam) seperti itu juga bukan hal aneh.”

Ia tidak melakukan tantangan, namun kata-katanya ini jelas mengangkat golongan sendiri dan tidak memandang tinggi dua rombongan lain. Juga ia berdiri dengan dada terangkat, kedua kaki-nya memasang kuda-kuda dengan sikap seolah-olah ia siap menghadapi siapa saja yang berani melawannya!

Tentu saja sikap ini memanaskan hati fihak Kun-lun-pai dan Bu-tong-pai, apalagi fihak Bu-tong-pai. Kalau saja Ang Kun Tojin dan Leng Lo Hwesio tidak memberi isyarat dengan pandang mata, tentu ada tosu Kun-lun dan hwesio Bu-tong yang melompat maju untuk menghadapi Kok Ceng Cu.

Pada saat itu terdengar suara tertawa nyaring dan merdu. Semua orang menjadi kaget, memandang ke kanan kiri, namun tidak tampak seorang pun manusia. Padahal jelas sekali tadi terdengar suara ketawa seorang wanita, terdengar dekat sekali, bahkan suara pernapasan di antara kekeh tawa itu dapat mereka dengar.

“Omitohud!” Leng Lo Hwesio mengeluarkan suara sambil merangkapkan kedua telapak tangan di depan dada. “Sicu mengeluarkan sikap menantang, membikin marah dewi penjaga gunung!”

“Kita datang untuk mohon pelajaran kebatinan kepada Bu Kek Siansu, saudara-saudara dari Hoa-san-pai memperlihatkan kekerasan, sungguh lucu sehingga ditertawakan oleh segala mahluk halus,”

Kata pula Ang Kun Tojin, namun diam-diam ia merasa gelisah karena ia dapat menduga bahwa yang mengeluarkan suara ketawa itu sudah pasti seorang yang memiliki kesaktian luar biasa. Terang bukan Bu Kek Siansu, juga bukan yang bernyanyi tadi, karena suara ketawa ini adalah suara wanita.

“Kami orang-orang Hoa-san-pai tidak takut terhadap segala siluman!” Kok Ceng Cu berkata keras sambil melirik ke kanan kiri.

“Sute, jangan bicara begitu....” Kok Bin Cu mencela adik seperguruan yang berangasan itu.

Akan tetapi suaranya terhenti ketika tiba-tiba pada saat itu terdengar lagi suara ketawa dan kini tahu-tahu di depan mereka telah berdiri seorang wanita yang amat cantik. Dia datang begitu saja seperti muncul dari dalam bumi, tidak tampak datangnya, tahu-tahu sudah berdiri di depan Kok Ceng Cu sambil tertawa terkekeh-kekeh, bibirnya yang merah dan lembut itu terbuka, tampak dua deretan gigi yang putih seperti mutiara berbaris.

Empat belas orang itu memandang dengan mata terbelalak. Sungguh seorang wanita yang amat cantik, dilihat dari wajahnya yang segar berseri itu agaknya belum dua puluh lima tahun usianya, namun sikap dan gerak-geriknya membayangkan kepribadian yang kuat dan berwibawa, tenang dan tabah, sikap masak seorang tokoh besar. Pakaiannya dari sutera tipis berwarna putih sehingga terbayang baju dalam yang berwarna merah muda. Sepasang kakinya tertutup sepatu kulit mengkilap, berwarna hitam.

Yang menarik hati dan mengerikan adalah rambutnya. Rambut hitam gemuk, panjang sampai hampir menyentuh tanah di belakangnya, sebagian lagi terurai ke depan dari kanan kiri lehernya. Tubuhnya padat berisi, kulit leher, tangan dan mukanya halus dan putih seperti salju. Wanita yang cantik jelita, bersinar mata bengis, dengan mulut yang selalu mengejek tampaknya dan diselubungi sesuatu yang aneh mengerikan. Begitu ia muncul, tercium bau harum seperti taman bunga.

“Hi-hi-hik, kiranya jejaka tampan yang mengeluarkan tantangan. Wah, untungku hari ini! Orang muda yang penuh tenaga dan hawa murni, kau dari golongan mana?”

Kok Ceng Cu biarpun sudah berusia tiga puluh tahun lebih, namun tak pernah berdekatan dengan wanita. Memang ia tidak suka akan wanita dan sudah bersumpah akan tetap membujang seumur hidup. Kini menghadapi wanita cantik aneh yang sikapnya sombong, ketawanya terbuka tanpa mengenal sopan dan susila ini, ia menjadi marah sekali.

“Wanita tak bersopan! Aku tidak suka bicara denganmu, akan tetapi kalau kau ingin tahu, aku Kok Ceng Cu murid ke lima dari Hoa-san-pai. Sudahlah, pergi jangan menambah muak dengan ketawa-ketawa seperti siluman!”

“Hi-hi-hik, jejaka murni, nyalinya kuat. Bagus, bagus, kebetulan sekali. Eh, Kok Ceng Cu, kulihat tadi kau mengangkat batu kecil ini, entah apa kau kuat menerima lemparan dariku?”

Tanpa menanti jawaban, wanita ini menggerakkan kepalanya dan.... rambutnya yang indah dan panjang itu bergerak seperti hidup ke arah batu gunung putih di dekatnya yang tadi dipakai main-main oleh orang-orang sakti itu.

Begitu cepat gerakkannya dan tahu-tahu batu itu telah terlempar ke arah Kok Ceng Cu. Benar-benar membuat semua orang bengong terlongong. Bagaimana rambut indah panjang itu dapat dipergunakan untuk mengangkat dan melempar batu yang beratnya lima ratus kati lebih?

Akan tetapi Kok Ceng Cu tidak sempat berheran. Melihat datangnya batu ke arah kepalanya, ia cepat menggerakkan kedua lengan, menangkap batu itu dan mengerahkan tenaganya, melemparkan batu itu kembali kepada wanita tadi sambil berseru membentak,

“Siluman jahat, terimalah kembali!”

Lemparan Kok Ceng Cu dilakukan dengan pengerahan tenaga sepenuhnya, akan hebat sekali akibatnya kalau wanita itu tertimpa. Agaknya wanita aneh ini tidak mempedulikan datangnya batu, hanya mengangkat lengan kiri menangkis. Terdengar suara keras dan batu itu terlempar ke kiri, pecah menjadi dua!

Kejadian ini benar-benar membuat semua orang terkejut, dan sekaligus maklumlah mereka bahwa wanita ini ternyata memiliki kepandaian yang amat luar biasa. Juga Kok Ceng Cu sadar akan hal ini, namun penyesalannya terlambat.

Sambil terkikik-kikik ketawa wanita itu kembali menggerakkan kepalanya dan kini rambutnya terurai meluncur ke depan dan di lain saat kedua pergelangan lengan dan leher Kok Ceng Cu sudah terlibat rambut. Betapapun murid ke lima dari Hoa-san-pai ini mengerahkan seluruh tenaganya untuk melepaskan diri, usahanya sia-sia seakan-akan seekor latat yang berusaha melepaskan diri daripada sarang laba-laba, meronta-ronta tanpa hasil, malah rambut-rambut itu makin erat mengikat tangan dan mencekik leher.

“Hi-hi-hik, berontaklah, makin keras makin baik agar darahmu berjalan lebih kencang!”

Sambil terkekeh wanita itu kembali menggerakkan kepalanya. Tubuh Kok Ceng Cu tersentak ke depan, berputar dan tak dapat dicegah lagi mendekati wanita itu. Tiba-tiba wajah wanita cantik itu menjadi beringas, matanya bersinar-sinar, mulutnya terbuka dan.... cepat sekali mulutnya mendekati tengkuk leher Kok Ceng Cu dan menggigitnya, terus mengisap! Kok Ceng Cu mengeluarkan jerit mengerikan, mukanya menjadi pucat kehijauan dan beberapa detik kemudian nyawanya telah melayang meninggalkan badannya!

“Siluman keji....!”

Kok Bin Cu dan tiga orang adik seperguruannya bergerak maju, menerjang wanita itu. Akan tetapi mereka terhuyung mundur dan tubuh Kok Ceng Cu yang sudah dingin terlempar ke arah mereka, diiringi suara ketawa wanita itu. Melihat keadaan Kok Ceng Cu yang sudah menjadi mayat, Kok Bin Cu cepat menyambar dan memeluk adik termuda ini dengan penuh kesedihan.

Adapun tiga orang adik seperguruannya yang lain berdiri dengan sikap siap, namun ragu-ragu untuk menerjang tanpa perintah Kok Bin Cu. Mereka maklum akan kelihaian wanita siluman ini dan menjadi gentar juga.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar