FB

FB

Ads

Selasa, 23 Juni 2015

Suling Emas & Naga Siluman Jilid 005

“Ha-ha-ha, antara perampok dan piauwsu, mana ada kerja sama yang adil? Kalau kalian berani main sogok seribu tail, tentu karena kalian ada untung sepuluh ribu tail! Sudahlah, kami sudah bersusah payah memangguli barang-barang ini, dan peti ini adalah upah kami!”

“Tidak mungkin kalian dapat melarikannya tanpa melalui mayatku!”

Lauw-piauwsu membentak dan dia sudah menerjang maju dengan sepasang goloknya, diikuti anak buahnya yang hanya tinggal sembilan orang saja karena yang dua orang sudah terluka parah.

Terjadilah perkelahian yang amat hebat di bawah sinar api unggun yang kadang-kadang membesar kadang-kadang mengecil itu. Bayangan-bayangan yang dibuat oleh sinar api ini sungguh menambah seramnya keadaan karena seolah-olah banyak iblis dan setan ikut pula berkelahi, atau menari-nari kegirangan di antara mereka yang bertempur mati-matian.

Dua orang Eng-jiauw-pang itu memang lihai bukan main. Sepasang senjata mereka yang merupakan sarung tangan berkuku baja itu amat berbahaya dan biarpun mereka berdua dikeroyok oleh sepuluh orang piauwsu yang bersenjata tajam, namun mereka berhasil melukai pula empat orang! Namun, Lauw-piauwsu memutar sepasang goloknya secara cepat dan dibantu oleh sisa teman-temannya, dia berhasil mendesak dan mengepung ketat sehingga dua orang Eng-jiauw-pang itu kewalahan juga. Tiba-tiba seorang di antara mereka membentak keras, terdengar ledakan dan nampak asap kehijauan mengepul tebal.

“Awas asap beracun!” Lauw-piauwsu berseru dan anak buahnya berlompatan mundur.

Dengan sendirinya kepungan itu berantakan dan dua orang Eng-jiauw-pang itu menggunakan kesempatan ini untuk melompat jauh ke belakang. Akan tetapi, tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan mereka melihat seorang kakek tua sudah berdiri di depan mereka! Kakek ini bukan lain adalah Kakek Kun yang berdiri dengan wajah bengis.

“Tinggalkan peti itu!” bentaknya.

“Kun-locianpwe, harap jangan mencampuri urusan Eng-jiauw-pang dan Pek-i-piauw-kiok!” seorang di antara mereka berseru marah.






“Hemm, aku tidak peduli apa itu Eng-jiauw-pang dan apa itu Pek-i-piauw-kiok. Aku melihat kalian melakukan kejahatan, maka dari mana pun kalian datang pasti akan kutentang!”

Dua orang itu membentak keras dan mereka menubruk dari kanan kiri, Kakek Kun cepat menangkis dan balas menyerang dengan pukulan dan tamparan yang juga dapat dielakkan dan ditangkis oleh dua orang Eng-jiauw-pang itu. Terjadilah pertempuran amat serunya dan kini keadaan menjadi terbalik. Kalau tadi dua orang Eng-jiauw-pang yang dikeroyok banyak itu mampu mendesak para pengepungnya, sebaliknya kini mereka mengeroyok seorang kakek dan merekalah yang terdesak hebat.

Setiap tamparan yang keluar dari tangan kakek itu demikian ampuhnya sehingga kalau mereka tidak mampu mengelak dan terpaksa menangkisnya, mereka tentu terdorong dan terhuyung-huyung! Betapapun juga, dua orang perampok itu menjadi nekat karena tempat itu sudah dikepung lagi oleh Lauw-piauwsu dan teman-temannya, siap untuk menerjang kalau mereka berdua hendak melarikan diri. Pertempuran dilanjutkan dengan mati-matlan, namun setelah lewat lima puluh jurus lebih, setelah berkali-kali mengadu tenaga mereka dengan sin-kang dari Kakek Kun, akhirnya dengan tamparan-tamparannya yang mengandung tenaga sin-kang amat kuat itu Kakek Kun berhasil membuat mereka terpelanting dan mengaduh-aduh, sukar untuk bangkit kembali!

Lauw-piauwsu merampas kembali peti hitam itu dan dia sudah mengangkat golok untuk membunuh. Akan tetapi Kakek Kun berseru,

“Jangan bunuh mereka yang sudah kalah!”

Dua orang perampok itu merangkak dan bangkit berdiri, memandang kepada Kakek Kun, tidak tahu harus marah ataukah harus berterima kasih! Mereka merasa digagalkan oleh kakek ini, akan tetapi sebaliknya, nyawa mereka pun tertolong olehnya! Mereka tadinya jerih terhadap Si Sastrawan, maka mereka selalu mencari kesempatan. Kini, sastrawan itu pergi menyelidiki pembunuh orang-orang dalam hutan itu, dan mereka turun tangan. Tak mereka sangka bahwa kakek yang pendiam dan tak acuh itu turun tangan mencampuri dan menggagalkan usaha mereka!

Melihat sinar mata kedua orang itu, Kakek Kun menggerakkan tangan dan menarik napas panjang, suaranya terdengar lirih sekali,

“Pergilah.... pergilah....!”

Dua orang itu lalu mengangguk dan berjalan pergi menghilang ke dalam gelap. Lauw-piauwsu yang dapat merampas kembali peti hitam itu, cepat menghampiri Kakek Kun dan memberi hormat,

“Kun-locianpwe telah menolong kami, sungguh besar budi Locianpwe dan kami menghaturkan banyak terima kasih....”

“Kong-kong....!”

Siauw Goat berseru dan Lauw-piauwsu bersama para piauwsu lain terkejut melihat kakek itu terhuyung-huyung, kemudian dari mulut kakek itu tersembur darah segar.

“Kun-locianpwe....!”

Lauw-piauwsu mendekat hendak menolong, akan tetapi kakek itu menggerakkan tangan, lalu menuntun cucunya mendekati api unggun di mana dia duduk bersila sebentar. Wajahnya pucat sekali, napasnya terengah-engah, akan tetapi makin lama pernapasannya makin baik dan normal kembali, sungguhpun wajahnya masih amat pucat.

“Kong-kong, kenapa melayani segala macam maling dan rampok? Kong-kong telah terluka parah, masih melayani segala jembel dan perampok busuk!” terdengar Siauw Goat mengomel. “Kongkong....!”

Gadis cilik itu memegangi lengan kakeknya. Dia lebih mengenal kakeknya dan tahu bahwa kakeknya amat menderita. Lauw-piauwsu kembali mendekat dan dia melihat kakek yang disangkanya sudah sembuh itu kini merebahkan diri telentang di atas tanah bertilam daun-daun bambu, dekat api unggun. Siauw Goat berlutut didekatnya, nampak berduka dan alisnya berkerut seperti menunjukkan ketidak senangan hatinya.

“Kun-Locianpwe, dapatkah saya membantu Locianpwe?”

Lauw-piauwsu mendekati dan bertanya, sedangkan anak buahnya sibuk mengurus mereka yang terluka dalam pertandingan melawan dua orang perampok Eng-jiauw-pang tadi, sedangkan dua orang kuli angkut itu telah tewas.

Kakek itu tidak menjawab dan Siauw Goat menunduk, memegangi tangan kakeknya dengan sikap amat berduka. Lauw-piauwsu makin mendekat, memperhatikan dan akhirnya dia memegang pergelangan tangan kakek itu. Denyut nadinya lemah sekali dan tahulah dia bahwa kakek ini telah pingsan! Maka dia lalu mengeluarkan obat gosok, membuka kancing baju kakek itu dan perlahan-lahan menggosok dadanya dengan obat gosok panas itu.

Menjelang pagi Kakek Kun siuman dari pingsannya, menggerakkan pelupuk mata, lalu membuka, menatap sejenak kepada Siauw Goat yang masih duduk di dekatnya, kemudian menoleh dan memandang kepada Lauw-piauwsu yang juga tidak pernah meninggalkannya.

“Lauw-piauwsu....” katanya lemah.

“Bagaimana, Locianpwe? Apakah Locianpwe membutuhkan sesuatu?”

“Dekatkan telingamu....“ katanya semakin lemah.

Ketika Lauw-piauwsu mendekatkan telinganya pada mulut tua itu, Kakek Kun berbisik-bisik menceritakan riwayatnya secara singkat. Bisikan-bisikan itu makan waktu lama juga, dan Lauw-piauwsu mendengarkan sambil mengangguk-angguk tanda mengerti, kadang-kadang matanya terbelalak seperti orang heran dan terkejut.

Setelah menceritakan semua riwayatnya kepada piauwsu itu, tiba-tiba tangan kanan kakek itu bergerak dan tahu-tahu tengkuk piauwsu itu telah dicengkeramnya. Lauw-piauwsu terkejut bukan main. Jari-jari tangan kakek yang sudah terluka parah dan amat berat dan gawat keadaannya itu ternyata amat kuat dan dia tahu bahwa kakek itu masih dapat membunuhnya dengan sekali terkam!

“Lauw-piauwsu, bersumpahlah bahwa semua itu tidak akan kau beritahukan orang lain, bahwa engkau akan merahasiakan keadaan kami. Bersumpahlah, kalau tidak terpaksa aku akan membawamu bersama untuk mengubur rahasia itu!”

Lauw Sek terkejut bukan main. Kakek ini sungguh orang luar biasa sekali, bukan hanya berilmu tinggi, memiliki riwayat yang aneh akan tetapi wataknya juga aneh, keras dan dapat bersikap ganas sekali. Cepat dia lalu membisikkan sumpahnya.

“Saya, Lauw Sek, bersumpah untuk merahasiakan segala yang saya dengar dari Kun-locianpwe saat ini.”

Jari-jari tangan itu mengendur dan melepaskan tengkuk Lauw Sek yang dapat menarik napas lega kembali.

“Dan benarkah engkau bersedia menolong cucuku ini seperti yang kaujanjikan tadi?”

“Tentu saja, Locianpwe. Locianpwe telah menyelamatkan nyawa saya, maka sudah tentu saya akan suka membalas budi kebaikan Locianpwe dengan melakukan perintah apapun juga.” ,

“Hemm.... aku.... aku tidak pernah minta tolong orang.... hanya engkau yang kupercaya. Maka, kuserahkan Siauw Goat kepadamu, biarlah kau menyebut Siauw Goat saja karena namanya termasuk rahasia itu.... dan kau harus membantunya sampai dia bertemu dengan orang tuanya....“

“Baik, Locianpwe, akan saya kerjakan hal itu, betapa pun akan sukarnya.”

“Aku tidak minta tolong cuma-cuma.... ini.... coba tolong keluarkan benda dari saku bajuku, Goat-ji (Anak Goat)....”

Siauw Goat sejak tadi tidak bicara, hanya memandang saja ketika kakeknya berbisik-bisik dekat telinga Lauw Sek tanpa dia dapat mendengarkan jelas. Kini, dia lalu memenuhi permintaan kakeknya merogoh saku dan mengeluarkan sebuah kantong kain hitam.

“Lauw-piauwsu.... inilah biayanya engkau mengantar cucuku.... kukira lebih dari cukup....“ Dia menyerahkan kantung kain hitam itu.

“Kun-locianpwe! Saya sama sekali tidak mengharapkan upah!”

“Terimalah.... bukalah....”

Suara kakek itu semakin melemah dan pandang matanya membuat Lauw Sek tidak berani membantah lagi. Dibukanya kantung kain hitam itu dan ternyata isinya hanya sebutir benda sebesar telur burung merpati. Akan tetapi ketika Lauw Sek memandang benda yang kini berada di atas telapak tangannya itu, dia terbelalak.

“Ini.... ini.... mutiara berharga sekali.... saya.... mana berani menerimanya....?” katanya gagap, terpesona oleh benda yang berkilauan biru itu.






“Kau.... mengenalnya....?”

Lauw Sek mengangguk.
“Bukankah ini mutiara biru India yang hanya....”

“Sudahlah.... laksanakan permintaanku....”

Kakek itu lalu dengan susah payah bangkit duduk bersila. Tangannya masih mampu menangkis ketika Lauw-piauwsu mencoba untuk membantunya. Akhirnya dia dapat duduk bersila, duduk dengan bentuk Bunga Teratai, yaitu duduk bersila dengan kedua kaki bersilang, kaki kiri telentang di atas paha kanan dan kaki kanan telentang di atas paha kiri. Ini adalah cara duduk terbaik untuk orang yang suka melakukan meditasi menghimpun kekuatan dan kini kakek itu duduk seperti ini sambil memejamkan kedua mata atau lebih tepat menundukkan pandang mata dengan pelupuk atas menutup, kedua tangannya terletak di atas kedua lutut, telentang.

Melihat ini, Lauw-piauwsu lalu mengundurkan diri untuk membantu teman-temannya yang masih sibuk mengurus kawan-kawan yang terluka. Akan tetapi, ketika matahari mulai mengirim sinarnya yang merah keemasan, membuat benang-benang sutera menerobos celah antara daun-daun bambu, dia mendengar teriakan Siauw Goat,

“Kong-kong....!”

Dia cepat menghampiri dan melihat anak itu berlutut dan mendekap kedua tangan kakek itu yang masih duduk bersila seperti tadi akan tetapi kedua tangannya dirangkap di atas pergelangan kaki. Anak perempuan itu tidak menangis, hanya berlutut dan membenamkan mukanya di atas kaki kakeknya. Lauw Sek memandang wajah kakek itu, dia mengerutkan alisnya dan meraba pergelangan tangan kanan kakek itu untuk merasakan denyut nadinya.

“Dia sudah meninggal dunia!”

Lauw Sek terkejut dan menoleh. Kiranya yang bicara itu adalah Si Sastrawan muda yang entah dari mana baru saja muncul dan begitu melihat wajah kakek itu telah berhenti bernapas. Dan memang sesungguhnyalah, Lauw Sek tidak dapat merasakan ada denyut nadi, maka dia lalu mengelus kepala Siauw Goat.

“Siauw Goat, kakekmu telah meninggal dunia dalam keadaan tenang, jangan kau berduka lagi, Nak.”

Suara piauwsu ini agak gemetar karena dia merasa terharu sekali. Dia tahu bahwa kakek ini agaknya mengidap penyakit berat, dan ketika malam tadi menolongnya merobohkan dua orang perampok, agaknya kakek ini terlalu banyak mengerahkan tenaga sehingga luka di dalam tubuhnya makin parah dan mengakibatkan tewasnya.

Anak perempuan itu mengangkat mukanya. Mukanya pucat, sepasang matanya bersinar-sinar, akan tetapi tidak nampak dia menangis sungguhpun ada bekas air mata membasahi kedua mata dan pipinya. Dia sama sekali tidak terisak, bahkan kini dia mengepal tinju kanannya yang kecil sambil berkata,

“Aku bersumpah untuk membalas kematian kakekku kepada Si Jembel tua bangka Koai-tung Sin-kai dan perkumpulan penjahat Eng-jiauw-pang!”

“Hemm, gadis cilik engkau lancang sekali! Koai-tung Sin-kai bukan....“

“Kau peduli apa?” Siauw Goat meloncat berdiri, bertolak pinggang menghadapi sastrawan yang tadi mencelanya. “Semalam Kong-kong yang sedang menderita luka parah telah terpaksa membantu para piauwsu menghadapi penjahat-penjahat perampok Eng-jiauw-pang dan engkau bersembunyi di mana? Sekarang setelah kakekku meninggal, engkau muncul dan pura-pura hendak menasehatiku. Bagus, ya?”

Sastrawan itu terbelalak, tersenyum urung dan mukanya berobah merah. Wah, anak ini luar biasa, pikirnya. Ketika dia mengangkat muka, dia melihat pandang mata semua orang ditujukan kepadanya, seolah-olah mereka itu mendukung teguran anak perempuan itu.

“Aku menemukan jejak manusia salju dan mengikutinya semalam suntuk, akan tetapi tak berhasil menemukannya.” dia menggumam.

“Yeti....?”

Lauw Sek berteriak dengan muka pucat dan semua piauwsu juga menjadi pucat mukanya, bahkan ada yang menggigil ketakutan dan memandang ke kanan kiri.

“Di.... di mana.... dia....?”

Lauw-piauwsu bukanlah seorang yang lemah, akan tetapi sebagai seorang piauwsu yang sering kali melalui daerah ini, tentu saja dia sudah mendengar banyak tentang manusia salju atau Yeti, betapa mahluk itu kalau sudah mengamuk amat berbahaya, tidak ada manusia di dunia ini yang mampu menandinginya. Maka tidak mengherankan kalau dia menjadi pucat ketakutan.

Sastrawan itu menggerakkan pundaknya.
“Aku hanya menemukan jejak kakinya saja, dan jelas bahwa orang-orang yang terbunuh itu adalah korban-korbannya.”

“Tapi.... biasanya Yeti tidak pernah mengganggu manusia. Kecuali.... kalau dia lebih dulu diganggu. Tentu ada hal hebat dan aneh terjadi maka Yeti dapat mengamuk seperti itu, membunuh banyak orang dan melihat betapa para korban itu dikoyak-koyak jelaslah bahwa Yeti itu benar-benar sedang marah. Kita harus cepat melanjutkan perjalanan. Mari kita cepat mengubur jenazah Kakek Kun, lalu segera melanjutkan perjalanan ke dusun Lhagat!”

Semua orang lalu sibuk bekerja menggali sebuah lubang kuburan. Akan tetapi ketika mereka hendak mengubur kakek itu, ternyata tubuh kakek itu yang masih duduk bersila telah kaku dan tidak dapat ditekuk kaki tangannya agar dapat rebah telentang.

“Biarkan saja!” tiba-tiba Siauw Goat berkata lantang. “Kong-kong lebih suka tidur bersila, jangan ganggu jenazahnya!” Anak itu tidak tega melihat betapa para piauwsu berusaha untuk menarik-narik kaki tangan kong-kongnya.

Sastrawan muda itu hanya tersenyum saja dan mengangguk-angguk. Maka beramai-ramai para piauwsu lalu menggotong tubuh yang masih bersila itu, meletakkannya ke dalam lubang yang cukup dalam. Setelah Siauw Goat memberi hormat untuk yang terakhir kalinya dengan hio yang menjadi bekal para piauwsu, kemudian semua piauwsu juga memberi hormat, bahkan juga tiga orang saudagar gendut, kecuali Si Sastrawan, maka jenazah dalam lubang itu lalu ditimbuni tanah. Tidak terdengar tangis, akan tetapi sastrawan itu melihat betapa air matanya bercucuran dari kedua mata Siauw Goat yang berdiri tegak. Anak ini menangis, namun kekerasan hatinya membuat tidak ada isak keluar dari mulutnya.

“Luar biasa.... anak luar biasa....” Sastrawan muda itu menggumam kepada diri sendiri.

Setelah selesai penguburan itu, Siauw Goat lalu minta kepada Lauw Sek agar makam itu diberi tanda. Piauwsu itu kelihatan bingung.

“Ah, tanda apa yang dapat dipakai di tempat ini? Kecuali batu-batu kecil ditumpuk.”

Dia lalu memerintahkan orang-orangnya untuk mengumpulkan batu-batu. Akan tetapi tiba-tiba tampak sastrawan muda itu datang dan kedua tangannya yang diangkat ke atas kepala itu membawa sebongkah batu sebesar kerbau bunting! Semua orang memandang dengan kagum dan terkejut, akan tetapi dengan seenaknya sastrawan itu menurunkan batu perlahan-lahan ke depan makam baru.

Tanpa berkata sesuatu dia lalu mundur lagi. Gadis cilik itu pun hanya memandang sejenak kepada Si Sastrawan, tanpa mengucapkan terima kasihnya karena dia masih mendongkol kepada sastrawan itu. Kalau semalam sastrawan itu berada di situ dan kakeknya tidak perlu harus menandingi para perampok, kakeknya belum tentu akan mati!

Rombongan itu lalu melanjutkan perjalanan, menuruni lembah, dari hutan bambu itu terus menurun, menuju ke dusun Lhagat. Rombongan melakukan perjalanan dengan agak tergesa-gesa dan pada wajah para piauwsu itu terbayang ketakutan setelah mereka mendengar cerita Si Sastrawan bahwa Yeti berkeliaran di daerah itu dan membunuh orang secara amat mengerikan. Mereka tidak banyak bicara selama dalam perjalanan ini, bukan hanya karena takut dan ngeri kepada Yeti, akan tetapi juga karena mereka masih menghormati kematian Kakek Kun dan berada dalam keadaan berkabung. Juga Siauw Goat yang biasanya lincah itu kini nampak pendiam, akan tetapi sepasang matanya kadang-kadang mengeluarkan sinar penuh api kemarahan.

”Siauw Goat, Kong-kongmu meninggalkan pesan agar mulai saat ini aku menjadi walimu, mengamatimu, mengurusmu dan mengantarkan engkau untuk mencari orang tuamu.” di dalam perjalanan itu Lauw Sek mendekatinya dan berkata lirih. Gadis cilik itu mengangguk tanpa menjawab.

“Oleh karena itu, mulai sekarang, kuharap engkau suka menuruti segala petunjukku, karena aku merasa bertanggung jawab atas dirimu. Engkau tentu mengerti bahwa aku harus memenuhi segala janjiku kepada Kong-kong, Siauw Goat.”

Gadis cilik itu mengangkat kepala dan memandang kepada wajah piauwsu itu dengan sinar mata penuh selidik, sinar mata yang amat tajam. Agaknya dia merasa puas dengan hasil penyelidikan sinar matanya, karena dia kembali mengangguk dan bibirnya bergerak perlahan, terdengar dia menjawab lirih.

“Baiklah, Lauw-pek.”

Biarpun dia berjalan agak menyendiri dan agak jauh dari Siauw Goat, namun pendengaran yang tajam dari Si Sastrawan dapat menangkap percakapan lirih itu dan dia hanya tersenyum sendiri. Perjalanan dilanjutkan dengan secepat mungkin dan kini para piauwsu terpaksa membagi-bagi barang-barang bawaan yang dikawal karena sudah tidak ada lagi kuli-kuli angkut yang membantu mereka.

**** 005 ****