FB

FB

Ads

Kamis, 18 Juni 2015

Jodoh Rajawali Jilid 147

“Locianpwe yang terhormat, kalau boleh saya bertanya, siapakah nama Locianpwe?”

Siluman Kucing bertanya sambil menjura ke arah kakek tua renta yang duduk bersila dengan kedua mata terpejam itu.

Tentu saja kehadiran wanita itu sudah diketahui oleh Dewa Bongkok. Akan tetapi mendengar pertanyaan itu, Dewa Bongkok sama sekali tidak mau menjawab, bergerak pun tidak. Dia tidak pernah mau memperkenalkan diri kepada siapapun, apalagi kepada seorang wanita yang gerak-geriknya penuh kecabulan dan kejahatan itu. Maka dia diam saja, dan juga dia memang tidak ingin berurusan dengan siapapun di saat itu.

Mauw Siauw Mo-li mengerutkan alisnya. Kakek itu sama sekali tidak mau menjawab, dan dia menduga bahwa kakek ini tentu seorang tokoh berilmu tinggi yang menyembunyikan diri. Akan tetapi, dia cerdik sekali dan dia tahu bagaimana caranya untuk memaksa kakek itu membuka suara! Dia tahu bahwa kelemahan dari pada locianpwe adalah keangkuhan! Kalau disentuh keangkuhannya, para Locianpwe biasanya lalu melakukan tanggapan.

“Locianpwe, di dalam hutan saya melihat Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi telah tewas terbunuh orang. Siapakah yang telah membunuh mereka?”

Kembali tidak ada jawaban dari kakek itu. Dan suara Mauw Siauw Mo-li yang sengaja dikeluarkan dengan pengerahan khikang itu bergema di dalam hutan di bawah lereng itu. Setelah gema itu mengaung, sunyi kembali keadaan di situ.

Siluman Kucing mengerutkan alisnya dan mencari akal.
“Saya tadinya menduga bahwa Locianpwe yang membunuh mereka, akan tetapi melihat Locianpwe diam saja, saya menjadi ragu-ragu. Seorang seperti Locianpwe, kalau melakukan sesuatu, tentu berani mengaku dan mempertanggung-jawabkannya, berbeda dengan para siauw-jin (orang hina) yang berwatak pengecut tidak berani mengakui perbuatannya!”






Memang cerdik sekali Siluman Kucing. Dewa Bongkok bukan termasuk tokoh yang suka mengangkat diri atau berwatak angkuh, sebaliknya malah dia selalu menyembunyikan dirinya. Akan tetapi ucapan wanita itu tentu saja menggugah watak gagah yang selalu di junjung tinggi oleh semua kaum pendekar di dunia kang-ouw. Lebih baik mati daripada disebut pengecut hina! Seorang pendekar tentu akan selalu berani mempertanggungjawabkan semua perbuatannya dan berani menghadapi semua akibat daripada perbuatannya! Maka, mendengar ucapan itu, sepasang mata itu terbuka memandang ke arah Mauw Siauw Mo-li.

“Ihhhhh....!”

Mauw Siauw Mo-li undur dua langkah. Dia terkejut dan merasa ngeri melihat betapa sepasang mata itu mencorong dan seolah-olah mengeluarkan sinar kilat yang menyambar ke arahnya. Belum pernah dia melihat mata yang mencorong seperti itu, seperti bukan mata manusia!

“Aku tidak membunuh mereka, adalah mereka yang memukulku sehingga mereka tewas karena tenaga mereka sendiri!”

Setelah berkata demikian, Dewa Bongkok kembali memejamkan matanya dan tidak mau berkata apa-apa lagi. Baginya sudah cukup pengakuan ini dan dia tidak mau membicarakan hal itu dengan wanita ini.

Mendengar ucapan itu, tahulah kini Siluman Kucing bahwa dugaannya tidak keliru. Kakek ini telah bertanding melawan suhengnya dan Hek-hwa Lo-kwi sehingga kedua orang itu tewas dan kakek ini sendiri mengalami luka parah. Dalam keadaan terluka parah dan sedang mengobati lukanya itu, tentu kakek yang amat sakti ini berkurang banyak kelihaiannya. Namun, Mauw Siauw Mo-li tetap bersikap hati-hati dan tidak mau ceroboh yang akan mengakibatkan kerugian bagi dirinya sendiri. Dia tidak mau langsung menyerang kakek itu.

“Mengapa Locianpwe memandang rendah sekali kepada saya? Sebaiknya Locianpwe duduk di atas tanah agar tidak terlalu tinggi hati!”

Setelah berkata demikian, Siluman Kucing itu lalu mendorong dengan kedua tangannya ke arah batu besar yang diduduki oleh Dewa Bongkok. Dorongan itu mengandung tenaga sinkang yang amat kuat dan hawa pukulan yang dahsyat menyambar dan mendorong batu itu. Batu itu terguling dan tubuh Dewa Bongkok ikut pula terguling, tanpa kakek itu dapat mempertahankan diri. Tentu saja kalau dia hendak mempertahankan diri, bukanlah hal sukar.

Akan tetapi dalam keadaannya seperti saat itu, amatlah berbahaya baginya untuk mempergunakan tenaga sinkangnya. Sekali mengerahkan sinkang, lukanya yang sudah sembuh sebagian itu tentu akan terbuka dan kambuh kembali, bahkan mungkin akan lebih hebat sehingga dapat mengakibatkan kematiannya. Oleh karena itulah, ketika batu besar itu terguling, dia pun ikut terguling dan terbanting ke atas tanah. Namun, kakek ini lalu merangkak bangun dan duduk bersila kembali ke atas tanah.

Melihat ini, Siluman Kucing menjadi heran dan juga girang. Kalau kakek ini sudah dapat membunuh dua orang seperti Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi, jelas bahwa kakek itu tentu seorang yang sakti luar biasa. Akan tetapi, sekarang, dengan sekali dorong saja batu itu roboh bersama tubuh kakek itu yang kelihatan sama sekali tidak mampu menjaga diri, dia pun tahu bahwa kakek itu benar-benar telah terluka parah dan tidak berani mempergunakan sinkangnya!

“Hi-hi-hi-hi-hik! Kiranya engkau telah terluka parah? Tahukah engkau siapa aku, orang tua buruk? Aku adalah Lauw Hong Kui, sumoi dari Hek-tiauw Lo-mo yang telah kau bunuh. Nah, aku datang untuk membalaskan kematian suhengku!” setelah berkata demikian, Siluman Kucing itu menerjang ke depan, ke arah kakek yang duduk bersila di atas tanah itu.

Dengan pengerahan tenaga sinkangnya, tangannya menyambar dan menampar ke arah kepala Dewa Bongkok yang botak.

“Syuuuuuttt.... plakkk!”

Dewa Bongkok tentu saja tidak mau menerima kematian secara konyol. Dia tidak berani mengerahkan sinkang karena hal ini dapat berarti bunuh diri, maka dia pun miringkan kepalanya ketika merasa ada angin dahsyat menyambar kepalanya. Pukulan itu luput, akan tetapi masih menghantam pundaknya sehingga untuk kedua kalinya tubuh Dewa Bongkok terguling-guling! Namun dia sudah duduk lagi bersila.

Makin giranglah hati Mauw Siauw Mo-li karena dia yakin bahwa semua dugaannya benar belaka. Biarpun jelas bahwa kakek itu amat lihai, terbukti bahwa dalam keadaan duduk bersila tanpa melawan tadi kakek itu telah mampu mengelak sehingga kepalanya terluput dari tamparannya yang sedemikian cepatnya. Akan tetapi ketika tangannya menampar pundak, dia sama sekali tidak merasakan ada hawa sinkang yang menolaknya, tanda bahwa benar-benar kakek sakti itu tidak berani mengerahkan sinkang! Kakek itu lebih mengandalkan kelemasan untuk menerima tamparan tadi, membiarkan tubuhnya terguling sehingga tamparan itu hanya membuatnya terbanting tanpa mendatangkan luka parah karena dia sama sekali tidak melawan.

“Hi-hi-hik, tua bangka, bersiaplah engkau untuk mampus!” bentaknya dan dia sudah menerjang maju lagi.

Dewa Bongkok maklum bahwa dia tidak akan mampu melawan dalam keadaan seperti itu. Kalau dia mengerahkan sinkang, tentu dia akan mampu menewaskan wanita ini dengan mudah, walaupun untuk itu dia sendiri akan berkorban nyawa. Akan tetapi, kakek ini tidak ingin membunuh orang, apalagi dalam keadaan mendekati akhir hidupnya itu. Kalau dua hari yang lalu dia menewaskan Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi, hal itu terjadi karena dia tidak sengaja, karena dia diserang dengan tiba-tiba sehingga pengerahan sinkang yang otomatis membuat tenaga pukulan mereka membalik dan mengakibatkan tewasnya dua orang itu. Kini, dia tidak mau melakukan pembunuhan dan dia hanya menanti datangnya maut melalui tangan wanita yang tidak dikenalnya ini.

“Wuuuuuttt.... plakkk!”

Siluman Kucing memekik kaget dan meloncat mundur. Pukulannya telah ditangkis oleh sinar hitam yang panjang dan ternyata yang menangkis lengannya itu adalah seekor ular hitam besar dan panjang yang kini melingkar di lengan dan leher seorang dara cantik jelita berpakaian serba hitam!

“Hwee Li!” bentaknya dengan marah. “Engkau melawan bibi gurumu?”

Dara yang telah menangkis pukulan Siluman Kucing yang menyelamatkan nyawa Dewa Bongkok tadi memang benar Hwee Li adanya. Seperti kita ketahui, dara ini mengalami guncangan batin yang hebat ketika ditinggal kekasihnya yang menyatakan benci kepadanya karena dia keturunan pemberontak, bahkan gurunya sendiri, Ceng Ceng, juga memutuskan hubungan dan tidak mau mengakuinya lagi. Hal ini amat menyedihkan hatinya, akan tetapi karena memang pada dasarnya Hwee Li berwatak keras, lincah dan gembira, penderitaan batinnya itu tertutup oleh kelincahannya dan hanya mukanya yang agak pucat itu saja yang menjadi bukti bahwa di lubuk hatinya, dara ini menderita batin yang amat hebat.

Memang pada kenyataannya, watak Hwee Li jauh sekali bedanya dengan watak Hek-tiauw Lo-mo, orang yang selama belasan tahun dia anggap ayah kandungnya sendiri. Biarpun semenjak kecil dia dididik oleh seorang manusia iblis seperti Hek-tiauw Lo-mo sehingga Hwee Li memiliki sifat-sifat liar yang keras, namun pada lubuk hatinya dia menjunjung tinggi kegagahan dan tidak suka bertindak sewenang-wenang, bahkan lebih condong untuk melindungi orang-orang lemah tertindas. Apalagi setelah dia berkenalan dengan orang-orang gagah, bahkan kemudian dia memperoleh didikan dari Ceng Ceng, sifat kegagahan seorang pendekar ini menonjol. Hal ini makin kuat ketika dia menemukan rahasia bahwa dia sesungguhnya bukan anak kandung Hek-tiauw Lo-mo.

Dia merasa lain dan berbeda dengan golongan Hek-tiauw Lo-mo, bahkan dia menentang tindakan-tindakan mereka seperti nampak ketika dia menjadi tawanan Pangeran Liong Bian Cu yang tergila-gila kepadanya. Maka, ketika secara kebetulan dia melihat Mauw Siauw Mo-li, hendak menghantam seorang kakek botak tua renta yang kelihatannya tidak berdaya dan tidak melawan, bangkit kemarahannya dan segera dia turun tangan menangkis pukulan itu dengan menggunakan ular hitamnya yang panjang.

Sambil tersenyum dan sepasang matanya menatap wajah Mauw Siauw Mo-li dengan tajam, dia menjawab,

“Sudah tentu, Mauw Siauw Mo-li. Mana mungkin aku membiarkan saja engkau melakukan perbuatan jahat dan sewenang-wenang, membunuh seorang kakek yang tidak berdaya dan tidak melawan? Seharusnya engkau merasa malu untuk menyerang seorang kakek tua tidak melawan!”

“Bocah setan! Engkau menyebut namaku begitu saja? Bukankah aku ini bibi gurumu?”

“Aku tidak mempunyai bibi guru seperti engkau! Engkau jahat, kejam dan curang!”

“Eh, Hwee Li, berani engkau kurang ajar! Engkau murid murtad! Ingat, aku adalah sumoi dari ayahmu!” Mauw Siauw Mo-li membentak marah. “Kau tahu apa yang telah terjadi dengan ayahmu? Ayahmu, Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi telah tewas oleh kakek itu! Hayo kita bunuh dia sebelum dia sembuh kembali dari lukanya untuk membalas kematian ayahmu!”

Setelah berkata demikian, Mauw Siauw Mo-li melompat dan hendak menerjang Dewa Bongkok. Akan tetapi nampak bayangan hitam berkelebat dan Hwee Li sudah menghadang di depannya.

“Tidak! Engkau tidak boleh membunuhnya!” katanya dengan wajah keras dan suara tegas.

Mauw Siauw Mo-li mengerutkan alisnya dan perlahan-lahan mukanya berubah merah, matanya berapi-api tanda bahwa wanita ini sudah kehilangan kesabarannya. Kalau tadi dia masih bersikap sabar adalah karena dia masih mengingat bahwa dara ini adalah murid keponakannya.

“Hwee Li, siapakah kakek ini dan apamukah dia maka engkau hendak melindunginya?”

“Bukan apa-apa. Aku tidak kenal padanya, akan tetapi jelas bahwa dia adalah seorang tua renta yang sudah terluka dan tidak berdaya, maka kalau engkau berkeras hendak membunuhnya, akulah yang akan membelanya!”

“Keparat, murid murtad engkau!” bentak Mauw Siauw Mo-li dan dia sudah menerjang ke depan dan menyerang Hwee Li dengan pukulan maut.

Namun, dengan lincahnya Hwee Li mengelak ke kiri dan dari sini kakinya meluncur dengan tendangan kilat ke arah lambung bibi gurunya!

“Ehhh!”

Mauw Siauw Mo-li terkejut dan makin marah. Kiranya murid keponakannya ini benar-benar berani melawannya.

“Singgg....!”

Sinar hijau nampak dan Siluman Kucing itu telah mencabut sebatang pedang, lalu dia menubruk ke depan dan menyerang dengan dahsyatnya.

Hwee Li cepat berloncatan menghindarkan diri, kemudian tiba-tiba sinar hitam meluncur dari tangannya dan ular hitam itu telah digerakkan seperti senjata, menyerang dan mematuk ke arah leher Lauw Hong Kui. Wanita ini cepat menarik tubuh ke belakang dan mengibaskan pedang untuk membacok putus leher ular itu. Namun, ular itu amat gesit, sudah mengelak dengan leher dilengkungkan, dan pada saat itu, tangan kiri Hwee Li telah melancarkan pukulan tangan kiri yang mengandung uap berwarna putih. Itulah pukulan beracun yang berbau harum.

“Ihhh....!”

Untuk kedua kalinya Mauw Siawu Mo-li terkejut dan cepat dia mengelak, kemudian dia memutar pedangnya dengan cepat sehingga lenyaplah bentuk pedang itu, berubah menjadi segulung sinar hijau yang melingkar-lingkar dan menyambar ke sana-sini dengan hebatnya.

Terjadilah perkelahian yang amat seru dan mati-matian. Setelah mendapatkan gemblengan dari Ceng Ceng dan petunjuk-petunjuk dari suami gurunya itu, yaitu Si Naga Sakti Gurun Pasir, kini tingkat kepandaian Hwee Li sudah naik tinggi sehingga tidaklah mudah bagi Mauw Siauw Mo-li untuk mengalahkannya. Sebaliknya, Hwee Li pun merasa sukar untuk mengalahkan bekas bibi gurunya yang lihai ini. Sampai seratus jurus mereka bertanding, masih belum ada yang nampak terdesak.

Diam-diam Mauw Siauw Mo-li menjadi penasaran sekali. Masa dia tidak mampu mengalahkan bekas murid keponakannya? Tiba-tiba dia mengeluarkan bentakan nyaring dan tangan kirinya melemparkan sebuah benda ke atas tanah. Terdengar ledakan dan nampak asap mengepul tinggi. Hwee Li maklum akan kelihaian bibi gurunya ini menggunakan bahan-bahan ledak, maka dia pun cepat meloncat jauh ke kiri. Akan tetapi kembali dia disambut oleh ledakan yang membuat pandang matanya gelap dan pada saat itu, dia masih melihat sinar hijau meluncur ke arah dadanya. Cepat dia melempar tubuh ke belakang dan menggerakkan ular hitamnya untuk menangkis.

“Crakkk!”

Ularnya terbabat putus menjadi dua dan terdengar suara ketawa mengejek dari Siluman Kucing itu, suara ketawa yang bercampur dengan suara kucing, ciri khas dari wanita ini!






“Setan!”

Hwee Li memaki dan membuang bangkai ular itu, kemudian dia mengelak dari sambaran pedang berikutnya, lalu membalas dengan tamparan tangannya yang juga dapat dielakkan oleh lawan. Melihat Hwee Li kehilangan senjata ular yang ampuh itu, Mauw Siauw Mo-li tertawa lagi.

“Hwee Li, hayo kau berlutut minta ampun kepada bibi gurumu, baru aku ampuni engkau dan lekas kau bunuh kakek itu untuk membalas kematian ayahmu!” Dia masih tidak ingin membunuh dara cantik itu.

“Siluman betina!”

Hwee Li memaki dan tubuhnya sudah meluncur ke depan, kedua tangannya mengirim pukulan berantai yang cepat dan kuat. Mauw Siauw Mo-li menjadi marah.

“Bagus, engkau sudah bosan hidup!” bentaknya dan dia memutar pedangnya, namun dara itu benar-benar lihai.

Biarpun kini tidak lagi memegang ular sebagai senjata, namun setiap serangan pedang dapat dielakkannya dengan mudah, bahkan untuk setiap serangan dia membalas kontan dengan pukulan atau tendangan yang tidak kalah bahayanya.

Mauw Siauw Mo-li makin gemas. Kembali tangannya melempar sebuah benda, sekali ini benda itu dilemparkan ke arah Dewa Bongkok! Melihat ini, Hwee Li menjerit dan tubuhnya meluncur ke samping, cepat dia menyambar benda itu sebelum mengenai tanah dan meledak, kemudian dia melontarkan benda itu ke arah pemiliknya. Terdengar ledakan keras dan asap makin memenuhi tempat itu. Tiba-tiba ada angin menyambar dari kanan. Hwee Li maklum bahwa bibi gurunya itu menyerang dengan hebat, maka dia mengelak dan membalas dengan tendangan.

“Singgggg.... brettttt!”

Sinar hijau menyambar di antara gumpalan asap dan celana kiri Hwee Li di bagian paha terobek ujung pedang, berikut kulit dan sedikit dagingnya sehingga paha itu luka berdarah.

“Ha-ha-ha, bocah murtad, engkau tidak lekas berlutut?” bentak Mauw Siauw Mo-li sambil tertawa dan mendesak dengan pedangnya.

Hwee Li terpincang-pincang, namun dara yang berhati baja ini sama sekali tidak mau tunduk, bahkan sambil mengelak dia masih mencoba untuk balas menyerang. Akan tetapi, karena pahanya sudah terluka yang membuatnya terpincang, gerakan kakinya menjadi kaku dan tentu saja kegesitannya berkurang sehingga ia mulai terdesak hebat oleh pedang di tangan Siluman Kucing.

“Serang lambung kirinya!” tiba-tiba Hwee Li mendengar bisikan halus dan dia mengenal suara kakek tua renta yang bersamadhi itu.

Suara itu demikian halus namun jelas sekali, seperti diucapkan di dekat telinganya saja, maka tahulah dia bahwa kakek itu telah mempergunakan Ilmu Coan-im-jip-bit (Mengirim Suara Dari Jauh) untuk membantunya. Karena dia merasa yakin bahwa kakek itu adalah seorang yang amat sakti, maka dengan membuta dia lalu mengikuti petunjuknya dan tiba-tiba dia menerjang dengan serangan hebat ke arah lambung kiri Siluman Kucing.

“Ihhh....!”

Siluman Kucing menjerit kaget karena pada saat itu memang lambung kirinya “terbuka” dan merupakan bagian yang paling lemah dari kedudukannya. Dia masih dapat melempar dirinya ke kanan sehingga terjangan Hwee Li itu luput sungguhpun dia sudah rnerasakan hawa pukulan menyerempet lambungnya. Kalau saja Hwee Li tadi tidak terheran dan sedikit terlambat, tentu serangannya sudah mengenai sasaran.

Siluman Kucing tidak tahu bahwa lawannya diberi petunjuk oleh kakek itu. Dia mengira bahwa serangan Hwee Li tadi hanya kebetulan saja, maka bangkitlah kemarahannya karena dia nyaris celaka. Sambil mengeluarkan lengking panjang pedangnya menusuk dan membacok kembali dengan bertubi-tubi dan kini Hwee Li terdesak lagi seperti tadi. Hwee Li terpaksa mengelak ke sana-sini dengan kakinya yang pincang. Dia merasa menyesal mengapa tadi dia agak terlambat sehingga petunjuk kakek itu tidak dipergunakan sebaiknya. Kalau dia tidak agak meragu, dia yakin bahwwa serangan tadi pasti mengenai sasaran.

“Tendang lutut kiri dan hantam pundak kanan!” kembali terdengar bisikan dan sekali ini Hwee Li bergerak secara otomatis menurutkan petunjuk itu tanpa mempedulikan hal lain.

Dia mentaati secara membuta dan secara cepat sekali dan hasilnya luar biasa! Terdengar Siluman Kucing menjerit dan biarpun dia berusaha melempar tubuh ke belakang, namun hantaman ke arah pundaknya itu tetap saja mengenai sasaran.

“Plakkk....! Aduhhhhh....!”

Pedang di tangan Siluman Kucing terlepas karena begitu pundaknya kena dihantam, lengan kanannya seperti lumpuh. Tadi dia terkejut melihat tendangan tiba-tiba dari Hwee Li yang ditujukan kepada lutut kirinya. Tendangan itu memang tepat dan berbahaya sekali karena pada saat itu, kuda-kudanya dititik beratkan kepada kaki kirinya yang berada di depan. Maka dia cepat menarik kaki kirinya agar lututnya yang dalam keadaan “terbuka” itu jangan kena tendang, akan tetapi siapa kira, gerakannya ini seperti telah dapat diduga terlebih dulu oleh dara itu yang sudah mengirim pukulan ke arah pundak kanannya pada saat pundak itu dalam keadaan tak terjaga.

Siluman Kucing terhuyung ke belakang dan merasa jerih. Lama dia tidak bertemu dengan murid keponakannya ini dan kiranya sekarang telah memiliki kepandaian yang demikian lihai! Melawan Hwee Li saja dia kewalahan dan hampir roboh, apalagi kalau kakek itu turun tangan membantu! Maka dia lalu mengeluarkan teriakan panjang seperti seekor kucing yang terpijak ekornya, dan tubuhnya sudah meloncat jauh ke belakang dan sebentar saja Siluman Kucing telah lenyap.

Hwee Li cepat mengambil pedang yang ditinggalkan oleh bekas bibi gurunya itu, dan dia menoleh ke arah Dewa Bongkok. Kakek itu masih duduk bersila di atas tanah, memejamkan kedua matanya. Hwee Li menarik napas panjang. Benar dugaannya. Kakek ini lihai bukan main akan tetapi berada dalam keadaan terluka parah. Kalau saja kakek aneh itu tidak membantunya dengan dua kali bisikan dan petunjuk, agaknya tidak mungkin dia dapat menangkan Mauw Siauw Mo-li yang lihai, apalagi karena pahanya telah terluka.

Hwee Li menghampiri kakek itu, sejenak memandang kakek yang masih bersamadhi dengan tekunnya. Dia tidak mau mengganggu, teringat bahwa kakek itu terluka parah dan sedang mengobati luka sendiri. Hwee Li lalu menjatuhkan diri duduk di atas rumput, memeriksa pahanya yang terluka dan menaruhkan obat bubuk kepada lukanya. Dia menyeringai. Perih sekali obat itu, akan tetapi dengan cepat dapat menutup luka dan menghentikan keluarnya darah. Dengan saputangan yang bersih dibalutnya paha yang terluka itu, kemudian dia pun duduk bersila tak jauh dari kakek itu. Dia mengambil keputusan untuk menjaga dan melindungi kakek itu sampai kakek itu sembuh dan dapat membela diri sendiri.

Demikianlah, kini di tempat sunyi itu nampak dua orang duduk bersila dalam samadhi! Setelah memulihkan tenaganya dan rasa nyeri di pahanya yang terluka berkurang, Hwee Li membuka matanya, lalu bangkit berdiri. Dia merasa lapar sekali. Kakek itu masih tetap duduk bersila seperti tadi, napasnya panjang-panjang dan sebagai seorang muda yang terlatih, Hwee Li maklum pula bahwa kakek itu memang benar sedang berdaya untuk mengobati dirinya sendiri. Maka dia pun tidak berani mengganggu, dan hanya ingin menunggu sampai kakek itu selesai mengobati luka di dalam tubuhnya. Pergilah Hwee Li untuk mencari makanan pengisi perutnya yang lapar.

Akan tetapi karena dia tidak berani meninggalkan kakek itu terlampau jauh, dia hanya mencari di sekitar tempat itu dan akhirnya dia hanya bisa mendapatkan akar-akaran yang dapat dimakan! Tidak ada pohon-pohon buah di hutan dekat situ dan dia tidak melihat binatang hutan pula. Akan tetapi, akar-akaran itu cukup enak kalau dibakar.

Maka dia lalu membuat api dan mulai memanggang akar-akaran itu. Dimakannya sebagian dari makanan itu dan sebagian lagi disisihkannya untuk kakek itu kalau sudah sadar dari samadhinya nanti. Bukan menjadi kebiasaan Hwee Li untuk mencampuri urusan orang. Akan tetapi dia tidak suka kepada Mauw Siauw Mo-li yang dia tahu merupakan seorang iblis betina yang selain kejam dan curang, juga cabul itu. Maka, melihat bekas bibi gurunya itu tadi hendak membunuh kakek ini, dia lalu turun tangan menentang.

Kemudian dia mendengar bahwa kakek ini telah membunuh Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi, maka dia merasa tertarik sekali. Hek-tiauw Lo-mo adalah musuh besarnya, yang telah merusak kehidupan ibu kandungnya, bahkan hampir saja menjerumuskan dia ke dalam lembah kehinaan dengan “menjualnya” kepada Pangeran Liong Bian Cu. Maka, mendengar bekas ayahnya dan juga musuh besarnya itu terbunuh oleh kakek ini, dia merasa tertarik sekali untuk bicara dengan kakek ini. Di samping itu, juga dia tidak ingin melihat kakek ini terancam bahaya dan terbunuh oleh Mauw Siauw Mo-li, maka dia lalu menjaganya dan menanti sampai kakek itu selesai mengobati dirinya sendiri.

Akan tetapi, sehari penuh dia menanti dan hari telah berganti malam, namun kakek itu masih belum juga bangun dari samadhinya! Hati Hwee Li mulai menjadi kesal. Dia bukan seorang gadis yang penyabar. Akan tetapi melihat betapa nyamuk-nyamuk mulai merubung tubuh kakek itu dan tentu merupakan gangguan bagi samadhinya, timbul rasa kasihan di hatinya. Dibuatnya api unggun dan diusirnya nyamuk-nyamuk itu. Setelah kehangatan api unggun mengusir dingin dan nyamuk, barulah dia duduk di dekat api unggun dan menoleh kepada kakek itu sambil mengomel.

“Kalau sampai besok pagi engkau belum juga terbangun, jangan salahkan aku kalau terpaksa aku meninggalkanmu, Kek. Aku masih harus melakukan perjalanan jauh, mencari orang yang entah ke mana perginya!”

Dia menarik napas panjang, lalu merebahkan diri di atas daun-daun kering yang dikumpulkannya di tempat itu, rebah miring menghadapi api dan termenung ke dalam nyala api yang menjilat-jilat.

Malam itu Hwee Li hanya dapat tidur ayam, yaitu antara tidur dan sadar, terkantuk-kantuk di dekat api unggun. Biarpun kadang-kadang dia tertidur, namun kesadarannya masih selalu waspada sehingga sedikit suara saja akan cukup untuk membangunkannya, juga dia selalu tahu kalau api unggun padam atau mengecil sehingga cepat dia bangun dan menambah kayu bakar. Berkali-kali, kalau terbangun, dia menengok kepada kakek itu dan ternyata kakek itu masih saja duduk bersila dan tenggelam dalam samadhi seperti siang tadi!

Pada keesokan harinya, setelah sinar matahari menerangi tanah, Hwee Li memanggang lagi beberapa potong akar-akaran untuk dimakan dan sebagian dia letakkan di depan kakek itu bersama pedang yang ditinggalkan oleh Mauw Siauw Mo-li kemarin.

“Kek, terpaksa aku harus meninggalkanmu. Ini ubi bakar untukmu, dan ini pedang untuk menjaga diri kalau ada penjahat hendak mengganggumu. Maafkan aku, Kek, aku tidak bisa menjagamu di sini selamanya!” Hwee Li menatap wajah itu dan tiba-tiba sepasang mata itu terbuka.

“Ihhhhh....!”

Hwee Li terkejut dan terlompat mundur. Sepasang mata kakek itu benar-benar mempunyai cahaya yang mengejutkan, mencorong seperti mata harimau di tempat gelap! Akan tetapi kagetnya segera lenyap ketika dia melihat betapa sepasang mata itu biarpun mencorong aneh, namun memandang kepadanya dengan lembut dan mulut tua itu mengulum senyum. Dia mendekat lagi, duduk di dekat kakek itu sambil memandang wajahnya yang agak pucat.

“Thian Yang Maha Kuasa....“ terdengar kakek itu berkata halus, “Kalau belum berkenan mencabut nyawa seorang tua seperti aku, ada saja yang menyelamatkan. Agaknya masih belum cukup hukumanku maka aku masih diberi usia panjang....“

Mendengar keluhan ini, Hwee Li tersenyum geli.
“Kek, orang lain minta umur panjang, mengapa engkau sebaliknya mengomel diberi umur panjang? Dan tentang menolong tadi, aku tidak tahu siapa menolong siapa. Kalau tidak ada engkau yang membisiki dua jurus serangan kemarin, mungkin aku yang tidak bisa berumur panjang!”