FB

FB

Ads

Minggu, 26 Juli 2015

Suling Emas & Naga Siluman Jilid 081

Di lain pihak, Syanti Dewi sendiri amat suka kepada pangeran yang biarpun usianya lebih muda namun telah memilliki pandangan tentang filsafat dan hidup, dengan amat luasnya. Juga pangeran ini berbeda dengan semua pria yang mendekatinya. Semua pria, tua atau muda, yang mendekatinya, selalu memandang kepadanya dengan mata terpesona dan penuh kagum akan kecantikannya, dan di balik pandang mata itu terdapat nafsu berahi yang bernyala-nyala, akan tetapi kekaguman yang terpancar keluar dari pandang mata pangeran ini bersih, kekaguman yang wajar seperti orang mengagumi setangkai bunga mawar atau mengagumi langit di waktu matahari terbenam.

Oleh karena itu, biarpun usia mereka berselisih sepuluh tahun, keduanya dapat bersahabat dengan baiknya dan saling merasa akrab, sama sekali tidak canggung.

Ketika menerima undangan pesta ulang tahun Syanti Dewi, Pangeran Kian Liong gembira sekali dan dia sudah mengambil keputusan untuk berangkat dan seperti biasa dia bermaksud untuk melakukan perjalanan sendirian saja dengan menyamar. Akan tetapi ketika pengawalnya yang setia, yaitu komandan Pengawal Pasukan Garuda, mendengar akan niat pangeran yang amat dibelanya itu, dia cepat datang menghadap.

Komandan yang sudah lima puluh tahun lebih ini bernama Souw Kee An, seorang komandan tua pasukan pengawal yang terkenal itu, dan dahulu dia pernah menjadi pengawal yang setia dari Pangeran Yung Hwa sebelum pangeran itu dinaikkan pangkat atau dilempar sebagai gubernur di barat. Karena tahu akan kesetiaan Souw Kee An, maka Pangeran Yung Hwa lalu menugaskan untuk menjadi pengawal dari pangeran mahkota, yaitu Pangeran Kian Liong.

“Harap sekali ini Paduka sudi mendengarkan nasihat saya dan tidak melakukan perjalanan tanpa dikawal. Saya mendengar banyak desas-desus yang tidak baik dan juga berbahaya bagi keselamatan Paduka, Pangeran.” demikian komandan tua itu membujuk.

“Ah, Souw-ciangkun, sudah beberapa tahun ini aku seringkali pergi merantau sendirian dan menyamar sebagai orang biasa ternyata tidak terjadi hal-hal yang tidak baik dan sampai sekarang aku masih hidup dan selamat.” kata Pangeran itu sambil tersenyum.

Souw Kee An menarik napas panjang dan menggeleng kepalanya.
“Akan tetapi berapa kali Paduka terancam bahaya maut dan kalau tidak ada malaikat pelindung berupa orang-orang sakti yang kebetulan melihat Paduka terancam lalu melindungi, apakah tidak berbahaya sekali? Dan pula, sekarang Paduka menerima undangan acara resmi, apa salahnya kalau Paduka juga datang secara resmi sebagai seorang Pangeran pula?”






Setelah dibujuk-buruk dan Souw Kee An menceritakan betapa akan banyaknya hadir tokoh-tokoh kang-ouw, baik dari golongan bersih maupun dari kaum sesat di Kim-coa-to, dan bahwa menurut desas-desus yang didengarnya ulang tahun itu dipergunakan pula untuk memilih suami dan akan dipertandingkan ilmu silat sehingga tentu akan terjadi keributan, akhirnya Pangeran Kian Liong setuju juga untuk pergi dengan dikawal oleh Souw Kee An sendiri bersama dua puluh orang Pasukan Garuda. Souw Kee An lalu memilih anggauta-anggauta yang memiliki kepandaian cukup, dan berangkatlah pangeran setelah mendapat persetujuan kaisar, pergi ke Kim-coa-to.

Demikianlah, karena hari telah mulai gelap, rombongan Pangeran Kian Liong terpaksa berhenti di Tung-king. Souw-ciangkun mengatur penjagaan yang ketat karena dia maklum bahwa semakin dekat mereka tiba di tempat tujuan, semakin gawatlah keadaan dan dia percaya bahwa pada waktu itu tentu banyak terdapat orang-orang kang-ouw di kota Tung-king itu. Dan dugaannya itu memang tidak meleset kalau kita ingat betapa tak jauh dari tempat bermalam Pangeran, di rumah makan kecil di sudut kota itu telah terjadi pertemuan-pertemuan antara tiga orang gagah yang diam-diam melakukan perlindungan pula terhadap keselamatan Pangeran Kian Liong. Souw Kee An sendiri pun maklum akan gerakan diam-diam yang dilakukan oleh Sam-thaihouw, dan justru karena itulah dia membujuk Pangeran agar melakukan perjalanan dengan terkawal.

Dan pengawalan Pasukan Garuda yang ketat itu memang ternyata ada hasilnya. Buktinya, sampai tiba di Tung-king, belum pernah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seolah-olah fihak yang mempunyai niat buruk terhadap Pangeran merasa jerih dengan adanya pengawalan pasukan yang terkenal kuat itu. Akan tetapi ternyata hal itu hanya sementara saja dan fihak lawan itu memang ada dan sedang menanti saat baik!

Untuk melihat siapa adanya fihak lawan itu marilah kita mengikuti mereka semenjak dari sebuah kamar rahasia di gedung peristirahatan Sam-thaihouw! Di dalam kamar rahasia itu, sebelum Sang Pangeran berangkat, Sam-thaihouw mengadakan pertemuan untuk kesekian kalinya dengan Toa-ok, yaitu tokoh pertama dari Im-kan Ngo-ok yang telah menjadi kaki tangannya. Selain Toa-ok di situ hadir pula empat orang wanita cantik yang bukan lain adalah Su-bi Mo-li yang memang bekerja sebagai pengawal pribadi Sam-thaihouw dan seperti kita ketahui, Su-bi Mo-li adalah murid-murid terkasih dari Im-kan Ngo-ok dan empat orang wanita ini pernah menculik Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong akan tetapi usaha mereka itu gagal karena percampuran tangan Ci Sian.

“Maaf, Thaihouw, akan tetapi mengapa tidak mengambil jalan yang mudah saja dan membunuh Pangeran itu?”

Dengan sikapnya yang halus, sopan dan ramah Toa-ok berkata kepada nenek yang berpakaian indah itu. Itulah Sam-thaihouw, seorang nenek yang usianya sudah hampir tujuh puluh tahun akan tetapi pakaiannya masih mewah sekali dan mukanya juga dibedaki tebal, alisnya sudah habis akan tetapi sebagai gantinya dibuatlah coretan alis hitam kecil dan panjang melengkung!

Im-kan Ngo-ok adalah orang-orang yang terkenal sebagai datuk kaum sesat dan tentu saja Sam-thaihouw tidak sudi berhubungan langsung dengan orang-orang seperti Ji-ok, Su-ok atau Ngo-ok, maka yang dapat mewakili mereka hanyalah Toa-ok yang sopan dan halus sungguhpun mukanya mengerikan seperti gorila. Sebetulnya Sam-ok seoranglah yang pandai bersikap menghadapi orang besar, akan tetapi karena Sam-ok adalah seorang bekas Koksu Nepal, yaitu seorang musuh, maka tidak leluasalah bagi Sam-ok untuk bergerak di tempat terbuka, apalagi di kota raja. Oleh karena itu, setiap kali Sam-thaihouw hendak mengadakan perundingan dengan para pembantunya yang istimewa ini, yang telah banyak sekali menerima emas dan permata darinya, selalu Toa-ok yang mewakili, disamping empat orang Su-bi Mo-li yang memang sudah biasa berada di dalam gedung Ibu Suri ini.

“Aih, Lo-enghiong!” Ibu Suri itu selalu menyebut Lo-enghiong (Orang Tua Gagah) kepada Toa-ok, seolah-olah kakek itu adalah seorang pendekar yang sedang membantu “perjuangannya”.

“Enak saja kau bicara! Apakah engkau tidak tahu siapa Pangeran Kian Liong? Kalau engkau melakukan hal itu, tentu engkau akan dimusuhi oleh para pendekar sedunia, kerajaan menjadi geger dan juga Kaisar tentu akan marah kepadaku. Tidak, bukan pembunuhan yang kumaksudkan!”

“Akan tetapi Paduka tadi mengusulkan agar kami menghancurkan Pangeran....“

“Menghancurkan namanya, kedudukannya, pengaruhnya, bukan orangnya! Sekali namanya rusak, setelah rakyat melihat bahwa dia adalah seorang pangeran yang melakukan hal-hal buruk, nah, namanya tentu akan dikutuk dan dicela orang, dan akan lebih mudah untuk memindahkan kedudukan pangeran mahkota kepada yang lain. Mengertikah engkau akan maksudku?”

Bukan orang pertama dari Im-kan Ngo-ok namanya kalau rencana keji sekecil itu saja tidak dimengerti. Dia mengangguk-angguk.

“Harap Paduka tenangkan hati. Pekerjaan itu amat mudah dan sudah pasti kami dapat melakukannya dengan baik. Paduka tunggu saja, sebelum dia kembali dari Kim-coa-to, Pangeran Kian Liong telah berubah dari seorang pangeran yang disanjung dan dipuji menjadi pangeran yang dikutuk dan dicela, baik oleh rakyat maupun para pejabat.”

“Bagus, hadiahmu akan besar sekali, Toa-ok!” kata nenek itu, saking girangnya lupa menyebut Lo-enghiong, akan tetapi hal ini malah menggirangkan Toa-ok yang sesungguhnya tidak suka disebut enghiong-enghiongan segala.

“Harap Paduka tidak melupakan apa yang mendorong Im-kan Ngo-ok suka membantu Paduka dengan taruhan nyawa.” Dia memperingatkan dengan suara halus.

“Ah-he-he-he, tentu saja kami tidak lupa, Lo-enghiong. Kalau berhasil kelak, dan Kaisar berada dalam kekuasaan kami, sudah tentu kami akan mengajukan usul agar kalian berlima diangkat menjadi orang-orang yang berkedudukan tinggi di kota raja!”

Toa-ok merasa puas dengan janji ini, maka dia pun lalu mohon diri dan pergi meninggalkan kamar rahasia itu bersama dengan empat orang muridnya, yaitu Su-bi Mo-li yang akan membantunya melaksanakan rencana yang akan diatur oleh Im-kan Ngo-ok sendiri.

Karena Sam-thaihouw melarang mereka menggunakan tangan maut membunuh pangeran, maka harus diambil tindakan yang cerdik untuk menghancurkan nama baik pangeran itu dan dengan kerja sama Im-kan Ngo-ok dengan empat orang murid mereka yang lihai dan cerdik, dibantu pula oleh anak buah mereka, Toa-ok merasa yakin bahwa rencana itu sudah pasti akan berhasil.

**** 081 ****