FB

FB

Ads

Kamis, 19 Maret 2015

Kisah Sepasang Rajawali Jilid 148 (TAMAT)

Syanti Dewi mencium kedua pipinya.
“Sadarlah, Adikku. Tak perlu membiarkan diri tenggelam ke dalam peristiwa yang lalu. Katakanlah kepadaku. Bencikah kau kepadanya? Ataukah engkau cinta kepadanya?”

Ceng Ceng menggeleng kepada.
“Entahlah, Enci Syanti. Aku tidak tahu. Dia demikian baik kepadaku, mungkin tanpa dia aku sudah mati, tak mungkin lagi bertemu denganmu. Dia mengorbankan segalanya untukku, bahkan lengannya putus sebelah karena aku.... akan tetapi.... dia.... dia yang memperkosaku.”

Syanti Dewi memandang Ceng Ceng sambil tersenyum. Sampai lama dia menatap wajah yang menunduk itu, kemudian dia memegang kedua pundak adik angkatnya, lalu memegang dagu yang meruncing itu dan tersenyum lebarlah Puteri Bhutan itu.

“Adikku yang manis, kau cantik sekali! Tahukah kau apa yang tampak olehku? Jelas terbayang di wajahmu, Adikku, dan aku tidak akan salah lihat bahwa engkau cinta kepadanya.”

“Ehhh....?”

Ceng Ceng terkejut sekali dan memandang tajam kepada kakak angkatnya itu, akan tetapi dia menundukkan mukanya lagi dan wajahnya makin muram.

“Candra.... adikku yang cantik, mengapa kau khawatir? Engkau terlalu memandang rendah kepada kakakmu ini. Apa kaukira aku akan diam saja setelah melihat kenyataan bahwa engkau mencinta pria itu? Jangan kau khawatir, biar kusuruh sekarang juga Tek Hoat, agar dia mencari dia sampai ketemu.”

Ceng Ceng menghela napas panjang, terdengar dia mengeluh.
“Aihh, Enci Syanti, sia-sia saja segala perhatianmu kepadaku, karena dia...., dia sudah mati....” Dan air mata mengalir turun lagi dari kedua mata Ceng Ceng.

“Heiiii....?”

Kini Syanti Dewi yang memandang dengan mata terbelalak dan wajahnya pucat. Kemudian dia menubruk, merangkul Ceng Ceng dan kini puteri itulah yang menangis tersedu-sedu. Dan anehnya, melihat kakak angkatnya menangis begitu sedih, Ceng Ceng merasa terhibur hatinya, atau setidaknya dia melupakan kesedihannya sendiri, bahkan kini dia yang berusaha menghibur Syanti Dewi!

“Sudahlah, Enci Syanti, sudahlah...., ditangisi pun sia-sia....!”

Memang aneh sekali, akan tetapi telah menjadi kenyataan bahwa kedukaan seseorang akan berkurang, menjadi ringan, atau setidaknya terhibur melihat kedukaan orang lain! Kenyataan ini pahit sekali, membayangkan dengan jelas bahwa kedukaan timbul dari rasa iba kepada diri sendiri, maka rasa iba itu menjadi berkurang kalau melihat orang lain juga menderita, apalagi kalau penderitaan orang lain itu lebih besar daripada penderitaannya sendiri. Rasa iba diri ini adalah penonjolan daripada si aku yang selalu ingin menguasai batin manusia maka terjadilah kesengsaraan dan kedukaan yang memenuhi kehidupan kita.

Perlu sekali untuk disadari benar-benar bahwa kesengsaraan dan kedukaan bersumber kepada pikiran kita sendiri, yang membentuk si aku, karena pikiran kita sendirilah yang menimbulkan pertentangan-pertentangan di dalam batin dengan selalu menginginkan hal-hal lain daripada kenyataannya yang ada, selalu menginginkan yang dianggapnya menyenangkan sehingga apa yang ada, yaitu kenyataan setiap saat yang dihadapinya, selalu tidak diamatinya benar-benar dan dianggapnya tidak menyenangkan. Semua ini adalah permainan pikiran kita sendiri setiap saat dan demikianlah pikiran kita menguasai kehidupan kita setiap hari! Mata kita baru akan terbuka, keindahan setiap saat yang terkandung dalam setiap peristiwa baru akan tampak apabila pikiran atau si aku tidak mencampurinya! Cinta kasih yang murni dan suci, terhadap apapun juga, baru ada apabila pikiran atau si aku tidak memegang kendali!

“Adik Candra...., betapa hebat penderitaanmu. Sungguh aku berdosa besar kepadamu, Adikku, aku bergembira, berbahagia, bersenang-senang tanpa memikirkan bahwa engkau sesungguhnya sedang menderita kedukaan hebat....”

“Sudahlah, Enci Syanti. Engkau tidak bersalah apa-apa. Engkau tidak mengetahuinya dan tidak perlu pula Enci berduka karena keadaanku. Lanjutkanlah kegembiraanmu, Enci, engkau berhak untuk hidup berbahagia. Setidaknya, mengingat bahwa engkau akan berjodoh dengan seorang yang masih seayah denganku, membuat aku bersukur. Aku sendiri.... ah, hidup tidak ada artinya lagi, aku.... aku bermaksud.... akan pergi lagi dari sini besok....”

“Ehhh.... ke mana....?”

“Entahlah. Mungkin kembali ke bekas tempat tinggal Kakek, atau.... entah ke mana aku sendiri belum bisa memastikan....”

“Jangan, Candra....! Setidaknya, kau tinggallah di sini sampai hari pernikahanku.”

Ceng Ceng menggeleng kepalanya dan menghapus sisa air matanya.
“Tidak, Enci. Kehadiranku yang penuh kepahitan hanya akan mengganggu kebahagiaanmu saja. Aku sudah mengambil keputusan untuk pergi besok, pagi-pagi dari sini. Kau tidak boleh dan tidak bisa menahanku, Enci Syanti....”

“Candra....!”

Syanti Dewi merangkul dan kembali kedua orang kakak beradik yang dipermainkan nasib sehingga keadaan mereka kini seperti bumi dan langlt itu saling bertangis-tangisan.

Malam itu juga Syanti Dewi pergi menemui Tek Hoat yang dimintanya agar sebagai saudara seayah, suka membujuk Ceng Ceng. Tek Hoat terkejut sekali ketika mendengar semua penuturan kekasihnya itu tentang Ceng Ceng dan Topeng Setan. Tak pernah disangka seujung rambut pun bahwa Topeng Setan adalah musuh besar yang selalu dicari-cari Ceng Ceng itu, dan baru sekarang dia tahu bahwa adiknya seayah itu, adik tirinya, telah menjadi korban perkosaan Topeng Setan sendiri yang kini kabarnya telah tewas! Tergopoh-gopoh dia menemui Ceng Ceng di kamar gadis itu.

“Kau tidak boleh pergi....!” begitu memasuki kamar itu Tek Hoat berseru.

Ceng Ceng yang tadi duduk termenung itu, kini meloncat bangun. Mukanya yang tadinya pucat menjadi agak merah karena perasaan marah menyelinap dalam hatinya. Dia berdiri menentang wajah pemuda itu dan menjawab dengan ketus,

“Ada hak apa engkau melarang aku pergi?”

“Ada hak apa? Hemm, lupakah kau bahwa aku ini kakakmu, bahwa kita ini seayah? Kau tidak boleh pergi dalam keadaan begini!”

“Dalam keadaan bagaimana?”

“Kau mengalami kedukaan, kau bisa jatuh sakit di jalan. Dan sudah menjadi kewajibanku sebagai saudara untuk menjaga dan melindungimu, aku akan berusaha untuk menggembirakan hatimu, menghiburmu....”

“Dengan sikapmu yang keras dan selalu memusuhiku itu? Hemm, Tek Hoat, agaknya engkau mengandalkan kepandaianmu dan mengandalkan kedudukanmu sekarang, maka kau hendak memaksaku. Kaukira aku mau tunduk begitu saja? Kau boleh bunuh aku sekarang juga, aku tetap hendak pergi besok pagi. Ingin kulihat kau bisa berbuat apa!” Ceng Ceng menantang, berdiri dengan kedua tangan dikepal.

“Kau.... kau keras kepala!”

Tek Hoat menegur, kedua tangannya juga dikepal. Mereka berhadapan seperti dua orang musuh bebuyutan (musuh besar turun-temurun) yang hendak mengadu nyawa. Akhirnya setelah beberapa lama mereka saling pandang dengan sinar mata berapi, Tek Hoat menurunkan kembali tangannya dan menarik napas panjang. Kemudian dia berkata lirih setelah menghela napas lagi.

“Ceng Ceng, engkau tidak tahu.... biarlah selagi masih ada kesempatan aku akan mengaku semuanya kepadamu. Semenjak kita saling berjumpa dahulu, ketika aku menolongmu dari air sungai, timbul rasa suka yang aneh dan mendalam di dalam hatiku terhadap dirimu. Coba kauingat-ingat, kalau tidak begitu, mana mungkin aku membiarkan engkau menguasai aku hanya dengan sumpah dan saputangan, bahkan aku rela pula menghambakan diri menjadi pembantumu ketika kau diangkat menjadi bengcu! Andaikata di dunia ini tidak ada Syanti Dewi yang lebih dulu telah menjatuhkan hatiku, yang telah kucinta sejak pertemuan pertama, agaknya.... aku tidak akan ragu lagi bahwa aku tentu akan jatuh cinta kepadamu. Sejak dahulu ada getaran perasaan yang mengikat hatiku kepadamu, tidak tahu bahwa sesungguhnya engkau masih sedarah dengan aku. Engkau adikku.... di dunia ini hanya ada seorang adik bagiku....”

“Hemm, kakak macam apa engkau ini yang selalu bersikap keras kepadaku.”

Akan tetapi suara teguran Ceng Ceng itu mengandung getaran keharuan karena memang dia terharu sekali mendengar pengakuan Tek Hoat itu. Teringat dia betapa dahulupun hampir saja dia jatuh cinta kepada pemuda ini dan di sudut hatinya memang selalu ada rasa suka terhadap Tek Hoat seperti yang diakui pula oleh pemuda itu. Ternyata pertalian darah itulah yang menimbulkan getaran itu.

“Memang, kita sama-sama keras kepala, Adikku. Agaknya inilah yang diwariskan oleh mendiang ayah kita yang kabarnya amat jahat itu. Kita berdua adalah keturunan orang yang jahat.... akan tetapi hanya aku yang mewarisi kejahatannya, sedangkan engkau adalah seorang gadis yang gagah perkasa dan berbudi mulia. Akan tetapi kenapa justeru engkau yang menderita kesengsaraan sedangkan aku berenang dalam kebahagiaan? Tidak! Engkau tidak boleh menderita kalau aku berbahagia. Adikku, Ceng Ceng.... aku minta, aku mohon kepadamu, jangan kau pergi, Adikku....”

Terdorong oleh rasa harunya, Tek Hoat pemuda yang berhati baja itu kini menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Ceng Ceng!

“Tek Hoat....”

Ceng Ceng juga berlutut dan seperti digerakkan oleh tenaga gaib, kedua orang saudara tiri seayah ini saling rangkul dan untuk beberapa lamanya Ceng Ceng menangis di atas dada saudaranya.

Akan tetapi kekerasan hatinya timbul pula dan dia lalu bangkit berdiri, menyusut air matanya.

“Tek Hoat, aku pun tidak pernah dapat membencimu. Terima kasih atas kebaikanmu kepadaku. Akan tetapi engkau tentu tahu, dalam keadaan seperti sekarang ini, aku membutuhkan ketenangan dan keheningan, aku harus pergi menyendiri, entah ke mana. Percayalah, kalau aku tidak mati, dan kalau luka di hati ini sudah tidak parah lagi, engkaulah satu-satunya orang yang akan kucari sebagai keluargaku.”

Tek Hoat menghela napas panjang dan juga bangkit berdiri. Dia telah mengenal bagaimana sifat Ceng Ceng yang amat keras. Seperti baja yang tak dapat ditekuk lagi.

“Kalau begitu, aku hanya dapat ikut prihatin dan akan selalu mendoakan, Adikku.”

Demikianlah, pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ceng Ceng berangkat pergi sebelum ada yang bangun dari tidurnya. Tentu saja dengan mudah dara ini keluar dari istana, juga dengan mudah keluar dari pintu gerbang sebelah timur karena para perajurit yang menjaga semua mengenal adik angkat Puteri Bhutan ini. Dengan muka pucat dan pandang mata kosong Ceng Ceng keluar dari pintu gerbang tanpa menengok lagi, langsung saja dia melanjutkan perjalanan dengan langkah-langkah perlahan maju ke depan tanpa tujuan karena pikirannya kosong dan semangatnya seperti telah terbang meninggalkan tubuhnya.

Belum jauh dia meninggalkan pintu gerbang timur, tiba-tiba ada suara memanggilnya,
“Sumoi....!”

Ceng Ceng menghentikan langkahnya dan berdiri lesu tanpa menoleh karena dia mengenal suara itu, suara Panglima Jayin, yang juga merupakan suhengnya karena panglima ini pernah berguru kepada kakeknya.

Ketika Jayin tiba di depannya, Ceng Ceng berkata lesu,
“Suheng, harap kau jangan ikut-ikut menahanku karena sudah bulat tekadku untuk pergi dan tak seorang pun boleh menahanku.”

“Sumoi, aku sama sekali tidak akan menahan dan mencampuri urusan pribadimu. Aku menyusulmu karena aku diutus oleh Sang Puteri Syanti Dewi. Beliau mengutus aku mengejarmu dan memanggilmu kembali karena tadi malam ada seorang tamu yang datang ke istana mencarimu. Akan tetapi karena hari telah malam, terpaksa kusuruh tamu itu bermalam di gedung tamu dan menunggu sampai pagi. Baru pagi tadi aku menghadap Sang Puteri untuk menyampaikan permintaan tamu yang hendak menjumpaimu itu. Akan tetapi pagi-pagi sekali engkau sudah pergi, maka Sang Puteri mengutus aku untuk menyusul dan memanggilmu kembali ke Istana.”

“Suheng, aku tidak ingin bertemu dengan siapapun juga. Engkau kembalilah dan katakan kepada Enci Syanti Dewi bahwa aku tidak mau menemui siapa pun.”

“Akan tetapi, Sumoi.... engkau tidak tahu siapa tamu itu!” Suara panglima ini tergetar karena dia pun sudah mendengar akan keadaan sumoinya itu dari Puteri Syanti Dewi. “Dia telah datang menyusul bersamaku. Inilah dia orangnya!”

Akan tetapi Ceng Ceng tidak mempedulikan kata-kata ini dan dia terus melanjutkan langkahnya. Siapa pun orangnya yang datang mencarinya, dia tidak ingin melihat dan menemuinya. Tanpa menoleh sedikit pun, Ceng Ceng melangkah terus, sama sekali tidak mempedulikan.

Baru beberapa langkah dia ber jalan, tiba-tiba terdengar suara,
“....bengcu....!”

Ceng Ceng berhenti seperti disambar petir dan dia berdiri tegak, mukanya pucat, kedua kakinya menggigil dan dia tidak percaya akan pendengarannya sendiri. Dia tidak berani menoleh, karena tentu pendengarannya yang menipunya dan kalau dia menoleh, dia akan kecewa. Tak mungkin! Tapi suara yang didengarnya tadi amat dikenalnya, terlalu dikenalnya malah, karena suara itu adalah suara Topeng Setan!

“Bengcu....!” Suara itu memanggil lagi, kini terdengar tergetar.

Untuk kedua kalinya Ceng Ceng tersentak kaget. Dia menoleh dan....
“Ouhhhhhh....!” dia menutupi mulut dengan punggung tangan kiri, menahan jeritnya.

Betapa kagetnya ketika dia melihat laki-laki yang berlutut di depannya itu, laki-laki yang melihat pakaian dan lengan kirinya, jelas adalah Topeng Setan, akan tetapi melihat wajahnya yang tidak tertutup topeng itu, wajah yang tampan dan gagah sekali sungguhpun pada saat itu kelihatan pucat dan dicekam perasaan khawatir, adalah wajah Kok Cu, pemuda yang telah memperkosanya.

“Kau....? Kau....?”

Hati Ceng Ceng menjerit, akan tetapi bibirnya hanya bergerak-gerak dan mulutnya terbuka tanpa ada suara yang keluar, kemudian terdorong oleh kedua kakinya yang tiba-tiba menjadi lemas seperti lumpuh dan kekejutan yang meremas hatinya, Ceng Ceng menjatuhkan diri berlutut dan menubruk orang itu sambil merintih dan menangis.

“Kau.... kau.... masih hidup...., ohhh, kau masih hidup....?” berulang-ulang dia berbisik seperti dalam mimpi ketika dia mendekapkan mukanya di atas dada yang bidang itu.

“Suhu menolong dan menyembuhkan aku....” bisik Topeng Setan atau Kok Cu itu.

“....ahhh.... hu-hu-huukk.... aku.... aku girang sekali.... aku.... aku cinta padamu, Pam....” Ceng Ceng tiba-tiba menghentikan kata-katanya, tidak melanjutkan sebutan “paman” tadi karena dia segera teringat dan cepat dia mengangkat mukanya. Begitu melihat wajah tampan itu, dia berseru, “Ohhhh....!” dan merenggutkan tubuhnya menjauh.

Sementara itu, begitu Ceng Ceng tadi merangkul “tamu” itu, Panglima Jayin sudah melangkah pergi dan memberi isyarat kepada para penjaga untuk pergi menjauh, memasuki pintu gerbang dan membiarkan kedua orang itu bicara dengan leluasa. Senyum penuh rasa syukur membayang di wajah panglima gagah itu.

“Aku bukan Topeng Setan lagi....” Pemuda itu berkata. “Aku adalah Kao Kok Cu, aku adalah si pemuda laknat dan aku datang untuk menerima hukuman, Ceng Ceng. Semenjak peristiwa terkutuk yang terjadi di guha, aku selalu dikejar oleh dosa dan penyesalan. Apalagi ketika aku mendengar bahwa engkau adalah penyelamat nyawa Ayah, aku makin menyesal, maka untuk menebus dosa dan untuk membalas budimu terhadap Ayah, aku lalu menjadi Topeng Setan yang selalu melindungi dan membelamu. Sekarang, rahasiaku telah kauketahui, maka aku datang untuk menerima hukuman. Kalau kau hendak membunuhku, lakukanlah, aku tidak akan menyesal mati di tanganmu, Ceng Ceng, karena aku akan mati di tangan seorang yang paling kucinta di dunia ini, yang paling kuhormati, kukagumi dan kujunjung tinggi.”

Ceng Ceng yang masih meinggigil seluruh tubuhnya itu, mengeluh dan dia kembali menubruk, merangkul karena memang perasaan bahagia melihat “Topeng Setan” masih hidup mengusir semua perasaan lain.

“Paman.... Paman.... melihat engkau masih hidup, aku.... ah, betapa bahagia rasa hatiku.” Dia berkata dan kembali dia lupa akan wajah tampan itu, merasa bahwa dia berada dalam pelukan Topeng Setan. “Melihat engkau mati, baru aku tahu bahwa aku cinta padamu, Paman, dan aku tidak ingin lagi terpisah darimu....”

“Ceng Ceng, jangan menyebutku Paman.... engkau isteriku sayang.... engkau sudah kuanggap isteriku semenjak aku mengenakan topeng.... betapa bahagia hatiku mendapat pengakuan cintamu....”

Ceng Ceng merangkul dan menatap wajah itu, wajah tanpa topeng yang ternyata amat tampan gagah. Wajah yang semenjak peristiwa di guha itu tak pernah dapat dilupakannya!

Kok Cu yang melihat wajah jelita basah air mata itu, tergerak hatinya, penuh keharuan, penuh iba dan penuh kemesraan cinta, maka dia menunduk dan di lain saat dia sudah mencium mulut yang setengah terbuka itu, menciumnya dengan seluruh perasaan kasih sayang yang terluap dari lubuk hatinya, melalui bibirnya.

Sejenak Ceng Ceng terlena dan memejamkan mata, otomatis perasaan bahagia dan kasih sayang dari hatinya membuat kedua lengannya melingkari leher pemuda itu dan bibirnya pun bergerak menyambut. Akan tetapi tiba-tiba terbayang peristiwa di dalam guha. Mulutnya yang melekat pada mulut Kok Cu meronta, matanya terbelalak dan dia merenggutkan dirinya. Kok Cu memandangnya dengan mata terbelalak penuh kekhawatiran.

“Plak! Plakk!”

Dua kali kedua tangan Ceng Ceng bergerak dan nampaklah garis-garis merah di kedua pipi Kok Cu yang pucat.

Pemuda itu tersenyum.
“Terima kasih dan pukulan-pukulanmu baik sekali, merupakan obat yang akan menyembuhkan penyesalanku. Kaupukullah lagi, Ceng Ceng. Sudah kukatakan bahwa aku siap menebusnya dengan kematian sekalipun....”

“Ouhhh.... tidak.... tidak....!” Ceng Ceng kembali merangkul, kini dia memandangi wajah yang tampan itu dan jari-jari kedua tangannya mengelus dan membelai bekas tamparannya di kedua pipi pemuda itu. “Tidak.... kau.... kau adalah orang satu-satunya di dunia ini yang kucinta.... kau adalah Topeng Setan yang telah melimpahkan budi kepadaku....”

“Akan tetapi aku juga pemuda laknat yang telah memperkosamu, Ceng Ceng.”

“Tidak.... tidak....! Ketika itu, engkau dalam pengaruh racun.... peristiwa itu adalah kesalahanku sendiri, engkau sudah berusaha mencegah aku membebasanmu dari kerangkeng.... dan engkau sudah berusaha sekuat tenaga mencegah, akan tetapi racun itu lebih kuat.... tidak, engkau tidak bersalah....”

Wajah yang tampan gagah itu berseri. Tiba-tiba Kok Cu berdiri dan dengan satu tangannya yang luar biasa kuatnya itu, sekali angkat dia sudah mengangkat Ceng Ceng sehingga gadis ini berdiri pula. Wajah yang tampan itu menjadi kemerahan, matanya bersinar-sinar penuh kebahagiaan.

“Kalau begitu.... kau mengampuni aku....?”

“Tidak ada ampun karena kau tidak bersalah.”

“Aku berdosa dan aku mengharapkan ampunmu, Ceng Ceng.”

“Kalau begitu, aku mengampunimu, Pam.... eh, Koko (Kakanda)....”

“Dan kau tidak membenci lagi kepada Kok Cu?”

Sambil merangkul leher pemuda itu, dan matanya masih mengalirkan air mata, Ceng Ceng tersenyum dan menggeleng kepala.

“Sebaliknya malah, aku mencinta orang yang bernama Kok Cu.”

“Moi-moi....!”

“Koko....!”

Kembali mereka berdekapan dan sekali ini ketika Kok Cu mencium Ceng Ceng, dara itu menyambut dan membalasnya dengan penuh kemesraan. Dekapan dan ciuman itu seolah-olah menjadi tempat pencurahan seluruh perasaan mereka, rasa cinta, rasa rindu, dan semua kebahagiaan yang terasa di hati masing-masing sehingga mereka seolah-olah tidak ingin saling melepaskan lagi.

“Ceng Ceng, Moi-moi.... betapa bahagia hatiku.... ketahuilah, aku datang bersama Ayah, selain menyusulmu, juga Ayah membawa tugas dari Kaisar untuk menyampaikan selamat kepada Kerajaan Bhutan, juga untuk menyatakan keampunan Kaisar terhadap Puteri Milana. Selain itu.... juga Ayah akan meminangmu secara resmi.... marilah, sayang, mari kita kembali ke istana Bhutan....”

Tiba-tiba Ceng Ceng melepaskan dirinya dari rangkulan lengan kanan kekasihnya, dan sambil tersenyum di antara air matanya, dengan kedua pipi merah, dia menggeleng.

“Tidak.... aku tidak mau kembali....” Dan dia pun membalikkan tubuhnya dan lari.

“Eh, Ceng Ceng....!” Kok Cu mengejar dan kalau saja dia mau tentu dengan mudah dia dapat menyusul larinya gadis itu. Akan tetapi melihat kekasihnya itu lari sambil tersenyum, dia sengaja mengejar dari belakang dan berteriak, “Kenapa kau tidak mau?”

“Aku malu....!” Ceng Ceng berlari terus, memasuki sebuah hutan kecil.

Akhirnya, Ceng Ceng memperlambat larinya dan membiarkan dirinya disusul, ditangkap dan dipeluk di bawah sebatang pohon besar. Dia menyerah dan menyambut ketika pemuda itu kembali menciuminya sampai keduanya gelagapan kehabisan napas. Akhirnya mereka duduk di bawah pohon, di atas rumput tebal dan hijau.

“Ceng-moi, kenapa kau malu?”

“Aku tidak ingin kembali ke sana, tidak ingin.... sementara ini menemui orang-orang lain, aku khawatir kebahagiaanku akan terganggu. Aku ingin berdua saja denganmu, Koko, kalau bisa, berdua saja di dunia ini, tidak akan saling terpisah lagi.... Koko, ah, Koko.... aku masih belum percaya.... apakah aku tidak sedang mimpi....?”

“Ceng-moi, kau kekasihku, kau pujaan hatiku, kau isteriku.... apakah ini mimpi?” Dia mencium dan menggigit leher Ceng Ceng sampai dara itu terpekik halus. “Aku sendiri pun hampir tidak percaya bahwa engkau dapat mengampuni aku, apalagi mencintaku! Aku selalu merasa ngeri untuk menghadapi pertemuan ini.... tidak ada kengerian yang lebih hebat daripada melihat engkau membenci aku.... bayangkan saja betapa sengsara hatiku sebagai Topeng Setan ketika engkau menyatakan betapa hebatnya kebencianmu kepada Kok Cu....”

Sambil menyandarkan kepalanya di atas dada yang bidang itu, dan memainkan jari-jari tangan kanan Kok Cu yang dia tarik ke atas dadanya, Ceng Ceng berkata, suaranya manja.

“Siapa sih yang membenci Kok Cu? Aku membencinya karena dia.... menghilang saja setelah peristiwa itu....! Aku benci karena dia tidak muncul lagi, padahal dia kuharap-harapkan.... padahal hatiku sudah jatuh cinta begitu aku melihat dia di dalam kerangkeng itu....!”

“Tapi kau.... kau mencinta Topeng Setan!” Kok Cu menggoda.

Ceng Ceng menarik lengan baju kiri yang kosong itu dan mencium lengan baju itu.
“Mengapa tidak? Topeng Setan telah mengorbankan lengannya, bahkan beberapa kali hampir berkorban nyawa untukku. Aku mencinta Topeng Setan karena budinya, tanpa mempedulikan bagaimana macamnya wajah di balik topeng, tanpa mempedulikan usianya, akan tetapi aku mencinta Kok Cu karena pribadinya, karena tatapan sinar matanya, karena.... karena memang aku cinta dan sebabnya aku tidak tahu!”

“Hemm...., kalau begitu engkau mencinta dua orang! Hayo, katakan, siapa yang lebih kaucinta, Kok Cu atau Topeng Setan?” pemuda itu menuntut, pura-pura cemberut.

Ceng Ceng membalikkan tubuhnya, tertawa geli.
“Kau cemburu? Hi-hik, lucunya! Kau cemburu kepada siapa?”

Dengan muka dibuat seperti marah Kok Cu berkata,
“Tentu saja kepada Topeng Setan! Hayo katakan, kau lebih mencinta Kok Cu atau Topeng Setan?”

“Ya ampun.... tentu saja aku lebih mencinta Kok Cu!”

Tiba-tiba Kok Cu mengeluarkan sebuah topeng dan sekali bergerak, topeng itu telah dipakai di mukanya dan berubahlah ia menjadi Topeng Setan, suaranya pun agak berubah karena terhalang topeng.

“Bagus, Ceng Ceng....! Jadi cintamu kepadaku palsu, ya? Jadi kau lebih cinta kepada pemuda laknat itu daripada kepadaku?”

Sambil menahan gelinya, Ceng Ceng berkata,
“Siapa bilang, Paman? Aku cinta padamu, Paman Topeng Setan!”

Kok Cu membuang topengnya dan sambil memegang dagu yang runcing itu, dijepit antara telunjuk dan ibu jarinya, mengangkat muka Ceng Ceng menengadah, dia menghardik,

“Perempuan tamak! Sebetulnya kau lebih mencinta yang mana?”

“Aku cinta keduanya, dan cintaku itu kini menjadi satu, tiada bandingannya lagi, dan.... ehmmm....”

Ceng Ceng tak dapat melanjutkan kata-katanya karena mulutnya telah ditutup oleh sepasang bibir yang seolah-olah tidak akan ada puasnya itu. Dia memejamkan matanya, menyambut dengan hati terbuka dan penuh penyerahan.

Angin semilir di atas mereka, membuat daun-daun pohon berkeresekan saling sentuh seperti saling berbisik membicarakan pertemuan asyik-masyuk penuh kemesraan di bawah pohon besar itu.

Bagi Ceng Ceng dan Kok Cu, waktu dan segala sesuatu lenyap, bahkan diri pribadi juga lenyap, yang ada hanyalah kebahagiaan dan keindahan. Hidup adalah bahagia, hidup adalah indah. Hanya sayang sekali, hanya sewaktu-waktu saja, hanya selewat saja, dalam keadaan seperti yang dialami oleh Ceng Ceng dan Kok Cu, kita mengenal kebahagiaan dan keindahan itu. Selebihnya, waktu dalam hidup kita penuh dengan pertentangan, penuh dengan kebencian, iri hati, angkara murka yang kesemuanya itu hanya pasti mendatangkan kesengsaraan belaka.

Adakah yang lebih indah daripada cinta? Sayang, betapa cinta oleh kita telah dipecah-belah, ditafsirkan menurut kecondongan hati yang menyenangkan sehingga timbul bermacam pendapat dan kesimpulan. Cinta bukanlah sex semata, bukanlah kewajiban semata, bukanlah pengorbanan semata, bukanlah pemberian atau permintaan semata. Kesemuanya itu terdapat dalam cinta dan cinta mencakup segala karena cinta hanya terisi keindahan. Cinta tidak mengenal perbedaan suku, tidak mengenal perbedaan ras, tidak mengenal perbedaan bangsa, tidak mengenal perbedaan usia, tidak mengenal kaya atau miskin, pintar atau bodoh, tidak mengenal tingkat tinggi atau rendah. Cinta tidak mengenal kebencian, tidak mengenal permusuhan, tidak mementingkan diri pribadi. Cinta adalah kebahagiaan. Tanpa cinta matahari akan kehilangan sinarnya, bunga kehilangan keharumannya, dan manusia kehilangan kemanusiaannya. Oleh karena itu, segala macam gerak perbuatan tanpa dasar cinta kasih yang kita adalah palsu belaka. Adapun yang kita lakukan di dunia ini barulah benar dan suci apabila didasari oleh cinta kasih di dalam hati sanubari kita.

Demikianlah, cerita Kisah Sepasang Rajawali ini berhenti sampai di sini, akan tetapi tentu saja bukan berarti telah berakhir, karena sesungguhnya tidak ada keakhiran dalam kehidupan manusia. Harapan pengarang, di samping fungsinya sebagai penghibur hati yang kesepian, semoga cerita ini mengandung hal-hal yang ada manfaatnya bagi para pembaca. Sebagai penutup, pengarang mengajak siapa saja yang berminat untuk bertanya-tanya dan menyelidiki diri sendiri, yaitu : Adakah cinta kasih itu di dalam lubuk hati kita? Kalau tidak ada, mari kita selidiki sebabnya agar sebab itu dapat lenyap sehingga sinar cinta kasih akan dapat menembus dan menerangi lahir batin kita. Sampai jumpa di dalam karangan berikutnya.

T A M A T