FB

FB

Ads

Rabu, 07 Oktober 2015

Kisah Para Pendekar Pulau Es Jilid 042

“Siang-ko....! Cepat.... Bun-ko dilecut belut petir! Tolongggg....!”

Mendengar ini dan melihat Ciang Bun yang pingsan, Lee Siang cepat meloncat dan berenang menghampiri, membantu adiknya membawa Ciang Bun naik ke dalam perahu kecil mereka. Melihat Ciang Bun rebah terlentang dengan muka pucat kebiruan dan napas nampaknya berhenti sama sekali, matanya terbelalak dan tidak bersinar lagi, Lee Hiang menjerit dan menubruk tubuh itu dan menangis.

“Bun-ko....! Bun-ko.... ah, Bun-ko, jangan mati.... jangan tinggalkan aku, Bun-ko....!”

Ia menangis sesenggukan. Tangan Lee Siang yang kuat menariknya dan terdengar suara pemuda itu yang keren.

“Hiang-moi, kong-kong tentu akan memukulmu kalau melihat sikapmu yang cengeng ini! Tenanglah dan aku akan mencoba menolongnya seperti yang pernah diajarkan oleh kong-kong.”

Lee Hiang melepaskan rangkulannya, dan duduk agak menjauh, akan tetapi ia belum berhenti menangis sesenggukan dan memanggil-manggil nama Ciang Bun. Sementara itu, Lee Siang lalu memeriksa nadi lengan Ciang Bun dan dengan lega mendapat kenyataan bahwa urat nadi itu masih berdetak, walaupun lemah sekali. Kalau tidak cepat ditolong, tentu urat nadi itu akan berhenti berdetak pula. Maka tanpa ragu-ragu dia lalu mengangkat kepala Ciang Bun dengan menaruh tangan kiri pada bawah tengkuk, membuka mulut Ciang Bun, menggunakan tangan kanan menutup lubang hidung pemuda itu dan merapatkan mulutnya ke mulut Ciang Bun yang terbuka. Maka ditiupnyalah sekuat tenaga ke dalam mulut Ciang Bun. Dada Ciang Bun bergerak mekar dan ketika tiupan dihentikan dan Lee Siang melepaskan “ciumannya”, dada itu mengempis lagi.

Akan tetapi pernapasan Ciang Bun belum juga berjalan. Lee Siang mengulangi tiupannya itu sampai berkali-kali. Akhirnya pernapasan Ciang Bun mulai berjalan, mula-mula amat lemah akan tetapi sudah berjalan kembali, melegakan hati Lee Siang yang menghentikan usahanya.

“Bun-koko.... sadarlah, jangan mati.... aku.... aku cinta padamu, Bun-ko!”

Suara inilah yang pertama-tama terdengar oleh Ciang Bun. Dia sudah sadar kembali akan tetapi belum membuka matanya, bahkan kini hampir tidak berani membuka matanya ketika mendengar suara Lee Hiang itu. Lee Hiang menangis! Dan bilang cinta padanya! Hatinya merasa tegang dan tidak enak sekali. Lalu dia teringat akan pengalamannya tadi.






Dia berhasil menangkap belut bersama Lee Hiang, akan tetapi dara itu menciumnya! Mencium mulutnya! Dan ketika dia berenang hendak naik, dia melihat seekor belut putih yang hendak ditangkapnya lalu tiba-tiba dia merasa dirinya seperti dibakar dan tidak ingat apa-apa lagi.

Ciang Bun membuka matanya, melihat Lee Hiang masih menangis dan melihat Lee Siang merangkulnya. Jantungnya berdebar senang. Begitu senang dia karena rangkulan Lee Siang ini! Akan tetapi dia juga merasa malu dan sungkan, lalu bangkit duduk dan bertanya,

“Apakah yang terjadi? Di mana.... eh, belut itu....?”

Lee Hiang memegang tangan kirinya dengan kedua tangan meremas-remas tangan itu.
Ciang Bun merasa semakin tidak enak dan ingin menarik tangannya, akan tetapi takut kalau-kalau menyinggung perasaan Lee Hiang, maka didiamkannya saja.

“Bun-ko, tahukah engkau bahwa engkau nyaris tewas sehingga aku menjadi amat khawatir?”

Ciang Bun memandang wajah yang manis itu, yang kini sudah tersenyum akan tetapi pipinya masih basah, bukan hanya basah air laut melainkan juga air mata.

“Apa yang terjadi?”

“Belut putih yang kau tangkap itu adalah belut beracun yang amat jahat, namanya belut petir. Belut itu tidak menggigit, melainkan melecut dengan ekor dan tubuhnya yang mengandung kekuatan membakar seperti petir. Biasanya, orang yang terkena lecutan belut itu tentu akan mati. Dia tidak pernah menyerang kalau tidak diserang lebih dulu dan karena engkau hendak menangkapnya, maka dia menyerangmu. Ah, kukira tadi engkau sudah.... sudah.... mati, koko. Untung ada Siang-ko yang pernah belajar cara menyembuhkan orang yang belum mati dilecut binatang itu.”

Lee Siang juga menyambung.
“Dan untung sekali bahwa engkau memiliki sin-kang yang amat kuat, hiante. Lecutan belut itu mengandung kekuatan membakar yang amat hebat, seperti orang kalau disambar petir. Karena jantungmu amat kuat berkat sin-kangmu, maka hanya pernapasanmu saja yang terhenti, akan tetapi jantungmu masih berdetak lemah. Aku hanya tinggal membantu pernapasanmu saja.”

“Membantu pernapasan?” Ciang Bun bertanya heran.

“Ya, membantu agar pernapasanmu pulih dan bekerja kembali karena tadinya terhenti oleh guncangan hebat akibat lecutan belut petir itu. Kalau jantungmu berhenti, baru aku akan membantu gerakan jantungmu dengan totokan dan pijatan yang kuat. Hal itu amat berbahaya karena mungkin saja dapat mematahkan beberapa ujung tulang igamu! Syukur engkau selamat berkat kekuatan sin-kangmu.”

Ciang Bun memandang dengau kagum.
“Ah, kalau begitu aku berhutang nyawa kepadamu, twako.”

Lee Siang menggerakkan tangan dengan jengah
“Aih, mengapa engkau begitu sungkan? Sudah sepatutnya kalau aku yang tahu sedikit akan cara pengobatan itu menolongmu.”

“Akupun ingin belajar ilmu itu, twako. Siapa tahu, lain kali aku perlu menolong seorang di antara kalian, atau orang lain.” Dia berhenti sebentar lalu melanjutkan, “Bagaimana sih cara pengobatan itu? Menggunakan obat? Bagaimana engkau bisa membantu pernapasan orang lain bekerja kembali setelah napas itu berhenti? Apakah dengan totokan-totokan tertentu?”

“Tidak, melainkan dengan meniupkan hawa ke dalam paru-parumu melalui mulut,” jawab Lee Siang.

“Ehhh....? Bagaimana caranya? Coba kau beri contoh, twako, bagaimana cara engkau menolongku tadi?”

Mendadak saja Lee Siang kelihatan jengah dan malu-malu, sedangkan Lee Hiang tersenyum-senyum aneh.

“Hei, kalian kenapa?”

“Pengobatan itu dilakukan dengan cara mencium....” dara itu berkata jenaka.

“Ehh? Jangan main-main, siauw-moi, aku sungguh ingin belajar dan ingin tahu cara pengobatan yang aneh akan tetapi dapat menyelamatkan nyawa manusia ini”.

“Siang-koko, kenapa tidak kau beri contoh saja dia ini. Biar puas hatinya,” Lee Hiang menggoda.

Lee Siang menghela napas.
“Baiklah, hiante. Kau rebahlah seperti tadi ketika engkau pingsan.” Setelah Ciang Bun merebahkan diri terlentang, pemuda itu berkata. “Mula-mula engkau periksa pernapasan dan detik nadinya. Engkau tadi dalam keadaan pingsan, pernapasanmu terhenti sama sekali akan tetapi detik nadimu masih berdenyut walaupun lemah. Itu berarti bahwa paru-parumu berhenti bekerja akan tetapi jantungmu masih bekerja. Lalu aku mengangkat lehermu begini, maksudnya agar lubang kerongkonganmu terbuka lebar. Lalu aku menutupi kedua lubang hidungmu dan meniupkan hawa ke dalam paru-parumu begini.”

Biarpun sungkan untuk mengajari pemuda itu, Lee Siang lalu menutup mulut Ciang Bun yang dibukanya itu dengan mulutnya sendiri dan diapun meniup keras-keras!

Ciang Bun terbelalak, akan tetapi jantungnya berdebar dan suatu perasaan yang amat mesra merayapi seluruh tubuhnya. Tidak seperti ketika Lee Hiang menciumnya di dalam air tadi, kini dia merasa senang sekali beradu mulut dengan Lee Siang! Akan tetapi dia terbatuk-batuk ketika pemuda itu meniupkan hawa dengan kuatnya ke dalam paru-parunya. Hal ini terjadi karena dia terkejut dan tentu saja timbul perlawanan dari kerongkongannya. Lee Hiang memandang sambil tertawa terpingkal-pingkal, sedangkan Lee Siang tersenyum saja.

“Nah, usaha itu kau ulangi terus sampai si korban dapat bernapas sendiri, atau sampai paru-paru itu bekerja kembali, hiante. Sedangkan kalau nadinya sudah tidak berdenyut lagi yang berarti jantungnya terhenti karena guncangan hebat itu, engkau totok dia di sini.” Dia meraba dua jalan darah di pungung dan atas lambung dan menambahkan, “Kemudian engkau tekan dan pijit arah jantung dari dada depan, dan ini mungkin saja akan mematahkan ujung tulang iga, akan tetapi hal itu tidak berbahaya. Usaha ini adalah untuk menghimpit dan mendorong jantung agar jantung yang bekerja seperti pompa itu dapat bergerak dan bekerja kemhali.”

Akan tetapi perhatian Ciang Bun sudah kurang dapat dipusatkan. Jantungnya berdebar keras ketika dia memandang Lee Siang, terutama memandang ke arah mulut itu, ke arah bibir yang baru saja menempel pada bibirnya. Mukanya menjadi merah sekali dan kakak beradik itu tentu saja mengira bahwa merahnya muka itu karena tersedak ketika ditiup tadi.

“Bun-ko, kau belajarlah yang baik agar lain kali kalau aku yang menjadi korban belut petir, engkau dapat menolongku,” kata Lee Hiang dengan wajah berseri dan bibir terseryum nakal.

“Eh, bocah nakal! Kenapa engkau ingin benar ditolong Bun-hiante?” kakaknya menggoda.

“Aku lebih senang dicium oleh Bun-ko daripada oleh orang lain!” jawab Lee Hiang dengan polos dan jujur.

Kakak dara itu tertawa.
“Ha-ha-ha, agaknya engkau sungguh jatuh cinta mati-matian kepada Bun-hiante. Bagaimana dengan engkau, Bun-te?”

Ciang Bun menundukkan mukanya yang berubah merah sekali dan dia mengerutkan alisnya. Kakak beradik ini sungguh terlalu terbuka dan polos, bicara soal cinta begitu saja dan dara ini menyatakan keinginan diciumnya, menyatakan cintanya begitu terang-terangan sedangkan kakaknya tidak menegurnya bahkan membantunya dan mendorongnya bicara tentang cinta. Dia sendiri tentu saja merasa malu dan jengah, dan tidak dapat menjawab sama sekali.

Melihat ini, kakak beradik itu hanya tersenyum, bahkan Lee Siang lalu tertawa keras.
“Ha-ha-ha, Bun-hiante nampak malu-malu, jangan kita membuat dia bingung, Hiang-moi. Marilah kita pulang agar kong-kong tidak mengharap cemas.”

Mereka berperahu kembali ke pulau dan Ciang Bun menjadi termenung seorang diri, memikirkan keadaan dua orang kakak beradik ini, juga memikirkan keadaan batinnya sendiri yang mengalami gejolak amat hebatnya, membuat matanya terbuka dan dia melihat hal-hal aneh terjadi pada dirinya yang membuatnya cemas dan gelisah.

Tentu saja kepolosan dan kejujuran kakak beradik itu membuat Ciang Bun terkejut dan heran bukan main, bahkan ada kesan di hatinya bahwa mereka itu tidak sopan! Apakah soal cinta, bahkan soal sex, merupakan hal yang tidak patut untuk dibicarakan secara terbuka? Benarkah bahwa membicarakan hal itu secara jujur merupakan hal yang “tidak sopan”?

Tentu saja tidak sopan kalau diukur dari ukaran kesopanan umum, tidak susila kalau dipandang dari kacamata kesusilaan umum. Akan tetapi bagaimanakah sesungguhnya? Mengapa kesusilaan kita mengharamkan kejujuran terhadap dua hal ini, terutama perihal sex? Bukankah cinta dan sex merupakan hal-hal yang erat kaitannya dengan kehidupan, bahkan merupakan kenyataan yang tidak mungkin dapat dihindarkan oleh setiap orang manusia sehingga merupakan suatu kewajaran dalam hidup? Mengapa lalu diharamkan pengertian tentang itu sehingga kita menjauhkan anak-anak dari pengertian tentang hal itu?

Tak perlu diperbantahkan lagi bahwa membicarakan cinta dan sex dengan maksud untuk bicara cabul, untuk main-main, adalah hal yang sama sekali tidak patut. Membicarakan apapun juga kalau pamrihnya hanya untuk main-main dan mengandung dasar pemikiran dan bayangan kotor atau cabul, jelas tidak ada manfaatnya bahkan merusakkan kejernihan batin. Akan tetapi, bagaimana kalau membicarakannya tanpa dasar kotor seperti itu, melainkan bicara seperti kita membicarakan sesuatu yang tidak terpisah daripada kehidupan itu sendiri?

Adalah pandangan tradisionil nenek moyang kita yang sengaja mengharamkan percakapan tentang cinta dan sex sebagai sesuatu yang memalukan, tentu saja pada mulanya dimaksudkan untuk membuat kita malu untuk melanggarnya. Namun, pandangan macam ini lalu menimbulkan suatu pandangan yang tidak menguntungkan terhadap sex, seolah-olah sex merupakan suatu perbuatan yang tidak pantas, memalukan, dan membongkar sesuatu yang kotor yang kita lakukan! Inilah yang menyebabkan semua orang menutup mulut tentang sex dan merahasiakan perasaan cintanya terhadap orang berlainan kelamin, hanya karena sudah tumbuh dalam batinnya pendapat tradisionil itu.

Sudah tiba saatnya bagi kita untuk merobah pandangan yang keliru ini. Kita harus berani membuka mata bahwa persoalan cinta dan sex adalah persoalan hidup yang menyangkut kehidupan setiap orang manusia. Setiap orang anak pada saatnya pasti akan memasuki tahap ini dan daripada mereka memasukinya dengan membuta, daripada mereka memperoleh keterangan-keterangan yang menyesatkan tentang cinta dan sex dari orang lain, daripada mereka memperoleh pengertian melalui percakapan-percakapan yang berdasarkan pandangan cabul dan kotor, alangkah baiknya kalau mereka, anak-anak itu mendengarnya dari orang tua atau pendidikan sendiri, dengan cara yang terbuka dan jujur, tanpa didasari kecabulan.

Kisah Para Pendekar Pulau Es







Tidak ada komentar:

Posting Komentar