FB

FB

Ads

Jumat, 31 Juli 2015

Suling Emas & Naga Siluman Jilid 109

Kao Kok Cu menarik napas panjang. Tugas yang dipikulnya bersama isteri dan puteranya itu sungguh bukan merupakan tugas yang enak di hati. Sudah menjadi peraturan umum yang tak tertulis di dunia kang-ouw bahwa orang yang telah dapat menguasai sebuah benda dengan mengandalkan ilmu kepandaiannya, maka dia pun berhak menjadi pemilik benda itu. Akan tetapi, betapapun juga, dia dan isterinya hanya membela puteranya yang mengabdi kepada Kaisar.

“Cu-taihiap, tiada lain kedatangan kami ini adalah untuk bicara dengan keluarga Cu tentang pedang Koai-liong-pokiam!”

Pada wajah Cun Han Bu dan Cu Seng Bu tidak nampak perobahan sesuatu, hanya Cu Pek In yang memandang dengan alis berkerut tanda bahwa hati dara ini merasa tidak senang.

Cu Han Bu memandang tajam dan berkata,
“Apakah Naga Sakti Gurun Pasir termasuk orang-orang yang hendak memperebutkan pedang pusaka itu seperti dilakukan oleh sekelompok orang kang-ouw beberapa tahun yang lalu?”

Pertanyaan ini merupakan serangan atau ejekan yang membuat Kao Kok Cu merasa agak bingung. Akan tetapi dia ditolong oleh puteranya.

Dengan suara lantang dan tegas Kao Cin Liong berkata,
“Hendaknya Cu-lo-enghiong ketahui bahwa kami datang bukan atas nama pribadi, melainkan atas perintah Sri Baginda Kaisar. Saya adalah seorang panglima yang diutus oleh Kaisar untuk menemukan kembali pedang Koai-Liong-pokiam yang telah lenyap dicuri orang dari gedung pusaka istana beberapa tahun yang lalu. Dan Ayah Bunda saya hanya menemani saya dalam tugas ini.”

Ucapan itu tegas dan jelas. Dua orang saudara Cu itu saling pandang, dan sejenak mereka tidak dapat menjawab. Menghadapi orang-orang kang-ouw, mereka memang tidak usah merasa malu dan sungkan akan kenyataannya bahwa pedang itu dicuri oleh keluarga mereka, akan tetapi menghadapi utusan Kaisar lain lagi soalnya! Mereka bukan hanya dapat dituduh pencuri hina, akan tetapi bahkan juga sebagai pemberontak! Kalau jenderal muda ini datang bersama pasukan besar, tentu mereka tidak dapat melawan dan terpaksa melarikan diri. Akan tetapi jenderal muda itu datang tanpa pasukan, hanya ditemani ayah bundanya, hal ini berarti bahwa mereka datang sebagai orang-orang gagah yang mengandalkan kepandaian sendiri, walaupun sebagai utusan Kaisar.

Dari kedatangan orang gagah yang hendak merampas kembali pedang pusaka harus dihadapi dengan kegagahan pula, dengan kepandaian! Agaknya hal ini sudah diperhitungkan oleh jenderal muda itu, dan oleh karena itulah dia datang bersama ayah dan ibunya yang sakti.






Cu Han Bu mengangguk-angguk lalu berkata,
“Tidak kami sangkal lagi bahwa pencuri pedang dari dalam gudang pusaka adalah seorang di antara keluarga kami. Akan tetapi hal itu hendaknya tidak dianggap sebagai pencurian, melainkan sebagai hak kami untuk mengambil kembali pedang pusaka keluarga kami yang hilang. Pedang itu adalah buatan nenek moyang kami dan kami yang berhak atas pedang itu! Jadi, kami tidak merasa mencuri dari istana”

“Hemm, kami tidak tahu dari mana asal pedang itu. Yang kami ketahui hanyalah bahwa pedang Koai-liong-pokiam itu berada di dalam gudang pusaka istana sebagai satu di antara benda-benda pusaka kerajaan. Tentang asal mulanya, seperti juga asal mula semua benda pusaka di istana, kami tidak tahu. Kenyataannya adalah bahwa pedang itu dicuri dari dalam gudang pusaka, dan untuk itulah kami datang, sebagai utusan Kaisar untuk mengambil kembali pedang itu. Kami harap keluarga Cu sadar akan hal ini dan suka mengembalikan pedang itu kepada kami, agar memudahkan tugas kami sebagai utusan Kaisar.”

Jelaslah bahwa Cin Liong selalu mempergunakan nama Kaisar sebagai kesan bahwa dia sama sekali tidak berniat mencampuri urusan pedang pusaka dan hanya bertindak sebagai utusan, bukan mencampuri permusuhan atas nama pribadi. Dan ayahnya setuju dengan sikap puteranya, walaupun ibunya, Wan Ceng, bersungut-sungut dan menganggap puteranya itu terlalu merendahkan diri!

“Pedang itu kini tidak ada pada kami lagi.” kata Cu Han Bu dengan suara tenang.

Cin Liong memandang tajam penuh selidik dan panghuni lembah itu harus mengakui bahwa sinar mata pemuda itu membuat bulu tengkuknya meremang karena sepasang mata itu amat tajam dan mencorong.

“Cu-lo-enghiong, banyak tokoh kang-ouw menjadi saksi bahwa keluarga Cu mendapatkan pedang itu dari Yeti dan bahwa pencurinya dari istana adalah Cui-beng Sian-li yang menjadi keluarga di sini. Kalau pedang itu kini tidak ada pada keluarga Cu, lalu berada di mana?”

Cu Han Bu bangkit berdiri, alisnya berkerut.
“Orang muda, engkau terlalu mendesak!”

Cin Liong juga bangkit berdiri, sikapnya gagah.
“Lo-enghiong, saya adalah utusan Kaisar, harap engkau orang tua tidak menyembunyikan di mana pedang itu kini.”

“Kalau aku tidak mau memberi tahu?”

“Kami akan menganggap bahwa engkau yang menyembunyikan pedang itu!”

“Hemm, pedang itu didapat dengan mengandalkan kepandaian dan karena pedang itu adalah milik keluarga kami, maka bagaimanapun juga harus kami pertahankan. Tapi, kami tidak ingin memberontak terhadap pemerintah. Nah, keluarga Kao, kami hanya mau memberitahukan di mana pedang itu sekarang berada....”

“Ayah....!”

Pek In berseru akan tetapi ayahnya memberi isyarat dengan tangan agar puterinya itu duduk kembali yang segera ditaati oleh Pek In, akan tetapi dengan wajah penuh kekhawatiran.

“Untuk mendapatkan keterangan dari kami, Sam-wi harus dapat mengalahkan dulu keluarga Cu!”

“Bagus! Kenapa tidak dari tadi bicara begitu? Berliku-liku bukan sikap orang gagah!” bentak Wan Ceng yang sudah bangkit berdiri.

Akan tetapi Kao Kok Cu bersikap tenang dan menyentuh lengan isterinya untuk menyabarkannya. Kemudian dia menghadapi Cu Han Bu dan suaranya terdengar tenang, sedikit pun tidak dipengaruhi amarah, namun terdengar penuh wibawa,

“Saudara Cu Han Bu telah menyatakan kehendaknya. Kita bukan anak-anak kecil, juga bukan orang-orang yang suka mencari permusuhan. Kami datang untuk menemukan kembali pedang pusaka istana, dan Saudara Cu agaknya hendak mempertahankan pedang itu atau segan memberitahu di mana adanya pedang itu tanpa lebih dulu ditebus dengan adu ilmu. Nah, bagaimana syarat yang diajukan oleh kalian sebagai pihak tuan rumah?”

Cu Han Bu bersikap hati-hati sekali. Ketenangan Naga Sakti Gurun Pasir itu sedikit banyak mendatangkan rasa jerih di dalam hatinya, karena dia maklum bahwa seperti itulah sikap seorang pendekar sejati yang tidak ragu-ragu lagi akan kekuatan diri sendiri dan selalu bersikap tenang dalam menghadapi apa pun juga, tidak lagi dapat dipengaruhi oleh rasa marah, rasa takut atau lain perasaan lagi, kokoh kuat seperti batu karang, di tengah laut.

“Di pihak keluarga kami pada saat ini hanya ada saya dan Adik Cu Seng Bu kami berdua, akan maju mewakili keluarga kami untuk menghadapi pihak utusan Kaisar.” kata Cu Han Bu, sengaja menggunakan sebutan utusan “Kaisar” untuk menekankan bahwa mereka tidak menganggap keluarga Naga Sakti Gurun Pasir sebagai musuh-musuh pribadi.

“Hemm, dua lawan dua, itu sudah adil.” kata Cin Liong. “Saya dan Ayah akan maju menghadapi kalian. Akan tetapi bagaimana kalau di antara dua orang yang seorang kalah dan seorang lagi menang?”

“Yang menang akan saling berhadapan, sampai ada yang kalah.” sambung Cu Han Bu, tenang.

“Bagaimana kalau kami kalah?” tanya lagi Cin Liong.

Cu Han Bu tersenyum.
“Kami tidak terlalu mengharapkan itu. Akan tetapi kalau pihak kami menang, kalian harus pergi dari sini dan bersumpah tidak akan mengganggu kami lagi dalam urusan pedang.”

“Tapi itu berarti mengabaikan perintah Kaisar!” Cin Liong berseru.

“Terserah! Tapi itulah perjanjian dalam adu ilmu ini, tentu saja kalau pihak kalian tidak keberatan.”

Cin Liong mengepal tinju. Kata “keberatan” itu sama dengan “takut”!
“Baik.” jawabnya.

“Kalau kami kalah, kami akan pergi dan kami bersumpah tidak akan mengganggu kalian dalam urusan pedang, dan aku akan mengundurkan diri dari kedudukanku di istana karena berarti tidak mampu melaksanakan perintah Kaisar!”

“Cin Liong....!” Wan Ceng berseru kaget, akan tetapi suaminya kembali menyentuh lengannya.

“Ucapan Liong-ji cukup tepat sebagai seorang gagah.” katanya tenang.

“Dan bagaimana kalau kalian yang kalah?” Cin Liong kini balas mendesak.

Cu Han Bu tidak tersenyum, melainkan memandang tajam.
“Kalau kami yang kalah, kami akan memberitahukan di mana adanya pedang itu dan di samping itu, kami berdua akan menggunduli kepala dan menghabiskan sisa hidup sebagai hwesio dan mengasingkan diri.”

“Ayah....!” Pek In berseru kaget, mukanya pucat.

“Pek In, seorang laki-laki harus mempunyai harga diri. Jenderal Muda Kao telah mempertaruhkan kedudukannya yang tinggi, maka keputusan itu patut dihormati dan diimbangi dengan keputusan kami mempertaruhkan keputusan kami pula. Dan, kalah dalam tangan keluarga Naga Sakti Gurun Pasir merupakan kekalahan terhormat. Keputusanku tidak dapat dirubah pula.”

“Aku setuju dengan keputusan yang diambil Bu-twako.” sambung Cu Seng Bu yang memang sebelum mereka menghadapi keluarga Naga Sakti Gurun Pasir itu telah berunding dengan kakaknya dan keduanya mengambil keputusan ini.

“Baik sekali. Nah, kita boleh mulai” kata Kao Kok Cu dengan tenang dan dia pun bangkit berdiri, siap untuk bertanding.

Akan tetapi Cin Liong sudah maju ke depan ayahnya.
“Tidak, Ayah. Biarkan aku maju lebih dulu.”

Melihat ini, Kao Kok Cu tersenyum dan duduk kembali. Dia percaya penuh kepada puteranya yang telah mewarisi sebagian besar dari ilmu-ilmunya dan dia tahu bahwa biarpun masih muda, namun Cin Liong bukan orang yang sembrono, bahkan sudah banyak pengalamannya dalam menghadapi lawan yang pandai ketika menjalankan tugas-tugas sebagai seorang panglima perang.

Kao Cin Liong sudah melangkah maju ke tengah ruangan di mana telah menanti Cu Seng Bu yang maju lebih dulu mewakili keluarga Cu. Cu Seng Bu berdiri tegak dan menatap calon lawannya itu dengan penuh perhatian pemuda itu masih muda sekali, paling banyak sembilan belas tahun atau dua puluh tahun usianya, dia berpikir. Biarpun pemuda itu putera tunggal Naga Sakti Gurun Pasir, akan tetapi dalam usia semuda itu, mana mungkin memiliki ilmu kepandaian yang sangat tinggi? Rasanya mustahil kalau dia sampai kalah oleh seorang yang baru saja dewasa. Akan tetapi dia tidak berani memandang rendah.

Sim Hong Bu, muridnya dan murid kakaknya juga sebaya dengan pemuda ini, dan dia tahu bahwa tingkat kepandaian Sim Hong Bu, akan melampaui dia kalau pemuda itu sudah dapat menguasai Koat-liong Kiam-sut secara sempurna.

Cu Seng Bu berjuluk Bu-eng-sian (Dewa Tanpa Bayangan). Julukan ini saja sudah menunjukkan bahwa dia tentu seorang ahli gin-kang yang hebat, sehingga saking cepatnya dia bergerak, saking ringan tubuhnya, maka dia mendapat julukan itu, karena seolah-olah dia dapat berkelebat tanpa nampak bayangannya saking cepatnya. Oleh karena itu, dia menanti datangnya Cin Liong tanpa mencabut pedangnya, karena dia percaya bahwa dengan kecepatan gerakannya, dia akan mampu mengalahkan pemuda itu.

Kini mereka sudah berdiri, saling berhadapan dengan sinar mata saling pandang, saling menilai dan menyelidik.

“Kao-goanswe, kau majulah!” Cu Seng Bu menantang.

“Engkau adalah tamu, maka silakan mulai lebih dahulu!”

Cin Liong tersenyum. Dia tahu bahwa dalam ilmu silat yang sudah tinggi tingkatnya, siapa maju menyerang lebih dulu berada di pihak yang lebih lemah.

“Cu-lo-enghiong, pihakmulah yang menantang, maka silakan mulai leblh dulu, aku menanti,” katanya.

Suling Emas & Naga Siluman