FB

FB

Ads

Minggu, 26 Juli 2015

Suling Emas & Naga Siluman Jilid 082

Pangeran Kian Liong sama sekali tidak pernah mengira bahwa perjalanannya menuju ke Kim-coa-to itu sebetulnya selalu dibayang-bayangi banyak orang, baik pihak para pendekar yang diam-diam melindungi maupun pihak lawan yang mencari kesempatan untuk menyeretnya ke dalam lumpur.

Oleh karena itu, dengan wajah berseri gembira pada hari berikutnya, Pangeran Kian Liong meninggalkan rumah gedung pembesar Tung-king, diantar oleh pembesar itu sampai keluar pintu gerbang, menunggang kereta dan dikawal oleh Souw Kee An dan dua puluh orang pengawalnya. Karena Pangeran Kian Liong paling tidak suka disanjung-sanjung dan disambut oleh rakyat di sepanjang perjalanan sebagai seorang pangeran yang harus dihormati, maka dia pun lalu menutup pintu dan tirai kereta dan duduk sambil bersandar di bangku kereta.

Berbeda kalau dia melakukan perjalanan dengan menyamar sebagai orang biasa, dia dapat menikmati pemandangan alam dan pergaulan dengan rakyat tanpa ada yang menyanjung-nyanjung dan menjilat-jilat palsu. Begitu dia mengenakan pakaian pangeran, maka pangeran muda ini segera merasakan betapa kehidupan menjadi berbeda sama sekali. Segala di sekelilingnya menjadi tidak wajar dan penuh kepalsuan, membuatnya merasa muak. Berbeda kalau dia berpakaian biasa dan tiada seorang pun tahu bahwa dia pangeran mahkota, maka semua orang bersikap wajar kepadanya, kalau tersenyum ya senyum setulusnya, kalau tidak senang ya tidak disembunyi-sembunyikan. Begitu dia menjadi pangeran, semua wajah baginya seolah-olah menjadi semacam kedok atau boneka. Setelah kereta itu meninggalkan jalan raya yang dilalui banyak orang dan melalui lembah yang sunyi, barulah pangeran itu membuka jendela dan tirai kereta dan menikmati keindahan alam di sekelilingnya. Bahkan dia menyuruh kusir memperlambat jalannya kereta agar dia dapat menikmati pemandangan lebih baik lagi.

Akhirnya rombongan itu tiba di dalam hutan dekat pantai, di lembah muara sungai Huai. Sebuah hutan yang sunyi dan tenang.

“Aih, sejuk sekali di sini!” kata pangeran itu lalu membuka semua jendela kereta agar dia dapat lebih banyak menikmati hawa yang sejuk dengan bau daun-daun segar dan rumput hijau setelah tadi mereka melalui dataran terbuka yang panas.

Matahari telah naik tinggi dan matahari berada di atas kepala, akan tetapi karena daun-daun pohon di hutan itu rimbun sekali, seolah-olah menjadi payung-payung hijau raksasa yang melindungi pangeran dari sengatan terik matahari siang itu.

Tiba-tiba terdengar seekor kuda yang berada di depan kiri meringkik, meronta lalu kuda itu roboh. Semua pengawal sibuk dan terkejut melihat kuda itu roboh karena dadanya tertancap anak panah secara dalam sekali, mungkin menembus jantungnya.

“Kepung kereta!”

“Lindungi Pangeran!” teriak Souw Kee An dan dia cepat mengatur pasukannya untuk mengepung dan menjaga kereta.






Pangeran itu duduk tenang-tenang saja tanpa menutupkan jendela-jendela keretanya, menoleh ke kanan kiri untuk melihat siapa orangnya yang telah memanah mati seekor diantara empat ekor kuda yang menarik keretanya.

Gerakan mereka itu seperti bayang-bayang setan saja, tidak banyak menimbulkan suara, tanda bahwa mereka itu rata-rata memiliki gin-kang yang cukup tinggi. Mereka itu terdiri dari dua puluhan orang, semua memakai pakaian serba hitam dan kedua mata serta sebagian atas hidung mereka tertutup kedok hitam pula, menyembunyikan bentuk wajah aseli mereka. Akan tetapi Souw-ciangkun dapat menduga bahwa beberapa orang di antara mereka adalah wanita-wanita. Dan seorang di antara mereka, dengan suara wanita melengking tinggi, membentak,

“Tinggalkan kereta dan barang-barang kalau kalian ingin selamat!”

Ini adalah bentakan biasa yang umumnya dipergunakan oleh para perampok-perampok. Orang-orang berkedok ini ternyata adalah perampok-perampok, atau mungkin juga orang-orang yang menyamar pikir Souw Kee An yang cerdik dan sudah berpengalaman. Maka dia bersikap hati-hati sekali.

“Sobat, bukalah matamu baik-baik!” teriaknya nyaring. “Kami adalah Pasukan Pengawal Garuda yang sedang mengiringkan Yang Mulia Pangeran Mahkota! Harap kalian menyingkir dan jangan mengganggu kami yang sedang bertugas!”

Teriakan ini diucapkan Souw-ciangkun bukan karena dia takut menghadapi mereka, hanya dia tidak ingin terlibat dalam pertempuran selagi pengawal dan menjaga keselamatan pangeran.

Akan tetapi wanita berkedok itu berseru nyaring,
”Pangeran atau Raja atau siapa saja harus membayar pajak jalan kalau lewat di sini! Kawan-kawan, hayo tangkap pangeran itu untuk minta uang tebusan!”

Melihat lagak para perampok yang dipimpin oleh wanita itu dan mendengar betapa mereka hendak menangkap seorang pangeran mahkota untuk minta uang tebusan, tiba-tiba pangeran itu tidak dapat menahan ketawanya. Keadaan itu dianggapnya amat lucunya.

“Ha-ha-ha-ha! Kalian bukan saja menyaingi pemerintah memungut pajak jalan, bahkan akan menawan pangeran untuk dijadikan sandera guna memeras uang tebusan. Ha-ha-ha, bukan main!”

Semua perampok berkedok itu sejenak tertegun menyaksikan sikap pangeran itu. Seorang pangeran muda yang berwajah tampan dan memiliki sepasang mata yang amat tajam penuh wibawa, dengan suara ketawa wajar dan ramah, bukan dibuat-buat, dengan sikap yang benar-benar mencengangkan karena mereka menduga bahwa tentu pangeran itu ketakutan! Ternyata pangeran itu sama sekali tidak takut bahkan tertawa geli.

“Serbu....!”

Wanita berkedok itu berteriak nyaring memecahkan keheranan para anggauta perampok dan mereka pun menerjang ke depan, disambut oleh pasukan pengawal yang sudah turun dari masing-masing kudanya dan menjaga di sekeliling kereta itu. Para pengawal ini merupakan pasukan pilihan, masing-masing memiliki ilmu silat yang cukup tinggi, maka dengan gagah mereka menyambut serbuan para perampok itu, dengan keyakinan bahwa dalam waktu singkat saja mereka akan mampu membasmi para perampok itu.

Akan tetapi alangkah kaget hati mereka ketika mereka mendapat kenyataan bahwa para perampok itu ternyata bukanlah perampok-perampok biasa karena rata-rata mereka memiliki ilmu silat yang tangguh dan mampu menandingi mereka!

Souw Kee An juga terkejut bukan main ketika dia menandingi wanita berkedok yang memimpin gerombolan itu. Wanita itu mempergunakan pedangnya secara hebat sekali, sama sekali tidak pantas menjadi perampok kasar biasa! Memang Souw Kee An sudah curiga dan menduga bahwa perampok-perampok yang tidak gentar mendengar nama Pasukan Pengawal Garuda dan berani merampok bahkan hendak menculik pangeran mahkota tentulah bukan perampok biasa, melainkan orang-orang yang menyamar sebagai perampok biasa! Maka dia pun memutar pedangnya dan melawan wanita berkedok itu.

Akan tetapi hatinya mulai gelisah melihat betapa di antara para perampok itu terdapat wanita-wanita yang amat lihai dan anak buahnya mulai terdesak hebat, bahkan ada pula yang sudah terluka. Dia tidak mengkhawatirkan dirinya sendiri, melainkan mengkhawatirkan keselamatan pangeran mahkota, maka dia pun cepat meninggalkan lawan untuk meloncat ke dekat kereta, guna melindungi pangeran sampai titik darah terakhir kalau perlu.

“Pangeran, harap sembunyi di dalam kereta, tutup pintu dan jendelanya!” teriak Souw Kee An sambil memutar pedang melindungi.

Akan tetapi pangeran itu hanya tersenyum dan menonton mereka yang sedang berkelahi, seolah-olah semua pertempuran itu baginya hanya merupakan perang-perangan saja! Hal ini bukan sekali-kali menjadi tanda bahwa pangeran itu tolol atau ceroboh, sama sekali bukan, melainkan karena dia tahu bahwa bersembunyi di dalam kereta pun tiada gunanya. Kalau memang semestinya dia menghadapi bahaya, atau tewas sekalipun, biarlah dia menyaksikan terjadinya hal itu dengan mata terbuka! Dan pangeran ini pun tahu bahwa tidak ada orang yang akan membunuhnya. Tidak ada alasannya untuk hal itu. Mungkin mereka itu hanya ingin menawannya, dan mungkin perampok-perampok gila itu benar-benar hendak menggunakannya sebagai sandera untuk minta uang tebusan! Betapa lucu dan aneh, juga menarik menegangkan hatinya!

Akan tetapi kini dua di antara para wanita tangguh itu telah berada dekat kereta dan mendesak Souw Kee An dan dua orang anak buahnya yang menjaga kereta. Keadaan menjadl kritis dan berbahaya sekali! Tiba-tiba, setelah menangkis pedang Souw Kee An dan membuat komandan itu terhuyung, seorang di antara wanita-wanita itu sudah meloncat ke atas kereta dan tangan kirinya bergerak menyambar hendak menangkap Pangeran Kian Liong.

“Wuuut, plakkk....!”

Tiba-tiba di atas kereta itu nampak seorang pria tinggi besar bermata satu yang melayang turun dari pohon dan menangkis tangan wanita itu. Wanita itu terkejut, akan tetapi pria tinggi besar itu sudah menyerangnya dengan sebatang golok tipis. Terpaksa wanita itu menangkis dan terjadilah pertandingan yang amat seru di atas kereta. Pangeran Kian Llong dengan mata terbelalak dan wajah berseri menjulurkan kepalanya dari jendela untuk dapat menyaksikan pertandingan baru di atas keretanya itu.

Kereta itu bergerak-gerak. Sungguh luar biasa sekali. pangeran ini. Nyalinya amat besar dan dia sedikit pun tidak merasa takut, bahkan dalam keadaan yang demikian mengancam dia masih mampu untuk tersenyum gembira seperti seorang anak kecil melihat tontonan yang menarik!

Pertempuran di bawah kereta juga mengalami perobahan dengan munculnya dua orang laki-laki yang bukan lain adalah tokoh-tokoh Siauw-lim-pai, yaitu kakak beradik Ciong Tek dan Ciong Lun yang mengamuk, membantu pasukan pengawal tanpa mengeluarkan kata-kata apa pun. Mereka berdua menggunakan senjata toya (tongkat) dan memainkan ilmu toya dari Siauw-lim-pai yang memang terkenal tangguh itu.

Keadaan pertempuran menjadi berubah dan para anak buah pasukan pengawal memperoleh semangat mereka kembali, mereka mengamuk dan kini mendesak para perampok. Sedangkan pertempuran antara Tok-gan Sin-ciang Liong Bouw dan wanita berkedok di atas kereta pun berlangsung dengan amat serunya. Ternyata wanita itu memang tangguh sekali sehingga dia dapat mengimbangi permainan golok dari kakek mata satu itu. Hanya dorongan-dorongan tangan kiri kakek itulah yang membuat wanita berkedok itu kewalahan, karena memang dari dorongan itu menyambar hawa pukulan yang amat kuat dan itulah sebabnya maka Si Mata Satu ini diberi julukan Tangan Sakti.

Kini ada beberapa orang perampok yang roboh terluka dan semangat para pengawal menjadi semakin besar dengan adanya bantuan tiga orang gagah yang tidak mereka kenal itu.

Selagi keadaan amat tidak menguntungkan untuk para perampok ini, tiba-tiba muncul seorang anggauta perampok lain yang juga berpakaian hitam dan memakai topeng. Perampok ini bertubuh tinggi besar seperti raksasa. Begitu perampok ini muncul, sekali meloncat dia sudah tiba di tengah-tengah pertempuran itu dan begitu kaki tangannya bergerak, ada tiga orang pengawal yang tepelanting. Hebat bukan main kepandaian kakek raksasa ini! Semua pengawal mencoba untuk mengeroyoknya, akan tetapi siapa yang berani datang dekat tentu akan terlempar lagi, hanya oleh tamparan tangan atau tendangan kaki sembarangan saja!

Melihat betapa hebatnya kakek ini, Ciong Tek dan Ciong Lun lalu meloncat dan menyerang kakek itu dari kanan kiri, menggunakan toya mereka yang dimainkan dengan dahsyatnya. Namun, melihat gerakan toya ini, kakek raksasa itu mengeluarkan suara mendengus dari hidungnya, seolah-olah memandang rendah, lalu kedua tangannya berusaha menangkap toya. Ketika dua saudara itu menarik toya agar tidak terampas, kakek itu menampar ke kanan kiri, gerakannya biasa saja akan tetapi dari tamparannya ini datang angin keras yang hebat. Dua orang saudara Ciong terkejut dan menangkis dengan hantaman toya sekuatnya. Dua batang toya bertemu dengan dua buah lengan.

“Dukk! Dukk!”

Akibatnya, kedua orang saudara Ciong itu terpelanting dan roboh bergulingan seperti daun kering tertiup angin! Kini kakek itu melayang ke atas kereta dan dengan sebuah tendangan saja, Tok-goan Sin-ciang Liong Bouw yang sedang bertanding dengan serunya melawan perampok wanita, telah terlempar dari atas kereta karena ketika dia menangkis dengan lengan kiri, tendangan itu memiliki tenaga yang membuat dia terlempar! Wanita itu sudah mengejar dan meloncat sambil membacokkan pedangnya.

“Cringgg!”

Untung bagi Liong Bouw bahwa ketika dia terjatuh tadi, dia berjungkir balik dan tidak terbanting jatuh telentang menggunakan pinggulnya menyentuh tanah terus bergulingan sehingga ketika wanita itu menyerangnya, dia mampu menggerakkan golok menangkis lalu melompat berdiri dan kembali dia menghadapi serangan wanita itu.

Hatinya gelisah sekali karena di pihak musuh muncul orang tinggi besar itu tidak turun lagi dari atas kereta. Mengapa? Karena tiba-tiba terdengar suara ketawa dan dari belakang kereta itu nampak seorang jembel mendaki sambil tertawa-tawa memandang kepada Si Tinggi Besar yang menjadi terkejut karena suara ketawa itu mengandung tenaga khi-kang yang menggetarkan jantungnya! Tahulah dia bahwa jembel yang mukanya brewokan dan rambutnya awut-awutan ini memiliki kepandaian hebat dan tentu hendak membela pangeran maka dia pun tidak membuang banyak waktu lagi, cepat dia mengirim hantaman dengan tangan kanan disusul tangan kiri. Terdengar suara angin bercuitan saking hebatnya pukulan kedua tangan itu.

“Heh-heh-heh, hebat juga engkau!” kata Si Jembel itu, mulutnya memuji akan tetapi dia tertawa saja dan kedua tangannya lalu menangkis sambil mengerahkan tenaga. Agaknya Si Jembel ini memang hendak mengukur tenaga orang.