FB

FB

Ads

Senin, 03 Agustus 2015

Suling Emas & Naga Siluman Jilid 113

“Suhu....”

Kakek itu membuka matanya dan memandang dengan sinar mata sayu. Kakek itu kurus sekali dan mukanya pucat, tanda bahwa selain jarang makan, juga kakek ini kurang memperoleh sinar matahari. Dan memang sudah lama Sai-cu Kai-ong, kakek yang pernah menjadi Raja Pengemis dan menjadi tokoh kang-ouw yang disegani ini, mengasingkan diri di sebuah kamar di gedung besar seperti istana kuno itu, di Puncak Bukit Nelayan, seorang diri saja. Hidupnya terasa hampa setelah dia bertemu dengan cucunya, Yu Hwi yang telah memllih suami lain. Dia tidak ingin apa-apa lagi selain menanti kematian.

Hidup ini baginya banyak dukanya daripada sukanya, banyak kecewanya daripada puasnya. Kekecewaannya yang paling besar adalah karena dia merasa bahwa dia adalah seorang yang tidak berbakti, seorang yang tidak dapat memenuhi kehendak mendiang ayahnya, mendiang nenek moyangnya. Dia telah gagal menjodohkan keturunan Yu dengan keturunan Kam, dan ini baginya merupakan pukulan berat, merasa dirinya put-hauw (tidak berbakti), seorang yang murtad.

Kata kebaktian masih selalu didengungkan orang, bahkan dianggap sebagai suatu sila kehidupan manusia beradab yang amat penting. Kebaktian dianggap sebagai ukuran kebudayaan, kesusilaan, bahkan kebaikan seseorang. Bagi kebanyakan orang tua, kata “hauw” atau bakti dijadikan semacam pegangan atau senjata untuk menyerang anak-anaknya kalau anak-anak itu tidak menyenangkan hatinya, dan anak-anak itu, karena takut dianggap tidak berbakti atau murtad, maka mereka itu memaksa diri untuk melakukan apa-apa yang dianggap hauw (bakti) terhadap orang tua!

Berbakti adalah suatu sikap dipaksakan! Betapa tidak? Di balik kebaktian ini jelas terkandung pamrih! Kalau orang ingin berbakti, jelas bahwa dia berpamrih untuk menjadi anak baik dan tentu karena anak yang berbakti itu mendapat berkah, banyak rejekinya, terhormat, terpandang dan sebagainya. Apakah artinya sikap berbakti kalau di dalam hati nuraninya tidak ada cinta kasih?






Kalau kita mempunyai sinar cinta kasih dalam batin kita, terhadap orang lain pun kita berhati penuh kasih, penuh iba, apalagi terhadap ayah bunda sendiri! Di mana ada kasih, maka kata berbakti itu tidak ada lagi karena dalam setiap perbuatannya terhadap orang tua, tentu penuh dengan kasih sayang yang tanpa pamrih! Berbakti karena tahu bahwa berbakti itu baik dan sebagainya hanya melahirkan sikap yang palsu dan dibuat-buat, melahirkan perbuatan dan ucapan yang tidak sama dengan isi hatinya. Hanya karena ingin berbakti, maka terjadilah kenyataan betapa mulut tersenyum berkata-kata halus sungguhpun di dalam hati memaki-maki, pada lahirnya memberi ini itu padahal di dalam hatinya tidak rela! Hal ini dapat kita lihat pada diri kita sendiri, pada kanan kiri kita, melihat kehidupan seperti apa- adanya, menelanjanginya dan tidak tertipu oleh Kuiitnya belaka. Akan tetapi, kalau batin kita penuh cinta kasih, maka tidak akan ada caci maki di dalam hati, tidak ada rela atau tidak rela. Yang ada hanyalah kasih sayang saja!

Betapa kita manusia di dunia ini sudah kehilangan api cinta kasih! Kita mengorek-orek abunya dan mengejar-ngejar asapnya belaka. Kita rindu akan cinta kasih, ingin semua manusia di dunia ini, ingin seluruh isi mayapada ini, ingin para dewata, malaikat dan Tuhan, mencinta kita! Kita haus akan cinta kasih karena di dalam diri kita kehilangan cinta kasih itu! Kita mencari-cari dan mengejar-ngejar melalui kebaktian, kewajiban, menjadi orang baik, memuja-muja dan sebagainya lagi. Akan tetapi yang kita kejar-kejar itu hanyalah asapnya. Cinta kasih tak mungkin dikejar-kejar, tak mungkin dapat diusahakan supaya ada, tak mungkin dapat dikuasai dan diikat, tak mungkin dapat dilatih seperti pengetahuan mati! Cinta kasih datang dengan sendirinya kalau batin kita terbuka, peka dan kosong, dalam arti kata bersih dari pada segala keinginan dan perasaan si-aku, yaitu keinginan untuk senang dan perasaan-perasaan iri, benci, marah, takut dan sebagainya. Kita tidak mungkin memiliki batin yang peka dan “terbuka” kalau masih ada kotoran-kotoran dari si-aku, yaitu pikiran yang selalu menjangkau, mencari, mengejar dan menginginkan segala sesuatu untuk menyenangkan diri sendiri, lahir maupun batin.

Barulah kalau batin kita sudah penuh dengan sinar cinta kasih, segala perbuatan kita adalah benar, tidak pura-pura, tidak palsu, tanpa pamrih, wajar dan bersih seperti keadaan anak kecil yang belum dikuasai oleh aku-nya.

Ada yang berkata “tidak mungkin itu!” Nah, siapakah yang berkata demikian itu? Mari kita lihat baik-baik. Bukankah yang berkata itu adalah sang aku yang ingin baik, ingin dipenuhi cinta kasih, kemudian melihat bahwa dia tidak mungkin hidup tanpa segalanya yang dianggapnya menyenangkan itu? Kita dapat mengamati ulah tingkah si-aku ini setiap saat dalam diri kita sendiri, dan ini merupakan langkah pertama ke arah kebijaksanaan.

“Suhu....!” Kam Hong berkata lagi ketika melihat betapa kakek itu memandangnya seperti orang sedang mimpi, seolah-olah tidak mengenalnya lagi. “Suhu, teecu adalah Kam Hong”

“Kam Hong....? Engkau Siauw Hong....?”

“Benar, Suhu, teecu adalah Siauw Hong.” kata Kam Hong dengan hati terharu.

Tak disangkanya bahwa suhunya yang biasanya bertubuh tegap dan bersikap gagah penuh semangat itu, yang menghadapi dunia dengan hati ringan, kini kelihatan demikian tua dan lemah seperti orang kehilangan semangat.

“Dan Nona ini siapa....”

“Teecu adalah Bu Ci Sian, Locianpwei.” jawab Ci Sian yang tadi masuk bersama Kam Hong.

Mendengar suara dara yang demikian nyaring dan bersih, Sai-cu Kai-ong membuka matanya lebih lebar. Kalau saja Yu Hwi yang berlutut di samping Kam Hong itu, pikirnya!

“Suhu, dia ini adalah Sumoi teecu, sama-sama mempelajari ilmu sejati dari Suling Emas.” kata Kam Hong.

Sai-cu Kai-ong terbelalak.
“Apa? Apa maksudmu? Apakah itu ilmu sejati dari Suling Emas? Bukankah engkau keturunan langsung dari Suling Emas, keluarga Kam?”

Dengan sabar Kam Hong lalu menceritakan semua pengalamannya di Pegunungan Himalaya, betapa dia bertemu dengan Ci Sian dan mereka berdua tanpa disengaja telah bertemu dengan jenazah kuno dari tokoh yang membuat suling emas, dan betapa dari jenazah itu mereka berdua menemukan ilmu sejati dari pencipta suling emas sehingga mereka menjadi kakak beradik seperguruan. Kemudian, dengan hati-hati sekali Kam Hong lalu bercerita tentang pertemuannya dengan Yu Hwi di Lembah Suling Emas.

Kakek Itu menarik napas panjang.
“Aku sudah tahu, Siauw Hong. Yu Hwi telah datang ke sini bersama tunangannya....”

“Cu Kang Bu....?”

“Benar, dan memang harus diakui bahwa pilihannya itu tidak keliru, akan tetapi tetap saja hatiku penuh kekecewaan bahwa ikatan perjodohan itu putus....”

“Harap Suhu suka tenangkan diri. Urusan jodoh tidak dapat dipaksakan, Suhu. Dan bukankah kata orang bahwa jodoh berada di tangan Tuhan? Anggap saja bahwa tidak ada jodoh antara teecu dan Yu Hwi dan hal itu tidak perlu dijadikan penyesalan benar.”

Sai-cu Kai-ong tersenyum pahit.
“Ah, engkau tidak tahu betapa hal itu menjadi idaman nenek moyang kami sejak dahulu...., akan tetapi sudahlah. Yang sudah terjadi tidak mungkin dirobah lagi. Siauw Hong, sekarang, ke mana engkau hendak pergi? Ketahuilah bahwa Sin-siauw Seng-jin telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu, di tempat pertapaannya, di puncak tak jauh dari sini. Aku sendiri yang telah mengurus pemakamannya, di puncak itu juga.”

Kam Hong menarik napas panjang. Berita ini tidak mengejutkan hatinya karena memang kakek itu sudah tua sekali. Akan tetapi sedikit banyak dia pun merasa terharu. Kakek itu bersusah payah merahasiakan keturunan Kam, kemudian mendidiknya sebagai guru kedua sesudah Sai-cu Kai-ong, dengan penuh kasih sayang.

“Teecu akan bersembahyang ke makam beliau, kemudian teecu berdua Sumoi akan pergi ke daerah Sin-kiang....”

“Hemm, engkau baru saja tiba dari Pegunungan Himalaya dan kini hendak pergi ke daerah Sin-kiang? Ada keperluan apakah di tempat liar itu?”

“Teecu hendak mengantar Sumoi mencari sarang gerombolan Hek-i-mo....”

“Ahh....?” Bekas Raja Pengemis itu nampak terkejut bukan main. Hek-i-mo....? “Sungguh berbahaya sekali. Mau apa kalian hendak ke sana?”

“Locianpwe, Ibu teecu tewas karena penyakit yang diderita setelah Ibu bertentangan dengan Hek-i-mo.” jawab Ci Sian.

“Hemm, jadi urusan balas dendam, ya?”

Kakek itu bertanya, nada suaranya seperti orang kesal dan memang sesungguhnya dia merasa bosan karena sebagian besar daripada hidupnya dia hanya menghadapi soal balas dendam saja di dalam dunia kang-ouw dan dia merasa muak dengan hal itu.

“Bukan itu saja yang terutama, Locianpwe. Teecu berpendapat bahwa kalau gerombolan liar dan jahat macam Hek-i-mo tidak dibasmi, maka lebih banyak orang lagi orang-orang tidak berdosa akan menjadi korban mereka. Dahulu Ibu pernah gagal, biarlah sekarang teecu sebagai anaknya melanjutkan usaha yang mulia itu, membersihkan dunia dari gerombolan jahat. Dan Kam-suheng sudah sanggup untuk membantu teecu.”

Sai-cu Kai-ong menarik napas panjang.
“Yah, kalian masih muda dan bersemangat besar. Akan tetapi, Siauw Hong, yakin benarkah engkau dan Sumoimu ini bahwa kalian akan mampu menghadapi Hek-i-mo? Ingat, entah sudah berapa banyaknya pendekar-pendekar yang tewas di tangan mereka sehingga sampai kini pun tidak ada lagi yang berani mencoba-coba menentangnya.”

“Tentu saja sebelum melihat kekuatan mereka, teecu tidak yakin, Suhu. Betapapun juga, untuk menentang kejahatan dan membantu Sumoi, teecu sanggup dan berani.”

“Ci Sian, kalau mendiang Ibumu pernah berani menentang Hek-i-mo, tentu engkau keturunan keluarga yang hebat. Siapakah nama Ayahmu?”

Ditanya ayahnya, Ci Sian cemberut dan hatinya tidak senang. Siapa akan merasa senang mengaku Bu Seng Kin sebagai ayahnya kalau orang itu demikian gila wanita dan mempunyai isteri yang tidak kepalang banyaknya? Dia malu berayah Bu Seng Kin!

Melihat keraguan sumoinya, Kam Hong lalu mewakilinya menjawab,
“Sumoi adalah puteri dari Bu Taihiap yang bernama Bu Seng Kin....“

“Ah, pantas kalau begitu!” Sai-cu Kai-ong berseru girang. “Kiranya Ayahmu adalah pendekar besar itu!”

Akan tetapi Ci Sian sama sekali tidak kelihatan girang atau bangga dan hal ini dianggap oleh kakek itu sebagai sikap rendah hati yang amat baik. Setelah bercakap-cakap selama setengah hari dan dalam kesempatan mana Ci Sian memaksakkan yang enak-enak untuk Sai-cu Kai-ong yang seolah-olah memperoleh kembali kegembiraannya dalam pertemuan ini, mereka lalu mohon diri.

Setelah mendapat keterangan di mana letak makam Sin-siauw Seng-jin, Kam Hong bersama Ci Sian meninggalkan puncak Bukit Nelayan itu, diantar oleh Sai-cu Kai-ong sampai ke depan pintu dan kakek ini memandang ke arah dua orang muda itu sampai mereka lenyap dari pandangan mata. Dia menarik napas panjang dan berkata lirih,

“Jelas bahwa dia mencinta dara itu. Puteri Bu Taihiap! Dan Yu Hwi berjodoh dengan penghuni Lembah Suling Emas! Memang sayang sekali ikatan jodoh mereka itu putus, akan tetapi keduanya memperoleh pengganti yang sama sekali tidak mengecewakan. Semoga Yu Hwi hidup bahagia dengan suaminya dan Siauw Hong hidup bahagia dengan gadis she Bu itu.”

Kam Hong melakukan upacara sembahyang sederhana di depan makam Sin-siauw Seng-jin, diikuti juga oleh Ci Sian yang sudah mendengar penuturan suhengnya itu tentang diri kakek yang luar biasa itu. Mereka bermalam di makam itu semalam, dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka menuruni puncak dan mulailah mereka dengan perjalanan mereka menuju ke Sin-kiang, daerah barat yang liar itu, untuk mencari Hek-i-mo, gerombolan penjahat yang dikabarkan ganas dan lihai seperti segerombolan siluman. Perjalanan yang jauh, sukar dan berbahaya!

**** 113 ****
Suling Emas & Naga Siluman