FB

FB

Ads

Sabtu, 20 Juni 2015

Jodoh Rajawali Jilid 153

Suma Han menarik napas panjang.
“Jangan khawatir, Hwee Li. Mencari Kao Kok Cu boleh nanti saja dan aku serta anak-anakku pasti akan membantumu. Aku ingin lebih dulu menemukan putera-puteraku, baru kami akan membantumu mencari Si Naga Sakti Gurun Pasir itu.”

“Ah, urusan kematian Dewa Bongkok merupakan urusan yang amat penting bagi muridnya, Paman. Kenapa Paman tergesa-gesa hendak mencari putera Paman?”

“Karena aku hendak memperkenalkan engkau kepada mereka, anak yang baik.”

Hwee Li terbelalak memandang wajah yang berseri lembut itu.
“Eh? Mengapa? Apa maksudnya Paman hendak memperkenalkan aku kepada mereka?”

Pendekar itu menarik napas panjang lalu duduk di tepi jalan itu.
“Kau duduklah, Hwee Li, dan dengarkan kata-kataku.”

Gadis itu memandang heran lalu duduk di depan pendekar itu, di atas sebuah batu bundar.

“Hwee Li, semenjak berkenalan denganmu, bahkan semenjak melihat engkau dengan gagah perkasa melawan musuh-musuh yang tangguh itu, kemudian setelah melakukan perjalanan bersamamu, terus terang saja timbul rasa suka yang mendalam di hatiku. Engkau makin mengingatkan aku akan isteriku ketika dia masih muda. Maka, semenjak beberapa hari ini, aku telah mengambil keputusan hati untuk.... mengambil engkau sebagai mantuku!”

“Ahhhhh....!” Hwee Li terbelalak memandang, jantungnya berdebar tegang.

“Maafkan, Nak, bukan aku ingin lancang dan memandang rendah kepadamu. Akan tetapi mengingat bahwa engkau tidak mempunyai orang tua atau sanak keluarga lagi, maka aku bicara begini terus terang kepadamu. Aku yakin bahwa engkau cocok sekali untuk menjadi isteri Kian Lee, puteraku....“






Suma Han tidak melanjutkan kata-katanya karena terkejut melihat dara itu meloncat bangun seperti disengat kelabang pantatnya. Dara itu berdiri dan memandang kepadanya dengan muka merah sekali, kemudian terdengar dia berkata,

“Paman, aku telah mendengar percakapan Paman dengan locianpwe Dewa Bongkok tempo hari. Bukankah puteramu itu telah mempunyai seorang kekasih?”

Kini Suma Han juga bangkit berdiri dan mengepal tangan kanannya.
“Tidak! Aku akan memutuskan hubungan yang tidak tepat itu!”

“Mengapa.... mengapa tidak tepat, Paman?”

Suma Han tidak dapat melihat betapa suara dara itu agak gemetar, karena dia sendiri sedang marah memikirkan keadaan puteranya.

“Dia harus memutuskan hubungan itu dan menikah denganmu! Aku yakin bahwa aku akan dapat menyadarkan Kian Lee, bahkan menurut Dewa Bongkok, dia pun sudah sadar dan telah meninggalkan gadis anak si jahat Hek-tiauw Lo-mo dan keturunan pemberontak rendah itu!”

Sepasang mata Majikan Pulau Es ini bersinar-sinar penuh kemarahan. Dia merasa terhina kalau harus menjadi besan orang-orang seperti penjahat dan pemberontak itu.

Dan terjadilah hal yang aneh, yang membuat Pendekar Super Sakti berdiri terbelalak memandang gadis itu. Hwee Li berdiri tegak, kedua tangannya bertolak pinggang, mukanya merah padam dan kedua matanya basah akan tetapi mengeluarkan sinar kemarahan yang berapi-api, yang ditujukan kepadanya!

“Bagus sekali, Paman! Baru saja beberapa hari yang lalu Paman memberi kuliah kepadaku bahwa kita tidak boleh membenci orang yang telah mati betapapun jahatnya dia, dan kini Paman memperlihatkan kebencian kepada Kim Bouw Sin dan keluarganya yang telah terbasmi dan binasa semua sebagai keluarga pemberontak! Apakah Paman sendiri di waktu mudanya tidak pernah memberontak? Pemerintah Mancu sekarang ini, ketika pertama kali menyerbu ke selatan, bukankah mereka pun pemberontak? Dan Paman juga membenci Hek-tiauw Lo-mo, karena dia itu ketua Pulau Neraka! Lupakah Paman bahwa isteri Paman sendiri, Bibi Lulu itu, ibu kandung dari.... eh, puteramu Kian Lee itu, pernah pula menjadi pemberontak dan juga menjadi ketua Pulau Neraka? Apa hubungannya anak dengan kejahatan atau pemberontakan atau penyelewengan orang tuanya? Mengapa anaknya diikutkan bertanggung jawab dan kebagian nama buruk yang harus Paman benci pula? Adilkah itu? Benarkah itu? Layakkah itu bagi seorang pendekar sakti seperti Paman ini mempunyai jalan pikiran yang demikian picik, dangkal dan tidak adil?”

Wajah Suma Han menjadi pucat, kemudian merah kembali. Tergagap-gagap dia berseru,

“Hwee Li, kau....”

Hwee Li membanting-banting kaki kanannya, demikian kerasnya sampai tanah di sekitar tempat itu terguncang!

“Sudahlah! Aku tidak sudi berjodoh dengan anak Paman yang mulia dan setinggi langit itu! Aku adalah anak pemberontak, anak penjahat, sebaliknya Paman dan keluarga Paman adalah keluarga langit! Sudahlah!”

Dia terguguk menangis dan melarikan diri secepatnya pergi meninggalkan Suma Han yang berdiri melongo. Hatinya mendorong untuk mengejar, akan tetapi dia teringat dan tidak jadi, menggerakkan kakinya. Gadis seperti Hwee Li ini, seperti juga Lulu dahulu, tidak mungkin ditundukkan dengan bujukan atau paksaan. Sudahlah, dia sendiri yang bersalah!

Pendekar ini tersenyum. Sudah setua, ini masih begitu tolol. Tentu saja! Tentu saja Hwee Li adalah gadis yang dicinta oleh Kian Lee itu, gadis anak angkat Hek-tiauw Lo-mo, puteri kandung mendiang Kim Bouw Sin! Mengapa dia begitu bodoh? Gadis itu datang bersama Dewa Bongkok, bahkan telah menjadi murid Dewa Bongkok dan locianpwe itu datang untuk membicarakan urusan perhubungan gadis itu dengan Kian Lee. Pantas saja gadis itu dahulu lari sambil menangis ketika mendengar dia mencela gadis itu sebagai keturunan penjahat dan pemberontak!

Seperti disambar halilintar, pendekar sakti ini sadar! Dia seperti dihadapkan sebuah cermin besar di mana dia memandang kepada dirinya sendiri, melihat betapa dia masih dikuasai oleh watak sombong, ingin mengangkat diri dan keluarga sendiri, mempunyai “gambaran” yang amat agung terhadap keluarga sendiri yang pada hahekatnya perluasan dari diri sendiri pula, sehingga dia memandang rendah kepada golongan lain, terutama yang dianggapnya hina seperti penjahat dan pemberontak! Dan gadis dengan kemarahannya yang khas seperti Lulu itulah yang menyadarkannya!

Sampai berjam-jam lamanya Suma Han berdiri seperti patung di tempat itu, tak pernah bergerak akan tetapi mata batinnya mengamati dirinya sendiri dan dia merasa malu, malu sekali! Aih, betapa Lulu akan marah sekali kalau mendengar akan sikapnya selama ini! Dan kenapa Kian Lee juga memandang rendah kepada gadis yang menjadi kekasihnya itu setelah mendengar bahwa gadis itu anak pemberontak? Mengapa Kian Lee setolol itu? Setolol dia? Apa hubungannya seorang anak dengan penyelewengan orang tuanya? Mereka adalah manusia-manusia lain yang hanya kebetulan saja dihubungkan sebagai ayah dan anak. Akan tetapi, bukankah ayah dan anak merupakan dua orang manusia yang memiliki pikiran sendiri, hati sendiri, kesadaran sendiri, selera sendiri?

Sadarlah kini Suma Han. Sadarlah dia bahwa selama ini, dialah yang kehilangan kewaspadaan sehingga tanpa disadari dia bersikap yang tidak benar. Sikap dan perbuatan yang tidak benar hanya dilakukan oleh manusia yang pada saat itu tidak sadar! Apabila manusia sadar setiap saat, waspada setiap saat memandang dirinya sendiri, setiap gerak-gerik badan dan batinnya sendiri, tidak mungkin dia melakukan sesuatu yang tidak benar! Karena, setiap perbuatan yang tidak benar itu pun akan nampak olehnya dan karenanya tentu tidak akan dilakukannya!

Kewaspadaan bukanlah suatu hal yang boleh dilakukan sekali waktu atau pada waktu-waktu tertentu saja. Kalau dilakukan berselang-seling, maka terjadilah apa yang kita lihat dalam kehidupan manusia ini. Di waktu tidak waspada, melakukan dosa, setelah sadar dan waspada, menyesal dan minta ampun, bersumpah tidak akan lagi melakukan perbuatan itu. Kemudian, dalam keadaan tidak sadar lagi, diulanginya perbuatan itu, lalu sadar dan minta ampun lagi.

Demikianlah kita terseret ke dalam lingkaran setan yang tiada habisnya. Kewaspadaan harus selalu ada pada kita setiap saat, timbul dari pengamatan setiap saat, timbul dari perhatian sepenuhnya yang kita curahkan terhadap diri sendiri dalam saat apa pun, selagi melakukan atau mengatakan atau memikirkan apa pun. Pengamatan penuh kewaspadaan, penuh perhatian inilah kesadaran! Kalau kita membiarkan diri kosong tanpa kewaspadaan, maka iblis berupa pikiran yang selalu mengejar kesenangan akan masuk dan menyeret kita kepada kesesatan. Waspada dengan pengamatan tanpa pamrih ingin mengubah, waspada dengan pengamatan tanpa adanya si aku yang mengamati, karena si aku adalah yang diamati pula, waspada terhadap si aku, pikiranku, kedukaanku, kemarahanku, kebencianku, waspada terhadap semua ini tanpa ingin mendapatkan apa pun, inilah satu-satunya yang dapat menimbulkan pengertian.

Lebih dari tiga jam pendekar sakti itu berdiri seperti patung. Kemudian dia tersenyum, sama sekali tidak marah oleh sikap dan kata-kata Hwee Li tadi. Bahkan dia berterima kasih, karena dara remaja itulah yang telah menggugahnya dari mimpi yang membawanya kepada kesesatan. Betapa dia telah memberi kuliah kepada Hwee Li, seperti dikatakan dara itu, tentang tidak membenci orang jahat sekalipun yang sudah mati, namun sikapnya menentang hubungan puteranya karena si gadis itu anak penjahat dan pemberontak sudah merupakan suatu kebencian pula yang terselubung! Ahhh, betapa mudahnya memberi nasihat namun betapa sukarnya melaksanakannya sendiri! Ini semua takkan terjadi kalau dia selalu waspada setiap saat mengamati diri sendiri, sehingga dia akan waspada ketika memberi nasihat, waspada pula ketika berbuat!

“Akan kucari Kian Lee, akan kubereskan semua yang tidak benar selama ini!” katanya kepada diri sendiri dan di lain saat pendekar sakti itu telah berkelebat pergi, mempergunakan ilmunya untuk berloncatan dan melakukan perjalanan cepat sekali.

Dugaan Hwee Li memang tepat. Setelah beberapa hari lamanya dia berputar-putar di daerah Kang-lam, akhirnya dia dapat memperoleh keterangan di mana adanya keluarga Jenderal Kao Liang, yaitu di dusun Lok-jung di kaki sebuah bukit kecil yang sunyi. Cepat dia menuju ke dusun itu dan dari jauh dia sudah melihat subonya sedang duduk di depan sebuah rumah yang cukup besar, bersama Kao Kok Cu dan juga Cin Liong. Bukan main girangnya hati Hwee Li, akan tetapi di samping kegirangan ini dia pun merasa terharu karena dia membawa berita duka, dan juga tegang dan gelisah melihat subonya, teringat betapa subonya sudah tidak mau mengakuinya lagi sebagai murid karena dia adalah keturunan pemberontak!

“Enci Hwee Li....!”

Cin Liong yang masih mengenal dara yang dulu suka memondongnya dan mengajaknya bermain-main itu segera lari menyambut kedatangan Hwee Li. Suami isteri perkasa itu pun memandang.

Hwee Li merangkul dan memondong Cin Liong, lalu dia menghampiri suami isteri itu, menurunkan Cin Liong dan tanpa terasa lagi air mata membasahi pipi Hwee Li. Dia selalu menganggap subonya sebagai pengganti ibu, akan tetapi mengingat betapa wanita di depannya yang amat dihormatinya, dikaguminya dan juga dicintanya itu kini tidak lagi mau mengakuinya sebagai murid, sungguh membuat hatinya terasa sedih sekali. Apalagi kalau dia teringat akan semua pengalamannya yang pahit. Dia lalu menjatuhkan dirinya berlutut di depan mereka. Dia tidak berani menyebut subo atau suhu kepada mereka, mengingat betapa subonya telah mematahkan pedang dan menyatakan hubungan mereka sebagai guru dan murid telah putus. Tidak, dia tidak akan mengemis minta diakui lagi sebagai murid, bisik hatinya yang keras, kedatangannya bukan untuk itu, melainkan untuk menyerahkan abu jenazah!

Sambil berlutut dan dengan muka menunduk dia lalu berkata.
“Harap Taihiap dan Lihiap berdua sudi memaafkan aku kalau aku datang mengganggu.”

Tanpa diketahui oleh Hwee Li, suami isteri itu saling lirik ketika mendengar sebutan lihiap dan taihiap itu sebaliknya, dari subo dan suhu. Kao Kok Cu tersenyum pahit dan pandang matanya menegur isterinya, sedangkan Ceng Ceng kelihatan terharu, namun ditahannya dengan hatinya yang keras. Memang dia sudah menceritakan kepada suaminya bahwa dia memutuskan hubungan dengan Hwee Li karena ternyata bahwa Hwee Li adalah adik dari musuh mereka, yaitu adik dari Kim Cui Yan yang telah menculik Cin Liong, atau juga puteri dari mendiang pemberontak Kim Bouw Sin.

Mendengar penuturan isterinya itu, Kao Kok Cu sudah mengingatkan isterinya bahwa tindakan isterinya itu terburu nafsu dan tidak adil, akan tetapi karena sudah terlanjur maka mereka berdua tak dapat berbuat apa-apa lagi. Dan kini, dara itu datang dengan sikapnya yang masih amat baik, datang-datang berlutut dan menyebut mereka taihiap dan lihiap!

Sejenak mereka bertiga merasakan suasana yang sama sekali tidak enak, karena biasanya pertemuan antara mereka tentu amat menggembirakan karena Hwee Li adalah seorang dara yang lincah jenaka dan yang selalu menggembirakan suami istri itu dengan sikapnya yang manja. Kini gadis itu berlutut dan menitikkan air mata, menyebut mereka dengan sebutan seperti orang asing! Akhirnya Kok Cu memecahkan kesunyian yang tidak enak itu dengan berkata halus.

“Hwee Li, tentu saja engkau tidak mengganggu. Kau bangkit dan duduklah dan ceritakan dengan tenang apa keperluanmu datang menemui kami.”

Hwee Li bangkit dan duduk berhadapan dengan dua orang itu, dan ketika dia melirik ke arah wajah Ceng Ceng, dia melihat nyonya ini menunduk sehingga dia tidak tahu apakah nyonya itu masih marah kepadanya ataukah tidak. Betapapun juga, suasana ini amat tidak enak terasa olehnya, apalagi dia harus membawa berita yang amat tidak baik. Maka sukarlah baginya untuk bicara dan dia hanya mengelus rambut kepala Cin Liong yang kembali mendekatinya dan anak itu berdiri menyandar kepadanya.

“Enci Hwee Li kenapa lama tidak datang dan bermain-main dengan aku? Nanti kita latihan silat, aku sudah mulai dilatih oleh Ayah!”

Melihat sikap Hwee Li, Kok Cu dapat menduga bahwa tentu ada urusan penting, maka dia lalu menyuruh puteranya itu masuk. Cin Liong tidak membantah perintah ayahnya. Setelah anak itu masuk, Kok Cu bertanya lagi,

“Nah, ceritakanlah keperluanmu, Hwee Li.”

Sejak tadi Hwee Li sudah menahan air matanya dan hanya beberapa tetes yang terlepas turun, akan tetapi kini mendengar pertanyaan itu, kembali dia berlutut di depan Kok Cu dan menangis, suaranya terputus-putus ketika dia bicara sambil menurunkan buntalan dari atas punggungnya.






“Su.... Taihiap...., aku.... aku datang untuk menghaturkan ini....“

Dia merasa lehernya tercekik dan hanya mengangkat buntalan itu dengan kedua tangan ke atas kepala sambil menangis. Teringat dia akan semua kebaikan Dewa Bongkok yang tidak hanya telah menurunkan ilmu-ilmu yang tinggi kepadanya, bahkan telah mengoperkan sinkang ke dalam tubuhnya.

“Apakah ini? Apakah isinya buntalan ini, Hwee Li? Dan mengapa kau menangis?” tanya Kok Cu dengan hati merasa tidak enak.

“.... abu jenazah....“

Hwee Li berbisik dan kini Ceng Ceng menengok dan memandang penuh perhatian kepada dara itu dan kepada buntalan yang kini sudah diterima oleh suaminya.

Kok Cu terkejut dan makin merasa tidak enak.
“Abu jenazah? Punya siapa?”

“.... abu jenazah Locianpwe.... penghuni Istana Gurun Pasir....“

“Ahhhhh!”

Kok Cu meloncat berdiri dan tubuhnya gemetar, buntalan itu masih dipegang tangan kanannya dan wajahnya agak pucat ketika dia memandang kepada buntalan itu, kemudian kepada Hwee Li.

“Hwee Li, hayo ceritakan yang jelas!” bentaknya dengan suara mengandung getaran amat kuat. “Tidak salahkah engkau bahwa ini abu jenazah suhuku, Go-bi Bu Beng Lojin atau Dewa Bongkok dari Istana Gurun Pasir?”

Hwee Li menentang pandang mata Kok Cu dengan mata basah air mata.
“Tidak mungkin salah, karena aku sendiri melihat beliau tewas, dan aku bersama dengan Pendekar Super Sakti yang menyempurnakan jenazahnya menjadi abu dan kubawa ke sini untuk kuserahkan kepadamu.”

“Ahhh....!” Kedua kaki Kok Cu menggigil dan dia lalu cepat menaruh buntalan itu di atas meja, kemudian dia menjatuhkan diri berlutut di depan buntalan abu itu. “Suhu, ampunkan teecu, karena terlalu memikirkan keluarga sendiri teecu sampai melupakan suhu dan tidak tahu bahwa suhu telah meninggal dunia, ampunkan teecu....“

Sebuah tangan yang halus menyentuhnya setelah beberapa lama dia berlutut tanpa bergerak dengan hati yang amat berduka. Dia menoleh dan ternyata isterinya juga sudah berlutut di sampingnya, dengan mata basah air mata.

“Sudahlah, suhu sudah meninggal dengan tenang, tidak baik kalau terlalu disedihkan, lebih baik kita cepat mengatur meja sembahyang untuk beliau,” kata Ceng Ceng. Sementara itu, Hwee Li juga sudah berlutut di belakang mereka.

Dengan bantuan beberapa orang anggauta keluarga, diaturlah sebuah meja sembahyang dan abu itu lalu disembahyangi sebagaimana mestinya. Hwee Li juga ikut sembahyang di depan meja abu itu, dan ketika dia berlutut dia berkata dengan suara sayu,

“Locianpwe, untuk yang terakhir kalinya aku menghaturkan terima kasih atas segala kebaikanmu kepadaku.”

Setelah dia bangkit, Kok Cu lalu mempersilakan dia duduk.
“Maaf, Taihiap, aku akan terus melanjutkan perjalanan dan tidak akan mengganggu lebih lama lagi,” katanya sambil mengerling ke arah Ceng Ceng.

Ceng Ceng tahu bahwa muridnya ini masih merasa tidak enak kepadanya, seperti juga dia merasa tidak enak. Dia pernah menyakitkan hati muridnya ini dan memutuskan hubungan, siapa kira kini anak itu malah berjasa dengan mengantarkan abu jenazah guru suaminya. Maka dengan suara lirih dia berkata,

“Hwee Li, kau duduklah dulu dan ceritakan tentang kematian suhu.”

“Benar, harap kau tidak kepalang dengan pertolonganmu, Hwee Li. Engkau sudah bersusah payah mengantar abu jenazah suhu, sekarang ceritakanlah apa yang terjadi, bagaimana engkau dapat bertemu dengan suhu dan bagaimana suhu sampai meninggal dunia, apa pula hubungannya dengan Pendekar Super Sakti,” kata Kok Cu dan memang suami isteri ini amat tertarik untuk mengetahui semua itu.

Hwee Li menarik napas panjang. Memang dia harus menceritakan itu semua. Sambil menundukkan mukanya dia mulai bercerita secara singkat,

“Mula-mula aku bertemu dengan beliau ketika beliau dalam keadaan terluka parah sekali akan dibunuh oleh Mauw Siauw Mo-li....“

“Bagaimana beliau bisa terluka parah?” Kok Cu bertanya kaget.

“Beliau kemudian menceritakan bahwa beliau terluka karena secara curang dipukul dari depan dan belakang oleh Hek-hwa Lo-kwi dan Hek-tiauw Lo-mo. Mereka berdua tewas akan tetapi, beliau sendiri terluka parah. Melihat beliau yang sudah tidak berdaya dan duduk bersila itu hendak dibunuh oleh Mauw Siauw Mo-li, aku lalu mencegahnya dan melawan Mauw Siauw Mo-li....“

“Kau melawan bibi gurumu sendiri?”

Ceng Ceng bertanya, akan tetapi pandang mata suaminya membuat dia sadar bahwa dia masih dikuasai oleh kemarahan terhadap dara ini, maka dia lalu diam saja dan menundukkan muka. Hwee Li melirik ke arah subonya itu dan menggigit bibir tanpa menjawab.

“Hwee Li, harap kau suka lanjutkan,” Kok Cu berkata lembut.

“Kami berdua lalu melakukan perjalanan menuju ke gurun pasir di dataran Chang-pai-san untuk menyaksikan pertemuan antara Pendekar Super Sakti dan Im-kan Ngo-ok. Selama dalam perjalanan itu beliau bersikap amat baik kepadaku....“

Sampai di sini Hwee Li berhenti karena dia harus menyusut dua butir air mata yang kembali mengalir turun.

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara nyaring dari luar rumah,
“Apakah murid Si Dewa Bongkok berada di dalam? Keluarlah menemui kami!”

Mendengar suara ini, sekali berkelebat Kok Cu sudah meloncat keluar, diikuti oleh isterinya, dan Hwee Li juga cepat meloncat keluar. Ternyata di pekarangan rumah itu telah berdiri Twa-ok dan Sam-ok, dua di antara Im-kan Ngo-ok yang paling lihai! Kao Kok Cu mengenal dua orang ini, apalagi Sam-ok yang dulu menjadi Koksu Nepal.

“Heemmm, kalian dua orang manusia iblis mau apakah datang mencari murid penghuni Istana Gurun Pasir?”

“Bagus, kebetulan sekali engkau berada di sini! Dewa Bongkok telah mati, akan tetapi dialah yang menggagalkan kami ketika kami sudah hampir berhasil membunuh Pendekar Siluman! Karena itu, engkau muridnya harus menebus kesalahannya terhadap kami itu!”

“Keparat!”

Teriakan ini keluar dari mulut Hwee Li dan dara ini sudah mendahului Kok Cu dan isterinya, langsung saja dia menerjang dua orang kakek itu dengan pukulan yang dilakukan secara aneh, yaitu kaki kiri berlutut, tangan kiri di atas tanah dan tangan kanan memukul ke depan, ke arah dua orang kakek sakti itu.

“Cuiiiiittttt.... desss! Desssss!”

Dua orang kakek itu terkejut ketika melihat munculnya dara yang pernah melawan mereka secara aneh dan hebat membantu Pendekar Super Sakti itu. Tak mereka sangka bahwa gadis luar biasa itu pun sudah berada di situ. Gadis itu adalah Hwee Li, bekas tunangan Pangeran Nepal, anak dari Hek-tiauw Lo-mo yang dulu hanya terbatas saja kepandaiannya, akan tetapi yang kini memiliki kepandaian yang amat luar biasa.

Kini Twa-ok dan Sam-ok tidak berani memandang rendah, cepat mereka menangkis dan akibatnya tubuh mereka terdorong mundur sampai terhuyung-huyung! Dan Hwee Li sudah melayang lagi ke arah mereka, kini kedua kakinya bergerak, dengan tumit diangkat, berdiri di atas ujung jari-jari kaki, kedua lengan diputar sedemikian rupa dan dari kedua tangannya menyambar hawa pukulan yang mengeluarkan bunyi berdesingan seperti dua batang pedang diputar.

Twa-ok dam Sam-ok terkejut, cepat mereka pun mengerahkan tenaga dan menangkis sambaran dua hawa pukulan dahsyat itu.

“Wuuuuut, brettt, brettttt....!”

Dua orang kakek itu meloncat jauh ke belakang, muka mereka pucat karena lengan baju mereka telah robek seperti digurat pedang pusaka, dan biarpun kulit lengan mereka thdak terluka, namun tahulah mereka bahwa dara itu benar-benar memiliki ilmu kepandaian yang amat luar biasa dan aneh. Menghadapi dara itu saja sudah berbahaya, apalagi kalau Si Naga Sakti Gurun Pasir murid Dewa Bongkok yang lihai itu maju bersama isterinya yang juga lihai! Maka tanpa banyak cakap lagi keduanya lalu memutar tubuh dan melarikan diri!

Sejenak Hwee Li memandang dengan berdiri tegak, tidak mengejar, kemudian dia menoleh dan ketika melihat bekas subonya dan suami subonya memandang dengan mata terbelalak kepadanya, dia menarik napas panjang dan berkata lirih,

“Sayang aku tidak berhasil membunuh dua manusia iblis itu.”

Kok Cu sudah cepat melangkah maju dan memegang lengan Hwee Li.
“Gerakanmu tadi! Tenagamu tadi! Ah, Hwee Li, aku mengenalnya! Engkau.... engkau telah mewarisi ilmu-ilmu itu dari mendiang suhu?”

Hwee Li mengangguk.
“Beliau amat baik kepadaku, telah menurunkan ilmu-ilmu simpanannya dan juga telah mengoperkan sinkangnya kepadaku....“

“Kalau begitu, engkau termasuk muridnya, engkau menjadi sumoiku!”

Hwee Li menggeleng kepala.
“Aku tidak berharga untuk menjadi murid beliau dan aku tidak pernah diangkat murid, aku tidak berani menjadi sumoimu, Taihiap....“

“Kau lanjutkanlah ceritamu tadi,” kata Kok Cu dan mereka lalu kembali duduk di ruangan depan di depan meja sembahyang Dewa Bongkok. Ceng Ceng kini memandang kepada bekas murid itu dengan mata kagum.

“Kami berdua tiba di dataran itu dan Pendekar Super Sakti dikeroyok oleh lima orang Im-kan Ngo-ok. Kemudian muncul pula nenek iblis yang pandai sihir, dan Pendekar Super Sakti terdesak hebat. Dalam keadaan amat berbahaya itu, Locianpwe Dewa Bongkok agaknya tidak dapat berdiam saja, dalam keadaan terluka parah itu beliau lalu membantu Pendekar Super Sakti sehingga pendekar Pulau Es itu terlepas dari bahaya maut, akan tetapi beliau sendiri.... beliau tewas dalam keadaan duduk bersila....“ Kembali Hwee Li mengusap kedua matanya.

“Ahhh, jadi Im-kan Ngo-ok yang menjadi biang keladi kematian suhu. Kalau tadi aku tahu....“ Kok Cu berkata. “Teruskan, Hwee Li, teruskan ceritamu.”

“Setelah beliau tewas, Pendekar Super Sakti mengamuk, akan tetapi terdesak oleh banyaknya lawan karena segera muncul Mauw Siauw Mo-li dan lima orang cebol yang lihai. Melihat Locianpwe itu tewas, aku menjadi marah dan aku lalu maju membantu Pendekar Super Sakti. Aku berhasil membunuh Mauw Siauw Mo-li dan lima orang cebol, menggunakan ilmu yang kupelajari dari Locianpwe Dewa Bongkok, kemudian membantu Pendekar Super Sakti menghadapi lima orang dari Im-kan Ngo-ok sehingga akhirnya mereka melarikan diri meninggalkan Pendekar Super Sakti yang telah menderita luka-luka karena pukulan mereka.”

“Hemmm, dan mereka menyalahkan suhu dalam kegagalan mereka terhadap Pendekar Super Sakti,” kata Kok Cu. “Dan memang suhulah yang menggagalkan mereka, dengan mewariskan kepandaian suhu kepadamu, Hwee Li. Kemudian, kau membakar jenazah suhu?”

“Pendekar Super Sakti yang melakukannya, aku membantunya, kemudian aku mengumpulkan abu Locianpwe Dewa Bonkok dan kubawa kesini untuk kuserahkan kepadamu, Taihiap.”

Kok Cu bangkit berdiri, memandang kepada Hwee Li dengan mata kagum dan berterima kasih.

“Hwee Li, aku amat berterima kasih kepadamu. Tidak keliru suhu memilihmu sebagai ahli waris ilmu yang dirahasiakan itu, bahkan kepadaku pun dia tidak menurunkan ilmu itu. Engkau baik sekali dan engkau patut menerima kasih sayangnya.”