FB

FB

Ads

Jumat, 26 Juni 2015

Suling Emas & Naga Siluman Jilid 016

Kami adalah suami isteri yang malang, demikian catatan itu memulai. Percuma saja aku disebut Sin-ciang Eng-hiong (Pendekar Tangan Dewa) kalau ternyata aku tidak mampu melindungi diri sendiri dan isteriku. Aku, Kam Lok, hanyalah seorang laki-laki lemah yang terpaksa melarikan diri bersama isteriku karena dikejar-kejar musuh besarku yang tak dapat kulawan! Kasihan Loan Si, isteriku yang tidak dapat menikmati kehidupan suami isteri dalam rumah tangga yang tenteram karena semenjak menikah harus mengikuti aku melarikan diri.

Kami lari ke Himalaya, namun raksasa itu terus mengikuti jejak kami! Agaknya dia tidak mau menerima kenyataan bahwa dia kalah memperebutkan Loan Si yang lebih dulu suka menjadi isteriku daripada menjadi isteri raksasa yang tergila-gila kepadanya itu. Ouwyang Kwan, engkau sebagai seorang pendekar gagah, bekas sahabat baikku, kenapa tidak mau melihat kenyataan dan masih terus merasa penasaran? Ah, andaikata aku dapat mengalahkanmu pun, sukar bagiku untuk bertega hati membunuhmu, engkau sahabatku yang amat baik dan yang kutahu benar-benar amat mencinta Loan Si. Akan tetapi apa daya, sahabatku juga musuhku, Loan Si tidak membalas cintamu, cintanya melainkan untukku seorang!

Kami berhasil menemukan lorong rahasia yang tersembunyi ini, dan merasa aman tinggal di sini sampai setahun lebih! Betapa senang kami melewatkan bulan-bulan madu di tempat ini, berdua saja, mencurahkan segala cinta kasih antara kami tanpa ada yang mengganggu.

Sayang, karena ancaman Ouwyang Kwan, maka ketegangan mengisi lubuk hati isteriku sehingga hubungan kami tidak dapat menghasilkan keturunan!

Akan tetapi, kehidupan kami yang tenteram itu hanya berlangsung satu tahun saja, karena pada suatu hari, tiba-tiba muncullah Ouwyang Kwan, bekas sahabatku yang kini telah menjadi musuh besar kami itu, atau lebih tepat musuh besarku, karena dia tidak memusuhi Loan Si, bahkan sebaliknya dia amat mencintanya!

Tidak ada jalan lain bagi kami kecuali bertanding memperebutkan Loan Si! Pertandingan mati-matian di tempat ini, hal itu sudah pasti akan terjadi. Aku terpaksa menghentikan catatan ini karena kami berdua sudah berjanji untuk bertanding sekarang juga, begitu matahari terbit dan sinarnya menerangi ruangan ini. Semalam ini, mungkin malam terakhir, kuhabiskan untuk mencurahkan seluruh cintaku kepada Loan Si, isteriku. Siapa tahu, malam ini merupakan malam terakhir.






Sampai di sini, catatan itu ditulis dengan gaya tulisan lain, gaya tulisan yang halus, tulisan seorang wanita! Mereka bertanding mati-matian dan amat mengerikan, demikian tulisan wanita ini memulai. Betapa risau dan gelisah hatiku. Aku tidak dapat membantu, karena selain tingkat kepandaianku jauh lebih rendah, juga suamiku tidak menghendaki demikian. Mereka bertanding sebagai dua orang pendekar yang gagah perkasa, yang tidak menemukan jalan lain kecuali saling bertanding mati-matian untuk memperebutkan aku. Ah, betapa hancur rasa hatiku. Aku hanya mencinta Kam Lok, suamiku, mana mungkin aku harus mencinta orang lain? Mereka itu setingkat, akan tetapi semalam suamiku telah mengaku bahwa sesungguhnya, dia masih kalah kuat oleh lawannya itu. Aku hanya dapat memandang dengan gelisah dan berdoa dalam hati semoga suamiku yang akan menang.

Berjam-jam mereka bertanding dan akhirnya, apa yang kutakuti terjadilah. Suamiku roboh dengan muntah darah dan tewas setelah mengucapkan dua buah kata memanggil namaku. Aku menangis dan aku dihibur oleh Ouwyang Kwan yang menyatakan cintanya, yang bersumpah bahwa dia akan mencintaku melebihi cinta suamiku. Akan tetapi, aku benci melihat raksasa itu. Aku benci kepadanya! Aku lalu menyerangnya kalangkabut, akan tetapi dengan mudah dia menghindar, dan pergi dari tempat itu. Sesuai dengan pesan suamiku, aku membereskan pakaian jenazah suamiku, lalu mengatur dia agar duduk di sudut ruangan di mana turun salju dan es melalui celah-celah sehingga tubuhnya akan terbungkus salju dan es, dan tidak akan rusak sehingga aku dapat memandangnya setiap hari, seolah-olah dia masih hidup.

Setiap hari Ouwyang Kwan datang, membujukku, mengancamku. Akan tetapi aku bertekad untuk tidak melayaninya. Aku mengatakan kepadanya bahwa lebih baik aku mati daripada harus menjadi isterinya, bahwa aku sama sekali tidak cinta padanya, bahwa sebaliknya aku benci kepadanya. Akan tetapi orang itu sungguh keterlaluan, dia tidak mau melakukan kekerasan, sebaliknya membujuk-bujuk, memohon-mohon sehingga kadang-kadang timbul juga rasa kasihan dalam hatiku.

Akan tetapi, aku berkeras tidak mau menjadi isterinya, bahkan tidak mau melayani hasratnya. Sampai setahun lebih dia terus-menerus membujukku, menyediakan segala keperluanku, bahkan dia memelihara jenazah suamiku sehingga nampak terbungkus es dan baik, tidak pernah rusak, dia menyatakan menyesal sambil menangis kalau dia melihat suamiku.

Akan tetapi, aku tetap tidak mau melayaninya, bahkan aku mulai senang menggodanya, melihat dia tersiksa oleh cintanya yang tidak kubalas. Dia jelas amat menderita dan itulah hukumannya! Kadang-kadang dia menangis sendiri di sudut, lalu bicara sendiri. Aku khawatir dia menjadi gila karena rindunya dan cintanya tak terbalas dan tak terpuaskan. Aku makin menggodanya, aku sengaja berganti pakaian di depannya agar dia makin tergila-gila melihat tubuhku setengah telanjang, akan tetapi kalau dia sudah berapi-api aku lalu menghina dan mengejeknya, menyatakan benciku. Aku ingin dia memperkosaku, karena kalau hal itu terjadi, dia tentu akan terpukul hebat batinnya, tentu akan merasa menyesal sekali demi cintanya kepadaku yang kutahu memang benar-benar amat mendalam itu. Godaanku membuat dia semakin gila.

Pada suatu hari, ketika aku berada di luar, aku bertemu dengan mahluk aneh. Agaknya itulah yang bernama Yeti. Aku terkejut dan ketakutan, jatuh pingsan di depan Yeti, akan tetapi Ouwyang Kwan menyelamatkan aku, membawa lari masuk ke dalam guha dan menutup guha dengan batu besar. Yeti itu berkeliaran di luar guha sampai tiga hari mengeluarkan suaranya yang aneh. Aku ketakutan bukan main.

Dan mulai hari itu, hampir setiap hari aku melihat Yeti dan makin jarang melihat Ouwyang Kwan. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku menjadi nekat dan ingin menyerahkan diriku kepada Yeti! Aku ingin mengecewakan hati Ouwyang Kwan karena hatiku sakit mengingat suamiku dibunuh, akan tetapi aku sebetulnya mulai jatuh cinta kepadanya, mungkin karena kebutuhanku kepada pria! Namun, benciku melebihi cintaku sehingga aku lebih suka menyerahkan diri kepada Yeti, mahluk buas menyeramkan itu daripada kepada Ouwyang Kwan.

Akan tetapi, pengalamanku ketika aku menyerahkan diri kepada Yeti malam itu membuat aku semakin tergila-gila. Aku jatuh cinta kepada Yeti, demikian pikirku. Akan tetapi, ketika pada keesokan harinya aku terbangun dalam pelukan Yeti, ternyata Yeti itu adalah Ouwyang Kwan yang menyamar. Aku malu, aku benci, aku menyesal, apalagi karena aku tahu bahwa seluruh tubuhku jatuh cinta kepada Ouwyang Kwan pembunuh suamiku. Aku harus mati! Aku lebih baik mati! Aku semalam telah mengkhianati suamiku, di depan mata suamiku sendiri aku telah bermain cinta, berjina semalam suntuk dengan Ouwyang Kwan, musuh dan pembunuh suamiku. Aku harus mati....!”

Tulisan itu berakhir, akan tetapi pada lembar berikutnya terdapat tulisan kasar seperti cakar ayam, tulisan yang besar-besar hurufnya dan ditulis oleh tangan yang kaku:

“Aku menyebabkan kematiannya. Aku berdosa! Aku binatang, bukan manusia! Aku Yeti yang buas!”

Demkianlah isi buku catatan yang dibaca oleh Hong Bu dengan asyiknya. Dia termenung. Hebat sekali pengalaman suami isteri pendekar itu. Dia lalu menghampiri lagi mayat-mayat yang seperti arca itu. Pendekar itu memang tampan, dan setelah dia meneliti, dia melihat memang pada bajunya terdapat lubang bekas tusukan pedang, tepat di uluhatinya. Kemudian dia meneliti jenazah wanita itu. Terdapat pula lubang bekas tusukan senjata tajam di lambung kirinya. Agaknya wanita itu telah bunuh diri. Dan agaknya tulisan kasar terakhir itu adalah tulisan Ouwyang Kwan yang menaruh mayat Loan Si di dekat suaminya, kemudian tentu saja Ouwyang Kwan meninggalkan tempat itu.

Akan tetapi.... tiba-tiba Hong Bu teringat dan bulu tengkuknya meremang, Yeti itu! Mengapa menangis di depan mayat Loan Si? Dan di dalam catatan Loan Si, Yeti yang diserahi dirinya adalah yang penyamaran Ouwyang Kwan! Dan Ouwyang Kwan mulai menjadi gila! Dan Yeti itu, gerak-geriknya lebih mirip manusia, malah bisa merintih, menangis, dan seolah-olah mengerti dan dapat menangkap kata-katanya. Jangan-jangan Yeti yang sekarang ini pun adalah penyamaran Ouwyang Kwan! Bukankah dalam catatan-catatan itu disebutkan bahwa Ouwyang Kwan bertubuh raksasa? Jadi, tentu tinggi besar, pantas kalau menyamar sebagai Yeti!

Hong Bu berindap mendekati Yeti yang masih tidur. Tidurnya nyenyak dan mendengkur. Dengkurnya seperti dengkur manusia! Berdebar jantung Hong Bu. Benarkah mahluk ini yang dinamakan orang Yeti, ataukah ini adalah Ouwyang Kwan yang menyamar? Bagaimana dia akan dapat membuka rahasia ini? Betapapun juga, jelas bahwa mahluk ini memperlihatkan sifat-sifat yang liar dan ganas, maka dia harus berhati-hati dan jangan sampai membuatnya marah, karena hal itu amatlah berbahaya. Mahluk buas, atau manusia yang sudah menjadi gila dan merasa dirinya menjadi binatang, sama saja berbahayanya, maka dia harus bersikap halus dan hati-hati.

Malam itu Hong Bu tidur dalam ruangan itu yang tidaklah begitu dingin seperti kalau berada di luar, Yeti tidak nampak, sejak tadi telah pergi. Hong Bu tidak berani sembarangan mencarinya karena memang dia tidak tahu harus pergi ke mana, dan tak lama kemudian nampak bayangan berkelebat dan Yeti telah berada di dekatnya dan menyerahkan segebung daun-daun yang kekuning-kuningan. Dia menerimanya dalam keremangan cahaya malam yang berbulan tipis itu, sinar bulan yang memasuki ruangan melalui jendela, akan tetapi tidak tahu mengapa Yeti memberikan daun-daun itu kepadanya. Untuk tilam tidur? Akan tetapi daun-daun basah itu malah tidak enak kalau untuk tidur, lebih enak tidur di atas tanah dalam ruangan itu yang cukup hangat. Akan tetapi, Yeti itu mengambil setangkai daun lalu memakannya dan memberi isyarat dengan tangan agar Hong Bu makan daun itu pula!

Celaka, pikirnya, kalau Yeti ini termasuk binatang pemakan rumput dan daun, apa dikiranya dia pun harus hidup sebagai kerbau atau kuda? Akan tetapi, agar tidak membikin marah binatang itu, dia pun mengambil sehelai dan dimasukkan ke mulutnya, lalu dikunyahnya. Eh? Rasanya enak! Hong Bu menjadi girang sekali. Daun itu rasanya enak, seperti daun sawit! Maka dia pun lalu makan daun-daun itu. Lumayan untuk mengisi perut kosong. Dan malam itu dia tidur nyenyak, dengan perut kenyang walaupun hanya diisi daun-daun itu.

Pada keesokan harinya, Yeti itu memberi isyarat kepada Hong Bu untuk ikut bersamanya keluar dari ruangan itu. Hong Bu menurut saja. Yeti itu keluar melalui jendela dan ketika Hong Bu menjenguk keluar, hampir dia berteriak saking ngerinya. Ternyata di luar “jendela” itu merupakan tebing yang luar biasa curamnya, tak berdasar lagi karena tertutup oleh kabut kebal. Demikian pula semua jendela di ruangan itu dikelilingi tebing yang curam. Akan tetapi Yeti mengajaknya keluar dari situ! Mana mungkin? Yeti agaknya mengerti dan dengan tangan kirinya dia mengempit Hong Bu sedangkan pedang yang kemarin menancap di pahanya itu diangsurkan kepada Hong Bu. Hong Bu mengerti bahwa dia disuruh memegang pedang itu, maka dia pun memegang pedang itu dengan hati-hati dan mulailah Yeti itu memanjat tebing! Bukan main! Berkuranglah kecurigaan Hong Bu. Kalau Yeti ini manusia yang menyamar, agaknya tidak mungkin ada manusia berani atau dapat memanjat tebing seperti ini!

Hong Bu beberapa kali memejamkan matanya kalau Yeti itu melompat-lompat dan akhirnya mereka tiba di sebuah taman yang luar biasa. Di sekeliling itu terdapat es yang berkilauan, bermacam-macam bentuknya. Ada es yang berwarna biru, ada yang kemerahan, seperti batu-batu akik yang besar-besar. Akan tetapi kalau Hong Bu membantingnya, maka di dalamnya tidak ada apa-apa dan warna itu pun menghilang. Kiranya itu hanyalah warna sinar matahari yang tertangkap bagian-bagian tertentu saja oleh bentuk-bentuk yang aneh itu.

Dan di situ tumbuh berbagai tanam-tanaman. Sungguh luar biasa ada tanaman dapat hidup di tempat sedingin ini! Yeti lalu berloncatan pergi membawa pedang itu. Hong Bu yang ditinggal sendiri diam saja, menanti dengan tenang karena dia maklum bahwa tentu Yeti itu hendak melakukan sesuatu dan dia disuruh menanti di situ. Benar saja tak lama kemudian Yeti kembali dan tangan kirinya menggenggam dua ekor ular! Ular salju yang berwarna kemerahan. Merah darah! Selain itu, Yeti masih membawa pula sepotong cula, semacam cula badak yang cukup besar.

Tanpa mengeluarkan kata-kata, Yeti itu mengulurkan tangan memberikan ular itu kepada Hong Bu. Tentu saja Hong Bu melangkah mundur dan menarik tangannya, tidak mau menerima. Untuk apa dia diberi ular? Kalau seperti ketika memberi daun semalam dia disuruh makan ular, maka Yeti atau apa pun adanya mahluk itu sudah benar-benar menjadi gila! Biarpun dua ekor ular itu telah mati, agaknya dipencet oleh jari-jari tangan yang kuat itu, akan tetapi Hong Bu masih merasa ngeri. Bukan dia tidak pernah makan ular. Seringkali malah, akan tetapi daging ular kembang yang besar, diambil dagingnya dipanggang atau dimasak. Bukan ular kecil merah yang agaknya mengandung bisa amat jahatnya ini.

Yeti lalu memisahkan dua ular itu yang saling belit, kemudian membawa seekor ke dekat mukanya, membuka mulut dan.... “kress!” kepala ular itu digigitnya, putus sampai ke leher dan dikunyahnya, matanya berkedip-kedip, kelihatan enak sekali.

“Huh-huhh!” katanya lagi sambil menyerahkan yang seekor kepada Hong Bu. Celaka, pikir Hong Bu. Benar-benar sudah gila. Akan tetapi melihat sinar mata yang keras dan seperti memaksa itu, dia takut untuk menolak. Dia harus dapat mengambil hati Yeti dengan halus, dan kalau perlu biarlah dia ikut-ikutan menjadi gila sedikit. Dia menerima ular itu, dan seperti yang dilakukan oleh Yeti tadi, dia membawa, kepala ular itu ke mulutnya, membuka mulut dan menutup matanya, lalu “krekk!” kepala ular itu digigitnya kuat-kuat sampai putus sebatas leher, kemudian sambil memejamkan mata rapat-rapat dia lalu mengunyah kepada ular itu yang hanya sebesar ibu jari kakinya. Terasa masam akan tetapi ada manisnya dan dia terus memakannya sampai habis, menelannya sampai kepalanya bergerak naik turun karena dipaksanya seperti orang minum obat pahit.

Yeti itu kelihatan gembira sekali ketika Hong Bu membuka matanya. Ditangkapnya pinggang Hong Bu dan dilemparkannya tubuh anak itu ke atas, ketika melayang turun, diterimanya tubuh itu lalu dilontarkannya ke atas, makin lama makin tinggi! Hong Bu yang diperlakukan seperti bola itu tadinya gembira, akan tetapi karena makin lama dia dilontarkan semakin tinggi, dia merasa ngeri juga dan dia berteriak-teriak.

“Heii! Yeti, turunkan aku....!”

Yeti itu menyambut tubuhnya dan menurunkannya ke atas tanah, sepasang matanya kini berseri dan bersinar-sinar, lenyap keliarannya. Kemudian Yeti itu melanjutkan makan ular merah, dan memberi isyarat kepada Hong Bu untuk makan ularnya pula. Biarpun muak, Hong Bu memejamkan matanya dan terus makan ular itu mentah-mentah begitu saja sampai akhirnya habis juga seluruh ular itu dari kepala sampai ekornya ke dalam perutnya!

Dia mau muntah, akan tetapi ditahannya dan tiba-tiba dia merasa kepalanya pening. Dia terhuyung-huyung dan seluruh tubuhnya terasa panas, perutnya mulas dan bergerak-gerak seolah-olah ular yang dimakannya tadi hidup lagi dan meronta-ronta di dalam perutnya.

“Celaka, Yeti! Ular itu beracun....!”






Hong Bu sudah terlalu banyak pengalaman dalam pekerjaannya berburu sehingga dia dapat menduga apa yang terjadi dengan dirinya. Dia sudah mencari-cari didalam saku bajunya untuk cepat menelan obat penawar racun, akan tetapi Yeti menggereng dan merampas bungkusan obat itu, lalu membuangnya jauh-jauh obat!

“Ahhh!”

Hong Bu berseru. Obat-obatnya dibuang ke dalam jurang! Padahal, dia masih membutuhkan untuk memberi obat pencuci darah untuk Yeti, karena mahluk itu belum minum obat pencuci darah, tidak sempat ketika kemarin di serang orang setelah dia bela, kemudian sadar dan terus saja pergi tanpa minum obat pencuci darah! Dan kini semua obatnya telah dibuang, bukan hanya obat pencuci darah untuk Yeti namun juga obat penawar racun untuk menyelamatkan nyawanya.

“Celaka, agaknya engkau hendak membiarkan aku mati!” serunya penuh sesal.

Dengan suara ah-ah-uh-uh, Yeti lalu menarik tangan Hong Bu, disuruhnya menirukan dia. Dan Yeti itu lalu duduk bersila dengan kedudukan kaku berbentuk teratai, yaitu duduk bersila dengan kedua kaki di atas paha kanan kiri! Aneh seekor binatang dapat duduk bersila seperti itu. Akan tetapi Hong Bu lalu mencontohnya. Tentu saja dia pun tidak asing dengan cara bersila seperti itu.

Kemudian, Yeti itu menunjuk ke arah pusarnya. Dan memang di situlah Hong Bu merasakan hawa panas yang luar biasa. Lalu Yeti menarik napas panjang, menahan napas itu, dan menyuruh Hong Bu menirunya. Demikianlah, Yeti lalu memberi contoh cara bernapas kepada Hong Bu, cara menyalurkan hawa panas itu ke seluruh tubuhnya dan dengan jari tangan kirinya yang besar Yeti menotok beberapa jalan darah di tubuh Hong Bu dan terbukalah jalan darah itu sehingga hawa panas dari pusar itu dapat menembus naik. Lalu dengan gerakan tangan dia memberi contoh pengerahan napas untuk membuat hawa itu berputar-putar.

Hong Bu merasa terheran-heran, akan tetapi secara membuta dia menurut petunjuk Yeti dan sungguh luar biasa sekali. Perutnya tidak sakit lagi, peningnya lenyap dan kini bahkan tubuhnya terasa hangat. Yeti itu lalu membuka jubah tebalnya dan dia tetap merasa hangat, padahal hawanya di situ amat dinginnya! Setelah duduk berlatih napas selama satu jam lebih, Hong Bu merasa betapa tubuhnya enak sekali.

Yeti kini melompat bangun dan Hong Bu tersenyum kepadanya. Diam-diam dia makin curiga dan terheran-heran, Yeti ini sama sekali tidak pantas kalau menjadi binatang buas, lebih patut menjadi seorang manusia sakti yang sedang bingung dan berobah ingatannya! Makin tebal dugaannya bahwa Yeti ini tentulah Ouwyang Kwan yang menyamar.

Kini Yeti mengambil cula badak salju itu, menggunakan kuku jarinya untuk mengeruknya, dan memberikan kepada Hong Bu isi dari cula itu yang agak empuk, seperti tulang muda, dan menyuruh dia makan cula itu! Hong Bu tidak ragu-ragu lagi kini, disuruh apa pun dia akan menurut dan biarpun agak keras, seperti makan tulang muda, dia pun makan cula itu sampai habis dan ternyata baunya amis-amis harum. Dia tidak tahu bahwa dia sedang diberi makan racun ular daun salju dan cula badak salju yang dapat menguatkan badannya. Makanan seperti ini dapat membuat tubuh tidak hanya kuat, akan tetapi juga kebal seperti tubuh Yeti itu!

Sampai tiga hari lamanya, setiap hari Yeti mengajak Hong Bu ke tempat ini dan Hong Bu kini ikut pula menangkap ular merah untuk dimakannya mentah-mentah saja, dan juga mencari daun-daun salju dan cula badak salju. Pada hari ke empat, Yeti mengajak Hong Bu keluar dari terowongan itu dan menutupkan lagi batu bundar itu menutupi lubang rahasia itu, kemudian dia mengajak Hong Bu untuk berjalan menuju ke sebuah puncak bukit tak jauh dari situ. Tiba-tiba saja bermunculan beberapa orang yang agaknya memang sejak lama telah menanti dan bersembunyi di situ dan agaknya memang mengamat-amati jejak Yeti!

Melihat betapa di antara mereka itu terdapat kakek jangkung dan kakek pendek, yaitu Su-ok dan Ngo-ok, Hong Bu terkejut sekali. Akan tetapi Yeti lalu menyambar pinggangnya, memanggulnya dan membawanya lari dari tempat itu, dengan cepat sekali dia berlompatan, dengan kaki masih terpincang-pincang. Dan para tokoh kang-ouw yang memang mengamati gerak-gerik Yeti dan terutama sekali pedang di tangan Yeti itu, juga mempergunakan gin-kang mereka, bergerak dengan ringan dan cepat, mengikuti jejaknya yag nampak jelas di atas salju. Terjadilah kejar-kejaran dan sampai dua hari dua malam Yeti terus berjalan tanpa berhenti, hanya makan bekal daun yang dibawa Hong Bu ketika mereka keluar dari terowongan. Akan tetapi, setiap kali Yeti berhenti mengaso, nampak sudah orang-orang kang-ouw yang ternyata berilmu tinggi itu berdatangan dan membayangi dari jauh!

Pada hari ke tiga, ketika dia tiba di puncak yang tinggi dari Pegunungan Kongmaa La, di bagian yang penuh rahasia bahkan dia sendiri jarang datang ke tempat berbahaya itu. Yeti yang melihat belasan orang kang-ouw itu tetap saja masih membayanginya, menjadi marah bukan main. Dia menggereng dan meloncat ke balik sebuah bukit salju yang bertumpuk di tepi puncak yang datar itu, akan tetapi dia tidak lari melainkan bersembunyi, mendekam di situ sambil tetap memeluk Hong Bu dan memegang pedang.

Benar saja, semua orang kang-ouw kini mengejar ke tempat itu. Hong Bu juga ikut bersembunyi mengintai itu melihat banyak orang yang aneh-eneh bentuk maupun pakaiannya. Bahkan ada pula empat orang laki-laki gundul yang tinggi besar seperti raksasa memikul sebuah tandu yang tertutup sehingga tidak dapat dilihat apa atau siapa isinya.

Sungguh lucu sekali kalau dipikir. Mengejar atau membayangi jejak Yeti mengapa mesti naik tandu yang dipikul empat orang? Seperti orang pesiar saja! Sungguh gila! Akan tetapi begitulah kenyataannya dan Hong Bu memandang terus. Ada beberapa orang kakek yang aneh yang berdekatan dengan Su-ok dan Ngo-ok, dan ada pula seorang nenek yang amat mengerikan, karena nenek ini, atau wanita itu, karena sukar dikatakan tua atau muda, memakai topeng tengkorak manusia tulen! Ada pula seorang kakek tinggi besar yang persis gorila bentuknya, baik bentuk tubuhnya maupun bentuk mukanya, seperti gorila memakai pakaian!

Dan ada pula raksasa berkepala botak yang memakai mantel merah. Dia tidak tahu bahwa mereka itu adalah Twa-ok Su Lo Ti Si Kakek Gorila, kemudian Ji-ok Kui-bin Nio-nio yang memakai topeng tengkorak, kemudian Sam-ok Bah Hwa Sengjin yang berkepala botak. Mereka itulah, bersama Su-ok dan Ngo-ok merupakan gerombolan lengkap dari Im-kan Ngo-ok, datuk-datuk kaum sesat! Akan tetapi di samping kelima orang ini dan empat orang penggotong joli yang melihat gerakannya juga merupakan orang-orang pandai, masih terdapat lagi beberapa orang sehingga jumlah mereka hampir dua puluh orang! Semua orang itu nampak berilmu tinggi dan berkumpul di puncak datar itu, siap untuk mengejar Yeti.

Akan tetapi, tiba-tiba Yeti mengeluarkan gerengan keras dan melompat keluar dari tempat persembunyiannya, memondong Hong Bu dengan tangan kiri dan memegang pedang berkilauan itu dengan tangan kanan, memutar-mutar pedang ke atas kepala dan menggereng-gereng memperlihatkan kemarahannya karena dia terus dibayangi oleh orang-orang kang-ouw itu.

Akan tetapi, orang-orang kang-ouw itu bersikap tenang dan siap untuk membela diri. Mereka itu semua menanti kesempatan baik. Tentu saja orang-orang seperti Im-kan Ngo-ok yang datang dengan lengkap itu tidak takut terhadap Yeti dan merasa bahwa kalau mereka berlima maju, mereka akan mampu merampas pedang keramat yang amat diinginkan itu, akan tetapi mereka adalah orang-orang cerdik. Mereka dapat berpikir secara jauh. Kalau mereka merampas pedang itu, berarti mereka akan menghadapi pengeroyokan orang-orang kang-ouw lainnya dan hal itu merupakan bahaya yang jauh lebih besar lagi. Mereka melihat betapa setiap orang kang-ouw yang melakukan pengejaran ini terdiri dari orang-orang yang amat tinggi kepandaiannya. Oleh karena itulah maka belasan orang kang-ouw itu hanya membayangi Yeti saja, belum mau turun tangan merampas pedang.

Kini tahu-tahu Yeti itu sendiri yang agaknya hendak menyerang mereka maka mereka siap siaga untuk menghadapi amukan Yeti. Betapapun juga, setelah mendengar betapa banyaknya orang-orang kang-ouw yang tangguh-tangguh binasa di tangan Yeti ini, maka ketika Yeti melangkah maju mengayun-ayun pedang yang berkilauan itu, semua orang menjadi agak gentar juga dan melangkah mundur. Akan tetapi, empat orang gundul tinggi besar seperti raksasa itu agaknya tidak mengenal takut karena mereka tidak melangkah mundur, hanya berdiri memanggul tandu diam saja sambil memandang kepada Yeti dengan muka seperti topeng, sedikit pun tidak membayangkan perasaan apa pun.

Yeti sudah marah sekali karena orang-orang yang mengepungnya itu tidak mau pergi. Dia lalu melemparkan tubuh Hong Bu begitu saja ke samping dan pemuda ini terguling-guling lalu bangkit duduk dan merangkak ke belakang sebuah batu besar untuk berlindung, Yeti menggereng-gereng, kemudian dengan gerakan tiba-tiba dan cepat sekali, tangan kirinya menyambar ke depan, ke arah rombongan orang terdekat, yaitu ke arah empat orang pemikul tandu itu sendiri.

Biarpun dia hanya menampar dengan tangan kiri, namun tamparan itu hebat bukan main akibatnya. Empat orang yang tinggi besar dan nampaknya kuat kokoh seperti menara besi itu, kini seperti pohon-pohon cemara dilanda angin kencang. Mereka terpelanting ke kanan kiri dan tandu itu pun terlepas dari pundak mereka dan jatuh ke atas tanah dalam keadaan berdiri. Akan tetapi tangan kiri Yeti meluncur terus dan mengenai dengan tepat dan keras lagi tandu itu.

“Brakkk....!”

Tandu itu hancur berantakan kena pukulan itu dan bersama dengan hancurnya tandu, nampak pecahan-pecahan tandu berhamburan dan di antara pecahan-pecahan itu nampak berkelebat bayangan yang sedemikian cepatnya sehingga tidak dapat diikuti oleh pandang mata para tokoh kang-ouw yang memandang peristiwa itu, saking cepatnya gerakan bayangan yang meloncat keluar dari tandu itu sebelum tandu itu hancur lebur.

“Yeti keparat!” terdengar bentakan nyaring merdu dan ternyata di situ telah berdiri seorang yang wajahnya amat.... buruknya!

Tubuh wanita itu tinggi ramping dan montok, dengan lekuk lengkung tubuh seorang wanita yang sudah matang dan yang memiliki daya tarik yang menggairahkan. Namun apabila orang melihat wajahnya tanggung semua gairah akan terbang lenyap dari hati orang itu, karena wajah wanita ini benar-benar luar biasa buruknya, bukan hanya buruk bahkan menjijikkan dan menakutkan. Kulit muka ini agak kehitaman, belang-belang dan berlubang-lubang semacam bopeng yang berat, dan selain itu juga pletat-pletot seolah-olah terbuat dari malam yang terkena panas! Sungguh ganas sekali alam memberi wajah cacat sedemikian buruknya pada seorang wanita yang melihat bentuk tubuhnya adalah seorang wanita muda yang sedang-sedangnya berkembang!

Semua orang memandang dengan terheran-heran. Bahkan Im-kang Ngo-ok sendiri tidak mengenal nona buruk muka itu, padahal melihat gerakannya tadi jelas bahwa tingkat gin-kang yang dimiliki wanita itu tidak kalah oleh tingkat gin-kang dari Ngo-ok sendiri! Gerakannya seperti dapat menghilang saja, sedemikian cepatnya gerakan tadi sampai tidak nampak oleh mata mereka.

Biarpun sinar matanya membayangkan kemarahan karena tandunya dihancurkan Yeti, akan tetapi wanita itu dengan tenang berdiri tegak, kemudian dia menyingsingkan kedua lengan bajunya! Mula-mula nampak kulit lengannya yang halus mulus, montok dan putih bersih, akan tetapi segera semua orang menahan napas, bahkan ada yang menahan seruan karena merasa ngeri. Ternyata bahwa kedua lengan itu penuh dengan ulat-ulat berbulu! Ulat-ulat yang gemuk dan berbulu lebat, ada yang berwarna putih, merah, hijau, hitam, biru, kuning dan sebagainya. Baru melihatnya saja sudah menimbulkan perasaan gatal-gatal di tubuh, apalagi kalau sampai terkena bulu-bulu lebat yang kesemuanya pasti mengandung racun yang amat hebat itu.

“Binatang liar, berani engkau merusak tanduku? Hayo tukar dengan pedangmu itu!” bentak wanita itu. dengan suara yang melengking nyaring.

“Si Ulat Seribu....” Terdengar Ji-ok Kui-bin Nio-nio berseru kaget.

Wanita bermuka buruk itu menoleh kepada wanita bermuka tengkorak.
“Heh-heh, Ji-ok Kui-bin Nio-nio kiranya? Huh, kalau tidak bersama-sama dengan Ngo-ok selengkapnya, mana berani keluar?”

Diejek demikian itu, Ji-ok mendengus marah.
“Bocah sombong! Siapa takut ulat-ulatmu?”

Akan tetapi Si Ulat Seribu tidak mempedulikan Ji-ok lagi karena tiba-tiba, selagi dia bicara kepada Ji-ok dan mukanya agak menengok ke arah wanita bertopeng tengkorak itu, tiba-tiba saja tangannya bergerak menyambar dan dia sudah menyerang Yeti! Sungguh suatu gerakan yang selain cepat, juga tidak terduga-duga sama sekali dan membayangkan kelicikan dan kecurangan hebat dari orang-orang golongan sesat!

Akan tetapi Yeti itu pun memiliki ketangkasan yang luar biasa sekali. Biarpun dia diserang secara tiba-tiba, tangan kiri wanita itu menyambar ke arah pusarnya dan tangan kanan wanita itu langsung menyambar ke atas untuk merampas pedang, akan tetapi dia malah membiarkan saja pukulan ke arah pusarnya itu, sedangkan pedangnya cepat digerakkan ke bawah menyambut lengan kanan Si Ulat Seribu.

“Dukk.... Aihhh....!”

Si Ulat Seribu itu untungnya dapat bergerak dengan kecepatan kilat sehingga lengannya tertolong sungguhpun ujung lengan bajunya terbabat putus hanya oleh sinar pedang itu sehingga dia memekik kaget. Kekagetan putusnya ujung lengan ini ditambah dengan terpentalnya tangannya yang menghantam pusar, seolah-olah bertemu dengan perut dari baja atau bola karet yang amat kuat!