FB

FB

Ads

Sabtu, 20 Juni 2015

Jodoh Rajawali Jilid 155

Dugaan Ceng Ceng memang sama sekali tidak salah. Semenjak berpisah dari Hwee Li, Kian Lee mengalami penderitaan batin yang parah. Rasanya jauh lebih parah daripada ketika menderita karena kegagalan cinta pertamanya terhadap Ceng Ceng dahulu itu. Dia merasa menyesal sekali akan kenyataan bahwa dara yang dicintanya sepenuh hatinya itu ternyata adalah keturunan dari pemberontak Kim Bouw Sin! Betapa tidak akan hancur hatinya. Mana mungkin dia akan dapat berjodoh dengan anak pemberontak? Keluarganya selalu menentang pemberontak, bahkan kakaknya, Milana adalah seorang puteri yang menjadi panglima dalam penumpasan pemberontak. Mana mungkin dia, puteri dari Majikan Pulau Es, pendekar yang amat terkenal sebagai seorang pendekar sakti yang gagah perkasa itu dan terkenal pula sebagai mantu kaisar sendiri, kini bermenantukan seorang puteri pemberontak? Betapa dunia kang-ouw akan mentertawakan hal itu, dan sudah pasti keluarganya tidak akan menyetujui perjodohannya dengan anak pemberontak. Ah, mengapa nasibnya demikian buruk?

“Hwee Li....“ untuk ribuan kalinya dia merintih, menyebut nama dara yang amat dicintanya itu.

Tubuhnya menjadi kurus karena dia jarang makan dan jarang tidur, merantau tanpa tujuan lagi, tidak ingin pulang ke Pulau Es, akan tetapi juga tidak tahu ke mana dia harus pergi. Mengapa Hwee Li tidak menjadi anak orang biasa saja? Atau mengapa dia sendiri tidak menjadi anak orang biasa saja? Kalau dia anak seorang petani atau nelayan, atau bahkan anak seorang tokoh dunia hitam, tentu tidak ada halangan baginya untuk berjodoh dengan Hwee Li. Makin diingat, makin terbayang-bayang wajah Hwee Li yang cantik manis, sikapnya yang lincah jenaka dan manja, dan makin perih rasa hati Kian Lee, membuat dia kehilangan gairah hidup.

Mengapa cinta selalu mendatangkan derita sengsara dalam batin manusia? Mengapa demikian banyaknya kisah cinta yang berakhir dalam derita? Mengapa banyak terjadi cinta gagal sehingga tidak jarang berakhir dengan kematian dan kehancuran? Benarkah cinta demikian ke¬jamnya mempermainkan manusia sehingga cinta itu seperti racun dalam madu yang manis, nampaknya saja membahagiakan namun pada akhirnya menyeret manusia ke dalam kesengsaraan dan penderitaan batin?

Tidak mungkin! Bukanlah cinta kasih namanya kalau mendatangkan derita sengsara! Yang mendatangkan derita sengsara adalah keinginan manusia untukk senang! Bukan cinta kasih! Cinta kasih tidak mengandung pamrih untuk kesenangan atau kepuasan diri pribadi! Kalau me¬ngandung pamrih seperti itu, maka bukanlah cinta kasih namanya. Kalau kita mencinta seseorang, maka sudah tentu kita ingin melihat orang itu berbahagia, tidak peduli kebahagiaannya itu ada sangkut-pautnya dengan kita atau bukan.






Cinta adalah ingin melihat orang lain bahagia, tanpa pamrih untuk diri sendiri. Cinta adalah belas kasih terhadap orang lain, tanpa pamrih mendapat imbalan untuk diri sendiri. Dan cinta seperti ini tidak mungkin mendatangkan derita seng¬sara! Sebaliknya, kalau kita ingin memperoleh kesenangan dari orang yang kita cinta, itu namanya bukan mencinta orang itu, melainkan mencinta diri sendiri dan orang yang katanya kita cinta itu hanya sekedar kita jadikan alat untuk menye¬nangkan diri kita. Tidakkah demikian? Karena itulah, kalau orang itu tidak menyenangkan kita, kalau orang itu tidak mau mendekati kita, tidak mau menjadi milik kita, lenyaplah kegunaannya sebagai alat menyenangkan kita, dan kita kecewa, kita menderita sengsara, dan tidak jarang cinta kita berubah menjadi kebencian, benci karena orang itu tidak mau menyenangkan kita, karena orang itu me¬ngecewakan kita! Inikah cinta? Jelas bukan!

Namun, semenjak kecil kita telah dididik dan dibentuk untuk beranggapan bahwa demikianlah cinta itu! Penuh derita, dapat menjadi sorga maupun neraka, sumber suka-duka, terisi kesenangan dan pemuasan nafsu yang kita sulap menjadi kebahagiaan!

Bukan berarti bahwa kita harus anti terhadap semua kesenangan, harus anti terhadap sex, terhadap kemesraan antara pria dan wanita. Sama sekali bukan! Bahkan semua kesenangan, sex, kemesraan dan sebagainya itu akan mengalami perubahan hebat sekali kalau di situ terdapat cinta kasih. Dengan cinta kasih, maka se¬gala sesuatu adalah benar dan baik, suci dan bersih! Dan selama manusia menafsirkan cinta kasih semaunya sendiri, disesuaikan dengan seleranya yang tentu berdasarkan pengejaran kesenangan menurut versi masing-masing, maka di dunia ini selalu akan “gagal”. Padahal, tidak ada istilah cinta gagal atau berhasil. Cinta adalah cinta! Kapan lagi kita dapat menyadari hal ini kalau kita tidak mau membuka mata sekarang juga? Menyadari berarti membuka mata memandang dan mengerti, dan pengertian inilah yang akan membebaskan kita dari lingkaran setan, lingkaran suka duka akibat cinta seperti yang umum artikan itu!

Dalam keadaan kurus dan sakit lahir batin, lahirnya karena kurang makan dan tidur, batinnya karena selalu diperas oleh kekecewaan dan iba diri, Kian Lee berjalan tanpa tujuan di lembah bawah pegunungan itu. Hampir saja timbul niat di hatinya untuk membuang dirinya ke dalam jurang ketika dia melewati lereng gunung tadi. Namun dia masih ingat bahwa perbuatan itu adalah perbuatan pengecut.

Dia tidak tahu bahwa pada saat itu ada orang yang melihatnya dari puncak bukit, dan kini orang itu berloncatan seperti terbang mengejarnya. Orang ini bukan lain adalah ayahnya sendiri, Pendekar Super Sakti Suma Han yang memang sedang mencari-carinya. Ketika tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan pendekar berkaki tunggal itu sudah berdiri di hadapannya, berdiri tegak dengan tongkat di tangan, mereka saling pandang sejenak dan Suma Kian Lee lalu cepat menubruk ke depan dan menjatuhkan diri berlutut di depan ayahnya itu. Sungguh kemunculan ayahnya ini merupakan hal yang tak terduga-duga olehnya dan sekaligus menggugah kesedihan hatinya sehingga tanpa dapat ditahannya lagi dia lalu mengusap beberapa tetes air mata yang tak dapat dibendung keluar dari matanya.

Melihat keadaan puteranya ini, Pendekar Super Sakti Suma Han menarik napas panjang dan mengelus jenggotnya.

“Ah, betapa kecewa hatiku melihatmu, Kian Lee. Beginikah jadinya anakku yang sudah demikian lamanya tiada kabar beritanya, berubah menjadi seorang yang berbatin lemah, yang menangis seperti anak kecil karena iba diri? Bangkitlah, Kian Lee, dan berdirilah seperti seorang jantan, dan hapus air matamu!”

Seperti menerima cambukan, Kian Lee bangkit berdiri dan berhadapan dengan ayahnya. Mereka saling pandang dan terdorong oleh rasa rindu yang sangat, keduanya lalu saling rangkul! Akan tetapi Suma Han sudah melepaskan anaknya lagi, mendorongnya perlahan ke belakang.

“Nah, ceritakan mengapa engkau begini menderita lahir batin sampai kurus dan pucat.”

“Ayah....“

Kian Lee tidak berani melanjutkan dan hanya menundukkan muka. Apa yang harus diceritakan kepada ayahnya? Diam-diam Suma Han tersenyum haru. Dia tahu bahwa anaknya ini menderita sesuatu seperti yang pernah dialaminya dahulu. Dan diam-diam dia girang karena keadaan puteranya ini membuktikan bahwa puteranya ini sungguh amat mencinta Hwee Li! Dia dapat menduga pula bahwa agaknya sukar bagi Kian Lee yang biasanya pendiam itu untuk bicara tentang rahasia hatinya, maka dia lalu membantunya.






“Bukankah engkau menderita karena seorang wanita yang kau cinta akan tetapi terpaksa engkau tinggalkan karena sesuatu?”

Kian Lee mengangkat mukanya dan memandang kepada ayahnya dengan mata terbelalak kaget dan heran.

“Bagaimana.... Ayah bisa tahu tentang hal itu?” tanyanya bingung.

Suma Han tersenyum.
“Tak usah kau tahu bagaimana aku dapat mengetahui hal itu, dan tidak perlu lagi kau memikirkan wanita itu. Aku telah menentukan pilihanku atas diri seorang dara yang amat patut menjadi isterimu. Tidak ada wanita lain yang lebih cocok daripada dara itu untuk menjadi jodohmu, Lee-ji.”

“Ayah....!”

Kian Lee terkejut bukan main dan sejenak ayah dan anak ini saling mengadu pandang mata, akan tetapi akhirnya Kian Lee menunduk. Dalam pandang mata ayahnya itu dia melihat keputusan yang tak boleh diganggu gugat lagi di balik kasih sayang yang nampak nyata. Maka selain dia tidak berani menolak, juga dia merasa tidak tega untuk mengecewakan ayahnya yang dia percaya melakukan segala sesuatu demi kebaikannya itu.

“Aku tidak salah pilih, Lee-ji, dan jangan mengira bahwa aku sewenang-wenang hendak memaksakan kehendakku sendiri untuk menentukan calon teman hidupmu. Dara itu bukanlah orang sembarangan, Kian Lee. Dia bahkan telah dengan gagah perkasa membela dan membantuku menghadapi Im-kan Ngo-ok, bahkan dialah yang menyelamatkan nyawaku yang nyaris tewas di tangan Ngo-ok. Dia gagah perkasa, cantik jelita, dan lincah, jujur, keras hati, seperti ibumu ketika masih muda. Aku akan merasa bangga kalau engkau dapat berjodoh dengan dia, Kian Lee.”

“Tapi, Ayah.... perjodohan haruslah dilakukan dengan dasar saling mencinta.”

“Aku berani tanggung bahwa engkau akan jatuh cinta begitu bertemu dengan dia.”

“Tapi.... tapi dia....? Bagaimana kalau tidak cinta kepadaku, Ayah?”

“Kalau begitu, itu salahmu! Engkau harus mencarinya dan mendapatkannya!”

Kian Lee merasa heran bukan main. Biasanya, ayahnya tidak begini watak dan sikapnya. Begini keras dan memaksa orang! Apalagi orang itu adalah anaknya sendiri, dan dalam menghadapi urusan perjodohan pula! Apa yang telah terjadi dengan ayahnya?

“Ayah, bagaimana aku dapat mencari seseorang yang belum pernah kukenal?”

“Mudah, saja! Cari dia, namanya adalah Kim Hwee Li....”

“Ahhhhh....!” Wajah Kian Lee berubah pucat dan matanya terbelalak memandang ayahnya seolah-olah dia tidak percaya bahwa yang berdiri di depannya adalah ayahnya. “Apa.... apa Ayah bilang....“

“Gadis itu bernama Kim Hwee Li! Dan dia adalah anak angkat dari Hek-tiauw Lo-mo, dan dia adalah anak kandung dari pemberontak Kim Bouw Sin! Ya, ya, benar dia. Dan engkau telah menghinanya, dan engkau telah menghancurkan hatinya, telah menolaknya, telah memutuskan hubungan cinta karena dia anak pemberontak! Bodoh kau! Kau kira ayahmu ini tidak pernah memberontak? Kau kira keluarga kita adalah keluarga langit, sehingga boleh memandang rendah orang lain? Ayahnya boleh jadi pemberontak, ayah angkatnya boleh jadi manusia iblis, akan tetapi dia adalah seorang gadis bidadari yang gagah perkasa!” Tanpa disadarinya, Suma Han mengulang sebagian dari kata-kata Hwee Li sendiri.

“Ayah.... Ayah....!” Suma Kian Lee megap-megap, sukar bicara dan wajahnya perlahan-lahan berubah kemerahan, sinar matanya yang tadinya layu itu kini penuh semangat, wajahnya berseri, dia seperti “hidup” kembali setelah mengalami kematian semangat hidupnya.

“Mengapa gagap-gugup seperti itu? Hayo berangkat, dan awas, jangan kau berani pulang ke Pulau Es kalau tidak bersama Kim Hwee Li calon isterimu itu!”

“Baik, Ayah! Baik, Ayah!”

Suma Kian Lee menjawab dengan suara lantang, dan sekali dia memutar tubuh berkelebat, dia telah lari cepat sekali meninggalkan tempat itu!

Pendekar Super Sakti Suma Han berdiri memandang bayangan puteranya sampai lenyap, dan barulah dia mengejap-ngejapkan kedua matanya untuk mencegah runtuhnya air mata yang membasahi matanya. Kemudian dia menarik napas panjang, menggeleng-geleng kepala lalu mengayun tongkatnya, berjalan perlahan menuju ke arah perginya puteranya tadi.

**** 156 ****