FB

FB

Ads

Kamis, 14 Februari 2019

Bukek Siansu Jilid 100

Setelah berhasil menduduki Lok-yang ibu kota kedua itu melalui pertempuran yang seru, An Lu Shan memimpin pasukan intinya menuju ke Tiang-an. Kembali dia harus menghadapi perlawanan gigih di Lembah Tung Kuan, akan tetapi setelah lembah ini didudukinya, pasukan-pasukan terus menekan dan bergerak menuju ke Tiang-an.

Demikianlah, Tiang-an, ibu kota yang megah itu, diserbu dan didudukinya dengan amat mudah, hampir tidak ada perlawanan sama sekali. Hal ini adalah karena banyak kaki tangan dan mata-matanya yang dipimpin oleh Ouwyang Cin Cu dan The Kwat Lin, telah lebih dulu melakukan kekacauan-kekacauan sehingga melemahkan pertahanan, juga Kaisar melarikan diri meninggalkan kota raja Tiang-an, hal ini membuat para pasukan penjaga menjadi kehilangan semangat dan sebagian besar di anatara mereka menyatakan takluk tanpa melalui peperangan yang lama, ada pula yang melarikan diri menyusul rombongan Kaisar ke barat.

Seperti biasa terjadi di waktu perang, dari jaman dahulu sebelum sejarah tercatat sampai sekarang, akibat-akibat yang mengerikan terjadi dan menimpa diri pihak yang kalah perang. Demikian pula nasib para bangsawan di kota raja yang tidak sempat melarikan diri. Banyak orang dibunuh hanya oleh tudingan jari tangan orang lain yang memfitnahnya, mengatakan bahwa orang itu adalah mata-mata pemerintah.

Mayat bergelimpangan di sepanjang jalan dan anggauta-anggauta pasukan pemberontak yang menang perang itu berpesta pora mengangkuti harta benda dan wanita dari pihak yang kalah. Jerit tangis wanita-wanita yang dipaksa dan diperkosa, membumbung tinggi ke angkasa, bercampur baur dengan sorak dan tawa kemenangan.

Dan An Lu Shan, seorang yang ahli dalam hal memimpin pasukan, sengaja membiarkan saja hal itu terjadi agar darah yang bergolak di dada para anak buahnya dapat diredakan. Beberapa hari kemudian, setelah anak buahnya sepuas-puasnya dan sekenyang-kenyangnya mengganggu wanita dan berebutan harta benda yang ditinggal lari, barulah muncul perintah yang melarang perbuatan seperti itu.

Namun An Lu Shan juga tidak melupakan janji-janjinya kepada para pembantunya yang telah berjasa. Dengan royal dia lalu membagi-bagikan pangkat, gedung bekas tempat tinggal para bangsawan yang melarikan diri atau terbunuh, membagi-bagikan harta benda dan para puteri cantik yang menjadi tawanan. Maka selama beberapa bulan lamanya berpesta poralah para kaki tangan An Lu Shan yang menerima hadiah-hadiah itu.

Tentu saja An Lu Shan lebih lagi memperhatikan para pembantu yang tangguh dan yang masih diharapkan bantuan mereka. Kepada mereka ini dia memberi hadiah yang lebih besar lagi. Dia tidak mengingkari janjinya terhadap para pembantu yang berjasa besar seperti The Kwat Lin bekas Ratu Pulau Es itu, maka setelah Tiang-an diduduki, putera The Kwat Lin yang bernama Han Bu ong lalu diberi anugerah pangkat pangeran! The Kwat Lin sendiri diangkat menjadi seorang panglima pengawal, sedangkan Ouwyang Cin Cu diangkat menjadi koksu (guru penasihat negara).

Dapat dibayangkan betapa girangnya hati The Kwat Lin. Cita-citanya tercapai, puteranya telah menjadi pangeran dan kalau dia pandai mengatur kelak siapa tahu terbuka kesempatan bagi para puteranya untuk menjadi Kaisar!

Tidaklah mengherankan apa yang terkandung dalam hati The Kwat Lin sebagai cita-cita ini. Sudah lajim bagi kita manusia di dunia ini untuk selalu menjadi hamba dari cita-cita kita sendiri. Seluruh kehidupan ini seolah-olah dikuasai dan diatur oleh cita-cita kita masing-masing. Kita tenggelam dalam khayal dan cita-cita, tidak tahu betapa cita-cita amatlah merusak hidup kita. Cita-cita membuat pandang mata kita selalu memandang jauh ke depan penuh harapan untuk mencapai sesuatu yang kita cita-citakan.

Pandang mata yang selalu ditujukan ke masa depan yang belum ada ini, tangan yang dijangkaukan ke depan untuk selalu mengejar apa yang belum kita miliki membuat kita hidup seperti dalam bayangan. Kita tidak mungkin dapat menikmati hidup, padahal hidup adalah saat demi saat, sekarang ini, bukan masa depan yang merupakan bayangan khayal atau masa lalu yang sudah mati.

Sekali kita menghambakan diri kepada cita-cita, selama hidup kita akan terbelenggu oleh cita-cita karena tidak ada cita-cita yang dapat terpenuhi sampai selengkapnya, dan kita terseret ke dalam lingkaran setan yang tak berkeputusan. Mendapat satu ingin dua, memperoleh dua mengejar tiga dan selanjutnya, itulah cita-cita! Dan semua itu akan kita kejar terus sampai kematian merenggut kehidupan kita, bahkan di ambang kubur sekali pun di waktu mendekati kematian, kita masih terus di cengkeram cita-cita, yaitu cita-cita untuk masa depan sesudah mati! Betapa mungkin kita dapat menikmati hidup ini kalau mata kita selalu memandang masa datang yang belum ada? Sebaliknya, orang yang bebas dari cita-cita, bebas dari masa lalu dan masa depan, dapat menghayati hidup ini saat demi saat!

Demikian pula dengan The Kwat Lin. Cita-citanya tercapai dengan diangkatnya puteranya menjadi pangeran, akan tetapi sudah habis disitu sajakah cita-citanya? Sama sekali belum! Jauh dari pada cukup atau habis! Bahkan cita-cita barunya yang lebih hebat baru saja dia mulai, yaitu cita-cita melihat puteranya menjadi kaisar! Karena cita-cita ini, maka keadaannya pada saat itu tidak terasa membahagiakan, bahkan terasa amat kurang. Hanya pangeran! hanya panglima pengawal! jauh dibandingkan dengan puteranya menjadi kaisar dan dia menjadi ibu suri!






Banyak orang membantah, mengatakan bahwa cita-cita mendatangkan kemajuan, tanpa cita-cita kita tidak akan maju. Apakah cita-cita itu? Apakah kemajuan itu? Cita-cita adalah keinginan akan sesuatu yang belum terdapat oleh kita. Dan keinginan seperti ini merupakan dorongan nafsu yang tak mengenal kenyang, makin dituruti makin lapar dan haus, menghendaki yang lebih. Dan akhirnya akan sukar dibedakan lagi dengan ketamakan, kerakusan yang mendatangkan pertentangan, permusuhan dan kesengsaraan.

Dan apakah kemajuan itu? Sudah menjadi pendapat umum bahwa kemajuan adalah keduniawian, harta benda, kedudukan, nama besar. Apakah "kemajuan" seperti ini mendatangkan kebahagiaan" hanya mereka yang telah memiliki nama terkenal saja yang mampu menjawab, dan jawabannya pasti TIDAK! Bahkan sebaliknya malah. makin banyak kedudukan atau nama besar, makin ketat kita melekat kepada duniawi, makin banyak pula kesengsaraan hidup yang kita derita berupa kekecewaan, pertentangan dan kekhawatiran. Karena yang sudah pasti saja, hanya mereka yang masih memiliki lahir batin yang akan kehilangan! Dan kehilangan berarti kekecewaan, kedukaan dan sebelumnya terjadi kehilangan, kita digerogoti kekhawatiran.

Kembali kepada keadaan The Kwat Lin. Hasil yang dicapai sampai ke taraf itu disambut dengan pesta pora di dalam sebuah gedung besar, sebuah istana kepunyaan seorang pangeran yang telah dibunuh. The Kwat Lin mengadakan pesta besar dan mengundang banyak teman-teman para pembesar di kota raja.

Amat meriah pesta yang diadakan di istana Pangeran Han Bu Ong itu. The Kwat Lin yang menyambut para tamu bersama puteranya, mengenakan pakaian yang amat mewah dan indah, pakaian yang sepatutnya dipakai oleh seorang ratu atau ibu suri tulen. Ada pun Han Bu Ong yang biarpun masih belum dewasa namun bertubuh tinggi dan berwajah tampan itu mengenakan pakaian yang pantas pula bagi seorang pangeran tulen.

Biarpun An Lu Shan sendiri yang kini telah menjadi kaisar baru tidak datang dan hanya mengirim wakil karena dia sendiri sibuk merayakan kemenangannya, namun hampir semua pembantu An Lu Shan yang kini menjadi orang-orang berpangkat dan bangsawan baru itu memenuhi halaman istana yang luas, ratusan lampu penerangan membuat tempat itu terang benderang seperti siang hari saja dan suasana menjadi gembira oleh suara tetabuhan yang menyambut datangnya para tamu yang berbondong-bondong. Biasanya, kalau ada pembesar atau bangsawan mengadakan pesta, rakyat tentu bergerombol di luar untuk menonton.

Akan tetapi pada waktu itu tidak nampak seorang pun karena pada waktu itu, rakyat penghuni ibu kota sedang dicengkeram ketakutan hebat. Seperti biasa setelah perang berakhir, rakyat yang menjadi sasaran mereka yang memperoleh kemenangan. Para anggauta pasukan baru berkeliaran keluar masuk perkampungan, keluar masuk rumah orang seperti rumahnya sendiri, bahkan tidak jarang terjadi mereka memasuki kamar tidur orang seperti memasuki kamar tidur sendiri sambil menyeret nyonya rumah yang masih muda atau anak gadis mereka!

Seperti para atasannya yang mengadakan pesta besar-besaran, kaum rendahan juga berpesta dengan gayanya tersendiri. Seperti biasanya pula, penduduk hanya pandai menangis dan mengeluh mengadu kepada Thian sebagai hiburan satu-satunya.

Menjelang tengah malam, pesta masih amat ramai. Ouwyang Cin Cu sebagai seorang yang berkedudukan tinggi sekali sekarang, seorang koksu, datang juga hanya sekedar memberi selamat dan tidak tinggal lama. Akan tetapi para pengawal baru, tentu saja mereka yang berpangkat perwira ke atas, masih berpesta pora karena memang The Kwat Lin ingin mengambil hati para rekannya ini yang kelak dia harapkan bantuan mereka.

Bahkan ketika para tamu orang penting sudah meninggalkan tempat pesta dalam keadaan setengah mabok dan tempat itu mulai sepi, The Kwat Lin masih menahan para pembesar pengawal yang jumlahnya belasan orang itu untuk diajak berunding mengenai tugas mereka yang baru sebagai pengawal-pengawal istana, bahkan mereka merupakan dewan pimpinannya.

Lewat tengah malam, para tamu sudah pulang dan yang tinggal hanyalah empat belas orang pimpinan pengawal yang kini dijamu dan diajak berunding di ruangan dalam, adapun ruangan luar tempat pesta mulai dibersih-bersihkan oleh sejumlah pelayan yang kelihatan lelah dan mengantuk.

Pada saat itulah berkelebat bayangan tiga orang. Para pelayan yang membersihkan tempat bekas pesta itu hanya melihat bayangan berkelebat dan tahu-tahu di tempat itu kelihatan dua orang wanita cantik dan seorang laki-laki gagah sudah berdiri dengan sikap angker!

Tentu saja para pelayan terkejut sekali dan mengira bahwa orang-orang aneh yang bergerak amat cepatnya ini tentulah sahabat majikan mereka yang juga terkenal lihai bukan main, maka seorang di antara mereka menyambut sambil menjura dan berkata,

"Sam-wi yang terhormat agak terlambat karena pesta telah bubar."

"Kami tidak ingin pesta," jawab wanita yang setengah tua dengan sikap keren. "Kami ingin berjumpa dengan majikan kalian."

Melihat sikap yang keren penuh wibawa ini, para pelayan menjadi gentar dan dua orang di antara mereka cepat memasuki ruangan dalam di mana The Kwat Lin sedang mengadakan perundingan dengan rekan-rekannya.

Diam-diam wanita itu, Liu Bwee, memberi isyarat dengan matanya kepada Swat Hong, puterinya. Swat Hong mengangguk dan dengan gerakan yang amat cepat dara ini sudah meloncat dan menyelinap lenyap dari situ, sedangkan ibunya dan Ouw Sian Kok sudah menerjang ke dalam ruangan ketika melihat pelayan tadi pergi melapor.

Baru saja dua orang pelayan itu memasuki ruangan dalam dan belum sempat mengeluarkan kata-kata, pintu telah terbuka lebar dan Liu Bwee bersamaa Ouw Sian Kok telah menerjang ke dalam.

"Heiii! Siapa....!!"

Bentakan The Kwat Lin terhenti dan wajahnya berubah pucat ketika dia melihat munculnya wanita yang tentu saja amat dikenalnya itu.

Dia menjadi pucat ketakuan karena mengira bahwa bekas suaminya, Han Ti Ong Raja Pulau Es yang amat ditakutinya itu muncul. Akan tetapi ketika melihat bahwa laki-laki yang datang bersama Liu Bwee itu bukanlah Han Ti Ong, hatinya menjadi lega dan dengan tabah dia meloncat ke depan, dua kali menendang membuat dua orang pelayannya terlempar keluar ruangan, kemudian menghadapi Liu Bwee sambil tersenyum mengejek.

"Aih, kiranya wanita buangan yang datang mengacau dan mengantarkan nyawa!" bentaknya.

"Perempuan hina yang berhati iblis! engkau telah menerima budi kebaikan dari suamiku, mengangkatmu dari lembah kehinaan ke tempat mulia, malah membalasnya dengan khianat! Engkau dan anak harammu itu harus mampus di tanganku!"

"Mulut busuk!"

The Kwat Lin balas memaki dan sekali tanganya bergerak, tampak sinar merah dari Pedang Ang-bwe-kiam di tangan kananya, kemudian tanpa menanti lagi, sinar merah itu sudah meluncur ke depan menyerang Liu Bwee.

"Cringggg....!!"

Bunga api berpijar dan The Kwat Lin mundur dua langkah sambil memandang Ouw Sian Kok yang telah menangkis pedangnya dengan sebatang pedang di tangan, tangkisan yang membuat lengannya tergetar, tanda bahwa laki-laki yang datang bersama Liu Bwee ini memiliki kepandaian tinggi pula.

"Siapa engkau?"

Bentaknya, sementara para rekannya, empat belas orang perwira dan panglima pengawal, telah mencabut senjata masing-masing dan mengurung, menanti saat bantuan mereka diperlukan oleh The Kwat Lin.

Ouw Sian Kok yang mengerti bahwa dia bersama Liu Bwee dan Han Swat Hong telah memasuki guha harimau dan berada dalam ancaman bahaya besar, sengaja mengulur waktu untuk memberi kesempatan kepada Swat Hong yang oleh ibunya ditugaskan menyelinap ke dalam istana untuk mencari dan merampas kembali pusaka-pusaka Pulau Es, karena hanya dengan jalan demikian saja kiranya pusaka-pusaka itu dapat dirampas kembali.

Dia tertawa dan mengelus jenggotnya, sedangkan Liu Bwee siap dan berdiri saling membelakangi punggung dengan Ouw Sian Kok, maklum bahwa mereka tentu akan menghadapi pengeroyokan dan karenanya harus dapat saling melindungi.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar