FB

FB

Ads

Rabu, 22 April 2015

Jodoh Rajawali Jilid 005

Seperti telah dituturkan di dalam bagian terakhir dari cerita Kisah Sepasang Rajawali, Ang Tek Hoat telah ditunangkan dengan Puteri Syanti Dewi dan tinggal di Bhutan sebagai seorang pahlawan yang diangkat menjadi panglima. Dia telah menjadi seorang panglima muda yang terhormat, bahkan terkenal sebagai calon mantu raja, tunangan Puteri Syanti Dewi yang dipuja-puja oleh rakyat Bhutan. Hari pernikahan mereka hanya tinggal menanti keputusan raja saja, yang masih menangguhkannya mengingat bahwa Bhutan baru saja mengalami perang dan bahwa baru saja Puteri Syanti Dewi kembali ke istana Bhutan setelah beberapa tahun lenyap (baca cerita Kisah Sepasang Rajawali).

Akan tetapi, tidak ada kesenangan yang kekal bagi manusia yang hidup di dunia ini. Di mana terdapat kesenangan, di situ pasti terdapat pula kesusahan. Susah dan senang, puas dan kecewa, suka dan duka, agaknya merupakan pasangan-pasangan yang tak dapat dipisahkan yang menghias kehidupan manusia. Kesenangan yang dinikmati oleh Ang Tek Hoat pun ternyata tidak kekal adanya. Terjadi hal yang sama sekali tidak disangka-sangkanya.

Beberapa bulan sudah Ang Tek Hoat tinggal di Bhutan, di sebuah gedung kecil yang amat megah dan indah, sebuah bangunan istana yang tidak jauh dari istana raja. Hampir setiap hari dia dapat bertemu dan bercakap-cakap dengan kekasihnya, yaitu Puteri Syanti Dewi, dan dalam beberapa bulan saja, tubuh Tek Hoat kelihatan segar, sehat dan agak gemuk.

Akan tetapi diam-diam dia mulai tidak kerasan, karena kehidupan yang dialaminya sehari-hari terlalu enak, terlalu menganggur dan membuatnya malas. Dia sudah biasa hidup merantau, sudah biasa menghadapi hal-hal yang menegangkan, yang memerlukan kecerdikan dan ketangkasannya untuk menghadapinya. Kini, dia tinggal di istana indah, tidak ada kerjaan apa-apa kecuali kadang-kadang menghadiri sidang di dalam istana, membicarakan urusan kenegaraan yang tidak begitu dimengerti dan dipedulikannya. Jiwa petualangan di dalam dirinya meronta dan membuat dia tidak kerasan. Namun perasaan ini tentu saja ditahan-tahannya, demi cintanya terhadap Syanti Dewi.

Hari masih pagi sekali dan baru saja Tek Hoat mandi pagi dan bertukar pakaian ketika seorang pengawal menghadapnya dan melapor bahwa terjadi keributan di luar pintu gerbang istana karena ada seorang wanita yang memaksa hendak bertemu dengan Panglima Ang!

“Siapakah dia?” tanya Tek Hoat dengan alis berkerut, akan tetapi hatinya berdebar girang karena baru sekarang terjadi hal yang menegangkan, berbeda dari biasanya yang lewat dengan aman dan mulus tanpa peristiwa berarti.






“Dia tidak mau mengaku namanya, hanya mengatakan bahwa dia harus bertemu dengan Panglima Ang. Ketika di cegah, dia malah merobohkan dua orang perajurit pengawal dan karena dia mengaku kenal baik dengan Paduka, maka para komandan jaga tidak berani lancang turun tangan dan menyuruh hamba datang melapor.

Tek Hoat lalu bergegas meninggalkan gedungnya dan pergi ke pintu gerbang di mana para perajurit sedang menghadapi seorang wanita yang marah-marah. Jantungnya berdebar keras ketika mendengar suara wanita itu, cepat dia lari menghampiri dan menguak para perajurit, melangkah ke depan wanita itu.

“Tek Hoat !”

“Ibu....!”

Semua orang melongo ketika melihat betapa panglima baru mereka itu berpelukan dengan wanita galak tadi. Kiranya wanita yang pakaiannya kusut dan kotor, yang galak dan angkuh itu adalah ibu dari panglima besar mereka, ibu dari calon mantu raja mereka, ibu dari tunangan Puteri Syanti Dewi mereka! Tanpa banyak cakap lagi karena di situ terdapat banyak orang, Tek Hoat lalu menggandeng ibunya, diajak ke istananya.

Setelah tiba di istana, kembali wanita itu yang bukan lain adalah Ang Siok Bi, memeluk puteranya sambil menangis sesenggukan.

“Terlalu kau.... Tek Hoat, kau sampai bertahun-tahun tiada berita, aku sampai susah payah, sengsara mencari-carimu kiranya engkau menjadi seorang besar di negara asing ini hu-hu-huuuh....”

“Sudahlah, Ibu. Harap kau suka ampunkan aku. Aku mengalami banyak liku-liku dalam hidup, bahkan sampai terseret arus hidup ke tempat ini, dan baru saja hidupku teratur maka aku belum sempat menengok ibu di puncak Bukit Angsa. Sudahlah, ibu harap jangan menangis.”

Setelah rasa penasaran dan keharuan hatinya mereda, Ang Siok Bi lalu mendengarkan penuturan puteranya, semenjak Tek Hoat meninggalkan lembah Huangho sampai dia menjadi panglima besar di Bhutan. Tentu saja semua itu dituturkannya secara singkat dan hanya garis-garis besarnya saja.

“Dan aku memperoleh kenyataan yang pahit, Ibu, yaitu bahwa musuh kita bukanlah Gak Bun Beng “

“Hemmm, aku juga sudah tahu!” tukas ibunya. “Dan sekarang, setelah engkau enak-enak saja di sini sedangkan musuh ibumu masih enak-enak hidup dan engkau belum membalaskan dendam dan sakit hati ibumu? Anak macam apa engkau ini? Mau enak-enak saja di sini menjadi panglima?”

Tek Hoat terkejut.
“Ibu! Bukankah Ibu sendiri sudah tahu bahwa Paman Gak Bun Beng bukanlah musuh Ibu? Hampir saja aku berdosa besar dengan memusuhi Paman Gak Bun Beng yang ternyata adalah seorang pendekar budiman yang berbudi mulia, sama sekali bukan musuh kita, dan Ibu tentu sudah tahu pula bahwa musuh kita itu telah tewas.”

“Maksudmu ?”

“Wan Keng In itu.... Ayah.... kandungku.... Si keparat jahanam yang memperkosa Ibu...., ahhh, mengapa dahulu Ibu menceritakan yang bukan-bukan kepadaku? Kiranya Wan Keng In yang memperkosa Ibu, akan tetapi dia menggunakan nama Gak Bun Beng sehingga Ibu mengira Gak Bun Beng yang menjadi Ayah kandungku dan Ibu membohongiku dengan cerita lain agar aku membunuh.... Ayah kandungku. Sekarang, syukur bukan Paman Gak yang berdosa, dan orang yang berdosa, she Wan itu dia telah mati. Habislah sudah riwayat busuk itu, Ibu.”

“Siapa bilang habis? Aku, Ibumu, tidak akan merasa puas sebelum dapat membalas dendam yang kutanggung selama hidupmu ini.”

“Maksud Ibu?”

“Wan Keng In si keparat sudah mati, akan tetapi Ibunya masih ada! lbu kandung keparat itu masih hidup!”

“Ihhhhh....!” Tek Hoat berseru kaget dan membelalakkan matanya. “Ibu tahu siapa Ibu Wan Keng In Itu?”

Ang Siok Bi mengangguk.
“Dia bernama Lulu, dia adalah isteri ke dua dari Majikan Pulau Es”.

“Dan Majikan Pulau Es adalah Pendekar Super Sakti dan isterinya yang ke dua itu adalah Nenekku! Ibu, betapa mungkin kita harus membalas kepada Nenek yang tidak berdosa apa-apa itu!”

“Tidak peduli! Wan Keng ln sudah mampus, maka Ibunya, wanita yang mengandung dan melahirkan manusia iblis itu harus kita bunuh! Dan engkau sebagai anakku harus membantu Ibumu!”

“Ibu....!” Tek Hoat menutupi muka dengan kedua tangannya, mukanya menjadi pucat sekali.

Ang Siok Bi meloncat berdiri, lalu menyergap anaknya, memegang pundaknya dan mengguncangnya keras-keras.

“Apa? Kau.... kau takut? Kau jerih menghadapi keluarga Pulau Es? Baik, Ibumu akan pergi sendiri!”

“Ibu, jangan....! Bukan begitu maksudku. Akan tetapi aku.... aku telah menerima kebaikan Sri Baginda di Bhutan ini, aku....”

“Kau sudah mabuk kemewahan? Tugas hidupmu paling utama, membalas dendam Ibumu paling perlu, setelah itu terserah kau mau hidup bagaimana, aku tidak peduli lagi.”

“Bukan itu, Ibu, akan tetapi aku.... aku telah bertunangan dengan puteri Raja Bhutan, dengan Puteri Syanti Dewi.”

“Huh, lain kemewahan lagi!”

“Jangan Ibu berkata demikian,” Tek Hoat berkata dengan nada agak keras karena dia merasa tersinggung. “Ketahuilah, Ibu. Biarpun Syanti Dewi itu puteri raja, akan tetapi aku cinta padanya dan dia cinta padaku. Kami sudah saling mencinta dan dia adalah seorang gadis yang berbudi dan amat baik. Aku akan menikah dengan dia karena cinta, bukan karena dia puteri raja.”

Ang Siok Bi mengangguk-angguk tak sabar.
“Baiklah, baiklah, kau cinta padanya, dan dia cinta padamu. Karena itu, kau boleh menikah dengan dia sekarang juga, lalu kaubawa dia pulang ke Bukit Angsa. Dia bukan menjadi halangan bagi kita untuk membalas ibu si keparat Wan Keng In!”

“Akan tetapi tidak mungkin itu, Ibu!” Tek Hoat berkeras menolak.

“Tidak mungkin katamu? Mengapa?”

“Terlalu banyak hal-hal yang membuat aku tidak mungkin melakukan permintaanmu itu.”

“Huh! Begitu? Coba katakan, apa hal-hal itu?”

“Pertama, tidak mungkin Sri Baginda membolehkan puterinya kubawa pergi dari sini karena beliau amat mencinta puterinya. Ke dua, aku telah diangkat menjadi panglima dan tenagaku dibutuhkan di Kerajaan Bhutan ini, dan karena aku telah berhutang budi terpaksa harus kulakukan. Ke tiga tidak mungkin aku memusuhi keluaraga Pulau Es”.

“Ehhhhh? Kau.... kau takut?”

Tek Hoat menggeleng kepala dan menarik napas panjang.
“Biarpun mereka itu amat sakti, aku tidak takut. Aku hanya segan, karena mereka itu adalah keluarga pendekar yang sakti dan budiman, dan aku.... aku bahkan bangga dapat menyebut Pendekar Super Sakti sebagai Kakek tiriku.”

“Cih! Pengecut!”

“Ibu....!”

“Engkau anakku, engkau harus menurut kepada Ibumu!”

“Maaf, Ibu. Akan tetapi tidak mungkin, aku malah mohon agar Ibu suka tinggal di sini bersamaku, hidup tenteram dan damai sampai hari akhir. Ibu, mengapa Ibu mendendam kepada keluarga Pulau Es, padahal yang berdosa telah meninggal? Ibu, kumohon padamu jangan....”

“Cukup!”

Ang Siok Bi bangkit berdiri. Pada saat itu, seorang pelayan wanita datang membawa cangkir-cangkir dan poci teh, akan tetapi sekali menggerakkan kaki, Ang Siok Bi menendang sehingga baki itu terlempar, cangkir-cangkir dan poci pecah, air teh berhamburan, si pelayan menjerit dan lari masuk.

“Aku tidak sudi minum air tehmu! Kau anak durhaka! Kau anak tidak berbakti, kau anak terkutuk! Baik, aku akan pergi dari sini, kembali ke Bukit Angsa dan lebih baik aku mati kelaparan di sana daripada hidup bermewah di sini bersama anak durhaka!” Ang Siok Bi marah sekali dan dia lari keluar.

“Ibu....!”

Tek Hoat berteriak akan tetapi ibunya tidak mempedulikannya sehingga pemuda yang gagah perkasa ini menjatuhka diri di atas kursi dengan muka pucat sekali. Tak disangkanya akan terjadi peristiwa seperti itu dan dia menyesal, menyesal sekali, akan tetapi apa yang dapat dia lakukan?

Tek Hoat tidak tahu bahwa semenjak dia diangkat menjadi panglima dan menjadi calon mantu Raja Bhutan, di samping banyak yang menerimanya dengan girang, ada pula yang menerimanya dengan hati penuh iri dan penasaran. Puteri raja yang mereka puja-puja dan agungkan itu hendak dikawinkan dengan seorang asing dari timur? Seorang yang bukan keturunan bangsawan pula, bahkan kabarnya seorang petualang!

Terdapat seorang panglima muda bernama Mohinta, putera dari panglima pertama Kerajaan Bhutan, panglima tua Sangita. Panglima muda Mohinta ini sudah lama menaruh harapan akan dapat diambil mantu oleh raja. Dia adalah teman bermain Syanti Dewi di waktu kecil dan diam-diam dia jatuh cinta kepada puteri itu, apalagi ketika puteri itu kembali ke Bhutan dan dia melihat betapa puteri itu kini demikian cantik jelitanya. Diam-diam dia merasa cemburu dan iri hati, akan tetapi tentu saja dia tidak dapat berbuat apa-apa, hanya menanti saat-saat yang baik untuk mempertahankan dan memperjuangkan kepentingan dirinya, menanti kesempatan untuk “menjatuhkan” saingannya yang dia tahu amat sakti itu.

Dan pada hari itu, tibalah kesempatan yang dinanti-nantinya itu, yang dianggapnya sebagai anugerah dewata. Ketika mata-matanya memberi tahu tentang munculnya seorang wanita kasar yang mengaku “ibu” dari Panglima Ang Tek Hoat, Panglima Mohinta segera mendengar tentang perselisihan antara Tek Hoat dan ibunya, dan dia segera mencegat ketika mendengar bahwa ibu Tek Hoat pergi dengan marah.

Ang Siok Bi masih marah-marah ketika dia dihadang oleh seorang Panglima Bhutan yang muda dan tampan, yang memberi hormat dengan sikap amat menghormat kepadanya, kemudian panglima muda itu berkata,

“Harap Toanio suka bersabar dulu. Saya adalah Mohinta, sahabat baik dari putera Toanio dan saya selalu siap untuk menolong, terutama kepada Toanio sebagai Ibu sahabat saya.”

“Huh, aku tidak mempunyai urusan dengan sahabat-sahabat anakku yang durhaka itu!”

Ang Siok Bi hendak melangkah terus, akan tetapi Mohinta kembali menjura dan berkata dalam bahasa Han yang fasih.

“Toanio, bukankah Toanio menghendaki agar putera Toanio itu dapat kembali ke timur bersama Toanio? Kalau hanya begitu, mengapa repot-repot? Saya dapat menolong Toanio”

Ang Siok Bi yang sudah hampir putus asa itu memandang tajam penuh selidik, lalu bertanya ragu,

“Benarkah? Aku sebagai Ibunya sudah tidak dapat membujuknya, apalagi engkau yang hanya sahabatnya.”

“Toanio, ada peribahasa di negeri kami yang menyatakan bahwa apabila kekuatan tak berhasil menolong kita, kita harus menggunakan akal, dan bahwa kita dapat mengatasi kekerasan dengan kelunakan. Saya tahu mengapa Saudara Tek Hoat tidak dapat meninggalkan Bhutan, tidak lain karena adanya Puteri Syanti Dewi. Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya, Sri Baginda tidak begitu berkenan hatinya mengambil mantu putera Toanio. Maka, apabila Sri Baginda mendengar sesuatu tentang diri Saudara Tek Hoat, yang tidak berkenan di hatinya, besar harapannya pertunangan itu akan dibatalkan dan tentu Saudara Tek Hoat akan suka pergi bersama Toanio kalau tidak ada lagi pengikatannya dengan puteri raja.”

“Hemmm, kalau memang Raja Bhutan tidak suka kepada anakku, kenapa akan diambil mantu?” Ang Siok Bi bertanya marah.

“Sri Baginda hanya memandang kepada keluarga Suma, Majikan Pulau Es yang kabarnya masih keluarga Kaisar. Karena putera Toanio kabarnya masih keluarga Majikan Pulau Es, dengan sendirinya putera Toanio masih berdarah keluarga Kaisar, maka Sri Baginda mau menerimanya. Kalau halnya tidak demikian, tentu pertunangan itu akan dibatalkan.”

Wajah wanita itu berseri dan dia cepat berkata,
“Kalau begitu, biar aku bertemu dengan raja!”

Memang cerdik sekali Panglima Mohinta. Tadi dia mendengar dari mata-matanya tentang perselisihan Tek Hoat dengan ibunya, melalui pelayan dalam istana Tek Hoat, dan dia tahu pula tentang percakapan antara ibu dan anak mengenai keluarga Pulau Es. Oleh karena itu, dia sengaja mengemukakan hal keluarga itu kepada Ang Siok Bi. Dan wanita ini memang sama sekali tidak peduli tentang kedudukan puteranya, atau tentang raja dan puterinya. Yang penting baginya adalah dapat mengajak puteranya untuk kembali ke timur dan membantunya membalas dendam kepada Wan Keng In, atau lebih tepat, kepada ibu Wan Keng In, yaitu Nyonya Suma di Pulau Es!

Berkat bantuan dan usaha Mohinta, akhirnya Ang Siok Bi berhasil pula dihadapkan kepada Raja Bhutan. Raja ini sudah mengerutkan alisnya dan hatinya merasa tidak senang ketika melihat wanita setengah tua yang biarpun cantik dan gagah, namun kasar dan tidak hormat itu, yang gerak-geriknya jelas membayangkan kekerasan dan kekasaran, sama sekali tidak patut menjadi besannya! Wanita dusun ini adalah ibu calon mantunya!

Akan tetapai sebagai basa-basi, dia mempersilakan nyonya itu untuk duduk, kemudian berkata,

“Kami mendengar bahwa Nyonya adalah Ibu kandung dari Panglima Ang Tek Hoat, dan mohon menghadap kami. Benarkah itu dan siapakah nama Nyonya?”

“Nama saya Ang Siok Bi, tinggal di Bukit Angsa, di lembah Sungai Huangho,” jawab Ang Siok Bi.

“Hemmm, kalau Nyonya she Ang, kenapa putera Nyonya she Ang juga. Siapakah Ayah Panglima Ang Tek Hoat? Bukankah Ayahnya masih keluarga dengan Majikan Pulau Es yang terkenal itu?”

Tiba-tiba Ang Siok Bi berkata dengan suara keras,
“Persetan dengan keluarga Pulau Es! Anakku tidak mempunyai ayah!”

Raja makin terkejut dan makin tidak senang.
“Apa maksud Nyonya?”

“Dengarlah, Sri Baginda! Ada seorang anggauta luar keluarga Pulau Es yang bernama Wan Keng In, dan manusia jahanam itu telah memperkosa saya ketika saya masih gadis, dan saya mengandung lalu melahirkan Tek Hoat itulah. Maka dia adalah anak saya sendiri, tidak mempunyai ayah yang sah. Saya mempunyai dendam sakit hati sebesar gunung, sedalam lautan, seluas langit terhadap keluarga Wan Keng In itu, dan saya tidak rela kalau putera saya dikurung di sini, karena saya harus mengajaknya untuk membalas dendam. Maka, saya mohon kepada Sri Baginda untuk membebaskan putera saya itu!”

“Cukup....! Pengawal, suruh dia pergi....!”

Sri Baginda menjadi marah sekali dan dia memerintahkan pengawal untuk mengusir Ang Siok Bi. Wanita ini tidak melawan dan dia hanya memandang dengan mata mendelik kepada Panglima Mohinta, kemudian dia keluar dari istana, bahkan terus digiring oleh pasukan pengawal, keluar dari daerah Kerajaan Bhutan, kembali ke timur.

Pada hari itu juga, Tek Hoat menerima panggilan dari raja. Ketika pemuda ini keluar dari istananya, dia terheran-heran melihat banyaknya pengawal di sekitar istananya, dan di istana raja pun terdapat banyak pasukan, seolah-olah kerajaan menghadapi perang! Tergesa-gesa dia memasuki istana dan tiba di ruang persidangan, di mana dia melihat raja sudah duduk dihadapi oleh para panglima dan pejabat tinggi dan juga di tempat ini terjaga oleh pasukan-pasukan pengawal dengan ketat. Cepat dia memberi hormat dengan berlutut dan dengan suara kaku Sri Baginda lalu menyuruh dia duduk.

“Hamba terkejut sekali mendengar panggilan tiba-tiba ini dan melihat persiapan-persiapan. Ada terjadi hal penting apakah, hendaknya Paduka memberi tahu kepada hamba dan hamba yang akan menghalau semua bahaya!”

Tek Hoat berkata, akan tetapi hatinya merasa tegang karena dia melihat betapa pandang mata semua panglima dan pejabat ditujukan kepadanya dengan tak senang.

“Ang Tek Hoat, kami memanggilmu untuk mendapat keterangan sejelasnya dan sejujurnya darimu,” Sri Baginda berkata. “Maukah engkau menjawab semua pertanyaan kami dengan jujur?”

“Hamba siap untuk menjawab semua pertanyaan dengan sejujurnya,” jawab Tek Hoat dengan hati tidak enak.

“Pertama, benarkah engkau masih ada sangkutan keluarga dengan keluarga Pulau Es seperti yang dikabarkan orang dan bagaimanakah sangkutan keluarga itu?”

Tek Hoat mengerutkan alisnya. Hemm, apakah artinya pertanyaan aneh ini? Apa hubungannya dengan keadaan dirinya? Akan tetapi dengan tenang dia menjawab,

“Memang benar demikian, Sri Baginda. Isteri ke dua dari Pendekar Super Sakti adalah Nenek hamba, dan Majikan Pulau Es itu sendiri adalah Kakek tiri hamba.”

“Siapakah nama Ayah kandungmu?”

Tek Hoat terkejut. Tak disangkanya akan ditanya sampai begini tentang keluarganya.
“Ayah hamba bernama Wan Keng In, putera dari Nenek hamba itu.”

“Kalau Ayahmu she Wan, kenapa engkau she Ang?”

Kembali Tek Hoat terkejut dan merasa tidak enak sekali. Akan tetapi dia sudah berjanji akan menjawab sejujurnya! Dan andaikata yang bertanya ini bukan raja, calon ayah mertuanya, tentu dia sudah marah sekali.

“Itu adalah kehendak Ibu hamba yang bernama Ang Siok Bi.”

Kini Raja Bhutan memandang tajam, tubuhnya agak mendekat dan suaranya terdengar lantang,

“Ang Tek Hoat, pernahkah Ibumu menikah dengan Ayahmu ltu? Siapakah Ayahmu yang sah?”

Kalau ada petir menyambar, kiranya Tek Hoat tidak akan terkejut seperti pada saat mendengar dua pertanyaan itu. Dia marah sekali, mukanya menjadi merah dan matanya mengeluarkan sinar berapi. Semua petugas dan pengawal yang menjaga di situ menjadi gentar dan siap siaga kalau-kalau panglima muda yang ditakuti itu akan mengamuk. Akan tetapi Tek Hoat lalu berkata, suaranya menahan kemarahannya,

“Hamba tidak mau menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Itu adalah urusan hamba pribadi dan siapapun tidak dapat memaksa hamba untuk menjawabnya.”

Raja Bhutan menggebrak meja di depannya.
“Brakkk! Ang Tek Hoat! Kami tahu bahwa engkau telah berjasa bagi negara ini, kami tahu pula bahwa antara engkau dan puteri kami terdapat perasaan cinta kasih. Akan tetapi, apakah itu cukup untuk mengangkatmu sebagai calon mantu kerajaan? Riwayatmu tidak terang dan agaknya tidak bersih, maka engkau pun harus mengerti betapa sulitnya bagi kami untuk mempunyai seorang mantu dan panglima yang tidak jelas riwayat hidup dan keturunannya. Bagaimana kami akan menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari negara-negara tetangga? Hal itu akan menyeret kami dan keharuman nama keluarga kerajaan kami ke dalam lumpur!”

Makin merah wajah Ang Tek Hoat. Kalau dia tidak ingat kepada Syanti Dewi, tentu dia sudah mengamuk dan membunuh raja serta semua yang melindunginya. Akan tetapi dia masih ingat dan dapat membayangkan betapa akan berduka dan hancur rasa hati kekasihnya itu kalau dia melakukan hal itu. Pula, semua penderitaan hidupnya selama ini membuat dia makin kuat dan tahan menerima pukulan-pukulan batin yang hebat ini, dan dia dapat merasakan pula kebenaran bagi fihak keluarga raja. Maka perlahan-lahan dia bangkit berdiri dan berkata tenang.

“Sri Baginda, sebagai seorang laki-laki hamba sudah biasa menerima segala sesuatu secara terang-terangan. Harap saja Paduka juga berlaku terang-terangan menyatakan niat hati Paduka kepada hamba. Kalau sudah menjadi kenyataan bahwa hamba bukanlah keturunan ningrat, bukan pula keturunan orang terpelajar atau pun kaya, lalu bagaimana kehendak Paduka?”

“Ikatan jodoh dengan puteriku harus batal! Kami tidak mungkin mengambil mantu seorang seperti engkau, Ang Tek Hoat. Dan jasamu terhadap negara Bhutan pun tidak dapat dibalas dengan pengangkatan sebagai panglima. Engkau bukan bangsa kami dan jasa-jasamu itu akan kami balas dengan anugerah berupa harta benda yang boleh kaubawa pulang ke negerimu!”

Rasanya seperti hampir meledak dada Ang Tek Hoat.
“Sri Baginda! Ini sudah keterlaluan! Siapa yang menghendaki balas jasa? Siapa yang menghendaki pangkat? Siapa pula yang menghendaki kedudukan sebagai mantu raja yang terhormat? Hamba mencinta Puteri Syanti Dewi, hal itu sudah jelas, akan tetapi yang hamba cinta adalah pribadinya sebagai manusia, bukan kedudukannya sebagai puteri kerajaan! Hamba pun tidak membutuhkan pangkat ini!”

Dengan gemas Tek Hoat merenggut hiasan kepala dan melemparkannya ke atas lantai, lalu mencopot-copoti semua tanda pangkat dan melemparkannya ke atas lantai.

“Mulai saat ini hamba bukan lagi Panglima Bhutan, bukan lagi hamba Bhutan dan hamba pun tidak mengharapkan balas jasa sejemput batu sekali pun!”

Setelah berkata demikian, dengan muka merah dan dada panas Tek Hoat melangkah keluar persidangan, mengangkat dadanya dan siap untuk mengamuk apabila ada yang turun tangan. Akan tetapi untung, di antara para panglima dan pengawal, tidak ada yang mau turun tangan sehingga dengan leluasa, Ang Tek Hoat keluar dari istana itu.

Ketika dia hendak mengunjungi Syanti Dewi, dia melihat betapa Istana di mana puteri itu tinggal terkurung rapat oleh pasukan yang jumlahnya ada seribu orang! Tahulah dia bahwa raja tidak menghendaki dia berjumpa dengan kekasihnya itu, dia tahu pula bahwa mengamuk seorang diri menghadapi bala tentara senegara merupakan hal yang bodoh dan tidak mungkin. Pula, kalau keluarganya tidak menghendaki, apa perlunya dia memaksa-maksa? Dia hanya akan membuat Syanti Dewi menjadi sengsara dan berduka saja.

“Syanti Dewi, selamat tinggal....!”

Dia berbisik, lalu pergilah Ang Tek Hoat dari istana itu, bahkan terus keluar, dari negara Bhutan pada hari itu juga. Diam-diam dia merasa berduka karena terpaksa harus meninggalkan kekasihnya, meninggalkan Syanti Dewi yang dicintanya sepenuh jiwa raganya. Dan dia tahu bahwa hal ini terjadi karena gara-gara ibunya. Siapa lagi kalau bukan ibunya yang menjadi biang keladi semua peristiwa yang menimpanya ini? Sungguh terlalu! Ibunya sendiri pun agaknya tidak ingin melihat dia hidup bahagia di samping Syanti Dewi! Dengan hati penasaran Ang Tek Hoat mulai dengan perjalanannya kembali ke timur.