FB

FB


Ads

Senin, 09 Februari 2015

Kisah Sepasang Rajawali Jilid 022

“Enci Syanti, mari kita cepat lari....!”

Puteri itu meragu.
“Mengapa lari? Diluar.... bukankah lebih berbahaya? Kita berjaga disini dan kalau ada bahaya baru kita membela diri.”

“Sssttt.... kau turutlah aku, enci. Cepat!”

Ceng Ceng sudah menggandeng tangan puteri itu, menariknya keluar dari kamar terus berlari melalui belakang rumah penginapan. Pintu belakang rumah penginapan itu masih tertutup. Ceng Ceng membuka palang pintu, kemudian mereka berdua meloncat ke dalam gelap, melalui pintu belakang dan terus lari tanpa menoleh lagi.

“Kita lari kemana, Candra?” puteri itu bertanya, heran mengapa adik angkatnya ini tanpa ragu-ragu melarikan diri ke arah tertentu.

“Enci, ingat kata-kata terakhir di setiap baris pantun tadi. Lima kata-kata itu adalah terkurung-lari-belakang-utara-sungai! Nah, yang berpantun itu adalah seorang sahabat atau penolong yang menganjurkan kita lari karena kita telah terkurung dan kita dianjurkan lari melalui pintu belakang, menuju ke utara dan kalau aku tidak salah menduga, kita akan tiba di sebuah sungai.”

Syanti Dewi terkejut dan juga kagum akan kecerdikan adik angkatnya, akan tetapi juga ingin sekali tahu siapa orang yang berpantun dan yang menolong mereka itu.

“Dia siapa, adik Candra?” tanyanya sambil terus berlari di samping adiknya.

“Entahlah, akan tetapi suaranya seperti.... heiii!” Tiba-tiba Ceng Ceng menghentikan larinya karena dia kini teringat akan suara itu. “Tentu saja dia orangnya!”

“Apa katamu?” Syanti Dewi berusaha menyelidiki muka Ceng Ceng di dalam gelap itu. “Dia siapa?”

“Penolong kita itu, yang berpantun tadi.... suaranya seperti si muka bopeng yang membikin ribut dengan ular-ular di Tai-cou itu dan.... dan.... wah, tidak mungkin salah, tentu dia orang pandai yang menolong kita.”

Tiba-tiba Ceng Ceng menarik tangan Syanti Dewi dan dia sendiri sudah melepas topi capingnya, menggunakan benda itu untuk menghantam ke kanan, ke arah bayangan yang berkelebat dan tadi dilihat bayangan itu hendak menangkap Syanti Dewi.

“Prakkkk!”

Ceng Ceng terhuyung ke belakang dan caping di tangannya itu hancur berantakan. Dara ini kaget bukan main. Dia menyerang bayangan itu dengan caping biasa, akan tetapi dia sudah mengerahkan sin-kangnya sehingga bagi lawan yang ilmunya tidak amat tinggi, serangannya itu sudah cukup hebat dan dapat merobohkan orang. Akan tetapi, bayangan itu menangkis dengan lengannya, akibatnya tidak hanya capingnya yang hancur, juga dia sampai terhuyung saking kuatnya tenaga orang yang menangkisnya itu!

Dia teringat akan pesan kong-kongnya bahwa di pedalaman banyak sekali terdapat orang pandai maka tanpa menanti orang tadi bergerak, dia sudah menerjang ke depan, menggunakan sepasang pisau belati yang disimpan di sebelah dalam bajunya.

“Hyaaatttt....!”

Dara perkasa ini mengeluarkan pekik dahsyat, tubuhnya menerjang cepat dan sepasang pisaunya menyambar dari kanan kiri, yang kanan mengarah lambung, yang kiri mengarah leher. Serangan yang dahsyat dan lihai sekali, apalagi dilakukan dalam cuaca yang gelap!

“Plak-plak.... wuuuutttt....!”

Kembali Ceng Ceng tercengang dan kaget. Orang itu telah dapat menangkis serangan dalam gelap, menangkis lengan kanan kiri bahkan telapak tangan orang itu menyambar hendak mencengkeram ubun-ubun kepalanya. Untung dia dapat mengelak cepat, kalau tidak, sekali kepalanya kena dicengkeram oleh tangan yang dia tahu amat kuat itu, akan celakalah dia! Kini, bayangan itu menerjangnya dengan kecepatan yang mengerikan.

Namun Ceng Ceng tidak menjadi gentar, dia menggerakkan kedua tangannya yang memegang pisau, melindungi tubuhnya dan sekaligus dia menggerakkan kepalanya sehingga kuncir rambutnya menyambar seperti seekor ular hidup kearah mata orang itu!

“Sing, sing.... plakk!”

Ceng Ceng mengeluarkan teriakan kaget karena selain sepasang pisaunya dapat dielakkan orang, juga kuncirnya hampir saja dapat ditangkap kalau saja dia tidak dapat melepaskan tendangan yang amat kuat dan membuat lawan itu terpaksa menarik kembali tangannya yang akan menangkap kuncir.

Akan tetapi tiba-tiba tubuh orang itu mencelat ke depan dan sebelum Ceng Ceng dapat mencegahnya, bayangan itu sudah menangkap Syanti Dewi! Puteri ini memekik dan berusaha memukul, akan tetapi tingkat kepandaian puteri ini masih jauh sekali di bawah tingkat lawannya yang amat lihai, maka sekali orang itu menggerakkan tangan, tubuh itu telah menjadi lemas tertotok dan dia telah dipondong!

“Jahanam, lepaskan dia!”

Ceng Ceng sudah menerjang maju dengan lompatan dahsyat. Hatinya marah bukan main dan sedikitpun dia tidak takut menghadapi lawan yang tangguh itu, yang dia khawatirkan adalah Puteri Syanti Dewi, maka begitu menerjang maju dia telah menggunakan sepasang pisaunya untuk menyerang dan berusaha merampas tubuh Syanti Dewi yang telah dipondong orang itu.

Akan tetapi, ternyata lawan gelap itu lihai bukan main, gerakannya ringan sekali sehingga dia dapat mengelak dengan melompat ke kanan kiri. Selain lawan memang lihai, juga Ceng Ceng merasa kurang leluasa gerakannya karena dia takut kalau-kalau senjatanya mengenai tubuh enci angkatnya. Kemudian dengan beberapa lompatan jauh, orang itu melarikan diri meninggalkan Ceng Ceng.

“Iblis, hendak lari kemana kau?”

Ceng Ceng tentu saja mengejar secepatnya. Namun dia kalah cepat dan hal ini terutama sekali disebabkan karena Ceng Ceng belum hafal akan keadaan disitu sehingga tentu saja dalam berlari cepat dia harus berhati-hati agar jangan sampai terjatuh dan ketinggalan makin jauh lagi. Dia sudah mulai gelisah sekali karena orang yang melarikan Syanti Dewi itu makin jauh meninggalkannya ketika tiba-tiba orang itu berteriak dan roboh terguling!






Tubuh Syanti Dewi yang masih lemas tertotok, juga ikut terguling, akan tetapi ada tangan menyambarnya dan tubuh itu seketika terbebas dari totokan. Syanti Dewi mengeluh dan cepat menjauhkan diri sambil terhuyung-huyung dan berpegang kepada sebatang pohon.

Ketika Ceng Ceng tiba di tempat itu, orang yang melarikan Syanti Dewi tadi telah lari, dikejar bayangan lain yang agaknya tadi merobohkan penculik itu dan membebaskan totokan Syanti Dewi. Dalam sekejap mata saja dua bayangan yang berkejaran itu telah lenyap dari situ.

“Engkau tidak apa-apa, enci?”

Syanti Dewi menggeleng kepalanya.

Ceng Ceng merasa gembira, cepat dia memegang lengan puteri itu dan diajaknya terus lari ke utara, seperti yang dipesankan dalam pantun oleh penolong mereka yang aneh. Siapakah penolong itu? Apakah yang menolong Syanti Dewi dari tangan penculik itupun sama orangnya dengan yang berpantun diatas kamar penginapan sambil bertanding, dan sama pula dengan si muka bopeng yang melepas ular di pintu gerbang Tai-cou? Ceng Ceng merasa heran dan bingung.

Kalau benar orangnya hanya satu, tentu orang itu lihai bukan main. Dia tahu betapa orang-orang yang bertanding diatas kamar penginapan itu memiliki gin-kang yang amat tinggi, dan kalau penolongnya hanya seorang, berarti dia itu dikeroyok! Tadipun dia mendapat kenyataan yang tak mungkin dibantah bahwa penculik Syanti Dewi adalah orang lihai yang memiliki kepandaian lebih tinggi daripada dia. Namun penolong itu dalam segebrakan saja mampu merampas Syanti Dewi!

Selain itu, juga hatinya khawatir sekali. Mudah saja diduga bahwa fihak musuh sudah mengenal penyamaran mereka, sudah tahu bahwa yang menyamar sebagai gadis-gadis petani itu, yang seorang adalah Syanti Dewi. Bahkan di dalam gelap, penculik tadi sudah dapat menentukan mana yang harus diculiknya! Kalau begini, berbahayalah!

“Mari cepat, enci!”

Dia berkata dan mereka berlari secepatnya. Namun, betapapun mereka hendak bersicepat, tetap saja mereka menabrak pohon! Apalagi ketika mereka tiba di sebuah hutan yang penuh pohon. Mereka tidak dapat berlari lagi dengan baik, hanya meraba-raba dan menyelinap diantara pohon-pohon, kadang-kadang hampir terguling karena kaki mereka terjerat akar pohon atau semak-semak. Dengan napas terengah-engah Syanti Dewi mengeluh,

“Aduuhhh.... kita berhenti dulu.... ah, lelah sekali....”

“Jangan, enci. Banyak musuh yang lihai.... mereka sudah mengenal engkau!”

Ucapan Ceng Ceng ini membuat sang puteri terkejut sekali.
“Be.... benarkah mereka telah mengenalku? Celaka.... hayo.... hayo lari cepat....”

Kini Syanti Dewi yang lari lebih dulu, lari dengan nekat karena takut! Dia merasa ngeri kalau sampai tertawan dan dibawa kepada Raja Muda Tambolon.... ah, tidak berani dia membayangkan nasib seperti itu, maka dia lari secepatnya.

“Enci.... hati-hati.... !”

Kini Ceng Ceng yang merasa khawatir melihat puteri itu lari cepat dengan nekat tanpa melihat-lihat ke depan.

“Oughhhh....!” Tiba-tiba Syanti Dewi menjerit, tubuhnya terguling masuk ke dalam jurang!

“Enci Syanti....!”

Ceng Ceng menjerit dan cepat menjatuhkan diri menelungkup, kemudian merangkak mendekati jurang yang hanya kelihatan menghitam di dalam gelap. Dapat dibayangkan, betapa gelisah hatinya. Sang puteri terjerumus ke dalam jurang yang gelap!

“Enci Syanti....!”

Dia berteriak ke bawah, ke arah sumur menghitam yang menganga di depannya. Sampai lama tidak ada jawaban kecuali gema suaranya sendiri. Akan tetapi selagi dia hendak memanggil lagi, terdengar suara lemah dari bawah,

“Adik Candra....!”

Jantung Ceng Ceng berdebar girang, akan tetapi bulu tengkuknya meremang juga. Terjerumus ke dalam jurang segelap itu, benar-benarkah sang puteri masih hidup dan selamat? Jangan-jangan yang memanggil tadi adalah.... arwahnya! Ceng Ceng menggunakan tangan kiri mengusap tengkuknya yang meremang lalu menjulurkan tubuh atasnya ke dalam sambil berteriak lagi,

“Enci Syanti.... dimana engkau....?”

“Aku disini....aku selamat, Candra. Untung ada pohon disini yang menahan tubuhku. Tidak jauh, aku dapat melihatmu dari sini, mungkin kau tidak dapat melihat karena di bawah gelap. Lekas kau cari tali tidak perlu panjang kurasa sepuluh kaki cukuplah.... aku dapat memanjat ke atas melalui tali....”

Girang sekali rasa hati Ceng Ceng. Kini dia dapat menangkap suara puteri itu dan memang tidak jauh di bawah. Sepuluh kaki?

“Enci, hanya sepuluh kaki, mengapa kau tidak meloncat saja?”

“Ah, tidak mungkin. Pohon ini kecil, kalau dipakai landasan meloncat mungkin tidak kuat. Pula, begini gelap, bagaimana aku dapat meloncat dengan tepat ke atas? Lekas cari tali....”

Ceng Ceng bingung lagi. Kemana harus mencari tali di dalam gelap seperti itu, apalagi di dalam hutan? Akhirnya dia mendapat akal baik. Tanpa ragu-ragu lagi ditanggalkannya semua pakaiannya setelah dia mengeluarkan perhiasan dan uang perak dan emas ke atas tanah.

Ditanggalkannya bajunya, celananya, baju dalam dan celana dalam. Seluruh pakaiannya ditanggalkan sehingga dia menjadi telanjang bulat sama sekali! Kemudian, sambil meraba-raba, dia sambung-sambungkan semua pakaian itu setelah digulungnya sehingga merupakan gulungan kain yang bersambung-sambung, yang kemudian, dengan tubuh telanjang bulat, dia bertiarap di tepi jurang, menggulung-gulungkan kain itu sambil berteriak,

“Enci Syanti.... ini talinya....!”

“Kesini, Candra sebelah sini....!” Terdengar jawaban dari bawah dan Ceng Ceng mengulur tali ke arah suara itu.

Tak lama kemudian tali menegang, telah dapat terpegang oleh Syanti Dewi.
“Eh, dari mana kau memperoleh tali kain ini....?”

“Naiklah, enci. Ujung sini sudah kupegang erat. Hati-hati....“

Ceng Ceng mengerahkan tenaganya menahan ketika Syanti Dewi mulai memanjat naik. Tak lama kemudian, puteri itu sudah meloncat ke atas tanah. Dia menubruk Ceng Ceng dan keduanya saling berpelukan dan menangis! Menangis karena girang dan bersyukur bahwa Syanti Dewi selamat dari bahaya maut yang mengerikan itu.

“Heiii....! Kau.... kau.... telanjang bulat....!”

Tiba-tiba Syanti Dewi berseru kaget dan heran sambil meraba-raba tubuh Ceng Ceng. Ceng Ceng menggeliat kegelian dan memegang tangan Syanti Dewi.

”Itulah tali yang memancingmu keluar jurang, enci!”

Syanti Dewi tertawa, dan keduanya tertawa-tawa gembira ketika Ceng Ceng mulai memakai lagi pakaiannya yang tadi telah dipergunakan untuk menyelamatkan nyawa enci angkatnya. Kini dia merasa tubuhnya panas dingin kalau membayangkan betapa akan jadinya kalau hal itu terjadi di siang hari dan kebetulan ada orang melihat dia bertelanjang bulat seperti seorang bayi tadi!

“Mari kita mencari tempat untuk beristirahat, enci. Malam terlalu gelap. Melanjutkan perjalanan berbahaya sekali, apalagi kita sudah memasuki hutan di pegunungan. Masih untung Thian melindungimu ketika kau terjerumus tadi. Kalau tidak ada pohon itu, apa jadinya?”

“Ahh, paling-paling mati, adikku! Dan agaknya hal itu leblh baik daripada jatuh ke tangan Tambolon.”

“Jangan putus asa, enci. Aku akan melindungimu dengan seluruh jiwa ragaku “

Mereka melanjutkan perjalanan, kini dengan hati-hati sekali dan setelah mereka mendapatkan sebuah tempat yang dianggap cukup menyenangkan, yaitu di bawah pohon yang diapit-apit oleh batu gunung yang besar, keduanya berhenti dan duduk beristirahat diatas rumput, bersandar kepada batu gunung. Mereka berusaha untuk melepaskan lelah dan beristirahat secukupnya.

“Tidurlah, enci Syanti, biarlah aku menjaga disini.”

“Hemm, dinginnya bukan main. Mana bisa tidur? Bagaimana kalau kita membuat api unggun?”

“Ah, berbahaya, enci. Api unggun akan menarik perhatian orang, dan pula dapat kelihatan dari tempat jauh.”

Tubuh mereka memang dapat beristirahat, akan tetapi hati mereka selalu tegang dan siap siaga menghadapi segala bahaya yang mungkin datang menimpa. Malam itu gelap bukan main, agaknya bintang-bintang di langit dihalangi awan hitam. Dalam keadaan segelap itu, didalam hutan yang asing, apalagi setelah mengalami hal-hal yang mengerikan, kedua orang dara itu tentu saja merasa khawatir dan gelisah.

Mereka duduk berhimpit bersandarkan batu, mata mencoba menembus kegelapan malam dan memandang ke kanan kiri, telinga mereka dicurahkan untuk mendengar apa yang tak dapat dilihat mata. Mereka selalu merasa seolah-olah diikuti oleh sesuatu, entah manusia, binatang atau setan!

Bahkan ketika sedang duduk di tempat itu, mereka merasa ada mata yang memandang mereka, ada sesuatu yang memperhatikan mereka! Dapat dibayangkan betapa ngeri rasa hati mereka. Syanti Dewi adalah seorang puteri yang selama hidupnya belum pernah melakukan perjalanan seorang diri seperti itu, apalagi malam-malam berkeliaran di dalam hutan gelap!

Adapun Ceng Ceng, biar dia seorang dara perkasa yang sejak kecilnya digembleng oleh kakeknya, namun perjalanan seperti inipun baru pertama kali dia alami bersama Syanti Dewi itu.

Mereka makin berhimpitan dan makin siap dengan jantung berdebar tegang sekali ketika didalam kegelapan malam pekat itu mereka seperti mendengar suara-suara yang aneh. Beberapa kali mereka mendengar suara gerengan dari tempat agak jauh, suara lolong anjing, dan lapat-lapat seperti ada orang bernyanyi!

Mula-mula suara aneh itu seperti lewat terbawa angin lalu, akan tetapi kadang-kadang terdengar dekat sekali, bahkan mereka seperti mendengar suara langkah kaki orang di sekeliling mereka!

Tentu saja semalam suntuk mereka tidak mampu tidur sama sekali. Dengan tinju terkepal kedua orang dara itu duduk bersandar batu, seluruh urat syarat mereka menegang karena mereka menduga bahwa sewaktu-waktu tentu akan muncul musuh mereka.

Mata dan telinga mereka siap dengan penuh perhatian meneliti keadaan di depan, kanan dan kiri karena mereka tidak mengkhawatirkan musuh akan datang menyerang mereka dari belakang yang terlindung oleh batu gunung yang besar dan tinggi. Akan tetapi, tidak ada sesuatu terjadi! Bahkan menjelang pagi, suara itu lenyap sama sekali. Setelah sinar matahari pagi mulai mengusir embun dan kegelapan, keduanya bangkit berdiri.

“Hayo kita tinggalkan tempat yang menyeramkan ini, enci Syanti,” kata Ceng Ceng, lega bahwa malam itu dapat mereka lewatkan dengan selamat.

“Suara apakah semalam, Candra? Menyeramkan sekali!”

“Entahlah, mungkin kita salah memilih tempat. Mungkin disini sebuah perkampungan siluman yang tentu saja tidak tampak.”

Syanti Dewi bergidik, memegang tangan adik angkatnya dan bergegas mereka melanjutkan perjalanan menuju ke utara meninggalkan tempat menyeramkan itu. Tubuh mereka terasa letih dan mengantuk, akan tetapi hati lega karena mereka dapat meninggalkan tempat itu.

“Haiii.... banyak bangkai anjing disini....!”

Tiba-tiba Ceng Ceng berseru heran ketika mereka keluar dari tempat itu dan melihat belasan ekor anjing serigala telah menggeletak malang melintang dalam keadaan mati, ada yang lehernya hampir putus, ada yang kepalanya pecah. Darah yang masih belum kering betul menunjukkan bahwa gerombolan srigala ini dibunuh orang semalam!

“Kalau begitu lolong anjing semalam bukanlah suara siluman, melainkan suara mereka ini!” bisik Syanti Dewi sambil menengok ke kanan kiri.

Juga Ceng Ceng menoleh kekanan kiri, depan belakang sambil memandang penuh selidik.
“Heran sekali, siapa yang membunuh mereka semalam? Aku mendengar suara orang, seperti orang bernyanyi....”

“Aku juga!” kata Syanti Dewi. Semalam ketika mendengar suara-suara itu, keduanya diam saja karena merasa ngeri.

“Dan ada suara langkah-langkah kaki orang....”

“Benar, akupun mendengarnya.”

“Hemmm, kalau begitu, kita masih terus dibayangi orang, enci.”

“Siapa dia gerangan?”

“Tidak perduli siapa, aku tidak takut!”

Ceng Ceng menjadi penasaran dan sudah mencabut sepasang pisau belatinya. Dengan mengangkat dadanya yang mulai membusung itu dia berteriak,

“Heiii, orang yang membayangi kami, hayo keluar kalau memang engkau seorang gagah! Kalau ada niat busuk, mari kita bertanding sampai seribu jurus!”

Akan tetapi dara itu seperti menantang angin karena yang menjawabnya hanya bunyi angin berdesir mempermainkan ujung-ujung ranting pohon. Setelah yakin bahwa di tempat itu tidak ada orang lain kecuali mereka berdua, dua orang dara itu melanjutkan perjalanan ke utara.

Akan tetapi, kembali mereka tertegun ketika melihat bangkai dua ekor harimau yang besar juga. Seperti juga gerombolan srigala tadi, dua ekor harimau itu belum lama dibunuh orang. Ketika Ceng Ceng memeriksa, diam-diam dia terkejut dan kagum bukan main melihat bahwa dua ekor raja hutan itu mati dengan kepala berlubang bekas tusukan jari tangan!

Dapat dibayangkan betapa kuatnya orang itu, yang membunuh dua ekor harimau itu hanya dengan jari tangan saja! Melihat kenyataan ini, hatinya agak jerih juga dan dia tidak lagi mengulangi tantangannya di dekat bangkai gerombolan srigala tadi, melainkan cepat mengajak Syanti Dewi melanjutkan perjalanan ke utara.

Pada tengah hari, tibalah mereka di tepi sebuah sungai! Girang hati mereka karena ternyata, nasehat penolong yang berpantun itu ternyata cocok! Mereka tidak. mengenal daerah itu dan tidak tahu sungai apakah itu, akan tetapi mereka tahu bahwa mereka sudah berada di daerah yang aman. Mereka harus menyeberangi sungai itu dan melanjutkan perjalanan ke utara. Akan tetapi, tempat ini sunyi sekali. Sungai itu mengalir tenang melalui hutan-hutan dan pegunungan.

Sungai itu adalah Sungai Nu-kiang (Salween) yang bermata air di Gunung Thangla, mengalir ke selatan memasuki Negara Birma. Tanpa sepengetahuan mereka, dua dara itu telah tiba di kaki Pegunungan Hengtoan-san. Tentu saja lembah Sungai Nu-kiang di pegunungan ini amat sunyi sehingga sukarlah bagi mereka untuk mencari perahu agar dapat menyeberang. Tempat itu jauh sekali dari perkampungan nelayan.

Akan tetapi, setelah mereka menyusuri sungai sampai jauh, dari jauh nampak sebuah perahu kecil di pinggir sungai, sebuah perahu kosong!

“Disana ada perahu, adik Candra!” Syanti Dewi berkata girang sambil menuding ke depan.

Ceng Ceng juga sudah melihatnya dan gadis ini memegang tangan kakak angkatnya sambil berkata,

“Enci Syanti, karena kita, terutama engkau, adalah orang-orang pelarian yang dikejar-kejar musuh, maka kurasa sebaiknya mulai saat ini engkau jangan menggunakan nama Syanti Dewi sebelum kita selamat di kota raja Kerajaan Ceng.”

Syanti Dewi mengangguk-angguk.
“Engkau benar, adikku. Lalu nama apakah yang sebaiknya kupergunakan?”

“Bagaimana kalau namamu menjadi Sian Cu? She-nya boleh memakai sheku, yaitu she Lu.”

“Lu Sian Cu? Nama yang bagus sekali!” Syanti Dewi atau Sian Cu berkata girang.

“Dengan nama ini, kalau sekali waktu aku lupa dan menyebutmu enci Syanti, biar disangka menyebutmu Sian-ci (kakak Sian). Dan seperti engkau tahu, namaku adalah Lu Ceng. Kita berdua mengaku sebagai gadis dari daerah perbatasan yang lari mengungsi ke timur.”

“Baiklah, adik.... Ceng. Ah, hampir aku menyebutmu Candra yang bagiku terdengar lebih manis.”

“Nah, mari kita dekati perahu itu. Heran sekali, kemana tukang perahunya?”

Mereka melangkah lagi mendekati perahu dan setelah tiba di dekat tempat dimana perahu itu tertambat di tepi sungai, tampak seorang laki-laki sedang tidur di atas tanah, berbantal batu yang dilandasi kedua tangannya. Laki-laki itu tidur nyenyak, terdengar suara dengkurnya yang keras.

Ceng Ceng dan Syanti Dewi atau lebih baik disebut nama barunya yaitu Sian Cu, mendekati tukang perahu yang sedang tidur nyenyak itu dan memandang penuh perhatian. Dia seorang laki-laki bertubuh sedang, cukup tegap dan tampak kuat karena agaknya biasa bekerja berat, pakaiannya bersih akan tetapi telah terhias beberapa tambalan di dekat lutut dan siku, pakaian sederhana seorang petani atau nelayan, semodel dengan yang dipakai dua orang gadis itu.

Sukar ditaksir usia orang itu. Melihat bentuk mukanya, dia kelihatan masih muda sekali, akan tetapi kumis dan jenggotnya yang hitam gemuk dan liar tak terpelihara membuat muka itu kelihatan lebih tua. Model seorang nelayan yang bodoh yang sederhana dan biasa hidup keras dan sukar!

Ceng Ceng menggunakan ujung bajunya yang lebar untuk mengusap keringat dari dahi ke lehernya. Rambutnya agak awut-awutan dan karena dia tidak memakai caping lagi, benda itu telah hancur ketika dipakai melawan musuh yang lihai di malam hari yang lalu itu, mukanya yang putih halus dan cerah itu agak coklat kemerahan oleh sinar matahari.

“Hei, tukang perahu....!” Ceng Ceng berseru memanggil laki-laki yang sedang tidur nyenyak itu.

Si tukang perahu tetap tidur mendengkur, sedikitpun tidak bergerak, juga dengkurnya tidak berubah, tanda bahwa teriakan Ceng Ceng itu sama sekali tidak mengganggu tidurnya.

“Paman tukang perahu....!” Ceng Ceng berteriak lebih nyaring lagi.

Kini suara mendekur itu berubah agak perlahan, dan kumis liar di bawah hidung itu bergerak-gerak lucu, akan tetapi kumis itu diam lagi dan dengkurnya kini menjadi bertambah keras! Ceng Ceng yang berwatak keras itu mulai jengkel hatinya.

“Heii, tukang perahu yang malas! Bangunlah....!” Dia berteriak nyaring dan mengomel, “Wah celaka, bertemu seorang pemalas seperti kerbau!”

Tukang perahu itu menggerakkan kedua kakinya, menarik kedua tangan dari bawah kepala, mulutnya komat-kamit akan tetapi kedua matanya masih terpejam dan terdengar dia bicara dengan suara ngelindur.

“....aduhh.... siluman rase.... ahhh.... siluman ular....”

Dan dia lalu membalikkan tubuh, membelakangi dua orang dara itu, tidur mendengkur lagi lebih keras.

Ceng Ceng membanting kaki kanannya, mukanya merah dan matanya terbelalak marah.
“Kurang ajar! Babi pemalas! Tidak bangun malah memaki-maki orang!”

“Sabarlah, Ceng-moi. Dia tidak memaki, dia sedang tidur dan tentu mimpi.”

“Biarpun mimpi, jelas dia memaki kita. Dia menyebut siluman rase, siluman ular, bukankah itu memaki namanya? Di dongeng manapun juga, siluman rase dan siluman ular selalu menjadi seorang wanita!”

“Tapi jelas dia tidak sengaja, dia sedang tidur.”

“Kalau sengaja, tentu sudah kupatahkan semua giginya!”

Ceng Ceng berkata lagi, mendongkol sekali. Kakinya mencongkel tanah pasir di depannya dan beterbanganlah pasir dan tanah mengenai kepala dan leher tukang perahu itu. Tukang perahu itu terdengar mengeluh, kemudian tubuhnya bergerak dan dia sudah terlentang lagi seperti tadi, kedua tangan ditaruh di bawah kepalanya dan dia sudah tidur lagi mendengkur, hanya bedanya, kalau tadi mulutnya tertutup, kini bibirnya terbuka sehingga tampak di bawah kumis liar itu deretan giginya yang putih dan kuat, seolah-olah tukang perahu itu menantang dan memperlihatkan giginya untuk dipatahkan oleh Ceng Ceng! Ceng Ceng yang sedang marah itu makin gemas.

“Tukang perahu yang malas seperti kerbau dan babi!” teriaknya lagi. “Hayo bangun, atau.... kulemparkan kau ke dalam sungai!”

Tukang perahu itu tetap tidur.
“Enci, mari kita pakai saja perahu itu!”

“Eh, jangan Ceng-moi. Tak baik mencuri barang orang lain,” kata Sian Cu.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar