FB

FB

Ads

Rabu, 08 Juli 2015

Suling Emas & Naga Siluman Jilid 053

Ci Sian merasa terapung-apung di angkasa gelap. Dia melihat seorang pria, ayah kandungnya, bersama seorang wanita yang tidak begitu jelas air mukanya, berjalan di sebelah depan, seperti melayang-layang, Ibunya, pikirnya. Itulah Ibunya yang berjalan bersama ayahnya.

Akan tetapi tiba-tiba ayahnya melihat ke depan dan berlari meninggalkan Ibunya, mengejar banyak sekali wanita-wanita yang tertawa-tawa genit. Ibunya lalu terhuyung dan terjatuh, melayang turun dari angkasa! Dia terkejut sekali, berusaha hendak lari mengejar sambil menjerit,

“Ibu.... Ibu....!” Akan tetapi dia jatuh tergelincir.

“Ibu....!”

Sebuah tangan yang halus menjamah dahinya yang berkeringat dan agak panas.
“Ibu....“

Ci Sian mengeluh lirih dan tangan yang halus itu mengusap rambut di atas dahinya, dia merasa nyaman dan tidak begitu pening lagi, lalu tertidur kembali, sekali ini tanpa mimpi. Tak jauh dari situ nampak api unggun bernyala memberi cahaya yang cukup terang dan ternyata bahwa dara itu rebah di dalam sebuah guha yang besar, bertilamkan rumput kering dan berselimut jubah panjang. Seorang pria duduk bersila didekatnya dan setelah dara itu tidur pulas, pria itu memejamkan mata sambil terus bersila sampai pagi.

Pada keesokan harinya, ketika sinar matahari kemerahan telah mulai memasuki guha itu dari samping, Ci Sian mengeluh panjang lalu membuka matanya. Dia mengejap- ngejapkan matanya karena silau oleh sinar merah yang menerobos masuk dan menimpa lantai dekat kepalanya, lalu dia terbelalak keheranan ketika melihat bahwa dia berada disebuah guha yang diketahuinya karena melihat langit-langit batu itu. Kemudian dia menoleh dan melihat seorang pria duduk bersila di sebelahnya, seorang pria yang berwajah tampan dan ramah, yang memandang kepadanya sambil tersenyum.

“Ahhh.... ahhh.... aku.... aku masih mimpi....“ Ci Sian mengejap-ngejapkan dan menggosok-gosok kedua matanya.

“Tidak, Ci Sian, engkau tidak mimpi.” kata pria itu dengan halus.

Ci Sian terbelalak, lalu bangkit duduk, memandang kepada pria itu.
“Engkau.... engkau Paman Kam Hong....!”






Pria itu mengangguk dan tersenyum, lalu menambahi kayu bakar sehingga api unggun membesar karena hawa pagi itu amat dinginnya walaupun sinar matahari telah memasuki guha. Pria itu tentu saja dikenalnya baik-baik. Wajah itu tak pernah meninggalkan lubuk hatinya dan ternyata pendekar itu tidak berobah sama sekali setelah berpisah hampir lima tahun dengan dia! Masih seperti dulu, tampan pendiam, dan tenang, begitu tenangnya!

“Tapi.... tapi.... mengapa aku di sini? Bukankah aku dikeroyok....”

“Engkau terlalu menuruti nafsu amarah dan engkau pingsan, maka kubawa lari ke tempat ini, Ci Sian.”

Setelah merasa yakin bahwa dia tidak mimpi, tiba-tiba saja Ci Sian menutupi mukanya. Tidak terdengar isaknya, hanya pundaknya terguncang dan di antara celah-celah jari kedua tangannya mengalir air mata. Dia menangis! Akan tetapi dasar hatinya keras, dia
menahan tangisnya sehingga tidak mengeluarkan bunyi.

“Kalau engkau merasa berduka, kecewa dan penasaran, menangislah, Ci Sian, menangislah, tidak ada yang mendengarmu di sini.” kata Kam Hong yang memandang
dengan penuh iba.

Ci Sian menggeleng kepala dengan kedua tangan masih menutupi mukanya.
“Aku tidak mau menangis! Aku tidak mau menangis! Mereka.... mereka telah membunuh semua ular itu....!” Dan kembali dia menunduk dan air matanya menetes-netes.

“Karena itu, lain kali janganlah sembarangan minta bantuan ular-ular untuk menghadapi lawan, Ci Sian. Apa sih kekuatan ular-ular itu kalau menghadapi orang pandai? Hanya bisa menakut-nakuti anak kecil saja dan sayang membuang nyawa ular-ular yang tidak bersalah apa-apa.”

Mendengar suara yang nadanya menegur ini, Ci Sian menurunkan kedua tangannya dan muka yang masih basah air mata itu dihadapkan kepada pendekar itu, sepasang mata yang masih merah basah itu memandang tajam.

“Kau salahkan aku....?”

Kam Hong mengangguk. Sejenak Ci Sian memandang dengan penuh penasaran, akan tetapi akhirnya dia menangis, kini mewek dan bersuara!

“Kau.... kau marah memarahiku.... hu-huuh, ahh.... Ibuku telah mati.... Ayahku.... Ayahku.... aku benci Ayahku! Aku benci manusia itu, aku benci! Hu-huuh, aku tidak punya siapa-siapa lagi didunia ini....”

“Hemm, masih ada aku, Ci Sian.”

“Kau.... kau malah memarahiku.... hu-huuhh!”

Diam-diam Kam Hong merasa geli akan tetapi juga terharu sekali. Orang-orang yang sedang dikuasai perasaannya, baik itu perasaan terlalu girang, terlalu marah, atau terlalu duka, suka bersikap seperti kanak-kanak. Dara ini sekarang sudah dewasa, akan tetapi pada saat itu dikuasai oleh himpitan batin yang hebat. Perasaan kecewa, penasaran marah dan duka menindihnya sehingga dia tidak mampu menguasai dirinya lagi dan bersikap seperti kanak-kanak, sungguh patut dikasihani. Maka dia pun lalu mendekati dan mengelus rambut kepala dara itu seperti sikap seorang paman menghibur seorang keponakannya yang masih nakal.

“Sudahlah, tenanglah, aku tidak marah padamu, Ci Sian, sama sekali tidak....”

Mendengar ucapan itu, dan merasa betapa tangan yang mengelus kepalanya itu amat lembut dan penuh perasaan sayang, Ci Sian menjerit lalu menyembunyikan mukanya pada dada pendekar itu, lalu menangislah dia sejadi-jadinya. Kam Hong membiarkan saja karena hal itu amat baik bagi Ci Sian. Kekuatan yang mendorong perasaan marah atau duka amatlah kuatnya dan kalau tidak disalurkan keluar melalui tangis, akan terpendam di dalam dan selain dapat meledak menjadi pelampiasan marah yang berbahaya, juga amat berbahaya bagi kesehatan dara itu sendiri.

Setelah menangis sesenggukan tanpa mengekangnya, akhirnya Ci Sian merasa dadanya lapang sekali. Dia teringat betapa dia menangis di atas dada Kam Hong dan membuat baju pendekar itu menjadi basah, maka cepat-cepat dia menjauhkan dirinya dan memandang kepada baju yang basah itu.

“Maaf, Paman.... aku telah membasahi bajumu.”

Kam Hong melihat bajunya dan tersenyum sabar.
“Baju basah bisa dijemur, Ci Sian. Yang penting, engkau tidak menyimpan perasaan dalam batin lagi. Nah, mari kita bicara sekarang.”

Ci Sian mengerutkan alisnya dan menarik napas panjang. Terasa hawa yang disedotnya itu memenuhi paru-paru sampai ke pusar, dan terasa dadanya nyaman sekali. Mengertilah dia kini mengapa pendekar itu membiarkan dia menangis sepuasnya di dadanya tadi, dan dia merasa berterima kasih sekali.

“Aku sedih sekali mengingat nasib Ibuku, Paman. Aku tidak tahu mengapa Ibu dapat menjadi lemah begitu, padahal menurut penuturan Ayah.... ah, orang itu, Ibu adalah seorang pendekar wanita. Aku belum tahu jelas mengapa sampai meninggal dunia begitu mudah, hanya karena sakit-sakitan. Tubuh seorang pendekar wanita mana mungkin sakit-sakitan begitu?”

“Aku tahu, Ci Sian.”

“Eh? Bagaimana kau tahu?”

“Kebetulan saja. Setelah membawamu ke sini, aku berjaga-jaga dan melihat Ayahmu itu....“

“Jangan sebut dia Ayahku lagi! Aku benci mempunyai Ayah macam dia!”

“Membenci bukanlah sikap bijaksana dalam hidup.”

“Lanjutkan ceritamu, Paman, apa yang kau lihat dan dengar?”

“Ayahmu itu agaknya mencari-carimu, namun tanpa hasil dan diam-diam aku lalu membayanginya karena aku ingin memperoleh keyakinan apakah benar kita tidak dikejar orang. Dan aku membayanginya sampai ke pondoknya di mana dia bicara dengan.... eh, wanita-wanita yang menjadi isterinya itu dan dia menceritakan bahwa Ibumu yang bernama Sim Loan Ci itu menjadi lemah dan sakit-sakitan semenjak dia dan Ayahmu bertanding melawan gerombolan siluman di Sin-kiang yang terkenal dengan nama Hek-i-mo (Iblis Baju Hitam).”

“Siapakah itu Hek-i-mo?”

“Aku sendiri belum pernah bertemu dengan mereka, akan tetapi sudah kudengar nama mereka. Hek-i-mo adalah perkumpulan, atau lebih tepat dinamakan gerombolan yang merajalela di daerah Sin-kiang, selain berpengaruh dan mempunyai hubungan dekat dengan penguasa, juga gerombolan itu lihai bukan main, dipimpin oleh datuk-datuk kaum sesat dan memiliki pasukan yang kuat.”

“Jadi ibu berpenyakitan setelah bertanding melawan mereka?”

“Begitulah menurut penuturan Ayahmu kepada seorang di antara isterinya, karena dalam pertempuran antara orang tuamu melawan gerombolan itu, mendiang Ibumu menderita pukulan beracun dan pada waktu itu Ibumu sedang mengandung. Hanya itulah yang kudengar dari percakapan mereka dan aku lalu pergi karena merasa tidak enak mendengarkan pembicaraan suami Isteri.”

“Kalau begitu, aku akan mencari Hek-i-mo dan akan membasminya untuk membalaskan kematian Ibu!”

“Hemm, jangan kira hal itu mudah saja, Ci Sian. Sepanjang pendengaranku, Hek-i-mo merupakan gerombolan yang amat berbahaya dan sudah banyak pendekar-pendekar berilmu tinggi yang gagal dan bahkan menemui kematian ketika berhadapan dengan mereka. Bahkan Ayah Ibumu yang demikian lihai pun agaknya gagal.”

“Aku tidak takut gagal, aku tidak takut mati!”

Kam Hong menahan senyumnya. Dara ini masih seperti dulu, pemberani dan keras hati sehingga amat mengkhawatirkan karena sikap seperti itu banyak mengakibatkan malapetaka kepada diri sendiri.

“Biarpun engkau berusaha, kalau sudah pasti bahwa engkau akan gagal, apa artinya? Engkau harus memperdalam ilmu kepandaianmu, dan untuk itu, aku mau membantumu, Ci Sian. Ingat, aku masih ada hutang padamu.”

“Hutang? Hutang apa?”

“Hutang ilmu. Lupakah kau akan ilmu yang kita bersama temukan pada tubuh jenazah kakek kuno itu? Aku masih harus mengajarkannya kepadamu karena engkau pun berhak mempelajarinya, dan kita berdualah yang menemukannya.”

Ci Sian mengerti bahwa apa yang dikatakan oleh pendekar ini memang benar. Biarpun tadinya dia merasa bahwa ilmu kepandaian yang dipelajarinya dari See-thian Coa-ong cukup tinggi, namun ternyata bahwa ilmunya itu masih jauh daripada cukup jika dia berhadapan dengan orang-orang pandai, juga ular-ularnya itu tidak ada artinya kalau dia bertemu dengan lawan tangguh. Dan dia percaya bahwa pendekar ini memang memiliki ilmu yang tinggi sekali, kalau tidak demikian, mana mungkin dapat melarikan dia dari tangan ayahnya dan isteri-isteri ayahnya yang demikian lihainya?

“Baiklah, Paman, aku akan belajar darimu.”

“Nah, sekarang ceritakan apa yang telah terjadi denganmu semenjak kita saling berpisah. Ke manakah engkau pergi ketika kita berdua terdampar di lembah tanpa jalan keluar itu? Kuingat ketika bukit itu longsor dan kita terasing di lembah salju?”

“Aku sedang mencari burung dan aku lalu terpeleset jatuh ke dalam jurang.”

“Hemm, sudah kuduga begitu. Akan tetapi bagaimana engkau dapat hidup setelah terjatuh ke dalam jurang yang sedemikian dalamnya?”

“Aku ditolong oleh seorang kakek yang berama See-thian Coa-ong, Paman” Dara itu lalu menceritakan pengalamannya sampai dia diambil murid oleh kakek Raja Ular itu.

“Bagus sekali, engkau beruntung, selain dapat diselamatkan dari ancaman bahaya maut, masih menemukan seorang guru yang pandai. Pantas saja engkau pandai bermain-main dengan ular.”

“Paman, hal itu belum berapa penting. Yang kuanggap paling menarik dan penting adalah ketika aku diajak oleh guruku itu untuk menemui musuhnya di Lembah Suling Emas, yaitu di luar lembah di mana tinggal musuh Guruku. Di situ aku bertemu degan seseorang yang tentu akan membuat Paman terkejut sekali, dan tak mungkin Paman dapat menduganya siapa.”

Di dalam hatinya, Kam Hong tertarik sekali, akan tetapi dia tetap nampak tenang dan tersenyum, seperti seorang dewasa mendengarkan penuturan seorang anak kecil saja.

“Siapakah dia yang kau maksudkan itu?”