FB

FB

Ads

Jumat, 26 Juni 2015

Suling Emas & Naga Siluman Jilid 011

Runtuhnya sebagian dari tumpukan es dan salju di puncak gunung itu selain mendatangkan suara gemuruh yang hiruk-pikuk seolah-olah dunia hendak kiamat, juga menimbulkan debu salju yang mengebul sampai tinggi dan turun seperti embun. Banyak batu-batu dan pohon-pohon gundul yang tertutup salju dilanda arus salju dan batu-batu es ke bawah kemudian memasuki dan memenuhi jurang-jurang yang curam di bawah kaki gunung.

Mati hidup manusia merupakan hal yang wajar. Dan seperti segala sesuatu di alam maya pada ini, di dalam kewajaran terkandung rahasia-rahasia kegaiban yang amat luar biasa dan mentakjubkan. Kegaiban yang sama sekali tak terselami oleh pikiran. Segala sesuatu yang terjadi di dalam alam raya ini, dari beraraknya awan, berputaran dunia, tumbuhnya pohon-pohon, kehidupan segala mahluk, semua adalah berjalan dengaan wajar dan karenanya mengandung ketertiban yang amat indah. Di dalam segala kewajaran yang penuh kegaiban itu termasuk juga kehidupan dan kematian. Wajar, karenanya gaib.

Menurut jalan pikiran, orang yang sudah terlanda berton-ton salju dan es yang runtuh ke bawah, seperti yang dialami oleh Kam Hong dan Ci Sian, tentu tidak mungkin dapat terluput dari kematian. Namun kenyataannya tidaklah demikian! Secara “kebetulan” mereka itu berada di lereng, bukan di dasar kaki gunung, sehingga salju yang longsor itu hanya lewat saja di atas mereka. Dan “kebetulan” pula Kam Hong dan Ci Sian lebih dulu teruruk oleh bukit kecil yang runtuh sehingga mereka seperti terlindung dan biarpun keduanya pingsan karena dilalui oleh longsoran salju dan balokbalok es sebesar itu, namun mereka tidak sampai tewas. Lebih “kebetulan” lagi bahwa kepala mereka tidak sampai terpendam salju, karena kalau hal ini terjadi, dalam keadaan pingsan itu tentu mereka takkan bernapas dan akan tewas juga.

Lama setelah salju yang longsor itu sudah lewat dan keadaan menjadi sunyi kembali, angin yang tadi bertiup kencang itu agaknya sudah lewat dan tidak ada sedikit pun angin bergerak, Kam Hong siuman dari pingsannya. Dia mendapatkan dirinya rebah miring, dari pinggang ke bawah terpendam salju. Ada bongkahan-bongkahan es sebesar kerbau bunting di sekitar tempat itu, dan dia merasa heran mengapa dia masih dapat hidup, padahal tertimpa satu saja di antara batu-batu es besar itu, tentu tubuhnya akan remuk.

Kepalanya masih pening dan ketika dia membuka matanya, dia melihat sekelilingnya seperti berputaran. Akan tetapi dia dapat melihat Ci Sian menggeletak di dekatnya, telentang dan juga dalam keadaan pingsan. Muka yang manis itu kelihatan pucat, matanya terpejam dan kulit di antara kedua alisnya masih berkerut tanda bahwa dara itu mengalami ketakutan hebat.






Kam Hong melihat pakaiannya koyak-koyak dan tubuhnya luka-luka ringan, akan tetapi yang jelas, dia masih hidup! Hawanya dingin sekali. Mereka berdua terbujur di antara batu-batu es yang bening dan berkilauan amat aneh dan indahnya, memantulkan cahaya matahari tertutup halimun. Kalau dia membayangkan betapa dia telah hampir dikoyak-koyak Yeti, kemudian dijatuhi puncak yang longsor seperti itu dan kini masih hidup, juga Ci Sian masih hidup, sungguh hampir tak dapat dia mempercayainya.

Sejenak seluruh perasaannya membubung ke atas atau ke mana saja di mana Tuhan berada dan batinnya membisikkan puji syukur yang mendalam. Kemudian ia membuka matanya dan menoleh ke arah Ci Sian. Timbul kekhawatirannya. Jangan-jangan anak itu telah mati. Pikiran ini mendatangkan tenaga di tubuhnya yang terasa lemah dan dia menarik kedua kakinya dari urukan salju. Akan tetapi ketika dia bangkit, dia berteriak kesakitan dan terduduk kembali, tangannya memegangi paha kirinya. Dia memandang dan melihat celana kirinya robek, penuh darah. Ternyata kaki kirinya, di dekat pergelangan, telah patah tulangnya!

Agaknya teriakan kesakitan dari Kam Hong tadi membantu Ci Sian memperoleh kembali kesadarannya. Gadis cilik ini membuka mata dan dia mengeluh kagum melihat betapa dunia di sekelilingnya sedemikian indahnya. Seperti dalam mimpi! Dia terpesona dan terheran-heran, mengucek kedua matanya dengan punggung tangannya di mana sarung tangannya robek. Pandang matanya silau oleh kilatan balok-balok es di sekitar tempat itu.

Sudah matikah aku? Inikah alam baka? Demikian hatinya berbisik karena dia teringat akan dongeng tentang alam baka. Memang melihat sekitarnya dikelilingi benda-benda yang berkilauan itu dia merasa seperti berada di alam lain.

Akan tetapi suara keluhan membuat dia menengok dan barulah dia sadar ketika dia melihat Kam Hong duduk sambil memegangi kaki kirinya, wajahnya menyeringai kesakitan. Dia merangkak bangkit dan ternyata gadis cilik ini tidak terluka apa-apa, kecuali pakaiannya yang robek di sana-sini dan kulit tubuhnya ada yang lecet-lecet sedikit. Dia terhuyung menghampiri Kam Hong dan.... tiba-tiba dia menjerit, mukanya menjadi pucat sekali, matanya terbelalak lebar.

Kam Hong terkejut, sedetik lupa akan rasa nyeri di kakinya.
“Eh, ada apakah, Ci Sian?” tanyanya khawatir.

Gadis cilik itu tidak menjawab, mulutnya bergerak-gerak tanpa dapat mengeluarkan suara, hanya telunjuk kanannya yang menuding, telunjuk yang menggigil. Kam Hong menoleh ke arah kirinya dan baru sekarang dia memandang ke kiri karena tadi Ci Sian berada di sebelah kanannya sehingga semua perhatiannya tertuju ke sebelah kanannya.

Ketika dia menoleh dan melihat apa yang ditunjuk oleh gadis cilik itu, hampir saja dia pun menjerit seperti Ci Sian. Matanya terbelalak dan mulutnya ternganga. Tak jauh di sebelah kirinya, agak ke belakangnya di mana terdapat sebuah batu es, sebongkah balok es yang besarnya seperti gajah. Ternyata di sebelah dalam bongkahan batu es yang amat bening ini terdapat sesosok tubuh manusia yang masih utuh, lengkap dengan pakaiannya, nampaknya seperti sedang tidur saja di dalam bongkahan es itu, terbungkus es bening yang seolah-olah menjadi petinya!

“Jangan takut, dia.... dia.... hanya sepotong jenazah....“ kata Kam Hong, namun biar mulutnya menghibur seperti itu, suaranya sendiri gemetar, setengah karena rasa nyeri di kakinya, setengah lagi karena memang dia sendiri merasa serem!

Ci Sian menghampiri peti es itu. Dengan mata terbelalak dia memperhatikan tubuh manusia dalam es itu. Sungguh mengerikan. Wajah laki-laki setengah tua itu seperti masih hidup saja. Matanya setengah terbuka, bola matanya masih berkilau karena dilapisi es yang berkilauan. Mukanya masih agak kemerahan. Muka yang tampan dan gagah, akan tetapi mulutnya itu ditarik seperti orang yang merasa berduka. Pakaiannya aneh, dan Ci Sian teringat akan gambar-gambar manusia jaman dahulu. Pakaian yang amat kuno sekali, mungkin sudah ribuan tahun usianya! Akan tetapi pakaian itu, seperti juga tubuh itu, masih utuh dan sama sekali tidak kelihatan lapuk atau rusak.

Yang menarik hati Ci Sian adalah ketika dia melihat kedua tangan mayat itu yang dirangkap di depan dada dan kedua tangan itu dengan jari-jari tangan yang kelihatannya memegang dengan hati-hati dan erat-erat, memegang sebuah boneka kecil, yang kurang lebih dua puluh senti panjangnya. Boneka itu telanjang, dan di tubuh boneka yang putih itu nampak guratan-guratan dan huruf-huruf kecil yang terukir secara aneh.

Karena tertariknya dan keadaan mayat dalam es ini, Ci Sian seperti melupakan Kam Hong. Baru setelah dia mendengar pemuda itu mengeluh, dia menengok dan melihat Kam Hong merobek celana kirinya dan membuka kaki yang berdarah itu, dia terkejut dan cepat menghampiri.

“Eh, kakimu kenapa, Paman?” tanyanya sambil berlutut dan memandang khawatir.

“Agaknya tulangnya patah, Ci Sian. Biar kubersihkan darahnya.... auhhh....“ Pemuda itu menggigit bibir menahan nyeri.

“Biar aku yang membersihkannya, Paman. Engkau canggung benar dan kedua tanganmu takkan mencapai kakimu yang dilonjorkan.”

Ci Sian lalu membersihkan luka itu, mempergunakan saputangannya. Darahnya sudah membeku, dan dengan hati ngeri dia melihat bahwa di atas pergelangan kaki kiri itu kulitnya pecah dan melihat bentuk kaki itu mudah diduga bahwa memang tulangnya patah.

“Ah, agaknya memang patah tulangnya. Habis bagaimana baiknya, Paman?”

Kam Hong mengeluarkan buntalan dari balik jubahnya yang robek-robek, membuka buntalan dan mengeluarkan sebuah botol kecil terisi obat bubuk hijau.

“Ci Sian, aku sendiri tidak mungkin menarik kakiku, maka kau bantulah aku menarik kakiku agar tulangnya yang patah itu dapat bertemu kembali. Lalu kau pergunakan obat penyambung tulang ini, campur dengan salju dan paramkan di sekitar kaki yang patah, kemudian balut dengan kuat-kuat.”

“Baik, Paman.”

Ci Sian, atas petunjuk Kam Hong, lalu mencari enam batang kayu, sepanjang lima belas senti, kayu dari ranting yang cukup kuat, kemudian dia mencampur isi botol itu dengan salju cair dan dia membuat balut dari lapisan baju bulunya yang tebal, kain pembalut yang cukup panjang.

“Sekarang kau duduklah di depan kakiku, pegang kakiku dengan kedua tangan dan kerahkan tenagamu untuk menarik sekuatnya. Jangan lepaskan sebelum aku beri tanda, dan kalau aku sudah memberi tanda, engkau lepaskan perlahan-lahan agar tulang itu dapat bertemu kembali dengan bagian atas. Mengerti?”

Ci Sian merasa ngeri, maklum bahwa sastrawan itu sedang menderita nyeri yang amat hebat, maka dia mengangguk dengan yakin sambil menelan ludah. Lalu dia duduk di depan kaki kiri yang patah tulangnya itu, menggunakan kedua tumit kakinya untuk mencari tempat menahan tubuhnya, kemudian dia memegang kaki sastrawan itu di bawah pergelangan kaki.

“Nah, mulai tarik!” kata Kam Hong yang sudah mengerahkan tenaga untuk menahan kakinya.

Ci Sian menarik sekuatnya, sedikit demi sedikit. Dia melakukan ini sambil memandang kaki itu, kemudian dia mengangkat muka memandang wajah Kam Hong. Hampir dia melepaskan kaki itu ketika melihat betapa wajah sastrawan itu jelas memperlihatkan penderitaan hebat! Sastrawan itu menggigit bibirnya, kedua tangan memegangi paha kaki kiri bertahan, matanya setengah terpejam dan di dahinya timbul keringat, padahal hawanya demikian dingin! Ci Sian mengerahkan tenaga menarik terus sampai terasa olehnya pergelangan kaki yang ditariknya itu mengeluarkan bunyi krek-krek!

“Le.... pas.... perlahan.... lahan....“ terdengar Kam Hong berkata dengan terengah-engah.

Ci Sian mengendurkan tenaganya sedikit demi sedikit dan tulang yang patah itu pun dapat bertemu kembali.

“Lekas, beri obat itu.... dan pasang kayu-kayu itu di seputar kaki dan balut!”

Ci Sian melakukan semua itu dengan cekatan, terdorong oleh rasa khawatirnya dan rasa kasihan kepada sastrawan ini. Semua obat bubuk hijau yang sudah dicampur dengan salju cair itu diparamkan di seputar luka, kemudian dia memasang kayu-kayu itu di seputar kaki dan mulai membalut. Atas petunjuk Kam Hong, dia membalut dengan pengerahan tenaga sehingga kaki itu terjepit dan tidak akan berobah lagi letak tulangnya. Setelah selesai, Kam Hong menarik napas lega dan mengusap keringat di dahi dengan ujung jubahnya.

“Terima kasih.... Ci Sian.... kaki itu akan tersambung kembali tulangnya dalam waktu beberapa hari saja.”

Ci Sian memandang wajah itu. Mereka saling pandang dan Ci Sian melihat wajah itu agak pucat, akan tetapi tersenyum! Baru sekarang dia melihat sastrawan yang biasanya muram itu tersenyum, senyum yang bebas dan wajar, tidak seperti biasanya kalau sastrawan itu tersenyum maka senyumnya itu senyum masam!

“Paman Kam, kalau mau bicara tentang terima kasih, akulah yang harus berterima kasih kepadamu! Engkau telah menumpuk budi, dan kalau tidak ada engkau, agaknya sudah berkali-kali aku mati!”

“Mana mungkin orang mati berkali-kali? Dia itu sekali mati sampai seribu tahun tak dapat bangun lagi untuk mati kembali!” Kam Hong menuding kepada mayat dalam es itu.

Ci Sian cepat menoleh. Baru dia teringat akan mayat yang aneh itu sekarang setelah Kam Hong bicara tentang itu. Segera dia mendekatinya lagi dan memeriksa dengan teliti dari segala jurusan.

“Dia seperti masih hidup saja, Paman!” teriaknya penuh gairah dan kegembiraan.

“Sungguh ajaib! Bagaimana mendadak di tempat seperti ini muncul mayat yang kuno ini dalam balok es? Dan boneka di tangannya itu.... sungguh indah sekali....!”

Kam Hong menjadi tertarik sekali melihat sikap Ci Sian. Dengan menggunakan kekuatan kedua tangannya bertopang pada batu menonjol tertutup salju, dia bangkit berdiri di atas satu kaki. Kebetulan dia berdiri di tempat yang agak tinggi dan sebelum dia menghampiri Ci Sian, tanpa disengajanya dia melihat ke sekeliling tempat itu. Matanya terbelalak dan dia mengeluarkan seruan kaget yang membuat Ci Sian melompat dan menghampirinya, karena gadis ini mengira tentu pendekar itu melihat hal yang lebih aneh lagi daripada mayat dalam balok es itu.

“Ada apakah, Paman?” tanyanya dengan cemas dan dia sudah memegang lengan Kam Hong sambil melihat pula ke sekeliling. Dan dia pun melihat apa yang membuat pendekar sakti itu terkejut, dan dia sendiri terbelalak.

“Wah, tempat ini dikelilingi jurang....!”

Dan gadis tanggung itu lalu melepaskan lengan Kam Hong, berlari-lari untuk memeriksa sekeliling tempat mereka itu.

“Hati-hati, Ci Sian, jangan sampai jatuh. Awas salju longsor!”

Kam Hong memperingatkan dan sambil berloncatan dengan sebelah kaki saja dia pun mengejar untuk melindungi dara itu.

Mereka memeriksa sekeliling tempat itu dan memang tempat itu kini merupakan tempat yang terpencil. Akibat longsor hebat itu, tempat ini menjadi terkurung oleh jurang-jurang yang amat curam dan agaknya tidak mungkin dapat dituruni, apalagi dengan sebelah kaki patah tulangnya seperti Kam Hong. Mereka terjebak dalam tempat yang agaknya tidak ada jalan keluarnya!

“Wah, bagaimana kita dapat melanjutkan perjalanan, Paman?”






“Tenanglah, Ci Sian. Andaikata tempat ini tidak terkurung, tetap saja kita tidak dapat melanjutkan perjalanan sebelum tulang kakiku tersambung dan sembuh kembali. Sebaiknya kita mencari tempat untuk tinggal selama beberapa hari ini di sekitar sini.”

“Aku mau melihat mayat aneh itu dan bonekanya!” kata Ci Sian yang dalam waktu singkat sudah dapat melupakan kembali kecemasan dan berlari-larian dia kembali ke tempat di mana mereka menemukan jenazah itu.

Mau tidak mau Kam Hong tersenyum. Melakukan perjalanan dengan seorang anak perempuan yang tidak cengeng seperti Ci Sian memang menyenangkan. Anak itu tabah dan tidak mudah putus asa, berbakat untuk menjadi seorang pendekar wanita. Maka dia pun segera mengejarnya, karena dia pun tertarik sekali untuk menyelidiki keadaan mayat yang memakai pakaian kuno sekali itu.

Baru teringat dia akan suling emasnya. Hatinya gelisah sekali dan dia tidak jadi menghampiri Ci Sian, melainkan mencari-cari sambil berloncatan. Tentu sulingnya itu terlepas ketika dia tertimpa salju dan es-es balokan besar yang longsor dari atas. Tiba-tiba dia melihat sinar menyilaukan di tepi jurang. Cepat dia berloncatan ke sana dan giranglah hatinya karena sinar itu ternyata adalah ujung sulingnya yang tersembul keluar dari timbunan salju! Cepat diambilnya pusaka itu, diperiksanya dan ternyata tidak rusak sama sekali. Dengan hati lapang dan girang diselipkannya suling itu ditempat semula, yaitu dibalik jubahnya, diikat pinggang dekat kipasnya. Baru dia menghampiri Ci Sian yang agaknya sedang terpesona oleh jenazah dalam bongkahan es besar itu.

Memang jenazah itu aneh sekali. Wajah jenazah itu seperti wajah orang hidup saja, pakaiannya yang masih rapi dan seperti baru. Juga boneka yang dipegang oleh jenazah itu merupakan boneka anak kecil yang montok dan sehat, tersenyum lebar seperti muka yang ramah dan suci dari arca Ji-lai-hud. Melihat jenazah seperti terlantar seperti itu, dan melihat keadaan pakaiannya, model pakaian itu, Kam Hong menaksir bahwa jenazah itu tentu sudah terlantar dan terbungkus es selama sedikitnya seribu tahun, timbul rasa kasihan dalam hati Kam Hong.

“Kita harus mengubur jenazah itu dengan baik, Ci Sian. Kasihan dia dibiarkan terlantar seperti itu.”

Akan tetapi Ci Sian seolah-olah tidak mendengar ucapan Kam Hong itu. Begitu asyiknya dia mengamati boneka di tangan mayat itu sehingga dia mendekatkan mukanya sampai hidungnya yang mancung kecil itu menyentuh balok es yang menjadi peti mayat itu. Tiba-tiba dia berseru dan matanya dilebar-lebarkan untuk dapat memandang lebih jelas lagi,

“Paman, lihat....! Ada tulisannya pada dahi boneka itu!”

“Ah, benarkah?” Kam Hong bertanya dan dia pun mendekat, lalu memandang dengan cermat ke arah boneka. Akhirnya dia berkata, “Benar, itu tentu huruf-huruf yang ditulis, akan tetapi terlampau kecil untuk dapat dibaca melalui es ini. Es membuat huruf-huruf itu kabur tak dapat dibaca dari luar.”

“Kalau begitu, apakah Paman tidak dapat memecahkan balok es ini?”

“Ah, untuk apa, Ci Sian? Kita tidak boleh mengganggu jenazah manusia!”

“Untuk dapat membaca tulisan itu, Paman. Siapa tahu tulisan itu merupakan pesan untuk kita atau siapa saja yang menemukan jenazah ini!”

Kam Hong tertarik. Bukan tidak mungkin apa yang diucapkan gadis cilik itu. Kalau tidak mengandung maksud tertentu, mengapa dahi boneka diberi tulisan huruf-huruf amat kecilnya? Dia memandang lagi wajah dan pakaian mayat itu, kemudian dia seperti memperoleh firasat bahwa mayat itu adalah jenazah seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi! Maka dia lalu berkata kepada jenazah itu,

“Locianpwe, harap maafkan teecu yang berani lancang memecahkan balok es. Teecu berjanji akan mengubur jenazah Locianpwe baik-baik.”

Setelah berkata demikian, dengan hati-hati Kam Hong menaruh telapak tangannya pada balok es itu, mula-mula di atas kedua kaki jenazah. Dia mengerahkan sin-kangnya menekan. Terdengar suara “krek, krek” dan balok itu pun pecah di bagian bawah! Ci Sian hampir bersorak.

“Engkau hebat sekali, Paman!”

Siauw Hong atau Kam Hong hanya tersenyum, lalu memecah balok es di bagian atas.
Terdengar suara agak keras dan balok es itu kini terbelah menjadi dua dan mayat itu pun nampak! Sungguh aneh, tidak ada bau busuk keluar dari mayat itu! Kalau mayat itu tidak sampai rusak selama ribuan atau ratusan tahun, hal itu tidaklah aneh karena mayat itu terbungkus es dan selalu terbenam dalam tempat yang suhunya teramat dinginnya. Akan tetapi kalau kulit itu sama sekali tidak rusak dan tidak mengeluarkan bau busuk, hal ini adalah suatu keanehan dan tentu ada rahasia tertentu tersembunyi di balik kenyataan ini, pikir Kam Hong. Dia menduga bahwa tentu sesudah mati mayat ini diberi semacam obat yang luar biasa, yang membuat selain mayat itu tidak rusak selamanya, juga tidak mengeluarkan bau busuk.

Setelah peti es itu terbuka dan kini mayat tidak lagi tertutup es, tulisan huruf-huruf kecil di atas dahi boneka itu dapat dibaca, sungguhpun untuk itu Kam Hong dan Ci Sian terpaksa harus mendekatkan mata mereka kepada boneka itu. Tulisan itu bergaya kuno, baik coretannya maupun susunan kalimatnya, akan tetapi agaknya Ci Sian terdidik baik sekali dalam hal sastra, karena ternyata dia mampu juga membaca dan mengerti artinya, membuat Kam Hong merasa kagum juga.

“Aku mohon agar boneka ini dibakar agar pusaka keramat yang mengandung pelajaran dahsyat ini tidak terjatuh ke dalam tangan orang jahat.”

“Aihh, sungguh sayang sekali kalau boneka ini dibakar!”

Ci Sian berseru dan memandang kepada wajah jenazah itu seolah-olah jenazah itu seorang yang masih hidup.

“Kenapa engkau meninggalkan pesan yang demikian aneh dan gila? Kalau memang ingin melenyapkan boneka indah ini, kenapa tidak dulu-dulu kau bakar sendiri?”

Biarpun ucapan Ci Sian itu keluar dari sifatnya yang keras, bengal dan tidak mau tunduk kepada siapapun juga, akan tetapi Kam Hong seperti disadarkan akan sesuatu yang memang aneh sekali. Memang ucapan Ci Sian itu benar belaka. Mengapa bersusah payah menulis huruf-huruf kecil di dahi boneka itu kalau memang hendak melenyapkan boneka itu? Kenapa tidak langsung saja dibakar daripada menanti sampai ribuan tahun agar ditemukan orang dan dibakar oleh orang itu? Bukankah langsung saja dibakar jauh lebih mudah daripada membuat tulisaan huruf kecil-kecil itu? Tentu ada rahasianya di balik semua ini.

“Ci Sian, siapa pun adanya Locianpwe ini, beliau tidak minta kita menemukannya. Biarpun kita juga tidak sengaja mencarinya, akan tetapi kita toh bertemu dengan beliau.
Maka ini namanya jodoh. Dan pesanan orang yang sudah mati merupakan perintah keramat yang harus dipenuhi, apalagi Locianpwe ini sampai memohon dan permintaannya itu pun tidak sukar. Mari kita bakar boneka ini seperti yang dipesankan.”

Ci Sian mengerutkan alisnya.
“Terlalu! Itu namanya mempermainkan perasaan orang! Kenapa boneka yang indah ini dibawa mati, dibiarkan terlihat orang? Membiarkan orang merasa suka lalu menyuruh orang itu membakarnya, sungguh merupakan perbuatan yang kejam sekali”.

“Wah, jenazah orang ini dahulu diwaktu hidupnya tentu membuat banyak dosa, Paman. Sampai sudah ribuan tahun menjadi mayat pun masih melakukan perbuatan kejam! Jangan dibakar saja, Paman, aku ingin melihat dia bisa apa!”

“Hemm, tidak boleh begitu, Ci Sian. Pesan Locianpwe ini tentu mengandung maksud amat penting. Siapa tahu boneka ini yang disebutnya benda keramat benar-benar mengandung pelajaran yang mujijat dan kalau sampai terjatuh ke tangan orang jahat, bukankah dunia ini akan menjadi semakin kacau?”

“Akan tetapi aku tahu benar bahwa engkau bukanlah orang jahat, Paman! Mungkin aku masih layak disebut orang jahat, akan tetapi engkau sama sekali bukan orang jahat! Engkau seorang pendekar yang budiman. Kalau memang boneka ini mengandung pelajaran tinggi, bukankah akan berguna sekali kalau dipelajari olehmu? Memang orang ini mempermainkan dan memperolok orang saja! Pantas dia tersiksa, sampai sudah mati pun tidak dapat sempurna.”

“Hushh, sudahlah Ci Sian. Engkau tidak tahu. Seorang Locianpwe melakukan hal-hal yang aneh bukan tidak mengandung maksud yang tersembunyi. Siapa tahu ilmu yang terkandung dalam boneka itu mempunyai pengaruh dan daya yang aneh sehingga siapa pun yang mempelajarinya akan berobah menjadi tersesat dan jahat. Biarkan aku membakarnya.”

“Sesukamulah!” kata Ci Sian agak marah. “Kau bakarlah boneka tak berguna itu. Aku sendiri lebih senang membakar sesuatu yang lebih berguna bagi perutku yang lapar ini.”

Setelah berkata demikian, gadis cilik ini meninggalkan Kam Hong karena dia melihat banyak sekali burung-burung yang berbulu putih dengan kepala hitam beterbangan dan ada yang hinggap di tepi jurang dari tempat yang kini seolah-olah menjadi semacam pulau kecil itu. Pulau yang dikelilingi jurang curam, bukan dikelilingi laut.

Matahari telah condong ke barat ketika Kam Hong akhirnya berhasil membuat api. Tidak mudah membuat api di tempat dingin itu. Akan tetapi pendekar ini memang menyimpan batu api, bahan bakar dan dengan mengumpulkan kayu-kayu ranting yang terbawa longsor dan membersihkannya, akhirnya dengan susah payah dapat juga dia membuat api dan membakar boneka itu. Selagi dia membakar boneka itu, Ci Sian datang membawa dua ekor burung yang gemuk. Burung itu bentuknya seperti bebek, besarnya mirip ayam dan setelah dibubuti semua bulunya, tiada bedanya dengan bebek.

“Seorang seekor, Paman. Paman tentu lapar, bukan?” katanya sambil memandang kearah boneka yang dibakar itu dengan mulut cemberut. “Bukankah lebih berguna membakar bebek-bebek ini?”

Kam Hong tersenyum.
“Engkau pandai sekali, Ci Sian. Di tempat seperti ini engkau bisa mencari makanan.”

Kam Hong membakar boneka dan Ci Sian membakar dua ekor burung. Daging burung sudah matang, akan tetapi boneka itu tidak juga hancur! Hanya gosong saja! Padahal pakaian yang dipakai boneka itu sudah hancur sama sekali. Boneka kecil itu kini telanjang, akan tetapi tubuhnya masih utuh!

“Sungguh ajaib. Boneka apa ini, dibakar tidak rusak?”

Ci Sian menjadi tertarik dan sambil makan daging burung mereka lalu menambah kayu bakar memperbesar api untuk terus membakar boneka itu sampai hancur.

Sinar api menciptakan pemandangan yang mentakjubkan. Sinar api itu terpantul oleh bongkahan es yang besar-besar itu, dan timbullah beraneka warna gemilang seperti pelangi di mana-mana. Mereka merasa aneh, seolah-olah mereka berada di dalam dunia lain, atau dalam dunia mimpi anak-anak yang amat luar biasa. Seperti berada di dalam ruangan penuh dengan cermin. Bayangan mereka berdua nampak di mana-mana, akan tetapi bayangan-bayangan itu menjadi aneh bentuknya seperti ada ratusan buah cermin palsu mengelilingi mereka, ada yang membuat mereka menjadi berbentuk gemuk sekali, ada yang membuat mereka menjadi tinggi kurus dengan muka pletat-pletot lucu sekali.

Dua ekor burung panggang sudah mereka makan habis, akan tetapi boneka itu masih tetap utuh!

“Hentikan saja, Paman. Engkau sudah membakarnya sejak tadi. Kakek itu memang agaknya sengaja mempermainkan kita. Lebih baik kita mengaso, sebentar lagi akan gelap. Tadi aku melihat di sebelah sana terdapat sebuah guha yang cukup besar untuk kita berlindung dari angin dan beritirahat.”

Kam Hong mengerutkan alisnya. Walaupun nampaknya benar ucapan Ci Sian itu, akan tetapi dia tidak percaya bahwa orang seperti locianpwe itu sengaja mempermainkan orang dengan bonekanya.

“Ci Sian, biarlah engkau pergi istirahat dulu di sana. Aku akan melanjutkan membakar boneka ini.”

Dengan marah Ci Siang bangkit berdiri, lalu dia menuding-nuding ke arah mayat yang rebah di atas tanah tertutup salju itu sambil berkata.

“Awas kau, kalau kau yang menyiksa Paman Kam ini kemudian tidak memberi sesuatu kepadanya sebagai balasan, engkau tentu akan kukutuk habis-habisan!”

“Ci Sian....!” Kam Hong mencela, akan tetapi gadis cilik itu sudah meloncat dan lari meninggalkannya.

Kam Hong merasa penasaran sekali dan menghabiskan kayu yang disediakannya tadi untuk membakar boneka itu. Akan tetapi sampai api padam kehabisan bahan bakar, boneka itu tetap utuh saja sedangkan cuaca mulai gelap sekarang.