FB

FB

Ads

Kamis, 18 Juni 2015

Jodoh Rajawali Jilid 149

“Syanti Dewi....!”

Dia terhuyung, hampir jatuh, akan tetapi bangun lagi dan terus berlari sambil terhuyung-huyung.

“Dewi.... kau ampunkan aku, Dewi....!”

Tek Hoat terus memasuki hutan yang lebat itu, berlari sambil mengeluh dan bersambat, menyebut-nyebut nama Syanti Dewi seperti orang gila. Pemuda ini setelah ditolong oleh Panglima Jayin dan pasukannya, dibawa kembali ke dalam istana. Akan tetapi baru dua hari dia dirawat, begitu siuman dia sudah meloloskan diri lagi, malam-malam dia melarikan diri meninggalkan istana untuk mengejar dan mencari Syanti Dewi.

Akhirnya, kegelapan malam membuat dia roboh tersungkur menabrak batang pohon dalam hutan yang gelap itu. Dia merangkak bangun, lalu duduk dan menggunakan kedua tangan memegangi kepalanya yang terasa pening berdenyut-denyut. Dia belum sembuh benar, tubuhnya masih terasa lemah, kepalanya masih pening.

“Syanti.... kalau engkau tidak mau mengampunkan aku, lebih baik kau bunuh saja aku....“ keluhnya.

Pikirannya melayang-layang ke masa lampau ketika dia merasa betapa sengsaranya rasa hatinya, ditinggalkan oleh Syanti Dewi yang marah kepadanya. Syanti Dewi tentu benci kepadanya! Ah, semua ini tentu merupakan hukuman baginya, hukuman atas semua penyelewengannya, atas semua kejahatan yang pernah dilakukannya di masa lampau.

Terbayang kembali semua perbuatannya, yang baru sekarang nampak olehnya betapa kejam, jahat dan terkutuknya. Dia telah melakukan pembunuhan-pembunuhan, perjinaan-perjinaan, perbuatan yang kejam dan jahat sekali di masa lampau (baca Kisah Sepasang Rajawali).






Kalau dia membayangkan semua perbuatannya itu, di waktu dia masih muda remaja, maka amatlah tidak patut kalau dia kini dicinta seorang wanita seperti Syanti Dewi! Hal ini merupakan kenyataan yang luar biasa, terlampau baik baginya. Syanti Dewi adalah seorang puteri raja yang demikian cantik jelita, demikian berbudi dan mulia. Sedangkan dia? Hanya seorang bekas penjahat yang terkutuk! Dan dia masih tidak menerima kebahagiaan ini. Dia menghancurkan sendiri kebahagiaan yang tidak patut dimilikinya itu. Dia bahkan berani memaki, berani menghina sang puteri yang demikian mulia, yang terlalu mulia baginya. Menjadi pelayan puteri itu saja masih terlalu mulia baginya. Dia sebenarnya amat tidak berharga, bahkan untuk menggosok sepatu puteri itu saja dia masih terlalu kotor. Namun dia terangkat sebagai kekasih, sebagai calon suami puteri itu! Dan puteri itu mencintanya dengan suci. Puteri itu telah rela hidup sengsara demi untuk dia! Dan dia.... dia malah memaki dan menghina puteri itu! Dituduhnya berjina, padahal dialah sendiri tukang berjina di waktu remaja. Dituduhnya memberontak, padahal dialah yang pernah membantu pemberontak! Dituduhnya keji dan hina, padahal dialah yang jelas seorang manusia keji dan hina!

“Syanti....!” hatinya menjerit dan dia menjambak-jambak rambutnya sendiri.

“Kau layak mampus! Kau layak sengsara!”

Dia berteriak-teriak dan menjambak rambutnya, lalu menghempas-hempaskan dirinya, membentur-benturkan kepalanya ke batang pohon itu sampai kulit dahinya luka-luka dan pecah-pecah berdarah dan akhirnya dia roboh pula tak sadarkan diri di bawah batang pohon itu. Malam itu sunyi sekali, sunyi dan gelap, dan tubuh Tek Hoat membujur di bawah pohon, pingsan.

Dia bermimpi. Dia terjerumus ke dalam lumpur. Betapapun dia mengerahkan tenaga untuk melepaskan diri, selalu tidak berhasil. Lumpur itu menyedot kedua kakinya, makin dia berusaha lolos, makin dalam dia tersedot sampai akhirnya tubuhnya tersedot sebatas pinggang. Dia eronta, kedua tangannya mencakar sana-sini dengan sia-sia. Kemudian muncul Dewi Kwan Im yang berwajah Syanti Dewi, dengan ringannya sang dewi melangkah di atas lumpur tanpa mengotorkan sepatunya yang bersih, lalu sang dewi mengulurkan tangan, hendak menariknya keluar dari dalam lumpur.

Akan tetapi pada saat itu dia teringat akan hal yang tak pernah dilupakannya sama sekali itu, ialah ketika Syanti Dewi bercumbu dengan Mohinta, kemudian betapa Syanti Dewi telah berusaha membunuh Raja Bhutan, ayahnya sendiri. Teringat akan ini semua, tangan yang terulur kepadanya untuk menariknya keluar dari dalam lumpur itu malah diludahinya!

Sang dewi menangis dan melarikan diri sambil terisak-isak. Tek Hoat yang ditinggalkan di dalam lumpur itu tersedot makin dalam. Lumpur mencapai lehernya, bahkan masih terus saja tubuhnya tersedot ke bawah, kini lumpur mencapai dagunya. Barulah dia, teringat kepada Syanti Dewi, betapa dia mencinta dara itu dan dengan napas terengah-engah seperti ikan dilempar ke darat, dia memanggil-manggil nama Syanti Dewi.

“Syanti Dewi....! Syanti Dewi....!”

Tek Hoat terbangun dengan napas terengah-engah. Dia membuka matanya dengan penuh kegelisahan dan menjadi semakin bingung ketika dia menemukan dirinya sendiri telah rebah di atas pembaringan dalam sebuah kamar yang indah, kamarnya di istana Bhutan! Dan terdengar suara yang tenang dan penuh perasaan iba.

“Tenanglah, Taihiap. Harap engkau suka menguatkan batinmu.”

Tek Hoat menoleh dan ternyata yang bicara itu adalah Panglima Jayin. Dia bangkit duduk dan memegang tangan panglima itu yang dijulurkan kepadanya.

“Panglima apakah yang terjadi dengan Syanti Dewi?”

Panglima itu menggeleng kepalanya.
“Tidak ada yang tahu apa yang terjadi dengan beliau, Taihiap.”

“Akan tetapi.... dia.... dia telah mati dan aku.... aku masih bertemu dengannya....“

Panglima Jayin itu tersenyum sedih dan mengira bahwa pemuda ini tentu mengigau.
“Taihiap terlalu mendalam memikirkan beliau. Beliau belum meninggal dunia, dan atas perkenan sri baginda raja saya akan menceritakan semua kepadamu, Taihiap. Wanita yang kau sangka sang puteri itu, yang datang bersama pengkhianat Mohinta, kemudian berusaha membunuh sri baginda dan akhirnya tewas, sebenarnya bukanlah Sang Puteri Syanti Dewi, melainkan seorang wanita lain yang memalsukan beliau. Sang Puteri Syanti Dewi adalah seorang wanita budiman dan mulia, tidak mungkin melakukan hal rendah seperti itu.”

Tek Hoat meloncat berdiri, wajahnya berseri biarpun masih amat pucat.
“Ah, sudah kuduga demikian, hanya hati yang lemah ini, otak yang tolol ini masih saja meragukan kesuciannya! Aku harus pergi mencarinya!”

Panglima Jayin memegang lengannya dan dengan lembut menyuruh pemuda itu duduk kembali.

“Ketika engkau menderita luka-luka parah dan rebah tak berdaya, kami tidak berani menceritakan tentang beliau kepadamu. Kemudian, kemarin kami tidak melihatmu di dalam kamar dan setelah kami mencari-cari, kami menemukan Taihiap rebah pingsan di dalam hutan, lalu kami bawa kembali ke sini. Agaknya Taihiap mengigau atau mimpi....“

“Tidak, tidak....! Aku tidak mimpi, aku benar-benar bertemu dengan Syanti Dewi. Ah, aku harus segera mencarinya sebelum dia pergi jauh!”

“Engkau masih lemah, Taihiap.”

“Tidak, biarkan aku menghadap sri baginda, mohon perkenannya. Akan kucari sang puteri sampai dapat!”

Raja Bhutan merasa girang melihat betapa Tek Hoat kelihatan sembuh dan dia pun tidak berkeberatan mendengar permohonan Tek Hoat.

“Memang hanya engkaulah yang kiranya akan mampu menemukan kembali anakku itu, Tek Hoat. Engkau carilah dia, bawa bekal secukupnya, kalau perlu bawa pasukan sebanyaknya, dan jangan kembali ke sini kalau belum bersama anakku.”

Demikian antara lain Raja Bhutan berpesan kepada pemuda yang telah diakuinya sebagai panglima muda dan juga sebagai calon mantunya itu.

Demikianlah, untuk kedua kalinya Tek Hoat meninggalkan Bhutan. Akan tetapi sehali ini kepergiannya jauh berbeda dengan yang sudah-sudah. Sekali ini dia pergi dengan doa restu dari Raja Bhutan dan membawa perbekalan secukupnya. Akan tetapi Tek Hoat tidak mau membawa pasukan dan pergi seorang diri saja. Dia melakukan pengejaran dan mencari jejak Syanti Dewi yang diketahui penuh keyakinan telah datang menjenguknya, akan tetapi karena ketololannya kembali dia menyakitkan hati puteri itu, sungguhpun tidak seorang pun di Bhutan percaya bahwa sang puteri benar-benar telah pulang untuk waktu singkat sekali itu.

Penderitaan batin yang timbul akibat cinta asmara memang amatlah berat penanggungannya, karena orang akan merasa amat kesunyian, amat nelangsa, hidup seakan-akan kosong tidak ada artinya, lenyaplah semua gairah hidup, lenyap semua kegembiraan, yang terasa hanyalah kelesuan, lemah lunglai rasanya seluruh tubuh, tanpa semangat membuat orang malas dan tak acuh. Semua ini timbul karena perasaan iba diri yang amat mendalam.

Tek Hoat melakukan perjalanan seperti boneka hidup, seorang manusia yang kehilangan semangat dan kegembiraannya. Hanya ada satu saja yang masih membuat dia kuat mempertahankan semua itu, ialah semangat mencari Syanti Dewi sampai dapat! Dia melakukan perjalanan yang susah payah, tak pernah berhenti, hanya makan kalau perutnya sudah tidak kuat menahan lagi, hanya tidur kalau matanya sudah tak dapat dibuka, dan hanya beristirahat kalau kedua kakinya sudah mogok jalan. Berhari-hari dia menjelajahi seluruh hutan di mana dia mengejar Syanti Dewi, kemudian dia melanjutkan perjalanan ke timur, karena dia merasa yakin bahwa kekasihnya itu tentu pergi ke timur. Ke mana lagi kalau tidak ke sana? Dan dia akan terus mencari, sampai ke ujung dunia sekali pun!

Tanpa diketahuinya, Tek Hoat menuju ke arah tempat di mana Su-ok dan anak buahnya, yaitu para orang cebol itu berkumpul dan menimbulkan kekacauan di dusun. Pagi itu dia berjalan seenaknya memasuki daerah itu, tidak tahu bahwa gerak-geriknya sudah diintai oleh banyak mata, karena dianggap sebagai hasil pancingan orang-orang pendek yang mempergunakan Yan Hui sebagai umpan!

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Ouw Yan Hui yang lihai itu dikeroyok oleh anak buah Su-ok dan akhirnya tertawan, dibelenggu di belakang kuil sebagai umpan karena Su-ok merasa yakin bahwa wanita lihai itu pasti datang bersama teman-temannya. Dan pagi hari itu, muncul seorang pemuda yang dari jauh saja sudah dikenal oleh Su-ok!

Seperti diketahui, Tek Hoat pernah membantu para pendekar ketika terjadi pertandingan di dalam benteng para pemberontak, dan Su-ok mengenal pemuda ini sebagai Si Jari Maut! Tahulah dia bahwa pemuda ini memiliki kepandaian tinggi dan terhitung musuh karena bukankah kemudian ternyata bahwa pemuda ini membantu fihak pendekar yang ikut menyerbu benteng? Maka diam-diam Su-ok sudah mempersiapkan lima orang sutenya yang lihai itu, mengikuti gerak-gerik Tek Hoat. Dan tepat seperti yang dia duga, pemuda itu menuju ke kuil, tentu saja untuk menolong wanita tawanan mereka itu! Padahal, Tek Hoat sendiri tidak pernah menduga bahwa di belakang kuil itu ada seorang wanita tertawan, dan kalau dia menuju ke kuil itu adalah karena kakinya telah merasa lelah dan dia hendak beristirahat di dalam kuil itu. Dan karena pikirannya banyak termenung, kewaspadaannya banyak berkurang dan dia tidak tahu bahwa ada beberapa orang mengintai gerak-geriknya.

Maka terkejutlah Tek Hoat ketika tiba-tiba saja dari balik pohon-pohon, semak-semak dan batu-batu berlompatan keluar lima orang cebol yang dengan buasnya serta-merta menerjang dan menyerangnya tanpa banyak cakap lagi!

“Eh, eh, eh, mau apa kalian ini?” bentaknya sambil mengelak ke kanan kiri.

“Ha-ha-ha, Si Jari Maut, kenapa kelihatan gugup? Hayo kau coba pecahkan Khai-lo-sin Ngo-heng-tin, ha-ha-ha!”

Mendengar suara orang itu dari atas, Tek Hoat menengok dan segera dia mengenal Su-ok Siauw-siang-cu, orang ke empat dari Ngo-ok yang lihai. Terkejutlah dia dan tahulah dia bahwa dia telah bertemu orang jahat, musuh yang tak mungkin dapat diajak bicara lagi. Maka dia pun lalu mencurahkan perhatiannya untuk membela diri. Kini, dia melihat betapa lima orang cebol itu mengurungnya, melangkah lambat-lambat mengitarinya, wajah mereka yang lucu-lucu dan aneh-aneh itu kelihatan menyeramkan, mata mereka terbelalak dan seperti mata binatang haus darah. Agaknya gerakan mereka itu dipimpin oleh kakek cebol yang brewok, karena empat yang lain selalu melirik ke arah si brewok ini. Maka Tek Hoat yang berdiri tegak di tengah-tengah lingkaran itu juga memperhatikan cebol brewok itu. Dan dugaannya itu memang tepat. Si brewok ini memang merupakan pimpinan dari Khai-lo-sin Ngo-heng-tin, yaitu barisan lima orang yang amat lihai dan yang kemarin telah merobohkan Ouw Yan Hui itu.

Tiba-tiba, seperti merupakan aba-aba, si brewok itu mengeluarkan bentakan yang parau seperti suara singa kelaparan dan tubuhnya yang pendek itu sudah bergerak. Serangan si brewok cebol itu amat dahsyat, tubuhnya melayang ke atas dan kedua tangannya mencengkeram ke arah mata dan leher Tek Hoat. Namun, dengan tenang Tek Hoat sudah memutar tubuhnya mengelak dan tangannya sudah siap untuk merobohkan lawan ini dengan pukulan dari bawah. Akan tetapi, pada saat itu, dari empat penjuru, empat orang cebol lainnya telah menyerbu dengan gerakan berbareng, dan terpaksa Tek Hoat harus menghadapi mereka semua itu dengan mengandalkan kelincahan gerakannya untuk mengelak karena masing-masing lawan yang bertubuh kecil pendek itu ternyata melakukan serangan yang cukup ampuh dan berbahaya.

Tubuh Tek Hoat masih belum sembuh betul dari kelemahan yang menyerangnya selama berbulan-bulan, dan selama itu, dia tidak pernah berlatih silat sehingga otot-ototnya kaku. Akan tetapi, begitu menghadapi bahaya, secara otomatis semua syaraf dan otot tubuhnya bekerja dan mulailah dia menggerakkan tubuhnya dengan penuh tenaga sinkang dan kini dia mulai membalas dengan tamparan, pukulan maupun tendangan. Dan setiap tamparannya yang ditangkis lawan tentu membuat lawan itu terdorong, bahkan angin pukulannya yang kuat membuat beberapa orang cebol mengeluarkan teriakan kaget. Tak mereka sangka bahwa lawan ini ternyata lebih lihai daripada wanita cantik itu!

Tek Hoat sama sekali tidak memandang rendah lawan, sungguhpun lima orang cebol yang mengeroyoknya itu seolah-olah hanya merupakan lima orang anak kecil yang nakal. Dengan hadirnya Su-ok di situ, dia dapat menduga bahwa tentu lima orang cebol ini pun berkepandaian tinggi. Maka dia pun cepat mengerahkan tenaga dan menggunakan seluruh kepandaian untuk menghadapi lima orang pengeroyok ini.

Melihat betapa lima orang itu setiap kali menyerang tentu mengarah nyawanya, Tek Hoat menjadi marah dan dia pun mengerahkan ilmunya yang ampuh, yaitu Toat-beng-ci (Jari Pencabut Nyawa), ilmu pukulan dengan jari yang membuat dia dikenal gebagai Si Jari Maut. Jari-jari tangan ini bukan hanya menotok jalan darah, akan tetapi sekali mengenai lawan akan langsung mencabut nyawa lawan. Jari-jari itu dapat memutus otot dan tulang, merusak jalan darah, bahkan dapat menusuk kepala!

Perkelahian yang terjadi ini amat hebat. Gerakan Tek Hoat, tidak begitu cepat karena dia yang cerdik, maklum bahwa tidak mungkin dia dapat mengandalkan kecepatan melawan lima orang yang memiliki gerakan teratur dan kerja sama yang amat baik seolah-olah dikemudikan oleh satu kepala saja itu. Dia bersilat dengan tenang, lambat namun gerakannya kuat sekali dan setiap bagian tubuhnya selalu terjaga dan terlindung.

Lima orang itu pun mengeluarkan semua kepandaian mereka. Gerakan mereka teratur dan saling membantu, saling melindungi, dengan serangan-serangan yang bertubi dan bergiliran secara teratur sekali, dan serangan mereka itu berubah-ubah dengan tenaga yang berubah-ubah pula sesuai dengan sifat Ngo-heng.

Namun, Tek Hoat yang bersikap tenang itu tidak menjadi gugup. Dia bersilat dengan ilmu silat gabungan Pat-mo Sin-kun dan Pat-sian Sin-kun, dan dia selalu mengerahkan tenaga Inti Bumi yang amat hebat sehingga setiap kali beradu lengan dengan seorang lawan, tentu lawan itu terpelanting. Namun begitu terpelanting, empat orang saudaranya telah melindunginya secara otomatis!

Seratus jurus telah lewat dan barisan Ngo-heng-tin itu belum mampu merobohkan Tek Hoat. Kalau tadinya Tek Hoat masih bersilat dengan lambat berhubungan dengan kekuatannya yang belum pulih, kini nampak dia mulai bersemangat, gerakan-gerakannya lebih dahsyat. Hal ini adalah karena Tek Hoat mulai “hidup” lagi semangatnya bertanding. Mengingat bahwa Su-ok merupakan seorang di antara mereka yang berusaha menawan Syanti Dewi dan mengganti kekasihnya itu dengan wanita palsu, semangatnya bangkit dan kemarahannya meluap.

“Bagus, kalian semua sudah bosan hidup agaknya!” dia membentak dan kini dari kedua tangan dengan jari-jari terbuka itu keluar hawa yang mengeluarkan suara bercuitan mengerikan!

Begitu dia memutar tubuh dan kedua lengannya dikembangkan, lima orang lawan itu terkejut, ada yang meloncat mundur, akan tetapi dua di antara mereka memberanikan hati menangkis.

“Dukkk! Dukkkkk!”

Dua orang itu terpelanting dan mereka berloncatan bangun dengan muka pucat. Lengan mereka terluka, kulitnya robek berdarah! Memang luka-luka itu tidak berat, akan tetapi setidaknya membuat mereka terkejut dan jerih sekali terhadap pemuda yang amat lihai ini. Melihat itu, Su-ok marah bukan main.

“Sute semua jangan takut, biar aku membantu kalian merobohkan bocah sombong ini!”

Tubuh yang pendek kecil itu menyambar turun langsung saja menerkam Tek Hoat dengan dahsyatnya. Namun Tek Hoat sudah siap siaga, dengan cepat dia meloncat mundur, kemudian mengirim tendangan yang juga dapat dielakkan oleh Su-ok. Lima orang cebol menjadi besar hati dan timbul kembali keberanian mereka ketika mereka melihat suheng mereka ikut maju mengeroyok, dan mereka kini menyerang dan menghujani Tek Hoat dengan pukulan-pukulan yang dibantu pula oleh berbagai macam senjata!






Tek Hoat mengamuk terus. Akan tetapi kini dia menghadapi lawan yang amat berat. Su-ok Siauw-siang-cu adalah seorang datuk kaum sesat yang sudah memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, sukar dicari bandingannya. Melawan kakek cebol ini sendirian saja masih amat sukar bagi Tek Hoat untuk menang, apalagi kini Su-ok dibantu oleh lima orang sutenya, dan dia sendiri baru saja sembuh dari sakit sehingga betapapun juga, dia belum dapat menguasai kembali seluruh kelincahan dan tenaganya. Betapapun juga, Tek Hoat tidak merasa gentar dan dia terus mengamuk, biarpun kini dia harus lebih banyak berloncatan dan mengerahkan tenaga untuk menangkis. Dia tidak mempunyai banyak kesempatan lagi untuk membalas serangan.

Tiba-tiba Su-ok meloncat ke depan, tubuhnya berjongkok rendah, kedua tangannya digerak-gerakkan secara aneh dan lima orang sutenya meloncat Ke kanan kiri menjauh! Tiba-tiba Su-ok mendorongkan kedua tangannya ke arah Tek Hoat dan terdengar dari perutnya keluar bunyi berkokok beberapa kali. Angin dahsyat menyambar dibarengi bau yang amis ke arah Tek Hoat.

Pemuda ini terkejut bukan main, mengenal ilmu pukulan yang dahsyat dan amat berbahaya, maka dia sudah meloncat jauh ke kanan di mana dia disambut dan dikurung oleh lima orang kakek cebol lairinya. Su-ok mengeluarkan pukulan Katak Buduk ini sebagai selingan dan selalu Tek Hoat meloncat jauh, tidak berani menghadapi pukulan ini dengan langsung, tidak berani menangkis, karena dari sambaran anginnya saja dia tahu bahwa pukulan itu mengandung hawa beracun yang amat berbahaya. Dia sendiri pun sudah memiliki tenaga ampuh, dan pukulan-pukulan beracun setelah dia mempelajari kitab-kitab peninggalan para tokoh Pulau Neraka, yaitu Cui-beng Koai-ong dari Bu-tek Siauw-jin.

Akan tetapi karena dia kalah tingkat dan kalah latihan, maka dia tahu bahwa menghadapi pukulan itu secara langsung amatlah berbahaya. Maka, dia lalu mengamuk dan makin mendesak lima orang sute dari Su-ok itu saja, dan begitu Su-ok datang menyerangnya, dia meloncat menjauhkan diri.

Sementara itu, setelah melihat bahwa penjaganya, Su-ok yang mengerikan itu, telah pergi dan agaknya ada suara perkelahian di sebelah depan kuil, Ouw Yan Hui berusaha untuk melepaskan belenggu kedua tangannya, Namun usahanya itu tidak berhasil. Belenggu dari rantai besi yang kokoh itu terlampau kuat baginya sehingga dia tidak berhasil mematahkannya, bahkan kedua pergelangan tangannya lecet-lecet dan terasa nyeri sekali. Hatinya mulai khawatir. Dia tidak tahu siapa yang datang dan bertanding dengan para orang cebol itu. Melihat betapa sampai lama orang itu dapat mempertahankan diri, jelas bahwa yang datang adalah orang yang pandai. Betapa inginnya untuk dapat bebas dan membantu orang itu, siapapun juga orangnya, untuk menghajar orang-orang cebol yang kurang ajar itu.

“Hui-ci...., sssttttt....!”

Yan Hui terkejut, menoleh dan wajahnya berseri melihat munculnya orang yang sama sekali tidak disangka-sangkanya akan muncul di tempat itu. Kiranya yang muncul adalah Syanti Dewi!

“Syanti! Cepat.... belengguku ini....” bisiknya kembali.

Syanti Dewi meloncat ke belakang pilar, menggunakan pedangnya untuk mematahkan belenggu yang mengikat kedua tangan Ouw Yan Hui. Setelah bebas, Ouw Yan Hui menggosok-gosok kedua pergelangan tangannya, memandang kepada Syanti Dewi dengan muka merah.

“Syanti.... ah, ternyata engkau malah yang rnenolongku! Mari kita bantu orang itu!”

Tanpa menanti jawaban lagi, tubuh Yan Hui mencelat keluar kuil, diikuti oleh Syanti Dewi. Seperti telah kita ketahui, dalam perjalanannya, Syanti Dewi melihat penduduk dusun diganggu sekumpulan orang cebol yang sakti menurut penuturan para perajurit Bhutan yang mengenalnya. Dia menyuruh para perajurit minta bantuan ke Kota Raja, Bhutan, sedangkan dia sendiri lalu melakukan penyelidikan pada pagi hari itu.

Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika dia tiba di kuil itu dari belakang, dia melihat Ouw Yan Hui terbelenggu pada pilar besar, sedangkan di bagian depan kuil itu terjadi perkelahian yang belum dia ketahui siapa orangnya. Tanpa ragu-ragu lagi dia lalu menolong gurunya, kemudian mengikuti Ouw Yan Hui ketika gurunya itu meloncat keluar kuil untuk membantu orang menghadapi para orang cebol yang sakti.

Ketika dua orang wanita cantik ini tiba di depan kuil, pertempuran antara Tek Hoat yang dikeroyok enam masih berlangsung seru, biarpun kini Tek Hoat hanya mengelak dan menangkis saja, sama sekali tidak mampu lagi membalas serangan. Pemuda itu sungguh hebat, masih dapat mempertahankan diri dan belum dapat dirobohkan.

“Manusia-manusia cebol terkutuk!” tiba-tiba Ouw Yan Hui membentak nyaring dan tubuhnya melesat ke depan, terjun ke dalam medan pertempuran.

Semua orang cebol kaget, terutama sekali si brewok yang langsung menerima serangan Ouw Yan Hui. Datangnya serangan demikian tiba-tiba dan pada saat itu, tubuhnya masih terhuyung oleh tangkisan Tek Hoat. Maka tanpa dapat dicegah lagi, tendangan Ouw Yan tepat mengenai lambungnya. Si brewok berteriak dan tubuhnya terlempar, perutnya mendadak menjadi mulas dan dia mengaduh-aduh.

Su-ok adalah seorang yang cerdik, juga licik. Dia tahu bahwa Tek Hoat Si Jari Maut amat berbahaya, bahkan setelah dibantu oleh lima orang sutenya, sampai ratusan jurus dia dan para sutenya belum mampu mengalahkan pemuda ini. Dan sekarang muncul wanita yang memiliki ginkang amat luar biasa itu.

Munculnya wanita yang terbelenggu itu membuktikan bahwa tentu ada orang sakti lain yang membebaskannya, maka tentu akan muncul orang-orang sakti lain. Keadaan menjadi berbahaya dan tidak menguntungkan bagi fihaknya, maka dia lalu mengeluarkan teriakan sebagai isyarat dan cepat dia meloncat jauh dan melarikan diri, diikuti oleh para sutenya, si brewok paling belakang karena dia harus berlari sambil memegangi perutnya yang masih mulas!

Tek Hoat berdiri dengan kepala terasa pening, berdenyut-denyut. Dia baru saja sembuh, akan tetapi tadi dia telah terlalu banyak mengerahkan tenaga sehingga kepalanya kini menjadi pening, dan dia tidak mengejar mereka yang melarikan diri. Dia tahu bahwa dia telah dibantu orang pandai, maka biarpun pandang matanya menjadi agak kabur karena kepeningan kepalanya, dia menengok dan memandang orang yang telah membantunya sehingga musuh melarikan diri. Dia melihat seorang wanita cantik jelita dan seorang wanita lain agak jauh di belakangnya.

“Dewi....! Ah, Syanti Dewi....!”

Dia berseru dan seperti orang mabuk dia terhuyung ke depan, menghampiri Syanti Dewi yang sejak tadi berdiri bengong ketika mendapat kenyataan bahwa orang yang bertanding dikeroyok banyak orang cebol dan dibantu oleh gurunya itu bukan lain adalah Ang Tek Hoat!

“Ahhh, engkau....!” Dia terisak lalu sekali meloncat dia telah melarikan diri.

“Syanti....! Syanti Dewi....! Jangan tinggalkan aku....!”

Tek Hoat meloncat dan mengejar akan tetapi kepalanya terasa makin pening dan dia tersandung, jatuh terguling.

“Syanti, tunggu dulu!”

Ouw Yan Hui yang menyaksikan semua itu menjadi bingung, akan tetapi dia lalu mengejar Syanti Dewi. Syanti Dewi tidak mau berhenti sehingga Ouw Yan Hui terpaksa terus mengejar sambil mengerahkan tenaganya karena muridnya itu telah memiliki ilmu berlari cepat yang hebat dan tidak jauh selisihnya dengan ilmunya sendiri. Suara panggilan dari mulut Tek Hoat sudah tidak terdengar lagi ketika akhirnya dia berhasil menyusul Syanti Dewi.

“Syanti, tunggulah aku ingin bicara denganmu!” kata Ouw Yan Hui. Syanti Dewi akhirnya berhenti dan mengusap beberapa butir air matanya.

Sejenak Ouw Yan Hui berdiri tertegun di depan muridnya itu. Dia adalah seorang wanita yang sudah banyak pengalaman, dan dia pernah mendengar penuturan Puteri Bhutan ini tentang riwayatnya.

“Syanti, apakah dia itu tadi yang bernama Ang Tek Hoat itu?”

Syanti Dewi masih menunduk, dan dia hanya mengangguk.

“Aih, Syanti, bagaimana engkau ini? Bukankah engkau dahulu mencari-carinya? Bukankah engkau menderita karena perpisahanmu dengan dia? Sekarang, setelah bertemu, mengapa engkau malah menjauhkan dirimu darinya?”

Diam-diam Ouw Yan Hui harus mengakui bahwa pria yang dicinta oleh muridnya itu adalah seorang pemuda yang tampan dan memiliki kepandaian tinggi, seorang yang patut menjadi jodoh puteri yang cantik jelita ini.

Akan tetapi Syanti Dewi hanya menangis. Syanti Dewi teringat akan nasibnya yang dianggapnya amat buruk. Harapannya yang mulai timbul kembali hancur berantakan. Kehidupannya yang penuh damai di Pulau Ular di sisi gurunya ini dihancurkan oleh kenyataan keji, oleh kebiasaan gurunya yang menjijikkan dan membuatnya lari ketakutan. Kemudian, pertemuannya dengan Tek Hoat yang menghidupkan kembali harapan dan cinta kasihnya, dihancurkan oleh kenyataan ketika Tek Hoat memakinya. Kini dia tidak tahu lagi ke mana harus pergi, dan apa yang harus diperbuat!

Melihat ini, Ouw Yan Hui merasa kasihan kepada Syanti Dewi dan dengan lembut tangannya menyentuh pundak Syanti Dewi. Akan tetapi, begitu pundak itu tersentuh, puteri itu tersentak kaget dan meloncat ke belakang, mengelak dan memandang kepada gurunya dengan mata terbelalak, mata yang amat indah, akan tetapi kini terbuka lebar seperti mata seekor kelinci yang ketakutan.

“Tidak....! Tidak.... jangan sentuh aku....!”

Melihat sikap muridnya ini, Ouw Yan Hui memandang dengan muka pucat, kemudian dia menjatuhkan diri di atas rumput, menutupi mukanya dan menarik napas panjang berkali-kali.

“Ahhh, sekarang aku mengerti mengapa engkau melarikan diri dari pulau.... maafkan aku, Syanti, bukan maksudku untuk membuat engkau terkejut dan ketakutan. Maafkan aku.... wanita yang kesepian dan sengsara ini....“ Dan Ouw Yan Hui, wanita yang angkuh dan bersikap dingin itu kini menangis tersedu-sedu!

Syanti Dewi tertegun. Sejenak dia berdiri seperti patung memandang kepada gurunya, kemudian timbul rasa iba di hatinya. Betapapun juga, dia telah berhutang banyak budi kepada gurunya ini, dan harus diakuinya bahwa gurunya ini merupakan sahabat yang amat baik, yang telah banyak melakukan kebaikan kepadanya, banyak menghiburnya, banyak pula mendidiknya, bahkan telah menyelamatkan nyawanya ketika Ouw Yan Hui membawanya lari dari dalam benteng yang terbakar. Akhirnya dia menjatuhkan diri berlutut di samping gurunya dan memegang lengan gurunya.

“Enci.... akulah yang harus minta maaf, telah pergi tanpa pamit.”

Ouw Yan Hui menurunkan kedua tangannya dan memandang melalui air matanya yang memenuhi kelopak matanya, dan dia mencoba untuk tersenyum, senyum pahit sekali.

“Tidak, Syanti, engkau tidak bersalah. Tentu engkau jijik dan ngeri menyaksikan apa yang kulakukan itu bersama bibi Maya Dewi....“ Dia menarik napas panjang dan mengusap air matanya.

“Tapi.... kenapa engkau lakukan perbuatan seperti itu, Enci Hui?”

“Ahhh, engkau tentu tidak mengerti, Syanti. Aku adalah wanita yang telah mengalami kehancuran hati karena pria, maka, anehkah kalau aku mencari hiburan antara sesama wanita? Memang aku lemah.... ah, akan tetapi.... sungguh mati aku tidak ingin menyeretmu ke dalam kebiasaan buruk itu. Aku sayang kepadamu, Syanti, seperti kepada adik sendiri. Aku merasa terkejut dan berduka sekali ketika engkau pergi, aku mencari-carimu untuk minta maaf. Dan siapa duga, engkau malah yang tadi telah menyelamatkan aku....”

“Tidak ada artinya, Enci. Engkau pun pernah menyelamatkan aku, bahkan telah melimpahkan banyak sekali kebaikan.”

“Syanti, kalau engkau memang mencinta pemuda itu, yang kulihat amat baik dan gagah perkasa, mengapa engkau lari meninggalkannya? Kulihat dia masih amat mencintamu, bahkan agaknya menderita karenamu....”

“Tidak! Dia keji, dia menyakitkan hati, biar dia menderita sekarang!”

Tiba-tiba Syanti Dewi mengepal tinju dan wajahnya membayangkan kemarahan, biarpun kembali air matanya mengalir keluar. Kemudian dia pun menceritakan semua yang telah dialaminya dengan Tek Hoat, betapa dia dituduh yang bukan-bukan oleh Tek Hoat setelah segala pengorbanan yang dilakukannya demi cintanya kepada pemuda itu. Ouw Yan Hui mendengarkan dengan penuh perhatian dan akhirnya dia pun mengangguk-angguk.

“Ah, pantas engkau merasa sakit hati. Memang sesungguhnya prialah mahluk berhati lemah, bukan wanita! Pria yang suka menyeleweng, yang tidak mempunyai keteguhan hati, tidak mempunyai kesetiaan, mudah tergoda oleh kesenangan! Memang sepatutnya kalau engkau memberi pelajaran kepadanya, Syanti. Mari engkau ikut saja bersamaku ke pulau, bersembunyi di sana dan kita hidup bahagia di sana, jauh dari godaan kaum pria yang mata keranjang dan berhati palsu.”

“Terima kasih, Enci. Memang aku senang sekali tinggal di sana, hanya....“

“Harap kau jangan ulangi lagi hal itu. Kasihanilah aku, Syanti. Aku merasa malu dan menyesal sekali telah membuatmu ketakutan. Aku berjanji bahwa engkau tidak akan melihat lagi hal seperti itu terjadi di pulau....“

“Akan tetapi.... bibi Maya....“

“Jangan khawatir, dia telah pergi dan tidak akan pernah datang lagi ke pulau.”

Syanti Dewi merasa girang dan hatinya terasa lapang.
“Aku girang sekali, Enci, akan tetapi aku hanya.... mengganggu kesenanganmu saja....“

“Tidak, kesenangan terkutuk itu memang harus dihentikan. Andaikata aku menghendaki, aku masih dapat melakukannya di luar pulau, di luar pengetahuanmu. Sudahlah, Syanti Dewi, mari kita pergi menikmati hidup berdua di sana.”

“Terima kasih, Enci. Aku pun berjanji tidak akan meninggalkan pulau lagi sampai datang.... dia yang minta-minta ampun kepadaku.”

“Aku mengerti, dan aku akan membantumu, adikku yang manis.”

Maka pergilah kedua orang wanita itu dengan perjalanan cepat sekali, menuju ke Kim-coa-to (Pulau Ular Emas) dan karena memang ada rasa sayang di antara keduanya, sebentar saja mereka telah akur dan akrab kembali. Di sepanjang perjalanan, semua orang, terutama yang pria, tentu memandang mereka dengan sinar mata penuh kagum karena mereka merupakan dua orang wanita yang luar biasa cantiknya, dengan pakaian yang mewah pula dan Ouw Yan Hui amat royal mengeluarkan uang di sepanjang perjalanan. Seperti dua orang puteri istana saja yang sedang melakukan tamasya tanpa pengawalan!

**** 149 ****