FB

FB

Ads

Jumat, 03 Juli 2015

Suling Emas & Naga Siluman Jilid 033

Itu adalah pasukan-pasukan yang amat kuat dari Nepal! Pasukan itu bentrok dan bertempur dengan pasukan Tibet, memperebutkan daerah Lhagat dan akhirnya pasukan Tibet dipukul mundur dan Lhagat pun diduduki oleh pasukan Nepal yang memang bermaksud untuk terus menyerbu ke utara dan timur, tentu saja hendak menundukkan Tibet untuk terus menggempur Tiongkok. Menurut cerita para pengungsi, berkali-kali pihak tentara Tibet kena digempur dan menderita kekalahan, mundur dan dikejar musuh memasuki daerah Tibet.

Ketika Ci Sian mendengar betapa banyak orang-orang Tibet dan orang dari pedalaman telah ditawan oleh pasukan Nepal, apalagi mendengar keterangan bahwa Lauw-piauwsu yang dicari-carinya itu mungkin saja ikut tertawan, dia lalu melanjutkan perjalanan menuju ke Lhagat! Semua pengungsi memberi nasihat agar dia jangan mendekati Lhagat, apalagi seorang wanita muda cantik seperti dia. Namun, tentu saja Ci Sian tidak mempedulikan semua peringatan ini dan dengan cepat dia melakukan perjalanan menuju ke kota yang sudah diduduki musuh itu.

Setelah tiba dekat Lhagat, dia bertemu dengan serombongan pengungsi lagi yang membawa berita terakhir dari kota Lhagat. Dari mereka ini, dia mendengar berita yang lebih hangat, berita terakhir tentang apa yang terjadi di daerah itu. Kiranya, menurut penuturan para pengungsi ini yang terdiri dari orang-orang lelaki yang nampaknya kuat karena mereka adalah para pemuda Lhagat yang tadinya ikut pula mempertahankan kampung halaman mereka dari penyerbu asing, pada waktu itu kedudukan pasukan Nepal semakin kuat dengan datangnya bala bantuan lagi dari Nepal.

Pasukan itu bahkan telah berhasil menggagalkan bantuan pasukan Kerajaan Ceng yang kini telah terperangkap, terkepung di lembah sebelah timur Lhagat! Ketika mendengar akan penyerbuan pasukan Nepal ke daerah Tibet, Kaisar Kerajaan Ceng cepat mengirim pasukan yang terdirl dari lima ribu orang, untuk membantu pasukan Tibet yang menjadi negara taklukan Kerajaan Ceng, dan untuk mengusir pasukan Nepal itu. Akan tetapi, sungguh di luar perhitungan Pemerintah Ceng bahwa sekali ini Nepal bersungguh-sungguh dalam serbuan mereka itu sehingga belum juga pasukan itu berhasil menyerbu untuk merampas kembali Lhagat, mereka telah terkepung ketika mereka sedang beristirahat di lembah gunung. Pihak musuh yang mengepung berjumlah tiga empat kali lebih banyak, maka pasukan Ceng itu tidak berhasil membobolkan kepungan dan hanya mampu bertahan saja.

Berkali-kali pasukan Nepal yang mengurung itu menyerbu ke atas hendak menghancurkan musuh, akan tetapi ternyata dalam waktu singkat, komandan pasukan yang pandai dari barisan Ceng telah dapat menyusun benteng pertahanan yang kokoh kuat. Oleh karena itu, kini pasukan Nepal hanya mengurung ketat, hendak membiarkan pihak musuh mati kelaparan! Sudah setengah bulan pasukan yang terjebak itu dikepung, dan karena pihak Nepal maklum bahwa sewaktu-waktu dapat datang bala bantuan dari Kerajaan Ceng, maka penjagaan di sekitar daerah itu dilakukan dengan amat ketat.

Setiap orang yang lewat di daerah itu tentu digeledah dan diperiksa, kalau-kalau ada terselip mata-mata dari pihak musuh. Di mana-mana terdapat tentara Nepal dan seperti biasa yang terjadi dalam setiap huru-hara, dalam setiap peperangan, maka di daerah pegunungan itu pun terjadi pula hal-hal yang mengerikan setiap hari. Perampokan, perkosaan, pembunuhan, terjadi setiap saat. Manusia kehilangan prikemanusiaannya. Yang nampak hanyalah angkara murka dan di mana-mana manusia dicekam rasa takut yang hebat.






Biarpun dia masih belum dewasa benar, baru berusia hampir tujuh belas tahun, namun Ci Sian adalah seorang anak yang tergembleng oleh keadaan dan memang pada dasarnya dia cerdik. Dia mengenal bahaya, maka dia pun mengambil jalan-jalan melalui hutan-hutan.

Dia sudah mengenal daerah ini karena ketika dia berada di Lhagat beberapa tahun yang lalu, dia sering pergi berburu ke hutan-hutan. Oleh karena itu, dalam penyelidikannya untuk memasuki Lhagat dan mencari Lauw-piauwsu, dia pun menyelinap-nyelinap diantara pohon-pohon di hutan dan tidak berani sembarangan memperlihatkan dirinya kepada pasukan Nepal yang berjaga di mana-mana.

Ketika dia mencoba menyelidiki keadaan pasukan pemerintah Ceng yang terkurung di lembah gunung kecil itu, dia terkejut bukan main. Gunung kecil atau bukit di mana pasukan itu terkurung telah dikelilingi pasukan Nepal yang bersembunyi dan yang telah mempersiapkan segala macam jebakan dan barisan pendam dengan anak panah selalu siap di tangan. Pendeknya, kalau pasukan di lembah itu berani mencoba untuk membobolkan kurungan itu, mereka pasti akan dihancurkan!

Diam-diam Ci Sian mencari akal bagaimana kiranya pasukan itu akan dapat diselamatkan. Dia teringat akan cerita kakeknya tentang kepahlawanan, tentang kegagahan para pendekar jaman dahulu, tentang perbuatan-perbuatan yang menggemparkan karena gagah perkasanya. Ingatan-ingatan itu mendorongnya untuk melakukan sesuatu guna menolong pasukan yang terkurung, disamping dorongan rasa bahwa sudah menjadi tugasnya untuk menolong pasukan bangsanya yang terkurung tak berdaya itu. Akan tetapi, bagaimana mungkin seorang dara remaja seperti dia, seorang diri saja, akan mampu menyelamatkan lima ribu orang tentara yang sudah terkurung tak berdaya itu? Apa dayanya menghadapi puluhan ribu pasukan Nepal?

Pagi itu, Ci Sian berjalan di dalam hutan sambil termenung. Sudah beberapa hari lamanya dia mencari-cari akal, namun dia tetap tidak dapat menemukan siasat yang baik bagaimana dia akan dapat menolong pasukan pemerintah yang terkurung musuh itu. Hatinya menjadi kesal dan dia yang makin merindukan Kam Hong karena dia percaya bahwa kalau Kam Hong berada di sampingnya, tentu pendekar itu akan dapat mencari siasat untuk menolong pasukan yang terkepung rapat itu.

Tiba-tiba dara itu berkelebat lenyap dan dia sudah menyelinap ke belakang sebatang pohon besar. Gerakannya memang cepat bukan main seolah-olah dia pandai menghilang saja. Dia mendengar suara ringkik kuda disusul suara kaki kuda dan suara manusia mendatangi dari depan!

Tak lama kemudian nampaklah rombongan orang berkuda itu. Yang paling depan adalah seorang gadis yang cantik, usianya tentu hanya lebih satu dua tahun dibandingkan dengan dia. Seorang gadis yang berbentuk tubuh ramping agak kecil, wajahnya bulat telur dan cantik manis, terutama dagunya yang runcing. Melihat pakaiannya, gadis ini adalah seorang Han, akan tetapi dua losin tentara yang mengawalnya itu jelas bukanlah tentara kerajaan, melainkan tentara Nepal!

Ci Sian bersembunyi dan tidak berani menampakkan diri, akan tetapi diam-diam dia merasa heran sekali mengapa ada seorang gadis bangsanya yang kini dikawal oleh pasukan Nepal! Kini kuda yang ditungganggi gadis cantik itu, yang berbulu hitam dan bertubuh tinggi besar, seekor kuda yang amat baik, telah tiba di dekat pohon di belakang mana Ci Sian bersembunyi. Kuda hitam itu tiba-tiba meringkik mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi, mendengus-dengus ke arah pohon besar itu! Jelas bahwa kuda itu bukan kuda sembarangan, dan agaknya seekor kuda yang amat terlatih, seperti seekor anjing yang cerdik, begitu mencium bau seorang asing lalu memperingatkan majikannya!

Dan gadis cantik itu agaknya pun tahu akan ulah kudanya itu, dapat menduga bahwa di belakang pohon tentu ada seorang asing atau ada seekor binatang berbahaya.

“Keluarlah!” bentaknya dan begitu tangan kirinya bergerak, sebatang piauw kecil yang memakai ronce merah di gagangnya melucur ke arah belakang batang pohon itu!

Ci Sian terkejut bukan main. Kehadirannya telah dilihat orang, maka dia pun cepat mengelak dari ancaman pisau dan dengan tenang dia lalu keluar dari balik pohon itu sambil memandang dengan sinar mata marah namun penuh ketabahan.

“Orang kejam!” dia membentak sambil menatap wajah gadis cantik itu. “Apa salahku maka kau datang-datang menyerangku dengan senjata rahasiamu?”

Gadis cantik itu tercengang keheranan. Sama sekali tak pernah disangkanya bahwa yang mengejutkan kudanya adalah seorang dara remaja yang cantik jelita! Juga dua losin pengawalnya semua mengeluarkan seruan kaget dan heran. Mana mungkin ada seorang dara seperti itu berkeliaran di daerah ini tanpa pernah dapat nampak oleh penjaga?

Kini semua mata memandang Ci Sian dengan penuh kecurigaan. Sudah tersiar berita di kalangan para tentara Nepal bahwa Kerajaan Ceng mengirim seorang penyelidik yang sakti dari kota raja menuju ke tempat itu, tentu saja dalam usaha untuk menolong pasukan kerajaan yang terkepung itu. Maka, setiap orang asing dicurigai, apalagi orang-orang Han. Biarpun Ci Sian hanya merupakan seorang dara remaja, namun mereka semua tahu bahwa wanita-wanita Han, biarpun masih muda, tak boleh dipandang ringan karena diantara mereka banyak yang merupakan seorang ahli silat yang amat lihai.

Gadis cantik itu sendiri adalah seorang wanita yang agaknya berkepandaian tinggi, hal ini terbukti dari sambitannya dengan pisau kecil tadi. Kini gadis itu pun memandang dengan penuh curiga kepada Ci Sian, walaupun mulutnya sekarang tersenyum dan dia menjawab,

“Salahmu sendiri! Orang baik-baik tidak bersembunyi-sembunyi seperti seorang pencuri, dan kudaku ini selalu marah kalau melihat orang yang memiliki niat buruk di dalam hatinya”. Kemudian dia menggerakkan cambuk kudanya ke atas sehingga terdengar suara ledakan nyaring, lalu melanjutkan. “Engkau tentu seorang mata-mata, karena engkau berniat buruk maka engkau merasa takut dan bersembunyi!”

“Siapa takut? Apa yang perlu ditakuti?” Ci Sian mengejek. “Aku tidak takut, dan aku bersembunyi hanya karena enggan bertemu dengan pasukan yang kabarnya merupakan orang-orang jahat yang suka merampok, memperkosa, dan membunuh.”

Gadis cantik itu mengerutkan alisnya dan memandang marah.
“Siapa bilang pasukan kami begitu jahat?”

Ci Sian tersenyum pahit.
“Uhh, masih pura-pura bertanya lagi? Apakah matamu buta, apakah telingamu tuli sehingga engkau tidak melihat atau mendengar ratap tangis rakyat di sini? Jangan pura-pura bodoh!”

Wajah yang cantik itu berobah marah.
“Bocah bermulut lancang! Dalam setiap peperangan tentu saja jatuh korban, itu sudah jamak! Akan tetapi jangan mengira bahwa kami membiarkan pasukan melakukan kejahatan, apalagi perkosaan! Soal menyita barang musuh, atau membunuh musuh, sudah wajar.”

“Wajar kalau yang disita itu barang musuh dan kalau yang dibunuh nyawa musuh, sesama tentara. Akan tetapi kalau rakyat yang tidak tahu apa-apa yang diganggu, dirampok, dibunuh, wanita-wanita diperkosa, lalu apa bedanya tentaramu dengan orang-orang biadab?”

“Bocah sombong bermulut besar!” Gadis itu memaki dengan marah sekali. “Kau berani mengeluarkan kata-kata seperti itu di sini?”

“Mengapa tidak? Apa kau kira aku takut menghadapi beberapa gelintir anjing-anjing pengawalmu ini?”

Para pengawal sudah marah sekali mendengar ini dan mereka sudah gatal-gatal tangan akan tetapi mereka tidak berani bergerak sebelum menerima perintah dan agaknya mereka itu tidak berani mendahului gadis cantik yang mereka kawal itu.

“Hemm, agaknya engkau memiliki sedikit kepandaian juga maka berani bersikap lancang. Beranikah engkau melawanku?”

“Kau?” Ci Sian sengaja mengejek dan memandang rendah. “Biar ada sepuluh orang seperti engkau aku tidak akan mundur selangkah pun!”

Diam-diam gadis itu di samping kemarahannya, juga kagum menyaksikan sikap Ci Sian yang sedemikian tabahnya. Dia meloncat turun dari atas kudanya, diturut oleh semua pengawalnya yang menambatkan kuda-kuda itu pada batang pohon lalu mereka membentuk sebuah lingkaran panjang, mengelilinginya dan agaknya para pasukan itu gembira dapat menyaksikan dua orang gadis cantik yang hendak mengadu ilmu itu. Ci Sian mengikuti gerak-gerik mereka itu dengan sikap gagah dan tenang. Kemudian, gadis cantik itu menghampirinya di tengah-tengah lingkaran.

“Singgg!” Gadis cantik Itu sudah mencabut sebatang pedang dari pinggangnya dan sambil melintangkan pedang di dada, dia berkata, “Nah, kau keluarkanlah senjatamu!”

Akan tetapi Ci Sian memang tak pernah memegang senjata, bahkan “gelang” ular hidup tadi pun telah dilepaskannya dan dibiarkannya merayap pergi ketika dia keluar dari tempat sembunyinya. Dia tersenyum dan memandang calon lawan itu.

“Aku tidak pernah membawa senjata. Akan tetapi jangan dikira aku takut kalau engkau membawa pisau dapur itu!”

Mendengar ejekan ini, tentu saja gadis itu menjadi marah. Dan menyarungkan kembali pedangnya, melepaskan tali ikatan sarung pedang dan melemparkan pedang dengan sarungnya kepada seorang pengawal.

“Lihat, aku telah melepaskan pedangku, kita sama-sama tidak bersenjata. Nah, kau sambutlah seranganku ini”

Tiba-tiba gadis cantik itu menyerang dengan pukulan yang amat cepat. Diam-diam Ci Sian terkejut melihat betapa cepatnya gadis ini bergerak dan tahulah dia bahwa dia berhadapan dengan seorang ahli gin-kang yang berkepandaian cukup tinggi. Di samping itu, juga sikap gadis itu yang menyingkirkan pedangnya membuat dia senang dan berkuranglah kebenciannya. Gadis ini betapapun juga telah membuktikan kegagahannya dan tidak mau menghadapi lawan bertangan kosong dengan pedang di tangan! Maka dia pun cepat mengelak dan membalas.

Terjadilah perkelahian yang seru antara dua orang dara yang sama cantiknya ini, ditonton oleh para pengawal yang merasa yakin bahwa nona mereka akan menang karena mereka tahu bahwa nona mereka itu memiliki kepandaian yang tinggi, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan mereka sendiri!