FB

FB

Ads

Jumat, 31 Juli 2015

Suling Emas & Naga Siluman Jilid 107

“Bu-koko, sebaiknya kalau engkau menanti dulu di sini, biarlah aku yang lebih dulu masuk menemui kakek. Setelah aku bicara dengannya, barulah aku akan memanggilmu. Hal ini untuk melancarkan pembicaraan antara kakek dan aku.”

Mendengar kata kata Yu Hwi ini, Cu Kang Bu mengangguk dan dia menyentuh lengan kekasihnya.

“Mudah-mudahan segalanya akan berjalan baik, Hwi-moi.”

Dia tahu bahwa Yu Hwi menghadapi persoalan yang cukup menegangkan dan tidak enak bagi gadis itu yang terpaksa harus membicarakan tentang keputusan untuk membatalkan ikatan jodoh antara dia dan Kam Hong, yang berarti tentu saja menentang keputusan yang telah diambil oleh kakeknya, yaitu Sai-cu Kai-ong.

Matahari telah naik tinggi dan pemandangan di Puncak Bukit Nelayan itu indah sekali. Akan tetapi, rumah besar yang seperti istana kuno itu nampak sunyi sekali, sesunyi puncak-puncak lain di Pegunungan Tai-hang-san itu. Berdebar rasa jantung Yu Hwi ketika dia membuka pintu gerbang yang tidak terkunci itu. Tempat yang terlalu besar untuk kakeknya yang agaknya kini hanya dapat menyendiri saja di tempat ini, apalagi kalau tempat itu nampak kosong seperti itu, menjadi amat menyeramkan, seperti rumah kediaman para iblis dan siluman.

Tiba-tiba terdengar suara halus yang terdengar dari jauh di dalam gelap itu, akan tetapi terdengar jelas oleh Yu Hwi,

“Siapa di luar....? Harap jangan mengganggu aku seorang tua yang sudah tidak ingin berurusan dengan siapapun....!”

Mendengar suara ini, Yu Hwi berseru girang.
“Kong-kong...., ini aku, Yu Hwi, yang datang....”

Hening sejenak, seolah-olah suara Yu Hwi itu mengejutkan pendengarannya, sampai lenyap gema suara gadis itu. Yu Hwi berdiri di ruangan depan yang luas, menanti sejenak dan dari dalam nampaklah seorang kakek yang pakaiannya sederhana, tubuh itu masih tinggi tegap dan gagah akan tetapi mukanya kelihatan amat tua dan tidak bersemangat, muka dari Sai-cu Kai-ong Yu Kong Tek! Mereka berhadapan dan saling pandang, kemudian Yu Hwi menjatuhkan diri berlutut.

“Kong-kong....!”

“Yu Hwi.... engkaukah....? Benarkah engkau yang datang?” Kakek itu mengejap-ngejapkan kedua matanya memandang wajah yang menengadah itu.






Selama bertahun-tahun dia mengharap-harap kedatangan cucunya ini, bahkan kemudian pergi merantau bertahun-tahun mencarinya, sampai membawanya ke Pegunungan Himalaya, namun semua usahanya sia-sia belaka dan akhirnya, semua harapan itu memudar dan setelah dia merasa bahwa tubuhnya telah terlalu tua dan sahabatnya, yaitu Sinsiauw Seng-jin yang pada tahun-tahun terakhir bertapa di sebuah puncak berdekatan dengan puncak Nelayan di mana dia berada itu meninggal dunia, kakek ini tidak lagi pergi mencari Yu Hwi, bahkan tidak lagi mengharapkan kedatangannya. Dia mengira bahwa cucunya itu telah tiada lagi di dunia ini, dan harapannya melihat cucunya berjodoh dengan keturunan Suling Emas sudah membuyar.

Akan tetapi, pagi hari ini dia mendengar suara Yu Hwi dan bahkan kini dia berhadapan dengan cucunya itu! Dia masih mengenal wajah cantik itu dan keharuan yang amat sangat membuat kakek ini memejamkan mata dan menahan dua butir air mata yang hendak runtuh. Betapapun juga, dia adalah bekas Raja Pengemis, seorang tokoh besar di dunia kang-ouw yang gagah perkasa, dan semenjak dia muda, menangis merupakan pantangan baginya. Namun, perjumpaan ini seolah-olah perjumpaan dengan seorang yang baru bangkit dari kematian, maka dia terkejut, heran, terharu dan girang sekali.

“Cucuku....!” Dia maju dan menyentuh kepala gadis itu.

“Kong-kong...., ampunkanlah bahwa baru sekarang saya datang menghadap....!”

Yu Hwi berkata dengan suara mengandung isak karena gadis ini pun merasa terharu sekali. Sejak kecil dia telah diculik dan dibawa pergi oleh orang yang kemudian menjadi gurunya yang tercinta, yaitu Hek-sin Touw-ong Si Raja Maling dan sejak kecil dia terpisah dari kakeknya. Kemudian, setelah mereka saling bertemu kembali, dia melarikan diri ketika mendengar bahwa dia dijodohkan sejak kecil dengan Kam Hong! Dan semenjak itu, kembali dia berpisah dari kakeknya dan baru sekarang mereka saling bertemu kembali.

“Yu Hwi.... Yu Hwi, ke mana sajakah engkau selama ini pergi? Betapa dengan susah payah aku mencari-carimu Yu Hwi....”

“Maaf, Kong-kong, saya hanya mendatangkan banyak pusing dan susah saja kepada Kong-kong selama ini.”

Kakek itu mengangguk-angguk.
“Hemm.... dan kedatanganmu ini pun hanya akan menimbulkan kecewa padaku, bukan?”

“Maaf.... agaknya demikianlah.... Kedatangan saya, ini hanya untuk meresmikan putusnya pertalian jodoh yang Kong-kong adakan dahulu antara saya dengan Kam Hong.”

Akan tetapi ucapan itu sudah tidak lagi mendatangkan kekecewaan dalam hati kakek itu yang memang sudah tidak mengharapkan lagi dapat dilanjutkannya ikatan jodoh itu. Dia menarik napas panjang.

“Sin-siauw Seng-jin juga sudah meninggal dunia...., dia kiranya dapat memaafkan aku. Akan tetapi, pemutusan ikatan itu tidak mungkin dapat dilakukan sepihak saja, Yu Hwi, maka harus dibicarakan dengan yang bersangkutan, yaitu Kam Hong....”

“Hal itu sudah beres, Kong-kong. Saya telah berjumpa dengan Kam Hong dan kami berdua sudah membicarakan tentang itu. Adalah Kam Hong yang menasihatkan agar saya datang kepadamu dan memberitahukan akan pemutusan ikatan itu agar resmi.”

Kakek itu mengangguk-angguk. Agaknya, kini sudah kehilangan kesungguhan hatinya tentang hal itu.

“Sesukamulah.... sesukamulah...., akan tetapi, kalau boleh aku mengetahui, kalau engkau masih menganggap aku sebagai Kakekmu, apakah sebabnya maka engkau memutuskan ikatan itu? Apakah tidak ada kecocokan antara engkau dengan Kam Hong....”

“Sesungguhnya karena saya.... saya telah menemukan calon suami saya sendiri, Kong-kong.”

“Hemmm....”

“Bahkan dia pun mengantar saya menghadap Kong-kong, akan tetapi saya suruh menanti di luar agar tidak mengejutkan hati Kong-kong. Kalau Kong-kong memperkenankan, saya akan memanggil dia masuk....”

Yu Hwi memandang kepada kong-kongnya dengan ragu-ragu, lalu bangkit berdiri. Untuk beberapa lamanya kakek itu memandang wajah cucunya. Harus diakui bahwa cucunya itu telah jauh lebih matang sekarang dan dia pun tahu bahwa bagi seorang wanita, cucunya itu telah lewat batas usia kepantasan untuk menikah dan diam-diam dia menaruh hati iba kepada cucunya ini.

“Cukup, tahukah engkau berapa usiamu sekarang?”

Yu Hwi tersenyum.
“Tentu saja, Kong-kong. Antara dua puluh tujuh dan dua puluh delapan tahun.”

Sai-cu Kai-ong. menarik napas panjang.
“Dan baru sekarang engkau menemukan calon suamimu? Berapa usia calon suamimu itu?”

“Dia sudah berusia tiga puluh tahun, Kong-kong....” Jawab Yu Hwi.

Wajah kakek itu agak berseri mendengar ini. Setidaknya, cucunya memperoleh seorang calon suami yang sepadan usianya.

“Tentu saja aku ingin sekali berkenalan dengan calon cucu mantuku. Suruh dia masuk, Yu Hwi.”

Yu Hwi lalu membalikkan tubuhnya dan mengeluarkan kata-kata seperti sedang bicara dengan orang yang berdiri di depannya saja, perlahan-lahan dan biasa saja,

“Bu-koko, Kong-kong telah memperkenankan engkau masuk. Masuklah, Koko!”

Biarpun ucapan itu lirih saja, namun Sai-cu Kai-ong terkejut bukan main. Suaranya tadi mengandung getaran yang tinggi dan dengan getaran seperti itu, suara itu akan dapat dikirim sampai jauh.

Itulah semacam Ilmu Coan-im-jip-bit (Mengirim Suara Dari Jauh) yang mengandalkan khi-kang yang amat kuat. Dia sendiri pun belum tentu sekuat itu! Dan dari luar masuklah sesosok tubuh seorang pria yang membuat kakek itu kagum. Tubuh seorang pria yang tinggi besar seperti tokoh Kwan Kong dalam dongeng Sam Kok dan setelah pria muda itu tiba di depannya dan memberi hormat dengan sikap yang amat gagah, Sai-cu Kai-ong diam-diam merasa girang sekali. Keadaan pria ini sungguh merupakan obat yang mujarab untuk menghapus sama sekali sisa-sisa kekecewaan atas terputusnya tali perjodohan antara cucunya dengan Kam Hong. Pria ini sungguh tidak mengecewakan, bahkan mengagumkan. Begitu gagah perkasa dan Jantan! Akan tetapi, di samping rasa puas ini pun dia merasa terkejut karena dia merasa seakan-akan pernah dia bertemu dengan pemuda tinggi besar dan gagah perkasa ini.

“Eh.... rasanya.... aku pernah berjumpa dengan Sicu yang gagah ini....” katanya sambil memandang wajah itu penuh selidik.

Pemuda perkasa itu menjura.
“Tidak salah apa yang Locianpwe katakan. Kami sekeluarga di Lembah Suling Emas pernah menerima kehormatan dengan kunjungan Locianpwe beberapa tahun yang lalu.”

“Ah, sekarang aku ingat....! Sicu adalah seorang di antara tiga saudara Cu yang sakti itu!”

Kembali Cu Kang Bu menjura.
“Saya adalah Cu Kang Bu, saudara termuda dari Cu.”

Tentu saja Sai-cu Kai-ong menjadi terkejut, terheran dan juga diam-diam merasa girang sekali. Dia pernah menyaksikan kehebatan ilmu silat pemuda tinggi besar ini yang tidak kalah lihainya ketika melawan Ji-ok, orang ke dua dari Im-kan Ngo-ok! Pemuda seperti ini mungkin tidak kalah dalam ilmu silatnya dibandingkan dengan keturunan Suling Emas, Kam Hong sekalipun! Gagal mempunyai cucu mantu seperti Kam Hong akan tetapi mendapatkan pengganti seperti ini tidaklah terlalu mengecewakan!

“Dan Cu-taihiap yang menjadi calon suami cucuku yang bodoh?”

Kang Bu adalah seorang pemuda yang jujur dan sederhana, maka disebut Taihiap itu dia cepat berkata,

“Harap Locianpwe tidak menyebut Taihiap kepada saya karena keluarga kami sejak dahulu tidak pernah menonjolkan diri di dunia kang-ouw. Tidak salah bahwa Hwi-moi dan saya telah bersepakat untuk menjadi suami isteri dan mohon doa restu dan ijin dari Locianpwe.”

Sai-cu Kai-ong tertawa gembira.
“Ah, tentu saja! Sejak dahulu, bukankah Yu Hwi telah menentukan pilihannya sendiri? Yu Hwi, anak nakal, bagaimana engkau dapat bertemu dan bersahabat, akhirnya berjodoh dengan Cu Kang Bu?”

“Kong-kong, sesungguhnya Kang Bu Koko ini masih Susiok saya sendiri.!”

“Susiokmu? Engkau menjadi murid siapakah?”

“Cui-beng Sian-li Tan Cun Ciu adalah Subo saya....”

“Apa? Orang yang mengambil pedang pusaka dari istana itu?”

Sai-cu Kai-ong menggeleng-gelengkan kepalanya pantas saja cucunya menjadi demikian lihainya, kiranya menjadi murid wanita yang telah menggegerkan dunia kang-ouw ketika mencuri pedang pusaka dari gudang pusaka istana tanpa ada seorang pun yang mengetahuinya.

“Sungguh luar biasa sekali nasibmu, Cucuku. Sejak kecil sekali, telah menjadi murid seorang seperti Hek-sin Touw-ong, kemudian menjadi murid Cui-beng Sian-li, dan kini malah menjadi jodoh seorang seperti Cu Kang Bu!”

Yu Hwi lalu menceritakan kepada kong-kongnya segala hal yang telah dialaminya semenjak dia meninggalkan kakeknya itu dan juga tentang pertemuannya dengan Kam Hong. Setelah mendengarkan semua penuturan Yu Hwi, kakek itu mengangguk-angguk dan beberapa kali dia menarik napas panjang walaupun wajahnya masih memperlihatkan tanda bahwa dia merasa girang juga, kalau dia teringat betapa hubungan antara keluarga Kam dan keluarga Yu terjalin semenjak ratusan tahun yang lalu, dan kini, pada keturunan terakhir, dia gagal untuk mengikatkan perjodohan antara dua keluarga itu, hatinya terasa amat berduka.

“Kong-kong, setelah kami berdua datang menghadap Kong-kong, dan Kong-kong dapat menyetujui ikatan jodoh antara kami, kami mohon agar Kong-kong sudi bersama kami ke Lembah Suling Emas di mana kami akan meresmikan pernikahan kami dan agar Kong-kong dapat memberi doa restu kepada kami!”

Kini kakek itu mengerutkan alisnya dan menjawab,
“Sayang sekali, hal itu tidak mungkun aku lakukan, Yu Hwi. Tentu saja aku tidak keberatan kalau engkau berjodoh dengan Cu Kang Bu, akan tetapi aku sendiri tidak mungkin menghadiri pernikahan....”

“Kenapa, Kong-kong?”

“Aku telah bersumpah untuk mengikatkan keluarga Kam dan keluarga kita Yu dalam ikatan perjodohan, namun aku telah gagal. Aku telah mengecewakan leluhur kita, bagaimana mungkin aku dapat menghadiri pernikahanmu dengan keluarga lain? Aku sudah tua dan aku akan tinggal di sini, mengasingkan diri sampai mati. Aku tidak akan keluar meninggalkan tempat ini, apa pun yang akan terjadi di luar. Nah, kalian kembalilah ke barat dan jadilah suami isteri yang baik, tentu saja doa restuku menyertai kalian berdua.”

Jawaban ini menyedihkan hati Yu Hwi akan tetapi karena semenjak kecil dia tidak bersama kakeknya, maka dia pun dapat menguasai hatinya. Maka untuk terakhir kalinya dia lalu berlutut di depan kakek itu untuk berpamit, diikuti pula oleh Cu Kang Bu karena kakek itu adalah calon kong-kongnya juga. Melihat betapa dua orang itu berlutut di depannya, Sai-cu Kai-ong merasa tarharu juga.

“Semoga Thian selalu malindungimu, Cucu-cucuku, Dan kalau kebetulan kalian bertemu dengan Kam Hong, katakanlah kepadanya bahwa sebelum aku mati aku ingin berjumpa dengannya, minta agar dia suka datang ke sini mengunjungiku.”

Demikianlah, seteleh mendapat doa restu kakek itu, Yu Hwi dan Cu Kang Bu lalu meninggalkan Puncak Bukit Nelayan itu dan menuruni Pegunungan Tai-hang-san untuk kembali ke Lembah Suling Emas atau yang kini telah berubah namanya menjadi Lembah Naga Siluman. Mereka, juga Yu Hwi, tidak merasa bersedih, bahkan sebaliknya, mereka merasa gembira sekali karena mereka kini menuju pulang untuk segera melangsungkan pernikahan mereka! Mereka sudah mendapat persetujuan dan doa restu Sai-cu Kai-ong, bahwa ikatan jodah antara Yu Hwi dengan Kam Hong telah putus secara resmi. Tidak ada lagi yang menjadi penghalang atau ganjalan di antara mereka untuk dapat menikah dengan resmi.

Senang dan susah mirip ombak dalam samudera kehidupan, susul-menyusul dan datang silih berganti. Tangis dan tawa merupakan bumbu-bumbu kehidupan seperti masam dan manis dalam masakan. Selagi terbuai dalam kesenangan, kita tidak tahu bahwa kesusahan sudah berada di ambang pintu untuk mendapat giliran menguasai kita, menggantikan kesenangan yang terbang lalu tanpa meninggalkan bekas lagi.

Yu Hwi dan Kang Bu melakukan perjalanan menuju ke Lembah Naga Siluman dengan hati girang, bermesraan disepanjang perjalanan, sama sekali tidak tahu bahwa pada saat mereka melakukan perjalanan itu, terjadi sesuatu yang hebat di lembah itu. Apakah yang terjadi? Mari kita menengok keadaan lembah itu dan meninggalkan sepasang calon suami isteri, sepasang kekasih yang penuh kemesraan dan kebahagiaan itu.

**** 107 ****
Suling Emas & Naga Siluman