FB

FB

Ads

Selasa, 03 Februari 2015

Kisah Sepasang Rajawali Jilid 009

“Bagaimana aku dapat menolongmu? Ahhhh, mudah saja! Aku akan membunuh mereka semua, tentu tidak akan ada pembalasan dendam lagi!”

Sebelum kakek itu sempat menjawab, tubuh Tek Hoat berkelebat lenyap dari dalam kamar dan ternyata pemuda ini sudah berlari keluar, ke ruangan tamu di depan, di mana dia tadi meninggalkan empat orang lawannya. Dia sudah membunuh yang tiga, sedangkan yang empat lagi baru dia lucuti senjatanya saja.

Akan tetapi ketika dia tiba di ruangan depan itu, empat orang anggauta Jit-hui-houw sudah tidak nampak bayangannya lagi sedangkan mayat tiga orang itupun sudah lenyap. Mereka telah melarikan diri sambil membawa mayat ketiga suheng mereka! Terpaksa Tek Hoat kembali ke kamar dan dengan menyesal berkata kepada pemilik rumah makan.

“Sayang sekali mengapa aku tadi tidak membunuh yang empat orang lagi.”

“Taihiap, biarpun mereka dapat melarikan diri, kalau taihiap suka membantu kami, hidup kami akan tenteram dan mereka tentu tak akan berani lagi bermain gila.”

“Bagaimana aku dapat menolongmu, lopek?”

“Dengan menerima permohonan kami agar taihiap sudi menjadi suami anak kami Siu Li....”

“Hahhh....?”

Terbelalak sepasang mata yang tajam itu saking kagetnya. Akan tetapi dia mendengarkan juga ketika kakek itu menceritakan keadaan keluarganya. Kakek itu bernama Kam Siok yang hanya mempunyai seorang anak, yaitu gadis yang berusia tujuh belas tahun yang bernama Kam Siu Li itu. Ibu gadis itu telah meninggal dunia karena sakit, dan Kam Siok lalu menikah lagi tiga tahun yang lalu dengan seorang janda muda, yaitu wanita cantik berusia tigapuluh tahun lebih yang tadi hampir diperkosa bersama Siu Li, anak tirinya. Keadaan mereka cukup berada, karena hasil dari rumah makan itu cukup besar sehingga mereka hidup tenang dan senang. Akan tetapi siapa tahu, hari itu terjadi malapetaka yang hebat dan kalau tidak ada jalan yang baik, tentu mereka akan terancam bahaya pembalasan yang akan membasmi seluruh keluarga mereka.

“Demikianlah, taihiap. Hanya satu jalan bagi kami untuk dapat selamat, baik untuk keselamatan Siu Li agar dia tidak menanggung aib dan nekat hendak membunuh diri, maupun untuk kami sekeluarga agar terbebas dari ancaman pembalasan Jit-hui-houw.”

Pada saat itu, dua orang wanita yang tadi hampir diperkosa, memasuki kamar. Gadis yang bermuka merah sekali, dengan air mata bercucuran, digandeng tangannya dan agaknya dipaksa masuk oleh ibu tirinya dan bersama puterinya itu, wanita cantik isteri Kam Siok lalu menjatuhkan diri di depan Tek Hoat sambil berkata dengan suara merdu halus dan penuh daya membujuk,




“Mohon kemurahan hati taihiap agar memenuhi permohonan suami saya karena hanya taihiaplah bintang penolong kami satu-satunya....”

Muka yang cantik dengan sepasang mata yang penuh gairah menantang itu diangkat. Tek Hoat diam-diam kagum dan harus memuji kecantikan wanita ini, matanya, hidungnya, bibirnya yang menantang, dan belahan dadanya yang tampak karena pakaiannya yang tadi dirobek penjahat masih belum dibetulkan sama sekali. Adapun gadis yang juga berlutut sambil menunduk itu cantik pula, dengan kulit leher yang putih halus. Sungguhpun kecantikannya tidak menggairahkan seperti kecantikan ibu tirinya, namun, Siu Li tergolong dara yang cantik manis.

Hati Tek Hoat tertarik, bukan hanya kepada wanita-wanita itu, terutama sekali mengingat akan kekayaan kakek Kam Siok. Dia memang sudah kehabisan uang dan dia butuh sekali uang banyak dan pakaian yang indah. Apa salahnya kalau dia menerima penawaran ini? Mulutnya tersenyum, senyum yang membuat wajahnya kelihatan makin tampan akan tetapi senyum yang sinis dan mengandung ejekan penuh rahasia. Dia mengangguk.

“Baiklah, demi keselamatan kalian sekeluarga, aku menerima usul kalian ini.”

Kakek Kam Siok girang bukan main, maju menubruk dan merangkul calon mantunya,
“Anak baik.... Thian sendiri yang agaknya menurunkan engkau dari sorga untuk menolong kami....! Kalau begitu, perayaan pernikahan dapat segera dipersiapkan. Siapakah nama orang tuamu dan di mana mereka tinggal? Eh, siapa pula namamu? Ha-ha-ha, betapa lucunya. Seorang mertua tidak tahu nama mantunya!”

“Tidak perlu repot-repot, lopek. Aku seorang yang sebatangkara, tiada tempat tinggal tiada keluarga. Namaku.... Gak Bun Beng.”

Dapat dibayangkan betapa girangnya hati keluarga Kam Siok ketika Tek Hoat menerima permintaan mereka. Kam Siok merasa terlindung keluarganya, Kam Siu Li merasa tertebus aibnya apalagi memperoleh suami yang amat tampan dan gagah perkasa, hal yang sama sekali tak pernah dimimpikan karena dia hanyalah anak seorang anak pemilik rumah makan!

Dan ada orang yang diam-diam merasa girang sekali dan memandang hari depan penuh harapan. Orang ini adalah Liok Si, isteri Kam Siok yang masih muda dan cantik. Dengan mata haus dia memandang pemuda calon mantu tirinya itu dan hatinya bergelora panas. Dia tentu saja tidak pernah memperoleh kepuasan batin dari suaminya yang dua puluh lima tahun lebih tua daripada dia dan dia memang mau menjadi isteri pemilik rumah makan itu karena mengharapkan jaminan kecukupan dunia.

Akan tetapi, diam-diam dalam waktu tiga tahun ini, hatinya menderita dan matanya selalu menyambar seperti mata burung elang melihat tikus gemuk setiap kali dia melihat seorang pria muda yang tampan. Dan betapapun hatinya merindu, kesempatan tidak mengijinkan sehingga selama ini dia seperti orang kehausan yang tak pernah mendapatkan kepuasan. Akan tetapi sekarang, kesempatan terbuka lebar di depan mata! Seorang pemuda tampan berada serumah dengan dia dan agaknya akan leluasalah dia mendekati pemuda itu, karena bukankah pria muda ini mantunya?

Pesta pernikahan dilangsungkan meriah juga. Karena rumah makan itu sudah terkenal dan mempunyai banyak langganan, maka perkawinan antara puteri pemilik rumah makan dengan “Gak Bun Beng” ini mendapat kunjungan banyak sekali tamu. Selain sebagai langganan, juga para tamu itu ingin sekali menyaksikan pemuda yang telah menggemparkan kota Shen-yang, pemuda yang kabarnya telah merobohkan tujuh orang Jit-hui-houw, bahkan membunuh tiga orang di antara mereka!

Sebentar saja nama Gak Bun Beng terkenal di seluruh kota dan sekitarnya, dan lebih menggemparkan lagi ketika sisa Jit-hui-houw yang tinggal empat orang itu kini tidak tampak lagi di Shen-bun, sudah menghilang entah ke mana! Diam-diam banyak orang yang merasa lega dan bersyukur kepada pemuda asing ini.

Ketika sepasang mempelai dipertontonkan kepada umum, para tamu kagum sekali melihat Tek Hoat. Tak mereka sangka bahwa pemuda yang telah merobohkan Jit-hui-houw itu masih demikian muda. Seorang pemuda remaja yang luar biasa tampan dan gagahnya! Betapa untungnya Kam Siong memperoleh seorang anak mantu seperti itu, dan lebih untung lagi anak perawannya yang hampir diperkosa anggauta Jit-hui-houw, tidak saja terbebas dari malapetaka pemerkosa, bahkan telah memperoleh seorang suami yang demikian gagah perkasa dan tampan!

Pada saat para tamu sedang bergembira menghadapi hidangan, tiba-tiba terjadi kegaduhan dan banyak tamu yang sudah bangkit berdiri dan menyingkir ke tempat aman ketika mereka melihat datangnya lima orang yang membuat mereka terkejut. Ada tamu yang sampai terbatuk-batuk karena makanan yang baru saja dijejalkan ke mulut itu tersesat jalan ketika matanya mengenal empat orang dari Jit-hui-houw yang datang itu dengan sikap garang, mengiringkan seorang kakek gemuk pendek yang pakaiannya penuh tambalan dan tangannya memegang sebatang tongkat baja berwarna hitam!

Gegerlah suasana pesta ketika empat orang Jit-hui-houw itu menendangi meja kursi dalam kemarahan mereka karena meja kusi menghalang jalan. Tamu-tamu lari cerai-berai dan hanya berani menonton dari tempat jauh walaupun ada pula sebagian para tamu yang berhati tabah tetap berada di tempat pesta itu, berdiri agak jauh di pinggiran.

Dapat dibayangkan betapa paniknya fihak tuan rumah. Biarpun mereka sudah menduga-duga bahwa setiap waktu fihak Jit-hui-houw tentu akan mengacau dan datang membalas dendam, dan biarpun mereka sudah percaya penuh akan perlindungan Tek Hoat, namun melihat munculnya empat orang Jit-hui-houw bersama seorang jembel tua yang menyeramkan itu, mereka menjadi pucat ketakutan. Kam Siok sendiri sudah menarik tangan anak isterinya ke sebelah dalam, bersembunyi di dalam kamar, kemudian dia sendiri mengintai keluar dengan jantung berdebar tegang.

Tentu saja Tek Hoat merasa marah sekali menyaksikan betapa lima orang itu datang mengacaukan perayaan pesta pernikahannya. Akan tetapi sambil tersenyum pemuda ini melangkah lebar ke ruangan depan yang sudah sunyi itu. Sunyi sekali di situ karena semua orang, yang dekat maupun yang menonton dari jauh, tidak ada yang mengeluarkan suara, bahkan mereka itu seperti menahan napas melihat pemuda yang menjadi pengantin itu melangkah menghampiri lima orang yang sudah berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang lebar dan bersikap menantang itu.

Setelah berhadapan dengan lima orang itu, Tek Hoat berkata sambil tersenyum mengejek dan memandang empat orang sisa Jit-hui-houw,

“Beberapa hari yang lalu aku tidak sempat membunuh kalian apakah sekarang kalian datang untuk menyerahkan nyawa?”

Empat orang itu mencabut pedang dan golok, muka mereka merah sekali dan mata mereka mendelik.

“Suhu, inilah jahanam yamg telah membunuh tiga suheng itu!” kata seorang di antara mereka.

Kakek tua berpakaian jembel itu memandang dengan mata terbelalak penuh keheranan. Dia adalah Sin-houw Lo-kai (Jembel Tua Harimau Sakti), seorang pertapa di hutan yang letaknya di luar kota Shen-bun, tinggal di sebuah kuil tua yang kosong dan hidupnya dijamin oleh tujuh orang muridnya, yaitu Jit-hui-houw yang terkenal itu.

Tujuh orang muridnya telah memiliki kepandaian hebat, dan biarpun tak dapat dikatakan luar biasa, namun sukarlah dicari orang yang dapat menghadapi mereka bertujuh kalau maju bersama. Mendengar penuturan empat orang muridnya bahwa tiga di antara mereka tewas oleh seorang musuh, dia menyangka bahwa murid-muridnya itu tentu dikalahkan seorang kang-ouw yang ternama.

Akan tetapi dapat dibayangkan betapa heran dan kagetnya ketika empat orang muridnya memperkenalkan seorang pemuda remaja yang menjadi pengantin ini yang menjadi pembunuh tiga orang muridnya! Dia merasa penasaran sekali. Demikian lemahkah murid-muridnya sehingga kalah oleh seorang pemuda yang masih hijau ini? Sukar untuk dipercaya. Kini melihat pemuda tanggung itu, yang kelihatannya masih belum dewasa benar, berdiri tenang tanpa senjata apapun, dia segera membentak kepada empat orang muridnya,

“Kalau begitu tunggu apa lagi kalian? Hayo balaskan kematian tiga orang suhengmu!”

Empat orang itu sebetulnya merasa jerih karena mereka sudah maklum betapa lihainya pemuda yang kelihatan lemah ini. Akan tetapi karena suhu mereka yang memerintah, dan pula mereka mengandalkan suhu mereka yang tentu akan membantu mereka, maka begitu mendengar perintah ini mereka sudah menerjang maju dengan teriakan-teriakan garang, senjata mereka berkelebat menyambar ke arah tubuh Tek Hoat.

Pemuda ini biarpun mulutnya tersenyum, namun hatinya panas seperti dibakar saking marahnya. Melihat dua batang pedang dan dua batang golok menyambarnya, dia bergerak cepat sekali, tubuhnya lenyap menjadi bayangan yang menyelinap di antara sambaran sinar senjata lawan, tangan kakinya bergerak dan terdengar suara berkerontangan ketika empat buah senjata itu terlepas dari tangan para pemegangnya yang terkena tamparan dan tendangan, kemudian sebelum mereka sempat mundur dan sebelum kakek jembel itu sempat menolong murid-muridnya, Tek Hoat sudah berkelebat cepat sekali, jari-jari tangannya menyambar ke arah kepala dan berturut-turut terdengar pekik kengerian disusul robohnya empat orang Jit-hui-houw itu. Mereka roboh dan berkelojotan sebentar lalu diam tak bergerak, mati dengan kepala berlubang karena tusukan dua jari tangan Tek Hoat!

Peristiwa ini terjadi dengan sedemikian cepatnya sehingga sukar diduga terlebih dulu. Sin-houw Lo-kai yang melihat empat orang muridnya roboh dan tewas terbelalak kaget dan hampir dia tidak dapat menahan kemarahan dan kedukaan hatinya. Kini semua muridnya, ketujuh Jit-hui-houw telah tewas semua, dan kesemuanya dibunuh oleh pemuda yang luar biasa ini! Dia mengeluarkan gerengan seekor harimau, kemudian membentak,

“Bocah kejam! Siapakah namamu? Siapa pula gurumu? Mengakulah sebelum Sin-houw Lo-kai turun tangan membunuhmu!”

Tek Hoat tersenyum mengejek.
“Perlu apa menanyakan nama guruku? Aku bukanlah seorang pengecut macam murid-muridmu yang belum apa-apa sudah merengek dan minta bantuan gurunya! Namaku adalah Gak Bun Beng.”

“Keparat sombong! Engkau telah berhutang tujuh nyawa muridku, hari ini aku Sin-houw Lo-kai harus mengadu nyawa denganmu!”

Setelah berkata demikian, kakek jembel itu lalu menggerakkan tongkatnya dan menyerang. Karena dia tahu akan kelihaian pemuda itu, maka dia tidak sungkan-sungkan lagi menyerang seorang lawan yang masih begitu muda dan bertangan kosong, menggunakan tongkatnya yang ampuh.

Melihat tongkat menyambar-nyambar dan berbunyi bercuitan, mengeluarkan angin yang berputaran, maklumlah Tek Hoat bahwa kepandaian kakek ini tidak boleh dipandang ringan. Dibandingkan dengan kakek ini, ternyata murid-muridnya hanyalah gentong kosong belaka! Tongkat yang butut itu ternyata terbuat daripada baja yang kuat dan berat.

Dengan hati-hati sekali Tek Hoat melayani lawannya dengan ilmu silat yang dipelajarinya dari ibunya. Tubuhnya gesit sekali ketika mengelak ke sana-sini, kadang-kadang meloncat kalau tongkat lawan menyambar dari pinggang ke bawah dengan lompatan yang ringan dan tinggi.

“Haiit, kau murid Bu-tong-pai!” Kakek itu menahan tongkatnya dan membentak.

Akan tetapi Tek Hoat tidak menjawab, bahkan menggunakan kesempatan itu untuk tiba-tiba menubruk ke depan, mainkan ilmu silatnya yang amat aneh dan ampuh, yang dilatihnya dari Sai-cu Lo-mo.

Melihat pemuda itu menerjangnya, kakek jembel itu cepat mengelak lalu memutar tongkatnya. Akan tetapi berkali-kali dia berteriak kaget karena hampir saja tubuhnya kena dihantam lawan yang memainkan ilmu silat amat aneh. Ilmu silat pemuda itu dasarnya seperti Pat-kwa-kun, akan tetapi jauh berbeda, terisi penuh tipu muslihat dan keganasan, namun mengandung tenaga yang amat kuat.

Itulah ilmu silat gabungan Pat-sian-sin-kun dan Pat-mo-sin-kun, sedangkan hawa pukulan yang keluar dari kedua telapak tangannya amat panas! Sekali ini, Sin-houw Lo-kai benar-benar terkejut dan tidak dapat dia mengenal lagi ilmu silat yang dimainkan Tek Hoat. Kalau tadi, ketika pemuda itu menggunakan ilmu silat yang dia kenal sebagai ilmu silat Bu-tong-pai, dia dapat mendesak, akan tetapi begitu pemuda itu mainkan ilmu silat yang amat aneh ini, tongkatnya hanya dipergunakan untuk melindungi tubuhnya. Dia merasa seolah-olah pemuda itu telah berubah menjadi delapan orang yang menyerangnya dari delapan penjuru!

Kakek itu makin kaget dan penasaran, akan tetapi dia harus melindungi tubuhnya dari hantaman-hantaman yang disertai hawa panas membara yang keluar dari kedua telapak tangan pemuda itu. Maka dia lalu memutar tongkatnya yang berat sehingga tongkat itu berubah menjadi segulung sinar hitam yang menyelimuti tubuhnya.

Tek Hoat juga merasa penasaran. Pemuda ini terlalu mengandalkan dirinya sendiri, terlalu percaya bahwa dia akan sanggup mengalahkan lawannya yang manapun juga, apalagi setelah dia menjadi murid Sai-cu Lo-mo selama dua tahun. Kini mampu mengalahkan kakek jembel itu biarpun mereka sudah bertanding selama seratus jurus, dia merasa penasaran bukan main. Akan tetapi dia tetap keras kepala, tidak mau menggunakan senjata. Dia harus mampu mengalahkan kakek itu dengan tangan kosong saja!

“Mampuslah....!” Tiba-tiba kakek itu membentak dan tiba-tiba tangan kirinya bergerak.

“Cuat-cuat-cuattttt....!” tiga sinar putih menyambar ke arah tubuh Tek Hoat.

Pemuda ini cepat mengelak dari serangan piauw (senjata runcing yang dilontarkan), akan tetapi tiba-tiba kakinya tersandung bangku dan dia terguling roboh! Tentu saja Sin-houw Lo-kai menjadi girang sekali. Cepat dia menubruk ke depan dan tongkatnya dihantamkan sekuat tenaganya ke arah kepala lawannya.

“Siuuuuttt.... plakkk!”

Tongkat menyambar turun dan cepat bagaikan kilat Tek Hoat sudah meloncat ke atas. Kiranya dia tadi hanya pura-pura jatuh untuk memancing perhatian lawan. Ketika melihat lawannya menghantamkan tongkat ke atas kepalanya, Tek Hoat meloncat dan menangkap tongkat itu di tengah-tengah dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menampar ke arah tangan lawan yang masih memegang tongkat.

Kakek itu mengeluh dan terpaksa membiarkan tongkatnya terampas oleh Tek Hoat yang telah membetotnya sambil mengerahkan tenaga. Tentu saja kakek itu tidak dapat mempertahankan tamparan Tek Hoat yang dilakukan dengan pengerahan sin-kang yang amat panas, sin-kang yang dilatihnya di bawah bimbingan Sai-cu Lo-mo.

Kini Tek Hoat berdiri tegak setelah tadi meloncat ke belakang sambil membawa tongkat rampasannya. Adapun kakek itu telah bersiap untuk bertanding mati-matian, matanya menjadi merah dan mulutnya seolah-olah mengeluarkan uap panas.

“Ha-ha, tongkatmu ini tidak ada gunanya, Sin-houw Lo-kai.”

Sambil berkata demikian, pemuda itu menekuk-nekuk tongkat baja yang kuat itu dengan kedua tangannya dan tongkat itu tertekuk sampai bengkok-bengkok seperti ular! Dengan senyum mengejek pemuda itu melemparkan tongkat itu ke atas lantai kemudian melangkah maju menghampiri lawannya.

Pucatlah wajah kakek itu. Dia maklum bahwa biarpun lawannya masih muda sekali, namun ternyata memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi dan memiliki tenaga sin-kang yang amat kuat. Dia tahu bahwa dia bukanlah tandingan pemuda ini, akan tetapi setelah pemuda itu membunuh semua muridnya, setelah pemuda itu begitu menghina dan memandang rendah kepadanya, tentu saja dia merasa lebih baik mati daripada mundur!

Dia mengeluarkan pekik melengking penuh kemarahan, tubuhnya meloncat ke atas dan menubruk seperti seekor harimau. Memang kakek ini terkenal lihai dengan Ilmu Silat Harimau sehingga julukannya Harimau Sakti, bahkan ketujuh orang muridnya yang tewas itupun terkenal dengan julukan Tujuh Harimau Terbang. Lawan yang ditubruk oleh jurus paling ampuh dari ilmu silatnya ini tentu akan menjadi panik, dan gerakan menubruk ini banyak sekali perkembangannya.

Akan tetapi Tek Hoat yang kini sudah merasa yakin bahwa tenaganya masih lebih kuat daripada kakek itu, memandang rendah serangan ini dan dia bahkan menyambut serangan lawan dan siap mengadu tenaga! Maka ketika kakek itu menubruk, dengan kedua tangan dikembangkan dan jari-jari tangan terbuka seperti cakar harimau, Tek Hoat juga mengembangkan kedua lengannya dan menerima kedua tangan lawan itu dengan tangannya sendiri.

“Plak! Plak!”

Dua pasang telapak tangan itu bertemu dan mulailah terjadi adu tenaga sin-kang yang dilakukan tanpa bergerak namun yang kehebatannya tidak kalah dengan adu kecepatan kaki tangan tadi. Kakek itu berdiri dengan kedua kaki terpentang, mukanya beringas seperti muka harimau marah, tubuhnya agak merendah, dia mengerahkan seluruh tenaganya.

Tek Hoat berdiri biasa saja, senyumnya masih menghias mulutnya, matanya tajam bersinar-sinar, wajahnya berseri dan diam-diam dia mengerahkan Yang-kang yang mengandung hawa panas itu. Dua pasang lengan itu sampai tergetar hebat dalam adu tenaga itu, akan tetapi lambat laun kakek jembel itu sukar dapat mempertahankan diri lagi karena hawa panas itu makin mendesak dan makin membakar seolah-olah hendak membakar seluruh tubuhnya. Dia dapat mempertahankan dorongan tenaga sin-kang lawan, akan tetapi menghadapi hawa panas yang meresap ke dalam tubuhnya itu dan membuat dadanya seperti akan meledak, dia merasa tersiksa sekali.

Tek Hoat makin memperkuat dorongannya makin mengerahkan sin-kangnya sehingga dari telapak tangannya mengepul uap panas. Kakek itu meringis, makin menderita dan akhirnya kedua kakinya gemetaran, perlahan-lahan lututnya tertekuk, makin lama makin rendah dan akhirnya dia jatuh berlutut dan tubuhnya gemetar semua.

Untuk kesekian kalinya Tek Hoat mengerahkan tenaganya, terutama pada tangan kanannya yang sudah menekan tangan kiri lawan.

“Krekkk....! Aughh....!”

Sin-houw Lo-kai memekik kesakitan, akan tetapi pekiknya menjadi memanjang, menjadi lengking mengerikan ketika tangan kanan Tek Hoat secepat kilat sudah melepaskan tangan kiri lawan dan menyambar ke arah kepala lawan. Jari tangannya, telunjuk dan jari tengah, menusuk dan masuk semua ke dalam kepala kakek itu. Tubuh kakek itu berkelejotan dan terlempar keluar ketika Tek Hoat menendangnya, tak lama kemudian tubuhnya tak bergerak lagi, mati seperti empat orang muridnya.

Kakek Kam Siok dan para tamu yang menyaksikan pertandingan itu dan melihat betapa lima orang pengacau itu telah tewas semua, segera menghampiri Tek Hoat dan mertua yang merasa amat girang dan lega ini merangkul mantunya dengan penuh kebanggaan. Mayat lima orang itu cepat diurus dan kakek Kam Siok membereskan persoalan itu dengan pembesar setempat. Banyak sekali saksinya bahwa lima orang itulah yang datang mengacau, maka Tek Hoat tidak dituntut, apalagi karena Kam Siok berani mengeluarkan banyak hadiah untuk para petugas yang mengurus persoalan itu.

Pesta perkawinan dilanjutkan dengan meriah dan kegagahan Tek Hoat menjadi bahan percakapan para tamu. Nama “Gak Bun Beng” terkenal sekali dan semua orang merasa kagum akan kegagahan pemuda yang masih muda sekali itu dan menyatakan betapa untungnya Kam Siok memperoleh seorang mantu seperti itu.

Akan tetapi hanya orang luar saja yang menganggap bahwa keluarga Kam berbahagia dengan munculnya pemuda tampan dan gagah itu, karena orang luar tidak tahu keadaan sebenarnya. Adapun kakek Kam Siok dan puterinya, Kam Siu Li, menderita tekanan batin hebat ketika beberapa hari saja setelah pesta pernikahan itu berlangsung, secara terang-terangan pemuda itu bermain gila dengan si ibu tiri!

Tek Hoat yang masih hijau dalam soal asmara, tentu saja tidak dapat melawan godaan Liok Si yang selain cantik sekali, juga pandai merayu dan bergaya itu. Dengan mudah Tek Hoat dapat ditundukkan dan terjatuh ke dalam pelukan ibu tiri ini. Mungkin karena mengandalkan kelihaian Tek Hoat, Liok Si berani melakukan perjinaan dengan mantu tirinya ini secara berterang! Dia seolah-olah menantang suaminya dan anak tirinya! Merayu, merangkul dan mencium mantunya da depan suami dan anak tirinya bukan merupakan hal yang aneh baginya!

Adapun Tek Hoat yang masih hijau, menurut saja karena dia mendapatkan kenikmatan yang luar biasa dalam hubungannya dengan Liok Si, kenikmatan yang tak dapat dia rasakan bersama isterinya yang juga sama-sama belum berpengalaman dan masih hijau seperti dia dalam bercumbu rayu.

Dapat dibayangkan betapa hancur hati Siu Li dan betapa marah dan malu rasa hati Kam Siok. Akan tetapi apa yang dapat mereka lakukan? Mereka berhutang budi, bahkan berhutang nyawa kepada “Gak Bun Beng”, dan mereka takut sekali kepada pemuda ini. Ayah dan anak ini hanya dapat bertangis-tangisan jika mereka berdua saja, menyesali nasib mereka yang sangat buruk. Sedangkan Tek Hoat hampir selalu berada di dalam kamar Liok Si, bermain-main dan bersendau-gurau sebebas-bebasnya, siang malam!

Barulah terjadi geger bagi orang-orang di luar rumah makan itu ketika sebulan kemudian setelah pesta pernikahan yang menghebohkan itu, terjadi ribut-ribut di rumah makan dan semua orang terkejut ketika mendengar bahwa kakek Kam Siok dan puterinya, Kam Siu Li si pengantin baru, tahu-tahu telah kedapatan mati di dalam kamarnya dengan kepala berlubang bekas tusukan jari tangan!

Pada malam itu, si pengantin pria yang gagah perkasa itu kebetulan sedang pergi ke luar kota. Ketika Tek Hoat pada pagi harinya datang dan menyaksikan isterinya dan ayah mertuanya sudah tewas dan dirubung para tetangga, dia marah sekali, memaki-maki dan menantang-nantang.

“Jahanam keparat!” teriaknya nyaring. “Ini tentu perbuatan teman-teman Jit-hui-houw! Pengecut benar! Mengapa membunuh orang yang tak bersalah dan lemah? Kalau memang berani, hayo datang dan lawanlah aku!”

Semua orang membenarkan dugaan pemuda ini bahwa pembunuhnya tentulah kawan-kawan dari Jit-hui-houw yang membalas dendam, maka mereka diam-diam merasa kasihan kepada pemuda yang mengagumkan hati mereka itu. Demikianlah pendapat orang luar. Akan tetapi di sebelah dalam rumah itu, Tek Hoat dan Liok Si tertawa-tawa merayakan kemenangan mereka dan Tek Hoat membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan kekasihnya yang pandai merayu. Pembunuhan itu tentu saja dilakukan oleh Tek Hoat sendiri atas bujukan Liok Si dan semua harta benda peninggalan Kam Siok tentu jatuh ke tangan mereka.

Akan tetapi, kemesraan di antara mereka berdua tidak dapat bertahan lama. Tek Hoat suka kepada Liok Si yang cantik genit itu hanya karena dorongan nafsu yang dibangkitkan oleh Liok Si yang pandai merayu. Setelah nafsu berahi terlampiaskan, yang muncul hanya kebosanan dan kemuakan.

Demikian pula dengan Tek Hoat, pemuda hijau yang salah didik ini. Dia mulai merasa bosan dan sebulan kemudian, sering kali dia keluar rumah, bahkan bermalam di kota lain. Jiwa perantauannya timbul kembali dan dia mulai tidak kerasan berada di rumah makan itu. Hal ini tentu saja mengecewakan hati Liok Si, juga membuatnya sengsara. Wanita yang haus cinta ini mana mungkin disuruh melewatkan malam-malam sunyi dan sendirian saja? Mulailah dia mengerlingkan matanya yang bagus itu kepada seorang pemuda tetangga, yang biarpun tidak setampan Tek Hoat, namun memiliki tubuh tinggi besar sehingga cukup membangkitkan gairahnya. Akhirnya, apabila Tek Hoat tidak bermalam di rumah, Liok Si berhasil memikat pemuda itu memasuki kamarnya di mana dia memuaskan semua kehausannya.

Pada suatu malam, tidak seperti biasanya, Tek Hoat pulang dan pemuda ini memasuki rumah melalui genteng. Ketika dia mendorong daun pintu kamar Liok Si, dia melihat Liok Si dan pemuda tinggi besar itu di atas pembaringan! Tanpa memberi kesempatan kepada mereka untuk mengeluarkan suara, dua kali tangannya menyambar dan dua tubuh yang telanjang itu berkelojotan sebentar, kemudian diam dan mati dengan kepala berlubang bekas tusukan jari tangan!

Diam-diam Tek Hoat mengumpulkan semua perhiasan Liok Si dan semua uang emas dan perak peninggalan kakek Kam, dibuntal dengan bungkusnya, kemudian menjelang pagi dia melompat ke atas genteng sambil mengerahkan khi-kangnya berteriak keras,

“Pembunuh! Hendak lari ke mana kau?” Dan dia berkali-kali berteriak “Pembunuh!” sampai para tetangga terkejut dan keluar.

Setelah semua tetangga masuk dan melihat tubuh Liok Si dan si pemuda tinggi besar yang mereka kenal adalah pemuda tetangga terkapar di atas pembaringan dalam keadaan telanjang bulat dan mati dengan kepala berlubang, mereka terkejut sekali dan keadaan kembali menjadi geger. Tek Hoat lalu menceritakan betapa malam itu dia tidur nyenyak, dan bahwa dia tahu ibu mertuanya sedang kedatangan kekasihnya akan tetapi dia tidak berani mencampurinya. Kemudian dia terbangun oleh suara ribut, ketika dia meloncat dan naik ke atas genteng, dia melihat berkelebatnya bayangan yang gesit sekali. Dia berusaha mengejar akan tetapi bayangannya ditelan kegelapan malam.

“Dia lihai sekali!” demikian dia menyambung. “Tentu dialah orangnya yang telah membunuh isteriku, dan yang sekarang kembali datang membunuh ibu mertua dan kekasihnya. Bedebah dia! Aku akan mencarinya sampai dapat! Aku tidak akan kembali ke sini sebelum aku dapat membunuh penjahat itu!”

Demikian Tek Hoat mengakhiri sandiwaranya, kemudian dia menyerahkan rumah yang harta bendanya telah dikuras itu kepada tetangga di sebelah. Setelah itu, pergilah Tek Hoat membawa buntalan pakaian dan harta benda yang lumayan banyaknya. Semua orang merasa kasihan kepada pemuda perkasa ini, dan nama “Gak Bun Beng” menjadi kenangan mereka di kota itu.

Akan tetapi, banyak di antara para tetangga yang mulai merasa curiga kepada pemuda itu. Mengapa pembunuhan selalu terjadi tanpa setahu pemuda itu? Dan mengapa pula para kawan Jit-hui-houw yang semua terbunuh oleh pemuda itu membalas sakit hatinya kepada keluarga Kam, bukan kepada si pemuda? Dan semua yang tewas itu berlubang kepalanya! Mereka teringat betapa mayat lima orang yang mengacau pesta pernikahan dahulu itu, si kakek jembel bersama empat orang Jit-hui-houw juga mati dengan kepala berlubang! Dan si tetangga yang diserahi rumah makan, mendapatkan kenyataan bahwa rumah makan itu hanya tinggal perabotnya saja, semua harta benda yang berharga telah lenyap!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar