FB

FB


Ads

Kamis, 14 Maret 2019

Suling Emas Jilid 031

"Nenek yang baik. Aku harus mengaku bahwa aku telah menerima budimu bertumpuk-tumpuk, sampai mati pun aku takkan mampu membalas budimu. Oleh karena itu, perkenankanlah aku mencari jalan keluar dan membawamu di dunia ramai, dan aku bersumpah akan menganggap kau sebagai nenek atau ibu sendiri, dan aku akan berbakti kepadamu, merawatmu, menjagamu untuk membalas budi..."

"Cukup ! Aku tak mau dengar lagi!" Nenek itu lalu meninggalkannya dengan sikap marah.

Kwee Seng duduk terlongong, terheran-heran. Akan tetapi sikap nenek itu tentu saja tidak memadamkan niatnya untuk mencari jalan keluar. Betapa pun besar ia berhutang budi, masa ia yang masih muda mengubur diri sampai mati di tempat itu ?

Tiba-tiba terdengar suara berkerosokan hebat di sebelah atas, dan keadaan menjadi gelap. Cepat-cepat Kwee Seng menyalakan lampu dari minyak yang dikumpulkan dari ikan sehingga keadaan di situ menjadi remang-remang. Nenek itu datang berjalan perlahan.

"Suara apakah itu, Nek?"

"Hujan ! Agaknya akan datang musim hujan besar. Dulu pernah sampai tiga puluh hari lebih tidak ada cahaya matahari, gelap disini dan Arus Maut mengalir deras mengamuk, membabi buta."

"Wah, celaka ! Tentu disini terendam air, Nek?"

"Jangan kuatir. Air itu membanjir ke depan, terus keluar melalui terowongan. Tak pernah banjir di sini, akan tetapi sukar menangkap ikan. Maka sebelum banjir besar dan gelap datang, kita harus banyak mengumpulkan ikan untuk bahan makan, juga mengumpulkan sayur."

Tiga hari mereka kerja keras, setiap saat menangkap ikan dan mengumpulkan kayu bakar, sayur-sayur. Kemudian tibalah musim gelap dan hujan yang dikuatirkan. Air yang mengalir ke dalam terowongan itu menjadi liar dan besar, batu-batu diterjangnya hanyut, suaranya memenuhi ruangan itu, bergema menakutkan.

Lubang di atas melalui tebing-tebing tinggi itu tidak dijenguk matahari lagi. Gelap pekat, hanya diterangi lampu minyak yang hanya kadang-kadang kalau perlu saja dinyalakan, harus seringkali dipadamkan, apalagi di waktu mereka tidur, untuk menghemat minyaknya. Si Nenek tidak marah-marah lagi. Dalam keadaan terancam itu mereka seringkali duduk bercakap-cakap.

Pada hari keempat, di dalam gelap pekat karena lampu sudah dipadamkan, nenek itu bertanya suaranya halus menggetar penuh perasaan,

"Kwee Seng, apakah masih ada niat hatimu untuk keluar dari sini?"

Kwee Seng terharu. Suara itu menggetar, jelas bahwa nenek itu amat kuatir ditinggalkan.

"Sesungguhnya, Nek. Aku yang masih muda tak mungkin harus mengubur disini terus selamanya. Aku akan keluar dan tentu saja besar harapanku untuk mengajakmu keluar. Kau memiliki kepandaian, tentu dapat pula keluar bersamaku."

Hening sejenak. Ingin sekali Kwee Seng dapat melihat wajah nenek itu atau lebih tepat melihat matanya, karena wajah nenek yang keriputan itu tak pernah membayangkan isi hatinya. Akan tetapi matanya dapat membayangkan. Namun di dalam gelap itu ia hanya menanti, tak dapat melihat apa-apa.

"Kwee Seng..." tertahan lagi.

"Ya, Nek ? Ada apa ?"

"Kau bilang hendak merawatku selama aku hidup. Akan tetapi aku tidak tahu orang macam apa kau ini, dari mana asalmu dan bagaimana kau sampai dapat tiba di tempat ini. Belum pernah kau bercerita tentang dirimu."

Kwee Seng tersenyum di dalam gelap. Memang tak pernah ia bercerita. Bukankah nenek itupun tak pernah menanyakan dan tak pernah pula menceritakan tentang dirinya? Pertanyaan nenek itu merupakan harapan. Agaknya Si Nenek hendak menimbang-nimbang untuk ia ajak keluar di dunia ramai !

"Aku seorang yatim piatu, Nek. Orang tuaku meninggal sejak aku masih kecil. Aku hidup mengabdi kepada orang-orang, menjadi buruh tani, menggembala kerbau. Di dunia ini tidak ada seorang pun keluargaku. Aku seorang mahasiswa gagal, kepalang tanggung. Siucai (lulusan mahasiswa) bukan, buta huruf pun bukan. Lebih senang ilmu silat, itu pun serba tanggung-tanggung."






"Ilmu silatmu hebat, kepandaianmu luar biasa, ini aku tahu." Bantah Si Nenek.

"Ah, agaknya mendapat sedikit kemajuan berkat dua buah kitab yang kau pinjamkan, Nek."

Kemudian Kwee Seng menceritakan semua pengalamannya, karena makin banyak ia bicara, makin terlepas lidahnya. Ia menganggap seakan-akan ia berhadapan dengan neneknya atau ibunya sendiri. Segala dendam dan sakit hati ia keluarkan, ia tumpahkan karena justeru selama ini ia membutuhkan seorang yang dapat ia ceritakan untuk menumpahkan semua dendam dan sakit hati.

Ia bercerita tentang Ang-siauw-hwa, kembangnya pelacur di see-ouw yang bernama Khu Kim Lin itu, ia bercerita pula tentang Liu Lu Sian yang menampik cinta kasihnya. Ia menuturkan pertempurannya melawan Pat-jiu Sin-ong yang mengakibatkan ia terjungkal ke dalam Arus Maut dan yang menyeretnya ke dalam Neraka Bumi itu.

"Nah, begitulah riwayatku, Nek. Nek, apakah kau tertidur?"

Kwee Seng mendongkol dan bertanya agak keras. Ia bercerita dua jam lebih, mulutnya sampai lelah, akan tetapi nenek itu diam saja, agaknya sudah tertidur pulas! Akan tetapi ternyata tidak. Ia mendengar suara nenek itu menjawab, suara yang serak seperti orang menangis.

"Nek, mengapa kau menangis?"

"Aku... aku kasihan kepadamu, Kwee Seng. Orang macam Liu Lu Sian itu mana pantas kau cinta? Agaknya... agaknya lebih patut kau mencinta Ang-siauw-hwa."

"Hemm, memang agaknya begitu. Dan terus terang saja, aku mengalami kebahagiaan yang takkan terlupa olehku selamanya bersama Ang-siauw-hwa, walaupun hanya satu malam. Ah, siapa sangka, ia meninggal dunia dalam usia muda..."

"Kurasa lebih baik begitu. Dia sudah menjadi pelacur, apakah baiknya ? Hina sekali itu ! Lebih baik mati ! Akan tetapi, apakah... kau dapat mencintanya andai kata ia tidak mati?"

"Hemm, kurasa... hal itu mungkin. Dia wanita yang hebat ! Dan wataknya... ah, jauh lebih menyenangkan daripada Liu Lu Sian..."

Hening pula sejenak, akan tetapi Kwee Seng masih mendengar nenek itu terisak-isak menangis, ia mendiamkannya saja, mengira bahwa nenek itu masih terharu mendengar riwayat hidupnya yang memang tidak menyenangkan. Ia pun menjadi terharu. Nenek ini sudah amat mencintainya, seperti kepada anak sendiri, atau cucu sendiri sehingga mendengar semua penderitaannya, nenek ini menjadi amat berduka ! Akan tetapi setelah lewat satu jam nenek itu masih saja terisak-isak, Kwee Seng menjadi kuatir juga.

"Nek, apa kau menangis? Sudahlah, harap jangan menangis, menyedihkan hati, Nek."

Akan tetapi nenek itu tetap menangis. Kwee Seng curiga dan khawatir. Jangan-jangan nenek yang sudah tua renta ini jatuh sakit karena kesedihannya. Ia mencetuskan batu api dan membakar daun kering, menyalakan pelita. Akan tetapi begitu lampu menyala, menyambarlah angin yang kecil akan tetapi keras dan api itupun padam. Kiranya Si Nenek meniupnya dari jauh, memadamkan api.

Kwee Seng mengangkat pundak.
"Nek, kau mengkuatirkan hatiku karena menangis sejak tadi. Diamlah, Nek. Apakah kau sakit?"

Tidak ada jawaban pula, akan tetapi suara isak itu mengendur dan mereda, akhirnya terdiam. Lega hati Kwee Seng dan ia sudah merebahkan diri telentang, bermaksud untuk beristirahat dan tidur. Akan tetapi beberapa menit kemudian terdengar suara Si Nenek, agak jauh dari tempat ia berbaring.

"Kwee Seng..."

"Ya, Nek. Ada apa?"

"Kalau kau keluar dari sini..." berhenti seakan sukar dilanjutkan.

"Ya....?" Kwee Seng mendesak.

".... Aku tidak akan ikut. Tapi aku hanya mempunyai sebuah permintaan..."

"Ya... ? Permintaan apa, Nek ? Tentu aku siap untuk melaksanakan semua permintaanmu."

"Kwee Seng, bukankah kau bilang bahwa kau berhutang budi kepadaku dan sanggup untuk membalas budi dengan merawatku selamanya?"

"Betul, Nek, betul. Karena itu kau harus ikut..."

"Tak perlu kau lakukan hal itu. Tak perlu bersusah payah merawatku selama hidup. Sebagai gantinya, aku hanya minta sedikit.."

"Apa, Nek ? Katakanlah." Hening kembali sampai lama, menegangkan hati Kwee Seng yang makin tidak mengerti akan keanehan nenek itu. "Ya, Nek ? Bagaimana kehendakmu?"

"Kwee Seng, keadaan hujan dan gelap ini akan makan waktu sedikitnya lima belas hari lagi."

"Ya, betul agaknya. Lalu?"

"Selama itu kau tidak boleh mencoba keluar..."

Kwee Seng tertawa. Hanya inikah permintaannya? Gila benar. Mengapa bersusah-susah mengucapkannya?

"Ha-ha-ha ! Tentu saja, Nek. Tidak usah memintapun bagaimana aku dapat keluar kalau Arus Maut begitu hebat mengamuk?"

"Selama gelap dan hujan kau tinggal disini dan..."

"Ya... ??" Kwee Seng mulai tidak sabar.

".... dan... kita menjadi suami isteri sampai hujan berhenti!"

"Apa ??"

Kini Kwee Seng terloncat keatas dan jatuh berdebuk di atas tanah. Begitu saja ia terguling dari atas pembaringan batu, saking kagetnya. Ia terhenyak di atas lantai, terlongong keheranan, seketika menjadi bisu tak dapat mengeluarkan suara. Setelah lidahnya tidak kaku lagi, suara yang dapat keluar dari mulutnya hanya,

"... apa ...? ?... ah... bagaimana...?" Ia tidak percaya kepada telinganya sendiri.

Suara nenek itu penuh kegetiran, terdengar lirih mengandung rasa malu.
"Hanya itu permintaanku. Kita menjadi suami isteri sampai pada saat kau berhasil keluar dari sini, yaitu setelah hujan berhenti."

Kwee Seng meloncat berdiri, mengepal tinjunya, mengerutkan keningnya.
"Apa ?? Gila ini ! Tak mungkin!!"

Sunyi sejenak, lalu terdengar nenek itu tersedu-sedu menangis, ditahan-tahan sehingga suara tangisnya tertutup, agaknya kedua tangan nenek yang kecil itu menutupi mulut dan hidung agar sedu sedannya tidak terlalu keras. Kemudian terdengar suara nenek itu makin jauh dari situ, diantara tangisnya,

"Ah, aku tahu... kau tentu menolak..."

Kwee Seng terduduk diatas pembaringan batu, ada sejam lebih tak bergerak-gerak, seakan-akan ia sudah pula berubah menjadi batu. Suara sedu-sedan nenek itu seakan-akan pisau menusuk-nusuk jantungnya. Apakah nenek itu sudah menjadi gila? Nenek-nenek yang melihat keriput di mukanya tentu berusia enam puluh tahun kurang lebih, bagaimana ingin menjadi isterinya? Mana ia sudi melayani kehendak nenek yang gila-gilaan ini? Menjemukan sekali! Sialan! Kwee Seng mengumpat diri sendiri.

Ada wanita yang mencintanya, seorang nenek-nenek hampir mati! Mana mungkin ia membalas cinta seorang nenek-nenek yang buruk rupa? Teringat ia akan Ang-siauw-hwa. Teringat pula Liu Lu Sian.

Gadis puteri Beng-kauw itupun menolak cintanya. Padahal ia tergila-gila kepada nona itu. Penolakan cinta yang menyakitkan hati. Kwee Seng terkejut teringat akan hal ini. Nenek itupun mencintanya, mencinta dengan suci, sudah dibuktikan dengan perawatan dan pelayanan yang demikian sungguh-sungguh penuh kasih sayang selama seribu hari!

Dan dia menolak cinta nenek itu. Menolak begitu saja! Padahal nenek itupun hanya menghendaki pembalasan cinta hanya untuk beberapa hari lamanya! Ah, betapa sakit hati nenek itu, dapat ia membayangkannya. Ia menjadi seorang yang tak kenal budi!






Tidak ada komentar:

Posting Komentar