FB

FB

Ads

Jumat, 21 Agustus 2015

Suling Emas & Naga Siluman Jilid 155

Ke manakah perginya Pangeran Kian Liong? Ketika Pangeran itu bersama hwesio tinggi besar meninggalkan kuil dan Pangeran itu menyamar sebagai seorang hwesio pula, Pangeran Kian Liong merasa amat gembira dan juga tegang hatinya. Baru sekarang dia mengalami peristiwa yang amat mendebarkan, lucu dan menggelikan. Dia menyamar sebagai hwesio! Hal ini merupakan semacam pengalaman atau permainan baru bagi Pangeran muda yang tabah ini. Dia pernah menyamar sebagai seorang pelajar biasa, seorang pelancong, bahkan pernah dia menyamar sebagai seorang jembel muda ketika dia melakukan perjalanan mengembara untuk memperdalam pengalamannya dan untuk dapat mengenal kehidupan rakyatnya secara lebih dekat lagi. Akan tetapi menjadi hwesio? Baru sekarang inilah! Dia menjadi seorang hwesio gundul tanpa kehilangan rambutnya yang panjang tebal.

Pangeran Kian Liong bersembunyi di dalam bayangan yang gelap ketika hwesio tinggi besar itu meninggalkannya dan memesan agar dia tinggal dulu di situ karena hwesio tinggi besar itu akan melihat keadaan dan membantu para hwesio menghalau pengacau yang datang menyerbu dan yang mempunyai maksud buruk dan jahat terhadap Sang Pangeran.

Akan tetapi, tidak lama kemudian setelah hwesio tinggi besar itu meloncat pergi, Pangeran itu merasa tidak betah tinggal menyembunyikan dirinya di balik bayangan gelap itu. Dia kan sudah menyamar sebagai hwesio? Siapa yang akan tahu bahwa hwesio ini adalah Pangeran Mahkota? Terdorong oleh sifatnya yang pemberani dan juga oleh kesenangannya nonton pertempuran adu silat, tertarik oleh suara-suara perkelahian di dalam kuil itu, Pangeran Kian Liong akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya dan melangkah menuju ke kuil kembali untuk melihat perkelahian! Dan pada saat dia tiba di dinding pagar kuil, tiba-tiba terdengar seruan perlahan memanggilnya,

“Paduka di sini, Pangeran?”

Otomatis lupa akan penyamarannya, Pangeran itu menjawab,
“Benar, siapakah Anda?”

Pemuda tampan gagah itu tidak menjawab, langsung menyambar dan memanggulnya, dan melarikan diri di tempat gelap. Sebelum Pangeran itu sempat mengeluarkan suara, dua buah jari tengah telah menekan tengkuknya, membuat Pangeran itu tidak mampu mengeluarkan suara lagi. Dan pemuda itu lari dengan kecepatan yang luar biasa, membuat Sang Pangeran terpaksa harus memejamkan mata karena ngeri juga.

Menjelang pagi, barulah pemuda itu berhenti dan mereka sudah berada jauh di sebelah utara kota Pao-ci, sudah mendekati kota Thian-sui yang berada di luar perbatasan Propinsi Shen-si dan sudah termasuk dalam Propinsi Kan-su. Dan ternyata di sebuah tempat yang sunyi dalam sebuah dusun, di situ telah menanti sebuah kereta dan Pangeran Kian Liong lalu dibawa masuk ke dalam kereta oleh pemuda yang melarikannya itu. Di dalam kereta telah menanti tiga orang wanita cantik, dan kini, setelah “pemuda” itu tidak lari lagi dan dapat dilihat wajahnya, Sang Pangeran baru maklum dan merasa terheran-heran mendapat kenyataan bahwa pemuda itu pun ternyata adalah seorang wanita!






Bahkan kini dia pun teringat bahwa dia pernah melihat empat orang wanita cantik ini sebagai pembantu dan pengawal mendiang Sam-thaihouw! Dia tidak mengenal nama mereka, tidak tahu siapakah adanya empat orang wanita cantik ini, akan tetapi dia pernah melihat mereka ini mengawal Ibu Suci Ke Tiga itu. Maka Sang Pangeran pun mengertilah bahwa dia terjatuh ke tangan orang-orang yang sangat boleh jadi memusuhinya, atau setidaknya mereka ini adalah bekas tangan kanan atau pembantu-pembantu Sam-thaihouw yang selalu menganggapnya sebagai musuh.

“Bagus sekali, A-ciu, engkau berjasa besar sekali ini. Memang aku tahu, hanya engkau di antara kita yang paling pandai menyamar.”

A-hui, orang pertama dari Su-bi Mo-li (Empat Iblis Betina Cantik) itu berkata memuji adiknya yang paling muda.

“Wah, akan tetapi aku merasa tegang dan ngeri, Twa-ci, (Kakak Perempuan Tertua), kalau mengingat betapa orang-orang sakti berada di sana, sedang bertempur menghadapi suhu-suhu kita,” jawab A-Ciu sambil bergidik. “Untung sekali orang sakti, hwesio tinggi besar itu meninggalkan Pangeran seorang diri, kalau tidak, mana aku berani turun tangan?”

“Betapapun juga, kita telah berhasil. Mari kita cepat membawanya pergi dari sini,” kata pula A-hui. Mereka itu bercakap-cakap di depan Pangeran, seolah-olah Sang Pangeran itu tidak ada saja, sama sekali tidak peduli bahwa Sang Pangeran mendengar semua percakapan mereka. A-ciu yang masih menyamar sebagai pria itu kini duduk di tempat kusir dan mencambuk dua ekor kuda yang segera lari menarik kereta itu. Sedangkan tiga orang cicinya duduk di dalam kereta bersama Sang Pangeran.

Para pembaca tentu masih ingat akan Su-bi- Mo-li, empat orang wanita cantik yang menjadi murid-murld terkasih itu. Sampai sekarang pun, kelimanya belum Juga menikah dan masih hidup berempat sebagai petualang-petualang wanita yang namanya ditakuti oleh banyak orang kang-ouw, karena selain mereka ini amat lihai, juga mereka ini kejam dan ganas sekali. Yang tertua bernama A-hui, kini berusia tiga puluh lima tahun dan seperti juga dahulu, ia selalu memakai baju berwarna kuning. Ada tahi lalat di dagunya dan tahi lalat ini di samping mendatangkan kemanisan pada wajahnya, juga mendatangkan bayangan kekerasan hati yang mengerikan.

Orang ke dua bernama A-kiauw, berusia tiga puluh dua tahun, selalu memakai baju merah. Orang ke tiga, yang memakai baju biru bernama A-bwee, berusia tiga puluh satu tahun, sedangkan A-ciu, yang termuda berusia tiga puluh tahun, kalau berpakaian, biasa sebagai wanita selalu memakai baju hijau dan A-Ciu ini wajahnya manis sekali, gerak-geriknya lincah dan lebih genit daripada kakak-kakaknya. Mereka semua merupakan ahli-ahli pedang yang lihai dan jarang mereka itu bergerak sendiri-sendiri, selalu tentu berempat.

Di dalam kereta Sang Pangeran menghadapi tiga orang wanita itu. Beberapa saat lamanya dia memandang tajam kepada mereka tanpa kata-kata. Dan tiga orang wanita itu, yang oleh orang-orang kang-ouw dinamakan iblis-iblis betina, orang-orang yang sudah terbiasa dengan segala perbuatan kejam, yang dapat membunuh orang tanpa berkedip mata, kini lebih banyak menundukkan muka, iidak dapat bertahan lama menentang pandang mata Pangeran muda itu. Sikap Pangeran ini sungguh amat mengagumkan dan menimbulkan rasa segan dan takut. Sikap yang sedikit pun tidak membayangkan rasa takut atau khawatir, bahkan dari sepasang mata yang tajam dan jernih itu terdapat pandangan seperti orang dewasa melihat tingkah laku anak-anak nakal, bibirnya mengandung senyum bertoleransi besar, seolah-olah dia maklum sudah mengapa anak-anak di depannya itu berbuat nakal seperti itu dan sudah siap untuk memaafkan!

Akhirnya, menghadapi tiga orang wanita yang duduk bersila di depannya, yang hampir tidak berani lagi mengangkat muka memandangnya karena tanpa setahunya ada wibawa keluar dari dirinya, Sang Pangeran berkata, suaranya halus namun mengandung nada teguran.

“Bukankah kalian berempat ini pernah menjadi pengawal-pengawal mendiang Sam-thaihouw?”

Tiga orang wanita itu mengangkat kepala untuk saling pandang dan mereka itu nampak bingung dan gugup, akan tetapi terpaksa A-hui, sebagai seorang pertama yang memimpin, memberanikan hatinya yang berdebar untuk mengangkat muka memandang wajah Pangeran itu.

“Benar, Pangeran....“ jawabnya, suaranya lirih.

Akan tetapi setelah ia memandang mata yang tajam dan peramah itu, keberaniannya mulai timbul kembali dan ia mulai tersenyum manis.

Pangeran Kian Liong yang tahu bahwa tidak ada gunanya lagi baginya untuk menyamar, karena empat orang wanita ini sudah mengenalnya, lalu melepaskan topengnya, yaitu topeng penutup muka dan kepalanya. Kepala gundul itu pun berobahlah menjadi kepala yang berambut hitam tebal, dan wajahnya yang aseli, wajah seorang pemuda tampan, nampaklah. Dan kini A-hui dan dua orang adiknya memandang kagum.

Sinar matahari pagi telah menerobos masuk ke dalam kereta melalui celah-celah jendela kereta, dan melihat pemuda yang tampan dan berwibawa, yang sedikit pun tidak memperlihatkan rasa takut itu, diam-diam mereka kagum dan tunduk sekali. Pangeran Kian Liong menanggalkan pula jubah pendeta dan kini sepenuhnya dia telah menjadi pangeran kembali, sungguhpun dia masih mengenakan sepatu pendeta karena sepatunya sendiri telah dipakai oleh Yu Hwi.

“Nah, katakan, apa maksud kalian melarikan aku ini? Apa yang kalian kehendaki dariku?”

Pertanyaan yang diajukan dengan kata-kata yang jelas, dengan suara yang tenang dan pandang mata yang tajam itu membuat A-hui nampak gugup.

“Kami.... kami....“ dan ia tidak mampu melanjutkan kata-katanya, muka sebentar pucat sebentar merah.

Hal ini tidaklah mengherankan. Orang yang baginya penuh keinginan, penuh dengan ambisi, adalah orang yang tidak bebas sehingga gerak-geriknya tidak lagi dapat tenang dan wajar, melainkan setiap gerak-geriknya dipengaruhi oleh keadaan batinnya yang penuh keinginan itu. Orang yang demikian inilah yang selalu menjilat-jilat di depan orang yang lebih tinggi atau yang dianggap lebih tinggi, dan selalu bersiap kejam dan menghina terhadap orang yang dianggap lebih rendah.

“Kalian disuruh oleh orang-orangnya mendiang Sam-thaihouw untuk menculikku dan kemudian membunuhku?”

Pangeran Kian Liong membentaknya, suaranya masih tenang, sedikit pun tidak nampak rasa takut pada wajahnya.

“Ah, tidak! Tidak sama sekali, Pangeran,” jawab A-hui. “Sesungguhnya.... kami.... eh, menyelamatkan Paduka dari cengkeraman beberapa golongan yang memperebutkan Paduka. Guru-guru kami sendiri tidak tahu bahwa kami telah berhasil.... berhasil menyelamatkan Paduka.”

Pangeran Kian Liong mengerutkan alisnya. Tentu saja dia tidak mau percaya begitu saja kepada mereka ini. Dari kerling dan senyum mereka, dia tahu orang-orang macam apa adanya wanita-wanita ini. Ada kecabulan dan kegenitan membayang di dalam sinar mata dan senyum mulut mereka. Ada ketamakan besar terbayang dalam sinar mata itu.

“Hemm, begitukah? Ceritakan apa yang terjadi, dan mengapa kalian menyelamatkan aku, dan menyelamatkan dari apa?”

Setelah menarik napas panjang dan batuk-batuk kecil beberapa kali untuk menenangkan hatinya, akhirnya A-hui dapat bercerita dengan lancar, dengan sikap yang manis sekali.

“Pangeran, setelah mendiang Sam-thaihouw meninggal, kami keluar dari istana. Para suhu kami, yaitu Im-kan Ngo-ok, masih berhubungan dengan kaki tangan Sam-thaihouw, akan tetapi kami tidak lagi. Memang benar bahwa guru-guru kami menghendaki kami mengamat-amati Paduka dan membantu mereka untuk memberi laporan dan menanti saat baik agar mereka dapat menangkap Paduka. Dan memang kami yang melaporkan kepada mereka bahwa Paduka berada di Pao-ci, menyamar sebagai pemuda biasa dan bermalam di Kuil Hok-te-kong.

Akan tetapi ketika kami melihat guru-guru kami berniat buruk terhadap Paduka, dan ketika guru-guru kami sedang berhadapan dengan orang-orang sakti yang sedang memperebutkan Paduka, yaitu di antara mereka adalah kaum patriot yang membenci Paduka karena kebangsaan Paduka, dan juga orang-orang kang-ouw yang sakit hati terhadap Sri Baginda Kaisar, maka kami mengambil jalan sendiri. Kami melihat Paduka dilarikan seorang hwesio tinggi besar yang amat lihai. Kami dapat menduga bahwa hwesio yang dipanggul itu tentulah Paduka, karena tadinya, hwesio yang mirip penyamaran Paduka adalah seorang hwesio Siauw-lim-pai yang pandai. Maka ketika Paduka ditinggal seorang diri, adik kami A-Ciu lalu melarikan Paduka, sedangkan kami bertiga siap di sini dengan kereta.”

Sang Pangeran mengangguk-angguk. Tentu saja dia maklum sekali bahwa di balik semua itu terkandung keinginan pribadi dari empat orang ini, karena sungguh sangat tidak boleh jadi kalau perbuatan mereka itu sernata-mata hendak “menolong” dia! Melainkan hanya merupakan suatu cara untuk mencapai apa yang mereka lnginkan darinya, tentu saja!

“Sekarang, setelah kalian dapat membawaku, lalu apa yang hendak kalian lakukan? Kemana kalian hendak membawaku pergi?”

“Paduka masih terancam, karena orang-orang sakti dari beberapa golongan itu tentu masih akan terus mencari Paduka dan kalau mereka itu menemukan kami, tentu saja kami tidak mungkin akan dapat melawan mereka. Di antara mereka itu terdapat golongan guru-guru kami pula! Maka, harap Paduka suka ikut bersama kami dan akan kami sembunyikan di suatu tempat. Setelah keadaan mereda dan aman, barulah kami akan mengantar Paduka kembali ke kota raja dengan selamat.”

Sebelum memasuki kota Thian-sui, kereta itu membelok ke kanan dan di lembah Sungai Cing-ho mereka menuju ke sebuah pondok tua yang terpencil dan keadaan sekeliling tempat itu sunyi sekali.

Akan tetapi ketika Pangeran dipersilakan masuk, ternyata pondok itu di sebelah dalamnya bersih dan baru saja dicat, dengan perabot sederhana namun serba baru dan bersih.

Agaknya, empat orang wanita ini memang sudah mempersiapkan tempat itu kalau-kalau mereka berhasil menguasai Pangeran dan secara cerdik mereka yang pura-pura membantu guru-guru mereka itu ternyata mempunyai rencana rendiri.

Ternyata bukan hanya isi pondok itu saja yang sudah mereka persiapkan bahkan di situ terdapat bahan-bahan masakan sehingga ketika mereka semua sudah memasuki pondok dan kereta disembunyikan di belakang pondok, empat orang wanita itu sibuk masak-masak sambil bernyanyi dan bersendau-gurau, membiarkan Sang Pangeran beristirahat di dalam sebuah kamar yang cukup bersih pula.

Suling Emas & Naga Siluman