FB

FB

Ads

Rabu, 22 April 2015

Jodoh Rajawali Jilid 002

“Tidak ada mayat sebuah pun? Jangan-jangan itu hanya pancingan dan jebakan, kata Jenderal Kao Liang sangsi.

“Akan tetapi jelas ada tanda-tanda bekas pertempuran hebat, Ayah,” Kok Han berkata. “Darah berceceran di mana¬-mana dan senjata-senjata golok dan pe¬dang berserakan di sekitar tempat itu, bahkan ada pohon-pohon yang tumbang. Melihat bekas-bekasnya, tentu itu me¬rupakan hasil kerja seorang yang me¬miliki ilmu kepandaian hebat.”

Suasana menjadi makin tegang, akan tetapi Jenderal Kao Liang segera meng¬hentikan dugaan-dugaan di dalam hati semua pengawal itu dengan kata-kata yang nyaring dan tegas,

“Apapun yang terjadi, harap tenang dan menanti ko¬mando. Sekarang kita melanjutkan per¬jalanan, tidak perlu tergesa-gesa dan semua pengawal harap waspada dan siap siaga”.

Rombongan bergerak lagi dan kini Jenderal Kao Liang sendiri tidak naik tandu melainkan ikut berjalan kaki, bah¬kan berada di bagian paling depan ber¬sama Kao Kok Han, sedangkan Kao Kok Tiong menjaga di bagian belakang me¬lindungi rombongan itu.

Tidak terjadi sesuatu sampai rom¬bongan ini tiba di tempat pertempuran yang tadi telah diselidiki oleh Kok Han. Jenderal Kao Liang yang mengkhawatir¬kan adanya jebakan, mengangkat tangan¬nya dan rombongan itu pun berhenti lagi. Tempat pertempuran ini sudah berada di luar hutan, di tempat terbuka sehingga dapat menampung sinar bulan sepenuh¬nya. Semua orang memandang ke kanan kiri ke arah batang-batang pohon dan semak-semak belukar, semua mata ter¬belalak mencari-cari sesuatu, semua teli¬nga memperhatikan setiap suara yang mungkin terdengar.

Tiba-tiba semua orang menengok ke kiri karena mereka mendengar sesuatu. Juga para wanita dan anak-anak yang menyingkap tirai tandu mengintai, me¬nengok ke kiri dan terdengarlah jerit-¬jerit tertahan dari para wanita dan anak-¬anak itu ketika mereka melihat seorang yang berlumuran darah merangkak keluar dari semak-semak!

“Dia.... Hun Kai....!”

Tiba-tiba se¬orang di antara para pengawal berseru ketika dia mengenal wajah yang berlumuran darah itu.






Jenderal Kao yang kini juga mengenal seorang di antara para pengawal yang lenyap tadi, cepat memandang pe¬nuh selidik ke arah belakang orang itu, kemudian dengan langkah lebar dia meng¬hampiri orang yang sudah terguling di atas rumput itu, lalu berjongkok dan bertanya,

“Apa yang telah terjadi?”

“....Yang Mulia.... hati-hatilah.... ada.... seorang akan.... membunuh se¬luruh.... rombongan.... i.... ni.... aughhh....!” Dia terkulai dan tewas di saat itu juga.

Semua orang mendengar ucapan itu dan banyak wajah menjadi pucat seke¬tika. Para wanita menjadi panik dan memeluk anak-anak mereka, para penga¬wal dengan geram memutar tubuh me¬mandang ke empat penjuru. Jenderal Kao Liang berdiri dan berkata, suaranya lan¬tang,

“Jangan takut dan panik. Tenang¬lah! Apapun yang terjadi, kita masih hidup dan selamat, dan tidak seekor setan pun yang akan dapat dengan mudah membunuh kita selama aku masih berdiri di sini!”

Jelas bahwa jenderal tua ini menjadi marah sekali dan dia menduga bahwa semua pengawal tadi tentu tewas. Sayang bahwa pengawal yang bemama Hun Kai itu tewas sebelum dapat men¬ceritakan dengan jelas apa yang terjadi.

“Paman.... Paman Hun Kai.... ceri¬takanlah, di mana adanya teman-teman yang lain?”

Kok Han mengguncang¬-guncang tubuh pengawal itu, berusaha untuk menyadarkannya agar pengawal itu dapat menceritakan sejelasnya. Akan tetapi tubuh yang diguncang-guncang itu terkulai lemas dan tidak dapat memberi jawaban.

“Sudah, Kok Han, tidak ada gunanya lagi. Dia sudah mati,” kata Jenderal Kao Liang. “Hayo cepat gali lubang kuburan untuk dia!” perintahnya dan kini para pengawal cepat menggali lubang kemudi¬an mengubur mayat itu.

Setelah itu, Jenderal Kao Liang memerintahkan agar rombongan melanjutkan perjalanan. Kini jumlah pengawal hanya tinggal enam belas orang saja, dipimpin sendiri oleh Jenderal Kao Liang dan dua orang pute¬ranya.

Adapun jumlah tandu semuanya ada enam buah yang memuat isteri dari Jen¬deral Kao Liang, isteri dari Kao Kok Tiong, bibinya, yaitu adik perempuan Nyonya Jenderal yang sudah menjadi janda bersama dua orang anaknya, laki¬-laki dan perempuan yang sudah remaja, kemudian dua orang anak Kok Tiong sendiri, dan dua orang inang pengasuh perempuan.

Tandu bekas tempat Jenderal Kao Liang dibiarkan kosong dan masih dipikul oleh dua orang pemikul tandu. Jadi bersama dengan enam belas orang pengawal, masih ada dua puluh empat orang pemikul tandu karena tandu-tandu yang memuat orang dipikul oleh empat orang.

Setelah malam lewat dan tidak ter¬jadi sesuatu, Jenderal Kao memerintah¬kan rombongannya berhenti di kaki bukit untuk beristirahat dan menggunakan kesempatan itu untuk tidur secara bergilir¬an. Sampai matahari naik tinggi mereka mengaso dan setelah mereka semua ma¬kan, perjalanan dilanjutkan dengan mendaki bukit yang cukup sukar. Lorong kecil pendakian itu diapit-apit tebing tinggi dan batu kapur.

Ketika rombongan membelok di atas lorong yang tertutup tebing tinggi di kedua tepinya itu, merupakan tempat yang amat berbahaya, tiba-tiba mereka berhenti lagi dan suasana mulai tegang. Lorong itu tertutup oleh sebatang balok besar sekali yang melintang di jalan!

Kembali hati mereka menjadi tegang karena jelaslah bahwa balok besar itu tidak mungkin bisa berada di situ tanpa ada yang menaruhnya, dan melihat balok itu melintang menghalang jalan, jelaslah bahwa itu tentu perbuatan mereka yang hendak menentang rombongan atau se¬tidaknya mempunyai niat buruk. Jelas bahwa gerombolan orang jahat sudah mulai memperlihatkan gerakan dan tentu sebentar lagi akan muncul. Semua orang siap siaga dan Jenderal Kao Liang sen¬diri sudah meraba gagang pedangnya. Bahkan Kok Tiong dan Kok Han sudah mencabut pedang masing-masing dan ber¬dri di kanan kiri ayah mereka.

Akan tetapi, semua ketegangan urat syaraf itu temyata sia-sia belaka, karena ditunggu sampai lama sekali, tidak ada terjadi sesuatu. Sampai capai rasanya mata mereka karena jarang berkedip me¬mandang ke kanan kiri, depan belakang dan atas bawah, namun tidak terdengar sesuatu dan tidak nampak sesuatu yang bergerak.

Hati mereka menjadi kesal juga, akan tetapi diam-diam mereka bersyukur bahwa tidak ada musuh datang menyerbu. Karena kalau hal itu terjadi, sungguh amat berbahaya. Tempat itu sangat ber¬bahaya dan tidak menguntungkan bagi mereka untuk menghadapi musuh. Berada di lorong yang diapit-apit dinding batu tinggi terjal itu, mereka amat lemah dan andaikata ada beberapa orang musuh melempar-lemparkan batu dari atas te¬bing, mereka akan tak berdaya dan akan terkubur hidup-hidup.

Setelah jelas ternyata bahwa di sekitar tempat itu tidak ada orang, dan tidak ada tanda-tanda bahwa ada musuh akan menyerbu, Jenderal Kao Liang se¬gera memerintahkan sepuluh orang pe¬mikul joli yang bertubuh kuat-kuat untuk menyingkirkan balok besar yang melintang di tengah jalan itu.

Pekerjaan itu dilakukan tanpa ada kesukaran apa-apa, dan karena tidak ada tempat untuk mem¬buang balok itu, maka sepuluh orang tukang pikul tandu itu lalu meletakkan balok perintang itu di tepi lorong. Ke¬mudian rombongan itu melanjutkan per¬jalanan dengan hati-hati.

Akan tetapi belum ada sepuluh lang¬kah mereka bergerak, tiba-tiba dua orang pemikul tandu kosong berteriak aneh dan roboh, disusul oleh teriakan-teriakan delapan orang pemikul tandu lain yang juga terguling roboh dan menyebabkan orang-orang yang naik tandu itu pun ber¬teriak-teriak kaget dan kesakitan.

Jen¬deral Kao Liang cepat meloncat men¬dekati dan dengan mata melotot dia me¬lihat betapa sepuluh orang ini adalah se¬puluh orang yang tadi menyingkirkan balok besar. Kini tangan mereka mem¬bengkak, tubuh mereka kejang dan ber¬kelojotan, tak lama kemudian mereka itu terkulai mati dengan tubuh di jalari warna hitam dari tangan sampai ke muka me¬reka.

“Jangan pegang....!”

Jenderal Kao membentak kepada para pengawal, pe¬mikul tandu, dan dua orang puteranya ketika mereka ini mendekat.

“Mereka keracunan!”

Keadaan menjadi makin panik dan dua orang putera jenderal itu segera me¬nolong dua orang inang pengasuh yang tandunya terbalik. Kemudian dengan mu¬ka merah padam saking marahnya, Jen¬deral Kao Liang mengajak dua orang puteranya untuk naik ke atas tebing. Jenderal yang sudah tua masih gagah sekali dan dengan mudahnya dia mendaki tebing yang amat terjal itu, diikuti oleh Kok Tiong dan Kok Han yang harus mengerahkan ginkang mereka untuk dapat mengikuti ayahnya mendaki tempat yang amat berbahaya itu. Gerakan mereka cepat dan gesit, dan mereka itu terus mendaki naik, diikuti oleh pandangan mata mereka yang merasa gelisah dan tegang dari bawah.

Setelah tiba di atas tebing di bukit itu, Jenderal Kao Liang dan putera-¬puteranya melihat ke kanan kiri dan tampaklah oleh mereka seorang laki-laki yang kelihatan masih muda sedang duduk di atas sebongkah batu besar, membela¬kangi mereka, tidak jauh dari tempat itu dan mereka mendengar betapa laki-laki yang masih muda itu sedang bersenan¬dung, senandung yang terdengar me¬nyedihkan seperti orang berkeluh-kesah, sambil berdongak memandang awan ber¬arak di angkasa.

Karena di tempat itu sunyi tidak ada orang lain kecuali orang muda yang ber-senandung itu, Jenderal Kao Liang tidak merasa syak lagi bahwa tentu inilah orangnya yang mengganggu rombongan¬nya, maka dia lalu cepat menghampiri, diikuti oleh Kok Tiong dan Kok Han. Akan tetapi agaknya orang itu merasa atau mendengar kedatangan mereka. Dia menoleh sehingga nampak separuh muka¬nya, kemudian orang itu bangkit, meng¬hentikan senandungnya dan melangkah perlahan menjauhkan diri. Tentu saja Jenderal Kao dan dua orang puteranya meloncat dan cepat melakukan pengejar¬an. Mereka bertiga menggunakan ilmu berlari cepat untuk mengejar dan menangkap orang itu.

Akan tetapi, sungguh aneh bukan main! Kelihatannya saja orang itu me¬langkah perlahan-lahan, akan tetapi me¬reka bertiga tidak pernah dapat men¬dekatinya. Hal ini membuat Jenderal Kao menjadi penasaran sekali, penasaran dan marah. Tahulah dia bahwa pasti orang itu yang mengganggunya, atau setidaknya tentu merupakan seorang di antara ge¬rombolan yang mengganggu rombonganya. Maka dia mempercepat larinya me¬ngejar dengan geram. Akan tetapi, begitu jarak mereka mulai berdekatan dan mereka mulai dapat menyusul, tiba-tiba orang itu menggerakkan tubuhnya dan sebuah loncatan yang mentakjubkan hati Jenderal Kao dilakukan orang itu. Tubuh¬nya melayang seperti seekor burung ter¬bang melayang saja dan sekali melompat sudah meninggalkan mereka, kemudian berjalan lagi dengan tenangnya.

Orang itu naik turun tebing dan akhirnya lenyap ke dalam hutan di depan. Jenderal Kao Liang terkejut bukan main, kalau dikehendaki, orang itu dengan mu¬dah saja dapat melenyapkan diri sejak tadi, akan tetapi kenapa agaknya sengaja memancing mereka untuk mengikuti sam¬pai jauh? Celaka, terlalu ini pancingan yang dalam ilmu perang disebut “meman¬cing” harimau meninggalkan sarangnya”. Dia dan dua orang puteranya sengaja dipancing meninggalkan rombongannya yang kini hanya dilindungi oleh para pengawal yang sudah kehilangan kepalanya.

“Cukup! Tidak perlu mengejar terus. Mari kita cepat-cepat kembali!”

Jenderal Kao Liang yang merasa curiga dan kha¬watir itu berkata kepada dua orang puteranya. Mereka bergegas kembali ke tempat tadi, di mana rombongan mereka tadi tinggalkan. Ketika mereka akhirnya dapat menuruni tebing terjal dan tiba di tempat tadi, dari atas jan¬tung mereka sudah berdebar keras penuh kekhawatiran dan ketegangan, setelah tiba di tempat itu, mereka memandang dengan mata terbelalak dan kedua tangannya mengepal tinju, kumis dan jenggotnya seolah-olah berdiri saklng marahnya. Dua orang puteranya juga terbelalak, menoleh ke kanan kiri, kemudian meman¬dang kepada ayah mereka dengan sinar mata bingung dan gelisah.

Betapa mereka tidak akan bingung dan gelisah? Semua tandu telah lenyap dari situ, tandu-tandu yang membuat Nyonya Kao Liang, Nyonya Kao Kok Tiong, bibi mereka, anak-anak Kok Tiong, anak-anak bibi mereka, dan dua inang pengasuh, serta harta benda mereka se¬mua telah lenyap. Dan di tempat itu menggeletak berserakan mayat-mayat para pengawal mereka, dan para tukang pikul tandu-tandu itu. Tidak ada seorang pun diantara mereka itu yang masih hidup, semua telah tewas dalam keadaan mengerikan!

“Keparat....! Bedebah....!” Jenderal Kao Liang memaki-maki, kemudian dia menjambak rambutnya sendiri penuh pe¬nyesalan. “Bodoh kau! Tolol kau!”

Dia memaki diri sendiri, kemudian menjatuh¬kan dirinya di atas tanah sambil ber¬topang dagu. Betapa dia tidak akan menyesal? Jenderal Kao Liang telah ber¬puluh tahun berkecimpung di dalam bi¬dang kemiliteran, entah sudah berapa ratus kali menghadapi lawan-lawan tang¬guh dan lihai, sudah biasa bersiasat dan mengadu kepintaran dengan fihak lawan. Dia merupakan seorang ahli siasat yang biasa mengatur puluhan, bahkan ratusan ribu perajurit di medan perang. Dia di¬takuti dan disegani oleh musuh di me¬dan perang karena kemahirannya bersiasat.

Akan tetapi kini, menghadapi per¬jalanan rombongan keluarganya, meng¬hadapi gangguan seperti itu saja dia telah terkecoh dan dipermainkan orang secara habis-habisan, sampai seluruh anak buah pengawalnya tewas semua dan se¬luruh anggauta keluarganya diculik orang, semua harta benda yang dibawanya di¬curi orang. Dan dia tidak tahu bagai¬mana hal itu dilakukan, tidak tahu pula siapa yang melakukannya dan ke mana keluarganya dibawa pergi. Sungguh me¬malukan dan menggemaskan sekalil

“Ayah....!” Tiba-tiba terdengar Kok Han memanggilnya.

Jenderal Kao menoleh dan dia melihat puteranya yang bungsu itu sedang jongkok di depan sesosok di antara ma¬yat-mayat yang berserakan di situ. Me¬lihat sikap puteranya, dan kini Kok Tiong juga lari menghampiri adiknya, Jenderal Kao lalu bangkit dan menghampiri tem¬pat itu.

Jenderal Kao Liang juga terheran¬-heran ketika dia melihat mayat yang di¬tunjuk oleh puteranya itu. Mayat seorang wanita! Bukan anggauta keluarganya, dan tentu saja bukan seorang diantara para pengawal. Mayat wanita yang menindih seorang laki-laki, kedua tangan wanita itu mencekik leher laki-laki itu, demikian hebatnya sampai kuku-kuku tangan wa¬nita itu terbenam ke dalam leher! Akan tetapi, tangan laki-laki itu memegang golok kecil dan agaknya ketika wanita itu mencekiknya, laki-laki itu berhasil menghujamkan golok kecil itu ke lambung si wanita sampai masuk dalam se-kali. Terang bahwa mereka tadi bertem¬pur dan keduanya tewas dalam pertem¬puran ini.

“Sungguh aneh....” Jenderal Kao Liang berkata. “Aku tidak pernah melihat wa¬nita ini.... dan entah siapa pula laki-¬laki di bawahnya itu.”

Dengan ujung se¬patunya, Jenderal Kao Liang membalik¬kan tubuh wanita itu sehingga terpisah dari mayat laki-laki yang ditindihnya. Tampaklah kini seorang laki-laki yang berpakaian seperti seorang petani, se¬orang yang usianya sudah lima puluh tahun lebih, gagah perkasa dan bertubuh kokoh kuat, sedangkan wanita itu ber¬wajah kejam dan usianya sudah tiga pu¬luh tahun lebih.

“Heee! Bukankah dia ini.... seperti.... seperti Hok-ciangkun!” Tiba-tiba Kok Tiong berseru heran.

Jenderal Kao Liang mengangguk.
“Sungguh aneh! Dia memang Hok-ciang¬kun, pengawal istana kepercayaan Kaisar. Kenapa dia sampai berada dl sini? Siapa pula wanita ini? Terang bahwa dia ber¬kelahi dengan Hok-ciangkun, akan tetapi kenapa? Dan mengapa pula Hok-ciangkun berpakaian menyamar seperti petani?”

Jenderal Kao dan dua orang putera¬nya menjadi bingung. Siapakah orang-orang yang telah memusuhi mereka? Kenapa mereka membunuh para pengawal dan menculik wanita-wanita dan anak¬-anak? Dan kenapa pula agaknya terjadi perkelahian antara mereka sendiri? Jenderal Kao dan dua orang puteranya lalu mulai memeriksa dan makin heranlah mereka bertiga ketika melihat bahwa temyata di antara mayat-mayat itu ter¬dapat pula mayat-mayat yang tidak me¬reka kenal di antara tumpukan mayat-¬mayat pengawal mereka sendiri dan tu¬kang-tukang pikul tandu.

“Kita harus mencari keluarga kita!” Jenderal Kao mengepal tinju. “Aku harus bisa berhadapan dengan pengecut-pengecut itu!”

Dia marah sekali, akan tetapi ke mana dia harus mencari? Lorong itu berbatu sehingga sukar mencari jejak mere¬ka yang membawa pergi tandu-tandu itu.

“Apa ini....?”

Jenderal Kao Liang membungkuk dan dengan hati-hati me¬meriksa sebuah benda putih mangkilap yang terletak di dekat mayat si wanita tadi. Teringat akan racun hebat yang agaknya dilumurkan pada balok, Jenderal Kao Liang memeriksa dengan teliti se-belum mengambilnya. Setelah yakin bah¬wa benda itu tidak beracun, dia meng¬ambil dan mengamat-amatinya.

Benda itu bentuknya bulat seperti sebuah lencana. Di tengah-tengahnya terlukis seekor bu¬rung garuda berwarna hitam sedang me¬mentang sayap dan di bawah gambaran burung itu terdapat dua buah huruf yang berbunyi “BHOK TIN” (Pasukan Kayu). Lencana itu sangat indah buatannya, dari perak murni. Milik siapakah lencana ini? Wanita itukah? Apa artinya lencana ini? Jenderal Kao tidak dapat memecahkan rahasia ini dan dia mengantongi lencana perak itu, lalu berkata kepada kedua orang puteranya yang tentu saja merasa bingung dan berduka sekali,

“Mari kita berusaha mencari mereka!”

Dua orang muda itu hanya mengang¬guk lesu dan mereka segera berjalan cepat untuk ke luar dari jalan bertebing tinggi itu. Akan tetapi ketika mereka tiba di jalan tikungan dan sudah ke luar dari lorong bertebing, mereka dikejutkan oleh penglihatan yang mengerikan. Di jalan itu bertebaran mayat-mayat orang yang memenuhi jalan, banyak sekali jum¬lahnya, kurang lebih ada seratus buah mayat! Seperti dalam perang kecil saja.

Jenderal Kao berhenti dan meman¬dang ke sekeliling dan alisnya yang tebal itu berkerut. Dia tidak merasa ngeri melihat ini. Sudah biasa dia menyaksikan pemandangan seperti ini di medan pe¬rang, bahkan pernah melihat puluhan ribu mayat berserakan. Akan tetapi rasa hati¬nya tidak seperti sekali ini karena se¬karang, keluarganya yang langsung ter¬libat.

Mereka lalu memeriksa mayat-mayat itu dan di antara mayat-mayat itu ter¬dapat beberapa mayat wanita yang me¬makai seragam hitam dengan gambar cacahan (tatoo) berbentuk burung garuda di telapak tangan mereka.

“Heiii! Ini seperti penjaga gardu di depan gerbang istana!” teriak Kok Tiong sambil menuding sebuah mayat yang menggeletak miring dengan kepala pecah.”Dan ini juga! Itu ada pula pengawal Hok-ciangkun!”

“Jelaslah sudah bahwa ada pasukan pengawal istana bertempur di sini. Akan tetapi mengapa pasukan pengawal istana berkeliaran di sini? Apakah tugas mere¬ka? Dan sungguh aneh, mengapa mereka tidak memakai pakaian seragam dan menyamar sebagai orang-orang biasa? Peristiwa apakah yang menyebabkan Kai¬sar mengerahkan pasukan-pasukan penga¬wal istana ke tempat ini?”

Jenderal Kao berkata perlahan seperti bertanya-tanya kepada diri sendiri, sedangkan dua orang puteranya juga ikut memikirkan perta¬nyaan ayahnya itu. Sungguhpun mereka tidak dapat mencari alasan-alasan dan sebab-sebabnya, akan tetapi di dalam hati mereka timbul dugaan bahwa adanya pasukan-pasukan pengawal istana di tempat itu tentu ada hubungannya de¬ngan berangkatnya rombongan keluarga mereka meninggalkan kota raja menuju ke kampung halaman mereka.

Suasana tempat itu sungguh mengeri¬kan. Matahari sudah condong ke barat, beberapa saat lagi senja akan tiba. Me¬reka bertiga duduk kecapaian di atas batu di antara. mayat-mayat yang ber¬serakan. Mereka merasa lelah sekali, lelah lahir batin. Mereka menghadapi misteri yang tak dapat mereka pecahkan. Keanehan-keanehan yang terjadi bertubi-¬tubi ditambah lenyapnya keluarga mereka membuat pikiran Jenderal Kao Liang yang biasa tenang dan cerdik itu menjadi keruh.

Jenderal yang gagah perkasa itu kelihatan lebih tua sepuluh tahun dari keadaan biasanya karena tekanan batin yang hebat, karena kekhawatiran akan keselamatan isteri dan keluarganya. Ingin mereka itu mengejar dan kalau perlu berkelahi mati-matian untuk melindungi keluarga mereka, akan tetapi mereka tidak tahu harus mencari ke mana. Me¬reka tidak tahu siapa penculiknya, di mana tempatnya, bahkan tidak tahu pula mengapa keluarga mereka diculik. Kalau mereka itu menghendaki harta benda, tentu hanya harta benda saja yang di¬rampas, tidak perlu menculik keluarga mereka. Kalau mereka itu musuh yang mendendam, tentu keluarga mereka sudah dibunuh seperti halnya para pengawal,dan tidak diculik seperti sekarang ini.

Mungkinkah pemuda aneh yang lihai dan yang bersenandung sedih itu yang melakukan penculikan? Ah, tidak mung¬kin. Karena mereka bertiga cepat-cepat menghentikan pengejaran dan kembali ke tempat rombongan. Kalau bukan pemuda itu, siapa? Apakah wanita-wanita yang bertanda cacahan burung garuda di ta¬ngan mereka? Akan tetapi mereka itu agaknya bertempur mati-matian dengan rombongan Hok-ciangkun, pasukan penga¬wal istana yang menyamar itu. Apakah anak buah si pemuda lihai? Mungkin begitu, dan kalau begitu agaknya ada tiga rombongan bertindak pada waktu itu. Demikianlah Jenderal Kao memutar-¬mutar otaknya yang sudah penat. Akan tetapi tetap saja dia tidak dapat menemukan jawaban atas pertanyaan di benaknya yang bertubi-tubi.

Suasana menjadi sunyi sepi, dan men¬jadi kebalikan dari pikiran mereka yang ramai dengan pertanyaan-pertanyaan dan dugaan-dugaan yang menggelisahkan. Tiba-tiba terdengar suara suling meng¬alun memecah kesunyian dan menghenti¬kan lamunan mereka yang penuh kegeli¬sahan itu. Suara suling itu menggetar-¬getar halus, penuh perasaan, dan suara suling seperti itu hanya dapat ditiup oleh peniup yang mencurahkan seluruh pera¬saan hatinya terhadap tiupannya. Hawa yang keluar dari mulutnya agaknya lang¬sung keluar dari hatinya sehingga ketika menyelinap di dalam tabung bambu su¬ling itu mencipta suara yang mengalun penuh perasaan, melagukan irama lagu sedih, lagu seorang yang patah hati, gagal dalam asmara, atau seorang yang merasa kerinduan hebat terhadap seorang kekasih yang pergi meninggalkannya.

Tentu saja jiwa dari lagu ini terasa oleh Jenderal Kao Liang dan kedua orang puteranya yang sedang merana ditinggal¬kan oleh keluarga mereka yang tidak mereka ketahui bagaimana nasibnya, di¬tinggalkan oleh orang-orang yang mereka kasihi. Terutama sekali Kok Tiong yang teringat kepada isteri dan dua orang anaknya yang masih kecil sehingga orang muda ini cepat membuang muka membelakangi ayahnya agar Si Ayah tidak sampai melihat dua titik air mata.

Di antara pengaruh suara suling yang ditiup penuh perasaan itu, Jenderal Kao Liang segera cepat menyadari keadaan. Lagu yang ditiup suling itu adalah lagu sedih, kiranya mudah diduga siapa pe¬niupnya. Siapa lagi kalau bukan pemuda yang tadi pun bersenandung lagu sedih? Tentu Si Pemuda lihai tadi. Dan siapa tahu, boleh jadi pemuda itu yang menjadi biang keladi semua peristiwa ini, atau setidaknya, pemuda aneh itu tentu tahu¬-menahu akan peristiwa yang menimpa keluarganya ini.

Dengan muka merah dan mengepal tinjunya, Jenderal Kao Liang bangkit berdiri lalu melangkah pergi dengan ce¬pat menuju ke arah suara suling diikuti oleh dua orang puteranya yang sudah mencabut pedang masing-masing. Akan tetapi sungguh aneh, suara suling itu amat luar biasa, begitu dldekati seolah¬-olah berpindah tempat. Mereka bertiga terus mengejar, akan tetapi mereka ber¬putaran dan belum juga dapat melihat pemain atau peniupnya.

Setelah berputar¬an sampai beberapa kali, akhirnya Jen¬deral Kao Liang menjadi naik darah, sungguhpun dia masih dapat menahan kemarahannya. Akan tetapi Kok Han yang masih muda belia itu tak dapat menahan kemarahannya dan berteriaklah dia menantang, sungguhpun dia tahu pula betapa lihai si peniup suling itu.

“Heeeiiiii....! Keluarlah engkau peniup suling sialan! Jangan main sembunyi-¬sembunyi kalau engkau memang jantan! Ayo, keluarlah dan lawanlah aku, engkau akan mampus kalau tidak kaukembalikan keluarga kami!”

“Sssttttt....!”

Jenderal Kao mencegah puteranya akan tetapi tantangan telah dikeluarkan dan mereka kini berdiam, memperhatikan semua penjuru. Suara su¬ling tiba-tiba berhenti keadaan menjadi makin sunyi mencekam dan menyeram¬kan. Lalu terdengar suara orang menguap panjang dan disusul suara langkah kaki orang tersaruk-saruk.

Selagi tiga orang ayah dan anak itu saling pandang, terdengar suara orang bergumam,
“Hahhhhh perutku lapar dan kakiku capai. Sebentar lagi malam tiba dan aku belum beristirahat barang sekejap pun. Lebih baik mencari warung di depan, makan bubur hangat, mandi air sejuk lalu tidur mendengkur!”

Jenderal Kao dan dua orang putera¬nya cepat meloncat dan mencari ke arah datangnya suara itu. Dari jauh kelihatan berkelebatnya seseorang dengan cepat. Bajunya yang putih itu tampak menyolok dengan cuaca yang sudah mulai suram karena senja. telah tiba. Sebentar saja bayangan itu berkelebat dan lenyap, seperti setan menghilang saja.

“Kejar!”

Jenderal Kao Liang berbisik dan ketiganya lalu mengerahkan ginkang, meloncat lalu berlari mengejar secepat mungkin. Jenderal itu merasa yakin bah¬wa orang di depan tadi tentu tahu akan segala peristiwa yang terjadi, maka dia tidak mau kehilangan orang itu.

Akan tetapi, bayangan itu telah le¬nyap dan mereka mengejar sampai ma¬lam tiba, belum juga dapat menyusul. Tentu saja ketiganya merasa mendongkol dan malam itu berbeda dengan malam tadi. Awan mendung berkumpul di langit sehingga keadaan menjadi gelap pekat, sedangkan mereka tidak mengenal jalan. Maka terpaksa mereka menghentikan pengejaran sia-sia itu dan melewatkan malam di tepi jalan di kaki bukit yang sunyi, membuat api unggun dan semalam suntuk mereka tidak dapat tidur, menan¬ti datangnya fajar untuk melanjutkan pe¬ngejaran dan pencarian mereka.

“Orang itu agaknya sengaja menyebut tentang sebuah warung di depan. Biar dia memancing sekalipun, kita harus pergi mengejarnya dan mencari warung itu!” demikian Jenderal Kao berkata.

Ketika fajar mulai menyingsing dan cuaca tidak begitu gelap lagi, ketiganya sudah meninggalkan api unggun yang sudah tidak bernyala, tinggal berasap saja dan mereka bergegas menuju ke depan melanjutkan perjalanan semalam yang terganggu oleh kegelapan malam. Ketika mereka mulai bertemu dengan para petani yang menuju ke sawah, tiga orang ayah dan anak ini mempercepat langkah kaki mereka, tidak mempeduli¬kan pandang mata para petani yang ter¬heran-heran melihat mereka berjalan cepat itu. Di mana ada petani tentu ada dusun, pikir Jenderal Kao Liang dan dia melanjutkan perjalanan dengan penuh semangat.

Benar saja dugaan mereka. Akhirnya tibalah mereka di sebuah dusun. Matahari pagi dengan cerah dan riangnya menyi¬nari sebuah warung makan di dusun itu dengan hati berdebar Jenderal Kao meng¬ajak anak-anaknya memasuki warung. Akan tetapi, warung itu masih sunyi dan belum ada pengunjungnya, maka duduklah mereka dengan hati kecewa. Jenderal Kao memesan bubur hangat tiga mang¬kok yang dilayani oleh pemilik warung dengan ramahnya.

“Kami mencari seorang teman, dia masih muda dan berpakaian putih. Apa¬kah dia sudah tiba di sini? Malam tadi atau tadi? Katanya dia ingin makan bu¬bur panas” kata Jenderal Kao kepada pemilik warung secara sambil lalu.