FB

FB


Ads

Rabu, 22 Mei 2019

Cinta Bernoda Darah Jilid 016

Sebentar kemudian, keenam pemburu itu sudah tidur mendengkur di dekat api. Mereka ini benar-benar sembrono dan tidak pedulian. Masa enam orang di dalam hutan besar kesemuanya tidur? Tidak menjaga secara bergiliran? Bagaimana kalau api unggun menjilat baju? Mungkin mereka merasa aman karena di situ ada tiga orang muda yang agaknya tidak nampak lelah. Mendongkol hati Bu Sin. Kalau mereka menganggap dia dan adik-adiknya sebagai penjaga keselamatan mereka, ia tidak sudi. Ia mengajak kedua orang adiknya menjauhi tempat itu dan membuat api unggun sendiri, kira-kira empat ratus meter jauhnya dari tempat para pemburu.

Menjelang tengah malam, keadaan amat sunyi di dalam hutan itu. Bu Sin tak dapat meramkan mata sedikit pun. Pengalaman yang mereka alami semenjak keluar dari dusun, amatlah hebat.

Mulailah mereka berkenalan dengan kehidupan perantauan, bertemu dengan orang-orang kang-ouw dan malah mereka secara tidak sengaja telah terjun ke dalam permusuhan dengan golongan pengemis kang-ouw yang dikepalai atau dirajai oleh seorang tokoh sakti yang mengerikan bernama It-gan Kai-ong. Nama ini takkan mudah terlupa dari ingatannya dan ia tahu bahwa ia harus berhati-hati dan menjauhkan diri dari kakek iblis itu. Lin Lin dan Sian Eng tidur pulas meringkuk di dekat api unggun, berbantal akar pohon yang menonjol keluar dari tanah.

Tak baik melakukan perjalanan dengan gadis-gadis ini, pikirnya. Biarpun mereka berdua memiliki kepandaian tidak kalah olehnya, namun mereka tetap perempuan, banyak mendatangkan dan memancing keributan. Ia harapkan dapat bertemu dengan kakaknya, Kam Bu Song di kota raja dan besar harapannya pula bahwa keadaan kakaknya yang sepuluh tahun lebih tua daripadanya itu telah mendapatkan kedudukan yang cukup baik. Ia harus menitipkan kedua orang adiknya kepada kakaknya itu, kemudian ia akan melanjutkan usahanya mencari musuh besarnya itu, seorang diri.

Lewat sedikit tengah malam, Lin Lin bangun.
“Sin-ko, sekarang kau tidurlah, biar aku yang berjaga.”

Mendengar suara adiknya, Sian Eng juga bangun mengulet dan menguap.
“Biarlah aku yang berjaga,” katanya.

“Kalian tidurlah, aku tidak mengantuk,” kata Bu Sin, kasihan melihat dua orang adiknya.

Ia mengalah dan ingin berjaga semalam suntuk, membiarkan kedua adik perempuannya itu tidur melepaskan lelah.

“Ah, mana bisa, Sin-ko? Kau pun manusia dari darah daging saja, mana tidak lelah dan ngantuk? Biarlah aku dan Cici Sian Eng berjaga,”

Kata Lin Lin sambil menambah ranting kering pada api unggun sehingga keadaan menjadi hangat.

“Biarlah kita bercakap-cakap dulu, aku tadi merenungkan hasil kepergian kita ke kota raja. Bagaimana kalau kita tidak dapat menemukan saudara tua kita disana?”

“Sin-ko, jangan khawatirkan hal yang belum kita hadapi. Tentu dia berada disana. Andaikata tidak ada disana pun, kurasa mencari seorang bernama Kam Bu Song, putera dari mendiang ayah Kam-goanswe, seorang pelajar yang datang dari Ting-chun di kaki Gunung Cin-ling-san, tidak akan sukar. Tentu ada yang mengenalnya di kota raja. Nah, tenang dan tidurlah Sin-ko.”

Bu Sin tersenyum. Adiknya yang sulung ini memang besar hati dan kalau mendengarkan bicaranya memang ia tidak perlu gelisah. Seorang gagah tidak menakuti hal yang belum dihadapi, bahkan hal yang sudah dihadapi sekalipun tidak boleh mendatangkan rasa takut, harus dihadapi dengan tenang dan waspada, demikian pesan ayahnya dahulu.

“Lin Lin, kau benar. Biar kucoba tidur agar besok kuat kupakai jalan jauh.” Bu Sin lalu merebahkan tubuhnya, miring menghadapi api unggun.

Akan tetapi tiba-tiba tubuhnya mencelat ke atas, juga dua orang gadis itu meloncat berdiri. Mereka berdiri dan saling pandang, penuh rasa kejut dan seram. Suara melengking tinggi itu masih terdengar mengiang-ngiang ke telinga mereka. Lengking tinggi menusuk telinga, suara suling. Lalu disusul suara pekik ketakutan, atau mungkin pekik kesakitan, betapapun juga, pekik ini susul-menyusul dan amat mengerikan.






Akhirnya, tiga orang itu tidak dapat menahan lagi, telinga serasa pecah oleh lengking itu. Dengan kedua tangan menutupi telinga, Bu Sin memberi isyarat kepada adik-adiknya. Mereka lalu duduk bersila, menutupkan kedua telapak tangan ke telinga, meramkan mata dan bersamadhi, mengerahkan lwee-kang untuk menjaga isi dada yang terguncang hebat oleh suara itu.

Dapat dibayangkan hebatnya suara itu karena biarpun mereka sudah menutupi telinga dan mengerahkan lwee-kang masih saja suara itu menyerbu masuk ke dalam telinga dan tubuh mereka gemetaran. Akan tetapi berkat lwee-kang mereka, tiga orang muda itu dapat mempertahankan diri dan tidak terluka dalam.

Hanya sepuluh menit kurang lebih suara itu melengking-lengking, lalu sunyi, sunyi seperti kuburan. Mereka menurunkan kedua tangan. Bergidik ketika saling pandang. Sinar mata mereka saling mufakat bahwa yang bersuara tadi tentulah Suling Emas, karena mereka masih ingat akan suara suling yang pernah menusuk telinga mereka ketika mereka terancam oleh It-gan Kai-ong. Akan tetapi suara suling kali ini amatlah mengerikan.

Sampai pagi tiga orang muda itu tak dapat tidur lagi. Malah mereka duduk bersila mengumpulkan tenaga, siap sedia menanti datangnya bahaya dan mengambil keputusan untuk mempertahankan diri mati-matian biarpun akan datang serangan orang sakti sekali pun. Akan tetapi tidak terjadi sesuatu dan kesunyian yang mencekam itu segera dipecahkan oleh kicau burung dan kokok ayam hutan.

“Mari kita segera pergi dari sini,” kata Bu Sin.

Kedua orang adiknya dapat menangkap pandang mata dan suara hati yang tersembunyi dalam ucapan ini, seakan-akan berkata,

“Untung tidak terjadi apa-apa pada kita, lebih cepat pergi dari sini lebih baik.”

Biasanya dalam perjalanan yang lalu, sebelum pergi tentu mereka bertiga akan mencari mata air atau sungai untuk mencuci muka atau mandi, terutama Lin Lin yang suka sekali bermain di air. Akan tetapi kali ini ketiganya agaknya lupa untuk cuci muka dan tergesa-gesa pergi dari situ.

“Ha, Sin-ko, lihat mereka itu!”

Ketiganya memandang. Dari jauh tampak enam orang pemburu itu masih rebah, ada yang meringkuk, ada yang telentang atau telungkup, sedangkan api unggun sudah lama padam.

“Malas amat pemburu-pemburu itu, mengapa belum juga bangun?” kata Sian Eng.

“Mari kita lihat, agak aneh sikap mereka.” kata Bu Sin.

Ketiganya berlari mendekat dan tak lama kemudian mereka bertiga berdiri dengan muka pucat dan bengong. Kiranya enam orang itu sudah tak bernyawa lagi dan kepala mereka, tepat di ubun-ubun, semua telah bolong sehingga tampak otaknya! Tahulah mereka bertiga sekarang bahwa yang menjerit-jerit malam tadi adalah mereka inilah, jerit ketakutan dan kengerian.

“Ahhhhh....!”

Sian Eng menutupi mukanya, perutnya tiba-tiba terasa mual dan ingin muntah. Lin Lin cepat merangkulnya.

“Tenang, Cici.” Akan tetapi dia sendiri gemetar dan kaki tangannya menjadi dingin.

“Mari kita pergi,” ajak Bu Sin, juga pemuda ini suaranya gemetar.

“Nanti dulu Sin-ko. Tak mungkin kita meninggalkan begitu saja enam mayat ini. Mereka tentu akan dirobek-robek binatang buas.”

“Habis kau mau apa?”

“Kita kubur dulu mereka. Lupakah kepada pesan Ayah bahwa melihat orang kesusahan harus menolong, terhadap orang tua harus menghormat, terhadap anak-anak harus melindungi, dan melihat mayat tak terurus harus menguburnya?”

Seketika wajah Bu Sin menjadi merah.
“Terima kasih, Lin-moi. Hampir saja aku lupa akan pesan Ayah karena ngeri dan seram. Mari!”

Sekarang Sian Eng telah dapat menguatkan hatinya dan tiga orang muda ini lalu menggunakan pedang mereka untuk menggali lubang yang cukup besar untuk mengubur enam orang itu.

Karena Lin Lin dan Sian Eng merasa enggan mengangkat mayat-mayat lelaki itu, Bu Sin yang turun tangan dan mengangkat mayat-mayat itu seorang demi seorang, dimasukkan ke dalam kuburan bertumpuk, lalu mereka bertiga menguruk lubang itu dengan tanah.

Hari telah siang ketika mereka selesai melakukan tugas ini dan cepat-cepat mereka meninggalkan tempat hutan besar itu, menuju ke arah munculnya matahari. Lega hati mereka bahwa mereka tidak menemui gangguan di jalan sampai mereka keluar dari hutan dan melalui dusun-dusun.

**** 016 ****





Tidak ada komentar:

Posting Komentar