FB

FB

Ads

Sabtu, 20 Juni 2015

Jodoh Rajawali Jilid 154

“Aku pun berterima kasih kepadamu, Hwee Li, dan kau maafkanlah sikapku yang lalu....“

Suara Ceng Ceng ini membuat Hwee Li memutar tubuh dengan cepat. Dia melihat subonya telah berdiri dan memandang kepadanya dengan mata basah. Bukan main lega dan girangnya hati Hwee Li, juga terharu sekali dan dia seperti mendapatkan kembali seorang ibu! Dia berlari menubruk Ceng Ceng sambil merintih dan menangis! Ceng Ceng menerimanya dalam pelukan dan sambil menyembunyikan mukanya di dada subonya itu Hwee Li menangis sepuas hatinya sampai sesenggukan.

“Subo.... ah, Subo.... mengapa semua orang membenciku? Mula-mula Subo yang meninggalkan aku karena aku anak pemberontak, lalu dia.... Kian Lee juga menghinaku dan meninggalkan aku.... setelah itu ditambah lagi.... Pendekar Super Sakti juga mencaci maki anak pemberontak dan tidak menyetujui puteranya berjodoh dengan anak pemberontak.... hu-hu-huuuh...., Subo, apa salahku....?”

Dia merenggutkan pelukan Ceng Ceng sehingga terlepas, lalu memegang kedua lengan subonya itu, mengguncang-guncangnya penuh penasaran, dengan air mata bercucuran.

“Apa salahku, Subo? Apa salahku kalau ayah kandungku seorang pemberontak? Apa salahku kalau orang yang memeliharaku seorang penjahat? Apa salahku kalau Tuhan menentukan aku lahir dari keluarga pemberontak? Mengapa orang menyalahkan aku....? Mengapa....? Hu-hu-huuuuuh....!”

Tangisnya menjadi-jadi karena dia teringat betapa Kian Lee meninggalkan dirinya, dan dia kembali sudah berangkulan dengan Ceng Ceng yang juga ikut menangis bersama muridnya karena dia merasa amat kasihan dan terharu. Berbagai hal teringat oleh Ceng Ceng. Kian Lee pernah jatuh cinta kepadanya dan cinta kasih itu gagal karena dia masih terhitung keponakan sendiri dari pemuda itu. Kini pemuda itu mempunyai hubungan kasih sayang dengan muridnya, dengan Hwee Li, apakah harus putus lagi? Tidak, sekali ini, kalau sampai putus, maka kesalahannya terletak pada Kian Lee!

Setelah mencium pipi yang basah air mata itu, Ceng Ceng menghibur,
“Sudahlah, Hwee Li, tenangkan hatimu. Aku sudah bersalah dan kau maafkanlah aku. Akan tetapi, mereka itu tidak boleh bersikap seperti itu kepadamu, sama sekali tidak patut! Kalau aku pada waktu itu marah kepadamu dan memutuskan hubungan, bukan hanya karena aku tidak suka mempunyai murid anak pemberontak, melainkan terdorong oleh kemarahan hatiku melihat engkau melindungi musuh yang telah menculik puteraku. Akan tetapi kemudian aku mendengar bahwa mereka semua yang bersalah itu telah tewas, enci tirimu Kim Cui Yan, bersama suhengnya, dan juga Pangeran Liong Bian Cu, semua telah tewas karena bentrok sendiri. Engkau tidak boleh disamakan dengan mereka, dan kalau sampai Paman Kian Lee dan ayahnya menolakmu karena keturunan atau karena orang tuamu, biarlah aku yang akan menemui mereka dan menegur mereka!”






Hwee Li memperoleh hiburan batin ketika subonya kembali bersikap baik kepadanya. dia tidak menolak ketika Ceng Ceng menyatakan hendak menyertainya mencari Kian Lee dan memperbaiki kembali hubungan yang terputus itu. Hwee Li tidak menolak karena dia pun tidak mempunyai orang yang dapat dipercayanya, dan subonya ini dapat bertindak selaku walinya! Dia pun tidak putus harapan akan hubungannya dengan Kian Lee, karena bukankah Pendekar Super Sakti sendiri sudah menyatakan ingin mengambil dia sebagai mantu untuk menjadi jodoh Kian Lee? Akan tetapi, pemuda itu harus melihat dulu kesalahannya, dan harus minta ampun kepadanya!

Ceng Ceng minta kepada suaminya agar menanti dia di dusun keluarga Kao itu bersama Cin Liong, karena dia ingin menyertai Hwee Li mencari Kian Lee. Kalau sudah selesai urusan ini, baru mereka bersama-sama akan kembali ke Istana Gurun Pasir. Setelah memberi hormat kepada semua keluarga Kao, Hwee Li berpamit kepada Kok Cu dan berkata,

“Terima kasih atas kebaikan Taihiap....“

“Hushhh, engkau adalah sumoiku, mengapa menyebutku taihiap?”

Kedua pipi Hwee Li menjadi merah karena jengah.
“Ah, mana patut aku menjadi Sumoimu....? Biarlah aku menjadi murid Subo kembali. Tentu Subo akan sudi menerimaku kembali menjadi murid, bukan?” kata Hwee Li dengan manja kepada Ceng Ceng yang sudah berkemas untuk berangkat bersamanya.

“Menjadi muridku? Ihhh! Sungguh tidak patut, tidak patut!” Nyonya itu menggeleng-geleng kepala sambil tersenyum.

Hwee Li tahu bahwa subonya itu main-main, maka dia pura-pura kaget dan bertanya,
“Mangapa tidak patut menjadi muridmu, Subo?”

“Jangan menyebut subo lagi kepadaku, anak nakal. Apa kau hendak mengejek aku? Tentu saja tidak patut, sama sekali tidak patut. Pertama, engkau telah menjadi murid suhu suamiku, maka engkau terhitung sumoiku, mana bisa menjadi muridku? Dan tentang kepandaian, engkaulah yang layak mengajar aku ilmu silat, mana pantas engkau menyebut subo kepadaku? Kemudian, masih ada lagi. Engkau tidak patut menyebutku subo, bahkan semestinya aku menyebutmu.... eh, calon bibiku.”

“Ehhh....?”

“Ingat, Suma Kian Lee adalah adik sekandung dari mendiang ayahku, jadi dia adalah pamanku, maka apa yang harus kusebut kepada calon isterinya?”

“Ihhh, Subo....!” Hwee Li mencubit lengan Ceng Ceng dan mereka semua tertawa.

Memang Hwee Li selalu bersikap polos, lincah, jenaka dan tidak pernah mempedulikan tentang ikatan sopan santun yang kaku sehingga bebas saja baginya untuk bersendau-gurau dengan subonya yang usianya tidak terlalu banyak selisihnya dengan usianya sendiri itu.

Maka berangkatlah dua orang wanita itu dengan wajah berseri karena kini, di samping subonya, Hwee Li memperoleh harapan baru. Dia berjalan sambil bercakap-cakap dan dia menceritakan semua hubungannya dengan Kian Lee dengan selengkapnya, juga tentang sikap Pendekar Super Sakti yang amat baik kepadanya, bahkan telah menyatakan ingin mengambilnya sebagai mantu untuk dijodohkan dengan Kian Lee, dan betapa dia menjadi marah-marah dan meninggalkan pendekar itu ketika pendekar itu mencaci-maki anak pemberontak!

“Aihhh, kenapa engkau demikian keras kepala dan tidak mengaku saja bahwa engkaulah gadis itu kepada beliau?” Subonya mengomel.

“Biar, Subo. Biar mereka itu tahu akan kesalahan mereka.”

“Ya, engkau memang pendendam. Akan tetapi memang sebaiknya kalau orang yang keliru itu menyadari sendiri kekeliruannya, seperti kekeliruan sikapku kepadamu. Jangan khawatir, aku akan menegurnya dan kalau memang dia benar-benar mencintamu, tentu dia pun menderita sengsara sekarang ini.”

Mereka melanjutkan perjalanan dengan kepercayaan penuh kepada diri sendiri.

**** 154 ****