FB

FB

Ads

Jumat, 31 Juli 2015

Suling Emas & Naga Siluman Jilid 103

“Hamba bersumpah....” akan tetapi dia tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena bibir pangeran itu telah menutup mulutnya dalam sebuah ciuman yang mesra dan penuh kasih sayang.

Dalam dorongan gairah asmara yang bergelora, dibangkitkan oleh rasa terima kasih, gadis itu hanya merintih dan membalas ciuman itu dan merangkulkan kedua lengannya pada leher Sang Pangeran.

“Pemberontak, kalian hendak lari. kemana?”

Bentakan ini tentu saja membuat mereka terkejut, melepaskan ciuman dan rangkulan masing-masing dan Li Hwa sudah mencabut pedangnya. Sesosok bayangan orang yang tinggi besar telah berada di situ, berdiri bertolak pinggang dengan sikap mengejek.

Pangeran Kian Liong yang mengira bahwa orang itu tentu seorang di antara para penjaga pintu gerbang istana, menjadi marah.

“Hemm, manusia lancang. Tidak tahukah engkau dengan siapa engkau berhadapan?”

Akan tetapi, sikap dan jawaban orang itu sungguh mengejutkan hati Sang Pangeran. Orang itu tertawa bergelak,

“Hoa-ha-ha-ha-ha, tentu saja aku tahu. Engkau adalah Pangeran yang mengkhianati Kaisar, membantu pembunuh melarikan diri!”

“Eh, siapa engkau? Dan mau apa kau?”

Pangeran membentak, wajahnya berobah agak pucat karena dia maklum bahwa ada terjadi sesuatu yang luar biasa dan yang mengancam keselamatannya, terutama sekali keselamatan Li Hwa.

“Aku? Ha-ha, aku adalah orang yang hendak menangkap kalian, mati atau hidup!” Setelah berkata demikian, dengan langkah lebar orang tinggi besar ini bergerak maju.

Melihat ini, Li Hwa yang sudah memegang pedang di tangan kanannya itu cepat menerjang, mendahului orang yang mengancam keselamatan Pangeran Kian Liong. Gerakannya cepat dan ganas sekali karena dara ini sudah menjadi marah dan nekat. Kalau orang ini hendak mencelakai Sang Pangeran, biarlah dia mengadu nyawa! Maka, seluruh kekuatan dan kepandaiannya dikerahkan dalam serangan-serangannya tanpa mempedulikan bagian pertahanan lagi.






Akan tetapi, orang tinggi besar itu hanya tertawa dan dengan lengan dan tangan kosong dia menangkis pedang nona itu.

“Trakkk!”

Sekali tangkis, pedang di tangan gadis itu patah menjadi dua seperti bertemu dengan benda yang luar biasa kerasnya! Li Hwa terkejut bukan main, akan tetapi dia tidak mundur sama sekali.

“Keparat, jangan kau berani mengganggu Pangeran!” bentaknya dan dengan pedang buntung itu dia menerjang lagi, pedang buntungnya membacok dan tangan kirinya mengirim pukulan ke arah pusar lawan, gerakannya amat ganas.

“Bresss....!”

Orang tinggi besar itu memapaki dengan tendangan tanpa mempedulikan serangan gadis itu yang ketika bertemu dengan tubuhnya yang kebal seperti menyerang orang-orangan dari karet yang amat kuat saja sedangkan tendangan itu membuat tubuh Li Hwa terjengkang dan terbanting sampai berguling-gulingan.

“Li Hwa....!” Pangeran Kian Liong lari menghampiri dan berlutut, merangkul dara itu.

“Hamba tidak apa-apa, Pangeran. Paduka menyingkirlah, biar hamba mengadu nyawa dengan keparat ini!”

Li Hwa bangkit lagi akan tetapi dia dirangkul oleh Pangeran Kian Liong. Melihat ini, orang tinggi besar itu tertawa.

“Biarlah kami menyerah, engkau boleh menangkap kami dan kami tidak akan melawan” kata Pangeran itu yang merasa khawatir kalau-kalau gadis yang dicintanya itu akan terluka atau tewas di tangan orang yang lihai itu.

“Ha-ha-ha, sungguh lucu! Pangeran Mahkota berpacaran dengan perempuan pemberontak, yang berusaha membunuh Kaisar, ayahnya sendiri. Ha-ha, sayang sekali, Pangeran, perintah yang kuterima adalah menangkap kalian dalam keadaan tidak bernyawa lagi. Bersiaplah kalian untuk mati bersama, mati yang mesra, ha-ha-ha!”

Orang tinggi besar itu menerjang maju. Pangeran Kian Liong dan Li Hwa yang maklum akan kesaktian orang itu, hanya menanti datangnya pukulan maut tanpa mampu membela diri lagi.

“Desss....!”

Tubuh orang tinggi besar itu terhuyung ke belakang dan dia terbelalak mencoba menembus kegelapan malam dalam pandang matanya ketika dia melihat seorang laki-laki yang berlengan satu sudah berdiri di situ dan laki-laki itulah yang tadi menangkisnya!

“Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir....” Orang tinggi besar itu tergagap.

“Hemm, Sam-ok, keberanianmu melewati batas!” kata orang berlengan satu itu yang bukan lain adalah Kao Kok Cu.

Kiranya orang tinggi besar yang lihai itu adalah Sam-ok Ban Hwa Sengjin maka pantas saja Li Hwa sama sekali tidak berdaya menghadapi datuk kaum sesat yang sakti ini. Karena usahanya digagalkan, biarpun dia tahu akan kesaktian Si Naga Sakti, Sam-ok menjadi nekat dan rasa penasaran membuat dia lupa diri! Tubuhnya sudah membuat gerakan berpusing cepat dan dia sudah mainkan ilmunya yang amat diandalkan, yaitu ilmu Silat Thian-te Hong-i (Badai Mengamuk Langit Bumi), dan sambil berpusing, tubuhnya yang lenyap menjadi bayangan berpusing cepat itu telah meluncur ke arah Si Naga Sakti.

Kao Kok Cu adalah seorang yang memiliki tingkat kepandaian tinggi sekali, maka melihat gerakan lawan ini dia bersikap tenang-tenang saja dan hanya berloncatan ke kanan kiri untuk menghindar setiap kali dari bayangan berpusing itu mencuat sinar yang merupakan serangan-serangan tangan atau kaki yang amat berbahaya dari Sam-ok.

Sementara itu, melihat munculnya pendekar sakti itu yang menolongnya, hati Pangeran Kian Liong menjadi lega dan dia lalu rnendekap Li Hwa, menciumnya satu kali dan berkata,

“Li Hwa, cepat kau pergilah dari sini. Ingat, pergunakan cincin dan surat!”

Li Hwa terisak,
“Pangeran.... selamat tinggal....”

“Jangan lupa pesanku, Li Hwa.”

Gadis itu lalu meloncat dan melarikan diri kedalam kegelapan malam, menuju ke pintu gerbang kota raja sebelah selatan dengan cincin dan surat itu, tentu saja dia akan dengan mudah keluar dari kota raja, karena di dalam surat itu Sang Pangeran memerintahkan agar gadis itu dilindungi dan siapa yang berani membangkang terhadap perintah gadis itu berarti membangkang terhadap perintahnya dan si pembangkan akan dihukum berat!

Sungguh terjadi perobahan besar sekali atas batin Li Hwa. Kalau tadi ketika dia memasuki istana dia merupakan seorang gadis yang penuh semangat permusuhan, penuh kebencian dan dendam terhadap Kaisar, kini dia meninggalkan kota raja dengan hati seperti tertinggal di istana penuh keharuan, kekaguman dan juga cinta kasih terhadap Pangeran Kian Liong, juga kedukaan bahwa dia harus berpisah dari Pangeran yang amat dikaguminya itu. Dia masih merasa putus asa untuk dapat berjumpa kembali dengan Pangeran yang dicintanya itu, sama sekali dia tidak pernah mengira bahwa kelak dialah yang menjadi selir paling terkasih di antara para selir Pangeran Kian Liong setelah Pangeran itu menjadi Kaisar yang amat berkuasa kelak!

Sementara itu pertandingan antara Kao Kok Cu melawan Sam-ok tidak berjalan lama. Baru belasan jurus saja sudah dua kali tubuh Sam-ok terpental sampai jauh dan biarpun dia tidak mengalami luka parah, namun dadanya terasa sesak setiap kali dia bertemu tangan dengan pendekar sakti itu dan akhirnya Sam-ok lalu melompat dan melarikan diri karena kalau sampai datang pasukan pengawal, tentu dia akan celaka. Kao Kok Cu tidak mengejar, melainkan berkata kepada Pangeran Kian Liong dengan tenang,

“Sebaiknya Paduka kembali ke dalam istana.”

“Kembali engkau telah menyelamatkan aku, Paman.” jawab Pangeran Kian Liong yang lalu menambahkan, “Harap Paman menyimpan rahasia tentang apa yang Paman lihat pada malam hari ini.”

Kao Kok Cu mengangguk, mengerti bahwa yang dimaksudkan tentulah rahasia Pangeran itu yang mengenal diri gadis Siauw-lim-pai itu. Dia lalu mengawal Sang Pangeran kembali ke istana, disambut oleh Wan Ceng, Wan Tek Hoat, dan Syanti Dewi. Lima orang ini bercakap-cakap dan Wan Tek Hoat yang pernah mengintai keadaan Im-kan Ngo-ok, menceritakan bahwa Im-kan Ngo-ok adalah tokoh-tokoh yang diperalat oleh Sam-thaihouw, demikian pula murid-murid Im-kan Ngo-ok, yaitu Su-bi Mo-li.

Pangeran Kian Liong yang sudah menduga akan hal ini, diam-diam marah sekali dan mengambil keputusan untuk tidak mendiamkan saja sepak terjang Sam-thaihouw yang amat membahayakan ayahnya itu.

Pada keesokan harinya, setelah matahari naik tinggi, setelah menanti sampai lama, dua pasang suami isteri pendekar itu dipersilakan memasuki ruangan makan pagi seperti yang dikehendaki oleh Kaisar, yaitu mereka diundang untuk makan pagi bersama Kaisar untuk bercakap-cakap. Dalam pertemuan ini hadir pula Pangeran Kian Liong yang sekalian membuat laporan kepada Kaisar tentang perjalanan ke Pulau Kim-coa-to.

Akan tetapi, Kaisar agaknya hanya setengah hati mendengarkan laporan puteranya dan pandang matanya lebih banyak ditujukan kepada Syanti Dewi yang lebih sering menundukkan mukanya. Wan Tek Hoat, Wan Ceng dan Kao Kok Cu, juga Sang Pangeran sendiri, dengan mudah dapat menduga bahwa Kaisar yang terkenal mata keranjang itu mulai tertarik oleh kecantikan Syanti Dewi yang memang luar biasa itu.

“Kami mendengar bahwa Anda memiliki ilmu silat amat lihai,” dalam suatu kesempatan Kaisar berkata, ditujukan kepada Syanti Dewi. “Timbul keinginan hati kami untuk menyaksikan bagaimana seorang puteri yang demikian halus dan cantik, lemah lembut seperti Anda pandai main silat. Maka, hendaknya Anda suka memperlihatkan ilmu pedang Anda untuk membuka mata kami yang selalu haus untuk mengagumi ilmu silat yang baik.”

Semua orang diam-diam terkejut mendengar ini. Ini namanya sudah keterluan. Biarpun dia seorang kaisar, akan tetapi yang diperintahnya adalah tamu, dan seorang wanita yang baru saja menikah pula. Mana mungkin Kaisar memerintah orang yang bukan menjadi pengawal atau anak buahnya begitu saja, apalagi kalau orang itu seorang wanita seperti Syanti Dewi dan perintahnya untuk bermain silat lagi?

Syanti Dewi dengan sikap tenang lalu menjura.
“Harap Paduka sudi mengampunkan hamba. Hamba hanya belajar sedikit, mana berani hamba memperlihatkan kejelekan di hadapan Paduka?”

“Aih, Anda terlalu merendahkan diri. Kami sendiri telah mendengar desas-desus, bahwa dewi dari Kim-coa-to selain cantik jelita seperti bidadari juga memiliki ilmu silat yang amat tinggi, yang sukar dicari bandingannya. Kecantikan seperti bidadari itu telah kami buktikan dan malah melebihi desas-desus itu kenyataannya, hanya ilmu silat itu belum
kami saksikan. Harap Anda jangan menolak, demi untuk menggembirakan suasana pagi ini.”

Kaisar mendesak sambil tersenyum dengan sikap ceriwis, tanpa sungkan sedikitpun juga sungguhpun di situ hadir suami puteri itu, hadir pula puteranya dan suami isteri pendekar yang selama ini amat dikaguminya.

Syanti Dewi melirik ke arah suaminya, akan tetapi Tek Hoat duduk dengan tenang-tenang saja, jelas bahwa suaminya tidak hendak mencampuri dan menyerahkan Si Isteri untuk mengambil keputusan sendiri bagaimana cara menghadapi permintaan Kaisar itu.

Akan tetapi pada saat itu, terdengar pemberitahuan dari pengawal yang berseru dengan suara lantang,

“Yang Mulia Sam-thaihouw berkenan menghadap Sri Baginda Kaisar!”

Kaisar menoleh dan mengerutkan alisnya karena merasa terganggu, akan tetapi sebelum dia membantah, dan kiranya belum tentu Kaisar berani membantah kalau ibu suri ke tiga itu muncul, Sang Ibu Suri sudah memasuki ruangan itu dari pintu. Seorang nenek yang masih nampak jelas bekas-bekas kecantikannya, dengan muka yang dirias tebal, rambut yang ditambah dengan cemara tebal dan hitam digelung rapi, pakaian yang mewah sekali dan begitu dia muncul tercium bau semerbak wangi yang amat mencolok hidung. Tentu ada setengah botol minyak wangi yang dihamburkan di atas pakaian dan tubuhnya.

Setelah menghampiri meja itu, Sam-thaihouw menjura ke arah Kaisar dan untuk menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang tahu aturan, Kaisar juga bangkit berdiri dan membalas penghormatan orang yang menjadi Ibu tirinya itu.

“Semoga Thian memberkahi Sri Baginda!” kata Sam-thaihouw.
“Semoga Ibu selalu dalam keadaan sehat.” balas Sri Baginda Kaisar.

Suling Emas & Naga Siluman