FB

FB

Ads

Jumat, 03 Juli 2015

Suling Emas & Naga Siluman Jilid 037

Ci Sian sudah melompat turun dan berlari menghampiri pemuda yang memegang ujung tali di mana Siok Lan bergantung di bawah sana. Tanpa diminta, tanpa mengeluarkan kata-kata, dia pun membantu pemuda itu menarik tali perlahan-lahan dan akhirnya tubuh Siok Lan dapat ditarik keluar dari dalam jurang, sementara kudanya terus meluncur turun dan terdengar suara gedebukan mengerikan ketika akhirnya tubuh kuda itu menimpa dasar jurang tentu saja hancur dan tewas!

Siok Lan agak menggigil ketika dia dapat ditarik ke tepi jurang. Sejenak dia memandang ke dasar jurang, kemudian menoleh kepada pemuda itu. Dia tercengang karena pemuda
itu ternyata adalah seorang pemuda tampan dan gagah, biarpun pakaiannya biasa dan kasar saja dan sikapnya amat sederhana. Seorang pemuda dusun atau seorang pemuda
pemburu.

“Terima kasih, engkau telah menyelamatkan nyawaku.” kata Siok Lan kepada pemuda
itu yang kelihatan tersipu malu.

“Ah, hanya kebetulan saja aku dapat menyelamatkanmu, Nona. Aku girang bahwa engkau demikian cekatan dapat menangkap tali lassoku.” kata pemuda itu sederhana.

“Kepandaianmu hebat sekali!” kata Ci Sian memuji.

Pemuda itu memandang kepada Ci Sian, kemudian menunduk dan memandang tali lasso
di tangannya, lalu menjawab dengan sikap wajar,

“Tali lasso ini? Ah, Nona, aku adalah seorang pemburu dan akhir-akhir ini banyak pedagang yang membutuhkan binatang-binatang hidup, maka kami para pemburu hanya mempelajari ilmu melempar lasso untuk dapat menangkap binatang hutan hidup-hidup. Baru saja aku sedang mengintai dan membayangi seekor kijang untuk kutangkap dengan lasso ini ketika aku melihat Nona ini terjatuh dengan kudanya ke dalam jurang.”

“Jadi engkau adalah seorang di antara para pemburu yang sedang memburu binatang di
bukit ini?” Siok Lan bertanya sambil memandang tajam.






“Benar, Nona. Kami berkemah di puncak bukit. Aku she Liong bernama Cin.... dan sungguh amat mengherankan bertemu dengan dua orang dara remaja di tempat seperti
ini. Tidak tahu siapakah Ji-wi dan hendak ke mana....?”

“Enci ini adalah puteri panglima pasukan Nepal....”

Siok Lan cepat memandang kepada Ci Sian penuh teguran, akan tetapi Ci Sian sudah terlanjur bicara sehingga dia tidak dapat mencegah lagi sahabatnya itu memperkenalkan
dirinya. Sementara itu, pemuda pemburu itu nampak terkejut dan cepat-cepat dia menjura dengan hormat.

“Ah, harap Nona sudi memaafkan, karena tidak mengerti....“

“Sudahlah, engkau telah menyelamatkan aku dan aku berterima kasih kepadamu. Sekarang antarkan kami ke perkemahan para pemburu, aku ingin melihat keadaan mereka.” kata Siok Lan.

Mereka bertiga lalu menyusup-nyusup di antara pohon-pohon menuju keperkemahan itu. Kuda tunggangan Ci Sian dituntun oleh pemburu muda itu. Akhirnya tibalah mereka di perkemahan para pemburu. Ternyata di situ berkumpul tujuh belas orang pemburu yang
semua terdiri dari laki-laki yang kasar dan kuat. Akan tetapi begitu mendengar dari Liong
Cin bahwa Siok Lan adalah puteri panglima pasukan Nepal, para pemburu itu bersikap hormat.

Melihat keadaan mereka yang betul-betul memburu binatang, dengan hasil-hasil buruan, mati atau hidup, dikumpulkan di perkemahan mereka. Siok Lan percaya dan tidak menaruh curiga. Setelah menerima hidangan mereka yang berupa panggang daging-daging binatang buruan, Siok Lan dan Ci Sian berpamit. Mereka diantar oleh Liong Cin
dan seekor kuda diberikan oleh mereka kepada Siok Lan.

Ketika hendak berpisah, Siok Lan melepaskan seuntai kalung dari lehernya, sebuah kalung dengan hiasan bunga teratai emas dihias permata, dan menyerahkan kalung itu kepada Liong Cin.

“Sebagai tanda terima kasihku atas budi pertolonganmu, terimalah kalungku ini.” Katanya singkat.

Liong Cin menerimanya dan Siok Lan lalu membedal kudanya meninggalkan pemuda
itu, diikuti oleh Ci Sian, dan dipandang oleh Liong Cin yang masih berdiri bengong dengan kalung itu di tangannya.

“Eh, Enci Lan, dia itu gagah dan tampan, ya?” kata Ci Sian ketika dia berhasil menjajarkan kudanya di samping

“Apa? Siapa?” Siok Lan nampak terkejut karena agaknya dia sedang melamun.

“Aih, siapa yang kau beri hadiah” Ci sian menggoda.

“Hushh! Aku memberi hadiah karena dia telah menyelamatkan nyawaku! Itu merupakan
suatu kenyataan dan bukankah sudah sepatutnya kalau aku memberi hadiah kepadanya? Jangan kau mengira yang bukan-bukan!”

“Ihh, siapa yang mengira bukan-bukan? Aku pun hanya mengatakan yang sebenarnya.
Bukankah dia memang tampan dan dia gagah karena sudah menolongmu? Kau kira aku menyangka Enci Lan?”

Siok Lan cemberut dan membalapkan kudanya. Ci sian mengejar sambil tertawa.
“Enci Lan, jangan marah dong! hanya mau bilang bahwa dia tentu senang sekali memiliki kalung yang biasa kau pakai di lehermu.”

Siok Lan menahan kudanya, lalu menoleh, memandang kepada sahabatnya itu.
“Eh, apa maksudmu?”

Ci Sian tertawa.
“Maksudku engkau tahu sendiri, hi-hik!”

“Eh, anak nakal! Engkau genit, ya? Kucubit bibirmu....!” Siok Lan meraih dengan tangannya untuk mencubit, Ci Sian mengelak dan melarikan kudanya, dikejar oleh Siok
Lan.

Dua orang dara itu berkejaran sambil bersendau-gurau, tertawa-tawa dan akhirnya mereka memasuki kota Lhagat dengan selamat. Siok Lan memberi laporan kepada ibunya tentang para pemburu yang dikatakannya adalah pemburu-pemburu tulen dan orang baik-baik.

Para pengawal yang terpaksa balik kembali ketika mereka bertemu dengan dua orang dara yang berkejaran itu, tidak melihat apa-apa. Atas pesan Siok Lan, Ci Sian juga tidak mau bicara tentang pemburu muda yang telah menyelamatkan sahabatnya itu kepada orang lain, Siok Lan sendiri hanya secara singkat menceritakan kepada ibunya bahwa kudanya kaget melihat harimau dan membawanya terjun ke jurang, akan tetapi seorang di antara para pemburu itu telah menyelamatkannya dengan menggunakan tali lasso.

Mendengar ini, Puteri Nandini terkejut juga, akan tetapi akhirnya dia mengangguk-angguk dengan alis berkerut.

“Lain kali engkau harus hati-hati. Dan bagaimanapun juga, kita harus menyuruh penyelidik mengamat-amati para pemburu itu. Seorang pemburu mampu menolong dengan lasso seperti itu, cukup aneh dan mencurigakan”.

“Ah, Ibu terlalu curiga kepada semua orang pandai. Kalau memang dia itu berniat buruk
dan kalau dia itu mata-mata musuh, tentu dia sudah mengenalku dan mana mungkin mata-mata musuh mau menyelamatkan puteri panglima musuhnya?”

Ucapan ini dapat diterima oleh panglima wanita itu, maka kecurigaannya terhadap para pembantu pemburu itu pun banyak berkurang.

Sunyi sekali malam itu, namun para penjaga berjaga-jaga penuh kewaspadaan di sekeliling bukit yang terkurung itu. Baru kemarin pagi, ketika matahari baru timbul, ada penjaga-penjaga di bagian barat bukit itu melihat adanya bayangan-bayangan orang berkelebat dan seperti beterbangan saja cepatnya naik ke bukit. Mereka tidak tahu bagaimana ada orang-orang mampu menyusup melalui penjagaan mereka. Ataukah bayangan sosok tubuh itu bukan bayangan manusia? Para penjaga sudah menghujankan anak panah ke arah bayangan-bayangan itu, akan tetapi tak ada yang berhasil. Anak-anak panah itu seperti mengenai bayangan-bayangan saja! Oleh karena itu, malam ini juga diadakan penjagaan ketat setelah terjadinya peristiwa itu.

Pasukan yang bertugas menjaga dengan anak panah di tangan telah siap dan setiap beberapa jam sekali pasukan ini diganti agar mereka tidak sampai kelelahan dan kurang waspada. Menjelang tengah malam, dari atas bukit nampak ada cahaya berkedip dan cahaya ini lalu meluncur turun ke bukit. Melihat ini, para penjaga sudah siap menyambut karena tidak mungkin ada cahaya turun tanpa dibawa orang. Setelah agak dekat, dari jauh para penjaga dapat melihat bahwa cahaya itu adalah sebatang obor yang bernyala. Hal ini menimbulkan keyakinan dalam hati mereka bahwa memang ada orang yang berlari turun membawa obor itu.

“Siap....!” bisik komandan pasukan panah.

Para penjaga itu sudah mencabut anak panah dan menyiapkan anak panah pada busur masing-masing. Kini dari cahaya obor itu dapat nampak bahwa yang melarikan obor memang benar seorang manusia yang bergerak ringan dan cepat sekali.

“Berhenti!” Tiba-tiba komandan jaga membentak.

Akan tetapi, pembawa obor itu malah melemparkan obornya ke arah para penjaga. Tentu saja keadaan menjadi geger.

“Serang!”

Komandan memberi aba-aba dan puluhan batang anak panah meluncur ke arah tempat di mana orang tadi nampak. Setelah melemparkan obornya, tentu saja keadaan dimana orang itu berdiri menjadi gelap dan tidak nampak lagi orang itu. Kiranya orang itu, yang memiliki gerakan amat gesitnya, telah menyelinap ke dalam kegelapan malam, menjauhi penerangan yang ada di tempat penjagaan, dan dapat menyusup pergi selagi
para penjaga menjadi panik.

Akan tetapi karena bayangan itu telah lenyap, para penjaga tidak dapat berbuat lain kecuali melakukan penjagaan semakin ketat agar jangan ada lagi orang dari atas bukit
yang terkurung itu dapat meloloskan diri.

Sementara itu, bayangan tadi dengan sangat cepat telah berlari seperti terbang saja di antara pohon-pohon dan menuju ke kota Lhagat! Dan malam itu terjadi geger di gedung yang menjadi tempat tinggal Sang Panglima, yaitu Puteri Nandini! Tanpa dilihat oleh seorang pun penjaga yang menjaga gedung itu dengan ketat, sesosok bayangan manusia menyelinap dan memasuki kamar kerja Sang Panglima wanita itu, dan setelah menggeledah sepuasnya, baru dia meloncat keluar sambil membawa beberapa buah benda yang amat penting.

Kebetulan sekali pada saat itu, Puteri Nandini melakukan ronda dan telinganya yang amat tajam itu dapat menangkap suara tidak wajar ini. Dengan gesit, seperti seekor burung walet saja, panglima ini memakai pakaian biasa karena dia hanya meronda di gedung tempat tinggalnya sendiri, meloncat ke atas genteng. Sungguh kebetulan sekali, pada saat itu, maling yang memasuki kamar kerjanya itu baru saja melayang naik.

“Berhenti!” bentak Puteri Nandini.

Akan tetapi bayangan itu hendak meloncat pergi dan sekali menggerakkan tangan, panglima ini sudah menyerang bayangan itu dengan lemparan senjata rahasianya yang amat berbahaya, yaitu segenggam jarum yang jumlahnya tidak kurang dari dua puluh batang. Jarum-jarum halus itu menyambar seperti anak-anak panah kecil, lembut sekali sehingga tidak nampak, hanya sinarnya saja berkelebat, dan seluruh tubuh maling itu telah dijadikan sasaran, dari mata sampai ke lutut kaki!

Akan tetapi, betapa kaget hati Sang Panglima ketika dengan amat mudahnya, bayangan itu meloncat ke samping dan dengan kebutan lengan baju, jarum-jarumnya runtuh semua ke atas genteng!

“Mata-mata busuk, menyerahlah engkau atau mati!” bentak Puteri Nandini dan kini dia
menyerang dengan tubrukan seperti seekor harimau betina.

Tubuhnya meloncat ke depan, kedua lengannya terbentang dan kedua tangannya sudah bergerak, yang kanan mencengkeram ke arah leher, yang kiri menusuk dengan totokan ke arah lambung. Sungguh serangan ini hebat bukan main dan amat berbahaya!

Akan tetapi, orang itu sungguh lihai bukan main. Biarpun menghadapi serangan yang
amat berbahaya, dia bersikap tenang saja, tangan kirinya masih memegang benda-benda yang diambilnya dari dalam kamar itu, yaitu gulungan kertas dan beberapa buah buku.