FB

FB

Ads

Minggu, 26 Juli 2015

Suling Emas & Naga Siluman Jilid 087

“Paduka sudah pulih kembali sekarang, Pangeran.”

Pangeran Kian Liong memandang penuh perhatian, lalu menoleh ke kanan kiri, melihat empat orang wanita itu dan mengerutkan alisnya.

“Ah, apa yang terjadi? Bukankah tadi terjadi pibu di sini? Mana mereka yang telah menculikku tadi?”

“Mereka telah kami usir pergi, Pangeran. Paduka telah selamat.”

Sang Pangeran teringat dan mengangguk-angguk.
“Benar, kulihat tadi engkau mengalahkan dua orang tinggi dan pendek itu. Aih, engkau hebat sekali, dan mereka ini.... wanita-wanita yang perkasa. Siapakah Paman yang perkasa ini?”

Bu-taihiap menjura dengan dalam, dan tiga orang isterinya ikut pula menjura, termasuk pula Siok Lan.

“Kami sekeluarga menghaturkan selamat bahwa Paduka telah lolos dari bencana, Pangeran. Hamba adalah Bu Seng Kin dan mereka ini adalah keluarga hamba....“ Bu-taihiap merasa sungkan sekali, akan tetapi melanjutkan juga, “mereka ini adalah isteri-isteri hamba dan ini adalah puteri hamba.”

Dia lalu memperkenalkan nama isteri-isterinya dan juga nama puterinya. Bu Siok Lan dan tiga orang wanita itu memberi hormat.

“Hebat, sebuah keluarga yang hebat, ayah ibu-ibu dan anak memiliki kepandaian silat yang tangguh....“ Sang Pangeran memuji.

Pada saat itu, datanglah rombongan pasukan yang dipimpin oleh Komandan Souw Kee An sendiri. Melihat Sang Pangeran berada dalam keadaan selamat, komandan pengawal itu tentu saja merasa girang sekali dan cepat dia menjatuhkan diri berlutut.

“Hamba mohon maaf telah gagal dan terlambat menyelamatkan Paduka, akan tetapi terima kasih kepada Thian bahwa Paduka dalam keadaan selamat.”

Pangeran Kian Liong tersenyum dan dengan tangannya dia memberi isyarat kepada komandan itu untuk bangun.

“Souw-ciangkun, kalau kita perlu mengucapkan terima kasih, maka kita harus berterima kasih kepada keluarga Paman Bu Seng Kin ini, karena mereka inilah yang telah menyelamatkan aku dari tangan para penculik itu!”

Souw Kee An terkejut dan memandang kepada pendekar itu dan keluarganya, kemudian dia bangkit menjura kepada Bu Seng Kin.






“Bu-taihiap, terimalah hormat dan terima kasih kami atas budi pertolongan Bu-taihiap yang telah menyelamatkan Pangeran.”

Souw Kee An mengucapkan pernyataan terima kasih itu dengan setulusnya, karena pertolongan itu sama artinya dengan menyelamatkan dirinya sendiri, karena kalau pangeran mahkota yang sedang dikawalnya itu sampai celaka, sama saja dengan dia sendiri yang celaka. Sebagai komandan pengawal, maka dialah yang bertanggung jawab atas keselamatan Sang Pangeran. Akan tetapi Bu-taihiap hanya tersenyum dan balas menjura kepada komandan itu, kemudian Bu-taihiap berkata kepada Pangeran Kian Liong,
“Pangeran, hamba kira ucapan Souw-ciangkun ini tepat, yaitu bahwa kita harus berterima kasih kepada Thian saja. Betapapun juga, tanpa adanya Tuhan dan kekuasaan-Nya, tak mungkin hamba dapat menyelamatkan Paduka”.

Sang Pangeran tersenyum dan tidak menjawab kata-kata ini, hanya mempersilakan Bu-taihiap dan keluarganya untuk ikut bersama dia ke tempat pemberhentian di pantai, di mana Souw-ciangkun telah menyediakan tempat bagi Pangeran untuk beristirahat sebelum melanjutkan pelayaran, setelah terjadi peristiwa yang mengkhawatirkan itu.

Kini, tanpa pengawalan ketat tentu saja dia tidak berani membiarkan Sang Pangeran berlayar ke Kim-coa-to. Bu-taihiap tidak dapat menolak dan bersama keluarganya mereka pun ikut dengan rombongan itu, kembali ke pantai laut tempat penyeberangan ke Kim-coa-to.

Ucapan dari Bu Seng Kin dan juga Souw Kee An itu seolah-olah menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang rendah hati dan selalu ingat akan Tuhan, maka dalam segala hal mereka berterima kasih dan mengucap syukur atas kemurahan Tuhan. Hal ini amat menarik sekali karena hampir setiap manusia di dunia ini menyebut-nyebut nama Tuhan dalam bahasa masing-masing, ditujukan kepada Sesuatu yang Maha Kuasa.

Manusia agaknya merupakan satu-satunya mahluk yang memiliki otak yang mampu dipergunakan untuk memikirkan hal-hal yang jauh lebih mendalam daripada apa yang dapat ditangkap oleh panca indera, memiliki akal budi dan daya ingatan yang luar biasa.
Dengan kemampuan ini agaknya, manusia menyadari bahwa ada terdapat kemujizatan, keajaiban, kekuasaan yang teramat tinggi dan luas, yang tidak dapat terjangkau oleh alam pikirannya, kekuasaan yang menggerakkan matahari dan bulan, dunia dan bintang-bintang, yang memberi kehidupan kepada segala benda, baik yang bergerak maupun yang tidak. Manusia dengan akal budi dan pikirannya menyadari bahwa memang sungguh ADA SESUATU yang lebih berkuasa daripada diri-nya, yang berkuasa atas mati hidup-nya, atas segala benda. Inilah agaknya yang mengawali pemujaan terhadap sesuatu itu, dengan segala macam sebutan menurut bahasa dan jalan pikiran masing-masing, yang kemudian menjadi kepercayaan turun-temurun, menjadi agama. Yang Sesuatu itu masih tetap ada dan menjadi pusat kepercayaan, disebut dengan berbagai nama, Tuhan, Thian dan sebagainya menurut bahasa dan adat istiadat atau tradisi atau agama masing-masing.

Sebutan Tuhan inilah yang membuat manusia merasa bahwa dia ber-Tuhan! Akan tetapi, apakah artinya ber-Tuhan itu? Apakah kalau kita sudah mempersiapkan di bibir selalu sebutan Tuhan itu, apakah kalau kita sudah MENGAKU bahwa kita percaya, lalu kita sudah boleh ber-Tuhan?

Nama dan sebutan itu hanyalah permainan bibir belaka. Nama dan sebutan itu jelas BUKAN yang dinamakan atau disebutkan itu. Namun pada kenyataannya, kita lebih mementingkan nama dan sebutan ini! Kita lebih mementingkan gerak bibir yang menyebut atau menamakan itu!

Oleh karena itulah maka kita mengukur seseorang itu ber-Tuhan atau tidak hanya dari pengakuan bibirnya. Kita mengagungkan sebutannya belaka sehingga untuk mempertahankan itu, kalau perlu kita saling serang, saling bunuh! Sebutannya itu telah menjadi terlalu muluk dan terlalu berharga, karena sebutan itu menjadi milik si-Aku.

Tuhan-Ku! Sama saja seperti keluarga-Ku harta-Ku, bangsa-Ku, dan sebagainya. Di situ unsur AKU yang penting, yang lainnya itu hanya sebutan yang melekat kepada si-Aku, mengikat si-Aku, maka dipentingkan. Jangan merendahkan Tuhan-Ku. Tuhan orang lain sih terserah. Jangan mengganggu keluarga-Ku, keluarga orang lain masa bodoh. Jangan
menghina bangsa-Ku. Bangsa orang lain sesukamulah! Dan demikian selanjutnya.

Mengapa kita terkecoh dan terbuai oleh sebutan? Apakah bukti iman itu terletak pada bibir dan lidah? Sedemikian mudahnya mulut kita menyebut-nyebut Tuhan sehingga semudah itu pula kita melupakan Sesuatu Yang Maha Kuasa yang kita sebut Tuhan itu!
Melupakan intinya. Akibatnya, kita hanya ingat kepada sebutan itu saja, yakni sewaktu kita membutuhkannya, dalam marabahaya, dalam sengsara, dan sebagainya. Sebaliknya, dalam mengejar kesenangan kita melakukan segala hal tanpa mengingat sebutan itu sama sekali. Baru setelah terjadi akibat daripada mengejar kesenangan itu yang menyusahkan kita, kita menyesal dan kembali teringat kepada sebutan itu.

Mengapa demikian? Mengapa begitu mudahnya kita mengaku bahwa kita ini ber-Tuhan?
Dengan dada penuh terisi kebencian, permusuhan, iri hati, keserakahan, pementingan diri sendiri, mungkinkah kita menjadi manusia ber-Tuhan? Tanpa adanya cinta kasih di dalam batin setelah semua kekotoran itu lenyap, mungkinkah kita menjadi manusia yang sungguh-sungguh ber-Tuhan dalam arti kata yang seluas-luasnya? Tanpa adanya cinta
kasih yang bukan merupakan perluapan nafsu, bukan merupakan pementingan diri pribadi, mungkinkah kita menjadi seorang manusia dalam arti kata sebenarnya, yaitu manusia yang berperikemanusiaan?

Manusia ber-Tuhan, berperikemanusiaan, tidak terpisahkan dari cinta kasih! Seorang manusia yang ber-Tuhan sudah pasti berperikemanusiaan, dalam arti kata, hidupnya penuh dengan cinta kasih. Dan hal ini baru mungkin terjadi kalau batinnya sudah tidak dikotori oleh kebencian, permusuhan, iri hati, keserakahan dan sebagainya itu, yang semua timbul karena dasar yang satu, yaitu si-Aku yang ingin senang. Jadi dengan masih adanya si-Aku yang ingin senang, tidak mungkinkah bagi kita untuk ber-Tuhan dan berperikemanusiaan, dalam arti kata yang sesungguh-sungguhnya. Kalaupun mulut mengaku ber-Tuhan dan berperikemanusiaan, maka itu hanyalah ucapan si-Aku, dan tentu dasarnya pun pengakuan itu hanya untuk kepentingan, keuntungan atau kesenangan si-Aku itu pula.

Beranikah kita membuka melihat semua kenyataan ini semua yang terjadi dalam batin kita masing-masing? Beranikah kita membuka melihat dalam cermin dan mengamati kekotoran dan kepalsuan diri kita masing-masing? Hanya dengan keberanian inilah maka kita akan terhindar dari kemunafikan. Apa artinya kalau hanya mulut mengaku ber-Tuhan akan tetapi berani melakukan perbuatan-perbuatan yang jahat tanpa mengenal takut kepada Tuhan yang kita akui Maha Tahu dan Maha Adil? Apa artinya kalau hanya mulut mengaku berperikemanusiaan akan tetapi di dalam batin mengandung kebencian terhadap manusia atau manusia-manusia lain? Semua ini perlu dibongkar! Dan kita sendirilah yang harus membongkarnya dengan berani!

“Harap Paduka suka hati-hati, karena dua orang yang menculik Paduka itu sungguh tidak boleh dipandang ringan sama sekali. Mereka itu memiliki ilmu kepandaian amat tinggi, dan berbahaya sekali. Oleh karena itu, sebaiknya kalau Paduka memperoleh pengawalan yang kuat.” Bu-taihiap memberi nasihat.

Pangeran itu tertawa.
“Ah, betapa tidak enaknya bepergian harus dikawal, apalagi kalau pengawalan itu terlampau ketat. Sudah biasa aku melakukan perjalanan sendirian saja, dengan menyamar dan tiada seorang pun mengenalku sebagai pangeran mahkota. Sekarang, terpaksa aku dikawal sebagai tamu resmi dari Pulau Kim-coa-to.”

“Hemm, melihat pasukan yang tidak berapa kuat ini, biarlah hamba menawarkan diri untuk mengawal Paduka.”

“Terima kasih, Bu-taihiap, engkau baik sekali. Akan tetapi sudah kukatakan tadi, aku merasa tidak leluasa kalau dikawal. Bagaimana kalau engkau ikut sebagai undangan di Kim-coa-to? Akan ramai di sana.”

“Di manakah Kim-coa-to itu dan ada apakah di sana, Pangeran?”

Mendengar pertanyaan ini, Sang Pangeran terheran, lalu tersenyurn.
“Pertanyaan itu saja jelas menandakan bahwa agaknya sudah lama Taihiap tidak turun ke dunia ramai, sehingga tidak mendengar akan nama Kim-coa-to dan penghuninya, yaitu Syanti Dewi, puteri yang cantiknya seperti bidadari itu!” Pangeran lalu dengan singkat menceritakan tentang pulau itu dan tentang puteri cantik.

Tidak mengherankan apabila Bu-taihiap mendengarkan dengan mata bersinar-sinar, wajah berseri dan nampak tertarik sekali. Dia adalah seorang pria yang tak pernah melewatkan wanita cantik begitu saja, dan biarpun usianya sudah mendekati lima puluh tahun, namun semangatnya dalam soal wanita tak pernah padam, bahkan semakin berkobar-kobar! Memang nafsu, apapun juga macamnya, bagaikan api membakar, semakin diberi makanan semakin kelaparan dan semakin berkobar membesar, tak pernah mengenal puas. itulah nafsu! Karena itu, sekali menjadi hamba nafsu, selamanya akan terus diperbudak, semakin lama semakin dalam.

“Aihhh.... kalau begitu, perlu hamba berkunjung....” Tiba-tiba dia berhenti dan menoleh.

Benar saja, dia melihat tiga pasang mata yang melotot, pandang mata berapi-api penuh kemarahan dari tiga orang isterinya!

“Ehh.... ohh berkunjung ke sana mengawal Paduka....” sambungnya cepat.

“Hemm mengawal ataukah melihat puteri cantik?” Tang Cun Ciu menghardik dengan suara mendongkol.

“Huh, tak ada puasnya!” sambung Gu Cui Bi.

“Dasar mata keranjang!” Nandini juga mengomel.

Bu-taihiap menyeringai dan memandang kepada Sang Pangeran dengan muka berobah kemerahan. Melihat adegan ini, Sang Pangeran yang masih muda itu, akan tetapi yang amat bijaksana dan mudah menangkap segala hal yang terjadi, tertawa lebar dan berkata,

“Sudahlah, Bu-taihiap. Tidak perlu aku dikawal. Lihat, pengawalku sudah banyak dan kurasa mereka tidak berani lagi muncul mengganggu setelah menerima hajaran keluargamu tadi.”

Betapapun juga, Bu-taihiap dan keluarganya tetap mengawal Sang Pangeran sampai ke pantai tempat penyeberangan, dan di dalam perjalanan ini Bu-taihiap mempergunakan kesempatan baik itu untuk minta bantuan Sang Pangeran mengenai niatnya menjodohkan puterinya dengan Jenderal Kao Cin Liong.

“Jenderal Kao Cin Liong? Ahh, dia adalah seorang sahabatku!” Sang Pangeran itu tanpa disangka-sangka berkata kepadanya, membuat pendekar itu dan tiga orang isterinya memandang girang. “Jangan khawatir, kalau memang sudah ada kontak hati antara dia dan puterimu, aku pasti suka untuk menjadi perantara. Dia itu sahabatku yang baik dan amat kukagumi.”