FB

FB

Ads

Minggu, 01 Februari 2015

Sepasang Pedang Iblis Jilid 118

Tebing di atas pantai Pulau Es itu amat curam. Dari tepi tebing itu kalau orang menjenguk ke bawah akan tampak gelombang memecah di batu-batu karang yang meruncing seperti barisan tombak. Dan dalamnya tebing ini tidak kurang dari seribu kaki. Gelombang air laut yang memecah batu karang itu dari atas hanya kelihatan seperti mainan kanak-kanak saja,

Suma Han dan Nirahai berdiri di tepi tebing itu tanpa bergerak, seperti dua buah arca batu, menghadap ke laut. Namun, kakek bermuka setan, Koa-san--jin, biarpun memiliki ilmu kepandaian tinggi, tidak berani mendorong mereka dari belakang, karena dia maklum bahwa biarpun kedua orang suami isteri itu dalam keadaan hilang ingatan, namun mereka itu masih tidak kehilangan ilmu kepandaian mereka yang sudah mendarah daging dan kalau sampai gagal, tentu dia akan menghadapi kesulitan besar.

Tanpa bicara, dikeluarkannya dua gulung tali panjang sekali yang memang sudah dipersiapkan lebih dulu untuk melaksanakan siasat yang sudah direncanakannya bersama Keng In. Ujung kedua tali diikatkannya pada batu karang yang berada di puncak tebing, kemudian kedua tali itu dilepas gulungannya dan dilempar ke bawah tebing. Kedua tali yang panjang itu kurang lebih hanya tiga ratus kaki panjangnya, tampak tergantung di bawah dan bergoyang-goyang terbawa angin.

“Suma Han dan Nirahai, kalian adalah majikan-majikan Pulau Es. Pusaka-pusaka Pulau Es berada di dinding tebing ini, kira-kira tiga ratus kaki dalamnya dari atas, tersembunyi di dalam sebuah guha. Sekarang turunlah kalian melalui tali-tali itu dan bawa peti berisi pusaka-pusaka itu ke atas sini.”

“Pusaka....?” Suma Han berkata meragu.

“Majikan Pulau Es....?” Nirahai juga berkata dan mengerutkan alisnya.

“Lekas kalian menuruni tali itu kalau tidak, tentu pusaka itu akan diambil orang lain yang akan memanjat dari bawah sana. Aku akan menjaga di atas dan menjamin agar tidak ada orang yang mengganggu pekerjaan kalian.”

“Kau.... kau siapakah....?”

“Ha-ha-ha, aku adalah sahabat baik kalian. Namaku Bhong Ji Kun!”




Kakek itu yang sebetulnya memang bekas Koksu Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun dengan berani memperkenalkan namanya. Mengapa tidak berani? Sekarang dia tidak perlu menyembunyikan dirinya lagi, karena tetap saja Pendekar Super Sakti dan Puteri Nirahai tidak akan mengenal nama lamanya itu.

Suma Han dan Nirahai mengangguk dan keduanya lalu meloncat, menyambar tali dan mulai merayap turun melalui tali-tali itu. Bhong Ji Kun yang sudah berjongkok di tebing dan menjenguk ke bawah, tersenyum lebar. Makin jauh kedua orang itu merayap, senyumnya makin melebar dan akhirnya dia tertawa bergelak, menggunakan sebatang golok di tangan kanan untuk membacok tali yang tergantung ke bawah. Dan dua buah tali itu putus dan lenyap ke bawah tebing

“Ha-ha-ha! Puas hatiku sekarang, telah dapat membalas dendam kepada Pendekar Super Sakti dan Puteri Nirahai, ha-ha-ha!”

Sekali lagi dia menjenguk dan tidak melihat dua orang korbannya karena terlalu dalam, tampak olehnya dua helai tali itu seperti benang kecil di antara gulungan ombak. Dia tertawa lagi kemudian berlari-lari menuju ke istana Pulau Es. Ketika dia tiba di istana tua itu, dia melihat Keng In sedang sibuk berkemas, membawa barang-barang berharga yang dapat dia temukan di istana itu ke dalam sebuah perahu. Milana dan Lulu berdiri bengong, seperti dua orang anak kecil yang tidak tahu apa-apa.

“Ibu, Milana, ini adalah....”

“Bhong Ji Kun, sahabat baik, heh-heh!” Bekas koksu itu menyambung dan Keng In juga tertawa karena dia tahu bahwa kini sudah “aman” untuk memperkenalkan kakek itu.

Lulu dan Milana memandang kepada kakek bermuka buruk itu, kelihatan ngeri membayang di wajah mereka.

“Bagaimana? Sudah bereskah mereka?” Keng In bertanya.

Bhong Ji Kun tersenyum menyeringai puas.
“Sudah, berkat kecerdikanmu, Wan-taihiap. Terima kasih! Mereka sudah terbanting ke bawah tebing, heh-heh!”

“Hemm, tidak kau bereskan dengan kedua tangan sendiri? Apakah sudah kau lihat benar bahwa mereka itu sudah tewas?”

Keng In mengerutkan alisnya karena biarpun yakin bahwa Pendekar Siluman dan Puteri Nirahai tak berdaya oleh racun perampas ingatan, namun kedua orang itu terlampau lihai untuk dipandang rendah begitu saja.

“Jangan khawatir. Mereka sedang bergantung di tali dan kedua tali itu kuputus dengan golokku sendiri. Kulihat tali itu sudah berada di antara ombak di bawah. Mereka tentu tak dapat terbang menghindarkan maut.”

“Hemm, betapapun juga, mari kita lekas pergi dari tempat ini, Seng-jin. Aku merasa ngeri berada di tempat ini terlalu lama.”

“Aahh, Wan-taihiap. Takut apa lagi sih? Setelah Pendekar Siluman dan Puteri Nirahai mati....”

“Bhong Ji Kun pemberontak keparat! Kau bilang apa?”

Tiba-tiba tampak dua bayangan berkelebat dan tahu-tahu di depan mereka telah berdiri Giam Kwi Hong dan Gak Bun Beng!

Ketika bekas Koksu itu mendengar bentakan Bun Beng ini, dia terkejut sekali. Rahasianya sudah diketahui orang, dan dia terkejut melihat pemuda dan gadis yang sudah terjerumus ke dalam jurang sedemikian dalamnya, ternyata belum mati dan tahu-tahu muncul di tempat itu, juga Wan Keng In berdiri memandang dengan mata terbelalak dan bulu tengkuk bangun berdiri saking seremnya. Apakah dia melihat roh penasaran dari dua orang itu?

Akan tetapi berkelebatnya sinar pedang Hok-mo-kiam di tangan Bun Beng dan pedang di tangan Kwi Hong membuktikan bahwa dia tidak berhadapan dengan setan penasaran sehingga cepat Keng In mencabut Lam-mo-kiam sambil melompat mundur, sedangkan Bhong Ji Kun yang diserang oleh Bun Beng juga sudah meloncat ke belakang menyambar tongkatnya yang ujungnya sudah buntung dan yang tadi ia tancapkan di atas tanah.

Tiba-tiba terdengar suara melengking nyaring yang amat dahsyat dan ada angin menyambar ke arah Bun Beng dan Kwi Hong. Dua orang muda ini terkejut bukan main, cepat mereka menarik kembali pedang dan meloncat mundur. Dua bayangan berkelebat dan.... di situ telah berdiri Suma Han dan Nirahai dengan sikap angker!

Suma Han menghampiri Milana dan Lulu, menggunakan telapak tangannya mengusap kepala kedua orang itu dan bagaikan orang baru sadar dari tidur, Lulu memandang ke sekeliling dengan heran, sedangkan Milana juga mengeluh,

“Ehh.... apa yang telah terjadi....?”

Sementara itu, kedua kaki Bhong Ji Kun menggigil dan matanya melotot seperti akan terloncat keluar dari pelupuk matanya. Ketika Keng In memandang kepadanya dengan sinar mata penuh kemarahan, kakek ini hanya menggeleng-geleng kepala seperti orang bodoh, mulutnya ternganga, dan dia tidak dapat mengeluarkan sepatah kata pun saking bingung dan herannya.

Tentu saja, baik Keng In maupun Bhong Ji Kun sama sekali tidak tahu bahwa semua kejadian di pagi hari itu adalah hasil dari ilmu sihir Pendekar Super Sakti! Tidaklah mudah untuk menipu seorang berilmu tinggi seperti Suma Han!

Pendekar ini sudah menaruh curiga dan berlaku hati-hati sekali. Ketika mereka makan minum, pendekar ini telah menggunakan sihirnya sehingga dalam pandangan Wan Keng In dan kakek muka buruk, dia dan Nirahai ikut pula makan minum, padahal dia dan isterinya itu sama sekali tidak menjamah makanan dan minuman dalam perjamuan itu. Suma Han sengaja membiarkan Lulu, Milana dan Sai-cu Lo-mo ikut makan minum agar tidak mencurigakan kedua orang yang dicurigai itu.

Dapat dibayangkan betapa kaget dan marah hatinya ketika pada keesokan harinya dia melihat Milana, Lulu dan Sai-cu Lo-mo menjadi seperti boneka-boneka hidup, kehilangan ingatan mereka! Maka dia dan Nirahai lalu bersandiwara, pura-pura berada dalam keadaan lupa ingatan seperti yang lain dan menurut saja ketika kakek muka buruk mengajak mereka ke atas tebing di pantai yang berbahaya itu.

Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun bukanlah seorang bodoh, dan sekiranya dia tidak mudah merasa girang dan yakin akan berhasilnya obat racun perampas ingatan dari Pulau Neraka, agaknya dia pun tidak begitu mudah dipengaruhi oleh kekuatan sihir yang dipergunakan Suma Han. Ketika berada di puncak tebing, Suma Han kembali mempergunakan kekuatan sihirnya sehingga dalam pandangan bekas Koksu itu, dia dan isterinya benar-benar menuruni tali yang kemudian dibikin putus oleh kakek muka buruk itu!

Padahal yang menuruni tali itu hanyalah bayangan kosong belaka! Dan Suma Han bersama Nirahai terkejut bukan main ketika kakek itu mengaku bahwa dia sebenarnya adalah Bhong Ji Kun! Tahulah mereka bahwa kakek ini berhasil menyelamatkan diri dari serangan badai sehingga mukanya rusak, kemudian kembali membonceng Wan Keng In untuk menuntut balas! Suma Han mencegah Nirahai yang sudah marah sekali dan hendak turun tangan menyerang itu, karena ia tidak menghendaki dia sendiri atau kedua orang isterinya melakukan penyerangan atau pembunuhan lagi.

Diam-diam mereka mengikuti Bhong Ji Kun ke istana dan mereka melihat munculnya Bun Beng dan Kwi Hong yang langsung menyerang Bhong Ji Kun dan Wan Keng In. Melihat munculnya Bun Beng dan Kwi Hong dada Suma Han terasa panas. Tentu saja dia percaya penuh akan penuturan Milana dan dalam pandangan matanya, Bun Beng merupakan seorang yang tidak kalah busuknya dibandingkan dengan bekas Koksu itu! Maka dia cepat mencegah Bun Beng dan Kwi Hong turun tangan menyerang, dan setelah memandang mereka bergantian dengan sinar mata penuh kemarahan seperti dua bara api yang membakar, tanpa mempedulikan lagi kepada Bhong Ji Kun, Suma Han membentak.

“Gak Bun Beng! Ke sini engkau!”

Mendengar suara Pendekar Super Sakti yang dijunjungnya tinggi itu, Bun Beng segera melangkah maju dan menjatuhkan diri berlutut di depan pendekar itu.

“Cabut Hok-mo-kiam!”

Tanpa ragu-ragu Bun Beng mencabut pedang itu dan tampak sinar berkilat. Tadi ketika melihat Suma Han dan Nirahai muncul, dia sudah menyarungkan kembali pedangnya.

“Gak Bun Beng, sekarang pergunakan pedang itu untuk membunuh diri! Ataukah harus aku yang mengotorkan tangan membunuh?”

Bun Beng terkejut bukan main. Dia memandang kepada Nirahai, akan tetapi wanita itu pun memandangnya penuh kebencian. Juga Lulu memandang kepadanya dengan bayangan jijik di mukanya, sedangkan Milana sama sekali tidak mempedulikannya!

“Semenjak kecil saya telah banyak berhutang budi kepada Suma Locianpwe, maka kalau sekarang Locianpwe menghendaki nyawa saya yang tidak berharga, mana saya berani menolak?” Sekali lagi dia memandang ke arah Milana dan Hok-mo-kiam digerakkan ke arah lehernya.

“Trangggg....!” Bunga api berpijar ketika Li-mo-kiam menangkis pedang Hok-mo-kiam itu.

“Paman, sungguh tidak adil ini!” Teriak Kwi Hong sambil berlutut di samping Bun Beng.

“Hemmm, bocah hina yang mencemarkan nama keluarga! Engkau hendak membela kekasihmu?”

“Paman, dengarkan dulu cerita saya! Kalau sudah mendengarkan, mau bunuh Bun Beng, mau bunuh saya, terserah! Saya tidak takut mati, Bun Beng pun tidak takut mati, akan tetapi saya akan mati penasaran melihat Paman melakukan sesuatu yang tidak adil sama sekali!”

Wan Keng In dan Bhong Ji Kun yang maklum bahwa penuturan Kwi Hong akan mencelakakan mereka, segera maju.

“Mereka ini orang-orang jahat yang tak berhak hidup lagi!”

Wan Keng In dan Bhong Ji Kun sudah menerjang ke arah Bun Beng dan Kwi Hong yang masih berlutut.

“Diam kalian! Jangan bergerak!”

Pada saat itu, di tubuh Pendekar Super Sakti sedang penuh dengan hawa amarah yang membuat tenaga saktinya timbul dan kuat bukan main. Bentakannya ini seketika membuat Keng In dan Bhong Ji Kun tak mampu bergerak lagi, seperti arca-arca, atau seperti orang tertotok dalam keadaan kaku!

“Coba bicaralah, memang tidak boleh orang mati penasaran!” kata Suma Han kepada Kwi Hong, mulai tertarik menyaksikan sikap Kwi Hong dan Bun Beng dibandingkan dengan sikap Wan Keng In dan Bhong Ji Kun.

“Paman dan kedua Bibi tentu telah mendengar penuturan adik Milana dan Paman Sai-cu Lo-mo. Mereka berdua itu hanya menjadi korban penipuan keji yang ditujukan untuk menjatuhkan fitnah kotor kepada nama Gak Bun Beng. Terutama sekali adik Milana yang menjadi korban penipuan keji. Semenjak dia diculik oleh Wan Keng In dan dibawa ke Pulau Neraka, adik Milana telah diberi obat racun perampas ingatan sehingga dia tidak sadar bahwa dia ditipu oleh Keng In. Wan Keng In menyamar sebagai Gak Bun Beng melakukan perkosaan-perkosaan atas nama Gak Bun Beng sehingga menipu dua orang nona Ang dan Lu.”

“Enci Kwi Hong, percuma saja engkau membelanya. Aku tahu bahwa engkau adalah kekasihnya, tentu saja mati-matian engkau hendak membelanya. Mataku melihat sendiri ketika kalian....”

“Adik Milana, Paman dan kedua Bibi. Harap mendengarkan dengan sabar. Memang tidak salah bahwa adik Milana yang sengaja ditipu oleh Keng In menyaksikan saya ber.... jina dengan orang yang dianggapnya Gak Bun Beng, padahal orang itu adalah Wan Keng In sendiri! Adik Milana berada dalam keadaan lupa ingatan, tentu saja dia tidak mengenal Wan Keng In yang mengaku bernama Gak Bun Beng.”

“Hemmm, kalau engkau mengerti begitu jelas, mengapa engkau melakukan hubungan gelap dan kotor dengan Wan Keng In?” Suma Han membentak.

“Saya mengaku salah. Saya pun telah tertipu olehnya, ingatan saya hilang oleh racun obatnya, dan dia mengaku Bun Beng, maka saya.... saya mengira dia Bun Beng, maka saya.... saya.... ah, Paman. Saya sudah melakukan semua penuturan dan agar jelas harap dengarkan pengalaman saya.”

Dengan cepat dan singkat namun jelas, Kwi Hong menceritakan semua pengalamannya ketika dia ditugaskan mencari Milana. Setelah selesai dia menangis dan berkata,

“Sekarang terserah kepada Paman, mau bunuh lekas bunuh. Apa artinya hidup saya setelah semuanya dirusak oleh Wan Keng In?”

Wajah Milana menjadi pucat sekali, matanya terbelalak memandang kepada Bun Beng. Setelah dia kini dalam keadaan sadar, lapat-lapat dia dapat mengingat semua pengalamannya di Pulau Neraka, ketika dia diculik, ketika dia hampir membunuh Wan Keng In sampai tiba-tiba muncul Gak Bun Beng, di pulau itu, hal yang kalau dipikirkan memang tidak masuk akal. Betapa mungkin Bun Beng tiba-tiba muncul dan merayunya tanpa diketahui Keng In dan guru pemuda itu? Betapa mungkin pula Bun Beng dan Kwi Hong muncul berdua di Pulau Neraka hanya untuk bermain cinta di pondok agar kelihatan olehnya? Benar-benar tak masuk di akal. Teringat akan semua itu, dia menjerit lirih,

“Oohhhh.... Dia benar....! Enci Kwi Hong benar! Sekarang, sekarang teringat olehku....! Ah, Ayah.... Ibu.... sekarang aku sadar.... bukan Bun Beng yang bersalah akan tetapi Wan Keng In....! Ah, aku telah berdosa besar....!” Sambil menangis Milana meloncat ke atas genteng Istana dan dicabutnya pedangnya.

Sebelum lain orang bergerak, tahu-tahu Bun Beng juga sudah meloncat mengejar. Pada saat Milana menggerakkan pedang hendak membacok leher sendiri, Bun Beng menepuk lengan kanan Milana dari belakang dan pedang itu terlepas.

“Adik Milana, jangan begitu....!”

Milana berlutut di atas genteng dan pada saat Milana menangis terisak-isak,
“Aku berdosa.... aku berdosa....”

“Milana! Turun kau!” Suma Han membentak.

Sambil menangis, Milana meloncat turun dan berlutut di depan ayah dan ibunya.
“Benarkah semua cerita Kwi Hong tadi?”

“Agaknya demikian.... ya benar Ayah...., aku diculik Keng In, hampir diperkosanya akan tetapi aku dapat mempertahankan diri....”

Sambil terisak dia menceritakan semua pengalamannya. Setelah Milana selesai bercerita, dia menangis sesenggukan.

“Anak murtad, jahanam keparat!”

Tiba-tiba Lulu memaki dan tubuhnya sudah melesat ke arah Keng In, tangannya menampar kepala puteranya itu dan air matanya bercucuran.

“Plak!”

Tangan itu ditangkis Suma Han yang sudah mengejar.
“Lulu, isteriku yang baik, mundurlah. Kita tidak perlu mengotorkan tangan, apalagi dia itu puteramu sendiri.” Sambil menangis dan menutupi mukanya Lulu mundur lagi.

Nirahai juga membentak.
“Bhong Ji Kun engkau harus mampus!”

“Nirahai, tidak perlu....! Kita menonton saja!”

Pada saat itu, Bhong Ji Kun dan Wan Keng In sudah dapat bergerak kembali. Mereka tadi telah mendengarkan semua dan kini dalam keadaan nekat mereka lalu menerjang maju. Wan Keng In disambut oleh Kwi Hong, sedangkan Bhong Ji Kun dihadapi oleh Bun Beng.

“Wan Keng In, aku sudah bersumpah untuk membunuhmu dan membalas penghinaamnu yang telah memperkosa diriku!” Kwi Hong berteriak. “Engkau atau aku harus mati untuk melunaskan perhitungan antara kita.”

Wan Keng In tidak menjawab. Pemuda ini bingung dan gentar bukan main. Ibunya tak dapat diharapkan bantuannya, dan di situ terdapat Nirahai dan Suma Han, dua orang yang memiliki kepandaian lebih tinggi malah daripada ibunya! Karena gentar dan ketakutan, maka kelebihan kepandaiannya atas tingkat Kwi Hong tidaklah menonjol sekali, apalagi karena Kwi Hong kini telah mewarisi ilmu dan tenaga Inti Bumi dari Bu-tek Siauw-jin.

Pertandingan antara Bun Beng dan bekas Koksu juga amat seru, akan tetapi segera tampak betapa bekas Koksu itu terdesak hebat. Koksu ini sudah mengenal keampuhan Hok-mo¬kiam, maka dia bersikap hati-hati, tidak mau mengadukan tongkatnya yang sudah buntung ujungnya oleh Hok-mo-kiam dahulu. Karena ini, juga karena memang tingkatnya tidak mampu menandingi tingkat Bun Beng yang sudah amat tinggi, dia terdesak dan akhirnya dia bertanding sambil berloncatan menjauh, mencari jalan untuk melarikan diri!

Bun Beng terus mengejar sehingga akhirnya kakek itu lari sampai di puncak tebing di mana dia tadi “membunuh” Suma Han dan Nirahai dan di sini dia tidak dapat lari lagi, terpaksa membela diri mati-matian.

“Bhong Ji Kun, dosamu sudah bertumpuk-tumpuk, dan hukuman yang kau derita ketika badai menyerangmu, agaknya tidak membikin kau bertobat!” Bun Beng memperhebat permainan pedangnya.

“Crokkk!”

Ujung tongkat di tangan bekas Koksu itu terbabat buntung dan pedang masih terus menyambar lehernya. Terpaksa Koksu pemberontak itu menangkis lagi karena tidak sempat mengelak.

“Krakkk!”

Kini tongkat itu patah di tengah dan ujung Hok-mo-kiam masih merobek bibir kakek itu sehingga giginya rontok semua! Wajah Bhong Ji Kun menjadi pucat sekali. Dia menyesal mengapa dia tidak dapat menggunakan senjatanya yang lama, yaitu pecut kuda yang lemas. Senjata itu lebih dapat bertahan kalau dipergunakan untuk menghadapi sebatang pedang pusaka seperti Hok-mo-kiam.

“Gak Bun Beng, mari kita mati bersama!”

Tiba-tiba kakek itu menubruk, tubuhnya melayang seperti seekor burung garuda menyambar mangsanya. Pada saat itu Bun Beng berdiri di tepi tebing, membelakangi tebing. Melihat serangan dahsyat yang amat membahayakan dirinya itu, Bun Beng cepat meloncat ke kiri dan ketika tubuh lawan menyambar di sampingnya, pedangnya dikelebatkan. Terdengar teriakan mengerikan ketika kedua tangan Im-kan Seng¬jin Bhong Ji Kun terbabat buntung sebatas pergelangan tangan, dan kedua tangan itu terlempar ke bawah tebing menyusul tubuhnya yang sudah terdorong ke depan masuk ke bawah tebing karena gagal menyerang tadi.

Suara pekik mengerikan itu masih bergema. Bun Beng menyarungkan Hok-mo-kiam dan menghela napas panjang, kemudian dia berlari turun dari puncak tebing, kembali ke depan Istana Pulau Es.

Pertandingan antara Kwi Hong dan Keng In luar biasa ramainya. Kwi Hong bertanding dengan nekat karena memang dia hendak mengadu nyawa, membunuh atau dibunuh! Sebaliknya, Keng In merasa bingung sekali, seperti seekor tikus yang sudah tersudut, tiada jalan lari lagi. Menang atau kalah dalam pertandingan melawan Kwi Hong, dia akan tetap celaka!

Maka dia pun melawan mati-matian sehingga Sepasang Pedang Iblis itu seolah-olah dua ekor naga yang sedang memperebutkan mustika, gulungan sinarnya saling belit, saling tekan dan saling tindih menyelimuti bayangan mereka!

Sinar pedang dari Sepasang Pedang Iblis itu amat menyilaukan mata, seperti halilintar menyambar-nyambar sehingga Pendekar Super Sakti dan kedua orang isterinya memandang dengan takjub di samping ketegangan, kegelisahan, dan kedukaan yang melanda hati mereka.

Milana masih berlutut, akan tetapi kini dengan muka pucat dia pun menonton pertandingan. Ingin sekali dia membantu Kwi Hong, ingin dia membunuh Wan Keng In yang menjadi biang keladi dari semua ini, akan tetapi tentu saja dia takut bergerak, takut kepada ayahnya dan ibunya.

Wajah Lulu yang kini semenjak dia tinggal di Pulau Es menjadi biasa lagi, tampak pucat. Juga Suma Han sendiri dan Nirahai berubah air mukanya, penuh ketegangan. Tiba-tiba Kwi Hong terpelanting ketika pedang mereka saling bertemu dan kaki Keng In berhasil menendang lututnya. Keng In menubruk dengan pedangnya.

“Keng In....! Jangan....!”

Lulu berteriak dan hendak meloncat dan mencegah puteranya, akan tetapi lengannya dipegang oleh Suma Han yang melarang isterinya itu mencampuri.

Keng In sama sekali tidak mengira bahwa lawannya telah memiliki tenaga Inti Bumi. Begitu tubuhnya bagian belakang menyentuh bumi, Kwi Hong memperoleh tenaga yang dahsyat sekali. Tiba-tiba tubuhnya itu mencelat ke atas menyambut serangan Keng In dengan tusukan Li-mo-kiam.

“Cresss! Cresss!”

Lulu menjerit dan menutupi mukanya ketika melihat darah muncrat dari perut puteranya, sedangkan Milana juga menutupi muka melihat darah muncrat pula dari dada Kwi Hong. Kedua orang itu terguling. Perut Keng In masih menjadi sarung pedang Li-mo-kiam, sedangkan dada Kwi Hong tertembus pedang Lam-mo-kiam.

Hampir saja Lulu pingsan, akan tetapi dia merasa lehernya dirangkul orang. Ketika dia mendengar bisikan halus,

“Ingat kepada Can Ji Kun dan Ok Yan Hwa....”

Lulu terisak. Terbayanglah wanita ini ketika dahulu bersama Suma Han dia menyaksikan kematian dua orang yang memegang Sepasang Pedang Iblis, kematian yang persis seperti yang dialami oleh Wan Keng In dan Giam Kwi Hong. Hanya bedanya, kalau kedua orang suheng dan sumoi itu tewas dalam keadaan saling mencinta (baca cerita Pendekar Super Sakti), maka Keng In dan Kwi Hong tewas dalam keadaan saling membenci!

“Keng In....!” Dia mengeluh, lari menghampiri, berlutut di dekat mayat putera-nya dan menangis.

“Enci Kwi Hong.... !”

Milana juga berlutut dekat mayat Kwi Hong, menangis terisak-isak dengan hati penuh rasa iba. Suma Han, Nirahai, Sai-cu Lo-mo, dan Gak Bun Beng yang sudah kembali ke tempat itu hanya memandang dengan hati terharu. Bun Beng berdiri seperti arca. Perasaannya menjadi tidak karuan, pikirannya melayang-¬layang. Beginikah akibat cinta? Wan Keng In dan Kwi Hong tewas gara-gara cinta? Ataukah nafsu belaka? Dan bagaimana dengan perasaan yang tadinya dia anggap cinta antara dia dan Milana? Apakah cinta antara mereka itu pun kelak hanya akan mendatangkan derita dan duka?

“Suma-locianpwe, harap sudi menerima kembali Hok-mo-kiam,” katanya sambil berlutut di depan Suma Han, menyerahkan pedang Hok-mo-kiam dengan sarungnya. “Teecu bersumpah tidak akan menggunakan pedang atau senjata apa pun juga lagi. Senjata merupakan benda yang jahat, hanya menimbulkan banjir darah dan kematian, permusuhan dan kebencian.”

Suma Han menerima senjata itu, kemudian dengan tangan kirinya dia menyentuh rambut kepala Bun Beng, katanya perlahan dan halus,

“Gak Bun Beng, ayah bundamu boleh merasa bangga dan tenang di alam baka kalau dapat menyaksikan sepak terjangmu. Tidak benarlah kata orang bahwa anak akan mewarisi watak orang tuanya, terbukti pada dirimu dan pada Wan Keng In.” Dia menarik napas panjang. “Siapa mengira.... Wan Keng In.... ibunya demikian jujur.... ayahnya demikian gagah.... dan engkau....”

“Saya hanya seorang anak haram, Ayah saya seorang datuk kaum sesat, Locianpwe. Saya mohon diri, Suma-locian-pwe dan maafkan semua kesalahan saya.”

“Bun Beng, engkau hendak ke mana?” Nirahai menegur, “Engkau masih ada urusan dengan kami.... maksudku, dengan Milana....”

Bun Beng cepat memberi hormat sambil berlutut.
“Harap Ji-wi Locianpwe sudi memberi ampun kepada saya. Setelah mengalami semua itu, saya berpendapat bahwa saya tidaklah patut menjadi calon jodoh adik Milana! Kalau dilanjutkan, kelak hanya akan menjadi tekanan batin bagi adik Milana. Tidak, Ji-wi Locianpwe, bukan sekali-kali saya menolak, melainkan saya telah kehilangan gairah berjodoh setelah melihat semua peristiwa yang menimpa kita semua. Saya kira Ji-wi Locianpwe akan mengerti dan sudi mengampunkan saya.”

Ada dua titik air mata membasahi mata Pendekar Super Sakti. Dia mengerti. Dia tahu betapa pemuda ini sebetulnya mencinta Milana, akan tetapi melihat semua akibat yang amat pahit dari apa yang disebut cinta, pemuda ini merasa kasihan dan khawatir kalau kelak ikatan jodoh itu hanya akan menyengsarakan penghidupan Milana! Karenaya, sebelum terlanjur, pemuda ini merasa lebih baik mengundurkan diri!

Dia hanya mengangguk dan matanya membasah ketika dia memandang bayangan pemuda itu yang berjalan perlahan menuju ke pantai. Suma Han mengalihkan perhatiannya kepada Lulu yang masih menangis. Dia melangkah maju, menyentuh pundak isterinya itu dan menarik berdiri. Dirangkul-nya Lulu dan dia berkata,

“Lulu, cobalah renungkan secara mendalam. Bukankah peristiwa ini menjadi jalan keluar yang terbaik bagi puteramu, bagimu, dan bagi kita semua? Bayangkan apa akan jadinya dengan kita dan puteramu kalau dia tidak tewas, kalau dia masih melanjutkan cara hidupnya seperti yang lalu. Bayangkan betapa kita akan merasa cemas dan prihatin, engkau akan selalu berduka, apalagi melihat Kwi Hong selalu akan memusuhinya. Sekali ini, Sepasang Pedang Iblis bekerja cepat, sudah saling menyudahi riwayat permusuhan mereka sebelum berlarut-larut.”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar