FB

FB

Ads

Jumat, 10 Juli 2015

Suling Emas & Naga Siluman Jilid 062

“Saudara Kam Hong, harap jangan membikin kami penasaran dan jangan bertindak kepalang-tanggung. Kau kalahkan aku sebagai orang pertama dari Lembah Suling Emas, agar kami yakin benar bahwa di luar lembah ada orang yang lebih pandai daripada kami!”

Setelah berkata demikian sambil membungkuk dan memberi hormat, Cu Han Bu melolos sebuah sabuk emas dari pinggangnya. Sikap orang ini sedemikian sungguh-sungguh sehingga Kam Hong maklum bahwa jalan satu-satunya baginya adalah memenuhi tantangan orang pertama dari Lembah Suling Emas ini. Pula, diam-diam dia pun merasa penasaran bahwa dialah yang benar-benar keturunan keluarga Suling Emas dan mereka ini hanya kebetulan saja memakai nama Lembah Suling Emas. Kalau dia dapat menangkan orang pertama dari keluarga lembah yang aneh ini, tentu dia berhak untuk minta dengan hormat kepada mereka agar nama Suling Emas tidak mereka pakai lagi.

Kam Hong maklum bahwa sebagai orang pertama dari keluarga itu, tentu pria yang berpakaian sederhana dan bersikap halus dan dingin ini tentulah memiliki tingkat kepandaian yang hebat dan lebih tinggi daripada tingkat Kang Bu. Padahal, Kang Bu saja sudah demikian lihainya. Maka dia pun tidak boleh main-main lagi dan dia tentu akan harus mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk mencapai kemenangan. Maka, sambil tetap membuka kipasnya dengan tangan kiri, tangan kanannya lalu meraih ke pinggang dan begitu bergerak, nampak sinar emas berkilauan dan tangan kanan itu telah memegang sebatang suling emas yang tadinya tersembunyi di balik jubahnya!

Kalau tadi ketika Cu Han Bu mengeluarkan dan melolos sabuk emas dari pinggangnya nampak sinar keemasan yang menyilaukan mata, kini suling emas di tangan kanan Kam Hong itu mengeluarkan cahaya yang amat gemilang, apalagi karena gerakannya ketika mengeluarkan amat cepat sehingga selain mengeluarkan cahaya yang amat kemilau, juga terdengar suara mendengung seolah-olah suling itu ditiup!

“Silakan!” katanya dengan suara tenang.

Akan tetapi, Cu Han Bu dan dua orang adiknya berdiri seperti kena pesona, mata mereka terbelalak menatap suling emas di tangan Kam Hong dan muka mereka menjadi pucat sekali.

“Suling Emas....!”

Tiba-tiba mereka bertiga berseru dengan suara hampir berbareng dan ketiganya sudah melangkah maju menghadapi Kam Hong. Tentu saja Kam Hong bersiap siaga dan alisnya berkerut, karena sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa orang-orang gagah itu akan maju bertiga! Benarkah apa yang dikhawatirkan oleh Ci Sian tadi bahwa orang-orang ini dapat bertindak curang dan hendak mengeroyoknya? Dengan sinar mata mencorong dia memandang mereka dan siap untuk menghadapi mereka dengan suling dan kipasnya.






Akan tetapi Han Bu malah menyimpan kembali sabuk emasnya dan dengan muka masih pucat dia berkata dengan suara gemetar,

“Sobat Kam Hong.... dari mana engkau memperoleh suling itu....?”

Kam Hong memandang kepada suling di tangannya, lalu kepada mereka bertiga dan menjawab tenang,

“Suling ini telah ada pada keluargaku semenjak ratusan tahun yang lalu, semenjak jaman Kerajaan Sung tujuh delapan ratus tahun yang lalu....“

“Ahhh....! Keluarga Pendekar Suling Emas....?”

Kam Hong memandang tajam penuh selidik. Dia maklum bahwa keluarganya itu mempunyai banyak musuh di samping sahabat, oleh karena itu banyak pula orang kang-ouw yang berlumba untuk mendapatkan pusaka-pusaka dari nenek moyangnya dan dia terpaksa sampai disembunyikan di waktu kecil sebagai turunan terakhir dari keluarga itu, demikian Sin-siauw Seng-jin bercerita kepadanya. Dia tidak tahu apakah tiga orang kakak beradik yang amat lihai ini merupakan golongan sahabat ataukah musuh. Akan tetapi dia tidak takut menghadapi mereka, baik sebagai sahabat maupun musuh.

“Benar, aku adalah keturunan terakhir dari keluarga Suling Emas! Hemm, kalian kelihatan heran, padahal aku sendiri juga merasa amat heran mengapa, di tempat ini ada, keluarga Lembah Suling Emas!”

Pada saat itu, terdengar suara suling yang amat merdu, akan tetapi juga amat nyaring melengking dan di dalam suara itu terkandung kekuatan yang menggetarkan pada pendengarnya. Itu bukanlah suara suling sembarangan, melainkan suara yang diciptakan dengan tiupan yang didasari khi-kang kuat! Semua orang menoleh ke arah datangnya suara suling itu dan tak lama kemudian nampaklah searang pemuda tampan sekali berjalan perlahan-lahan menuju ke tempat itu sambil meniup sebatang suling. Suling itu berkilauan dan dari jauh saja sudah nampak bahwa suling itu terbuat daripada emas.

Kam Hong memandang dengan heran dan penuh perhatian. Suling yang ditiup oleh pemuda itu lebih kecil daripada sulingnya, akan tetapi modelnya serupa benar! Dan pemuda yang meniupnya itu juga amat menarik. Wajahnya amat tampan, terlalu tampan malah dan usianya masih tampak amat muda dan caranya meniup suling menunjukkan bahwa pemuda itu bukan orang sembarangan dan telah memiliki khi-kang yang lumayan kuatnya.

Setelah pemuda tampan itu tiba dekat, terdengar Cu Han Bu menegur dengan suara halus, di balik suara teguran itu terkandung kasih sayang mendalam.

“Pek In, hentikan tiupan sulingmu yang bodoh itu!”

Dengan gerakan cepat Kam Hong telah menyimpan kembali sulingnya di balik jubah lebarnya dan dia memandang kepada pemuda itu dengan penuh perhatian. Pemuda itu menghentikan tiupan sulingnya, memainkan suling emas itu di antara jari-jari tangan yang kecil meruncing, diputar-putarnya di antara jari-jari tangannya dengan gerakan yang gagah sekali, akan tetapi mulutnya cemberut dan dia memandang kepada Cu Han Bu dengan sikap manja.

“Ayah, mengapa tidak boleh bermain suling? Mengunjungi Suheng tidak boleh, bermain suling sendiri mengusir sunyi juga tidak boleh, aihh, betapa menjemukan hidup ini....!”

Akan tetapi dia segera menghentikan kata-katanya karena pada saat itu dia baru melihat bahwa ayahnya dan para pamannya sedang berhadapan dengan seorang pria berpakaian sastrawan yang memegang sebatang kipas dan di situ terdapat pula seorang dara jelita, seorang kakek botak kurus dan juga di situ terdapat Yu Hwi, murid Cui-beng Sian-li yang dia tahu berpacaran dengan pamannya dan yang diam-diam tidak disukainya itu.

Akan tetapi Cu Han Bu tidak mempedulikan puterinya, dan dia sudah menjura kepada Kam Hong.

“Maafkan gangguan puteriku tadi.”

Kam Hong kini mengerti mengapa pemuda itu luar biasa tampan dan halusnya, kiranya seorang dara!

“Kulihat puterimu juga mempunyai sebatang suling yang mirip dengan sulingku.”

“Itulah Saudara Kam Hong! Di antara keluarga kita ada sesuatu yang perlu kita bicarakan. Sudah lama kami mendengar tentang keluarga pendekar Suling Emas, dan kami pernah mencoba mencarinya namun tidak berhasil. Maka, mendengar bahwa engkau adalah keturunan terakhir dari Pendekar Suling Emas dan melihat bahwa memang engkau yang memiliki suling emas pusaka itu, kami terkejut bukan main. Juga girang, karena yang kami cari-cari ternyata kini malah datang menjenguk kami. Oleh karena itu, kami persilakan kepadamu untuk berkunjung ke lembah kami di mana kita akan bicara lebih mendalam tentang suling emas agar semua rahasia dapat kita ketahui.”

“Paman Kam Hong, hati-hatilah, jangan kena dibujuk mereka. Siapa tahu mereka hendak menjebakmu!” Ci Sian berseru.

“Nona, harap jangan bicara sembarangan!” Cu Seng Bu yang sejak tadi diam saja kini berseru keras.

“Kami bukanlah sebangsa pengecut yang suka bermain curang dan suka menjebak orang! Gurumu See-thian Coa-ong, berada di sini dan engkau juga. Kalian berdua dapat menjadi saksi kalau kami bermain curang dan tentu dunia kang-ouw akan mengutuk kami!”

“Ci Sian, tenanglah. Aku percaya kepada mereka, dan pula, siapakah yang takut akan jebakan dan kecurangan. Aku akan pergi mengunjungi mereka.” kata Kam Hong dengan sikap tenang dan tersenyum.

“Aku ikut!” Ci Sian, berkata nyaring.

“Ci Sian, jangan kau lancang....!”

See-thian Coa-ong menegur muridnya dengan suara khawatir. Dia menganggap muridnya terlalu lancang bersikap seberani itu terhadap keluarga Lembah Suling Emas yang demikian lihainya, akan tetapi diam-diam dia pun merasa amat bangga dan girang bahwa muridnya itu mengenal baik bahkan kelihatan akrab dengan pendekar yang memiliki suling emas dan yang kepandaiannya juga amat luar biasa tingginya itu. Apalagi ketika dia juga mendengar bahwa pria sakti itu adalah keturunan terakhir dari Pendekar Suling Emas, hati kakek ini sudah menjadi gembira bukan main. Dia merasa beruntung sekali pada hari itu dapat menyaksikan pertandingan hebat dan bertemu dengan orang-orang yang amat hebat, yaitu penghuni Lembah Suling Emas dan bahkan dengan keturunan Pendekar Suling Emas.

“Tidak, Suhu! Paman Kam Hong orangnya terlalu baik hati, terlalu mengalah, maka perlu aku harus menemaninya untuk menjadi saksi apakah benar-benar mereka ini tidak hendak menjebaknya. Kulihat mereka tidak berniat baik, mungkin hendak merampas senjata keramat dari Paman Kam Hong. Biar aku ikut untuk menjadi saksi di dalam lembah, dan Suhu tinggal menanti di sini, sebagai saksi di luar lembah. Kalau Paman Kam Hong dan teecu tidak keluar lagi dari lembah, berarti kami berdua masuk perangkap dan dicelakai mereka, dan Suhu boleh siarkan kepada seluruh dunia bahwa para penghuni lembah ini adalah orang-orang yang curang dan jahat.”

“Heiii! Darimana datangnya perempuan liar yang membuka mulut seenaknya memburuk-burukkan keluarga Lembah Suling Emas?” Tiba-tiba Pek In berseru marah dan memandang kepada Ci Sian dengan mata berapi-api. “Kami adalah keluarga baik-baik, tidak seperti engkau ini perempuan siluman yang menggunakan kata-kata buruk untuk memaki orang!” Ci Sian bersungut-sungut dan memandang kepada Cu Pek In, kemudian tersenyum mengejek.

“Memang keluarga Lembah Suling Emas tidak bisa dipercaya. Ada Isteri yang menyeleweng dengan pendekar yang menjadi tamunya! Ada perempuan yang sudah bertunangan melarikan diri dan ditampung di lembah! Ada hubungan gelap antara paman guru dan murid keponakannya sendiri. Dan sekarang muncul lagi seorang.... banci! Phuh, sungguh tidak layak dipercaya!”

Wajah Pek In yang putih halus itu seketika berobah merah. Baru sekarang ini selama hidupnya ada orang berani memakinya seperti itu. Dia dinamakan banci! Kalau saja dia memakai pakaian wanita seperti umumnya, kiranya makian ini tidak akan mendatangkan kemarahan di hatinya. Akan tetapi karena memang sejak kecil dia mengenakan pakaian pria, yang mulanya dilakukan oleh ayah bundanya yang menginginkan anak laki-laki sehingga dia menjadi terbiasa dan lebih suka mengenakan pakaian pria setelah dia remaja dan dewasa, maka makian itu sungguh menyentuh dan menyinggung perasaan dan membuat dia marah bukan main!

“Aku bukan banci! Kau perempuan siluman!”

Dan dara ini sudah mencabut pula sulingnya yang tadi ditancapkan di ikat pinggang dan dia sudah meloncat dan menyerang Ci Sian.

“Huh, siapa takut padamu?” Ci Sian mengelak dan balas menyerang.

“Tahan!” Cu Han Bu berseru keras. “Pek In, kau mundurlah. Mereka ini adalah tamu-tamu kita, bukan musuh.”

“Tapi mulutnya busuk, Ayah. Dia memakiku!”

“Dan kau pun memakiku. Siapa memaki aku perempuan liar dan perempuan siluman? Huh, tak tahu diri!” Ci Sian juga berteriak.

“Ci Sian, harap kau bersabar dan mari kita mengunjungi mereka dan bicara dengan baik-baik.” kata Kam Hong kepada Ci Sian.

Seketika lenyaplah kemarahan Ci Sian. Dia tadi sudah merasa khawatir kalau-kalau tidak akan diperbolehkan mengunjungi lembah menemani Kam Hong, akan tetapi kini Kam Hong mengajaknya! Kegirangan hatinya mengusir semua kemarahan.

“Aku boleh pergi menemanimu, Paman? Baiklah, mari kita pergi dan aku tidak akan banyak cakap lagi.”

“Sobat Kam Hong, silakan!” kata Cu Han Bu.

Kam Hong mengangguk dan balas memberi hormat, lalu melangkah bersama pihak tuan rumah meninggalkan tempat itu, diikuti pandang mata See-thian Coa-ong yang kelihatan tegang dan girang bukan main.

Dia merasa gembira dan bangga sekali menjadi satu-satunya orang yang menyaksikan pertemuan antara orang-orang sakti yang hebat itu, apalagi karena kini Ci Sian, muridnya menemani pendekar keturunan Pendekar Suling Emas memasuki lembah itu bersama keluarga Lembah Suling Emas! Betapa hebatnya peristiwa ini dan tentu akan menggemparkan dunia kang-ouw kalau dia menceritakan di luar.