FB

FB

Ads

Selasa, 13 Oktober 2015

Kisah Para Pendekar Pulau Es Jilid 064

Suma Hui sendiri tidak tahu bahwa pada malam harinya ketika terjadi penyerangannya terhadap Cin Liong, diam-diam Cin Liong mendatangi rumahnya dan dengan kepandaiannya yang tinggi, Cin Liong berhasil menemui Tek Ciang. Sebelum Tek Ciang mampu bersuara, Cin Liong telah menotok urat gagunya dan juga membuatnya lemas, lalu memanggul pemuda itu pergi dari rumah itu menuju ke tempat sunyi.

Setelah tiba di tempat sunyi, Cin Liong membebaskan totokannya pada tubuh Tek Ciang dan diam-diam pendekar ini merasa heran dan juga kecewa melihat betapa pucat wajah pemuda itu dan tubuhnya menggigil ketakutan! Orang penakut begini diangkat menjadi murid pendekar sakti seperti Suma Kian Lee? Sungguh mengecewakan sekali. Akan tetapi pikiran itu hanya sekilas saja memasuki benaknya yang sudah sarat dengan masalahnya sendiri yang membuatnya bingung, penasaran dan berduka itu.

“Maafkan aku; Louw-susiok. Terpaksa aku menggunakan jalan ini karena aku ingin sekali bicara denganmu tanpa diketahui oleh Hui-moi.”

Tek Ciang menarik napas lega dan kentara sekali bahwa baru saja dia terlepas dari himpitan rasa takut yang hebat.

“Aahhhh, taihiap, sungguh engkau membikin aku kaget setengah mati. Perkara apakah yang ingin kaubicarakan?”

“Tidak lain hanya perkara Hui-moi. Engkau melihat sendiri pagi tadi bagaimana ia menyerangku dan serangan-serangannya itu sungguh-sungguh. Ia berniat keras untuk membunuhku dengan penuh kebencian. Louw-susiok yang baik, apakah artinya semua itu? Mengapa ia hendak membunuhku dan demikian membenciku? Apakah yang telah terjadi malam tadi?”

Tek Ciang memandang bingung dan mengangkat pundaknya.
“Bagaimana aku tahu, taihiap?”

Cin Liong penasaran dan memandang tajam penuh selidik.
“Louw-susiok, engkau tinggal serumah dengan Hui-moi, agaknya tidak mungkin kalau terjadi hal-hal yang hebat engkau tidak mengetahuinya.”

“Malam tadi hampir semalam aku tidak berada di rumah, taihiap.”






“Hemm, ke mana saja engkau pergi?”

“Sudah kukatakan kepadamu kemarin sore bahwa aku hendak menyelidiki penjahat cabul yang menyebabkan ayahku tewas itu. Dan aku melihat ketika engkau berkelahi dengan penjahat itu! Ternyata memang benar ada penjahat yang berkeliaran, buktinya engkau menyerangnya dan berkelahi dengannya. Benarkah orang yang berkelahi denganmu itu penjahat cabul?”

“Jadi engkau melihatnya? Benar, dia adalah penjahat cabul terbesar di dunia hitam. Lalu bagaimana?”

“Aku bersembunyi dan nonton sampai penjahat itu lari dan kau kejar. Akupun lalu ikut mengejar, akan tetapi sebentar saja kalian berdua sudah lenyap. Aku terus mencari berputar-putar sampai hampir pagi. Karena tidak berhasil menemukan penjahat itu maupun engkau yang mengejarnya, aku lalu pulang dan langsung memasuki kamarku. Belum juga aku pulas, terdengar suara hiruk-pikuk dari kamar sumoi. Aku dan pelayan terkejut, lalu lari ke kamarnya. Di dalam kamar itu sumoi mengamuk, menghancurkan perabot-perabot kamarnya dan katanya ada penjahat memasuki kamarnya dan penjahat itu melarikan diri tanpa sumoi dapat mengenal wajahnya.”

Cin Liong mendengarkan dengan alis berkerut.
“Lalu apa katanya kepadamu setelah ia menyerangku pagi tadi?”

Tek Ciang menggeleng kepalanya dan menarik napas panjang, kelihatan berduka sekali.

“Ia tidak mau bicara apa-apa, taihiap. Bahkan ketika aku mencoba bertanya mengapa ia mengamuk dan menyerangmu, ia marah-marah dan minta kepadaku agar aku tidak lagi menanyakan hal ini atau bicara tentang itu dengan siapapun juga. Ah, aku khawatir sekali, taihiap. Sebaiknya kalau taihiap tidak memperlihatkan diri lebih dulu....”

“Aku harus menemuinya dan minta keterangan tentang sikapnya itu!” Cin Liong berkata penasaran.

“Ah, bijaksanakah itu, Kao-taihiap? Aku melihat sumoi sedang dalam keadaan tidak wajar, marah sekali dan juga amat berduka. Melihat keadaannya, aku yakin bahwa setiap kali taihiap muncul, tentu akan diserangnya tanpa banyak kata lagi. Watak sumoi keras sekali dan sementara waktu ini percuma saja kalau mengajaknya bicara. Kalau taihiap muncul, akibatnya hanya akan membuat ia semakin marah.”

Cin Liong mengepal tinju dan alisnya berkerut.
“Habis bagaimana baiknya? Bagaimana baiknya? Aih, kenapa ada urusan yang begini aneh?”

“Kao-taihiap, kalau taihiap suka mendengar pendapatku, sebaiknya malah kalau sementara ini taihiap menjauhkan diri. Sejauh mungkin karena agaknya sumoi masih terus merasa penasaran dan hendak mencari taihiap untuk dibunuh. Susah payah aku membujuknya agar bersabar dan akhirnya baru ia mau berhenti setelah kuperingatkan bahwa segala urusan harus diselesaikan dengan tenang. Kalau taihiap menampakkan diri, tentu kemarahannya memuncak dan berkobar lagi. Biarlah sampai ia dingin dan tenang dulu, baru kelak taihiap boleh menemuiku, dua tiga bulan lagi, dan aku akan memberitahu taihiap kalau keadaan sudah mendingin.”

Cin Liong tidak mengira bahwa pemuda ini sedemikian baiknya. Dia memegang pundak pemuda itu.

“Louw-susiok, engkau sungguh seorang yang berhati mulia. Aku amat mengharapkan bantuanmu dalam urusanku dengan sumoimu ini.”

Tek Ciang mengangguk.
“Aku mengerti, taihiap, aku tahu bahwa ada hubungan batin antara kalian dan sekarang agaknya sedang terjadi kesalah pahaman di pihak sumoi. Engkau sebagai laki-laki sepatutnya mengalah dan bersabar.”

Cin Liong mengangguk-angguk.
“Tapi, apa yang harus kulakukan sementara menanti ia bersabar itu? Sungguh aku binguug sekali dan baru sekarang dunia seolah-olah gelap bagiku, membuat aku tak berdaya.”

“Taihiap, kurasa sudah pasti ada hubungannya antara perkelahianmu melawan penjahat malam itu dengan sikap sumoi ini....”

“Si keparat Jai-hwa Siauw-ok!” Cin Liong mengepal tinjunya.

“Nah, bagaimana taihiap pikir kalau taihiap mencari orang itu sampai dapat tertangkap dan taihiap menuntut keterangan dari dia?”

“Ah, benar sekali! Andaikata jahanam itu tidak tahu apa-apa tentang Hui-moi, tetap saja dia harus ditangkap dan dihukum. Baiklah, susiok. Banyak terima kasih atas semua bantuan dan nasihatmu. Aku pergi dan harap engkau membantuku menyelidiki apa sebabnya Hui-moi marah-marah kepadaku dan bahkan hendak membunuhku. Dua tiga bukan lagi aku datang ke sini dan menemuimu sebelum aku mencoba menemuinya.”

Tek Ciang mengangguk-angguk.
“Jangan khawatir, aku akan membantumu, Kao-taihiap dan mudah-mndahan semuanya akan berjalan dengan lancar.”

Demikianlah pertemuan rahasia antara Kao Cin Liong dan Louw Tek Ciang, yang tidak diketahui orang lain. Juga ada pertemuan lain lagi di malam berikutnya yang lebih dirahasiakan oleh Tek Ciang. Seorang diri dia pergi mengunjungi makam ayahnya di luar kota pada malam hari itu. Setelah dia merasa yakin bahwa tidak ada orang lain melihatnya dia lalu melanjutkan perjalanannya di malam gelap itu menuju ke sebuah kuil tua yang letaknya terpencil di tempat sunyi. Seperti sikap seorang maling, pemuda itu menyelinap di tempat-tempat gelap, memandang ke kanan kiri dan setelah merasa yakin bahwa tidak ada orang lain melihatnya, barulah dia meloncat masuk ke dalam kuil tua.

Sesosok bayangan orang yang gerakannya amat ringan dan cepat seperti setan menyambutnya. Orang itu Jai-hwa Siauw-ok Ouw Teng.

“Bagus, bagus! Engkau amat hati-hati dan memang begitulah seharusnya, waspada dan hati-hati, begitulah sikap seorang jai-hwa-cat tulen!” Datuk sesat itu tertawa bergelak.

Tek Ciang merasa betapa mukanya menjadi panas.
“Tapi.... locianpwe.... aku.... bukan jai-hwa....”

“Ha-ha-ha, memang belum, baru calon saja! Akan tetapi seorang calon yang amat baik dan kelak engkau bisa menggantikan aku kalau engkau suka belajar dengan tekun. Ha-ha-ha, sekarang ceritakan semua, bagaimana hasilnya siasat kita?”

Tek Ciang tersenyum dan wajahnya berseri. Cuaca di dalam kuil itu remang-remang saja karena Jai-hwa Siauw-ok hanya menyalakan sebatang lilin kecil. Dia melihat betapa wajah yang masih ganteng dari kakek itu berseri-seri dan diam-diam dia kagum sekali. Memang kakek ini hebat. Selain ilmu kepandaiannya tinggi, juga memiliki kecerdikan seperti setan.

“Semua berjalan dengan baik sekali, locianpwe. Terima kasih kepada locianpwe.”

“Aha, setelah aku membuat dara itu tidak berdaya dengan asap bius dan totokan, melihat ia rebah tak berdaya seperti menantang itu, timbul seleraku, akan tetapi aku ingat kepadamu, orang muda. Bagaimana, berhasilkah engkau memperkosanya?”

Pertanyaan itu diajukan dengan sikap wajar seperti orang menanyakan suatu hal yang lumrah saja. Akan tetapi bagi Tek Ciang merupakan hal yang membuatnya merasa jengah dan malu. Dia mengangguk tanpa menjawab.

“Hemm, engkau menyesal setelah berhasil?”

“Tidak, tidak, locianpwe. Sebaliknya, aku merasa girang sekali.”

“Dan engkau sudah merasa puas?”

Pemuda itu menggeleng kepala.
“Belum, ia belum menjadi isteriku dan akupun belum mewarisi ilmu Pulau Es dan belum membalas dendam terhadap jenderal itu.”

“Ha-ha-ha, tidak perlu tergesa-gesa. Yang penting, engkau telah berhasil memperkosanya dan ia tidak mengenalmu?”

“Tidak. Tempatnya gelap dan ia berada dalam keadaan setengah sadar. Aku sudah sangat berhati-hati dalam menirukan suara Cin Liong.”

“Bagus! Dan hasilnya?”

“Hasilnya baik sekali. Ketika Cin Liong datang, dia diserang dan akan dibunuh oleh sumoi.”

Pemuda itu lalu menceritakan semua yang telah terjadi sampai ketika dia diculik oleh Cin Liong untuk dimintai keterangan. Semua ini didengarkan oleh Jai-hwa Siauw-ok sambil tersenyum girang, hanya dia merasa agak khawatir mendengar pemuda itu diculik oieh Cin Liong.

“Untung engkau cerdik. Jadi engkau berhasil memancingnya agar menjauhkan diri dulu dari gadis itu dan agar dia mencari aku? Baik sekali. Engkau telah menjalankan rencana siasatku dengan baik. Ha-ha-ha, kita berdua sudah mengecap hasilnya. Engkau telah menikmati tubuh dara itu dan aku.... ha-ha-ha, girang hatiku melihat permusuhan antara keluarga Suma dan keluarga Kao itu mulai tumbuh. Tentu kelak akan menjadi permusuhan keluarga yang hebat sekali. Akan tetapi engkau harus hati-hati, Tek Ciang. Engkau sebagai orang di belakang layar yang memainkan semua ini, jangan sekali-kali menonjolkan diri. Tahan dulu nafsumu kalau engkau ingin memiliki tubuh gadis itu sepenuhnya. Kita harus cerdik. Aku akan memancing agar Cin Liong makin menjauhi tempat ini.”

“Baik, aku akan mentaati semua pesanmu, locianpwe.”

“Kelak, sewaktu-waktu aku berada di daerah ini, engkau boleh menemui aku di sini untuk menerima beberapa macam ilmu dariku seperti yang telah kujanjikan padamu.”

Dengan girang Tek Ciang menghaturkan terima kasih. Dia menganggap bahwa datuk sesat ini telah berjasa besar kepadanya. Mereka lalu berpisah dan meninggalkan kuil yang sunyi itu, kuil tua yang menyeramkan karena baru saja dijadikan tempat oleh para iblis dan setan untuk mengusik hati dua orang manusia yang tersesat.

Iblis dan setan yang suka mengusik hati orang tak pernah jauh dari kita sendiri. Suaranya selalu berbisik-bisik dalam batin kita, mendorong kita untuk selalu mendambakan kesenangan dan menjauhi yang tidak menyenangkan. Tercipta oleh pikiran kita sendiri, pikiran yang mengumpulkan dan menumpuk semua pengalaman dalam hidup lahiriah yang yang praktis. Secara teknis pikiran dibutuhkan untuk mengingat, bekerja dan segala gerak hidup lahiriah. Akan tetapi, dalam komunikasi dengan manusia lain, dengan benda, dengan hal-hai batiniah, pikiran yang masuk hanya akan menimbulkan nafsu, kebencian, keserakahan, dan sebagainya. Jadi setan datangnya bukan dari luar, melainkan dari dalam batin kita sendiri!

**** 064 ****
Kisah Para Pendekar Pulau Es







Tidak ada komentar:

Posting Komentar