FB

FB

Ads

Senin, 21 September 2015

Kisah Para Pendekar Pulau Es Jilid 010

“Kiranya engkau adalah putera Ceng Ceng! Hui, Ciang Bun, Ceng Liong, dia ini adalah masih keponakan kalian sendiri!”

Tentu saja tiga orang muda itu memandang heran dan terutama sekali Suma Hui menjadi terkejut, memandang kepada pria yang gagah itu dengan mata terbuka lebar-lebar.

“Dia.... dia keponakanku....?” katanya tergagap, tidak percaya.

“Dengarlah, akan kujelaskan kepada kalian.”

Nenek itu lalu menceritakan dengan singkat hubungan antara pemuda yang baru tiba itu dengan keluarga Pulau Es.

“Mendiang nenekmu Lulu, sebelum menjadi isteri kakekmu, adalah seorang janda yang mempunyai seorang putera bernama Wan Keng In. Orang she Wan ini kemudian mempunyai seorang puteri yang diberi nama Wan Ceng. Jadi, Wan Ceng itu dengan kalian merupakan saudara-saudara misan tiri, dan karena Kao Cin Liong ini putera Wan Ceng, maka berarti dia adalah masih keponakan luar kalian sendiri.” Kemudian nenek itu memandang kepada Kao Cin Liong dan berkata, “Cin Liong, perkenalkanlah, mereka ini adalah bibimu dan paman-pamanmu. Suma Hui dan Suma Ciang Bun ini adalah putera-puteri dari paman kakekmu Suma Kian Lee, sedangkan Suma Ceng Liong ini adalah putera paman kakekmu Suma Kian Bu.”

Sejak tadi Cin Liong menatap wajah Suma Hui yang masih terbelalak memandangnya, dan diapun cepat menjura dengan hormat,

“Bibi, dan kedua paman kecil, harap maafkan kelancangan saya tadi.”

Suma Hui dan kedua orang adiknya membalas penghormatan itu, dan Suma Hui menjawab gagap, tidak seperti biasanya yang selalu lincah,

“Ah, tidak.... sayalah yang minta maaf....”

“Kao Cin Liong, ceritakanlah keadaanmu, keadaan orang tuamu, dan bagaimana engkau bisa sampai di Pulau Es dau mengapa engkau luka-luka dan apa pula artinya engkau mengatakan terlambat tadi.”

Kakek Suma Han bertanya dengan suaranya yang halus dan tenang. Semua orang mendengarkan dengan penuh perhatian dan semua mata ditujukan kepada pemuda yang ganteng dan gagah perkasa ini. Kao Cin Liong menarik napas panjang dan memejamkan matanya sebentar. Demikian banyaknya peristiwa yang dialaminya sehingga dia harus bercerita panjang. Diapun mulai bercerita.






Siapakah pemuda yang bernama Kao Cin Liong ini? Para pembaca cerita SULING EMAS DAN NAGA SILUMAN tentu telah mengenalnya dengan baik. Seperti telah diceritakan oleh nenek Nirahai tadi, pemuda ini adalah putera tunggal dari Kao Kok Cu dan Wan Ceng. Dan Kao Kok Cu adalah seorang pendekar sakti yang hebat, seorang pendekar yang ditakuti semua orang kang-ouw dengan julukannya Naga Sakti Gurun Pasir! Kao Kok Cu adalah putera mendiang Jenderal Kao yang namanya dikenal oleh seluruh pasukan dan rakyat sebagai seorang jenderal besar yang gagah perkasa dan bijaksana.

Kao Cin Liong sendiri, sejak muda sekali, sejak berusia tujuh belas tahun, telah membuat nama besar dan menjadi jenderal muda di kota raja! Jenderal Muda Kao Cin Liong ini semakin terkenal ketika beberapa kali dia berhasil menundukkan dan membasmi para pemberontak di barat. Agaknya pemuda ini meniru jejak kakeknya, yaitu Jenderal Kao Liang dan ingin menjadi seorang jenderal yang baik. Selain berkedudukan tinggi dan memperoleh kepercayaan Kaisar Kian Liong, juga jenderal muda ini memiliki ilmu silat yang hebat. Dia digembleng oleh ayahnya sendiri, maka tentu saja kepandaiannya hebat.

Akan tetapi, ada suatu hal yang patut disayangkan. Sepuluh tahun yang lalu, jenderal muda ini jatuh cinta kepada seorang dara perkasa yang bernama Bu Ci Sian (baca KISAH SULING EMAS DAN NAGA SILUMAN), namun cintanya bertepuk tangan sebelah.

Sebagai seorang pendekar yang gagah, dia menyadari keadaan ini. Dia mengalah dan mundur, akan tetapi dengan hati nelangsa dan sejak itu dia menjauhi wanita. Ayah bundanya sudah berkali-kali mendesaknya agar dia suka memilih seorang calon isteri, atau mau dicarikan jodoh oleh orang tuanya, namun Cin Liong selalu menolak. Sampai sekarang, dalam usia dua puluh sembilan tahun dan telah memiliki kedudukan tinggi, Kao Cin Liong masih belum juga menikah, bahkan tidak mempunyai seorang selirpun.
Padahal, pada umumnya, orang yang memiliki kedudukan setinggi dia itu, andaikata belum menikah juga, tentu setidaknya sudah mempunyai lima enam orang selir muda yang cantik-cantik! Akan tetapi, biarpun dia memiliki kedudukan tinggi sebagai seorang jenderal, namun jiwanya tetap adalah jiwa seorang pendekar yang tidak menyukai adanya kepincangan-kepincangan dan ketidak-adilan.

Cin Liong tinggal seorang diri di sebuah gedung yang megah di kota raja, dengan beberapa orang pelayan yang bertugas merawat gedungnya. Dia sendiri jarang berada di kota raja, lebih sering dia melakukan pengamatan dan pemeriksaan terhadap kesatuan-kesatuan yang bertugas di luar kota raja, dan jenderal muda ini banyak membantu usaha Kaisar Kian Liong untuk memberantas korupsi dan penyalah gunaan kekuasaan dan wewenang. Banyak sudah para pejabat, terutama di kalangan ketentaraan, yang dipecat dan dituntut oleh Jenderal Muda Kao Cin Liong sehingga namanya makin ditakuti dan disegani. Dia demikian sibuk dengan pekerjaannya sehingga jarang dia berkunjung ke tempat tinggal ayah bundanya yang mendiami Istana Gurun Pasir, jauh di utara, di dekat perbatasan utara.

Kesempatan berkunjung itu tiba ketika dia memperoleh tugas baru. Pada waktu itu Kaisar Kian Liong sudah menduduki tahta selama lima tahun dan sejak hari pertama menjadi kaisar, Kaisar Kian Liong bergerak melakukan pembersihan dan perbaikan-perbaikan.

Akan tetapi, muncullah gangguan berupa pemberontakan di perbatasan barat dan ada berita pula bahwa di utara, di luar Tembok Besar, juga terjadi pergerakan-pergerakan. Karena itu, Jenderal Kao Cin Liong mendapatkan tugas untuk melakukan penyelidikan.
Jenderal muda ini lalu berangkat sendiri, ingin melakukan penyelidikan sendiri sebelum mengambil keputusan mengirim bala tentara untuk melakukan pembersihan.

Berangkatlah dia ke utara, karena dia ingin menyelidiki ke utara lebih dulu sambil mengunjungi orang tuanya, baru kemudian berangkat ke barat. Dengan menunggang seekor kuda yang baik, Cin Liong melakukan perjalanan cepat ke utara. Dia memakai pakaian biasa, karena lebih leluasa baginya untuk melakukan penyelidikan kalau dia menjadi orang biasa. Tanpa halangan suatupun, pada suatu pagi dia tiba di benteng lama di perbatasan utara. Benteng ini telah tua dan rusak, tidak lagi dipakai karena kini pasukan pemerintah telah membangun sebuah benteng baru yang kokoh kuat, di tempat yang lebih baik dan tepat untuk menghadang masuknya pasukan musuh dari luar.

Karena malam telah tiba dan perjalanan dari benteng kuno itu menuju ke Istana Gurun Pasir masih memakan waktu setengah hari, maka Cin Liong berhenti dan mengambil keputusan untuk bermalam di dalam benteng tua itu. Dia menambatkan kudanya di luar, mencarikan rumput untuk kudanya, kemudian dia memasuki bangunan kecil bekas tempat penjagaan di luar benteng itu dan membuat api unggun dari kayu bekas bangunan rusak. Dikeluarkannya ransum bawaannya, yaitu roti kering dan daging kering, dimakannya makanan sederhana ini dengan sebotol arak ringan.

Tiba-tiba Cin Liong menghentikan gerakan mulutnya yang mengunyah makanan. Telinganya mendengar derap kaki kuda yang lemah karena kelelahan. Ada tiga orang penunggang kuda menuju ke benteng tua itu. Tentu pedagang-pedagang yang kemalaman, pikirnya. Derap kaki kuda mereka menunjukkan bahwa mereka telah melakukan perjalanan jauh dan kuda mereka telah lelah. Ternyata tiga orang penunggang kuda itu berhenti di depan bangunan kecil itu pula dan terdengar suara mereka ketika mereka turun dari punggung kuda.

“Eh, ada kuda!”

“Hemm, kuda bagus!”

“Tentu orangnya di dalam. Nah, itu ada asap api unggun.”

“Wah, bau arak pula!”

Pintu bangunan kecil itu mereka dorong dan Cin Liong masih duduk menghadapi api unggun dan makan dengan tenang ketika mereka bertiga itu memasuki ruangan yang kotor itu. Tiga orang kasar yang bertubuh tinggi besar, pakaian merekapun penuh debu dan wajah mereka yang kehitaman karena banyak terbakar matahari itu nampak bahwa mereka sudah biasa dengan kekerasan dan kekasaran.

“Wah, orang muda yang tampan, sungguh berani berada seorang diri di tempat seperti ini!”

“Dan makan minum tanpa menawarkannya kepada kita yang lapar dan haus!”

Mendengar ucapan kedua orang itu, Cin Liong menjawab,
“Kalau kalian lapar dan haus, mari ikutlah makan minum seadanya.”

Akan tetapi orang ke tiga, yang matanya buta sebelah, yaitu tinggal mata kanan saja yang tinggal, melangkah maju dan menghardik,

“Orang muda, jangan berlagak! Hayo kau tanggalkan semua pakaian itu dari tubuhmu, kemudian pergi dari sini, tinggalkan pakaian, buntalan dan kuda, dan jangan banyak cerewet lagi!”

Cin Liong mengerutkan alisnya. Dia tahu bahwa orang ini tidak bergurau, dan kini dua orang yang lain sudah pula menyeringai dan tangan mereka mengusap gagang golok. Sialan, pikirnya, bertemu dengan perampok-perampok rendah.

Dia melanjutkan minum araknya dari botol. Setelah menelan roti dan arak yang berada di dalam mulutnya, dia meletakkan botol arak di depannya, menambah kayu pada api unggun lalu berkata tenang,

“Hemm, kiranya kalian hanya perampok-perampok kecil yang hendak merampok seorang kelana yang kemalaman di sini.”

“Bocah setan! Kau menghina! Kami bukan perampok-perampok kecil, kami bergerak di bidang yang lebih besar. Awas mulutmu!”

“Kalau bukan perampok, mengapa hendak merampok aku?”

“Ha-ha-ha, kami sedang bergembira. Kami tidak mau membunuhmu, hanya menukar nyawa dan badanmu dengan semua pakaian dan kuda yang kau miliki. Hayo, cepat lakukan perintahku atau engkau akan menjadi pengiring arwah keluarga Pulau Es, ha-ha-ha!”

Tentu saja Cin Liong terkejut dan heran sekali mendengar disebutnya keluarga Pulau Es.

“Hemm, apa maksudmu membawa-bawa nama keluarga Pulau Es dalam urusan ini?” tanyanya, sikapnya tetap tenang.

“Ha-ha-ha, itulah mengapa kami bergembira dan hendak merayakannya malam ini! Kami akan membasmi keluarga Pulau Es, kemudian keluarga Gurun Pasir, dan semua tokoh pendekar akan kami basmi, dan kami akan merajai dunia kembali, akan bebas dari gangguan mereka. Ha-ha-ha!”

Cin Liong menjadi semakin heran, akan tetapi dia mengira bahwa tentu orang-orang ini sudah mabok, maka diapun lalu berkata sebal,

“Sudahlah, kalian ini agaknya orang-orang gila. Pergilah dan jangan menggangguku lagi!”

“Hei, bocah lancang mulut! Berani kau memaki kami gila? Engkau sudah bosan hidup, ya?”

Kisah Para Pendekar Pulau Es







Tidak ada komentar:

Posting Komentar