FB

FB

Ads

Senin, 21 September 2015

Kisah Para Pendekar Pulau Es Jilid 005

“Setan!”

Makian ini keluar dari mulut kecil Suma Ceng Liong dan tiba-tiba saja tubuhnya sudah menerjang ke depan. Biarpun usianya baru sepuluh tahun, akan tetapi dia adalah putera Pendekar Siluman Kecil Suma Kian Bu! Sejak kecil, bahkan sejak dapat berjalan kaki, dia sudah digembleng oleh ayah dan ibunya sehingga ilmu silat sudah mendarah daging padanya! Tubuhnya juga digembleng menjadi kuat. Apalagi selama dua tahun ini, sejak berusia delapan tahun, dia digembleng oleh neneknya, yaitu nenek Nirahai dan menerima petunjuk-petunjuk dari kakeknya. Tentu saja dia bukanlah anak laki-laki berusia sepuluh tahun sembarangan saja!

Terjangannya itu memakai perhitungan dan dilakukan dengan pengerahan tenaga. Tubuh yang sudah dua tahun menahan dinginnya Pulau Es itu telah dapat menghimpun tenaga panas yang cukup kuat dan ketika dia menerjang, dia telah mempergunakan tendangan Soan-hong-twi (Tendangan Angin Taufan) yang dipelajarinya dari ayahnya. Tubuhnya meluncur ke depan dan kedua kakinya melakukan tendangan terbang. Si muka tikus terkejut sekali, mencoba untuk menangkis, akan tetapi tangkisannya dapat dipatahkan oleh kaki kiri Ceng Liong sedangkan kaki kanan tetap meluncur menghantam perut.

“Dukkk....!”

Tubuh Dewa Golok itu terjengkang dan terbanting keras. Agaknya belakang kepalanya terbanting cukup keras karena ketika dia bangkit duduk, kepalanya bergoyang-goyang dan sepasang matanya menjadi agak juling. Akan tetapi dia sudah marah sekali dan sambil berteriak dia sudah mencabut golok dari punggungnya, lalu bangkit berdiri.

Akan tetapi, Ceng Liong sudah menyeruduk lagi ke depan, sekali ini dia membuat serangan dengan jurus dari Sin-coa-kun, tangan kirinya yang membentuk kepala ular itu “mematuk” ke arah dada lawan yang baru hendak bangkit berdiri dengan kepala masih pening.

“Tukkk!”

Dan tubuh itu kembali terjengkang, kini golok yang dipegangnya terlepas dan dia roboh pingsan karena pukulan itu merupakan totokan yang disertai hawa pukulan panas.

Dapat dibayangkan betapa kaget dan herannya enam orang lain yang tadi turun dari perahu. Mereka itu adalah orang-orang yang biasa mempergunakan kekerasan dan merupakan orang-orang terkenal di dunia kang-ouw. Tentu saja mereka pernah melihat orang-orang pandai, akan tetapi baru sekarang mereka melihat betapa seorang teman mereka yang mereka tahu cukup tangguh itu roboh pingsan melawan seorang anak kecil, hanya dalam dua gebrakan saja!






Seorang yang bertubuh gendut, perutnya besar sekali sampai seperti gajah bunting bengkak, dan biarpun tubuhnya tidak dapat dikatakan pendek namun besar perutnya membuat dia nampak pendek, segera melangkah maju. Orang ini memiliki tenaga besar, hal ini dapat dirasakan ketika kakinya dibanting ke atas tanah sampai tanah itu tergetar.

Dia termasuk seorang di antara mereka yang merasa penasaran melihat rekannya roboh sedemikian mudahnya oleh seorang anak kecil, maka begitu maju diapun segera menubruk ke arah Ceng Liong.

“Dukkk!”

Si gendut itu terkejut dan meloncat kembali ke belakang ketika ada tangan yang amat kuat menangkis lengannya. Kiranya pemuda remaja belasan tahun yang bermuka bulat itu yang menangkisnya, bukan sembarang tangkisan karena si gendut ini merasa tadi betapa ada kekuatan besar dalam tangan kecil itu yang mendorongnya. Dengan mata melotot dia memandang pemuda remaja itu. Seorang pemuda belasan tahun yang kelihatannya masih hijau. Dia menjadi penasaran sekali.

“Engkau berani melawanku?” bentaknya, dan tanpa menanti jawaban lagi si gendut ini langsung saja melakukan serangan dahsyat.

Agaknya dia ingin memamerkan kepandaiannya dan ingin membalas kekalahan temannya tadi, ingin merobohkan Ciang Bun dengan sekali pukul. Maka begitu menyerang dia telah menggerakkan kaki tangannya, pertama-tama kakinya menendang kuat ke arah perut pemuda itu lalu disusul pukulan beruntun dengan kedua tangannya mengarah leher dan kepala Ciang Bun. Tiga serangan berantai itu amat cepat dan kuatnya, dan si gendut sudah merasa yakin bahwa pemuda remaja itu pasti tidak akan mampu menghindarkan diri dan tentu satu di antara serangannya itu akan mengenai sasaran.

Akan tetapi, dia dan teman-temannya kecelik. Ciang Bun yang melihat sambaran kaki tangan itu sudah dapat mengukur dari sambaran anginnya bahwa si gendut ini biarpun jauh lebih lihai daripada si Dewa Golok tadi, tetap saja hanya besar mulut dan besar tenaga otot belaka. Maka diapun tidak mengelak, melainkan sengaja menangkis sambil mengerahkan tenaga Hwi-yang Sin-ciang di kedua tangannya.

“Duk-tak-takk!”

Tiga kali tendangan dan pukulan itu ditangkis oleh lengan yang mengandung tenaga sin-kang panas itu dan akibatnya, tubuh gendut itu terlempar ke belakang.

“Bresss! Ngekkk!”

Bunyi pertama adalah bunyi daging pinggulnya menghantam tanah dan bunyi ke dua adalah bunyi perut gendutnya yang terbanting. Yang membuat dia tidak dapat bangkit dengan cepat dan hanya meringis kesakitan adalah berat badannya sendiri yang membuat bantingan itu menjadi berat dan hebat sekali.

Kini semua orang memandang terbelalak. Kiranya kemenangan anak laki-laki kecil tadi melawan si Dewa Golok bukan hanya merupakan hal yang kebetulan saja, melainkan karena memang anak-anak ini memiliki ilmu kepandaian yang hebat! Tosu berusia enam puluhan tahun yang agaknya menjadi pimpinan kelompok orang yang turun dari perahu itu kini melangkah maju. Tosu ini wajahnya merah, bahkan matanya juga agak kemerahan, mulutnya tersenyum sinis dan dia maju sambil mengebut-ngebutkan lengan bajunya yang lebar. Jubahnya berwarna kuning dan di dadanya ada gambaran bulat lambang Im Yang.

“Siancai.... siancai....!” katanya dengan alim. “Kiranya di tempat sunyi ini terdapat orang-orang muda yang pandai. Sungguh mengagumkan sekali. Orang-orang muda, siapakah kalian dan apa hubunganmu dengan tocu (majikan pulau) dari Pulau Es?”

Karena masih menduga bahwa mungkin sekali mereka ini adalah kenalan-kenalan kakeknya walaupun hal ini sungguh amat meragukan, maka Suma Hui lalu menjawab,

“Tocu Pulau Es adalah kakek kami.”

Terdengar seruan-seruan kaget mendengar pengakuan ini dan tosu itu juga berseru,
“Siancai! Kiranya kalian adalah cucu-cucu dari Pendekar Siluman Suma Han?”

“Kakekku adalah Pendekar Super Sakti, bukan siluman!”

Tiba-tiba Ceng Liong membentak. Bagi keluarga ini, julukan Pendekar Siluman dari kakek mereka dianggap kurang sedap dan lebih membanggakan kalau kakek mereka dijuluki Pendekar Super Sakti. Akan tetapi anehnya, Ceng Liong sendiri tidak merasa keberatan dengan julukan ayah kandungnya, yaitu Pendekar Siluman Kecil Suma Kian Bu.

“Bagus! Kebetulan sekali kalau begitu! Sebelum menebang batangnya, lebih baik menebangi cabang-cabang dan ranting-rantingnya lebih dulu!”

Kata-kata ini belum dapat dimengerti atau ditangkap artinya oleh Suma Hui ketika tiba-tiba saja tosu itu sudah menyerangnya dengan hebat. Gerakan tosu ini cepat dan kuat sekali, sungguh sama sekali tidak boleh disamakan dengan dua orang terdahulu yang dirobohkan oleh Ceng Liong dan Ciang Bun. Jelaslah bahwa tosu ini lihai sekali dan memiliki ilmu silat tinggi. Dan memang sesungguhnyalah. Tosu ini adalah seorang tokoh dari partai Im-yang-pai dan memiliki ilmu silat yang tinggi dan tenaga sin-kang yang kuat. Kalau tidak lihai, tentu dia tidak akan dipercaya untuk memimpin rombongan orang-orang gagah dalam perahu itu.

Suma Hui telah memiliki tingkat ilmu silat yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kedua adiknya. Dara ini selain lincah dan cepat, juga memiliki kecerdikan. Dalam menghadapi serangan tosu itu, ia bersikap tenang saja dan dengan waspada ia mengikuti gerakan lawan yang melakukan serangan. Tosu itu menamparnya dengan tangan kiri, akan tetapi tamparan yang dilakukan dengan keras itu hanya merupakan pancingan atau gertakan belaka, sedangkan yang lebih berbahaya adalah tangan kanannya yang melakukan dorongan lembut saja ke arah dadanya. Dorongan inilah yang berbahaya karena Suma Hui dapat merasakan kekuatan besar yang panas tersembunyi dalam dorongan lembut itu! Dalam sekejap mata saja dara perkasa inipun maklum bahwa lawannya menggunakan sin-kang yang keras atau panas, maka iapun sudah siap untuk menyambutnya.

Ia sengaja membiarkan dirinya terpancing, mengangkat lengan kanannya untuk menangkis tamparan tangan kiri lawan seolah-olah ia tidak tahu bahwa dorongan tangan kanan lawan itulah yang berbahaya.

“Plakk!”

Lengan kanannya menangkis tamparan dan pada saat itu, dorongan tangan kanan lawan yang kuat dan panas itupun menyambar masuk. Suma Hui mengerahkan tenaga Swat-im Sin-ciang ke dalam lengan kirinya dan iapun menangkis dorongan itu sambil mengerahkan sebagian dari tenaga dingin.

“Dukk....!”

Pertemuan kedua tangan dan lengan itu membuat si tosu terdorong ke belakang beberapa langkah dan biarpun dia tidak sampai terguling jatuh, akan tetapi tubuhnya menggigil dan mukanya seketika menjadi pucat. Matanya terbelalak memandang kepada wajah dara itu, seolah-olah tidak percaya. Dia sendiri adalah ahli sin-kang dan telah menguasai tenaga Im dan Yang dari ilmu partainya, akan tetapi di tempat dingin seperti Pulau Es itu, di mana dia sudah harus mengerahkan sin-kang untuk melawan hawa dingin, dia tahu bahwa tidak mungkin dia mempergunakan Im-kang atau tenaga dingin di tempat ini.

Karena itu, dia tadi telah mempergunakan tenaga panas atau Yang-kang ketika menyerang lawan. Siapa kira, dara itu malah mempergunakan tenaga dingin yang amat kuat untuk melawannya, membuat tubuhnya seketika kedinginan! Tosu Im-yang-pai itu menjadi penasaran sekali. Cepat dia mengerahkan tenaga untuk mengusir hawa dingin itu, kemudian dia mengeluarkan teriakan nyaring dan menyerang lagi kalang kabut dengan amat dahsyatnya. Namun Suma Hui telah siap siaga dan menyambut serangan-serangannya dengan lincah, bukan hanya mengelak dan menangkis, bahkan juga balas menyerang dengan sengit. Dara ini telah mempergunakan Ilmu Toat-beng Bian-kun yang lembut namun dahsyat itu. Tentu saja tosu Im-yang-pai iku tidak mengenal ilmu silat ini dan segera dia mulai terdesak hebat.

“Pergilah!”

Suma Hui berseru nyaring dan tangan kirinya yang kecil itu menyambar halus ke arah leher lawan. Tosu itu cepat berusaha mengelak dan balas memukul, akan tetapi tiba-tiba dia berteriak kaget karena tahu-tahu tangan itu sudah menyambar dan mengenai ujung pundaknya, biarpun dia sudah melempar tubuh ke belakang.

“Brettt!”

Jubahnya di bagian pundak hancur dan ujung pundak itu terasa nyeri seperti hancur daging kulitnya. Untung baginya bahwa tulang pundaknya tidak terkena serempet pukulan itu. Bagaimanapun juga, hal itu membuatnya terkejut dan ketika dia melempar tubuh ke belakang tadi, dia terus menjatuhkan diri bergulingan menjauh. Ketika dia meloncat bangun, keringat dingin membasahi dahinya, maklum bahwa hampir saja dia celaka oleh dara muda itu. Dia maklum bahwa biarpun dara itu masih muda sekali, namun sebagai cucu Pendekar Super Sakti, ternyata telah memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat dan kalau dilanjutkannya melawan dara itu, besar bahayanya dia akan kalah dan celaka. Maka diapun memberi isyarat kepada kawan-kawannya lalu mencabut pedangnya.

Kisah Para Pendekar Pulau Es







Tidak ada komentar:

Posting Komentar