FB

FB

Ads

Rabu, 08 Juli 2015

Suling Emas & Naga Siluman Jilid 056

Yu Hwi tidak dapat berkata-kata, mukanya merah sekali dan jantungnya berdebar-debar, ketika dia melihat betapa paman gurunya itu berjongkok dan memasangkan sepatu kirinya. Lebih berdebar lagi rasa jantungnya ketika dia melihat betapa jari-jari tangan yang kokoh kuat dari pendekar yang lihai itu gemetar tidak karuan ketika membantunya memakai kembali sepatunya!

Mereka lalu duduk berhadapan di atas rumput hijau, bercakap-cakap dengan mesranya. Seperti biasa, dalam pertemuan dan percakapan ini, Cu Kang Bu memberi petunjuk-petunjuk dalam hal ilmu silat kepada Yu Hwi, sikapnya amat ramah dan juga mesra, jelas sekali nampak betapa pria muda itu “ada hati” terhadap murid keponakan yang manis itu!

Dan diam-diam Yu Hwi juga harus mengakui bahwa dia amat tertarik kepada pemuda ini, seorang pria yang jantan, matang, pendiam, jujur dan tidak pernah berpura-pura, sikapnya terbuka dan Ilmu kepandaiannya amat luar biasa. Pria seperti ini dapat dibandingkan dengan Pendekar Siluman Kecil sekalipun!

Tanpa mereka sadari, dari tempat yang agak jauh, sepasang mata yang bening memandang ke arah mereka, dan kemudian sepasang mata itu nampak tidak senang, kemudian lenyap. Tiba-tiba Yu Hwi berkata, suaranya halus dan lembut, agak mengandung kemanjaan seorang wanita yang yakin bahwa dirinya dicinta.

“Sam-Susiok....”

“Eh, mengapa? Mengapa tidak kau lanjutkan bicaramu?”

Kang Bu bertanya sambil memandang heran, melihat betapa dara itu memanggilnya kemudian menunduk, dan kelihatannya seperti ragu-ragu dan bimbang.

“Aku hendak bertanya sesuatu, akan tetapi takut Susiok marah.”

Kang Bu tertawa, ketawanya bebas lepas.
“Ha-ha-ha-ha, engkau aneh sekali, Yu Hwi. Pernahkah aku marah kepadamu? Dan pula, kenapa aku harus marah?”






Yu Hwi mengingat-ingat dan memang belum pernah susioknya ini marah. Semenjak dia diperkenalkan kepada para penghui Lembah Suling Emas, dia merasa amat takut kepada toa-susioknya, yaitu Cu Han Bu, yang sikapnya pendiam, serius dan kelihatan galak. Juga dia tidak pernah bicara dengan ji-susioknya, yaitu Cu Seng Bu yang juga pendiam. Hanya kepada sam-susiok ini saja dia merasa suka dan cocok, dan susioknya ini selain amat ramah dan baik, juga usianya tidak banyak selisihnya dengan dia. Susioknya ini paling banyak berusia tiga puluh empat tahun. Apalagi semenjak diperkenalkan, dari sinar mata sam-susioknya ini dia tahu bahwa pendekar gagah ini tertarik dan sayang kepadanya. Naluri kewanitaannya amat tajam dan tentu saja dia dapat menangkap hal ini.

“Tapi aku khawatir kalau-kalau engkau marah mendengar pertanyaanku ini, Sam-susiok.”

“Ha-ha, kalau aku marah, biarlah engkau hitung-hitung mengalami satu kali mendapat marah dariku!” Pendekar itu lalu memandang dengan matanya yang lebar dan mencorong. “Yu Hwi, katakanlah, apa yang akan kau tanyakan kepadaku?”

“Sam-susiok.... aku ingin sekali tahu lebih banyak tentang keluargamu, keluarga Suling Emas yang amat sakti itu. Kulihat Toa-susiok sudah menduda, padahal dia belum tua benar, dan Pek In semenjak kecil tidak beribu. Kenapa Toa-susiok tidak pernah menikah lagi, Susiok? Dan juga Ji-susiok tidak pernah menikah....”

“Ah, engkau tidak tahu, Yu Hwi. Twako kematian isterinya yang sangat dicintainya dan dia tidak berani menikah lagi, tidak melihat adanya wanita yang dapat menggantikan isterinya, apalagi setelah melihat betapa mendiang Twako Cu San Bu suami Subomu itu menderita karena ulah isterinya. Maka dia tidak percaya lagi kepada wanita dan memilih tidak kawin lagi selamanya. Adapun Ji-ko Cu Seng Bu, dia.... dia itu mempunyai penyakit sejak kecil, penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan kalau dia menikah, maka penyakit itu akan membahayakan nyawanya. Selain itu, dia melihat kehidupan yang sengsara dari mendiang Twako Cu San Bu dan Cu Han Bu sehingga dia merasa ngeri untuk menikah.”

“Akan tetapi, keluarga Cu belum memiliki keturunan seorang laki-laki “

Cu Kang Bu menghela napas panjang.
“Memang hal itu kadang-kadang menggelisahkan kami. Akan tetapi semenjak datang Sim Hong Bu, hati kami terhibur. Anak itu baik sekali, dan memiliki bakat yang amat besar. Dia telah dipilih oleh mendiang Toapek, dan ternyata dia dapat mewarisi ilmu kami dengan baik. Biarlah dia yang menjadi murid dan juga keturunan kami, siapa tahu dia kelak akan dapat menjadi suami Pek In seperti yang telah direncanakan dan diharapkan oleh Twako Han Bu....“

“Ah, apakah di antara Sumoi dan Sute itu ada pertalian cinta....?”

Yang ditanya menggeleng kepada.
“Mereka itu masih terlalu muda kiraku untuk itu, akan tetapi hubungan di antara mereka cukup baik. Kau tahu, murid kami Hong Bu itu memang hebat sekali. Dia bahkan sudah berhasil, atau hampir berhasil melatih ilmu yang ditinggalkan oleh Ouwyang-toapek, ilmu yang amat sukar dan mujijat itu....“

“Koai-liong Kiam-sut?”

Yang ditanya mengangguk dan sejenak mereka diam.

“Sam-susiok “

“Ya....?”

“Bagaimana dengan kau sendiri?”

“Aku mengapa?”

“Maksudku.... eh, apakah engkau juga seperti Ji-susiok yang merasa ngeri menghadapi pernikahan dan menganggap tidak ada wanita yang patut menjadi.... eh, jodohmu?”

Pertanyaan itu membuat wajah pendekar tinggi besar itu menjadi merah.
“Aku.... eh, aku tidak pernah.... aku belum memikirkan soal jodoh....“ jawabnya gagap.

Pendekar sakti yang menghadapi ancaman maut apapun juga akan bersikap tenang ini, menghadapi pertanyaan tentang jodoh itu menjadi gugup. Sungguh hebat!

“Ah, Sam-susiok, kenapa?”

“Aku.... eh, kurasa belum waktunya bagiku untuk memikirkan jodoh.

“Belum waktunya? Menurut dugaanku, Sam-susiok tentu sudah berusia tidak kurang dari tiga puluh tiga tahun sekarang....”

“Sudah tiga puluh lima.”

“Nah, kenapa masih belum waktunya? Apakah engkau tidak hendak menikah kalau sudah berusia setengah abad?”

“Ha, bukan begitu, Yu Hwi, akan tetapi.... selama ini memang belum ada seorang gadis yang cocok untukku.... dan sekarang.... setelah ada yang cocok, hemm.... aku mungkin sudah terlalu tua untuknya.”

Yu Hwi adalah seorang dara yang sudah matang, maka tentu saja dia dapat menduga kemana tujuan percakapan itu dan siapa yang dikatakannya tidak cocok itu. Dengan sikap tidak tahu dan manja dia bertanya.

“Siapakah dara itu, Susiok? Mengapa mengatakan terlalu tua! Aihh, coba dengar ini kakek-kakek yang berusia seabad mengeluh....“ Dia menggoda.

Kang Bu tidak pandai bicara, akan tetapi sekali ini dia bercakap-cakap sampai sedemikian banyaknya dengan Yu Hwi, sungguh membuat dia sendiri merasa terheran. Mendengar godaan itu dia tersenyum, akan tetapi segera memandang tajam kepada Yu Hwi dan memegang tangan dara itu.

Sekali ini Yu Hwi terkejut, tidak dibuat-buat karena tak disangka-sangkanya bahwa pemuda itu akan memegang tangannya dan dia merasa betapa jari-jari tangan yang amat kuat itu menggenggam tangannya dan ada terasa getaran olehnya, getaran hangat dan mesra yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan.

“Yu Hwi, katakanlah, engkau pun seorang dara yang usianya sudah cukup dewasa, kenapa sampai sekarang engkau belum juga menikah?”

“Aku.... aku sudah ditunangkan dengan orang, Susiok!”

“Ah....!”

Tiba-tiba Kang Bu menarik kembali tangannya seolah-olah dia telah memegang bara api, wajahnya pucat dan matanya terbelalak memandang kepada wajah dara itu.

“Maafkan aku.... ah, mafkan aku....“ katanya gagap. “Sungguh aku lancang.... nah, habislah harapan Cu Kang Bu!”

“Susiok, aku.... aku ditunangkan di luar kehendakku, di waktu aku masih kecil, dan karena itulah aku pergi minggat dari rumah Kakekku, tidak mau kembali lagi ke sana. Aku tidak sudi dipaksa berjodoh dengan orang bukan pilihanku sendiri.

“Aku telah membebaskan diri, yang menyatakan pertunangan itu adalah orang-orang tua, sedangkan aku tidak merasa terikat jodoh dengan siapapun juga!”

Kata-kata yang tegas ini seolah-olah mengembalikan darah ke muka Kang Bu. Dia memandang dengan sinar mata mencorong, kemudian dia memegang lagi tangan Yu Hwi, harapannya pulih kembali.

“Benarkah itu, Yu Hwi?”

“Aku bersumpah bahwa apa yang kukatakan itu setulusnya dari hatiku, Susiok.”

“Kalau begitu biarlah aku berterus terang. Aku.... aku telah menemukan wanita yang cocok dengan hatiku itu, Yu Hwi, dan wanita itu adalah engkau. Aku cinta padamu!”

Bukan main bahagia rasa hati Yu Hwi. Dia balas memegang tangan pemuda itu dan memandang dengan wajah berseri, dan senyum malu-malu. Dari pandangan matanya saja, sudah jelas terlukislah bahwa dia menerima cinta kasih pemuda itu dan bahwa pemuda itu tidak bertepuk tangan sebelah.

“Yu Hwiii....!”

Tiba-tiba terdengar suara panggilan, subonya. Yu Hwi terkejut dan melepaskan tangannya.

“Sam-susiok, Subo memanggilku. Sampai jumpa nanti.... ah, aku bahagia sekali, Susiok!”

Dan dara itu lalu meloncat dan berlari-lari meninggalkan Kang Bu menuju ke pondok subonya, diikuti pandangan Kang Bu yang tersenyum dengan hati penuh kebahagiaan.

Ketika ia duduk berhadapan dengan subonya, Yu Hwi dapat menduga bahwa tentu telah terjadi sesuatu karena sikap subonya tidak seperti biasa. Subonya kelihatan berwajah muram, bahkan seperti orang marah ketika memandang wajahnya.

“Yu Hwi, engkau jangan main-main dengan keluarga Lembah Suling Emas.” begitu dia berhadapan dengan Subonya, dia mendengar kata-kata yang aneh-aneh dan mengejutkan ini.

“Subo, apa maksud Subo dengan kata-kata itu?” tanyanya sambil memandang wajah gurunya dengan heran dan penuh selidik.

Sepasang mata subonya yang biasanya jeli dan cemerlang itu kini nampak agak muram dan terbayang kemarahan.

“Engkau saling mencinta dengan Kang Bu, bukan?”

Yu Hwi tidak merasa terkejut karena dia tahu bahwa subonya adalah seorang yang berkepandaian tinggi, maka tentu sudah dapat menduga tentang hubungannya yang mesra dengan Kang Bu. Maka dia tidak mau banyak menyangkal, melainkan mengangguk.

“Hemm, apakah engkau akan mengulangi pengalamanku yang pahit? Engkau jatuh cinta, kemudian menjadi isteri Kang Bu, berarti menjadi keluarga Lembah Suling Emas dan hidup terkurung di situ, seperti seekor burung dalam sangkar, tidak boleh keluar, tidak boleh berhubungan dengan dunia luar sampai engkau tua dan mati di situ!”

“Eh, Subo! Apa artinya ini? Teecu tidak mengerti....”

“Tidak ingatkah engkau kepada apa yang kualami di lembah itu? Aku menjadi isteri mendiang Cu San Bu, kakak tertua mereka, dan aku hidup seperti boneka di dalam lembah itu, tidak pernah keluar, dan tidak diperbolehkan berhubungan dengan dunia luar. Siapa kuat? Siapa dapat bertahan? Maka ketika datang tamu yang menarik dan amat ramah, aku mudah tertarik, salah siapa? Dan kau ingat lagi Ibunya Pek In! Mana mungkin dia dapat tahan hidup seperti burung dalam sangkar? Keluarga Cu itu adalah keluarga iblis! Mereka mau hidup enak sendiri, mau merahasiakan tempat mereka dan segala sesuatu yang berhubungan dengan keluarga mereka. Mereka menganggap keluarga mereka sebagai keluarga langit, tidak boleh dikotori dengan hubungan bersama manusia lain di luar lembah. Dan engkau mau membiarkan dirimu tersesat ke dalam neraka itu?”

“Ahhh....!” Yu Hwi benar-benar terkejut bukan main mendengar ini.