FB

FB

Ads

Kamis, 18 Juni 2015

Jodoh Rajawali Jilid 146

Kakek itu melangkah satu-satu di daerah tandus itu, tubuhnya yang bongkok nampak semakin bongkok karena mukanya menunduk, seolah-olah dia meneliti setiap batu yang dilalui kakinya, atau seolah-olah dia menghitung setiap langkahnya. Keadaan kakek itu sungguh menyedihkan, dan janggallah melihat dia melakukan perjalanan di tempat yang liar dan sukar ini. Melihat wajahnya, mudah diduga bahwa kakek ini sudah tua renta, dan keadaan tubuhnya yang tua itu cacat, punggungnya bongkok dan lengan kirinya buntung sebatas pundak! Pantasnya seorang tua renta yang cacat seperti itu tinggal di rumah saja, dilayani cucu-cucunya. Akan tetapi, kakek ini berjalan seorang diri di tempat sunyi itu, melangkah satu-satu dengan tubuh bongkok dan tangan tunggalnya, hanya yang kanan saja itu memegang sebatang tongkat kayu yang agaknya dipergunakan untuk membantu menopang tubuhnya yang bongkok. Seorang kakek yang cacat dan lemah.

Kakek lemah? Orang akan kaget dan kecelik kalau tahu siapa adanya kakek ini. Sama sekali bukan kakek lemah sungguhpun nampaknya demikian, karena kakek ini bukan lain adalah Go-bi Bu Beng Lojin (Kakek Tanpa Nama Dari Go-bi), yaitu Si Dewa Bongkok!

Dewa Bongkok sama sekali bukanlah seorang kakek lemah, sebaliknya malah. Dia adalah penghuni dari Istana Gurun Pasir, dan kesaktiannya sedemikian luar biasa sehingga dia dijuluki dewa! Namanya amat terkenal, dan di daerah utara yang liar itu tidak ada seorang pun raja suku bangsa liar yang berani mengganggunya. Sedangkan di selatan, namanya terkenal sebagai seorang tokoh dongeng karena memang tidak sembarang orang dapat mengunjungi istana di gurun pasir itu.

Namanya sejajar dengan nama majikan Pulau Es yang juga dikenal sebagai seorang tokoh dongeng. Akan tetapi, nama Go-bi Bu Beng Lojin masih jauh lebih dulu dikenal dalam dongeng daripada nama majikan Pulau Es, karena memang Dewa Bongkok ini jauh lebih tua.

Tentu orang akan merasa heran mengapa kakek sakti yang dikenal sebagai tokoh dongeng dan tidak pernah menampakkan diri di dunia ramai itu kini melakukan perjalanan seorang diri? Apalagi orang lain, bahkan kakek itu sendiri pun merasa heran! Hal ini terbukti dari gerutunya di sepanjang perjalanan di pagi hari itu.

“Hemmm, mana mungkin manusia hidup sendiri? Mana mungkin melepaskan diri dari segala sesuatu di dunia ini? Membebaskan diri dari pikirannya sendiri saja sudah merupakan hal yang amat sukar, apalagi membebaskan diri dari segala sesuatu yang nampak. Uhhhhh, betapa lemahnya manusia.... hemmm, sudah setua ini, setelah puluhan tahun tidak lagi menaruh khawatir sedikit pun juga atas diri sendiri lahir batin, sekarang mengkhawatirkan orang lain. Huhhh.... memang manusia tidak mungkin bisa hidup sendirian saja. Manusia adalah bagian dari dunia dan kehidupan ini, tidak mungkin melarikan diri....“






Tidaklah aneh kalau kakek itu menggerutu. Selama puluhan tahun lamanya dia hidup di Istana Gurun Pasir, menjauhi kehidupan ramai dan tidak pernah memikirkan tentang persoalan hidup lahiriah. Akan tetapi, semua itu berubah setelah dia mempunyai cucu! Yaitu, setelah muridnya, murid tunggal yang bernama Kao Kok Cu, yang berjuluk Naga Sakti Gurun Pasir, bersama isterinya, mempunyai seorang anak. Anak dari muridnya itulah yang membuat kakek ini merasa terikat! Timbul rasa kasih sayang yang tidak sewajarnya dan dia merasa lemah. Apalagi ketika cucunya itu yang diberi nama Kao Cin Liong, diculik orang. Dia ikut merasa khawatir. Sudah berbulan-bulan muridnya pergi meninggalkan Istana Gurun Pasir untuk mencari Cin Liong yang lenyap diculik orang dan sampai sekarang tiada kabar beritanya. Akhirnya tidak dapat kakek ini menahan diri lagi dan pergilah dia meninggalkan Istana Gurun Pasir untuk pergi menyusul dan ikut mencari cucunya yang hilang!

Hanya kebetulan saja pada saat itu kalau ada orang melihat Dewa Bongkok berjalan seperti seorang kakek tua renta yang tapadaksa, berjalan melangkah satu-satu dengan lambat sekali. Akan tetapi ada kalanya dia berlari seperti terbang cepatnya sehingga tidak lagi dapat diikuti oleh pandang mata!

Memang bukan merupakan hal yang wajar kalau manusia ingin mengasingkan diri dan hidup sendirian saja di tempat sunyi, di puncak gunung, di dalam gua, menjauhi manusia lain dan tidak mempedulikan hal-hal yang terjadi di dunia! Ini hanya merupakan suatu pelarian saja, suatu pemaksaan diri yang berbahaya dan juga tidak ada gunanya sama sekali.

Kita tidak mungkin mengatasi dan menanggulangi sesuatu dengan jalan melarikan diri dari sesuatu itu. Memang kehidupan ini kejam, kadang-kadang membosankan, dan lebih banyak deritanya daripada sukanya. Namun, kita tidak mungkin dapat mengakhiri semua itu dengan jalan melarikan diri ke tempat sunyi! Pelarian diri itu bukan lain hanyalah suatu bentuk pengejaran kesenangan juga!.

Mungkin kalimat terakhir itu mengejutkan dan akan ditentang, maka sebaiknya mari kita membuka mata dan me¬nyelidiki hal itu dengan seksama, jauh dari pendapat pribadi atau golongan, melainkan memandang keadaannya sebagaimana adanya. Kalau kita mengatakan bahwa kita pergi “bertapa” ke gunung atau ke gua karena kita sudah tidak menginginkan apa-apa di dunia ini, bahwa kita sudah terbebas dari nafsu keinginan, benarkah perkataan kita itu?

Kalau memang kita sudah tidak menghendaki apa-apa, lalu mengapa kita bertapa di tempat sunyi? Bukankah pergi bertapa ke tempat sunyi, menjauhkan diri dari segala keramaian dan manusia lain, itu sudah merupakan suatu tindakan yang menunjukkan bahwa kita MENGHENDAKI SESUATU? Bahkan kita bosan dengan dunia ramai dan kita INGIN TENTERAM? Bukankah ini merupakan suatu keinginan pula, keinginan untuk ketenteraman diri pribadi, untuk kedamaian diri pribadi, yang bukan lain hanyalah merupakan wajah lain daripada keinginan untuk KESENANGAN diri pribadi? Bukankah karena kita membayangkan bahwa tempat sepi, jauh dari manusia lain, itu akan menjauhkan kita dari kepusingan, jadi berarti mendekatkan kita kepada ketenteraman dan kedamaian yang kita ANGGAP MENYENANGKAN maka kita melakukan pertapaan itu? Karena pada hakekatnya hanya merupakan pengejaran kesenangan belaka, biarpun diberi nama yang lebih agung seperti kesempurnaan, kedamaian, ketenteraman dan sebagainya, maka pada akhirnya, para pengejar kedamaian melalui tempat-tempat sunyi itu akan KECEWA!

Di sanapun, di tempat sunyi, di puncak gunung, di dalam gua, di tepi pantai, mereka akan ditelan kehampaan! Mengapa demikian? Karena jelas bahwa SEGALA PENGEJARAN KEINGINAN itu akan menuntun kita kepada KEHAMPAAN dan kekecewaan, kepada perbandingan dan selalu akan membuka mata kita bahwa apa yang kita bayang-bayangkan selagi mencari itu ternyata tidaklah seindah seperti yang dibayangkan! Akan timbul kebosanan, akan timbul keinginan untuk mencari dengan cara lain, yang dianggap lebih unggul, lebih agung, lebih mendalam dan seterusnya.

Mempelajari tentang hidup tidaklah mungkin tanpa kita terjun ke dalamnya! Dan hidup adalah hubungan antar manusia, hubungan antara manusia dengan benda-benda, antara manusia dengan pikiran-pikirannya. Segala persoalan yang kita namakan mengandung suka atau duka, bukanlah keluar dari si peristiwa itu sendiri, melainkan timbul dari pikiran.

Pikiranlah yang membanding-bandingkan, pikiranlah yang menilai, lalu pikiran yang mengambil kesimpulan, memutuskan bahwa peristiwa ini merugikan lahir atau batin, karenanya mendatangkan duka, dan peristiwa itu menguntungkan lahir atau batin, karena mendatangkan suka. Karena semua kesengsaraan timbul dari pikiran kita sendiri, maka benarkah itu kalau kita mencoba membebaskan diri dari keadaan lahiriah dengan jalan mengasingkan diri? Bukankah batin kita yang menjadi sumber segalanya?

Selama hati dan pikiran (yaitu batin) kita masih sibuk dengan seribu satu macam persoalan, biar kita sembunyi di puncak gunung tertinggi sekalipun, kita masih akan mem¬punyai persoalan-persoalan, baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. Sebaliknya, kalau kita sudah bebas dari pikiran yang menjadi sumber suka-duka, biarpun kita berada di tengah-tengah keramaian dunia, kita akan mengalami keadaan hidup yang lain sama sekali.

Dewa Bongkok adalah seorang pertapa semenjak dia masih muda. Dia sudah terbiasa dengan tempat sunyi. Akan tetapi, begitu dia mempunyai seorang cucu, demi sang cucu inilah maka dia kini meninggalkan tempat pertapaannya dan berkelana di dunia ramai untuk mencari cucunya. Dan kegelisahan mulai menggerogoti hatinya yang sudah tua.

Manusia memang amat lemah, selalu mengikatkan diri dengan apa yang disenanginya. Kita mengingatkan diri dengan isteri, anak, keluarga, harta benda, kedudukan, kepandaian dan sebagainya. Karena mengikat¬kan diri, karena kita merasa MEMILIKI secara batiniah, maka yang kita senangi dan miliki itu melekat dalam batin, berakar. Dan karena berakar inilah maka setiap kali yang melekat itu diambil, baik melalui kematian, kehilangan atau pertentangan, batin kita menjadi sakit, dicabutnya sesuatu yang sudah berakar dalam batin kita itu mendatangkan luka berdarah!

Dapatkah kita hidup tanpa ikatan apa-apa? Dapatkah kita mempunyai, baik keluarga, harta benda dan sebagainya, dalam arti kata mempunyai secara lahiriah saja, tanpa memilikinya secara batiniah? Bukan berarti bahwa kita lalu menjadi tak acuh, bukan berarti kita harus tidak peduli. Sebaliknya malah. Cinta kasih bukan lagi cinta kasih kalau didasari nafsu ingin memiliki, ingin menguasai. Cinta kasih adalah kebebasan!

Dewa Bongkok melangkah satu-satu sambil termenung. Akan tetapi, ilmu kepandaian yang amat tinggi sudah mendarah daging pada diri kakek ini, bahkan dia telah memiliki kepekaan yang luar biasa, semacam indera ke enam yang dimiliki oleh setiap orang ahli apa pun di bidang masing-masing sehingga dia seperti melihat atau mendengar segala ketidakwajaran yang terjadi di sekelilingnya.

Memang setiap orang yang sudah ahli memiliki indera ke enam ini. Bagi seorang ahli silat tingkat tinggi, indera ke enam ini berupa kewaspadaan terhadap segala macam bahaya yang mengancam, dari manapun datangnya, sehingga indera ke enam ini dapat menjaganya di waktu dia tidur sekalipun! Bagi seorang pelukis, mungkin dengan indera ke enam itu dia melihat bentuk-bentuk, garis-garis, sifat-sifat dan perpaduan-perpaduan yang tidak dapat dilihat oleh orang awam, yang lalu dituangkannya di atas kanvas. Bagi seorang pengarang, mungkin dengan indera ke enam itu dia dapat menangkap segala sesuatu tentang lika-liku kehidupan manusia dan alam yang kemudian dituangkannya dalam karangannya.

Tiba-tiba Dewa Bongkok nampak seperti orang terkejut, mukanya yang tadinya menunduk itu digerakkan menoleh ke kiri dan sekelebatan nampaklah olehnya bayangan orang amat cepatnya. Dan pada saat itu juga, Dewa Bongkok menggerakkan kedua kakinya dan tubuhnya melesat seperti menghilang saja!

Siapakah bayangan orang yang berkelebat cepat itu? Dia ini juga seorang kakek, dan sungguhpun tidak setua Dewa Bongkok, namun usianya tentu sudah ada tujuh puluh tahun. Gerakannya gesit seperti terbang. Kakek ini berwajah menyeramkan, kurus seperti tengkorak, mukanya putih seperti kapur, tubuhnya tinggi kurus. Biarpun kini dia tidak lagi memakai pakaian hitam karena dia sedang menjadi buronan pemerintah seperti yang lain, namun orang-orang kang-ouw tentu akan mengenal siapa adanya kakek ini yang bukan lain adalah Hek-hwa Lo-kwi!

Dialah ketua Huang-ho Kui-liong-pang di lembah Huang-ho, sarangnya yang kemudian dijadikan benteng para pemberontak yang dipimpin oleh Pangeran Liong Bian Cu itu. Setelah benteng itu dihancurkan oleh fihak pemerintah, dan semua tokohnya melarikan diri, Hek-hwa Lo-kwi juga ikut melarikan diri dan dia berganti pakaiannya yang biasanya berwarna hitam karena tidak ingin dikenal oleh orang-orang pemerintah yang dia tahu disebar untuk mencarinya.

Hek-hwa Lo-kwi berada di tempat itu, karena dia sudah berjanji dengan Hek-tiauw Lo-mo untuk saling bertemu di tempat itu untuk kemudian bersama-sama pergi ke gurun pasir. Mereka telah menerima undangan Twa-ok untuk membantu Im-kan Ngo-ok menghadapi musuh besar mereka, yaitu Pendekar Super Sakti. Sungguh sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa di tempat itu, dia akan bertemu dengan Dewa Bongkok!

Seperti pernah diceritakan di bagian depan, Hek-hwa Lo-kwi ini dahulunya adalah seorang pelayan yang terkasih dari Dewa Bongkok, dan ketika itu dia bernama Thio Sek. Karena terbujuk oleh Hek-tiauw Lo-mo, juga karena dia ingin sekali memperoleh kitab rahasia dari majikannya yang akan menambah tingkat kepadaiannya, Thio Sek ini lalu melarikan diri bersama Hek-hwa Lo-mo, setelah mereka berdua berhasil mencuri sebuah kitab yang akhirnya mereka perebutkan dan seorang memperoleh separuh.

Inilah sebabnya maka begitu dia melihat Dewa Bongkok, dia menjadi terkejut setengah mati. Biarpun kakek bongkok itu berada di tempat jauh, namun melihat bekas majikannya itu, Hek-hwa Lo-kwi cepat melarikan diri. Kalau ada manusia di dunia ini yang ditakutinya, dan padahal dia tidak takut kepada setan sekalipun, maka manusia itu adalah Dewa Bongkok.

Hatinya agak lega ketika dia melarikan diri jauh sekali dan tiba di tepi sebuah hutan. Dia menghentikan larinya, menarik napas panjang dan menghapus keringat dingin yang membasahi muka dan lehernya.

“Mau apa iblis tua itu di sini....?” tanyanya kepada diri sendiri.

Untung dia belum ketahuan dan dia dapat cepat melarikan diri! Kalau sampai berjumpa, hemmm.... dia bergidik ketakutan.

Hutan di depan adalah tempat di mana dia sudah berjanji untuk bertemu dengan Hek-tiauw Lo-mo. Maka dia mengibaskan lengan bajunya dan mulai melangkah maju ke depan. Tiba-tiba dia berhenti dan mukanya yang putih seperti kapur itu menjadi makin pucat sampai kehijauan, matanya terbelalak memandang ke depan dan kedua kakinya menggigil. Dewa Bongkok sudah berdiri di depannya, agak jauh di depannya, seolah-olah menantinya dengan muka menunduk! Bagaimana mungkin ini? Bukankah tadi dia telah lari secepatnya dan jelas meninggalkan kakek itu sebelum kakek itu sempat melihatnya?

Akan tetapi dia tidak mau membuang waktu dengan berheran-heran, cepat dia sudah meloncat ke belakang, jauh dan lari dari kakek yang mendatangkan rasa takut hebat dalam hatinya itu. Akan tetapi, begitu dia turun, dia melihat Dewa Bongkok sudah menanti di depannya! Dia cepat menoleh dan ternyata kakek yang tadi berdiri di tepi hutan sudah tidak ada, entah kapan kakek itu bergerak! Hek-hwa Lo-kwi makin ketakutan dan kembali dia membalikkan tubuh dan lari ke dalam hutan. Akan tetapi, kembali dia melihat Dewa Bongkok bersandar pada tongkatnya di dalam hutan, hanya kurang lebih dua puluh meter di depannya, tanpa memandangnya dan hanya menundukkan muka!

Mau rasanya Hek-hwa Lo-kwi menjerit dan menangis ketakutan. Tubuhnya sudah penuh dengan peluh. Dia akan lebih suka berjumpa dengan raja setan sendiri daripada dengan bekas majikannya ini! Dengan menahan napas dia lalu meloncat ke atas pohon, dan berloncatan dari pohon ke pohon. Akan tetapi, setelah melewati lima batang pohon, terpaksa dia berhenti lagi karena di pohon sebelah depan telah menanti Dewa Bongkok yang duduk di atas cabang pohon di depannya itu.

Hek-hwa Lo-kwi menjadi makin panik, dan pada saat itu dia melihat bayangan rekannya, Hek-tiauw Lo-mo, bersembunyi di balik sebatang pohon. Melihat ini, timbul harapannya. Ada kawan di sini dan hal ini agak membesarkan hatinya. Dia cepat melayang turun ke arah temannya itu. Akan tetapi baru saja kakinya menyentuh bumi di dekat pohon di mana Hek-tiauw Lo-mo bersembunyi, dia melihat bayangan berkelebat dan tahu-tahu Dewa Bongkok sudah berdiri tepat di depannya.

“Thio Sek, apakah engkau masih hendak lari lagi?”






Tiba-tiba Dewa Bongkok menegur dengan suara halus namun mengandung nada keren yang membuat jantung Hek-hwa Lo-kwi tergetar hebat. Kedua kakinya menjadi lemas dan manusia iblis yang biasanya amat ditakuti orang itu tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Dewa Bongkok!

“Loya.... ampunkan hamba....“

Hek-hwa Lo-kwi berkata, suaranya gemetar, tubuhnya menggigil. Memang sungguh aneh sekali kalau ada orang kang-ouw melihat keadaan manusia iblis ini. Seperti tidak masuk akal kalau orang seperti Hek-hwa Lo-kwi masih bisa ketakutan seperti itu!

Dewa Bongkok tersenyum dan biarpun wajah yang tua itu membayangkan kelembutan, namun sinar matanya yang mencorong seperti mata naga sakti itu sungguh penuh wibawa dan menyeramkan.

“Thio Sek, tidak perlu bicara tentang pengampunan. Di mana adanya kitab yang kau curi itu?” terdengar Dewa Bongkok berkata dengan suara penuh teguran.

“Hamba.... hamba.... membagi dua kitab itu dengan Hek-tiauw Lo-mo....“

“Hemmm, lalu di mana sekarang kitab itu?”

“Bagian hamba.... sudah hamba bakar karena hamba khawatir kalau sampai terjatuh ke tangan orang lain. Sedangkan bagian yang ada pada Hek-tiauw Lo-mo.... hamba tidak tahu....“

Hek-hwa Lo-kwi mengangkat mukanya dan dia melihat betapa Hek-tiauw Lo-mo yang bersembuhyi di balik batang pohon itu memberi isyarat kepadanya. Dia dapat menangkap isyarat itu. Hek-tiauw Lo-mo mengajak dia menyerang Dewa Bongkok secara tiba-tiba dan bersama-sama pula. Jantungnya berdebar dan memang itulah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri!

“Harap Loya sudi mengampuni hamba.... hamba mengaku salah.... hamba telah mata gelap karena ingin memiliki kitab pelajaran yang tinggi....”

Dewa Bongkok adalah seorang manusia yang waspada, maka dia dapat melihat pula sikap tidak wajar dari bekas pelayannya itu, seperti ada sesuatu yang disembunyikan, maka dia membentak,

“Hayo kau ceritakan semua apa yang akan kau lakukan dan mengapa pula kau berada di sini! Hukumanmu mencuri kitab itu tergantung dari kejujuranmu dalam menjawab pertanyaanku ini.”

Suara kakek bongkok itu angker dan benar-benar menggetarkan perasaan Hek-hwa Lo-kwi yang memang sudah merasa jerih sekali. Dia merangkak maju lebih dekat, lalu membenturkan dahinya di atas tanah. Perbuatan ini seolah-olah membuktikan bahwa dia benar-benar menyesal dan minta ampun, padahal dia melakukannya untuk dapat lebih mendekati kakek bongkok itu.

“Hamba.... hamba memenuhi undangan Im-kan Ngo-ok....“

Dia berhenti, terkejut karena dalam rasa takutnya dia sampai membuka rahasia rencana Im-kan Ngo-ok. Akan tetapi dia sudah terlanjur bicara dan apalagi mengingat akan isyarat Hek-tiauw Lo-mo tadi. Bukankah semua ini hanya untuk memancing perhatian Dewa Bongkok agar lebih mudah bagi mereka berdua untuk melancarkan serangan mendadak?

Dan Dewa Bongkok memang tertarik ketika mendengar disebutnya nama Im-kan Ngo-ok itu.

“Im-kan Ngo-ok mengundangmu? Ada perlu apakah?”

“Im-kan Ngo-ok mengadakan perjanjian dengan Pendekar Super Sakti untuk bertemu dan mengadu kepandaian di gurun pasir yang terletak di daratan Gunung Chang-pai-san. Im-kan Ngo-ok minta bantuan hamba untuk menghadapi lawan tangguh itu....“

Sekali ini Dewa Bongkok benar-benar terkejut.
“Hemmm, kapankah diadakannya pertemuan itu?”

“Pada bulan purnama bulan depan....”

“Dan kau bermaksud membantu mereka menghadapi Pendekar Super Sakti?” bentak Dewa Bongkok.

Pada saat Dewa Bongkok membentak ini, Hek-tiauw Lo-mo dengan langkah hati-hati telah keluar dari balik batang pohon dan mendekati kakek bongkok itu. Betapapun tinggi kepandaian seseorang, dan betapapun tajam perasaannya, namun seorang manusia tidak mampu membagibagi kesibukan batinnya. Selagi dia bicara dengan marah, tentu saja kewaspadaan Dewa Bongkok berkurang, semua perhatian ditujukan kepada bekas pelayannya, dan juga ketajaman pendengarannya penuh oleh suara dari kata-katanya sendiri sehingga dia tidak tahu bahwa ada orang mendekatinya dari belakang.

Hek-hwa Lo-kwi melihat ini dan dia mengangkat kedua tangannya menyoja, berkata dengan suara menyesal,

“Ampunkan hamba, Loya.... hamba sebetulnya tidak berani akan tetapi....“

Dan pada saat itu, diam-diam Hek-hwa Lo-kwi mengumpulkan tenaganya untuk mengerahkan ilmunya yang dahsyat, yaitu Pek-hiat-hoat-lek! Kemudian, kedua tangan yang menyoja itu secepat kilat meluncur ke atas dan menghantam ke arah dada Dewa Bongkok! Pada saat yang sama, Hek-tiauw Lo-mo juga sudah menggerakkan tangan kanannya, dengan telapak tangan terbuka dia melancarkan hantaman dengan pengerahan tenaga Hek-coatok-ciang.

“Blukkk! Desss....!”

Dua pukulan itu dengan tepatnya mengenai dada dan punggung Dewa Bongkok yang tidak sempat mengelak lagi karena datangnya pukulan dari depan dan belakang itu sama sekali tidak disangkanya sehingga kakek tua renta ini hanya mampu mengerahkan sinkangnya untuk menerima kedua pukulan itu.

Akan tetapi, demikian hebatnya tenaga sinkang dari penghuni Istana Gurun Pasir ini sehingga begitu kedua pukulan itu mengenai punggung dan dadanya, tubuh Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi terpental mundur, terjengkang dan mereka tewas dalam keadaan mengerikan, mata mereka membalik dan dari semua lubang di telinga, mata, hidung dan mulut keluar darah! Ternyata bahwa pukulan mereka itu terbentur kepada hawa sinkang amat kuat sehingga tenaga mereka terpental, membalik dan menghantam mereka sendiri mengakibatkan mereka tewas seketika!

Dewa Bongkok masih kelihatan berdiri tegak di tempat yang tadi, sama sekali tidak bergerak seolah-olah dua pukulan itu tidak terasa olehnya. Akan tetapi, kalau orang melihat mukanya, akan tahulah dia bahwa Dewa Bongkok menderita luka hebat. Muka yang tua itu pucat sekali dan di ujung kanan mulutnya nampak darah mengalir bertetes-tetes. Ternyata kakek sakti ini telah muntah darah! Pukulan Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi yang dilakukan dari jarak dekat itu terlampau dahsyat dan tidak terduga datangnya. Kalau bukan Dewa Bongkok yang terkena hantaman seperti itu, betapapun lihainya, tentu akan tewas seketika.

Setelah berdiri sejenak seperti arca dengan kedua mata terpejam, mengumpulkan hawa murni untuk memperkuat diri, akhirnya Dewa Bongkok membuka kedua matanya, menarik napas panjang dan menoleh ke arah mayat dua orang itu. Dengan gerakan perlahan dan menahan nyeri pada dadanya, kakek ini lalu mengumpulkan dahan-dahan yang cukup banyak, meletakkan dua buah mayat itu di atas dahan-dahan dan menutupinya dengan banyak dahan dan daun kering, kemudian membakarnya. Dia maklum bahwa ranting-ranting itu cukup banyak dan akan dapat membakar dua jenazah itu sampai habis. Setelah memandang sejenak, dia lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi, jalannya agak tersaruk-saruk dibantu oleh tongkatnya.

Luka yang diderita oleh Go-bi Bu Beng Lojin atau Dewa Bongkok memang amat parah. Apalagi ditambah dengan usianya yang sudah amat tua sehingga tentu saja daya tahan tubuh sudah tidak begitu kuat lagi, maka akibatnya dua pukulan dahsyat itu membuat kakek ini benar-benar menderita hebat.

Setelah berjalan perlahan-lahan sampai setengah hari meninggalkan hutan itu dan tiba di pegunungan yang penuh batu-batu dan sukar dijalani, kakek ini merasa tidak dapat menahan lagi dan duduklah dia bersila di atas batu besar untuk menghimpun kekuatan dan mengumpulkan hawa murni sebanyaknya guna mengobati luka yang dideritanya.

Dengan merasakan keadaan lukanya, kakek ini maklum bahwa sedikitnya dia harus beristirahat satu bulan untuk dapat memulihkan kembali kekuatannya, dan paling tidak selama tiga hari tiga malam dia harus duduk bersamadhi untuk menyelamatkan nyawanya. Dengan penghimpunan hawa murni selama tiga hari tiga malam terus-menerus, barulah ada harapan luka di dalam dadanya itu dapat disembuhkan sehingga dia hanya tinggal menanti pulihnya kekuatannya saja. Kebetulan sekali tempat itu amat baik, sunyi dan bersih, hawanya murni sehingga tepat untuk dipakai menjadi tempat bersamadhi.

Dua hari dua malam sudah kakek ini duduk bersila di atas batu tanpa pernah bergerak. Dia seolah-olah sudah mati, atau sudah berubah menjadi arca batu, menjadi satu dengan batu besar yang didudukinya. Hanya ujung pakaiannya saja, jenggotnya atau sedikit rambut di sekeliling kepalanya yang kadang-kadang bergerak kalau ada angin kencang bertiup.

Pada hari ke tiga itu, Dewa Bongkok sudah merasa betapa luka-luka di dalam dadanya telah banyak mendingan. Rasa nyeri di bagian kiri yang tadinya terasa paling hebat telah lenyap dan tinggal sedikit rasa nyeri di bagian kanan. Dalam sehari semalam ini tentu lukanya ini pun akan lenyap dan dia tinggal beristirahat saja untuk memulihkan kekuatannya selama sedikitnya sebulan.

Akan tetapi, pagi hari itu terjadi hal di luar perhitungan kakek sakti ini. Ketika dia masih tenggelam ke dalam samadhi, tiba-tiba muncul seorang wanita cantik yang memiliki gerakan ringan dan wanita ini telah sejak tadi memperhatikan Dewa Bongkok yang sedang bersamadhi.

Wanita ini bukan lain adalah Mauw Siauw Mo-li Lauw Hong Kui, Siluman Kucing yang cabul dan lihai itu! Seperti juga suhengnya, yaitu Hek-tiauw Lo-mo, dia pun menerima undangan dari Im-kan Ngo-ok untuk membantu mereka menghadapi Pendekar Super Sakti dan dia pun berjanji dengan suhengnya untuk bertemu di dalam hutan itu. Akan tetapi, dasar Siluman Kucing ini tidak pernah dapat sembuh dari penyakitnya, yaitu gila laki-laki, di tengah perjalanan dia bertemu dengan seorang pemuda tampan yang amat menarik hatinya. Dia lalu merayu pemuda ini dan memuaskan nafsunya sehingga dia lupa akan janjinya dan setelah dia, seperti biasanya, merasa bosan dan meninggalkan pemuda yang telah dibunuhnya pula itu, dia tiba di dalam hutan yang dijanjikan dalam keadaan terlambat dua hari!

Dan di dalam hutan itu dia menemukan dua jenazah yang sudah menjadi abu, tinggal beberapa potong tulang saja yang tidak sempat terbakar habis. Dan di situ dia menemukan senjata-senjata dari suhengnya, di antara abu mayat dan arang. Tahulah dia bahwa suhengnya telah tewas dan telah dibakar menjadi abu, bersama seorang lain lagi yang diduganya tentu Hek-hwa Lo-kwi karena suhengnya berjanji akan bertemu dengannya di hutan itu bersama Hek-hwa Lo-kwi.

Siluman Kucing merasa kaget dan juga terheran-heran. Siapakah orangnya yang demikian lihainya, mampu membunuh Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi? Dia bergidik, dan juga penasaran. Betapapun juga, Hek-tiauw Lo-mo adalah suhengnya, dan setelah orang itu tewas, dia teringat akan hubungan mereka antara kakak dan adik seperguruan, maka timbul rasa penasaran dan marah dalam hatinya terhadap pembunuh suhengnya.

Setelah mencari-cari di sekitar hutan itu, akhirnya dia menemukan Dewa Bongkok yang tengah bersamadhi seorang diri di atas batu besar! Melihat kakek ini, Siluman Kucing memandang dari jauh penuh perhatian. Dia tidak mengenal kakek ini, akan tetapi sebagai seorang yang berkepandaian tinggi dia dapat menduga bahwa kakek itu tengah duduk bersamadhi dan melihat pernapasannya yang teratur dan panjang-panjang, dia pun dapat menduga bahwa kakek itu sedang menghimpun hawa murni.

Orang yang melakukan hal seperti itu hanyalah orang yang sedang mengobati luka di dalam tubuhnya. Mengingat bahwa di dalam hutan tak jauh dari tempat ini suhengnya dan Hek-hwa Lo-kwi tewas dan kakek aneh ini duduk bersamadhi mengobati luka dalam mudahlah bagi Mauw Siauw Mo-li Lauw Hong Kui untuk menarik kesimpulan. Sudah hampir boleh dipastikan bahwa suhengnya dan Hek-hwa lo-kwi tentu telah bertanding melawan kakek ini dengan akibat tewasnya suhengnya dan Hek-hwa Lo-kwi, dan kakek ini pun menderita luka parah dalam pertandingan itu! Maka mulailah sepasang mata yang genit itu mengeluarkan sinar berapi. Inilah orangnya yang telah membunuh suhengnya!

Akan tetapi, Lauw Hong Kui bukanlah seorang yang bodoh. Sebaliknya malah, dia amat cerdik. Orang yang sudah mampu menewaskan suhengnya dan Hek-hwa Lo-kwi, tentu bukan orang sembarangan dan memiliki tingkat kepandaian yang jauh lebih tinggi dari padanya. Akan tetapi sebaliknya, betapapun saktinya orang ini, kalau sedang menderita luka dalam yang parah, tentu dia akan mampu merobohkannya tanpa banyak kesukaran. Oleh karena itu, dia bersikap hati-hati dan tidak menurunkan nafsu amarah untuk langsung menyerang kakek yang duduk diam seperti arca itu.