FB

FB

Ads

Jumat, 03 Juli 2015

Suling Emas & Naga Siluman Jilid 040

Liong Cin menggeleng kepalanya dengan sedih.
“Tidak mungkin mereka berani mendekat kesini, Li-ciangkun. Setelah mendengar atau melihat saya ditangkap, saya berani memastikan bahwa mereka tentu sudah lari ketakutan dan tidak akan kembali lagi ke tempat ini.”

Panglima itu mengerutkan alisnya dan memandang tajam.
“Kalau begitu engkau ditinggalkan oleh teman-temanmu?”

Liong Cin mengangguk.
“Selama ini kami memang sudah khawatir melihat betapa tempat buruan kami dekat dengan medan perang dan sudah sering kali kami berunding untuk pergi saja. Akan tetapi harimau itu....”

”Sudahlah, orang muda. Aku menyesal bahwa engkau terpaksa ditinggalkan teman-temanmu. Sekarang engkau boleh bebas. Engkau adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi, harap kau suka melepaskan belenggu tangan dan kakimu sendiri.” Panglima itu mencoba memancing.

Akan tetapi pemuda itu menggeleng kepala dan mukanya menjadi merah.
“Harap Li-ciangkun tidak main-main. Mana mungkin saya dapat melepaskan diri dari belenggu yang sekuat ini?”

“Tapi engkau telah mampu menyelamatkan puteriku.”

“Itu lain lagi, Li-ciangkun. Saya memang mempelajari ilmu mempergunakan tali lasso, akan tetapi untuk mematahkan belenggu-belenggu ini sungguh saya tidak sanggup melakukannya.”

Panglima itu tersenyum. Senyumnya hanya sebentar saja, seperti kilatan cahaya di hari
mendung. Lalu dihampirinya pemuda itu dan dengan kedua tangannya panglima wanita
itu mematah-matahkan belenggu kaki tangan itu sedemikian mudahnya, seperti mematahkan ranting-ranting kecil saja! Pemuda itu terbelalak penuh kaget dan kagum
menyaksikan kehebatan tenaga panglima wanita ini. Dan memang itulah yang dikehendaki oleh Puteri Nandini, agar pemuda ini terkejut dan jerih sehingga tidak akan berani melakukan hal-hal yang dapat merugikan pasukan Nepal. Biarpun dia percaya kepada pemuda ini, akan tetapi pemuda ini adalah bangsa Han, maka sudah tentu saja sedikit banyak dia masih bersikap hati-hati dan curiga.






Siok Lan menghampiri pemuda itu dan berkata dengan suara menyesal.
“Harap kau suka memaafkan, Liong Cin. Karena ingin berhati-hati, para pasukan penjaga telah salah tangkap, engkau yang menjadi penolongku malah disangka mata-mata musuh.”

Liong Cin juga tersenyum dan menjura.
“Tidak mengapa, Nona. Ini malah merupakan penambahan pengalamanku, hanya sayang.... sahabat-sahabatku telah pergi meninggalkan aku di sini”.

“Kalau begitu, mari ikut bersama kami ke Lhagat.” Siok Lan mengajak dan sebelum pemuda itu menjawab, dara ini sudah berpaling kepada ibunya. “Ibu, harap Ibu perkenankan Liong Cin untuk ikut bersama kita ke Lhagat, sekedar untuk membalas budinya dan untuk minta maaf kepadanya atas perlakuan kita yang tidak semestinya terhadap seorang penolong.”

Siok Lan memang pandai bicara dan ibunya tidak dapat menolak, tidak enak untuk menolak setelah puterinya mengeluarkan kata-kata seperti itu. Biarpun, di dalam hatinya dia tidak setuju karena hal itu memungkinkan adanya bahaya kalau-kalau pemuda ini benar-benar kaki tangan musuh, namun mana mungkin dia menolak dengan adanya kenyataan bahwa pemuda ini telah menyelamatkan puterinya, kemudian malah ditangkap karena disangka mata-mata? Menolaknya sama dengan menampar muka sendiri!

Siok Lan sudah meneriaki pengawal minta seekor kuda untuk Liong Cin dan tak lama kemudian, Siok Lan, Ci Sian, dan Liong Cin sudah membalapkan kuda mereka menuju ke Lhagat. Di sepanjang perjalanan, Ci Sian tidak pernah bicara kepada Liong Cin, akan tetapi diam-diam dia amat memperhatikan pemuda itu dan dia pun melihat betapa terjadi perubahan besar pada diri Siok Lan. Dara ini kelihatan amat gembira sekali, sikapnya menjadi semakin lincah dan jenaka!

Mulai saat itu, Liong Cin diterima sebagai seorang tamu terhormat, atau juga seorang sahabat baik dari Siok Lan, dan diberi sebuah kamar tersendiri di dalam gedung tempat
tinggal panglima itu. Puteri Nandini sendiri yang mengusulkan hal ini, pada lahirnya dia hendak bersikap baik terhadap pemuda yang pernah menyelamatkan nyawa puterinya itu, akan tetapi di dalam hatinya dia menghendaki agar pemuda itu tinggal di gedung karena dengan demikian akan lebih mudah baginya untuk mengawasi gerak-geriknya.

Juga dia melihat betapa agaknya puterinya tertarik kepada pemuda itu, dan mengingat bahwa pemuda itu, biarpun harus diakuinya bahwa pemuda itu tampan dan gagah, hanya seorang pemburu biasa saja, maka sudah tentu hatinya tidak rela dan dia pun ingin mengamat-amati hubungan antara puterinya dan pemuda itu.

Mula-mula Liong Cin menolak halus dan menyatakan bahwa dia tidak ingin mengganggu keluarga panglima itu, akan tetapi Siok Lan cepat mendesaknya.

“Saudara Liong Cin, sudah jelas kini dari pelaporan para penyelidik bahwa benar seperti dugaanmu, semua kawanmu, rombongan pemburu yang tadinya berkemah di bukit itu telah melarikan diri semua, entah ke mana. Oleh karena itu, tidak baik kalau engkau pergi mencari mereka, dalam keadaan gawat dan dalam ancaman perang ini. Sebaiknya engkau beristirahat dulu di sini bersama kami, kelak kalau keadaan sudah aman barulah engkau pergi mencari kawan-kawanmu. Setidaknya, berilah kesempatan kepadaku untuk menyatakan terima kasih dan membalas budimu.”

Meghadapi ucapan Siok Lan ini, Liong Cin tidak dapat membantah dan demikianlah, mulai hari itu dia tinggal di gedung panglima dan diperlakukan sebagai seorang tamu terhormat dan memperoleh kebebasan. Dia bergaul dengan akrab sekali dengan Siok Lan, dan tentu saja Ci Sian juga sering menemani mereka bercakap-cakap, akan tetapi agaknya diantara dua orang muda ini, keduanya merupakan tamu dan sahabat Siok Lan, terdapat sesuatu yang membuat mereka agak renggang. Ada celah di antara keduanya, dan kadang-kadang mereka saling pandang dengan sinar mata membayangkan kecurigaan dan keraguan.

Memang sesungguhnyalah, Ci Sian menaruh rasa curiga kepada pemuda itu, rasa curiga yang sama sekali bukan tanpa alasan. Semenjak pemuda itu datang, dia selalu mengamati gerak-geriknya dan biarpun dia melakukan hal ini secara diam-diam, agaknya terasa juga oleh Liong Cin sehingga pemuda ini pun merasa tidak enak terhadap Ci Sian. Bahkan semenjak Liong Cin berada di gedung itu, setiap malam Ci Sian kurang dapat tidur nyenyak karena pikirannya selalu membayangkan pemuda itu dengan penuh curiga, dan sering kali dia bahkan diam-diam keluar dari dalam kamarnya untuk bersembunyi dan melakukan pengintaian!

Dan beberapa hari kemudian, pada suatu malam kecurigaannya ini memperoleh bukti. Dia melihat bayangan berkelebat cepat dan dia dapat mengenal Liong Cin yang bergerak cepat melakukan penyelidikan di dalam gedung dan keluar dari gedung itu menuju ketaman bunga dengan sikap yang mencurigakan sekali. Akan tetapi, pemuda itu ternyata lihai bukan main. Biarpun Ci Sian sudah membayangi dengan amat hati-hati, mengerahkan ginkangnya sehingga tubuhnya bergerak cepat dan ringan tanpa menimbulkan suara berisik, agaknya pemuda itu telah tahu bahwa ada orang yang membayanginya dan tiba-tiba pemuda itu berhenti dan menoleh ke belakang, tahu-tahu telah berhadapan dengan Ci Sian yang bersembunyi di balik pohon dan semak-semak!

Keduanya terkejut ketika saling berhadapan itu. Sejenak mereka hanya saling pandang
dengan alis berkerut tanpa dapat mengeluarkan kata-kata. Akhirnya Ci Sian tersenyum
berkata.

“Terkejut? Aku tahu siapa engkau, Liong Cin!”

Pemuda itu memandang dengan sinar mata penuh selidik.
“Apa maksudmu? Tentu saja engkau mengenalku. Aku sedang jalan-jalan dan kau mengejutkan aku, Nona....“

“Hemm, tak perlu engkau berpura-pura sebagai pemburu yang tolol! Engkaulah Si Pengail yang kami tanya tentang perajurit itu, dan engkau pula perajurit yang membunuh perwira yang hendak memperkosa wanita itu, engkau mata-mata....“

Cepat seperti kilat tangan pemuda itu sudah menangkap pundak Ci Sian dan jari-jari tangan kirinya sudah menempel di ubun-ubun kepala dara itu, ancaman maut mengerikan karena sekali jari-jari tangan itu bergerak, dara itu pasti akan tewas seketika!

Ci Sian sendiri terkejut bukan main karena biarpun dia sudah waspada, ternyata dia sama sekali tidak mampu mengelak atau menangkis, dan tahu-tahu dia sudah “ditodong” seperti itu, sama sekali tidak berdaya! Akan tetapi dia tersenyum, sedikit pun tidak menjadi gentar sehingga berbalik pemuda itulah yang terheran-heran. Dan apa yang keluar dari mulut Ci Sian membuat dia semakin heran dan sedemikian kaget sehingga pegangannya pada pundak dara itu terlepas.

“Jenderal, engkau salah tangkap!”

Wajah pemuda itu berobah pucat, matanya terbelalak dan dia bertanya dengan suara tegas,

“Siapa engkau?”

Ci Sian tersenyum.
“Aku? Aku bernama Ci Sian dan menjadi sahabat Siok Lan seperti yang kau ketahui.”

“Tidak! Kalau demikian keadaanmu, tentu engkau sudah membuka rahasiaku. Ci Sian,
jangan main-main, katakan siapa engkau, jangan sampai aku kesalahan tangan.”

Ucapan itu mengandung kesungguhan yang membuat bulu tengkuk Ci Sian meremang. Tahulah dia bahwa kalau dia main-main dan salah bicara, tentu bagi orang ini tidak akan ragu-ragu lagi untuk turun tangan membunuhnya karena dia tentu dianggap berbahaya telah mengetahui rahasia orang itu.

“Aku bukan kaki tangan orang Nepal! Aku ke sini juga hendak mencari seseorang yang
ditahan, seorang piauwsu bernama Lauw Sek. Harap kau jangan curiga aku.”

Pemuda itu kelihatan lega hatinya dan dia menarik napas panjang.
“Katakan, bagaimana engkau dapat mengetahui keadaanku?”

“Dari sinar matamu.” jawab Ci Sian. “Engkau boleh menyamar, merobah bentuk muka dan berganti pakaian, berganti suara, akan tetapi engkau tak mungkin menyembunyikan sinar matamu.”

“Sinar mataku....? Mengapa dengan sinar mataku?”

“Sinar matamu mencorong seperti sinar mata seseorang yang tak pernah dapat kulupakan. Sinar matamu persis seperti sinar mata Pendekar Suling Emas.”

“Pendekar Suling Emas? Siapa itu?”

“Dia she Kam, bernama Hong.”

Pemuda itu menggeleng kepala.
“Aku tidak mengenalnya. Ternyata pandang matamu tajam betul, Ci Sian. Sekarang katakan, bagaimana engkau dapat tahu bahwa aku seorang jenderal....?”

Ci Sian tersenyum.
“Hanya orang tolol saja yang tidak dapat menduga. Begitu mudah seperti dua tambah dua sama dengan empat. Desas-desusnya sudah santer dikabarkan orang bahwa akan ada seorang jenderal sakti dari Kerajaan Ceng yang datang menyelidik kesini untuk membebaskan pasukan yang terkepung. Kini, melihat keadaanmu, melihat kelihaianmu, siapa lagl engkau kalau bukan Si Jenderal yang didesas-desuskan orang itu?”

“Engkau luar biasal” pemuda itu berseru dan berbisik. “Mari kau ikut aku. Tidak leluasa bicara di sini!”

Setelah berkata demikian, tubuhnya melesat dengan cepat sekali dari taman itu. Ci Sian terpaksa harus mengerahkan seluruh gin-kangnya untuk mengejar, akan tetapi betapa pun dia mengerahkan tenaga, tetap saja dia tertinggal jauh dan kadang-kadang pemuda itu terpaksa harus menunggunya dan akhirnya mereka tiba di sebuah tanah kuburan di pinggir kota yang amat sunyi. Sunyi dan menyeramkan, membuat Ci Sian bergidik. Biarpun ia seorang dara perkasa yang dapat dibilang tidak takut menghadapi lawan yang bagaimanapun juga, akan tetapi pada malam hari gelap itu berada di dalam tanah kuburan, benar-benar merupakan pengalaman yang belum pernah dihadapinya.

Malam itu bulan sepotong menyinari permukaan tanah kuburan, menambah seramnya
pemandangan. Gundukan-gundukan tanah itu seolah-olah dalam cuaca remang-remang merupakan tubuh-tubuh manusia raksasa yang telentang, dengan perut besar dan seperti bergerak dan bernapas. Hembusan angin pada daun-daun pohon yang tumbuh di tanah kuburan itu seperti bisikan-bisikan, agaknya dalam keadaan mati pun manusia masih tidak dapat melepaskan kebiasaannya yang lama yaitu mengoceh dan membicarakan keadaan orang-orang lain, terutama tentang kesalahan-kesalahan orang lain.

Ci Sian merasa seolah-olah dialah yang kini menjadi bahan pergunjingan dalam bisikan-bisikan itu dan dia menggigil.

“Nah, kau mau bicara apa?” katanya dan suaranya agak gemetar menahan rasa ngeri.

Pemuda itu tersenyum di bawah sinar bulan yang pucat, membuat wajahnya yang tampan nampak pucat juga.

“Kau takut dan seram juga? Ah, tempat ini merupakan tempat paling aman bagi kami....“

“Kau dan anak buahmu?”