FB

FB

Ads

Senin, 25 Mei 2015

Jodoh Rajawali Jilid 077

Kita kembali melihat keadaan di lembah Huang-ho, di markas besar perkumpulan Kui-liong-pang yang kini dipergunakan oleh Pangeran Liong Bian Cu sebagai benteng. Telah diceritakan di bagian depan betapa Jenderal Kao Liang sendiri telah berada di dalam cengkeraman Pangeran Liong Bian Cu, membuat jenderal gagah perkasa itu tidak berdaya karena seluruh keluarganya berada di dalam tangan Pangeran Nepal itu. Apalagi ketika jenderal ini melihat betapa Puteri Bhutan, anak angkatnya, juga menjadi tawanan di tempat itu. Terpaksa dia bekerja sungguh-sungguh dan membangun tempat itu menjadi sebuah benteng yang amat kuat. Dia sudah berjanji dan sebagai seorang gagah dia akan memegang janjinya, yaitu membuat tempat itu menjadi benteng yang tidak akan dapat dibobolkan musuh dan dia sendiri yang akan mengatur penjagaan mempertahankan benteng itu di saat yang perlu!

Ketika benteng itu masih belum selesai benar dibangun di bawah pimpinan Jenderal Kao, tempat itu telah mengalami serangan dan telah membuktikan kehebatan Jenderal Kao dalam mempertahankan tempat itu.

Serangan ini datang di waktu malam hari, terdiri dari lima puluh orang yang dipimpin tiga orang kakek yang amat lihai. Peristiwa itu terjadi di malam terang bulan dan biarpun benteng itu belum selesai dibangun, namun tali-tali rahasia yang dipasang oleh Jenderal Kao telah menyembunyikan genta memberi tahu bahwa ada serombongan orang datang dari utara menuju ke lembah itu!

Tali-tali rahasia itu menjadi satu dengan akar-akar dan ranting-ranting pohon sehingga ketika dilanggar oleh rombongan orang itu, menggerakkan genta di dalam benteng dan segera para penjaga bersiap dan melakukan penjagaan ketat, diatur sendiri oleh Jenderal Kao Liang yang sudah melatih anak buah Kui-liong-pang dan anak buah Pangeran Nepal itu menjadi pasukan yang tangkas dan hebat!

Semua ini ditonton dengan kagum oleh Liong Bian Cu, Hek-hwa Lo-kwi, Hek-tiauw Lo-mo, Gitananda, dan Ban hwa Seng-jin yang lebih banyak tinggal di dalam gedung, bersikap tenang akan tetapi dia selalu menerima laporan dari Gitananda akan segala yang terjadi di luar kamarnya.

Siapakah para penyerbu itu? Mereka ini bukan lain adalah para anggauta Liong-sim-pang yang dipimpin sendiri oleh Hwa-i-kongcu Tang Hun, dibantu oleh tiga orang kakek lihai, yaitu Hak Im Cu, Ban-kin-swi Kwan Ok, dan Hai-liong-ong Ciok Gu To.

Seperti kita ketahui Hwa-i-kongcu Tang Hun merasa amat kecewa, penasaran dan marah sekali ketika Syanti Dewi yang akan menjadi isterinya itu tiba-tiba lenyap di tengah-tengah pesta pernikahannya! Dia merasa kecewa karena kehilangan calon isteri yang cantik jelita, akan tetapi yang lebih menyakitkan hatinya lagi, dia merasa malu. Dia telah mengundang banyak tamu, di antaranya banyak tokoh-tokoh kang-ouw dan banyak pembesar penting, dan ditengah pesta itu, pengantin wanitanya diculik orang begitu saja!






Hal ini merupakan tamparan hebat bagi mukanya, kehormatannya, dan dia tidak akan berhenti sebelum bisa mendapatkan kembali pengantinnya. Oleh karena itu, dia mengerahkan seluruh anak buah Liong sim-pang untuk melakukan penyelidikan dan pencarian. Bahkan dia mengandalkan harta bendanya yang besar untuk disebarkan di antara orang-orang kang-ouw agar mereka suka membantunya dan tidak lupa dia menjanjikan hadiah yang akan dapat membuat orang mendadak menjadi kaya raya kalau bisa menemukan jejak puteri itu!

Karena usahanya yang mati-matian ini, maka boleh dibilang semua orang kang-ouw tahu belaka bahwa Hwa-ikongcu Tang Hun menjanjikan hadiah besar itu, maka semua orang memasang mata dan telinga untuk ikut mencari. Akan tetapi, ketika Syanti Dewi berada bersama See-thian Hoat-su, kemudian terampas oleh Gitananda dan disembunyikan di tempat rahasia, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya sehingga sia-sia saja Tang Hun mencari dan mengerahkan banyak orang.

Setelah puteri itu oleh Gitananda dibawa ke lembah Huang-ho dan puteri itu kelihatan oleh semua anggauta Kui-liong-pang dan para anak buah Hek-tiauw Lo-mo dan Pangeran Nepal, ada saja yang membocorkan berita ini sehingga akhirnya sampai juga ke telinga Hwa-i-kongcu Tang Hun.

Tentu saja Tang Hun menjadi marah sekali dan juga girang karena akhirnya dia tahu di mana adanya pengantinnya itu. Mendengar bahwa Puteri Bhutan itu ditawan oleh perkumpulan Kui-liong-pang, dia lalu mengumpulkan semua anak buahnya, dibantu oleh tiga orang kakek lihai itu dia memimpin sendiri pasukannya menuju ke lembah Huang-ho dan malam itu dia menyerbu Kui-liong-pang.

Sama sekali dia tidak tahu bahwa tempat itu kini sedang dibangun sebagai benteng yang kokoh kuat oleh bekas panglima besar Jenderal Kao, dan lebih lagi dia tidak menyangka bahwa kedatangan mereka telah diketahui dan Jenderal Kao yang merupakan seorang ahli perang amat pandai itu telah mempersiapkan sambutan hangat atas penyerbuannya!

Dengan hati-hati tiga orang kakek lihai yang membantu Tang Hun itu memimpin pasukan memasuki lembah dari utara. Hak Im Cu, kakek tosu, seorang di antara tiga pembantu itu, bertugas sebagai penunjuk jalan karena tosu ini pernah datang mengunjungi lembah ketika di situ diadakan pertemuan antara orang-orang kang-ouw. Tentu saja Hak Im Cu tidak dapat mengambil jalan rahasia, seperti ketika dia mengunjungi tempat itu dahulu melainkan mengambil jalan liar yang telah diperhitungkan sebagai jalan paling aman untuk menyerbu lembah itu. Satu-satunya halangan adalah sungai yang mengurung lembah itu, sungai yang terjadi ketika .lembah itu dibanjiri air ketika diadakan pertemuan dahulu. Akan tetapi mereka telah siap dengan alat-alat untuk berenang dan menyeberang.

Ketika mereka tiba di tepi sungai, giranglah hati mereka bahwa di situ tidak terdapat penjagaan sehingga mereka dapat menyeberang dengan mudah, menggunakan perahu-perahu darurat. Dan betapa girang hati mereka ketika melihat bahwa pagar tembok di seberang sungai itu ternyata masih baru dibangun dan belum selesai sehingga tempat itu terbuka. Yang lebih menggirangkan lagi, tidak ada penjagaan di situ sehingga setelah bersembunyi dan mengintai sampai lama, kemudian yakin bahwa tempat itu sunyi tidak ada penjaga, mereka lalu bergerak merayap dan memasuki daerah lembah.

Atas pimpinan Tang Hun sendiri, mereka lalu berindap-indap dan memecah diri menjadi kelompok-kelompok terpisah menghampiri rumah besar yang mereka kira tentu menjadi bangunan pusat di mana berdiam ketua Kui-liong-pang dan di mana puteri itu dikeram!

Tang Hun telah mendengar bahwa ketua Kui-liong-pang adalah seorang kakek sakti berjuluk Hek-hwa Lo-kwi, yang kabarnya memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat. Akan tetapi, dengan adanya tiga orang kakek sakti yang membantunya, tentu saja dia tidak merasa takut. Apalagi setelah kini dia bersama pasukannya mampu mengepung rumah besar itu, mempersiapkan anak panah dan api yang mereka nyalakan secara serentak, merupakan obor-obor yang bernyala terang dan menerangi seluruh tempat itu, Tang Hun merasa yakin bahwa dia akan dapat memaksa tuan rumah mengembalikan pengantinnya.

Dengan sikap garang dia berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang, diapit oleh tiga orang kakek dan para pengawalnya, menghadap ke pintu depan dari rumah besar itu lalu berteriak lantang,

“Hek-hwa Lo-kwi, ketua Kui-liong-pang! Keluarlah dan mari kita bicara!”

Di antara cahaya obor yang amat banyak dan amat terang, semua mata ditujukan ke arah daun pintu besar itu dan tiba-tiba daun pintu terbuka dari dalam. Munculiah beberapa orang dari sebelah dalam pintu itu dan Tang Hun memandang dengan terheran-heran ketika melihat bahwa yang memimpin rombongan orang itu adalah seorang kakek botak berjubah merah yang bersikap penuh wibawa, berpakaian indah dan sikapnya seperti seorang bangsawan tinggi.

Di kanan kiri kakek botak ini berjalan dua orang kakek lain yang keadaannya mengerikan dan menyeramkan. Yang di kiri adalah kakek tinggi kurus bermuka tengkorak yang dia duga tentulah Hek-hwa Lo-kwi karena dia sudah mendengar akan kakek yang berpakaian serba hitam, mukanya yang seperti tengkorak itu putih seperti kapur. Sedangkan yang berada di sebelah kanan kakek botak itu adalah seorang kakek raksasa yang amat buas kelihatanpya. Dia tidak tahu bahwa itulah Hek-tiauw Lo-mo. Akan tetapi dia segera mengenal kakek berkulit hitam, bersorban dan jenggotnya panjang sampai ke perut, memegang sebatang tongkat itu. Itulah Gitananda, kakek Nepal yang dulu hadir pula di dalam pesta pernikahannya. Gitananda berjalan di belakang kakek botak itu!

Akan tetapi, Tang Hun tidak mempedulikan mereka semua itu dan dia hanya memandang kepada Hek-hwa Lo-kwi dan sambil mengangkat dada dia berkata,

“Hek-hwa Lo-kwi, karena engkau adalah ketua dari tempat ini....“

“Hwa-i-kongcu, biarpun aku adalah ketua dari Kui-liong-pang, akan tetapi pada saat ini yang memimpin kami adalah Ban-hwa Seng-jin, koksu dari Nepal ini, yang mewakili Pangeran Liong Bian Cu. Kau boleh bicara dengan beliau!” kata Hek-hwa Lo-kwi sambil menunjuk ke arah kakek berkepala botak yang bersikap dingin dan tenang itu.

Tang Hun mengerutkan alisnya, merasa bahwa belum apa-apa dia sudah keliru dan salah duga. Akan tetapi mendengar itu, tentu saja perhatiannya kini beralih kepada kakek botak yang kini juga bertanya kepadanya, suaranya tenang dan jelas biarpun masih ada nada asing.

“Jadi engkau adalah Hwa-i-kongcu Tang Hun ketua dari Liong-sim-pang di puncak Naga Api di Pegunungan Lu-liang-san? Selamat datang, Tang-kongcu, ada keperluan apakah engkau datang bersama pasukanmu di waktu malam begini tanpa memberi tahu lebih dulu kepada kami?”

Tang Hun merasa serba salah. Kiranya kakek ini adalah koksu dari Nepal! Nama ini mulai terkenal akhir-akhir ini, bahkan ketika dia mengadakan pesta pernikahan, dia mengirim undangan kepada koksu itu yang berada di gubernuran Ho-nan, dan koksu itu diwakili oleh kakek Gitananda. Juga ketika mendengar bahwa kakek ini adalah Ban-hwa Seng-jin koksu dari Nepal, tiga orang kakek yang mengiringkan Hwa-i-kongcu menjadi kaget bukan main. Akan tetapi, karena sudah terlanjur menyerbu dan kini sudah mengurung rumah itu, Hwa-i-kongcu Tang Hun yang ingin merampas kembali pengantinnya, tetap bersikap angkuh dan tidak mau kalah wibawa.

Dia menjura dengan sikap hormat.
“Ah, kiranya Ban-hwa Seng-jin koksu dari Nepal yang memimpin tempat ini? Sungguh kebetulan sekali! Seng-jin tentu telah mengetahui akan peristiwa yang terjadi di tempat tinggal saya pada waktu pesta pernikahan saya, karena kalau tidak salah, wakil Seng-jin yang sekarang juga berdiri di belakang Seng-jin, yaitu Kakek Gitananda, pada waktu itu juga hadir. Terjadilah keributan pada waktu itu dan pengantin wanita diculik orang.”

“Hemmm, kami sudah mendengar akan hal itu. Lalu mengapa?” tanya koksu itu dengan sikap tidak acuh.

Sikap itu membuat Tang Hun merasa tidak enak. Kalau koksu ini sudah tahu, tentu tahu pula bahwa dia datang untuk menuntut dikembalikannya Syanti Dewi, akan tetapi koksu itu pura-pura tidak tahu saja!

“Maaf, Ban-hwa Seng-jin,” katanya dan keangkuhannya mulai menurun karena dia benar-benar merasa gentar menghadapi koksu yang berwibawa ini dan tempat itu terlalu sunyi sehingga mencurigakan. “Karena saya mendengar bahwa pengantin saya berada di lembah ini, maka saya datang bersama teman-teman saya untuk menjemput calon isteri saya itu. Harap saja Seng-jin mengingat persahabatan antara kita dan suka menyerahkan pengantin saya kepada saya.”

Ban-hwa Seng-jin mengangkat mukanya, sikapnya makin angkuh dan dia berkata dengan suara yang nadanya menantang,

“Memang Puteri Bhutan berada di sini dan kami tidak bersedia menyerahkan dia kepadamu, Tang-kongcu. Sebaiknya Kongcu membawa pasukan Kongcu pergi dari tempat ini!”

Tang Hun mengerutkan alisnya. Jantungnya berdebar tegang. Kiranya benar pengantinnya berada di tempat ini! Hatinya girang akan tetapi juga tegang karena sikap Koksu Nepal ini agaknya hendak menentangnya!

“Ban-hwa Seng-jin! Puteri itu adalah calon isteri saya, pengantin saya. Sudah sepatutnya kalau dikembalikan kepada saya!”

“Kami tidak bersedia menyerahkan beliau kepadamu. Habis engkau mau apa?”

Inilah tantangan! Hwa-i-kongcu yang mengandalkan bantuan tiga orang kakek sakti dan anak buahnya, tentu saja mulai menjadi marah. Biarpun kakek botak ini adalah Koksu Nepal yang kabarnya lihai dan berkuasa, akan tetapi pada saat itu dialah yang berada dalam kedudukan menang. Tempat itu telah dikurungnya! Dan dia pun masih mengandalkan gurunya yang biarpun tidak ikut di dalam pasukan itu, namun secara aneh dan diam-diam, gurunya tentu melindunginya pula!

“Ban-hwa Seng-jin, harap suka memikirkan baik-baik. Ketahuilah bahwa kalian semua telah terkepung. Lihat betapa pasukan kami telah siap dengan anak panah dan api, sekali saja saya memberi aba-aba, rumah ini akan dibakar dan kalian semua akan dihujani anak panah. Saya tidak menghendaki hal itu terjadi, maka sebaiknya supaya puteri itu cepat diserahkan kepada kami dan kami akan pergi sekarang juga.”'

“Benarkah itu? Apakah bukan engkau dan pasukanmu yarig sudah berada dalam kepungan kami? Tang-kongcu, tengoklah di belakang kalian dan di atas.”

Kakek botak itu berkata sambil menudingkan jari telunjuknya ke belakang pasukan Tang Hun dan ke atas genteng rumah dan pohon-pohon.

Hwa-i-kongcu Tang Hun cepat menengok, demikian pula tiga orang kakek pembantunya dan mereka terkejut bukan main. Ternyata di belakang mereka terdapat pasukan yang lengkap dengan anak panah yang sudah ditodongkan ke arah mereka, dan selain pasukan itu, juga kini muncul banyak orang-orang di atas genteng dan di pohon-pohon sekitar tempat itu, semua mementang gendewa dan menodongkan anak panah ke arah mereka. Karena mereka membawa obor, maka mereka merupakan sasaran empuk sekali sedangkan fihak musuh yang bersembunyi itu memang amat sukar diserang!

Wajah Hwa-i-kongcu menjadi pucat sekali.
“Bagaimana, Hwa-i-kongcu? Apakah masih akan dilanjutkan persiapan pertempuran ini? Kalau kami memberi aba-aba, sekali serbu saja akan habislah anak buahmu. Apakah tidak lebih baik kalau kita bicara sebagai sahabat?”

Hwa-i-kongcu memandang kepada tiga orang kakek pembantunya. Mereka pun kelihatan gentar sekali, maka tahulah pemuda ini bahwa dia benar-benar telah kalah sebelum perang!

“Sudahlah, mari kita bicara sebagai sahabat, Seng-jin!”

Mendengar ini, Hek-hwa Lo-kwi tertawa bergelak, dan Ban-hwa Seng-jin berkata ke arah tempat gelap,

“Kao¬goanswe, fihak lawan telah menjadi kawan, sebaiknya tarik mundur pasukanmu!”

Dari tempat gelap itu muncul seorang laki-laki tua yang tinggi tegap dan gagah sekali. Dengan gerakan yang gagah dia mengangkat sebatang pedang ke atas dan tanpa bersuara lenyaplah pasukan yang mengepung tempat itu tadi, juga mereka yang muncul di atas genteng dan di pohon-pohon juga lenyap dalam gelap. Diam-diam Hwa-i-kongcu terkejut bukan main. Kiranya fihak musuh sudah siap sedia dan dia bersama pasukannya benar-benar terjebak.

“Hwa-i-kongcu, kalau benar-benar kau datang sebagai sahabat, harap perintahkan anak buahmu untuk melemparkan senjata mereka,” kata Ban-hwa Sengjin.

Hwa-i-kongcu Tang Hun tidak melihat jalan lain. Melawan berarti bunuh diri, karena mereka telah dikurung. Maka dia lalu mengangkat kedua tangan ke atas dan berseru lantang,

“Buang senjata kalian semua! Kita datang sebagai sahabat!”

Pasukannya tadi pun melihat bahwa merekalah yang terkepung, bukan mereka yang mengepung, maka mereka tadi sudah merasa gentar sekali. Kini mendengar perintah majikan mereka, semua orang membuang gendewa dan anak panah, bahkan banyak pula yang melolos pedang dan golok lalu melemparkannya ke atas tanah.

Melihat ini, Ban-hwa Seng-jin mengangguk-angguk puas.
“Tang-kongcu, engkau sungguh dapat melihat gelagat. Tidak tahukah engkau bahwa engkau telah berada di tepi jurang maut? Engkau belum mengenal tempat ini dan tidak mengetahui keadaan kami, maka berani memandang rendah. Ketahuilah bahwa pemimpin penjagaan benteng kami adalah Jenderal Kao Liang, bekas panglima besar kerajaan. Apakah kau belum mendengar nama besarnya?”

Tang Hun mengangguk-angguk, hampir tidak percaya. Benarkah Jenderal Kao Liang kini berkerja sama dengan mereka ini?

“Engkau sudah melihatnya namun masih belum percaya. Kaukira siapakah panglima yang menjebak dan mengurungmu tadi? Marilah, mari kita bicara di ruangan tamu, dan kami akan memberi penjelasan agar engkau tahu bahwa bersahabat dengan kami akan menguntungkan fihakmu.” Lalu dia memandang. “Suruh pasukanmu beristirahat dan bermalam di dalam rumah ini. Mereka akan menerima hidangan sekedarnya.”

Dengan perasaan yang makin terheran-heran Hwa-i-kongcu mendapatkan kenyataan bahwa rumah besar yang di kurungnya itu adalah rumah kosong! Sama sekali bukanlah bangunan induk, tempat tinggal para pimpinan tempat itu! Melainkan rumah besar yang berada di depan.

Dengan mengiringkan rombongan tuan rumah, diterangi oleh obor-obor besar yang dipegang oleh barisan selosin orang, Hwa-i-kongcu dan tiga orang kakek pembantunya lalu meninggalkan pekarangan rumah besar itu setelah menyuruh semua anak buahnya menanti di situ. Dan mereka kini masuk ke dalam lembah, melalui tembok yang tebal dan terjaga kuat, kemudian melewati pagar-pagar tembok lain dan baru setelah melewati tujuh lapis pagar tembok yang semua terjaga dan memiliki liku-liku yang aneh dan tidak mudah dilalui orang luar yang belum mengenal rahasia tempat itu, mereka tiba di pusat lembah itu. Dan Tang Hun mengeluarkan seruan tertahan saking kagumnya. Di tengah-tengah itu, barulah terdapat bangunan-bangunan seperti istana dan keadaan di situ terang benderang karena banyaknya lampu penerangan yang dipasang di seluruh tempat.

Melalui barisan penjaga yang kelihatan gagah dan bertubuh tegap, mereka memasuki ruangan depan sebuah rumah besar. Seorang yang berpakaian perwira menyambut rombongan ini dan setelah memberi hormat kepada Ban-hwa Sengjin, dia berkata,

“Pangeran menanti rombongan di ruangan tamu!”

Ban-hwa Seng-jin menoleh kepada Tang Hun.
“Hemmm, pangeran berkenan menerima Kongcu, hal ini baik sekali! Silakan.”

Makin terbelalak mata Hwa-i-kongcu Tang Hun ketika dia memasuki ruangan tamu. Dia sendiri adalah seorang kaya raya dan rumahnya seperti istana. Akan tetapi dibandingkan dengan keadaan rumah besar ini, dia merasa iri. Mewah sekali keadaan di rumah ini dan ketika mereka memasuki sebuah ruangan yang besar, dia melihat seorang pemuda yang berpakaian indah telah duduk seorang diri di situ, di kepala sebuah meja besar. Dia tidak mengenal pemuda itu, akan tetapi melihat kulitnya dan wajahnya, dia menduga bahwa pemuda itu tentu seorang peranakan Nepal. Ketika dia melihat Banhwa Seng-jin memberi hormat dengan membungkuk, sedangkan Gitananda yang sejak tadi diam saja memberi hormat sambil berlutut, juga Hek-hwa Lo-kwi dan kakek raksasa yang lain itu semua memberi hormat, sedangkan para pengawal juga memberi hormat dengan berlutut sebelah kaki kemudian mundur dengan tertib, dia menduga bahwa tentu pemuda ini bukan orang sembarangan dan agaknya dialah yang disebut pangeran oleh perwira tadi.

Hak Im Cu, tosu tinggi kurus, seorang di antara tiga pembantunya yang menjadi penunjuk jalan ke lembah itu karena dia pernah mengunjungi lembah ini ketika di situ diadakan pertemuan, berbisik di belakangnya,

“Kongcu, beliau adalah Pangeran Liong Bian Cu, cucu Raja Nepal.”

Ban-hwa Seng-jin mendengar bisikan itu, tersenyum dan berkata,
“Benar, hendaknya Cu-wi ketahui bahwa beliau adalah Pangeran Liong Bian Cu, cucu Sri Baginda Raja Nepal.”

Mendengar ini, Hwa-i-kongcu Tang Hun dan tiga orang pembantunya cepat maju memberi hormat dengan menjura sampai dalam. Pangeran Liong Bian Cu tersenyum ramah dan mengangguk lalu menggerakkan lengan kanannya mempersilakan.

“Duduklah, Tang-kongcu dan Sam-wi Lo-enghiong. Duduklah sebagai tamu terhormat dan mari kita bicara sebagai sahabat-sahabat!”

Tang Hun dan tiga orang pembantunya segera duduk. Tiga orang pembantu Tang Hun itu bukanlah sembarang orang. Mereka adalah orang-orang kang-ouw yang berilmu tinggi dan sudah mengalami banyak hal yang hebat. Namun keadaan di ruangan itu membuat mereka kagum dan juga berhati-hati, karena belum pernah mereka menjadi tamu pangeran dan koksu dari negara Nepal yang serba asing.

Mereka memandang ke arah pangeran yang tampan namun aneh itu, dan kepada Ban-hwa Seng-jin yang duduk di sebelah kanan pangeran. Gitananda yang matanya tajam seperti mata burung rajawali itu, dan amat cekung, berdiri di belakang Ban-hwa Seng-jin seperti pengawal dan memang sesungguhnya, Gitananda bertugas sebagai pembantu dan pengawal koksu itu.

Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi duduk di sebelah kiri Pangeran Liong Bian Cu, dan pada saat itu, dari luar datang seorang laki-laki tua yang melangkah lebar dengan gagah, setelah tiba di dekat meja, dia memberi hormat kepada Pangeran Liong dengan menjura dan menganggukkan kepala, pemberian hormat yang singkat dan tidak terlalu merendah, kemudian dia mengambil tempat duduk di kursi paling kiri, duduk diam seperti patung. Itulah Jenderal Kao Liang dan Hwa-i-kongcu melihat dengan pandang mata kagum akan tetapi juga terheran-heran. Dia tentu saja sudah mendengar akan nama besar jenderal ini. Seorang panglima sejati yang sejak turun-temurun amat setia kepada kerajaan, gagah perkasa dan pandai, telah menghancurkan entah berapa banyak pemberontakan. Akan tetapi kini jenderal itu duduk semeja dengan seorang Pangeran Nepal dan agaknya bekerja kepada pangeran ini!

Sementara itu, Pangeran Liong Bian Cu yang sudah mendengar semua laporan tentang penyerbuan Tang Hun, kini sambil tersenyum memandangi empat orang tamunya satu demi satu. Dia melihat Tang Hun sebagai seorang pemuda yang berwajah tampan, pesolek dan cerdik.

Pemuda ini usianya sudah tiga puluh tahun namun masih kelihatan amat muda, bajunya kembang-kembang indah, sepasang matanya tajam berpengaruh. Rambut kepalanya terhias sebuah hiasan rambut seekor naga kecil dengan sepasang mata mutiara mencorong, juga di bajunya yang berkembang terhias mainan emas terukir berbentuk naga yang sama. Di pinggangnya tergantung sebatang pedang yang gagangnya terukir indah, terhias emas dan permata, sarungnya ukir-ukiran burung hong dan liong, ronce-roncenya merah dari bulu halus. Seorang kongcu yang hebat, pikir pangeran ini. Kalau saja kepandaiannya sehebat keadaan lahiriahnya, dia dapat menjadi pembantu yang baik, pikirnya pula. Lalu dia melayangkan pandang matanya kepada tiga orang pembantu kongcu itu.

Tosu itu usianya kurang lebih enam puluh tahun. Wajahnya bengis tubuhnya tinggi kurus, pakaiannya sederhana dan pedangnya tergantung di punggung, gagangnya menonjol di belakang pundak kanan. Kelihatannya sederhana saja, akan tetapi melihat sinar matanya dan gerak-gerik tubuhnya yang amat ringan, dapat diduga bahwa tosu ini tentu pandai sekali ilmu silatnya. Dugaan itu memang benar karena Hak Im Cu, tosu itu, memiliki kepandaian tinggi, terutama sekali ginkangnya yang membuat dia dapat bergerak seperti terbang saking ringan dan cepatnya.

Orang ke dua adalah seorang kakek yang usianya juga sudah enam puluhan tahun, tinggi besar dengan muka kehitaman. Gerak-geriknya kasar namun tubuhnya membayangkan tenaga yang amat kuat, dan memang Ban-kin-kwi Kwan Ok ini, sesuai dengan julukannya, yaitu Setan Bertenaga Selaksa Kati, adalah seorang yang amat kuat dan mempunyai tenaga gajah. Dia pun seperti Hak Im Cu, menjadi pembantu Hwa-i-kongcu karena dia dapat bergelimang dalam kemewahaan dan kekayaan.

Adapun pembantu ke tiga adalah seorang kakek gundul pendek gemuk akan tetapi melihat pakaiannya, biarpun kepalanya gundul, dia bukanlah seorang hwesio. Kepalanya itu gundul karena penyakit kulit kepala, bukan digundul. Kakek yang usianya juga sudah enam puluh tahun lebih ini juga bukan orang sembarangan, melainkan seorang yang ahli dalam ilmu bermain di air, dan selain itu, juga dia memiliki sinkang yang kuat, seorang ahli lweekeh yang tangguh.

Setelah puas memandangi empat orang tamunya, sementara itu pelayan datang menyuguhkan arak dan kue-kue. Atas isyarat Pangeran Nepal itu, seorang pelayan segera maju dan dengan sikap menghormat pelayan ini lalu menuangkan arak di dalam cawan-cawan di depan rombongan tuan rumah dan empat orang tamu itu.

“Silakan minum Tang-kongcu dan para Lo-enghiong!” kata Liong Bian Cu sambil mengangkat cawannya, diikuti oleh Koksu Nepal, Hek-tiauw Lo-mo, Hek-hwa Lo-kwi dan Jenderal Kao Liang.

Gitananda tidak pernah minum arak, pula dia adalah seorang pengawal pribadi koksu, maka dia tentu saja tidak ikut berpesta melainkan berdiri di belakang koksu itu dengan tenang dan sikap penuh kewaspadaan.

Setelah para tamunya minum arak, Pangeran Nepal itu lalu memandang kepada Hwa-i-kongcu dan bertanya,

“Sekarang, harap Tang-kongcu suka mengatakan kepada kami dengan terus terang akan maksud kunjungan Kongcu yang amat mendadak ini.”

Hwa-i-kongcu Tang Hun memandang kepada pangeran itu. Pangeran Nepal itu demikian ramah sikapnya, maka timbul kembali harapannya. Siapa tahu, pangeran yang ramah ini akan dapat memaklumi keadaannya, maka cepat dia menjawab dengan sikap amat menghormat,

“Harap Paduka suka memberi maaf kepada kami bahwa kami berani datang berkunjung tanpa lebih dulu minta ijin Paduka. Sesungguhnya, telah beberapa lama saya kehilangan calon isteri saya, yang lenyap ketika sedang diadakan pesta pernikahan kami di tempat kediaman kami, yaitu di Naga Api. Kemudian kami mendengar bahwa isteri saya itu berada di sini, oleh karena itu saya datang dengan rombongan, bermaksud untuk menjemput pengantin saya.”

Setelah berkata demikian, wajah pemuda yang tampan pesolek itu memandang kepada Pangeran Nepal itu dengan penuh harapan.

Pangeran itu tersenyum dan bertanya,
“Tang-kongcu, siapakah nama pengantinmu itu?”

“Namanya.... Syanti Dewi....”

Tiba-tiba pandang mata pangeran itu menjadi tajam sekali dan jantung Tang Hun berdebar. Pangeran ini memiliki sepasang mata yang aneh, tajam dan menyeramkan. Sorbannya yang besar itu tengahnya, di atas dahi, dihias dengan sebuah mutiara yang besar dan bercahaya, berkilau-kilauan agak kebiruan. Mutiara yang amat besar dan amat jarang terdapat. Akan tetapi agaknya, dari dua buah mata yang kehitaman itu mencorong sinar yang lebih menyilaukan daripada mutiara itu.

“Tang-kongcu,” kini suara pangeran itu berbeda dengan tadi, tidak lagi ramah dan halus melainkan kaku dan dingin, “Tahukah engkau siapa adanya Syanti Dewi?”

Mendengar pertanyaan itu Tang Hun terkejut dan kini dia melihat betapa ada tiga pasang mata yang memandang dengan sinar mata tajam dan penuh ancaman, yaitu tiga pasang mata dari pangeran itu sendiri, Koksu Nepal dan kakek Gitananda! Dengan gugup dia menjawab,

“Saya.... saya hanya mendengar dia dari Bhutan dan....“

“Dia adalah Puteri Syanti Dewi, puteri tunggal dari Raja Bhutan! Tahukah kau apa artinya ini? Berarti engkau hendak menghina Bhutan dan karena Bhutan serumpun dengan Nepal, maka engkau seolah-olah hendak menghina Nepal!”