FB

FB

Ads

Rabu, 22 April 2015

Jodoh Rajawali Jilid 004

“Ha-ha-he-heh, sungguh gagah! Mari, mari, Nona manis, mari kita main-main sebentar, hendak kulihat sampai di mana kehebatanmu!”

Khiu-pangcu lalu meraba pinggangnya dan tampak sinar hitam berkelebat ketika dia telah meloloskan sabuk atau ikat pinggangnya yang pan¬jang dan ternyata dapat dipergunakan sebagai senjata cambuk yang ada gagang¬nya dan yang ujungnya bercabang-cabang itu.

“Kau bosan hidup!”

Wanita cantik yang berjuluk Nona Ikan Emas itu mem¬bentak, pedangnya berkelebatan dan da¬lam gebrakan pertama, sepasang pedang¬nya telah menyambar-nyambar dan men¬jadi dua gulungan sinar yang menyilaukan mata. Gerakan nona ini cepat sekali dan agaknya dia memiliki ginkang yang amat hebat, sehingga dia menjadi lawan yang sama cepatnya dengan kakek kecil itu. Akan tetapi, Khiu-pangcu tertawa meng¬ejek dan begitu dia menggerakkan cam¬buknya, terdengar suara bersuitan me¬nyakitkan telinga, diselingi ledakan-ledakan kecil dan setiap ledakan itu mengaki¬batkan mengepulnya sedikit asap putih, tanda bahwa gerakan cambuk itu me¬mang kuat sekali.

Kim-hi Nio-cu menyerang ganas, se¬pasang pedangnya merupakan sepasang cengkeraman maut yang mengintai nyawa, akan tetapi dua gulungan sinar pe¬dang itu selalu terbendung dan terpental kalau bertemu dengan lingkaran hitam dari cambuk di tangan Khiu-pangcu, bah¬kan sering kali terdengar ledakan-ledakan kecil di atas kepala si Nona Ikan Emas, membuat wanita itu kadang-kadang menjerit kaget dan disusul suara tertawa mengejek dari Khiu-pangcu.

Tiba-tiba Kim-hi Nio-cu mengeluar¬kan suara bersuit dan muncul[ah lima orang wanita anak buahnya yang semua memegang pedang di tangan. Akan te¬tapi, kini Hoa-gu-ji tertawa dan meng¬hadang dengan dayungnya yang panjang, dan begitu lima orang wanita itu maju menyerbu, dayungnya diputar dan li¬ma orang wanita itu tertahan gerakannya tidak dapat membantu Kim-hi Nio-cu yang terpaksa melayani sam¬baran-sambaran cambuk yang amat lihai dari Khui-pangcu itu.

Tak lama kemudian, ketika Kim-hi Nio-cu sudah terdesak hebat, demikian pula lima orang anak buahnya, terdengar suitan dari jauh dan muncullah seorang wanita lain yang usianya juga tiga puluh tahunan, yang cantik tidak kalah dengan Kim-hi Nio-cu, bahkan kulitnya lebih putih sehingga pakaian hitam itu mem¬buat wajahnya putih halus seperti salju. wanita ini bersenjatakan sebatang golok kecil lebar yang mengeluarkan sinar ge¬merlapan. Inilah kepala dari Pasukan Tanah.






“Adik Liong-li, bantulah aku!” teriak kepala Pasukan Air dengan girang.

Tanpa diminta untuk kedua kalinya, wanita cantik yang disebut Liong-li itu segera menerjang maju dengan goloknya membantu Kim-hi Nio-cu mengeroyok Khiu-pangcu sambil berkata,

“Kiranya Khiu-pangcu, Si tua bangka keparat!”

“He-he-he, cantik.... cantik....! Gu¬nung Cemara sarang bidadari, sebetulnya menjadi sumber kenikmatan dan kesenang¬an, sayang malah menjadi sumber ke¬jahatan dan kekacauan! He-he-he!”

Khiu¬-pangcu masih sempat tertawa ketika dia mengelak dari sambaran sinar kilat dari golok di tangan Liong-li.

Pertempuran menjadi makin hebat, akan tetapi ternyata bahwa tingkat ke¬pandaian dua orang wanita itu masih kalah jauh dibandingkan dengan tingkat kepandaian Khiu-pangcu. Lewat lima puluh jurus, sinar hitam dari cambuknya mengurung dan menghimpit, membuat dua orang wanita itu mandi keringat dan tak lama kemudian, Khiu-pangcu berhasil merobohkan mereka dengan totokan-¬totokannya yang lihai. Juga Si Tinggi Kurus Hoa-gu-ji berhasil merobohkan lima orang pengeroyoknya yang cepat meloncat ke air, menyelam dan lenyap.

“He-he-he, percayakah kalian se¬karang?”

Khiu-pangcu tertawa mengejek, menyimpan sabuknya dan memandang dua orang wanita yang roboh terlentang dan tak dapat bergerak karena tubuhnya lum¬puh, hanya mata mereka memandang de¬ngan mendelik marah kepada kakek kecil itu.

“Seharusnya kalian mengajak semua saudara kalian ke sini baru bisa agak seimbang melawan aku. Nah, sekarang katakan, di mana adanya harta rampok¬kan milik keluarga Jenderal Kao itu? Katakan sebenarnya, kalau tidak kalian akan kubunuh, kemudian akan kutantang ketua kalian biar peristiwa dua tahun yang lalu terulang kembali. Sayang, ketika itu muncul Pendekar Siluman Kecil sehingga pertempuran terhenti dan nyawa Perkumpulan Hek-eng-pang selamat.”

“Bedebah tua bangka! Siapa takut mati? Mau bunuh lekas bunuh, akan ada teman-teman kami yang membalaskan kematian kami, yang akan melumatkan perkumpulanmu dan meratakan sarang kalian dengan bumi. Hayo, bunuhlah!” Kim-hi Nio-cu menantang.

“Tua bangka gila, namaku bukan Liong-li kalau aku takut mampus!” Kepala Pasukan Tanah juga menantang dengan pandang mata menghina.

Khiu-pangcu menggaruk-garuk kepalanya.
“Wah, wah, hebat sekali. Hoa-guji, kalau anak buah kita tidak setabah mereka ini, sungguh kita harus merasa malu.”

“Ji-pangcu (Ketua Ke Dua), boleh jadi mereka tidak takut mati, akan tetapi apakah Pangcu lupa bahwa ada sesuatu yang lebih ditakuti wanita daripada maut?”

Hoa-gu-ji berkata sambil tertawa menyeringai, memperlihatkan gigi yang sudah keropok dan kuning dekil.

“Hah? Ohhh.... he-he-hea....kau memang cerdik!”

Khiu-pangcu berkata dan sambil tertawa-tawa dia lalu berjongkok mendekati tubuh Kim-hi Niocu, menggunakan kedua tangan menggerayangi tubuh wanita cantik itu sambil mulai melepas-lepaskan pakaiannya. Sedangkan Hoa-gu-ji dengan lagak menjemukan juga menggerayangi tubuh Liong-li dan melepaskan kancing-kancing baju wanita cantik itu.

Kim-hi Nio-cu dan Liong-li menjerit.
“Tua bangka! Apa yang kaulakukan ini? Lepaskan aku!” Kim-hi Nio-cu berteriak.

“Keparat tak tahu malu, lepaskan aku!”

Liong-li juga menjerit-jerit, akan tetapi karena tak dapat bergerak, maka dia hanya terbelalak penuh kengerian.

“He-he-he, hendak kulihat, kau lebih suka dicemarkan atau berterus terang!”

Khiu-pangcu mengejek dan sudah mulai menanggalkan pakaian luar Kim-hi Nio-cu sehingga mulai nampaklah bentuk tubuhnya yang padat membayang di balik pakaian dalamnya yang tipis, dan nampak pula kulitnya yang putih halus dan menggairahkan itu.

“Jangan....! Kami.... akan berterus terang....!”

Akhirnya Kim-hi Nio-cu berteriak dengan suara lemah, tanda bahwa dia tidak mempunyai semangat untuk melawan lagi. Menghadapi kematian dia masih tabah, akan tetapi kalau harus dihina lebih dulu oleh kakek yang menjijikkan ini, benar-benar hebat dan dia tidak sanggup menghadapinya.

“Akan tetapi kau harus berjanji demi kedudukanmu bahwa kalau kami mengaku terus terang, kau tidak akan mencemarkan kehormatan kami.”

Khiu-pangcu bangkit berdiri.
“He-he¬-he.... siapa sih yang masih haus akan tubuh perempuan muda? Aku sudah muak!”

“Tapi.... dia.... dia ini....!”

Liong-li menjerit. Hoa-gu-ji yang agaknya sudah bangkit berahinya itu mulai meraba celana dalam berwarna hitam yang amat kontras dengan paha yang putih mulus dari Liong-li.

“Hoa-gu-ji, kau benar-benar seperti kerbau! Hayo mundur!”

Khiu-pangcu membentak dan kakek tinggi kurus itu tersentak kaget, lalu bangkit dan mundur dengan muka merah menarik napas menahan nafsu berahinya yang berkobar dan jelas dia amat kecewa.

“Nah, ceritakanlah!” Khiu-pangcu menghardik kepada Kim-hi Nio-cu.

“Harap.... bebaskan dulu kami.... bicara begini tidak enak....”

“Huhhh, dasar perempuan. Cerewet amat!”

Khiu-pangcu mengomel, akan tetapi tetap saja tangannya bergerak dua kali dan dua orang wanita muda cantik itu dapat bergerak, lalu cepat-cepat mereka memakai kembali pakaian luar mereka yang sudah ditanggalkan oleh dua orang kakek itu. Setelah itu, barulah Kim-hi Nio-cu bercerita dengan suara lirih, karena sesungguhnya dia terpaksa mengalah.

“Kami belum mendapatkan harta Jenderal Kao. Kami bertemu dan bentrok dengan pesukan asing yang lihai, bahkan adik kami kepala Pasukan Kayu telah tewas ketika bertanding dengan pemimpin pasukan asing itu. Karena kami belum mendapatkan harta itu, maka kami mengejar Jenderal Kao dan dua orang puteranya yang kautawan itu untuk menanyakan di mana adanya harta benda mereka yang tadinya mereka bawa dalam rombongan mereka dari kota raja.”

“Aih, begitukah? Kalau begitu kita semua telah dipermainkan oleh keluarga Kao itu!” Khiu-pangcu berkata marah. “Hoa-gu-ji, seret mereka keluar dari perahu dan bawa ke sini!”

Hoa-gu-ji yang masih kecewa itu kini dengan kasar menyeret tubuh Kok Tiong dan Kok Han keluar dari perahu dan melemparkan tubuh mereka yang terbelenggu itu ke atas tanah di depan kaki Khiu-pangcu. Dua orang muda itu menggulingkan tubuh agar terlentang dan dapat melihat orang-orang yang menawannya. Mereka melihat dua orang wanita cantik itu dan menduga-duga siapa adanya mereka.

“Hayo katakan yang sebenarnya, di mana kalian menyembunyikan harta Ayah kalian yang tadinya kalian bawa dalam rombongan itu! Kalau tidak, jangan mengatakan Khiu-pangcu berlaku kejam, kalian tentu akan kusiksa di sini!” Khiu-pangcu membentak marah karena dia merasa dipermainkan.

Kok Han memandang dengan mata melotot.
“Sudah kukatakan padamu, terserah kamu percaya atau tidak!” Pemuda ini membentak juga. “Mau siksa, mau bunuh, siapa sih yang takut?”

Kok Tiong cepat berkata,
“Pangcu, kami adalah putera-putera seorang besar dan keluarga kami semenjak puluhan tahun terkenal sebagai keluarga pahlawan yang pantang untuk membohong, apalagi memberatkan harta benda! Sudah kami katakan bahwa kami tidak tahu siapa yang merampas harta kami, siapa pula yang menculik keluarga kami.”

“Hemmm, agaknya kalian perlu diberi rasa sedikit. Bocah-bocah keras kepala, biarpun kalian putera-putera bekas Jenderal Kao Liang, akan tetapi agaknya kalian belum mengenal siapa aku, ya? Dan kalian belum mendengar tentang senjata rahasiaku Touw-kut-tok-ciam (Jarum Beracun Penembus Tulang)! Apakah kalian mau merasakannya?”

“Khiu-pangcu, kami kira mereka ini tidak berbohong. Perlu apa menggunakan jarum beracunmu yang mengerikan itu?” Tiba-tiba Kim-hi Nio-cu mencela kakek itu.

“Ha-ha-he-he, agaknya kau sayang melihat ketampanan mereka, ya? Hoh ho, biar kalian juga melihat betapa hebatnya jarum Touw-kut-tok-ciam dari Khiu-pangcu, agar lain kali kalian bocah-bocah tidak berani kurang ajar melawan aku!”

Akan tetapi tiba-tiba kakek ini tidak melanjutkan tangannya yartg hendak merogoh saku mengeluarkan jarum beracunnya, karena pada saat itu terdengar suara orang bersenandung, Ialu lewatlah seorang pemuda berpakaian abu-abu di tempat itu. Dua orang putera Jenderal Kao yang terlentang melihat pemuda ini dan hampir saja mereka mengira bahwa yang lewat itu adalah Suma-kongcu yang mereka cari-cari, karena suara itu hampir sama dengan suara senandung yang mereka dengar di atas tebing kemarin dulu. Akan tetapi orang ini pakaiannya abu-abu, tidak putih-putih, dan ketika mereka berdua memandang wajah itu, mereka tahu bahwa orang ini bukanlah Suma Kian Lee atau Suma Kian Bu yang pernah mereka lihat dan mereka kenal.

Pemuda berpakaian abu-abu itu menghentikan senandungnya dan bahkan berhenti melangkah, lalu menghampiri mereka dengan wajah heran.

“Eh, ada terjadi apakah di sini? Mengapa kalian berdua tiduran di tanah yang kotor? Eh, bukankah kalian ini putera-putera Jenderal Kao Liang?”

Pemuda itu laiu menoleh dan memandang bergantian kepada dua orang wanita Garuda Hitam dan kepada Khiu-pangcu dan Hoa-gu-ji, kemudian dia mengerutkan alisnya dan menegur.

“Heiii, kenapa kalian menawan dua orang putera Jenderal Kao Liang ini? Ehem, tentu kalian mengincar harta benda mereka, bukan? Tolol, mereka itu adalah keluarga yang gagah perkasa dan bersih, harta benda mereka bukanlah hasil korupsi. Sama sekali bukan, melainkan harta yang bersih, hasil dari jerih payah dan keringat mereka sendiri. Ho-ho, kalian memang tolol, karena kalian sudah terlambat semua, harta itu telah berada pada Suma-kongcu.”

“Eh, bocah lancang, kau tahu apa?” Khiu-pangcu membentak marah, tangannya melayang.

Dalam kemarahannya karena dia tidak dipandang sebelah mata oleh pemuda ini, yang bahkan memakinya tolol, di dalam tamparan itu Khiu-pangcu mengerahkan sinkangnya sehingga tamparan itu mengandung tenaga yang amat kuat, yang bahkan cukup kuat untuk menghancurkan batu karang, apalagi kepala pemuda yang kelihatan lemah itu.

“Wuuuuuttt.... plakkkkk.... aughhh....!”

Sungguh mengherankan sekali. Pemuda itu agaknya dengan acuh tak acuh, dengan gerakan sembarangan saja, mengangkat tangan menyambut tamparan itu sehingga dua tangan itu bertemu, dan akibatnya, Khiu-pangcu terhuyung ke belakang memegangi tangannya dan meniup-niupnya karena terasa panas seperti dibakar!

“Bangsat cilik keparat!”

Kakek itu marah sekali dan memandang dengan mata terbelalak, kemudian dia sudah menerjang dengan kedua tangannya digerakkan, yang kiri menotok ke arah tengah-tengah antara mata dan yang kanan mencengkeram ke arah pusar pemuda berpakaian abu-abu itu. Jelas betapa marahnya Khiu-pangcu karena, serangan yang dilakukannya ini adalah serangan maut yang amat hebat, yang sukar dihadapi oleh yang tangguh sekalipun, apalagi oleh orang muda tidak ternama yang berpakaian sederhana seperti seorang pemuda gunung biasa itu.

“Wuuuttttt, plak-plak, desssss....!” Dan semua orang terbelalak melihat Khiu-pangcu roboh terjengkang.

“Blukkk!”

Pantat yang tipis dari Khiu-pangcu terbanting ke atas tanah, debu mengebul dan kakek kecil itu meringis kesakitan, juga keheranan.

“Siuuuuuttttt....!”

Sebatang dayung panjang meluncur dan menghantam ke arah kepala pemuda berpakaian abu-abu itu. Itu adalah penyerangan yang dilakukan oleh Hoa-gu-ji, yang menjadi marah melihat betapa ketuanya sampai dua kali dibikin malu oleh pemuda itu. Hantaman dayungnya itu amat kuat, mengandung tenaga ratusan kati dan akan menghancurkan batu karang kalau mengenainya. Akan tetapi, tanpa menoleh pemuda itu mengangkat tangan kirinya menangkis, gerakan tangannya jelas menunjukkan bahwa sekali ini dia mengerahkan tenaganya.

“Krakkk!”

Dayung itu bertemu dengan lengan tangan pemuda itu dan patah! Hoa-gu-ji melongo, akan tetapi dia terkejut sekali karena pemuda itu sudah menyambar sepotong dayung yang patah tadi dan memukulkannya ke arah kepalanya. Pukulan sembarangan saja, seperti seorang yang memukul seekor anjing. Hoa-gu-ji cepat mengangkat sisa potongan dayung, menangkis sambil mengerahkan tenaganya.

“Bukkk!”

Sungguh aneh, biarpun ditangkis, tetap saja potongan dayung itu mengenai punggungnya dan robohlah Hoagu-ji, mulutnya memuntahkan darah segar dan dia sibuk berusaha untuk mengelus punggung dengan kedua tangan, melalui atas dan bawah pundak sambil mengerang kesakitan.

Kalau saja dia tidak begitu marah, tentu Khiu-pangcu sudah dapat mengerti bahwa pemuda itu bukan orang sembarangan, bahkan memiliki kepandaian yang amat hebatnya. Akan tetapi kemarahannya membuat dia seolah-olah menjadi buta. Dengan teriakan nyaring tangannya bergerak dan beberapa sinar putih meluncur ke arah pemuda itu dan menyerang beberapa bagian tubuh yang berbahaya, di tenggorokan, ulu hati, dan pusar. Itulah tiga batang jarum Touw-kut-tok-ciam yang amat berbahaya, yang menyambar dari jarak dekat.

Serangan tiba-tiba itu sama sekali tidak dapat dihindarkan lagi oleh pemuda itu, kecuali dua, yaitu yang menyambar ke arah tenggorokan dan pusar. Kedua tangannya bergerak menangkap dua batang jarum itu dengan menjepitnya antara jari tengah dan telunjuk, sedangkan jarum yang meluncur ke arah dadanya, dia terima begitu saja.

“Cappp!”

Jarum itu menancap di bajunya dan kedua orang putera Jenderal Kao sudah terbelalak ngeri, apalagi dua orang wanita Garuda Hitam yang sudah mengenal kehebatan jarum beracun itu. Tentu pemuda lihai itu akan celaka karena dadanya telah termakan oleh sebatang jarum yang amat berbahaya itu. Akan tetapi sungguh luar biasa sekali. Pemuda berbaju abu-abu itu seperti tidak merasakan sama sekali, malah sambil tersenyum mengejek dia berkata,

“Orang sinting! Kau makanlah sendiri jarum-jarummu!”

Dan tangannya yang menjepit jarum-jarum itu meluncur ke bawah, ke arah Khiu-pangcu! Kakek itu berusaha meloncat dan mengelak, akan tetapi dia roboh kembali karena dua batang jarumnya telah menancap di kedua betis kakinya, menembus tulang! Dia terkejut sekali, tergopoh-gopoh dia mengeluarkan sebungkus obat dan cepat-cepat dia menelan empat butir pil hitam, mencabut dua batang jaram itu dan menggosokkan obat pada bekas luka tertusuk jarumnya sendiri. Dia selamat dari bahaya maut, akan tetapi tetap saja dia mengaduh-aduh karena rasa yang menusuk-nusuk tulang akibat bekerjanya racun jarum itu.

Pemuda itu dengan sikap tidak peduli lalu mencabut jarum yang menancap di baju dadanya, melemparkan jarum itu jauh ke tengah sungai. Kiranya yang tertembus jarum hanya bajunya dan agaknya kulitnya tidak tertembus, buktinya dia tidak merasakan apa-apa. Sungguh seorang pemuda yang berkepandaian luar biasa sekali.

“Pergilah kalian!” kata pemuda itu kepada dua orang kakek yang telah dirobohkan itu. “Cepat, kalau tidak terpaksa aku akan membunuh kalian!”

Tergopoh-gopoh Hoa-gu-ji yang punggungnya masih sakit itu memanggul Khiupangcu yang tidak dapat berdiri, lalu dengan susah payah memasuki perahu dan mendayung perahu ke tengah sungai. Mereka ketakutan dan bahkan tidak berani bertanya siapa adanya pemuda baju abu-abu yang amat lihai itu.

Pemuda berpakaian abu-abu itu lalu membungkuk, kedua tangannya bergerak dan dengan amat mudahnya seperti memutus benang-benang saja, dia telah menggunakan jari-jari tangannya untuk mematahkan belenggu kaki tangan dua orang saudara Kao. Mereka itu bangkit berdiri dan menjura untuk menghaturkan terima kasih. Akan tetapi pemuda baju abu-abu itu menggerakkan tangan, agaknya tidak senang melihat orang menghaturkan terima kasih dan ia berkata,

“Sudahlah, kalau kalian ingin mencari kembali harta yang hilang, kalian cari saja Suma-kongcu. Yang lain-lainnya aku tidak tahu.”

Dua orang saudara Kao itu mengangguk, mereka masih merasa tegang dan kagum, juga terheran-heran memandang pemuda yang luar biasa ini. Akan tetapi pemuda itu tidak lagi mempedulikan mereka, malah menoleh kepada Kimhi Nio-cu dan Liong-li sambil berkata,

“Kalian pun boleh pergi, jangan mengganggu dua orang pemuda ini. Laporkan kepada ketua kalian bahwa aku ingin menemuinya.”

Setelah berkata demikian, pemuda baju abu-abu itu lalu membalikkan tubuhnya dan pergi dari situ sambil bersenandung.

“Maaf, Taihiap! Bagaimana kami akan melapor ketua tanpa mengetahui nama Taihiap?” Kim-hi Nio-cu berseru dengan sikap hormat.

Pemuda itu menoleh dan tersenyum. Wajahnya tampan sekali ketika tersenyum, mengusir kemuraman yang membayangi wajah itu.

“Katakan saja kepada ketuamu bahwa aku biasa membunuh dengan jari-jari tanganku ini, tentu dia akan mengenalku. Nah, aku pergi!”

Baru saja dia berkata demikian, tubuhnya sudah berkelebat dan lenyap! Dua orang wanita yang lihai itu menjulurkan lidah penuh rasa kagum , dan ngeri, kemudian mereka pun pergi setelah melirik ke arah dua orang putera Jenderal Kao yang masih berdiri terlongong di tepi sungai.

“Eh, Nona, harap tunggu dulu!”

Tiba-tiba Kok Tiong berseru ketika dia melihat dua orang wanita itu pergi meninggalkan tempat itu tanpa bicara apa-apa.

Kim-hi Nio-cu dan Liong-li berhenti, membalikkan tubuh dan tersenyum manis. Dua orang pemuda putera Jenderal Kao itu gagah dan tampan, tentu saja hati mereka tertarik, akan tetapi teringat akan pesan pemuda berbaju abu-abu, mereka berdua merasa ngeri dan tidak berani mengganggu sedikit pun.

“Ada apakah, Kongcu?” Kim-hi Nio¬cu berkata sambil tersenyum manis, matanya yang jernih memandang tanpa menyembunyikan rasa kagumnya.

“Kami dapat menduga bahwa Nona berdua tentulah anggauta-anggauta perkumpulan yang amat terkenal di daerah ini. Akan tetapi kami tidak tahu, Nona berdua dari golongan apakah? Kami mendengar bahwa ada dua golongan di daerah ini, dan Nona ini dari Gunung Cemara ataukah dari seberang lembah?”

Kim-hi Nio-cu tertawa kecil.
“Dua orang tua tadilah yang datang dari lembah,” jawabnya dengan suara merdu. “Mereka itu adalah tokoh-tokoh Huangho Kui-liong-pang (Perkumpulan Naga Setan dari Huang-ho), sedangkan kami adalah kepala-kepala pasukan dari perkumpulan Hek-eng-pang dari Gunung Cemara”.

“Maafkan kalau kami bersikap kurang hormat, Nona. Kiranya Ji-wi (Anda Berdua) adalah kepala-kepala pasukan dari perkumpulan besar Hek-eng-pang. Akan tetapi, Nona tentu tahu ke mana perginya para wanita dan anak-anak, yaitu keluarga kami?”

Kim-hi Nio-cu memainkan matanya, mengerling tajam penuh daya tarik, kemudian sambil meremas-remas jari tangannya, sikapnya seperti seorang dara tujuh belas tahun saja, dia berkata,

“Saya tidak bisa bicara banyak. Hoa-gu-ji itu bentrok dengan adik kami, kepala Pasukan Kayu di luar hutan malam kemarin untuk memperebutkan harta, keluarga kalian. Hoa-gu-ji kalah, lalu pergi. Kalian adalah bagian kami. Akan tetapi muncul pasukan asing di tebing ketika kami hendak turun tangan, terjadi perang dan kami menang, sungguhpun kepala Pasukan Kayu, adik kami itu tewas. Sayangnya, harta itu telah dirampas oleh seorang pemuda tampan yang luar biasa sekali, demikian menurut keterangan keluarga kalian, katanya pemuda yang merampas harta itu adalah seorang pemuda berpakaian putih-putih.”

Kok Tiong bertukar pandang dengan Kok Han, keduanya menduga bahwa tentu itulah Suma-kongcu seperti yang disebut-sebut oleh tukang warung bubur hangat dan oleh pemuda berpakaian abu-abu yang lihai tadi.

“Kalau begitu, kemanakah perginya keluarga kami?” tanya Kao Kok Han dengan suara penasaran.

Kembali Kim-hi Nio-cu memainkan matanya, mengerling tajam dan tersenyum manis penuh daya tarik.

“Hi-hikkk.... Ji-¬wi Kongcu yang baik, asal Ji-wi (Anda Berdua) dapat menemukan harta benda itu, yang katanya dibawa oleh pemuda yang bernama Suma-kongcu, dan menyerahkan harta itu kepada kami, hemm.... selain kami akan berterima kasih sekali, akan menjamu Ji-wi sebagai tamu-tamu kehormatan dan tamu-tamu agung, juga kami akan mengatakannya di mana mereka itu. Bagaimana? Nah, Ji-wi carilah pencuri itu sampai dapat, dan kami menanti di puncak Gunung Cemara. Sampai jumpa, Ji-wi Kongcu yang tampan, kami pergi dulu. Marilah, Adik Liong-li!”

Kim-hi Nio-cu menggandeng tangan Liong-li, kemudian sambil tertawa-tawa dan dengan lenggang yang memikat, kedua orang wanita cantik yang nyaris diperkosa oleh dua orang kakek tadi, meninggalkan dua orang putera Jenderal Kao yang berdiri bengong dan bingung.

Tentu timbul pertanyaan di hati para pembaca budiman. Siapakah pemuda berpakaian abu-abu yang sederhana, tampan dan amat lihai itu? Bagi para pembaca cerita Kisah Sepasang Rajawali, pemuda ini bukanlah seorang asing karena dia merupakan seorang diantara tokoh-tokoh besar cerita itu. Dia bernama Ang Tek Hoat! Pemuda ini adalah putera yang tidak sah dari mendiang Wan Keng In dan Ang Siok Bi.

Ibunya itu, Ang Siok Bi, ketika masih gadis telah diperkosa oleh Wan Keng In dan mengandung. Dialah anaknya dan karena dia bukan anak sah dari Wan Keng In, maka ibunya memberi she ibunya dan she itu tetap terus dipakainya. Setelah melalui perjalanan hidup yang berliku-liku, yang dituturkan secara menarik dan menegangkan dalam cerita Kisah Sepasang Rajawali, akhirnya Ang Tek Hoat diaku sebagai seorang pahlawan di negara Bhutan dan ditunangkan dengan Puteri Syanti Dewi, seorang puteri yang cantik jelita dan berbudi mulia, yang akhirnya jatuh cinta kepada Ang Tok Hoat, biarpun pemuda ini pernah menjadi seorang yang sejahat-jahat dan sekejam-kejamnya.

Mengingat bahwa ayah kandung Tek Hoat yang bernama Wan Keng In adalah anak tiri dari Pendekar Super Sakti Majikan Pulau Es, maka Tek Hoat terhitung keluarga Pulau Es yang terkenal, karena dia masih cucu tiri dari Pendekar Super Sakti. Di dalam cerita Kisah Sepasang Rajawali telah diceritakan betapa Ang Tek Hoat telah mewarisi ilmu-ilmu yang amat hebat dari dua orang datuk Pulau Neraka, dan kini dia memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat dan sukar memperoleh tandingan.

Akan tetapi mengapa pemuda perkasa yang telah ditunangkan dengan Puteri Syanti Dewi, yang diaku sebagai pahlawan negara Bhutan karena pembelaannya ketika negara itu diserang oleh musuh-musuh, kini berkeliaran di lembah Sungai Huang-ho seorang diri? Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita mengikutinya sejenak semenjak empat tahun yang lalu, ketika dia terpaksa meninggalkan negara Bhutan.

**** 004 ****